83 research outputs found
Sheikh Muhammad Yasin al-Fadani’s Contribution to the 20th Century Nusantara-Haramain Ulama Intellectual Network in Manuscript Al-'Iqdu al-Farid min Jawahir al-Asanid
This study examines the intellectual network of Nusantara ulama (Muslim scholars) through the chain of transmission (sanad) found in Sheikh Muhammad Yasin al-Fadani’s al-Iqdu al-Farid min Jawahir al-Asanid. Sheikh Muhammad Yasin al-Fadani was a prominent Muslim scholar in Mecca and of Minangkabau descent. He was renowned for his extensive knowledge of the intellectual networks of Muslim scholars worldwide in the 20th century. Hence, this study investigates Sheikh Muhammad Yasin al-Fadani’s contributions to the intellectual network of Nusantara scholars with the scholars of Haramain, focusing on the manuscript al-Iqdu al-Farid min Jawahir al-Asanid. This study utilized a literature review to analyze Sheikh Muhammad Yasin al-Fadani’s contributions and his manuscript. The findings of this research explain that Sheikh Muhammad Yasin al-Fadani’s al-Iqdu al-Farid min Jawahir al-Asanid provides crucial information regarding the intellectual network of Nusantara ulama with those in Haramain and the Middle East in the 20th century. It successfully revealed their expertise in various Islamic studies disciplines and their contributions to scholarly development
Kiprah Rumah Tahfizh Al-Haramain dalam Pembinaan Generasi Qurani
Penelitian ini bermula pada pembinaan seorang murid untuk membentuk generasi qurani yang banyak sekali telah dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam, terutama oleh lembaga yang khusus menerima orang yang mempelajari Alquran. Salah satunya Rumah Tahfizh Al-Haramain Banjarmasin. Rumah Tahfizh ini memberikan pembinaan kepada santri-santrinya dengan menggunakan metode menghafal Alquran yang telah disesuaikan kepada kemampuan santri serta pengajaran mengenai akhlaq yang baik.
Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana kiprah atau pencapaian selama ini dalam pembinaan di Rumah Tahfizh Al-Haramain Banjarmasin, serta strategi yang dilakukan dan kendala yang dihadapi dalam pembinaan. Dalam upaya membentuk pribadi generasi qurani. Kiprah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kegiatan pembinaan yang dilakukan Rumah Tahfizh Al-Haramain serta pencapaiannya selama ini. Sedangkan generasi qurani yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kepribadian individu yang mencerminkan nilai Alquran dalam diri guna diamalkan dalam keseharian.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan mengambil lokasi di Rumah Tahfizh Al-Haramain Banjarmasin. Subjek penelitian ini adalah satu orang ustadz, satu orang tokoh masyarakat, satu orang tua wali, dan tiga orang santri tahfizh. Adapun pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Pengolahan data dilakukan dengan, klasifikasi data, interpretasi data, editing data. Analisis data dilakukan dengan memberikan makna terhadap data yang berhasil dikumpulkan dan dari makna itulah ditarik kesimpulan.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kiprah di Rumah Tahfizh Al-Haramain Banjarmasin dianggap sudah cukup baik. Hal ini terbukti dengan para santri yang lulus ataupun belum dengan kemampuannya dalam bacaan, dan hafalan Alquran yang bagus serta pemahamannya dalam agama, meskipun kualitasnya belum mencapai generasi qurani yang dikehendaki berdasarkan teori yang penulis dapatkan. Strategi yang digunakan oleh Rumah Tahfizh ini adalah dengan menggunakan metode Ummi yang mana pembelajarannya bersifat klasikal. Adapun mengenai kendala dalam pembinaan tersebut, hanya ada dua kendala yang didapati yaitu masalah ustadz yang terkadang mengajarnya tidak sesuai standar dan masalah keaktifan santri dalam belajar dan kehadirannya ke kelas
Sistem Karantina Tahfidzh 1 Hari untuk Anak Usia SD/MI di Rumah Tahfidzh Al-Haramain Kota Banjarmasin
                                                             AbstrakPada umumnya seorang santri di Indonesia merampungkan hafalan Al-Qur’an dalam jangka 2 - 4 tahun. Jangka waktu selama itu menjadi kendala bagi sebagian orang karena harus meninggalkan aktifitas demi fokus menghafal Al-Qur’an. Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah Karantina Tahfidzh Al-Qur’an 1 Hari, sebuah kegiatan di mana peserta diasramakan untuk fokus menghafal Al-Qur’an selama 1 hari. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pelaksanaan Karantina Tahfidzh Al-Qur’an 1 Hari untuk anak usia SD/MI di Rumah Tahfizh Al-Haramain, mendeskripsikan capaian hafalan dan kriteria peserta yang mencapai hafalan paling banyak, serta mengetahui kendala yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data primer yang digunakan yaitu: narasumber, aktivitas, dan lokasi. Analisis dilakukan dengan proses pengumpulan, reduksi, paparan, verifikasi data, dilanjutkan dengan pengambilan simpulan. Validitas data dilakukan dengan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Karantina Tahfidzh Al-Qur’an 1 Hari untuk anak usia SD/MI di Rumah Tahfizh Al-Haramain dilaksanakan pada hari sabtu setelah shalat ashar hingga hari Ahad ketika dhuhur. Kegiatan ini dilaksanakan dengan dua program, yaitu inti dan pelengkap, 2) capaian hafalan peserta usia SD/MI paling tinggi adalah 62 baris atau 4 halaman, sedangkan paling rendah adalah 30 baris atau 2 halaman, 3) hafalan paling banyak dicapai oleh 3 peserta perempuan yang duduk di kelas V dan VI. Ketiga peserta tersebut merupakan santri yang cerdas secara akademik dan mempunyai bacaan Al-Qur’an yang sesuai tajwid, dan 4) kendala yang dihadapi dalam kegiatan ini ialah kondisi peserta yang kelelahan, sesi setoran pagi yang terlambat, kesalahan hafalan, dan kualitas hafalan yang belum kuat.Kata Kunci: karantina tafidzh al-Qur’an, 1 hari, siswa, SD/MI  AbstractIn general, a santri in Indonesia completes memorization of the Qur'an in a period of 2-4 years. This long period of time is being the obstacle for some people to memorize, because they have to cut their activities off to get focus in memorizing. One of the solutions from the problem above is One-Day Tahfizh Quarantine Program, an event which all the participants placed in one place or dormitory to stay focus in memorizing Qur’an in one day. This research aims to describe the implementation of One-Day Tahfizh Qur’an Quarantine Program for elementary school students in Banjarmasin, to describe their achievement in memorizing and the criteria, and to find out the obstacles faced by the organizer and the participants. This research uses qualitative approach with case study. Sources of the primer data chosen in the research are informants, activities, and location. The analysis conducted from the proccess of collection data, reduction data, explanation, verification, and interpretation conclusion phase. Checking the validity of the data conducted with triangulation. The findings of the research: 1) One-Day Tahfizh Quarantine Program for elementary school students in Rumah Tahfizh Al-Haramain Banjarmasin conducted on weekends, which is on Saturday after Ashr prayer and finishes on Sunday Dzuhur Prayer. The activity holds with primer and complement programs; 2) The highest achievement is 62 lines, or 4 pages 2 lines, and the lowest achievement is 30 lines or 2 pages; 3) The most memorization is 3 female participants who are 2 fifth graders and 1 sixth grader. The three participants are smart students, having good beauty and correct recitation based on the structure; 4) obstacles faced by the organizer are tiring condition of the participants, late morning session, error memorization, and the weak quality of the memorization.Keywords: tahfizh Qur’an quarantine, one-day, students, elementary schoo
Kegiatan Pembelajaran Tahsin di Rumah Tahfizh Al-Haramain Cabang Teluk Tiram Darat Banjarmasin
Seorang muslim sangat dianjurkan menghafal Al-Qur’an sebab ini
mempunyai keutamaan yang besar bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Secara
umum menghafal Al-Qur’an dapat dilakukan oleh siapa saja, baik itu anak-anak
dan orang tua. Namun, dalam menghafal Al-Qur’an seseorang terlebih dahulu harus
baik dalam membaca Al-Qur’an agar ayat yang dihafalkan tidak keliru. Oleh karena
itu sangat diperlukan adanya pembelajaran tahsin untuk memperbaiki bacaan AlQur’an. Focus penelitian ini adalah kegiatan belajar tahsin dan faktor yang
mendukung dan menghambat kegiatan pembelajaran tahsin.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan
pembelajaran tahsin di Rumah Tahfizh Al-Haramain Cabang Teluk Tiram
Banjarmasin, dan untuk mendiskripsikan faktor pendukung dan penghambat dalam
kegiatan pembelajaran tahsin di Rumah Tahfizh Al-Haramain Cabang Teluk Tiram
Darat Banjarmasin.
Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) bersifat deskriftif
yaitu menggambarkan apa adanya kenyataaan faktual yang ditemukan di lapangan.
Subjek dalam penelitian ini adalah 2 orang ustadz/ustadzah dan 10 orang santri.
Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran tahsin di
Rumah Tahfizh Al-Haramain Cabang Teluk Tiram Banjarmasin dan Faktor
pendukung dan penghambat dalam kegiatan pembelajaran tahsin di Rumah Tahfizh
Al-Haramain Cabang Teluk Tiram Darat Banjarmasin. Tekhnik pengumpulan data
yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk tekhnik
pengolahan data yang digunakan adalah Koleksi data, Pengeditan data dan Klasifikasi
data.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan Kegiatan Pembelajaran tahsin
terdiri dari kegiatan awal sebelum pembelajaran dimulai, pembukaan dan
penyampaian materi, kegiatan inti pelaksanaan pembelajaran Tahsin, kegiatan
evaluasi dan penutup. Adapun faktor pendukung dalam kegiatan pembelajaran
tahsin terdiri dari faktor tujuan, faktor siswa terdiri dari minat dan perhatian, situasi
dan kondisi, faktor fasilitas, dan faktor guru dari segi latar belakang pendidikan dan
pengalaman belajar. Sedangkan faktor penghambat pembelajaran tahsin, yaitu
berasal dari dalam diri sendiri, lingkungan dan waktu
Konstruksi Pemikiran Maqashid Syari’ah Imam Al-Haramain Al-Juwaini (Kajian Sosio-Historis)
Maqashid syari’ah merupakan sebauh bahasan keilmuan yang sekarang ini
menjadi menjadi topik yang hangat. Maqashid syari’ah yang biasa didefinisikan
sebagai tujaun syari;at merupakan ilmu yang lahir dari kajian ushul fiqih dalam
melakukan istinbath hukum. Banyaknya versi mengenai teori maqashid syari’aih ini
menjadikan suatu hal yang layak dijadikan lahan penelitian. Penelitian ini merupakan
jenis library research (penelitian literal) dengan judul Konstruksi Pemikiran Maqashid
Syari’ah Imam Al-Haramain Al-Juwaini (Kajian Sosio-Historis). Penelitian ini
berusaha mengurai dan mendalami akar konsep maqashid syari’ah yang digagas oleh
Imam Al-Haramain yang penulis anggap sebagai embrio lahirnya disiplin ilmu baru,
Maqashid Syari’ah dalam kajian ushul fiqih. Berdasarkan latar belakang tersebut,
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah; pertama, mengetahui maqashid syari’ah
dalam sejarahnya sejak mulai adanya penggunaan istilah hingga terbentuknya suatu
disiplin ilmu. kedua, bagaiman sejarah hidup Imam Al-Haramain Al-Juwaini yang
merupakan ulama ushul pertama yang mengenalkan istilah dharuriyat, hajiyat, dan
tahsiniya ?serta ketiga, mengetahui konstruksi pemikiran maqashid syari’ah Imam Al-
Haramain Al-Juwaini yang ,menjadi landasan pemikiran maqashid syari’ah sekarang ini.
Pengetahuan mengenai maqashid syari’ah menjadi sangat penting tidak hanya
bagi para ahli fiqih, akan tetapi juga bagi seluruh kalangan baik pelajar, hakim, maupun
orang awam. Mengetahui maqashid syari’ah bagi masing-masing kalangan menjadikan
lebih baik dalam melaksanakan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagi seorang hakim,
akan memudahkannya memutuskan perkara dengan lebih adil. Bagi seorang pelajar, dapat
memperkaya pengetahuannya mengenai hukum Islam. Bagi orang awam, dengan
mengetahui maqashid syari’ah setiap perbuatan dan ibadahnya maka akan menjadikannya
seorang yang teguh melaksanakannya, tidak hanya taqlid terhadap suatu pendapat tanpa
mengetahui argumentasi dan dalil yang digunakan.
Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan sosio
historis terhadap karya-karya Imam Al-Haramain Al-Juwaini yang berkaitan dengan
pokok bahasan penelitian ini, maka penelitian ini menghasilkan beberapa konklusi
bahwa: Pertama, Maqashid syari’at secara implisit sebenarnya sudah ada sejak zaman
Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Sallam sebab tujuan syari’at selalu ada
menyertai nash atau syari’at yang diturunkan oleh Allah. Kedua, Imam Al-Haramain
Al-Juwaini merupakan orang pertama yang mengenalkan konstruksi pemikiran
maqashid syari’ah dalam pengambilan suatu hukum dengan berdasarkan tingkat
kemaslahatannya, apakah kategori dharuriyat, hajiyat, atau tahsiniyat.
Sebagaimana penelitian yang lain, penelitian ini juga tentu masih menyisakan
beberapa kekurangan karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis.
Penulis berharap dengan penelitian ini dapat bermanfaat untuk dijadikan rujukan dan
motivasi bagi penelitian-penelitian yang lebih komplit dan mendalam selanjutnya
Penerapan Komunikasi Interpersonal Pengasuh Terhadap Santri Dirumah Tahfidz Al-Haramain Pekapuran Raya Banjarmasin
Arah, Komunikasi Dua Arah, Tahfidz Al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan Allah swt kepada Nabi
Muhammad saw melalui malaikat Jibril as, sebagai umat muslim kita harus
berpegang dan berpedoman kepada al-qur’an, banyak kebaikan dan pahala yang
didapatkan apabila seorang muslim mengamalkan dan berpedoman kepada
alqur’an, apalagi kita sebagai muslim bisa menghafalnya. Menghafal alquran Itulah
yang ditekankan dalam pembelajaran di rumah tahfidz al-haramain Pekapuran Raya
Banjarmasin ini.
Sedangkan fokus permasalahan pada penelitian ini adalah pada penerapan
komunikasi interpersonal dan bagaimana pola komunikasinya, Penerapan
komunikasi interpersonal merupakan salah satu jenis komunikasi yang memiliki
arti tersendiri, dalam penerapannya komunikasi interpersonal merupakan
pertukaran informasi dari satu orang dengan dua orang atau lebih, dalam penelitian
ini berfokus pada antara pengasuh/guru dan santri dirumah Tahfidz Al-Haramain
Pekapuran Raya Banjarmasin.
Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif, yang mana teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini berupa observasi (pengamatan dan
pencatatan secara langsung) dan wawancara secara langsung maupun tidak
langsung, serta dokumentasi hasil penelitian, dan penarikan kesimpulan sesuai
permasalahan dan judul pada penelitian ini.
Hasil penelitian ini adalah rumah Tahfidz Al-Haramain Pekapuran Raya
Banjarmasin merupakan yayasan pendidikan berbasis pada pendidikan keagamaan
pada fokus pembelajaran keislaman dan menghafal alquran, berdiri sejak tanggal
26 maret 2014. Dan pada awalnya memiliki jumlah santri 22 orang dengan 3 orang
tenaga pengajar, dan sampai sekarang santri tahfidz sudah berjumlah kurang lebih
800 orang dan memiliki kurang lebih 40 tenaga pengajar.
Pada dasarnya pola komunikasi yang ada dan diterapkan antara
pegasuh/guru terhadap santri yaitu pola komunikasi dua arah pada sesi kegiatan
belajar mengajar seperti setor hafalan, pembelajaran tajwid dan jilid ummi, dan pola
komunikasi semua arah pada sesi pembelajaran ta’lim seperti ta’lim akhlak, ta’lim
fiqih dan pembacaan amalan-amalan harian. Sedangkan komunikasi interpersonal
yang diterapkan pengasuh/guru terhadap santri dirumah Tahfidz Al-Haramain
Pekapuran Raya Banjarmasin sudah diterapkan dan dijalankan dengan baik, dan
ada hambatan-hambatan yang terjadi pada penerapan komunikasi interpersonal
sebagaimana yang disimpulkan pada penelitian in
Kiprah dan kontribusi al Habib Muhammad bin Ali al Habsyi pada masa pemerintahan orde baru (1968-1993)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sosok ulama berpengaruh di Jakarta khususnya Masyarakat Betawi daerah Kwitang, Jakarta Pusat yang dianggap telah banyak memberikan dampak kepada Masyarakat Jakarta sehingga Majelis yang didirikan dapat mengundang berbagai masyarakat secara luas. Tidak hanya se-Jabodetabek, akan tetapi seluruh Indonesia. Sosok ini Bernama Habib Muhammad bin Ali Al Habsyi anak dari Habib Ali bin Abdurahman al Habsyi Kwitang yang menjadi penerus estafet kepemimpinan ayahnya dalam mengembangkan Islamic Center Jakarta.
Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kiprah serta kontribusi yang diberikan Habib Muhammad bin Ali al Habsyi untuk Jakarta antara tahun 1968 – 1993. Tahun tersebut diambil berdasarkan pengangkatan Habib Muhammad bin Ali al Habsyi ketika menjadi pemimpin menggantikan ayahnya atas Majelis Kwitang Jakarta hingga beliau wafat.
Metode yang dipergunakan penelitian ini adalah metode penelitian sejarah. Metode yang tak asing bagi sejarahwan yakni terdiri atas metode heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Untuk dapat menjelaskan bagaimana biografi dan kontribusinya, digunakanlah teori The Great Man yang dikemukakan oleh Thomas Charlyle, yakni The History of the World is but biography of Great Man. Bahwa sejarah diciptakan oleh biografi – biografi orang besar. Dari sumber dikumpulkan dapat dikatakan bahwa kontribusi Al Habib Muhammad bin Ali Al Habsyi mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap Majelis Kwitang dalam Politik -Keagamaan di Jakarta.
Hasil Penelitian Ini mengungkapkan bahwa Habib Muhammad bin Ali al Habsyi merupakan anak bungsu dari ke-10 bersaudara antara Syarifah Aisyah dan Habib Ali al Habsyi Kwitang.Habib Muhammad al Habsyi menggantikan Habib Ali Kwitang memimpin Islamic Center Jakarta yang dirubah menjadi Islamic Center Indonesia (ICI). Selain sebagai ulama yang alim, Habib Muhammad al Habsyi berperan dan berkontribusi dalam menjalin hubungan dengan mufti dan ulama Haramain. Beliau juga ikut terjun berpolitik bahkan sempat menjadi Anggota DPA dan Penasihat Khusus Presiden Suharto sebagai orang kepercayaannya pada masa orde baru. Akan tetapi, di usianya yang semakin tua Habib Muhammad bin Ali al Habsyi mengalami sakit berkepanjangan yang akhirnya meninggal pada Sabtu, 11 Desember 1993. Pengaruh ajaran Habib Muhammad bin Ali telah memberikan dampak besar bagi sebagian warga Jakarta terutama wilayah Jakarta Pusat dan menjadi salah satu Habaib Berpengaruh di tanah Betawi
Atsar al-mamlukah al-'arabiyah al-sa'udiyah al-ra'id fi al-ihtimam bi dirasati al-istisyraqiyah fi 'ahd khadim al-haramain al-syarifain al-mulk fihd ibn 'abd al-'aziz ali su'ud
Buku ini membahas tentang berkurangnya adat ketimuran di Saudi Arabia. Pembahannya meliputi: mauquf al-mamlukah min al-ghazw al-fikri washilah al-istisyraq bihi, juhud al-jami'ah al-imam muhammad ibn su'ud al-islamiyah fi dirasah al-istisyraq, dan lain-lain
- …
