1,722,298 research outputs found
TRADISI LITERASI DI PERGURUAN TINGGI ISLAM: PANDANGAN DAN MOTIVASI PARA PENULIS JURNAL AL-AHWAL UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
This article discusses the level of literacy traditions in Indonesia, especially with regard to the publication of comparatively low scientific journal articles. Psychologically, one that affects the level of scientific journal publications relates to the motivation of the authors. This article describes the views and motivations of authors of the Al-Ahwal Journal: Journal of Islamic Family Law, one of the nationally accredited journals (Rank two), published by Islamic Family Law Study Program, Syari'ah Faculty and Law, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sources of research data were 30 respondents as article writers and 2 speakers. The data is analyzed through a psychological perspective, using motivational theories developed by Abraham Maslow and Alderfer. The study revealed that the motivation to write articles in journals is not based on the fulfillment of physiological needs and the need for security as in Maslow's hierarchy of needs, nor is it driven by the existence needs in Alderfer's theory. The writing tradition in Al-Ahwal's journal was motivated more by social needs and self-actualization in Maslow's theory, or based on factors to meet the needs of social relations and self-development as found in Alderfer's theory. [Artikel ini membahas tingkat tradisi literasi di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan publikasi artikel jurnal ilmiah yang relatif rendah. Secara psikologis, yang mempengaruhi tingkat publikasi jurnal ilmiah berkaitan dengan motivasi penulis. Artikel ini menjelaskan pandangan dan motivasi penulis Jurnal Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam, salah satu jurnal terakreditasi nasional (Peringkat dua), yang diterbitkan oleh Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syari'ah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sumber data penelitian adalah 30 responden sebagai penulis artikel dan 2 pembicara. Data dianalisis melalui perspektif psikologis, menggunakan teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham Maslow dan Alderfer. Studi ini mengungkapkan bahwa motivasi untuk menulis artikel di jurnal tidak didasarkan pada pemenuhan kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan keamanan seperti dalam hierarki kebutuhan Maslow, juga tidak didorong oleh kebutuhan yang ada dalam teori Alderfer. Tradisi penulisan dalam jurnal Al-Ahwal lebih termotivasi oleh kebutuhan sosial dan aktualisasi diri dalam teori Maslow, atau berdasarkan faktor untuk memenuhi kebutuhan hubungan sosial dan pengembangan diri seperti yang ditemukan dalam teori Alderfer.
AHWAL AT-TASAWWUF (BUAH TASAWUF)
Understanding Sufism in plenary is absolute for anyone who wants to make Sufism a way of life. A complete understanding of Sufism makes itself to the ultimate goal. Conversely partial understanding will only make yourself to stray away from the goal. Ahwal at-tasawwuf or the fruit of tasawuf is a part of Sufism that absolutely must be understood in the plenary. Sufism consists of mahabbah, kasyf, inspiration and sacred. There is a phenomenon among admirers of the path of Sufism that makes it a goal. Some evens want to grab it for curiosity, or evens for the sake of popularity in the eyes of humans. It is an intention that is not based on the true science of ahwal at-tasawwuf. Ahwal at-tasawwuf should be understood as it should, not as a purpose that turns away from God. This paper will explain what and how to understand ahwal at-tasawwuf
AHWAL DALAM AJARAN TASAWUF HABIB ABDULLAH BIN ALWI AL-HADDAD
Dalam kajian tasawuf ada banyak topik pembahasan yang menarik untuk dikaji
dan dibahas, salah satunya adalah Ahwal. Para tokoh sufi mencoba untuk merumus
tentang ahwal ini sesuai dengan pengalaman spritual yang mereka alami. Salah satu dari
sekian banyak tokoh sufi itu adalah Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, seorang tokoh
sufi yang berasal Tarim, Hadhramaut, Yaman. Beliau telah menulis banyak buku yang
berkaitan dengan ajaran tasawuf, dan bahkan ajaran-ajaran beliau banyak diikuti oleh
para ulama. Dalam kajian tasawufnya, dalam beberapa topik beliau mirip dengan tokohtokoh tasawuf sebelumnya.Tapi dalam masalah topik yang berkaitan dengan “Ahwal”
beliau ada perbedaan, terutama tentang proses menuju Ahwal dan macam-macam Ahwal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal tersebut. Hasil penelitian menemukan
bahwa menurut Habib Abdullah Al-Haddad ahwal dapat dialami oleh orang-orang sholeh
yang bersih jiwanya dan dapat terjadi baik setelah melalui tahapan-tahapan maqomat
maupun sebelum melalui tahapan maqomat. Kesempurnaan Ahwal dapat dicapai dengan
memiliki ilmu (pengetahuan agama) yang luas. Menurut Habib Abdullah bin Alwi AlHaddad Ada beberapa macam ahwal yang dapat dialami oleh seseorang, yaitu
mukasyafah, muroqobah, ghaibah, hudhur, uns, farq dan jam’. Ketujuh macam ahwal ini
merupakan pengalaman spritual yang pernah dialami oleh Habib Abdullah bin Alwi AlHaddad
Peluang dan Tantangan Profesi Advokat Bagi Alumni Program Studi Ahwal Syakhshiyah Fakultas Agama Islam UNISMA Bekasi
The title of this article is "Opportunities and Challenges for Professionals Advocate the program of Ahwal al-Syakhshiyah graduates Unisma-Bekasi". In the descriptive analysis of this article can be seen that after the Reformation, the opportunities and challenges of the profession advocate greater Ahwal al- Syakhshiyah graduates, for example, the presence of legal institutions such as the Constitutional Court, the Commercial Court, the Ad Hoc Corruption Commission, the Judicial Commission and so is the container in which advocates can play a role. Similarly, the proliferation of Islamic financial institutions are in dire need of the role of the advocate, who not only understand the positive law but deep knowledge in the field of Islamic law (sharia). The opportunities of ahwal Syakhsiyah scholars in the advocacy world more open with the enactment of Law No. 18, 2003. Therefore, graduates should receive stock Ahwal Syakhshiyah scholarly depth. Furthermore, it should also have a high moral because in addition to chances is promising, the challenge is very large such as the proliferation of corruption involving many law enforcement agencie
The Spiritual States (Ahwal) in the Rubaiyat of Omar Khayyam
The Rubaiyat is a collection of four line stanzas. Originally, it was written by Omar Khayyam, a Persian poet, but later it was translated by Edward FitzGerald into English. It is translated version of FitzGerald, established in five editions that make the Rubaiyat widely known in the world of literature, especially English literature. This study deals with the 1859 first edition. The Rubaiyat is the exposition of Khayyam’s contemplation of life and Divinity, which is highly appreciated, and of great importance in the world of literature and a stepping progress to spirituality. Concerning the contemplation of Divine existence, the poet has experienced spiritual states. These spiritual states or experiences are called Ahwal in the concept of Sufism. The Ahwal are the main concern of this study. This concept is referred to the classification of Ahwal given by Qushayri (1966). There are six forms of Ahwal expressed by Omar Khayyam in the Rubaiyat. They are Wajd ‘Ecstacy’, Dzawq ‘Taste’, Fana ‘Exctincion’, Baqa ‘Permanency’, ‘Ishq ‘Divine Love’, and Sukr’ ‘Intoxication’. Then, it is found that the six spiritual states, Ahwal, are undergone by Omar khayam and they are replected through his Rubaiyat.
Keywords: the Rubaiyat, spiritual state, ahwal, divinity, sufi poem
KONSEP MAQAMAT DAN AHWAL DALAM PERSPEKTIF PARA SUFI
Abstrak:  Tasawuf merupakan salah satu bidang kajian Islam yang menjadi daya tarik tersendiri untuk dikaji. Ia merupakan salah satu tema yang mendapatkan perhatian luas baik di kalangan peneliti muslim, maupun non-muslim. Namaun demikian, hal ini pada akhirnya mempunyai konsekuensi tersendiri terhadap pemahaman tasawuf, yang terkadang bertentangan dengan pemahaman para pengamal tasawuf, dalam hal ini adalah sufi. Sebagaimana pendapat Nicholson misalnya, yang menyatakan bahwa salah satu maqamat yang ada di dalam tasawuf, yaitu az-Zuhd, merupakan ajaran yang juga telah dipraktikan dan ditemukan dalam penganut agama yang lain, dalam hal ini adalah Kristen. Tulisan ini akan berupaya membahas konsep maqamat dan ahwal dalam perspektif para sufi, yang bertujuan untuk melihat apakah konsep maqamat dan ahwal ini mendapatkan pengaruh dari agama lain di luar Islam, atau justru sebaliknya bahwa ia muncul secara original dari ajaran Islam itu sendiri. Dari penelitian ini kemudian didapatkan kesimpulan bahwa konsep maqamat dan ahwal dalam tasawuf pada dasarnya telah ada dalam generasi Islam pertama yaitu pada masa sahabat, dan kemudian semakin populer ketika dikenalkan pertama kali secara sistematis oleh seorang sufi bernama Zunnun al-Mashri pada abad ke 9 M. Dengan demikian bahwa anggapan bahwa konsep maqamat dan ahwal berasal dari agama lain, tidak mempunyai bukti yang kuat dan relevan. Kata Kunci: Maqamat, Ahwal, Tasawuf, Suf
KONSEP KAFA’AH DALAM PERNIKAHAN SYARIFAH DENGAN AHWAL PERSPEKTIF HABAIB DAN SYARIFAH KAB MALANG
Konsep Kafa’ah Pernikahan Wanita Syarifah Dengan Ahwal Perspektif Habaib dan Syarifah Malang, Jurusan Hukum Keluarga Islam, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Pembimbiing Dr Ahmad Musonnif,M.H.I
Kata Kunci : Konsep kafa’ah , Syarifah, Habaib, Ahwal.
Penelitian ini di latarbelakangi adanya pernikahan antara syarifah dengan ahwal di mana pernikahan tersebut tidak sesuai dengan adat pernikhan ahlu-al Bayt. Sebab dalam pernikahan tersebut terjadi ketidak kesesuaian kafa’ah antara syarifah yang merupakan keluarga ahlu-al Bayt dan ahwal yang merupakan kalangan orang biasa. Penelitian ini berlokasi di kab Malang.
Adapun Rumusan masalah dalam penelitian ini terdiri dari dua rumusan masalah yaitu: 1) bagaimana perspektif habaib Kab malang tentang konsep kafa’ah wanita syarifah dengan ahwal? 2) Bagaimana konsep kafa’ah pernikahan wanita syarifah dengan ahwal perspektif Syarifah Kab Malang?. Tujuan dari penelitian yakni 1) untuk mengetahui bagaimana perspektif habaib Kab malang tentang konsep kafa’ah wanita syarifah dengan ahwal, 2) untuk mengetahui Bagaimana konsep kafa’ah pernikahan wanita syarifah dengan ahwal perspektif Syarifah Kab Malang.
Jenis penelitian lapangan (field research). Dengan Metode Kuallitatif dalam mengumpulkan data yakni adalah wawancara sedangkan teknik analisis data peneneliti mengunakan reduksi data (Data Reducation), penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data mengunakana akurasi, perpanjangan di lapangan, triangulasi, keteralihan , kebergantungan dan kepastian. Tahap –tatap penelitan yaitu 1. Tahap pra lapnagan 2. Tahap kerja lapnagan 3, tahap analisisi data.
Hasil dari penelitian adalah (1) dalam Perspektif Habaib,Konsep pernikahan syarifah dengan ahwal tidak sesuai dengan hukum pernikahan di kalangan ahlu-al Bayt karena tidak sesuaian dengan konsep kafa’ah. (2) Prespektif syarifah di wilayah kab Malang mengenai konsep Kafa’ah wanita Syarifah dengan ahwal. terdapat dua pandangna Pandangan pertama yakni bahwasanaya syarifah harus mematui peraturan yang berlaku dalam adat perkawinan ahlu-al Bayt yaitu seharusnya harus menikah dengan orang yang sekufu (habaib). Prespektif yang kedua yakni bahwa konsep sekufu bukan pada nasab tetapi pada ketaqwaan seseorang
Hadis ahwal syakhsiyah: konsep, metodologi kajian dan identifikasinya dalam kutub al-Sittah
Karya yang berjudul "Hadis Ahwal Syakhsiyah: Konsep, Metodologi Kajian dan Identifikasinya dalam kutub al-Sittah" ini lahir dari kegelisahan penulis atas sejumlah hasil kajian terhadap hadis-hadis ahwal syakhsiyah yang menunjukkan bahwa rumusan hukum keluarga dengan salah satu sumber otoritatifnya adalah hadis nabi Muhammad saw., lebih mendukung "posisi istimewa" seorang suami dan mengabaikan hak-hak seorang istri. Bahkan, tidak jarang disodorkan sebuah pemahaman seakan-akan hadis nabi begitu arogan terhadap non-muslim dalam konteks perkawinan.Karya ini mencoba untuk "mempromosikan" sebuah pandangan bahwa timbulnya pemahaman akan bias gender dan sikap arogan terhadap non-muslim yang sering kali disandarkan kepada hadis-hadis nabi (baca: hadis ahwal syakhsiyah) hanyalah berasal dari pola pemahaman (figh al-hadith) terhadapnya, atau kemungkinan yang lain, jika memang benar ditemukan hadis dengan logika bias gender dan sikap arogan, maka penting untuk dilacak status kesahihannya.Secara garis besar, materi kajian dalam buku ini meliputi,- Pemaknaan terhadap hadis ahwal syakhsiyah- Identifikasi hadis ahwal syakhsiyah dalam kutub al-sittah- Latar historis dan teoretis penelitian hadis nabi- Metodologi kajian terhadap hadis ahwal syakhsiyah: dari nagd al-hadits ke fiqh al-hadits- Hadis wali nikah dan independensi perempuan dalam perkawinan- Hadis khitbah perspektif nalar persaudaraan universa
Menembus Tirai Kesendirian-Nya: Mengurai Maqamat dan Ahwal dalam Tradisi Sufi
Konsep Maqamat dan Ahwal yang merupakan jalan untuk menemukan tujuan dari tasawuf diperkenalkan oleh tokoh sufi ternama Abu Nashr al-Sarraj. Buku ini mencoba mengenalkan lebih jauh konsep sufi al-Sarraj tentang maqamat dan ahwal yang menurut pendapat beberapa ahli tasawuf terbukti ampuh mengobati kondisi rohaniah ummat.178 hlm. 21 c
PERNIKAHAN SEKAFA’AH SYARIFAH DENGAN AHWAL DITINJAU DARI MASLAHAH MURSALAH (Studi Kasus di Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang)
Siti Fatimatuzzahro, 12102193020, Pernikahan Sekafa'ah Syarifah dengan Ahwalditinjau dari Maslahah Mursalah (Studi Kasus di Kecamatan PeteronganKabupaten Jombang), Program Studi Hukum Keluarga Islam, JurusanSyariah, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, UIN Sayyid Ali RahmatullahTulungagung, 2023, Pembimbing Dr. H. Asmawi, M. Ag.Kata Kunci: Pernikahan Syarifah, Ahwal, Maslahah Mursalah Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya pernikahan Syarifah dengan Ahwal di Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang. Pernikahan ini adalahpernikahan yang dipandang menyalahi aturan adat keluarga Habaib atau Ahlu Bait karena pernikahan tersebut dapat memutuskan nasab mulia yang langsung terhubung dengan Nabi Muhammad SAW. Faktor yang melatarbelakangi dilaksanakannya pernikahan ini bermacam-macam salah satunya yaitu karena faktor lingkungan yang dimana di lingkungan tersebut sangat minoritas adanya Habaib atau Sayyid. Dari faktor tersebut sehingga terjadilah pernikahan Syarifah dengan Ahwal. Fokus penelitian ini tentang pernikahan Syarifah dengan Ahwal dengan pertanyaan sebagai berikut: 1) Bagaimana faktor belakang terjadinya Pernikahan Sekafa'ah Syarifah dengan Ahwal di Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang? 2) Bagaimana Analisis Maslahah Mursalah Pernikahan Sekafa'ah Syarifah denganAhwal di Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang? Jenis metode penelitiannya menggunakan metode pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan dalam teknis analisis datanya menggunakan kondensasi data, penyajian data, mengambil kesimpulan dan verifikasi.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Pernikahan Syarifah dengan Ahwal yang dilaksanakan masyarakat di Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang 1) Bahwa pernikahan tersebut terjadi karena bagi Syarifah tersebut di dalam memilih pasangan hidup yang paling penting untuk dilihat adalah keimanannya dan ketaqwaannya, kemudian juga yang bisa membimbingnya,faktor pihak keluarga tidak fanatik dengan konsep kafa’ah yang kesetaraan nasab, faktor lingkungan, faktor tidak ingin terdapat paksaan dalam pernikahannya danfaktor ketraumaan dengan pernikahan yang sebelumnya. 2) Jika ditinjau dari Maslahah Mursalah pernikahan Syarifah dengan Ahwal sudah sesuai dengan teori tersebut, karena maslahah mursalah adalah sesuatu yang mengambil manfaat dan menghindari kemudhorotan sesuai dengan syari’at. Di dalam pernikahan tersebut terdapat kemaslahatan yang berkaitan dengan mengatasi kesulitan para syarifah dalam mencari Habaib di lingkungan sekitarnya untuk bisa dijadikan pasangan hidupnya
- …
