142 research outputs found
PEMANFAATAN AI CHATBOT DALAM PEMBELAJARAN SMK AL- ASROR UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SOCIETY 5.0 DAN INDUSTRY 4.0
Abstrak: Perkembangan teknologi digital menuntut siswa vokasi memiliki literasi digital yang memadai agar siap menghadapi era Industry 4.0 dan Society 5.0. Namun, berbagai temuan menunjukkan bahwa kesenjangan kemampuan digital masih terjadi, terutama dalam keterampilan mengakses informasi, merumuskan pertanyaan, dan mengevaluasi jawaban sebagai kompetensi dasar dalam penggunaan AI Chatbot secara kritis. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mendampingi siswa vokasi dalam memanfaatkan AI Chatbot sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman konsep Industry 4.0 dan Society 5.0 sekaligus memperkuat literasi digital. Kegiatan ini dilakukan di sebuah sekolah menengah kejuruan di Jawa Tengah dengan pendekatan deskriptif kualitatif, melibatkan 14 siswa kelas X Desain dan Produksi Busana sebagai mitra. Data dikumpulkan melalui kuesioner berbentuk esai dan wawancara, serta kuesioner Likert sebagai pendukung. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep Industry 4.0 dan Society 5.0 sebesar 3,72 dari skala 5 menunjukkan tingkat persepsi positif sebesar 74,4%. Temuan ini menegaskan bahwa AI Chatbot efektif sebagai media pembelajaran vokasi yang interaktif dan relevan bagi generasi digital.Abstract: The rapid development of digital technology requires vocational students to possess strong digital literacy to meet the demands of Industry 4.0 and Society 5.0. Yet, gaps in competence remain, particularly in accessing information, formulating questions, and evaluating answers skills essential for using AI Chatbots effectively. This community service program aimed to assist vocational students in utilizing AI Chatbots as learning tools to enhance their understanding of Industry 4.0 and Society 5.0 while strengthening digital literacy. The activity was carried out at a vocational high school in Central Java using a descriptive qualitative approach involving 14 students from the Fashion Design and Production program. Data were collected through essay questionnaires, interviews, and a supporting Likert-scale instrument. The results show an increase in students’ understanding of both concepts, reaching 3.72 out of 5 or a positive perception level of 74.4%. These findings indicate that AI Chatbots function as effective and interactive learning media that support the digital literacy development of vocational students
Monitoring the emergence of a knowledge community : a corpus-based approach
EThOS - Electronic Theses Online ServiceGBUnited Kingdo
PENGARUH VARIASI PENAMBAHAN UNSUR MAGNESIUM PADA PENGECORAN ALUMUNIUM PADUAN PADA PULLEY MESIN DEKORTIKATOR
Muhammad Raihan Al Rafif Firmansyah, 2023 ”Pengaruh Variasi Penambahan Unsur Magnesium Pada Pengecoran Alumunium Paduan Pada Pulley Mesin Dekortikator”. Skripsi Teknik Mesin Universitas Pancasakti Tegal.
Seiring dengan perkembangan zaman, salah satu aspek yang kian banyak inovasi diberbagai macam aspek seiring berkembangnya zaman. Untuk mencapai hasil yang maksimal harus membuat inovasi baru. Salah satu komponen yaitu pengecoran. Alumunium adalah unsur yang paling banyak digunakan dalam pengecoran baik skala besar maupun kecil. Magnesium adalah salah satu unsur yang biasa digunakan untuk perpaduan campuran pengecoran dengan alumunium.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Penambahan fraksi berat magnesium 5%, 7% dan 10% pada penngecoran alumunium dengan tiga kali percobaan untuk tiap variasi fraksi berat magnesium dan alumunium fraksi berat 90%, 93% dan 95%. Benda uji dibuat dengan menggunakan metode Sand Casting dengan cetakan terbuat dari pasir.
Dari hasil data yang diperoleh dari uji kekerasan menggunakan Universal Hardness Tester dimana pada Spesimen raw material mempunyai nilai kekerasan 78,25 HB, Spesimen penambahan 5% magnesium mempunyai nilai kekerasan 67,85 HB. Spesimen penambahan 7% magnesium mempunyai nilai kekerasan 57,62 HB. Spesimen penambahan 10% magnesium mempunyai nilai kekerasan 45,42 HB. Kemudian hasil dari uji tarik menggunakan Universal Testing Machine dimana pada spesimen raw material menghasilkan kuat tarik 106,87 N/mm^2. Spesimen penambahan 5% menghasilkan kuat tarik 66,73 N/mm^2. Spesimen penambahan 7% magnesium menghasilkan kuat tarik 107,87 N/mm^2. Spesimen penambahan 10% magnesium menghasilkan kuat tarik 98,05 N/mm^2 .
Kata Kunci : Pengecoran, Alumunium, Magnesium, Kekerasan, Tari
Metode Pengembangan Literasi Anak Usia Dini melalui Permainan Tradisional Cublak- Cublak Suweng (Modifikasi) di RA Ar Rafif Kalasan Sleman Yogyakarta
The purpose of this research is to study the method of developing early childhood literacy. To develop a
literacy in early childhood needs a method that is appropriate to the early childhood development stage is required by
the traditional game ‘Cublak-Cublak Suweng’ (modification). This research uses qualitative method research with
descriptive analysis method. The data collection technique are observation, interview and documentation. The results
conclude that 1) the implementation of early childhood literacy development method in RA Ar Rafif Kalasan, Sleman,
D.I.Yogyakarta using a traditional game modified ‘Cublak-Cublak Suweng’ (modification) are media, rules of play
and song lyrics used in the development of literacy. 2) the method of developing in early childhood literacy through
game ‘Cublak-Cublak Suweng’ (modification) effective to introduce a literacy. This is because it can attract children
to learn literacy through play the game. Children feel excited and enthusiastic to play guessing letters contained in the
media and songs sung according to the purpose of learning literacy. Therefore the child competes to memorize all the
letters in order to win the game. 3) the method of literacy development has implication for the development of the
child’s language. Children are more likely to acquire metalinguistic knowledge through the introduction of letters that
are integrated with playing and singing activities. Thus, the process of developing early childhood literacy in RA Ar
Rafif, Kalasan, Sleman, D.I.Yogyakarta is effective and fun.
[Tujuan penelitian untuk mengkaji metode pengembangan literasi anak usia dini. Untuk mengembangkan literasi
pada anak usia dini diperlukan metode yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Salah satu metode yang
dapat menjadi alternatif adalah pengembangan literasi anak usia dini melalui permainan tradisional cublak-cublak
suweng (modifikasi). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analisis.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menyimpulkan,
bahwa 1) implementasi metode pengembangan literasi anak usia dini di RA Ar Rafif Kalasan menggunakan permainan tradisional cublak-cublak suweng (modifikasi), yang dimodifikasi adalah media, aturan main, dan lirik
lagu yang digunakan dalam pengembangan literasi; 2) metode pengembangan literasi anak usia dini melalui permainan
cublak-cublak suweng (modifikasi) efektif untuk mengenalkan literasi. Hal ini disebabkan dapat menarik
minat anak belajar literasi melalui bermain. Anak merasa senang dan antusias bermain tebak huruf yang terdapat
pada media dan lagu yang dinyanyikan sesuai tujuan belajar literasi. Sehingga anak berkompetisi menghafalkan
semua huruf agar dapat menang dalam permainan; 3) metode pengembangan literasi memiliki implikasi terhadap
perkembangan bahasa anak. Anak lebih mudah memperoleh pengetahuan metalinguistik melalui pengenalan hurufhuruf
yang diintegrasikan dengan kegiatan bermain dan bernyanyi. Dengan demikian, proses pengembangan literasi
anak usia dini di RA Ar Rafif efektif dan menyenangkan.]
Keywords: method, literacy, early childhood, traditional gam
Monitoring the emergence of a knowledge community: A corpus-based approach.
The paramount importance of the creation, sharing, and dissemination of knowledge in our present day knowledge based societies is unprecedented. The maximization of sharing and transferring useful knowledge has become a formidable challenge that needs more investigation. This can be facilitated by attaining a better understanding of how knowledge is created, shared and managed, in addition to investigating how knowledge-centred communities emerge. This research investigates whether computers can detect the relations between language, knowledge and community through monitoring the emergence of a knowledge community. A corpus based linguistic method was adapted to investigate the trace of knowledge transferred through texts written by and to different stakeholders in the community in order to monitor the emergence of a multidisciplinary community of practice in a particular domain. The method was based on theories related to the tendency of each knowledge community to develop and appropriate communal and specialized lexicons. It combined the use of univariate and multivariate analytical techniques in order to detect, to a high degree of reliability, the emergence of new knowledge communities and the diffusion of knowledge across community members. This led to a novel approach in the computerized observance and analysis of the emergence of knowledge communities based on how language shapes a community at the same time as a community shapes the language. It also led to proposing the information Spider Model; a document repository system designed for facilitating sharing knowledge through text among a community's members
Knowledge Sharing in a Community of Practice: a Text-Based Approach in Emergent Domains” The Electronic Journal of Knowledge Management Volume 4 Issue 2, pp 99 - 108, available online at www.ejkm.org
Abstract: The shared use of specialist terminology amongst the members of a community of practice is explored as evidence for the existence of the concept of communal lexicon. A computer-based method of investigating the extent of terminology is described – this method uses both univariate analysis, specifically frequency distribution of single and compound words, and multivariate statistical analysis, particularly factor analysis. The results show that terminology sharing may act as a metric for knowledge sharing and knowledge diffusion among different (sub-) communities. The case study chosen to demonstrate the efficacy of the terminology-sharing method is drawn from cancer care – especially breast cancer care, where texts produced for and by the three main components of the community are examined – namely the experts, the professionals and the patients
Al Tahlîl at Taqābuli fi Al Tasybîh Bayna Lughat Al 'Arabiyah Wa Lughoti Al Indûnisiyah wa Al Istifādah Minhu Ta’lîmiyan
This research aims to determine the similarities and differences between similes in Arabic and Indonesian languages, as well as the lessons learned from this analysis. The research employs a comparative analysis, which involves comparing Arabic similes with Indonesian similes to identify the differences between the two within the science of balaghah. A descriptive approach is adopted for this research. Data collection utilizes documentation and observation instruments, specifically through reviewing journals and books related to tasybih. The study's findings reveal that similes are widely used in both Arabic and Indonesian. However, there are some key similarities and differences between the two languages. Similarities lie in the meaning and function of similes, as they are used as metaphors in poetry and literature. The primary difference lies in the lack of subcategories for similes in Indonesian compared to Arabic. Additionally, the tools used for constructing similes are more extensive in Arabic. Furthermore, similes offer educational benefits in language learning by aiding learners in understanding and memorizing new vocabulary and grammatical structures. This study demonstrates the potential of similes as a tool for teaching both Arabic and Indonesian languages, particularly in enhancing language skills and cultural understanding.
Community of Practice and the Special Language "Ground"
The creation of new knowledge is essential for survival in a global economy, for providing better public services, and for maximising profits over long timeframes. People in an organisation create knowledge, and the organisation facilitates or hinders the creation. Knowledge is created through interaction, and this interaction often results in the emergence of a community. The community invariably develops a common social, philosophical, and cognitive ground amongst the members of an organisation, and helps members to share and learn knowledge of others. In an organisation people learn and share knowledge by watching each other, by talking to each other, by reading documents written by each other to gain a common understanding. Common understanding helps in creating a community. The community is a dynamical eco-system where new ideas are nurtured, existing ideas pruned, and some ‘killed off’. The understanding supports quiescent changes and paradigm shifts as well. A community is defined as a body of people “organized into a political, municipal, or social unity”—a body that shares values, beliefs, and aspirations and creates its own icons. All communities have an exchange system—rewards for good behaviour and opprobrium for bad. And language is amongst one of the important icons for communities as diverse as national and regional communities, and scientific and technical communities. A specialist community uses the language of the populace and then starts to specialise the meaning of certain words within the existing stock of words of the parent language, creates its own words, and places similar restrictions on the grammar of the populace at large when used within the community. This specialisation process results in the language of the community, and the language is called language for special purposes (LSP), language for specific purposes, or just special language of X, where X refers to a specific branch of human enterprise—language of physics, of business, of sports. There are further specialisations: LSP of nuclear physics, financial trading, and football. Special languages can be differentiated from the language of everyday usage at the level of vocabulary; the differences are increasingly less discernible at the levels of grammar, syntax, and semantics. Special languages are in many ways a social phenomenon: consciously created to foster a sense of common purpose amongst a group of people and sometimes used to exclude. Special languages are key instruments of personal and group promotion. A specialist community, individually and collectively, weaves a fabric of facts and imagination (Goodman, 1978); in essence, the weave is a collection of specialist texts. We attempt to relate the development of an LSP to a specific community (of practice). </jats:p
RELASI KUASA PENGETAHUAN DALAM TAFSIR SUFI MODERAT (SUFI ISYARI) (Studi Kitab Tafsir Lata’if al-Isyarat Karya al-Qusyairi)
Penafsiran al-Qusyairi dalam Lata’if al-Isyarat memiliki mekanisme yang berbeda dengan tafsir-tafsir sufi di periode sebelumnya, seperti al-Tustari dan al-Sulami, yang tidak menggunakan analisis keilmuan eksoteris seperti kebahasaan, fiqh, dan teologi secara mendalam. Dalam melakukan penafsiran, al-Qusyairi memadukan keilmuan zahir (exoteric) dan batin (esoteric), sehingga ia disebut sebagai tafsir sufi moderat (moderate sufi commentaries). Sementara dalam kesarjanaan Islam, penafsiran sufi yang tidak meninggalkan makna zahirnya disebut sebagai al-tafsir al-isyari. Perbedaan mekanisme penafsiran tersebut disebabkan salah satunya oleh konteks historis Nisapur yang memiliki pemikiran keagamaan yang beragam sekaligus dinamis. Lat}a>’if al-Isya>ra>t muncul ketika perdebatan wacana terkait sikap asketisme terjadi antara Malamatiyyah dan Karramiyyah. Kemunculan dua kelompok yang menjadi bagian dari gerakan asketisme (zuhd) dalam dunia Islam tersebut mendapat perhatian serius dari para penulis sekterian. Beberapa penulis dari kalangan ulama mempermasalahkan isu teologi dan mazhab fiqh dalam ajaran para zahid dan sufi. Kuatnya kuasa pengetahuan ulama eksoteris tersebut membatasi persepsi tentang Islam pada aspek eksoteris sehingga meminggirkan keilmuan yang bersifat esoteris. Mekanisme pengeksklusian aspek esoteris tersebut juga menyentuh ranah penafsiran al-Qur’an. Di tengah dinamika perdebatan yang terjadi antara keilmuan eksoteris yang hegemonik dan esoteris yang marjinal, tafsir al-Qusyairi hadir dengan metode yang khas dalam memadukan kedua keilmuan tersebut. Tesis ini akan mengkaji mekanisme relasi kuasa yang bekerja di penafsiran al-Qusyairi dalam upayanya mengangkat penafsiran sufistik.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah guna mengamati perdebatan wacana dalam konteks Nisapur secara khusus dan dunia Islam secara umum, serta analisis konten (content analysis). Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Proses analisis pada penelitian ini menggunakan tiga prinsip dalam analisis internal yang ditawarkan oleh Foucault, yakni: prinsip commentary (komentar), untuk mengamati mekanisme kuasa di dalam mukadimah; author (kepengarangan), dengan fokus pada tema-tema tertentu; serta discipline (disiplin), guna mengamati teknik penafsiran yang menjadi acuan al-Qusyairi. Secara keseluruhan, ketiga prinsip tersebut digunakan untuk menganalisis mekanisme relasi kuasa-pengetahuan yang bekerja di dalam Lat}a’if al-Isyarat.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara commentary, mekanisme yang dilakukan oleh al-Qusyairi ialah dengan menegaskan kuasa pengetahuan yang dimiliki oleh para ahl al-haqiqah, yakni orang-orang yang memperoleh pengetahuan langsung (intuitif) tentang Tuhan (haqiqah); menuliskan kembali pemikiran mereka di dalam penafsiran; serta mengganti diskursus ontologi makna zahir dan batin dengan klasifikasi antara ‘ulama’ dan asfiya’. Melalui mekanisme commentary, tafsir Lata’if al-Isyarat menempatkan dirinya pada wacana yang selama ini terpinggirkan, yakni tafsir sufistik. Sementara dari prinsip author, fungsi kepengarangan al-Qusyairi terlihat pada tujuannya yang berupaya menunjukkan keselarasan antara ajaran para sufi dengan keilmuan eksoteris. Contohnya ialah kesesuaian antara syari’at dan hakikat dalam penafsiran QS. al-Maidah: 6 yang memiliki ajaran serupa dengan al-Risalah al-Qusyairiyyah. Analisis prinsip author menghasilkan kesimpulan bahw
Dakhil al-Naqli dalam kitab tafsir al-Fatihah karya Ahmad Yasin Asymuni
Kajian literatur tafsir saat ini bersifat penting sebagai kajian intelektual. Tafsir Alquran melibatkan analisis ayat, menghasilkan karya dalam berbagai bahasa. Di Indonesia, kajian tafsir dilakukan dalam bahasa Indonesia, Arab, Melayu, dan bahasa daerah, menciptakan karya yang luas secara esensial. Meskipun demikian, terdapat kekeliruan dan penyimpangan dalam kajian literatur tafsir, seperti penggunaan hadis tanpa sanad yang lengkap. Salah satu contohnya adalah tokoh mufassir lokal KH. Ahmad Yasin Asymuni, beliau menciptakan banyak karya tulis termasuk tafsir Alquran.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran surah al-Fātiḥah dan mengetahui bentuk dakhīl al-naqli dalam kitab Tafsīr al Fātiḥah karya Ahmad Yasin Asymuni. Hal ini dilakukan karena dalam kitab Tafsīr al Fātiḥah terdapat hadis hadis yang hanya mencantumkan matannya saja, oleh karenanya dianggap penting untuk mengetahui kualitas sanadnya.
Jenis penelitian ini adalah metode kualitatif. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan pendekatannya adalah literature review atau tinjauan pustaka. Sumber primer penelitian ini adalah kitab Tafsīr al Fātiḥah karya Ahmad Yasin Asymuni dan sumber sekunder penelitian ini adalah metode metodologi kritik tafsir (al-dakhīl fī al-tafsīr) karya Ibrahim Syuaib Z. dan metode kritik ad-dakhīl fit-tafsīr karya Muhammad Ulinnuha.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa isi penafsiran kitab Tafsīr al Fātiḥah adalah semua pujian adalah milik Allah dan pemeliharaan Allah sangat menyeluruh, kasih sayang Allah meliputi sesuatu yang tidak diduga oleh makhluk-Nya, Allah merupakan pemilik hari akhir, ibadah memberikan bantuan untuk mencapai kemurnian hati, jalan yang lurus merupakan jalan yang terpendek dan teraman, nikmat adalah merupakan manfaat dari perbuatan baik, dan Allah memberikan kenikmatan kepada orang-orang yang taat.
Hadis yang dikutip Ahmad Yasin Asymuni dalam kitab Tafsīr al Fātiḥah berjumlah 25 hadis, yang mana di antara 25 hadis tersebut terindikasi dakhīl al-naqli sebanyak 13 hadis, yaitu: hadis I terdapat perawi yang dinilai ḍaʻīf oleh al-Ḥaitami; hadis II terdapat perawi yang tidak tersambung sanadnya dan dinilai ḍaʻīf oleh Syaikh al-Albāni; Hadis III terdapat perawi yang dinilai munkar oleh al-Bukhāri; hadis IV terdapat perawi yang dinilai matrūk oleh Abu ʻAbdullāh Muḥammad bin ʻAbdullāh al-Ḥāfiẓ; hadis V terdapat perawi yang dinilai meriwayatkan hadis sendirian dan tidak ada periwayat lain yang meriwayatkannya oleh Abu ʻAbdullāh Muḥammad bin ʻAbdullāh al-Ḥāfiẓ; hadis VI terdapat perawi yang dinilai meriwayatkan hadis sendirian dan berstatus matrūk oleh al-Baiḥaqi; hadis VII terdapat perawi yang dinilai kedaʻīfannya terletak pada gurunya oleh al-Dāruquṭni; hadis VIII terdapat perawi bernama yang dinilai ḍaʻīf oleh al-Baiḥaqi; hadis IX terdapat perawi yang beliau dinilai tercela oleh al-Baiḥaqi; hadis X terdapat dua perawi yang dinilai ḍaʻīf oleh Abū Aḥmad al-Ḥākim; hadis XI terdapat perawi yang dinilai ḍaʻīf oleh al-Dāruquṭni; hadis XII terdapat perawi yang dinilai daʻīf oleh Ibnu Yūnus; hadis XIII terdapat perawi yang dinilai daʻīf oleh al-Haiṭami
- …
