476 research outputs found
Dataset for: Towards Reliable and Secure Physical Unclonable Functions
Research data for the Ph.D. thesis titled: Towards Reliable and Secure Physical Unclonable Functions. Author: Mohd Syafiq Mispan. Year: 2018.</span
Muhammad Syafiq, graduan TVET terima Anugerah Kecemerlangan Perodua
GAMBANG, 27 Oktober 2024 – Biarpun agak terkejut namanya dinobatkan sebagai penerima Anugerah Kecemerlangan Perodua pada Majlis Konvokesyen Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMPSA) Ke-19, namun Muhammad Syafiq Abdul Razak, 25, tetap bersyukur apabila kerja keras yang diusahakannya selama ini membuahkan hasil
Active in community service programmes, Muhammad Syafiq receives Sapura Industrial Excellence Award
GAMBANG, 27 October 2024 – Muhammad Syafiq Mohd Wahidan, 24, the son of a retired military officer, Mohd Wahidan Amat Karim, 50, and a teacher, Aizamiah Ahmad, 48, was named the recipient of the Sapura Industrial Excellence Award at the 19th Convocation Ceremony of Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMPSA), held at the UMPSA Sports Complex Hall, Gambang Campus
Aktif dalam Program Khidmat Masyarakat, Muhammad Syafiq terima Anugerah Kecemerlangan Sapura Industrial
GAMBANG, 27 Oktober 2024 - Muhammad Syafiq Mohd Wahidan, 24, anak kepada pasangan pesara tentera, Mohd Wahidan Amat Karim, 50 dan guru, Aizamiah Ahmad, 48 telah dinobatkan sebagai penerima Anugerah Kecemerlangan Sapura Industrial dalam Majlis Konvokesyen Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMPSA) Ke-19 yang berlangsung di Dewan Kompleks Sukan UMSPSA Kampus Gambang
Pernikahan Wanita Janda Perspektif Syafiq Riza Basalamah
The status of a widowed woman is a difficult and emotional challenge because they must take care of their needs and their children alone, and they also have to feel the psychological burden of the surrounding community, because society in general still views widow status negatively. Widowed women, if they decide to remarry after a divorce, are underestimated by most people and even labeled with negative things. This research was conducted with the author raising the perspective of an Ahlusunnah da'i, namely Syafiq Riza bin Hasan bin Abdul Qadir bin Salim Basalamah. He is an Ahlusunnah da'i who often discusses Islamic law and marriage based on the foundation of the Qur'an and Hadith. Hence, the purpose of this study is to provide insight and information about the law of remarriage for widowed women and the wisdom of marrying widowed women from an Islamic perspective and the perspective of Syafiq Riza Basalamah. This research was conducted using a qualitative approach method that uses content analysis where data sources are obtained from YouTube videos, books, and several scientific papers. Thus, the results of this study have found that the law of remarriage for widowed women from an Islamic perspective and the perspective of Syafiq Riza Basalamah is that it is permissible not to do so and is obligatory under certain conditions, and helping widows is not only marrying but also meeting their needs.Status wanita janda merupakan tantangan emosional yang berat dan sulit karena mereka harus mengurus kebutuhan hidupnya serta anaknya dengan seorang diri, bahkan mereka juga harus merasakan beban psikologis dari masyarakat sekitarnya, karena masyarakat pada umumnya masih memandang negatif status janda. Wanita janda pun jika memutuskan untuk menikah kembali setelah bercerai, dipandang sebelah mata oleh kebanyakan masyarakat umumnya bahkan dilabeli dengan hal-hal negatif. Penelitian ini dilakukan dengan penulis mengangkat perspektif seorang da’i Ahlusunnah yaitu Syafiq Riza bin Hasan bin Abdul Qadir bin Salim Basalamah. Beliau adalah da’i Ahlusunnah yang sering membahas hukum Islam dan pernikahan berdasarkan landasan Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian maka, tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan dan informasi tentang hukum menikah kembali bagi wanita janda dan hikmah menikahi wanita janda perspektif Islam dan perspektif Syafiq Riza Basalamah. Penelitian ini dilakukan dengan memakai metode pendekatan kualitatif yang menggunakan analisis isi dimana sumber data yang didapatkan melalui dari video youtube, buku-buku, serta beberapa karya ilmiah. Dengan demikian, hasil dari penelitian ini telah diketahui bahwa hukum menikah kembali bagi wanita janda perspektif Islam dan perspektif Syafiq Riza Basalamah adalah boleh untuk tidak melakukannya dan wajib dengan syarat tertentu, serta menolong janda bukan hanya menikahi tetapi juga memenuhi kebutuhannya
Membentuk Keluarga Islami untuk Menghadapi Tantangan Zaman Perspektif Syafiq Riza Hasan Basalamah
The family is understood as a primary group consisting of two or more people who have a network of interpersonal interactions, blood relations, marital relations, and adoption. One of the important obligations of a family leader from an Islamic point of view is to fortify his family members by forming an Islamic family to avoid disobedience, especially as the era of disobedience has become more and more rampant. The problems that will be discussed in this study are what is the definition of an Islamic family, what are the steps to form an Islamic family to face the challenges of the times, and what are the goals of forming an Islamic family. The problems above will be answered through the perspective of Syafiq Riza Hasan Basalamah, who is one of the Islamic leaders in Indonesia. The purpose of this research is to know the definition of an Islamic family from the perspective of Syafiq Riza Hasan Basalamah, to know and find steps and goals to form an Islamic family to face the challenges of the times from the perspective of Syafiq Riza Hasan Basalamah. This research approach uses a qualitative descriptive approach. The results of this study show that: Syafiq Riza Hasan Basalamah states that the definition of an Islamic family is a family that always serves Allah subhaanahu wata'aala. There are four steps in forming an Islamic family which Syafiq Riza Hasan Basalamah explains in his video. And there are three objectives of forming an Islamic family mentioned by Syafiq Hasan Riza Basalamah in his video.Keluarga dipahami sebagai kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih orang yang mempunyai jaringan interaksi interpersonal, hubungan darah, hubungan perkawinan, dan adopsi. Salah satu kewajiban penting seorang pemimpin keluarga dalam sudut pandang Islam adalah membentengi anggota keluarganya dengan membentuk keluarga Islami agar terhindar dari kemaksiatan, apalagi seiring berkembangnya zaman kemaksiatan pun semakin merajalela. Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah apa definisi keluarga Islami, bagaiamana langkah-langkah membentuk keluarga Islami untuk menghadapi tantangan zaman, dan apa saja tujuan dari membentuk keluarga Islami. Masalah-masalah diatas akan dijawab melalui perspektif Syafiq Riza Hasan Basalamah, yang mana ia merupakan salah satu tokoh Islam di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui definisi keluarga Islami perspektif Syafiq Riza Hasan Basalamah, mengetahui dan menemukan langkah dan tujuan membentuk keluarga Islami untuk menghadapi tantangan zaman perspektif Syafiq Riza Hasan Basalamah. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekat deksriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: Syafiq Riza Hasan Basalamah menyebutkan bahwa definisi keluarga Islami adalah keluarga yang selalu mengabdi kepada Allah subhaanahu wata’aala. Terdapat empat langkah dalam membentuk keluarga Islami yang dijelaskan Syafiq Riza Hasan Basalamah dalam vidionya. Dan ada tiga tujuan dari membentuk keluarga Islami yang disebutkan oleh Syafiq Riza Hasan Basalamah dalam vidionya
RESEPSI FUNGSIONAL AYAT-AYAT AL-QUR’AN SEBAGAI MEDIA PENGOBATAN TERAPI RUQYAH GANGGUAN JIN OLEH KYAI SYAFIQ ABDILLAH DI KABUPATEN KEBUMEN
Praktik ruqyah yang dilakukan oleh Kyai Syafiq Abdillah menggunakan
ayat-ayat al-Qur’an sebagai media pengobatannya. Dalam kajian ilmu al-Qur’an hal
ini disebut dengan living qur’an yang mana al-Qur’an dipahami tidak hanya sebagai
bacaan yang akan mendapatkan balasan pahala bagi pembacanya, namun al-Qur’an
hidup dan menyatu dengan kehidupan manusia. Dalam hal ini al-Qur’an digunakan
sebagai suatu media pengobatan. Hal ini disebut dengan resepsi fungsional atas
ayat al-Qur’an. Penelitian ini dibatasi dua masalah,. Pertama, bagaimana praktik
ruqyah gangguan jin dengan ayat – ayat al-Qur’an yang dilakukan oleh Kyai Syafiq
Abdillah? kedua bagaimana makna fungsi penggunan ayat – ayat al-Qur’an dalam
praktik ruqyah gangguan jin bagi Kyai Syafiq Abdillah?
Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian lapangan (Field Research).
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif . Oleh karena itu peneliti
menggunakan tiga metode dalam proses pengumpulan data yaitu observasi,
wawancara dan dokumentasi. Sedangkan analisis yang digunakan dalam penelitian
ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif yaitu analisis penelitian yang
dilakukan untuk mendeskripsikan situasi tertentu yang bersifat formal secara
sistematis dan akurat.
Hasil penelitian ini adalah Kyai Syafiq Abdillah meyakini bahwa al-Qur’an
tidak hanya merupakan teks tertulis yang hanya bisa dibaca dan didengarkan,. Lebih
jauh al-Qur’an memiliki fungsi yang besar bagi manusia yaitu sebagai obat. AlQur’an
adalah obat bagi segala macam penyakit. Untuk itu al-Qur’an mampu
menjadi obat bagi pasien yang terkena gangguan jin. Selanjutnya dalam praktiknya
proses ruqyah Kyai Syafiq Abdillah terbagi menjadi tiga tahap, pertama tahap pra
ruqyah yaitu persiapan sebelum proses ruqyah berlangsung, seperti melepaskan
benda-benda yang menempel di anggota tubuh yang digunakan sebagai cecekelan,
berniat mengelurkan jin dalam tubuh dan yakin atas pengobatan dan kesembuhan
dari Allah. Kedua, tahap prosesi ruqyah. Dimulai dengan pembacaan sholawat,
tawassul dan pembacaan ayat-ayat ruqyah. Ayat ruqyah berisi ayat penyiksa jin dan
pembakar jin. Tahap ketiga yaitu pasca ruqyah. Pada tahap ini pasien akan diberi
amalan berupa ayat hafaẓah untuk membentengi diri dari gangguan jin
Understanding women in islam : an Indonesian perspective
Understanding Women in Islam: An Indonesian Perspective critically explores gender-biased discourse within Islamic jurisprudence. It also elucidates matters seldom discussed in the Qu'ran and proposes a way out from the current methodological deadlock regarding women's position in Islam. ABOUT THE AUTHOR SYAFIQ HASYIM is an analyst for issues on women in Islam, political Islam and Islamic radicalism, and currently Deputy Director of ICIP (International Centre for Islam and Pluralism) in Jakarta
- …
