25 research outputs found
Faktor Kunci Kesuksesan Perusahaan Multinasional: Sebuah Tinjauan Pustaka Sistematik
Di era globalisasi yang pesat, perusahaan multinasional (MNC) di Asia menghadapi tantangan dan peluang unik yang memerlukan adaptasi dan inovasi terus-menerus. Kajian Systematic Literture Review (SLR) dan Bibliometric Analysis (BA) menjadi alat penting untuk mengidentifikasi, menilai, dan mensintesis penelitian yang relevan, memberikan wawasan tentang tren pasar, perilaku konsumen, inovasi teknologi, dan strategi manajemen efektif. Pendekatan ini membantu MNC menghindari duplikasi penelitian, mengidentifikasi celah pengetahuan, dan mengevaluasi praktik terbaik, sehingga memitigasi risiko terkait pengambilan keputusan strategis. Tren publikasi dalam 10 tahun terakhir menunjukkan peningkatan, dengan puncak publikasi pada tahun 2022. Topik utama yang banyak dibahas meliputi competition, automotive industry, dan emerging market, yang masih potensial untuk diteliti lebih lanjut. Penelitian ini juga mengungkap bahwa peneliti di bidang ini cenderung bekerja secara independen, dengan sedikit kolaborasi. Sebagian besar artikel menggunakan metode kuantitatif, diikuti oleh kualitatif dan metode campuran, dan penelitian ini berfokus pada berbagai negara di Asia. Teori-teori utama seperti Resource Constraints Perspective dan Attention-Based View menjadi landasan penelitian, dengan faktor-faktor kunci kesuksesan meliputi inovasi, manajemen pengetahuan, adaptasi budaya, strategi CSR, dukungan untuk karyawan internasional, serta pengelolaan teknologi dan perpajakan yang efektif. Integrasi SLR dan BA membantu perusahaan memahami lanskap penelitian lebih luas, mengidentifikasi kesenjangan penelitian, dan memberikan kontribusi bermakna bagi bidangnya, serta meningkatkan daya saing perusahaan di pasar global
Evaluasi Tarif Kereta Api Perintis Dengan Metode ATP-WTP (Studi Kasus: KA Jenggala)
Mojokerto and Sidoarjo are two strategic and connected region in East Java which generate a significant travel demand. KA Jenggala (“perintis” subsidies) is one of public transport choice connected those area that has served for 5 years with rates Rp.4.000,00 per trip. The cheapness of subsidies ticket is good for pssengers but on the other hand it creates significant burden to state budget. This study aims to obtain a balance point from both sides. Using the ATP WTP method, it found that ATP value is Rp.11.552,00 and existing WTP is Rp.4.000,00. When passenger offered with the service improvement that are cash and cashless ticketing systems, frequency increase, journey and waiting time reduction and on-time performance improvement, the WTP value becomes Rp.6.500,00. The price adjustment by Rp.6.500,00 is welcomed by passenger if the service improvement implemented.Mojokerto dan Sidoarjo adalah dua wilayah penting di Jawa Timur yang saling terhubung sehingga terdapat kebutuhan perjalanan yang signifikan pada kedua wilayah tersebut. Kereta Api (KA) Jenggala (bersubsidi “perintis”) adalah salah satu pilihan transportasi publik yang menghubungkan wilayah tersebut dan telah beroperasi selama 5 tahun dengan tarif Rp. 4.000,00 untuk satu kali perjalanan. Murahnya tiket subsidi yang dikenakan tersebut sangat memudahkan penumpang namun berbanding terbalik dengan besarnya subsidi yang ditanggung negara. Studi ini penting dilakukan guna mencari titik keseimbangan sehingga dapat dilakukan penyesuaian harga tiket tidak saling membebani baik penumpang maupun kas negara. Analisis dilakukan dengan menggunakan ability to pay (ATP) dan willingness to pay (WTP). Dari hasil analisis, diketahui bahwa nilai ATP adalah Rp. Rp.11.552,00. Sedangkan, nilai WTP eksisting adalah Rp.4.000,00 dan apabila dilakukan peningkatan layanan seperti pembayaran tiket baik tunai dan non-tunai, menambah frekuensi perjalanan, mengurangi waktu tempuh dan waktu tunggu serta meningkatkan ketepatan waktu dalam pemberangkatan dan kedatangan maka nilai WTP menjadi Rp.6.500,00. Sehingga, apabila sknario peningkatan layanan dilakukan maka penumpang tidak berkeberatan untuk membayar tiket seharga Rp.6.500,0
Perencanaan Bangunan Pengendali Sedimen Pada Jembatan Kereta Api Kota Madiun
Regarding the construction of a double track railway crossing the city of Madiun, precisely in the Nambangan Lor area, the constructions of a new bridge on the south side of the previous bridge is occured. The condition of the Bengawan river in the rainy season has a large water discharge which causes a large flood. The impact of the flood caused scours of sediment in the river and made it possible to erode the sediment around the bridge abutment. Therefore, to reduce the impact of scour sediment on the abutment, a sediment control building is needed. In order to plan this construction, we need minimum rain cycle data from three rain stations which are needed for hydrological analysis, annual rain plan determination, annual flooding and hydraulics analysis to determine the dimensions of the building. The result of this planning obtained that the flood discharge period of 100-year return is 1557,992127 m3 / sec, the flow velocity is 8.319945 m / sec, the width of the boiler light is 3,362374 m, the depth of the foundation is 2,971201 m, the thickness of the floor is 2,1143 m, and floor length is 16.5657 m.Pembangunan doble track yang melintasi kota madiun tepatnya di daerah Nambangan Lor melintasi sungai Bengawan Madiun. Pada sungai tersebut terdapat bangunan jembatan baru yang berada di sebelah sisi selatanjembatan sebelumnya. Sungai bengawan pada musim penghujan mengalami debit dan banjir yang cukup besar, dampat dari banjir tersebut menyebabkan terjadinya gerusan sedimen pada sungai dan memungkinkan menggerus sedimen pada sekitaran abutment jembatan tersebut. Untuk mengurangi dampak gerusan sedimen pada abutment tersebut maka diperlukan suatu bangunan pengendali sedimen. Untuk merencanakan bangunan tersebut maka diperlukan data hujan minimal dari tiga stasiun hujan dimana hal tersebut untuk diperlukan untuk analisa hidrologi penentuan hujan rencana tahunan,banjir tahunan dan analisa hidrolika untuk penentuan dimensi bangunan tersebut. Adapun data hasil perencanaan diperoleh debuit banjir periode ulang 100 tahun sebesar 1557.992127 m3/det,kecepatan aliran 8.319945 m/det, lebar mercu peluap 3.362374m, kedalaman pondasi 2.971201 m, tebal lantai olak 2,1143 m, panjang lantai olak 16,5657
Upaya Meningkatkan Keselamatan Pengguna Jalan di Perlintasan Sebidang Melalui Pendekatan Partisipasi Masyarakat
Perkeretaapians merupakans satus kesatuans sistems yangs terdiris atass prasarana,s sarana,s dans sumbers dayas manusia,s sertas norma,s kriteria,s persyaratan,s dan prosedurs untuks menyelengarakan tranportasi keretas api,s Selain memiliki karakteristik dan keunggulan tersebut harus memperhatikan keselamatan kereta api khususnya di perlintasan sebidang. Perlintasan sebidang merupakan lokasi yang rawan dan menjadi penyebab Potensi kecelakaaan dalam pengoperasian kereta api terutama pada perlintasan tidak di jaga. Masyarakat yang melintas di pintu perlintasan pada umumnya mengabaikan keselamatan dengan menerobos saat kereta akan melintas. Kurangnya pemahaman tentang regulasi yang berlaku di pintu perlintasan membuat pengguna jalan yang melintas dipintu perlintasan sebidang tidak berpalang pintu cenderung tidak tengok kanan dan kiri. Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat merupakan kegiatan edukasi melalui pendekatan partisipasi masyarakat dalam berlalu lintas di pintu perlintasan tidak berpalang pintu. Korban kecelakaan di pintu perlintasan tidak berpalang pintu menyebabkan cacat seumur hidup tidaks hanyas berdampaks suatu hal buruks terhadaps pengguna s jalans yang menjadis korban kecelakaan,s namuns demikian jugas dapat menyebabkans efek yang buruk bagis para keluargas korban.s Berdasarkan UU No. 23s tahuns 2007s tentangs perkeretaapians dans UU No.22s tahuns 2009s tentangs lalus lintass dans angkutans jalan,s pelanggarans hukums padas perlintasans sebidangs merupakans tindaks pidanas
kegiatan ini dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatans yangs sesuais dengan arahan s pemerintahs dan ketentuan yang diatur oleh pemerintah daerah setempat dengans menggunakans masker yang standar,s menghindari kerumunan jagas jaraks dan mencuci tangan. Kegiatan diharapkan dapat membuat masyarakat sekitar sadar akan pentingnya keselamatan di pinti perlintasan tidak berpalang pint
The Intersection Between Highway and Railway at the JPL 295 in District of Lamongan
The intersection between highway and railway (commonly known as JPL), precisely at the JPL 295 in District of Lamongan, is the level crossing which separates two residential areas from the northern and southern sides and is next to the highway. There are other JPL nearby JPL 295 which also separate residential areas located 180 m away to the left and 290 m to the right of JPL 295. These two JPL have single narrow median opening only available to accommodate motorcycle movements. Based on the qualitative observation results at the field, people utilize JPL 295 as the main intersection as indicated from the highest significant traffic flow compared to other JPL. Thus, this research focuses on JPL 295. Double-track railway is available at JPL 295 which indicates relatively high volume of railway traffic. Hence, barrier gates are not included as the main safety system. The focus of this research is on the potentials that may cause accident. Swedish TCT method was implemented in this research in order to provide information in term of road user characteristics involved in conflicts with other road or rail users. It is by calculating the Time to Accident (TA) and Conflict Speed (CS) from every direction and vehicle involved in conflicts and plotting them in the severity level curve. The obtained results are: (1) direction B and C are categorized as severe traffic conflict by 53%, (2) direction B1 and C1 are categorized as severe traffic conflict by 57%, (3) direction D and E are categorized as severe traffic conflict by 77%, (4) direction A vehicle toward train are categorized as severe traffic conflict by 40%, (5) direction B2 vehicle toward train are categorized as severe traffic conflict by 20%. If given a tolerated conflict value by 50%, certain treatments must be performed when reaching the maximum point to lower the level of resulted severe conflict
Kajian Pola Operasi Commuter Line Sindro dan Commuter Line Arjonegoro Berdasarkan Demand dan Preferensi Penumpang
Commuter Line (CL) Sindro and CL Arjonegoro are commuter trains operating in the Surabaya area, with CL Sindro running from Sidoarjo Station to Indro Station, and CL Arjonegoro from Sidoarjo Station to Bojonegoro Station. Both lines overlap at eight stopping stations, causing negative impacts on passengers and train operations, including suboptimal occupancy rates for their 18 daily trips. This study aims to analyze the demand (load factor) and passenger preferences for the current operation patterns of CL Sindro and CL Arjonegoro, develop a new schedule aligned with the proposed operational changes, and create a revised GAPEKA schedule. The research utilizes secondary data from GAPEKA 2023 and passenger numbers for CL Sindro and CL Arjonegoro from June 2023 to April 2024, along with primary data on passenger preferences regarding departure times and desired routes. The analysis involves calculating travel needs, travel time for each segment, creating a timetable, and proposing a new GAPEKA schedule. The findings show an average load factor of 23% for CL Sindro and 45% for CL Arjonegoro. Most passengers prefer operations that reach Surabaya before 8:00 AM, with a route from Sidoarjo to Indro to Bojonegoro. Based on current demand, the required number of trips is eight per day on both weekdays and weekends, which is used to draft the new schedule and GAPEKA.Commuter Line (CL) Sindro dan CL Arjonegoro merupakan KA komuter yang beroperasi di Wilayah Surabaya, dengan CL Sindro melayani rute dari Stasiun Sidoarjo ke Stasiun Indro, dan CL Arjonegoro melayani rute dari Stasiun Sidoarjo ke Stasiun Bojonegoro. Kedua KA ini mengalami tumpang tindih di delapan stasiun pemberhentiannya, yang berdampak negatif bagi penumpang dan operasi KA, termasuk tingkat okupansi yang tidak maksimal pada 18 perjalanan harian mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis demand (load factor) dan preferensi penumpang terhadap pola operasi terkini CL Sindro dan CL Arjonegoro, menyusun jadwal baru yang sesuai dengan usulan perubahan pola operasi, serta membuat usulan GAPEKA yang disesuaikan dengan pola operasi baru tersebut. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa GAPEKA 2023 dan data jumlah penumpang CL Sindro dan CL Arjonegoro dari bulan Juni 2023 hingga April 2024, serta data primer berupa preferensi penumpang terhadap usulan perubahan pola operasi terkait jam keberangkatan dan rute yang diinginkan. Analisis meliputi perhitungan kebutuhan perjalanan, waktu tempuh setiap petak, pembuatan daftar waktu, dan penyusunan usulan GAPEKA. Hasil analisis menunjukkan rata-rata load factor CL Sindro sebesar 23% dan CL Arjonegoro sebesar 45%. Mayoritas penumpang lebih memilih pola operasi yang tiba di Surabaya sebelum pukul 8:00 pagi, dengan rute dari Sidoarjo ke Indro ke Bojonegoro. Berdasarkan demand terkini, kebutuhan perjalanan adalah delapan perjalanan per hari baik pada hari kerja maupun akhir pekan, yang dijadikan dasar untuk menyusun jadwal dan GAPEKA baru
STUDI KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENGGUNA JALAN RAYA PADA PERLINTASAN SEBIDANG RESMI TIDAK DIJAGA: Studi Kasus: Desa Klegen Serut Kabupaten Madiun
Pertumbuhan masyarakat memicu berkembangnya pembangunan di sekitar rel dan perlintasan desa klegen serut. Pengguna jalan hanya diberikan tanda berupa suara dari kereta api yang hendak melintas karna pada perlintasan tersebut tidak ditemukan adanya palang pintu. Apabila pengendara kurang mewaspadai dalam berkendara maka akan menimbulkan kemungkinan terjadinya kecelakaan. Dengan menggunakan diskriptif kualitatif yang dianalisis menggunakan metode RCA dalam penelitian ini ditemukan akar permasalahan keselamatan yang timbul antara perpotongan perlintasan sebidang dengan jalan raya. Dengan dilihat dari kondisi jalan yang memperoleh jumlah perhitungan kapasitas jalan menurut MKJI 1997 1313 smp/jam dari perkalian volume lalu lintas dan frekuensi kereta api yang melintas dan jumlah volume lalu lintas tersisbuk yaitu pada hari Senin pukul 07.00-08.00 sebesar 78.5 smp/jam. Untuk nilai derajat kejenuhan pada Jalan perlintasan sebidang di desa klegen serut berdasarkan hasil perhitungan adalah 0,05 yang menandakan bahwa tingkat pelayanan jalan pada klegen serut memiliki Lalu lintas agak ramai, kecepatan menurun. Kemudian hasil perhitungan dari jarak pandang pada perlintasan sebidang di desa klegen serut yaitu 40,1 dari as rel terhadap pengguna jalan. Dengan mengarah padam Pedoman Teknis Perlintasan, jika rata-rata volume lalu lintas harian (LHR) dikalikan dengan jumlah perjalanan kereta api antara 12.500 sampai dengan 35.000 smpk, maka perlintasan tersebut tidak perlu ditingkatkan menjadi perlintasan tidak sebidang. Hasil perkalian menunjukan bahwa perlintasan sebidang di desa klegen serut mempunyai nilai LHR yang masih tergolong sesuai dengan standart teknis yang ditentukan yaitu 17.128,8 smpk. Namun tidak dilengkapinya prasarana seperti palang pintu dan sistem perambuan yang lengkap membuat perlintasan tersebut yang berpotongan dengan antara rel kereta api dan jalan menimbulkan tingkat resiko kecelakaan dan potensi untuk mengalami kemacetan lalu lintas akibat adanya kereta api yang melintas. Sehingga perlu diadakanya penambahan kelengkapan jalan berupa rambu dan marka berdasarkan pedoman teknis keselamatan perlintasan sebidang yang ada.Pertumbuhan masyarakat memicu berkembangnya pembangunan di sekitar rel dan perlintasan desa klegen serut. Pengguna jalan hanya diberikan tanda berupa suara dari kereta api yang hendak melintas karna pada perlintasan tersebut tidak ditemukan adanya palang pintu. Apabila pengendara kurang mewaspadai dalam berkendara maka akan menimbulkan kemungkinan terjadinya kecelakaan. Dengan menggunakan diskriptif kualitatif yang dianalisis menggunakan metode RCA dalam penelitian ini ditemukan akar permasalahan keselamatan yang timbul antara perpotongan perlintasan sebidang dengan jalan raya. Dengan dilihat dari kondisi jalan yang memperoleh jumlah perhitungan kapasitas jalan menurut MKJI 1997 1313 smp/jam dari perkalian volume lalu lintas dan frekuensi kereta api yang melintas dan jumlah volume lalu lintas tersisbuk yaitu pada hari Senin pukul 07.00-08.00 sebesar 78.5 smp/jam. Untuk nilai derajat kejenuhan pada Jalan perlintasan sebidang di desa klegen serut berdasarkan hasil perhitungan adalah 0,05 yang menandakan bahwa tingkat pelayanan jalan pada klegen serut memiliki Lalu lintas agak ramai, kecepatan menurun. Kemudian hasil perhitungan dari jarak pandang pada perlintasan sebidang di desa klegen serut yaitu 40,1 dari as rel terhadap pengguna jalan. Dengan mengarah padam Pedoman Teknis Perlintasan, jika rata-rata volume lalu lintas harian (LHR) dikalikan dengan jumlah perjalanan kereta api antara 12.500 sampai dengan 35.000 smpk, maka perlintasan tersebut tidak perlu ditingkatkan menjadi perlintasan tidak sebidang. Hasil perkalian menunjukan bahwa perlintasan sebidang di desa klegen serut mempunyai nilai LHR yang masih tergolong sesuai dengan standart teknis yang ditentukan yaitu 17.128,8 smpk. Namun tidak dilengkapinya prasarana seperti palang pintu dan sistem perambuan yang lengkap membuat perlintasan tersebut yang berpotongan dengan antara rel kereta api dan jalan menimbulkan tingkat resiko kecelakaan dan potensi untuk mengalami kemacetan lalu lintas akibat adanya kereta api yang melintas. Sehingga perlu diadakanya penambahan kelengkapan jalan berupa rambu dan marka berdasarkan pedoman teknis keselamatan perlintasan sebidang yang ada
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUASAN PENGGUNA FACE RECOGNITION DI STASIUN SURABAYA GUBENG
PT KAI has innovated the boarding process by implementing a self-service Face Recognition (FR) facility, which has been used at Surabaya Gubeng Station since March 2023. This study aims to analyze passengers\u27 perceptions of satisfaction with the use of FR at Surabaya Gubeng Station. The research method used is End User Computing Satisfaction (EUCS) with five variables: content, accuracy, format, ease of use, and timeliness to measure users\u27 perceptions of FR at Surabaya Gubeng Station. The data was processed using the Structural Equation Modelling (SEM) method, assisted by the SmartPLS version 4.1.2 application. SEM involves three tests: measurement model analysis (convergent validity, discriminant validity, and reliability tests), structural model analysis (multicollinearity and hypothesis tests), and model goodness and fit analysis (coefficient of determination and model fit test). Convergent and discriminant validity tests, as well as reliability tests, showed that all indicators in each variable are valid and reliable. The multicollinearity test also indicated no collinearity. However, in the hypothesis test, the variables content and ease of use did not affect the satisfaction of FR users at Surabaya Gubeng Station. On the other hand, the variables accuracy, format, and timeliness did affect user satisfaction. The study concluded that 69.7% of FR users are satisfied with the use of FR at Surabaya Gubeng Station.PT KAI melakukan inovasi dalam proses boarding secara mandiri menggunakan fasilitas Face Recognition (FR) yang mulai digunakan di stasiun Surabaya Gubeng sejak bulan Maret 2023. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi penumpang terhadap kepuasan pengguna FR di stasiun Surabaya Gubeng. Metode dalam penelitian menggunakan End User Computing Satisfaction (EUCS) dengan 5 variabel yaitu: isi, ketepatan, bentuk, kemudahan penggunaan, dan ketepatan waktu untuk mengukur persepsi pengguna FR di stasiun Surabaya Gubeng. Data diolah dengan metode Structural Equation Modelling (SEM), dibantu aplikasi SmartPLS versi 4.1.2. SEM melibatkan tiga pengujian yaitu: analisis model pengukuran (uji validitas konvergen, validitas diskriminan, dan reliabilitas), analisis model struktural (uji multikolinieritas dan hipotesis), serta analisis kebaikan dan kecocokan model (koefisien determinasi dan uji model fit). Uji validitas konvergen dan diskriminan serta uji reliabilitas menunjukkan bahwa semua indikator dalam setiap variabel valid dan reliabel. Uji multikolineritas juga menunjukkan tidak adanya kolineritas. Namun, dalam uji hipotesis, variabel content dan ease of use tidak berpengaruh terhadap kepuasan pengguna FR di stasiun Surabaya Gubeng. Sebaliknya, variabel accuracy, format, dan timeliness berpengaruh terhadap kepuasan pengguna. Kesimpulan penelitian ini sebanyak 69,7% pengguna FR merasa puas dengan penggunaan FR di stasiun Surabaya Gubeng
Sosialisasi Keselamatan di Perlintasan Sebidang Tidak Berpalang Pintu (Studi Kasus: Desa Ngetrep, Kabupaten Madiun)
Perlintasan sebidang merupakan perpotongan antara jalur kereta api dan jalan yang dibuat sebidang. Intensitas mobilitas kendararaan dipintu perlintasan sebidang di sepanjang jalan rel pada pintu perlintasan yang melintas atau berpotongan langsung dengan jalan kereta api berpotensi menjadikan perlintasan sebidang sebagai titik rawan kecelakaan. Perlintasan sebidang tidak dijaga yang lokasinya berada di Desa Ngetrep Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun yang merupakan jalan keluar masuk menuju kearah kota madiun. Jadwal perjalanan kereta api yang cukup ramai khususnya di sore hari namun namun pada perlintasan sebidang ini tidak dilengkapi dengan portal palang pintu sehingga dapat berpotensi mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. Untuk itu perlu dilakukan sosialisasi keselamatan pada perlintasan sebidang. Sosialisasi keselamatan di perlintasan sebidang tidak berpalang pintu ini merupakan kegiatan edukasi kepada masyarakat untuk memberikan informasi yang dapat meningkatkan kesadaran pengguna jalan saat melintas di pintu perlintasan sebidang dan bahaya yang akan dihadapi masyarakat apabila melanggar peraturan tersebu
STUDI KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENGGUNA JALAN RAYA PADA PERLINTASAN SEBIDANG RESMI TIDAK DIJAGA: Studi Kasus: Desa Klegen Serut Kabupaten Madiun
Pertumbuhan masyarakat memicu berkembangnya pembangunan di sekitar rel dan perlintasan desa klegen serut. Pengguna jalan hanya diberikan tanda berupa suara dari kereta api yang hendak melintas karna pada perlintasan tersebut tidak ditemukan adanya palang pintu. Apabila pengendara kurang mewaspadai dalam berkendara maka akan menimbulkan kemungkinan terjadinya kecelakaan. Dengan menggunakan diskriptif kualitatif yang dianalisis menggunakan metode RCA dalam penelitian ini ditemukan akar permasalahan keselamatan yang timbul antara perpotongan perlintasan sebidang dengan jalan raya. Dengan dilihat dari kondisi jalan yang memperoleh jumlah perhitungan kapasitas jalan menurut MKJI 1997 1313 smp/jam dari perkalian volume lalu lintas dan frekuensi kereta api yang melintas dan jumlah volume lalu lintas tersisbuk yaitu pada hari Senin pukul 07.00-08.00 sebesar 78.5 smp/jam. Untuk nilai derajat kejenuhan pada Jalan perlintasan sebidang di desa klegen serut berdasarkan hasil perhitungan adalah 0,05 yang menandakan bahwa tingkat pelayanan jalan pada klegen serut memiliki Lalu lintas agak ramai, kecepatan menurun. Kemudian hasil perhitungan dari jarak pandang pada perlintasan sebidang di desa klegen serut yaitu 40,1 dari as rel terhadap pengguna jalan. Dengan mengarah padam Pedoman Teknis Perlintasan, jika rata-rata volume lalu lintas harian (LHR) dikalikan dengan jumlah perjalanan kereta api antara 12.500 sampai dengan 35.000 smpk, maka perlintasan tersebut tidak perlu ditingkatkan menjadi perlintasan tidak sebidang. Hasil perkalian menunjukan bahwa perlintasan sebidang di desa klegen serut mempunyai nilai LHR yang masih tergolong sesuai dengan standart teknis yang ditentukan yaitu 17.128,8 smpk. Namun tidak dilengkapinya prasarana seperti palang pintu dan sistem perambuan yang lengkap membuat perlintasan tersebut yang berpotongan dengan antara rel kereta api dan jalan menimbulkan tingkat resiko kecelakaan dan potensi untuk mengalami kemacetan lalu lintas akibat adanya kereta api yang melintas. Sehingga perlu diadakanya penambahan kelengkapan jalan berupa rambu dan marka berdasarkan pedoman teknis keselamatan perlintasan sebidang yang ada.Pertumbuhan masyarakat memicu berkembangnya pembangunan di sekitar rel dan perlintasan desa klegen serut. Pengguna jalan hanya diberikan tanda berupa suara dari kereta api yang hendak melintas karna pada perlintasan tersebut tidak ditemukan adanya palang pintu. Apabila pengendara kurang mewaspadai dalam berkendara maka akan menimbulkan kemungkinan terjadinya kecelakaan. Dengan menggunakan diskriptif kualitatif yang dianalisis menggunakan metode RCA dalam penelitian ini ditemukan akar permasalahan keselamatan yang timbul antara perpotongan perlintasan sebidang dengan jalan raya. Dengan dilihat dari kondisi jalan yang memperoleh jumlah perhitungan kapasitas jalan menurut MKJI 1997 1313 smp/jam dari perkalian volume lalu lintas dan frekuensi kereta api yang melintas dan jumlah volume lalu lintas tersisbuk yaitu pada hari Senin pukul 07.00-08.00 sebesar 78.5 smp/jam. Untuk nilai derajat kejenuhan pada Jalan perlintasan sebidang di desa klegen serut berdasarkan hasil perhitungan adalah 0,05 yang menandakan bahwa tingkat pelayanan jalan pada klegen serut memiliki Lalu lintas agak ramai, kecepatan menurun. Kemudian hasil perhitungan dari jarak pandang pada perlintasan sebidang di desa klegen serut yaitu 40,1 dari as rel terhadap pengguna jalan. Dengan mengarah padam Pedoman Teknis Perlintasan, jika rata-rata volume lalu lintas harian (LHR) dikalikan dengan jumlah perjalanan kereta api antara 12.500 sampai dengan 35.000 smpk, maka perlintasan tersebut tidak perlu ditingkatkan menjadi perlintasan tidak sebidang. Hasil perkalian menunjukan bahwa perlintasan sebidang di desa klegen serut mempunyai nilai LHR yang masih tergolong sesuai dengan standart teknis yang ditentukan yaitu 17.128,8 smpk. Namun tidak dilengkapinya prasarana seperti palang pintu dan sistem perambuan yang lengkap membuat perlintasan tersebut yang berpotongan dengan antara rel kereta api dan jalan menimbulkan tingkat resiko kecelakaan dan potensi untuk mengalami kemacetan lalu lintas akibat adanya kereta api yang melintas. Sehingga perlu diadakanya penambahan kelengkapan jalan berupa rambu dan marka berdasarkan pedoman teknis keselamatan perlintasan sebidang yang ada
