389 research outputs found
Conversation about drifted by the waves
This is a recording of two men, Muhsin and Ahmad. Muhsin is 53 years old and Ahmad is 25 years old. They both are fishermen who were born and raised in Pondok Prasi. The conversation is about Muhsin's experience when he was drifted on his boat while fishing without using a machine. He was saved by fishermen in the East Lombok after floating on the sea for three nights. The oconversation ends with Khairunnisa collecting metadata from the speakers. Muhammad Jaelani assisted with the recording. Video was recorded on Panasonic HC-V770, audio on Marantz PMD561 with an Audio Technica AT8022 Stereo Microphone.Ampenan, Lombok, West Nusa Tenggara province, Indonesi
Qawa id al-Lughah al- Arabiyyah: Li ash-Shaff as-Salis al-Mutawassith, 5th.ed./ Muhsin Ahmad Barum
327 hal.; 24 cm
The Emirate of Damascus in the early Crusading period, 488-549/1095-1154
This study "The Emirate of Damascus During the Early
Crusading Period 488-549/1095-1154 deals with this
Emirate which was established in 488/1095, after the
defeat and the murder of Taj al-Dawla Tutush near Rayy
in 488/1095 by his nephew Sultan Berkiyaruq Ibn Sult-an
Malik-Sh5h. The dominions of Ti al-Dawla, mainly in
Syria and the Jazira divided between his elder sons King
Fakhr al-Mullik Ridwan in Aleppo and King Shams al-Muliik
Ducfaq in Damascus. The Kingdom of Damascus comprized
south Syria and some parts of the Jazira such as al-
Rahba and Mayyafäriqin.
Zahir al-Din Tughtekln, who was Atabek of King Duclaq, became the de facto ruler of Damascus during the
reign of King Duqaq 488-497/1095-1104. After the death
of Duqaq, Tughtekin was to be the real Amir of Damascus,
and his dynasty was to gain control of the Emirate until
its fall at the hands of Niir al-Din Mahmild of Aleppo in
549/1154.
In this thesis, the following matters are discussed:
1. The conditions which led to the foundation of this
Emirate.
2. The role of Tughtekin in establishing his authority
in the Emirate.
3. The foreign policy of the Emirate, and the factors
which shaped this policy.
4. The effects (on the Emirate) of the coming of the
Crusaders particularly those of Jerusalem.
S. Internal rivalries in the Emirate, and their
influence on the stability of the Emirate and its
external relations.
6. The policy of alliances adopted by the Emirate and
the factors which affected this.
7. The influence of the growing power of Zangi of
Aleppo and Mosul (521-541/1127-1146) on Damascus and
why he did not succeed in annexing Damascus to his
united front in Syria and the Jazira aimed at
challenging the power of the Crusaders.
8. The reasons which helped Mir al-Din Mahmüd Ibn Zangi
of Aleppo to annex Damascus to his state in
549/1154.
9. The importance of the military power of Damascus and
Its role in protecting the Emirate.
Finally a concluding section sums up the achievement
of the Emirate of Damascus in maintaining its
Independence during the period and the role of the
Emirate in the Counter-Crusade
TBM di PKBM: Model dan Strategi Pengembangannya
Buku ini ditulis oleh mereka yang sejak awal tidak punya citacita
menjadi penggerak literasi. Hanya karena resah terhadap
buruknya kualitas sumber daya manusia di sekitar tempat tinggalnya,
mereka, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, menginisiasi
gerakan pemberdayaan masyarakat yang pintu masuknya adalah
gerakan literasi. Kongkretnya, mereka adalah para pegiat Taman
iv
Muhsin Kalida, dkk.
Bacaan Masyarakat (TBM), salah satu program unggulan di Pusat
Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Berangkat dari kegelisahan yang sama, di sepanjang bulan November
dan Desember 2014, mereka diorganisir oleh Muhsin Kalida
(Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat DIY dan sekaligus
Pengasuh TBM Cakruk Pintar), untuk bersama-sama saling belajar,
berbagi cerita, semangat dan inspirasi, membangun kesadaran
kolektif bahwa gerakan literasi melalui TBM perlu disemarakkan
lebih intensif di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). TBM,
seperti dikemukakan dalam tulisan Heni Wardatur Rohmah berjudul
Mengaktifkan TBM di PKBM, harus dipahami tidak hanya sebagai
program pelengkap PKBM, namun mesti ditempatkan sebagai ruh
dalam setiap kegiatan PKBM.
Dari hasil kumpul-kumpul inilah kemudian tercetus ide untuk
menulis buku. Sebuah buku yang mengupas tentang pengalaman
mereka mengembangkan TBM di PKBM; sebuah pengalaman yang
inspiratif, yang dilaluinya dengan ceria dan riang gembira untuk
mewujudkan generasi masyarakat yang dahsyat. Walhasil, terbitlah
buku yang sedang Anda pegang ini: TBM di PKBM: Model dan Strategi
Pengembangannya. Begitulah, biarpun isi buku yang hendak ditulis
tersebut tidaklah muluk-muluk, namun jangan salah, seperti akan
Anda lihat nanti, banyak cerita dan pelajaran berharga yang dapat
kita pungut sebagi inspirasi menjadi “Duta Gerakan Literasi” di
sekitar rumah kita.
Buku ini tidak akan terbit tanpa sokongan dari berbagai pihak,
yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia,
Bapak Ahmad Fauzy (Ketua Yayasan Yasuka Indonesia), Muhsin
Kalida (Ketua FTBM DIY), Rumi Astuti (Ketua TBM Cakruk
Pintar), Heni W. Rohmah (Pemateri), Moh. Mursyid (Pemateri),
Ahmad Said Hasan Basri (Pemateri), dan para pengelola TBM se-
Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi peserta sekaligus
kontributor buku ini: Bigi Pangestuti, Erna Yuliat Puspawati, Sri
v
Suhartini, Gandung Sunarto, Dyah Nurhayati, Suprihatin, Rahman
Afriyanto, Christanti Widyaningsih, Sudarmaji, Nanang Sujatmiko,
RM. Sudarsono, Mujiyanti, Suprihatin, Priyono, Arifah Rosinati.
Tak ada gading yang tak retak. Semoga buku ini bermanfaat
bagi masyarakat terutama bagi pengelola TBM di PKBM di seluruh
Indonesia
Hadis Menurut Musthafa Al-Siba’i dan Ahmad Amin (Suatu Kajian Komparatif)
Keyakinan umat Islam terhadap posisi dan oten-sitas Hadis atau sunnah pada masa Nabi SAW tidak terdapat persoalan, karena jika mereka menemukan sesuatu yang meragukan atau yang belum jelas bisa langsung melakukan konfirmasi kepada Nabi SAW. Lain halnya pasca wafatnya beliau sampai sekarang, prob-lematika Hadis sudah sedemikian rupa, yang berujung kepada terbukanya tabir untuk melihat keberadaannya sebagai otoritas keagamaan. Seperti halnya dilakukan oleh Ahmad Amin dalam bukunya Fajr al-Islam, yang melakukan kritik terhadap beberapa hal tentang Hadis. Menurutnya, orisinalitas Hadis pasca wafatnya Nabi SAW patut dipertanyakan. Sementara Musthafa al-Siba’i melakukan counter terhadap pemikiran Ahmad Amin dengan mengemukakan bukti-bukti historis orisinalitas Hadis. Dalam pandangan Musthafa al-Siba’i, kiritk Ahmad Amin terhadap Hadis kurang didasari oleh argu-mentasi yang kuat, bahkan argumentasi yang dibangun lebih bersifat asumtif, generalisasi dan tekstual
FUNGSI PENGAWASAN DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SANTRI PONDOK PESANTREN AL MUHSIN PUTRI METRO UTARA KOTA METRO
ABSTRAK
Upaya pengawasan kepada santri putri di pondok pesantren Al Muhsin
putri sesuai dengan peraturan serta pemberian sanksi dalam
meningkatkan kedisiplinan belum maksimal . Hal ini dilihat dari bentuk
permasalahan menyangkut berbagai bidang dari pengurus pondok
pesantren Al Muhsin dan santri pondok pesantren Al Muhsin putri .
Salah satu permasalahan sering timbul dari kurang optimal
ustadz/ustadzah dalam menyikapi perilaku pelanggaran santri pondok
pesantren Al Muhsin putri. Penegasan dalam melaksanakan aturan
haruslah di upayakan sebaik-baik mungkin agar bisa mencapai tujuan
peraturan dan memberikan efek jera kepada santri pondok pesantren Al
Muhsin putri untuk menaati peraturan yang sudah di rancang
sebagaimana mestinya. Karna tujuan dari peraturan dan sanksi ialah
untuk meningkatkan kedisiplinan santri pondok pesantren Al Muhsin
putri. Pelaksanaan peraturan serta sanksi untuk santri pondok pesantren
Al Muhsin putri yang melanggar sangat penting untuk bisa menjaga dan
menciptakan lingkungan sosial warga pondok pesantren Al Muhsin
putri.
Berdasarkan latar belakang masalah dapat di atas dapat di ambil
rumusan masalah tentang bagaimana Fungi Pengawasan dalam
Meningkatkan Kedisiplinan Santri Pondok Pesantren Al Muhsin Putri
Metro Utara Kota Metro. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui bagaimana Fungi Pengawasan dalam Meningkatkan
Kedisiplinan Santri Pondok Pesantren Al Muhsin Putri Metro Utara
Kota Metro sedangkan untuk metode penelitian penulis menggunakan
metode observasi,metode wawancara dan metode dokumentasi. Hasil penelitian yang penulis dapat disimpulkan bahwasannya Bentuk
perilaku tidak disiplin santri di Pondok Pesantren Al Muhsin Putri
didasari dengan berbagai bentuk dan pengaruh dan dalam
menanggapinya pengurus pondok harus memberikan ketegasan sanksi
sebagai bentuk pendisiplinan santri agar segala bentuk kualifikasi
pelanggaran tidak dilakukan maupun di ulangi oleh santri guna
memberikan pelajaran kepada santri yang lain sebagai himbauan agar
tidak melanggar aturan jika tidak ingin termendapatkan sanksi sesuai
dengan kualifikasi bobot pelanggarannya. Sesuai dengan manajerial
bagian kedisiplinan santri dari ibadah, pembelajaran,rukhtar atau
hafalan, kebersihan , kesehatan dan perizinan harus lebih teliti dan
bertanggung jawab guna akan mempengaruhi kedisipliann santri dalam
menaati peraturan di pondok pesantren Al Muhsin putri.
Kata Kunci : Pengawasan, disiplin, santri, pondok pesantren. ABSTRACT
Supervision efforts for female students at the Al Muhsin female Islamic
boarding school in accordance with regulations and the imposition of
sanctions to improve discipline have not been maximized. This can be
seen from the form of problems concerning various fields from the
management of the Al Muhsin Islamic boarding school and students of
the Al Muhsin female Islamic boarding school. One of the problems
often arises from the less than optimal ustadz / ustadzah in responding
to the behavior of violations by students of the Al Muhsin female
Islamic boarding school. Affirmation in implementing the rules must be
attempted as well as possible in order to achieve the objectives of the
regulations and provide a deterrent effect on students of the Al Muhsin
female Islamic boarding school to obey the regulations that have been
designed properly. Because the purpose of the regulations and sanctions
is to improve the discipline of students of the Al Muhsin female Islamic
boarding school. Implementation of regulations and sanctions for
students of the Al Muhsin female Islamic boarding school who violate
is very important to be able to maintain and create a social environment
for residents of the Al Muhsin female Islamic boarding school.
Based on the background of the problem above, the formulation of the
problem can be taken about how the Supervisory Function in Improving
the Discipline of Students at the Al Muhsin Putri Islamic Boarding
School, North Metro, Metro City. The purpose of this study is to
determine how the Supervisory Function in Improving the Discipline
of Students at the Al Muhsin Putri Islamic Boarding School, North Metro, Metro City, while for the research method the author uses the
observation method, interview method and documentation method.
The results of the study that the author can conclude are that the form
of undisciplined behavior of students at the Al Muhsin Putri Islamic
Boarding School is based on various forms and influences and in
responding to it, the boarding school administrators must provide firm
sanctions as a form of student discipline so that all forms of violation
qualifications are not carried out or repeated by students in order to
provide lessons to other students as an appeal not to violate the rules if
they do not want to be subject to sanctions according to the qualification
of the weight of the violation. In accordance with the management of
the discipline of students from worship, learning, rukhtar or
memorization, cleanliness, health and permits must be more careful and
responsible in order to influence the discipline of students in obeying
the rules at the Al Muhsin Putri Islamic Boarding School.
Keywords: Supervision, discipline, students, Islamic boarding school
Implikasi teknologi pembiakan dibantu baharu dalam perspektif Islam: kekangan atau kejayaan
Seiring dengan kemajuan pesat dalam alam perubatan, bidang pesenyewaan bayi tabung uji, In-vitro Fertilisation (IVF), juga telah berevolusi.
Namun kemajuan ini turut menimbulkan beberapa keraguan dari sudut pandangan Islam juga etika Islam dalam perubatan.
Sebagaimana yang kita sedia maklum, bidang perundangan Islam menitikberatkan keutamaan bagi penyesuaian amalan perubatan mengikut fitrah masyarakat yang dibentuk berdasarkan persekitaran dan keadaan.
Berdasarkan asas perundangan Islam, tidak dapat dinafikan bahawa dengan perubahan masa, keperluan undang-undang Islam juga turut akan berubah.
Justeru, para ulama Islam turut mengerti akan keperluan untuk menyesuaikan diri dan berevolusi agar masyarakat Islam turut dapat berkembang maju dalam pelbagai persekitaran yang berubah secara dinamik.
Dalam konteks ini, adalah penting untuk mengambil perhatian bahawa evolusi bidang pesenyewaan bayi tabung uji kini menggunakan beberapa strategi baru yang mungkin bercanggah dengan prinsip Islam yang dijelaskan oleh Al-Quran dan Hadis
Temubual secara langsung Profesor Madya Dr. Muhammad Muhsin Ahmad Zahari, Profesor Madya Jabatan Perubatan Psikologi, Fakulti Perubatan Universiti Malaya (UM) di saluran TV3 dan rancangan 999
Saluran TV3:
Tarikh: 30 Januari 2018 (Selasa); Masa: 7.30 pagi; Saluran: TV3 (Ch103); Rancangan: Malaysia Hari Ini; Tajuk: Cemburu Menjadi Jenayah
~~~~~
Rancangan 999:
Tarikh: 30 Januari 2018 (Selasa); Masa: 9.00 malam; Saluran: TV3 (Ch103); Rancangan: 999; Segmen: Segmen Vira
مواجهات إعجاز أحمد الثقافية / The Cultural Confrontations of Aijaz Ahmad
[While concentrating on Aijaz Ahmed\u27s In Theory: Classses, Nations, Literatures, this essay attempts some engagement with the most significant positions in comtemporary cultural criticism. It is rather concerned with the ongoing debate regarding priorities of focus and analysis, especially in matters of discourse that have been gaining in attention since the heyday of New Criticism. Yet, it is Ahmad\u27s intention to redirect scholarly analysis among the left towards classes, nations, and literatures, for it is his contention - which is well -taken by Edward Said - that cultural production falls within a larger human activity. Otherwise, idealism of cultural nationalism is no less diverting than the utter engagement with culture as discourse. Both assumptions, poststructuralist and Third Worldism, confuse texts with material realities. Accordingly, Ahmad asks colleagues and comrades to reach some specifically defined position in the epistemological field in order to escape conflictual perspectives, as in the case of Said\u27s combination of both Foucault and Auerbach, or Brenda with Gramsci. Thus, the debate involves texts, authors, and nations in an enlarged context of domination and resistance. But while contesting Said, Jameson and Rushdie, Ahmad joins his admiration for both Jameson and Said with some great recognition of their achievement. His rigorous mind and thorough commitment to a Marxist ideology tend to draw every argument towards a fully-fledged strategy to displace what he calls a Supermarket criticism as the very correlative of trans- national capital. But the outcome of the argument is no less enlightening for being so committed.
TINJAUAN SADDU AŻ-ŻARI<‘AH DALAM PEMBIAYAAN QARD{ AL-HASAN DI BMT AL-MUHSIN RIZQON TOYYIBA METRO LAMPUNG
ABSTRAK
Baitul Maal wa Tamwil (BMT) merupakan salah satu lembaga
keuangan Syariah yang bergerak dalam bidang funding dan landing
dengan skala mikro. Dalam pemberian pembiayaan lembaga
keuangan non bank yang berskala mikro, bertujuan untuk
memberikan kesejahteraan kepada masyarakat menengah kebawah.
Namun kegiatan pembiayaan ini memiliki risiko yang dapat
berpengaruh pada kestabilan maupun kesehatan lembaga. Sehingga
dalam pelaksanaannya BMT harus menerapkan ketentuan kelayakan
pembiayaan yang akan diberikan. Penerapan tersebut dengan
menggunakan prinsip kehati-hatian berdasarkan pasal 29 Undang-
Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 dan konsep saddu aż-żari<‘ah.
Fokus permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana
mekanisme prosedur pembiayaan Qard} al-hasan yang dilaksanakan
di BMT al-Muhsin Rizqan tayiba dan kebijakan preventif BMT al-
Muhsin Rizqan Tayyiba terhadap antisipasi pembiayaan bermasalah.
Metode penelitiannya menggunakan pendekatan kulitatif yaitu
dengan deskriptif analitis. Data sekunder yang diperoleh dari
penelitian kepustakaan dan diperkuat dengan data primer yaitu hasil
penelitian di lapangan dengan teknik wawancara.
Hasil penelitian ini bahwa tinjauan saddu aż-żari<‘ah dalam
pembiayaan Qard} al-hasan dilakukan dengan adanya penerapan
sistem prosedur administratif terstruktur yaitu pengajuan pembiayaan
dengan pengisian formulir dan pelampiran persayaratan berupa
fotocopy KTP, fotocopy KK dan surat nikah serta jaminan jika
diperlukan, pihak BMT akan melakukan analisis data yang telah
diajukan dengan prinsip analisis ketentuan 5C 3R, setelah analisis
data maka akan dimusyawarahkan oleh pihak BMT, kemudian dana
yang diajukan akan cair kurang lebih 3 hari sampai 2 pekan terukur
dari tingkat kesulitan analisis data. Adapun kebijakan preventif
BMT al-Muhsin dalam mencegah terjadinya pembiyaan bermasalah
yaitu dengan menerapkan pembatasan terhadap nasabah yang dapat
mengajukan pembiayaan Qard} al-hasan dan nominal yang dapat
diberikan kepada nasabah. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu
bahwa BMT al-Muhsin Rizqan Tayyiba telah menerapkan ketentuan analisis kelayakan prinsip kehati-hatian berupa analisis ketentuan 5C dan 3R dan penerapan konsep saddu aż-żari<‘ah yaitu dengan prosedur pembatasan yang bertujuan untuk meminimalisir mafsadah berupa pembiayaan bermasalah
- …
