7 research outputs found

    GARAP KENDANG MUNTAB, MAWUR, RIMONG, RANUMANGGALA, KEDHATON BENTAR, BONDHAN KINANTHI

    No full text
    Calon sarjana karawitan, penyaji mempunyai tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan gending-gending tradisi gaya Surakarta, salah satu caranya adalah dengan memilih minat tugas akhir pengrawit, karena dengan memilih tugas akhir pengrawit, penyaji akan mendapatkan pengalaman menyajikan dan menggarap gending tradisi gaya Surakarta dengan baik, untuk selanjutnya penyaji berharap dapat menguasai garap gending tradisi gaya Surakarta.Adapun materi dalam tugas akhir pengrawit, penyaji diwajibkan untuk menguasai tiga kategori gending, antara lain paket klenèngan, gending pakeliran, gending bedhayan atau srimpèn. Gending klenèngan terdiri dari empat gending yang masing-masing memiliki jenis garap yang berbeda (inggah kendhang irama dadi, kosèk alus, garap ciblon kethuk wolu, mrabot), satu gending untuk pakeliran dan satu gending bedhayan atau srimpèn untuk kategori gending beksan. Berikut Berikut gending-gending yang dipilih untuk tugas akhir pengrawit: (1) Muntab, gendhing kethuk sekawan kerep minggah wolu laras pélog pathet limå, (2) Mawur, gendhing kethuk sekawan awis minggah wolu kalajengaken Ladrang Kagok Madura laras sléndro pathet sångå, (3) Rimong, gendhing kethuk sekawan awis minggah wolu kalajengaken Ladrang Moncèr Alus laras pélog pathet barang, (4) Jineman Uler Kambang suwuk, kalajengaken Ranumanggålå, gendhing kethuk kalih kerep minggah sekawan kalajengaken Ladrang Kembang Katès trus Ayak-ayak kaseling Mijil Larasati, trus Srepeg, mawi Palaran Asmarandana Kagok Ketanon, Dhandhanggulå laras pélog pathet nem, (5) Ǻda-åda ngobong dupå, Kedhaton Bentar, gendhing kethuk kalih kerep minggah sekawan suwuk, Ǻdå-ådå Girisa, Ǻdå-ådå Haståkuswålå, Ǻdå-ådå Mataraman laras pélog pathet nem, kalajengaken Lancaran Tropong Bang kaseling Ketawang Langengitå, Ǻdå-ådå jugag terus Srepeg Lasem suwuk, kaseling Godril terus Srepeg Lasem suwuk, Pathet Kedhu, (6) Bondhan Kinanthi, gendhing kethuk sekawan kerep minggah Kinanthi kalajengaken Ladrang Semang, laras pélog pathet nem

    Garap Kendhangan in Gendhing Lampah Tiga

    No full text
    This research plan intends to study, analyze, and explain comprehensively but in a more practical format regarding the interpretation and working of kendhang on the structure lampah tiga. Gendhing with the lampah tiga structure is one of the special gendhing structures because it has a bar where not many gendhing repertoires have this bar, so, of course, there are many problems for the composer, especially the ricikan kendang to present this gendhing structure, knowledge is needed to determine the interpretation and garap variant so that it can identify and present gendhing with structure. The method used is a descriptive analysis based on empirical knowledge. Empirical knowledge will help in analyzing the variety and interpretation of the lampah tiga structure, while the garap approach is used as a tool to dissect the musical situation in the intended gendhing structure. The qualitative descriptive data analysis method is carried out by observing the validity of the data through data triangulation. Accurate data collection through library research, interviews, and observations is expected to be able to explore the work on kendhangan gendhing lampah tiga. It is hoped that this research will be able to support teaching and learning activities in the form of textbooks, and it is hoped that it can add references to karawitan knowledge books

    Konsep Mandheg dalam Karawitan Gaya Surakarta

    No full text
    Tulisan ini mengungkap mandheg sebagai salah satu konsep lokal di dalam karawitan Jawa gaya Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menggali persoalan yang terkait dengan pengertian mandheg, proses terjadinya mandheg, hal-hal yang berhubungan dengan pemaknaan, elemen pembentuk, dan fungsi mandheg di dalam proses penggarapan gending. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, wawancara, dan pengamatan pertunjukan. Analisis dilakukan dengan menafsirkan kembali pemikiran dan pengalaman pengrawit yang diperoleh melalui realitas pragmatik. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa mandheg dimaknai sebagai sajian gending yang berhenti sejenak pada sebuah titik dengan ciri pola kendangan mandheg dan alur yang spesifik setelah mandheg. Mandheg dibagi menjadi dua yaitu mandheg kedah dan mandheg pasrèn, dengan elemen pembentuk, antara lain andhegan gawan, kalimat lagu, variabel melodi balungan, dan sekar. Mandheg bersifat wajib dan fakultatif. Andhegan dan variabel yang spesifik membuat mandheg sebagai pembentuk sajian gending menjadi dinamis. The Concept of Mandheg in Karawitan of Surakarta Style. This research reveals mandheg as one of the local concepts of Javanese music, especially the Surakarta style. Generally, some issues are explored in this research are related to the definition of mandheg and the process of mandheg itself. In more depth, this paper also discusses some point relating to the meaning, forming elements, and functions of mandheg in the process of gending work. These points are explained based on data on the presentation of a musical instrument as a factual data exploration media. The data collection was carried out by literature study, interviews, and also as a participant-observer. The analysis is carried out by reinterpreting the thoughts and experience of the pengrawit through practical reality. The interpretation uses the interpretation method and garap analysis. The explanation and getting conclusions are carried out by the inductive method. The mandheg is interpreted as a gendhing presentation that pauses at a point with the characteristic of the pattern of the kendhangan and the spesific flow after mandheg. The mandheg is divided into two, namely the mandheg kedah and mandheg pasrèn, with the elements of forming andhegan gawan, song sentences, balungan melodic variables, and sekar. The tend of mandheg are mandatory and facultative. Andhegan and specific variables make mandheg as forming a dynamic presentationKeyword: mandheg; javanese gamelan; pasrè

    KONSEP SINDHÈNAN PEMATUT DALAM GARAP KARAWITAN GAYA SURAKARTA

    No full text
    This research aims to comprehensively examine, analyze, and present, in a more practical format, the interpretation and garap of pematut sindhènan in the presentation of Surakarta-style gending. Sinden performers consider numerous considerations when executing pematut sindhènan, despite the existence of established schemes governing each structure. However, in pragmatic reality, not all cases in the gending adhere to the predetermined conventions. Further interpretation is required to truly embody a gending. This study will uncover the underlying factors influencing a pesindhèn in garap a gending. The method employed is descriptive analysis, grounded in empirical knowledge and Rahayu Supanggah's creative approach. Empirical knowledge will aid in analyzing the variations and interpretations of sindhènan within each structure, while the creative approach will serve as a tool to dissect the musical context within the intended gending structure. Qualitative descriptive data analysis will be conducted by ensuring data validity through data triangulation. Accurate data collection through literature review, interviews, and observations is expected to delve into the concept of pematut sindhènan in Surakarta-style. This research is anticipated to support teaching and learning activities in the form of a textbook and serve as a valuable reference on karawitan knowledge

    Interpretasi Hening Sesanti Niskala sebagai Janturan menjadi Karya Musik

    No full text
    AbstrakHening Sesanti Niskala adalah komposisi musik yang terinspirasi dari kedalaman makna filosofis janturan. Karya ini bertujuan merepresentasikan substansi janturan secara musikal sebagai pesan spiritual. Konsep karya dibangun atas tiga elemen: Hening (ketenangan), Sesanti (doa), dan Niskala (keselamatan), yang dimaknai sebagai kekhusukan manusia saat berdoa kepada Tuhan. Metode penciptaan meliputi tiga tahapan utama: persiapan, observasi, dan tafsir garap yang melibatkan eksplorasi bunyi serta teknik instrumen. Karya ini diharapkan menjadi referensi alternatif dalam metode penciptaan musik baru, khususnya bagi akademisi karawitan. Kata kunci: Janturan, Suasana Musikal, Doa, Makna, dan Eksplorasi AbstractInterpreting Hening Sesanti Niskala as Janturan into a Musical Composition. Hening Sesanti Niskala is a musical composition inspired by the profound philosophical meaning of janturan. This work aims to represent the substance of janturan musically as a spiritual message. The concept is built upon three elements: Hening (stillness), Sesanti (prayer), and Niskala (salvation), which are interpreted as the solemnity of human devotion to God. The creation method comprises three main stages: preparation, observation, and tafsir garap (musical interpretation), involving the exploration of sounds and instrumental techniques. This work is expected to serve as an alternative reference for new music creation methods, particularly for Karawitan scholars. Keywords: Janturan, Musical Atmosphere, Prayer, Meaning, and Exploratio

    LARAWUDHU : SAJIAN MRABOT DAN KAJIAN GARAP GENDER

    No full text
    Penelitian ini diharapkan dapat menjadi vokabuler garap mrabot dengan spesifik kajian dinamika gending serta mempopulerkan gendhing Larawudhu menggunakan garap inggah kendang. Larawudhu sendiri umumnya disajikan menggunakan inggah-inggahan yaitu ladrang Clunthang. Dalam penelitian ini akan dijelaskan mengenai rangkaian gending yang dipilih guna mencapai dinamika gending yang diinginkan. Konsep-konsep yang digunakan antara lain; konsep garap oleh Rahayu Supanggah, konsep mandheg oleh Ananto Sabdo Aji, konsep mungguh oleh Bambang Sosodoro, dan konsep wiledan gender kembang tiba & ukel pancaran oleh Sumarsam. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan cara studi pustaka buku atau penelitian terkait, observasi langsung dan tidak langsung juga dilakukan guna memperluas pengetahuan penulis dalam mengkaji penelitian ini, serta wawancara kepada ahli karawitan sebagai pemberi masukan atau saran bagi penulis dalam melakukan penelitian. Hasil dari analisis ini memberi tawaran atau kebaruan garap antara lain; Larawudhu disajikan menggunakan inggah kendang tanpa mengubah esensi gending Larawudhu itu sendiri, penawaran vokabuler garap mrabot dengan rangkaian gending – gending yang tidak sejenis, garap ciblon irama wiled dan rangkep sebagai alternative garap dalam bentuk inggah, serta melakukan garap andhegan dengan pertimbangan sebagai penguat unsur prenes dalam garap ciblon irama rangkep

    GÊTHINI : SAJIAN MRABOT DAN KAJIAN GARAP SINDHÈN

    No full text
    Penelitian ini mengkaji tentang garap sindhènan gendhing Gêthini kêthuk kalih kêrêp minggah sêkawan laras sléndro pathêt sanga beserta dengan rangkaiannya yaitu garap mrabot dengan inovasi – inovasi garap sindhènan gaya Surakarta. Dalam perihal garap musikalitas dalam dunia karawitan, penulis menggunakan konsep-konsep yaitu konsep mungguh oleh Bambang Sosodoro, konsep mandhêg oleh Ananto Sabdo Aji dan konsep garap oleh Rahayu Supanggah. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan cara studi pustaka buku atau melakukan observasi secara langsung maupun tidak langsung guna memperluas pengetahuan untuk mengkaji penelitian ini, serta memperlukan wawancara secara langsung kepada pencipta gending guna mendapatkan sejarah gending dan garap sajian gending. Serta perlu wawancara dengan ahli karawitan sebagai pemberi masukan, ide dan saran untuk melakukan penelitian ini. Inovasi-inovasi garap sindhènan terletak pada bagian mérong kênong satu dan dua pada balungan sèlèh ro bisa garap minir pasrèn, bagian ngelik kênong dua sèlèh nêm juga digarap minir, karena ada susunan melodi balungan yang bisa digarap minir. Inovasi garap sindhènan pada bagian inggah juga bisa digarap mandhêg pada kênong kesatu sèlèh ji andhêgan kinanthi dan kênong kedua sèlèh nêm mandhêg andhêgan kacaryan, pada kênong lu mandhêg lalu bisa ditambahkan sêlingan andhêgan sêkar têngahan bawaraga, di situlah sindhèn terdapat variasi andhêgan yang berbeda dan mendapatkan inovasi ide garap menambahkan sêlingan, karena pada inovasi garap ini sindhèn dapat menunjukkan potensi dan keahliannya saat pada gending disajikan
    corecore