Jurnal Perkeretaapian Indonesia (Indonesian Railway Journal)
Not a member yet
147 research outputs found
Sort by
Uji Komparatif Lora 433 MHz dan 915 MHz Sebagai Media Pengirim Data Pemantauan Box ZP
In this study, Long Range (Lora) 433 MHz and 915 MHz were applied as data transmission media on the ZP box monitoring tool. The ZP box is one of the axle counter equipment located outdoors and a protector of the VUR module from the effects of weather. The comparative test of the performance of Lora 433 MHz and 915 MHz as data transmission media was carried out by considering the parameters of distance, RSSI, packet loss, and delay. The distance test shows that the relationship between the distance of the transmitter and receiver with the RSSI value is inversely proportional. In the RSSI test, Lora 433 MHz has better RSSI performance compared to Lora 915 MHz at distance variations of 158 m, 284 m, 483 m, and 842 m. In the packet loss test, Lora 915 MHz has better performance than Lora 433 Mhz at distance variations of 284 m, 483 m, and 842 m. In terms of data transmission delay, LoRa 915 MHz sends data faster than LoRa 433 MHz with a speed difference of 8%.Di dalam penelitian ini, Long Range (Lora) 433 MHz dan 915 MHz diterapkan sebagai media pengirim data pada alat pemantauan box ZP. Box ZP merupakan salah satu peralatan axle counter yang terletak di luar ruangan dan berfungsi sebagai pelindung modul VUR dari pengaruh cuaca. Uji perbandingan kinerja Lora 433 MHz dan 915 MHz sebagai media pengirim data dilakukan dengan mempertimbangkan parameter jarak, RSSI, packet loss, dan delay. Hasil pengujian jarak menunjukkan bahwa hubungan antara jarak transmitter dan receiver dengan nilai RSSI berbanding terbalik. Pada pengujian nilai RSSI, Lora 433 MHz menunjukkan kinerja RSSI yang lebih baik dibandingkan dengan Lora 915 MHz pada variasi jarak 158 m, 284 m, 483 m, dan 842 m. Pada pengujian packet loss, Lora 915 MHz menunjukkan kinerja lebih baik dibandingkan Lora 433 Mhz pada variasi jarak 284 m, 483 m, dan 842 m. Dari segi delay pengiriman data, LoRa 915 MHz mengirimkan data lebih cepat dibandingkan LoRa 433 MHz dengan selisih kecepatan sebesar 8%
Pengaruh Variasi Suhu Preheat Pengelasan GMAW terhadap Sifat Mekanik dan Metalografi Baja S355J2 pada Container Flat Top Wagon 50 Feet
This research was motivated by observations of the production process of 50-foot Container Flat Top Wagons at PT INKA (Persero) prior to GMAW welding of the material, where preheating was identified as a problem. The research problem is that the uncertain preheating temperature parameters cause distortion in the material, thereby affecting its mechanical properties. The solution to this problem involves conducting research to determine the most suitable preheating temperature parameters for the Process Instruction (PI). This study aims to analyze and determine the appropriate preheating temperature for the production of 50-foot Container Flat Top Wagons at PT INKA (Persero). The research method used is a quantitative experimental method, with the research object being S355J2 steel material subjected to preheating at varying temperatures of 200-225°C, 300-325°C, and non-preheating, followed by GMAW welding. The research results indicate that preheating at 300-325°C yields the highest tensile strength and hardness values. The conclusion of this study is that increasing the preheating temperature results in increased tensile strength and hardness, as the percentage of pearlite phase increases.Penelitian ini dilatarbelakangi hasil observasi pada proses produksi gerbong datar Container Flat Top Wagon 50 Feet di PT INKA (persero) sebelum dilakukan pengelasan GMAW pada material, dilakukan preheat yang terindentifikasi permasalahan. Permasalahan penelitian ini adalah parameter suhu preheat yang tidak tentu berdampak distorsi pada material sehingga mempengaruhi sifat mekanik material. Solusi permasalahan ini dilakukan penelitian yang menentukan pengaruh parameter suhu preheat yang paling sesuai untuk Process Instruction (PI). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menentukan temperatur preheat yang sesuai untuk produksi gerbong datar Container Flat Top Wagon 50 Feet di PT INKA (persero). Metode penelitian ini adalah metode eksperimental kuantitatif, objek penelitian ini adalah material baja S355J2 yang dilakukan preheat dengan variasi suhu preheat 200-225°C, 300-325°C dan non-preheat dengan pengelasan GMAW. Hasil penelitian ini adalah preheat suhu 300-325°C menghasilkan nilai kekuatan tarik dan kekerasan tertinggi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah peningkatan temperatur preheat menghasilkan kekuatan tarik dan kekerasan meningkat, karena presentase fasa perlit bertambah
Peningkatan Keandalan Jaringan Listrik Aliran Atas Pada Kereta Listrik: Review
The overhead catenary system (OCS) is a critical component of electric trains that requires a reliable and safe operation. To improve the reliability of OCS, several methods and techniques can be used, including reliability analysis, design and construction improvement, modernization and digitization of monitoring, inspection, and maintenance, and optimization and implementation of maintenance methods and strategies.
Reliability analysis can help identify failure causes and minimize failure risks. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), Fault Tree Analysis (FTA), Event Tree Analysis (ETA), and Reliability Block Diagram (RBD) are some of the tools that can be used for reliability analysis on OCS. Design and construction improvements can be made by using high-quality materials and components. Applying superconducting cable on the feeder wire system and adding dampers on the steady arm to reduce mechanical wave amplitude can improve the regeneration rate, reduce the capacity of the required substation, and increase redundancy, thereby increasing reliability. Using 3D printing technology can improve consistency and accuracy in the production of OCS components, resulting in higher-quality products. Modernization and digitization of monitoring, inspection, and maintenance can be done using robots and cameras, improving safety, efficiency, and accuracy. Robots can be used for maintenance, while cameras can be used for monitoring and inspection. Predictive maintenance strategies can be used to anticipate maintenance needs and perform maintenance proactively, while maintenance optimization methods can improve maintenance efficiency and reduce costs. Implementing reliability-centered maintenance (RCM) and preventive opportunistic maintenance methods can enhance maintenance procedures, reduce maintenance schedules, and save costs. A proactive approach to maintenance is recommended to improve reliability and safety.Overhead Catenary System (OCS) merupakan salah satu komponen kritis pada pengoperasian kereta listrik yang andal dan aman. Untuk meningkatkan keandalan OCS, terdapat beberapa metode dan teknik yang dapat digunakan yaitu analisis keandalan, peningkatan desain dan konstruksi, modernisasi dan digitalisasi pemantauan, inspeksi, dan pemeliharaan, serta optimalisasi dan implementasi metode dan strategi pemeliharaan.
Analisis keandalan dapat membantu mengidentifikasi penyebab kegagalan dan meminimalkan risiko kegagalan. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), Fault Tree Analysis (FTA), Event Tree Analysis (ETA), dan Reliability Block Diagram (RBD) adalah beberapa alat yang dapat digunakan untuk menganalisis keandalan pada OCS. Peningkatan desain dan konstruksi dapat dilakukan dengan menggunakan material dan komponen berkualitas tinggi. Penerapan kabel superkonduktor pada sistem kawat penyulang dan penambahan peredam pada lengan penyangga untuk mengurangi amplitudo gelombang mekanik dapat meningkatkan tingkat regenerasi, mengurangi kapasitas gardu traksi yang dibutuhkan, dan meningkatkan redundansi sehingga tingkat keandalan juga meningkat. Penggunaan teknologi pencetakan 3D dapat meningkatkan konsistensi dan akurasi dalam produksi komponen OCS sehingga menghasilkan produk yang berkualitas lebih tinggi. Modernisasi dan digitalisasi pemantauan, inspeksi, dan pemeliharaan dapat dilakukan dengan menggunakan robot dan kamera, hal ini dapat meningkatkan keselamatan, efisiensi, dan akurasi saat pemeliharaan. Robot dapat digunakan untuk pemeliharaan, sementara kamera untuk pemantauan dan inspeksi. Strategi pemeliharaan prediktif dapat digunakan untuk meramalkan kebutuhan pemeliharaan dan melakukan pemeliharaan secara proaktif, sementara metode optimalisasi pemeliharaan dapat meningkatkan efisiensi pemeliharaan dan mengurangi biaya. Implementasi pemeliharaan berbasis keandalan (RCM) dan metode pemeliharaan preventif opportunistic dapat meningkatkan prosedur pemeliharaan, mengurangi jadwal pemeliharaan, dan menghemat biaya. Pendekatan proaktif dalam pemeliharaan direkomendasikan untuk meningkatkan keandalan dan keselamatan
Battery Management System (BMS) Considering State of Charge (SOC) With Integration of Open Circuit Voltage and Coulomb Counting Methods Ups Sinyal Telecommunication Equipment Room (STER)
Voltage, current and temperature parameters on the UPS have not been monitored in real-time. So, SOC of the battery cannot be known directly. By knowing this data, energy management from the battery can be carried out. Then, the battery can function optimally with the maximum battery operating time range specifications. Through continuous real-time monitoring, the quality of the battery is always maintained. Batteries are the main energy source in relays in signal and telecommunication systems. So, a study needs to be carried out to maximize the service life of the battery. This research uses algorithm integration of Coulomb counting (CC) with estimates of Open Circuit Voltage (OCV) to calculate SOC for battery energy management system. From the experiments carried out, namely battery charging and discharging, as well as algorithm integration CC and OCV You will know the voltage, current, and charging and discharging times of the battery. From these experiments, the proposed algorithm can improve the accuracy of SOC estimation. BMS is done with cut off battery discharge according to the minimum battery voltage limit. Based on method Coulomb Counting, the change in the value of the current coming out of the battery during the discharge process is the most important parameter in estimating SOC. The current that comes out when the battery is 100% to 40% looks quite stable with a slight decrease. However, after the SOC reaches 40%, the current drops significantly. In condition charging, the size of the battery SOC is measured linearly with changes in time. The battery SOC experiences changes in value when charging from 0 to 100% linearly with time charging. When the charging conditions are high, the measured charging current value is consistently proportional to the rate of SOC addition. The SOC capacity of the battery is also directly proportional to the rated voltage value of the battery. When the SOC is 100% the battery reaches the maximum voltage 27.01 Volt immediately after charging and reaches a nominal voltage of 24.0 Volt, the rated voltage 2 (two) hours after charging.Parameter tegangan, arus, dan suhu pada UPS belum termonitor secara real-time. Jadi, SOC baterai tidak dapat diketahui secara langsung. Melalui real-time monitoring kondisi baterai selalu terjaga kualitasnya. Baterai merupak sumber energi utama dalam relai pada sistem persinyalan dan telekomulikasi. Sehingga perku dilakukan kajian untuk memaksimalkan masa pakai dari baterai. Penelitian ini menggunakan integrasi algoritma Coulomb counting dengan estimasi Open Circuit Voltage dalam memperhitungkan SOC untuk manajemen energi baterai Dari eksperimen yang dilakukan yaitu pengisian dan pengosongan baterai, serta integrasi algoritma Coulomb counting dan Open Circuit Voltage akan diketahui tegangan, arus, dan waktu pengisian serta pengosongan baterai. Dari eksperimen tersebut, algoritma yang diusulkan dapat meningkatkan akurasi estimasi SOC. BMS dilakukan dengan cut off pengosongan baterai sesuai dengan batas minimum tegangan baterai. Berdasarkan metode Coulomb Counting, perubahan nilai arus yang keluar dari baterai pada proses pengosongan menjadi parameter yang paling penting dalam estimasi SOC. Arus yang keluar ketika baterai 100 % sampai 40% terlihat cukup stabil dengan sedikit penurunan. Namun setelah SOC mencapai 40%, arus turun dengan signifikan. Dalam kondisi charging, besar SOC baterai terukur linear terhadap perubahan waktu. SOC baterai mengalami perubahan kenaikan nilai saat charging dari 0 sampai 100% linear dengan lama waktu charging. Ketika kondisi charging besar nilai arus pengisian terukur secara konsisten nilainya berbanding lurus dengan laju penambahan SOC. Kapasitas SOC baterai juga berbanding lurus dengan nilai tegangan terukur baterai. Saat SOC 100% baterai mencapai tegangan maksimum yaitu 27.01v sesaat setelah charging dan mencapai tegangan nominal 24.0 v tegangan terukur 2 (dua) jam setelah charging
Kajian Pola Operasi Commuter Line Sindro dan Commuter Line Arjonegoro Berdasarkan Demand dan Preferensi Penumpang
Commuter Line (CL) Sindro and CL Arjonegoro are commuter trains operating in the Surabaya area, with CL Sindro running from Sidoarjo Station to Indro Station, and CL Arjonegoro from Sidoarjo Station to Bojonegoro Station. Both lines overlap at eight stopping stations, causing negative impacts on passengers and train operations, including suboptimal occupancy rates for their 18 daily trips. This study aims to analyze the demand (load factor) and passenger preferences for the current operation patterns of CL Sindro and CL Arjonegoro, develop a new schedule aligned with the proposed operational changes, and create a revised GAPEKA schedule. The research utilizes secondary data from GAPEKA 2023 and passenger numbers for CL Sindro and CL Arjonegoro from June 2023 to April 2024, along with primary data on passenger preferences regarding departure times and desired routes. The analysis involves calculating travel needs, travel time for each segment, creating a timetable, and proposing a new GAPEKA schedule. The findings show an average load factor of 23% for CL Sindro and 45% for CL Arjonegoro. Most passengers prefer operations that reach Surabaya before 8:00 AM, with a route from Sidoarjo to Indro to Bojonegoro. Based on current demand, the required number of trips is eight per day on both weekdays and weekends, which is used to draft the new schedule and GAPEKA.Commuter Line (CL) Sindro dan CL Arjonegoro merupakan KA komuter yang beroperasi di Wilayah Surabaya, dengan CL Sindro melayani rute dari Stasiun Sidoarjo ke Stasiun Indro, dan CL Arjonegoro melayani rute dari Stasiun Sidoarjo ke Stasiun Bojonegoro. Kedua KA ini mengalami tumpang tindih di delapan stasiun pemberhentiannya, yang berdampak negatif bagi penumpang dan operasi KA, termasuk tingkat okupansi yang tidak maksimal pada 18 perjalanan harian mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis demand (load factor) dan preferensi penumpang terhadap pola operasi terkini CL Sindro dan CL Arjonegoro, menyusun jadwal baru yang sesuai dengan usulan perubahan pola operasi, serta membuat usulan GAPEKA yang disesuaikan dengan pola operasi baru tersebut. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa GAPEKA 2023 dan data jumlah penumpang CL Sindro dan CL Arjonegoro dari bulan Juni 2023 hingga April 2024, serta data primer berupa preferensi penumpang terhadap usulan perubahan pola operasi terkait jam keberangkatan dan rute yang diinginkan. Analisis meliputi perhitungan kebutuhan perjalanan, waktu tempuh setiap petak, pembuatan daftar waktu, dan penyusunan usulan GAPEKA. Hasil analisis menunjukkan rata-rata load factor CL Sindro sebesar 23% dan CL Arjonegoro sebesar 45%. Mayoritas penumpang lebih memilih pola operasi yang tiba di Surabaya sebelum pukul 8:00 pagi, dengan rute dari Sidoarjo ke Indro ke Bojonegoro. Berdasarkan demand terkini, kebutuhan perjalanan adalah delapan perjalanan per hari baik pada hari kerja maupun akhir pekan, yang dijadikan dasar untuk menyusun jadwal dan GAPEKA baru
Analisis Variasi Media Quenching terhadap Mechanical Properties dan Pembentukan Intergranular Corrosion Stainless Steel 201 pada Middle Part Middle Part Underframe kereta 612
Quenching is a rapid post-weld cooling method intended to improve the mechanical properties and corrosion resistance of materials. In the fabrication of the 612 railcar underframe at PT Industri Kereta Api (INKA), the 201 stainless steel material indicated the occurrence of intergranular corrosion after the Gas Metal Arc Welding (GMAW) process. This study applied three quenching media variations—non-quenching, compressed-air quenching, and water quenching—to analyze their effects on tensile strength, fatigue resistance, hardness, corrosion resistance, and macro- and microstructures. The results show that compressed-air quenching produced the highest Ultimate Tensile Strength (UTS), reaching 653.67 MPa with 35.90% elongation, while the non-quenching condition exhibited the highest yield strength (YS) of 425.90 MPa. The highest hardness value, 228.4 HV, was obtained in the HAZL zone under compressed-air quenching. In the fatigue test, all variations withstood up to 1,000,000 cycles at a maximum stress range of 0.024–0.081 GPa; however, the non-quenching condition demonstrated a longer fatigue life at high stress levels. The corrosion test results indicate that water quenching produced the lowest corrosion rate at 0.001 mm/month (0.008 mm/year), followed by compressed-air quenching at 0.012 mm/year and non-quenching at 0.020 mm/year. Based on the microstructural examination, water quenching exhibited the least intergranular corrosion due to reduced chromium-carbide precipitation. This research contributes to the optimization of post-weld cooling treatments to prevent intergranular corrosion in railcar underframes, thereby enhancing operational reliability and safety.Quenching merupakan metode pendinginan cepat pasca pengelasan yang bertujuan untuk meningkatkan mechanical properties dan ketahanan korosi material. Pada pengerjaan underframe kereta 612 di PT Industri Kereta Api (INKA), material stainless steel 201 terindikasi mengalami intergranular corrosion setelah proses pengelasan Gas Metal Arc Welding (GMAW). Penelitian ini menerapkan tiga variasi media quenching, yaitu non-quenching, quenching udara bertekanan, dan quenching air, untuk menganalisis pengaruhnya terhadap kekuatan tarik, ketahanan lelah, kekerasan, ketahanan korosi, serta struktur makro dan mikro. Hasil riset menunjukkan bahwa quenching udara bertekanan menghasilkan Ultimate Tensile Strength (UTS) tertinggi sebesar 653,67 MPa dan elongation 35,90%, sedangkan non-quenching memiliki yield strength (YS) tertinggi sebesar 425,90 MPa. Nilai kekerasan tertinggi sebesar 228,4 HV diperoleh pada quenching udara bertekanan di zona HAZL. Pada fatigue test, semua variasi mampu menahan hingga 1.000.000 siklus pada maximum stress 0,024–0,081 GPa, namun non-quenching menunjukkan umur lelah lebih panjang pada tegangan tinggi. Hasil corrosion test menunjukkan quenching air memiliki laju korosi terendah sebesar 0,001 mm/bulan (0,008 mm/tahun), diikuti quenching udara bertekanan 0,012 mm/tahun, dan non-quenching 0,020 mm/tahun. Berdasarkan micro examination, quenching air menunjukkan intergranular corrosion paling minimal akibat berkurangnya presipitasi kromium karbida. Riset ini berkontribusi pada optimalisasi perlakuan pendinginan pasca pengelasan untuk mencegah intergranular corrosion pada underframe kereta guna meningkatkan keandalan dan keselamatan operasi
Optimalisasi Alternatif Desain Mask of Car Kereta Cepat Terhadap Aerodinamika Variasi Kecepatan Dengan Simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD)
Drag coefficient reduction is a way to improve the aerodynamics of high-speed trains. The challenge in this research is the lack of studies on the aerodynamic analysis of the mask of car on fast trains, which is relevant to the development of the National Railway Master Plan (RIPNAS) which states that fast trains will be verified in 2025. This research aims to simulate the aerodynamics of high-speed trains with speeds of 100 km/h, 200 km/h, 300 km/h, and a rail width of 1435 mm. This research analyzes several mask of car designs, including mask of car 1 as an alternative to the Intercity Express (ICE) 3 high-speed train, mask of car 2 as an alternative to the Automotrice Grande Vitesse (AGV) Italo high-speed train, mask of car 3 as an alternative to the Pamela Jones high-speed train, and mask of car 4 as an alternative to the Jakarta Bandung High Speed Train (KCJB). The method used in this research is an experimental quantitative method with aerodynamic analysis using Computational Fluid Dynamics (CFD) through Ansys Workbench 2023 software. The results show that the mask of car 3 design has the lowest drag coefficient.Pengurangan coefficient drag adalah cara untuk meningkatkan aerodinamika kereta cepat. Tantangan dalam riset ini adalah kurangnya studi tentang analisis aerodinamika mask of car pada kereta cepat, yang relevan dengan perkembangan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS) yang menyatakan bahwa kereta cepat akan terverifikasi pada tahun 2025. Riset ini bertujuan untuk mensimulasikan aerodinamika kereta cepat dengan kecepatan 100 km/jam, 200 km/jam, 300 km/jam, dan lebar rel 1435 mm. Riset ini menganalisis beberapa desain mask of car, termasuk desain mask of car 1 sebagai alternatif dari kereta cepat Intercity Express (ICE) 3, desain mask of car 2 sebagai alternatif dari kereta cepat Automotrice Grande Vitesse (AGV) Italo, desain mask of car 3 sebagai alternatif dari kereta cepat Pamela Jones, dan desain mask of car 4 sebagai alternatif dari Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB). Metode yang digunakan dalam riset ini adalah metode kuantitatif eksperimental dengan analisis aerodinamika menggunakan Computational Fluid Dynamics (CFD) melalui software Ansys Workbench 2023. Hasil riset menunjukkan bahwa desain mask of car 3 memiliki coefficient drag terendah
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUASAN PENGGUNA FACE RECOGNITION DI STASIUN SURABAYA GUBENG
PT KAI has innovated the boarding process by implementing a self-service Face Recognition (FR) facility, which has been used at Surabaya Gubeng Station since March 2023. This study aims to analyze passengers\u27 perceptions of satisfaction with the use of FR at Surabaya Gubeng Station. The research method used is End User Computing Satisfaction (EUCS) with five variables: content, accuracy, format, ease of use, and timeliness to measure users\u27 perceptions of FR at Surabaya Gubeng Station. The data was processed using the Structural Equation Modelling (SEM) method, assisted by the SmartPLS version 4.1.2 application. SEM involves three tests: measurement model analysis (convergent validity, discriminant validity, and reliability tests), structural model analysis (multicollinearity and hypothesis tests), and model goodness and fit analysis (coefficient of determination and model fit test). Convergent and discriminant validity tests, as well as reliability tests, showed that all indicators in each variable are valid and reliable. The multicollinearity test also indicated no collinearity. However, in the hypothesis test, the variables content and ease of use did not affect the satisfaction of FR users at Surabaya Gubeng Station. On the other hand, the variables accuracy, format, and timeliness did affect user satisfaction. The study concluded that 69.7% of FR users are satisfied with the use of FR at Surabaya Gubeng Station.PT KAI melakukan inovasi dalam proses boarding secara mandiri menggunakan fasilitas Face Recognition (FR) yang mulai digunakan di stasiun Surabaya Gubeng sejak bulan Maret 2023. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi penumpang terhadap kepuasan pengguna FR di stasiun Surabaya Gubeng. Metode dalam penelitian menggunakan End User Computing Satisfaction (EUCS) dengan 5 variabel yaitu: isi, ketepatan, bentuk, kemudahan penggunaan, dan ketepatan waktu untuk mengukur persepsi pengguna FR di stasiun Surabaya Gubeng. Data diolah dengan metode Structural Equation Modelling (SEM), dibantu aplikasi SmartPLS versi 4.1.2. SEM melibatkan tiga pengujian yaitu: analisis model pengukuran (uji validitas konvergen, validitas diskriminan, dan reliabilitas), analisis model struktural (uji multikolinieritas dan hipotesis), serta analisis kebaikan dan kecocokan model (koefisien determinasi dan uji model fit). Uji validitas konvergen dan diskriminan serta uji reliabilitas menunjukkan bahwa semua indikator dalam setiap variabel valid dan reliabel. Uji multikolineritas juga menunjukkan tidak adanya kolineritas. Namun, dalam uji hipotesis, variabel content dan ease of use tidak berpengaruh terhadap kepuasan pengguna FR di stasiun Surabaya Gubeng. Sebaliknya, variabel accuracy, format, dan timeliness berpengaruh terhadap kepuasan pengguna. Kesimpulan penelitian ini sebanyak 69,7% pengguna FR merasa puas dengan penggunaan FR di stasiun Surabaya Gubeng
Eksplorasi Perilaku Pengguna Aplikasi Access by KAI dalam Pemesanan Tiket Kereta Api Lokal Bandung Raya : Penerapan Modifikasi Model UTAUT
This study explores the user behavior of the Access by KAI application developed by PT KAI to facilitate train ticket bookings, with a focus on the local Bandung Raya route. The novelty of this study lies in the use of Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS), incorporating a modification of the UTAUT model, to identify factors influencing the intention and behavior of using the application within the context of public transportation services in Indonesia. The study employs a quantitative approach, with primary data collected through a questionnaire involving 145 respondents selected through accidental sampling. The results of the analysis show that Performance Expectancy, Effort Expectancy, Social Influence, User Experience, and Minimalist Aesthetic Design have a significant positive effect on Behavioral Intention, which in turn affects Application Usage Behavior. However, Facilitating Conditions do not have a significant effect on user behavior, highlighting the dominance of personal factors and user perceptions. This study contributes to the literature by emphasizing the importance of improving user experience and creating a more intuitive application design as strategies to increase user loyalty to Access by KAI. PT KAI is advised to focus on enhancing the interface, adding relevant features, improving the speed and stability of the application, and regularly collecting user feedback to ensure that the application continues to meet user needs.Penelitian ini mengeksplorasi perilaku pengguna aplikasi Access by KAI yang dikembangkan oleh PT KAI untuk memfasilitasi pemesanan tiket kereta api, dengan fokus pada rute lokal Bandung Raya. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan modifikasi model UTAUT untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi niat dan perilaku penggunaan aplikasi dalam konteks layanan transportasi publik di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data primer melalui kuesioner yang melibatkan 145 responden yang dipilih secara accidental sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa Ekspektasi Kinerja, Ekspektasi Usaha, Pengaruh Sosial, Pengalaman Pengguna, dan Desain Estetika Minimalis memiliki pengaruh positif signifikan terhadap Niat Berperilaku, yang pada gilirannya memengaruhi Perilaku Penggunaan aplikasi. Namun, Kondisi Memfasilitasi tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap perilaku pengguna, menyoroti dominasi faktor personal dan persepsi pengguna. Penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan menekankan pentingnya peningkatan pengalaman pengguna dan desain aplikasi yang lebih intuitif sebagai strategi untuk meningkatkan loyalitas pengguna Access by KAI. PT KAI disarankan untuk fokus pada perbaikan antarmuka, penambahan fitur, peningkatan kecepatan dan stabilitas aplikasi, serta pengumpulan umpan balik pengguna secara berkala untuk memastikan aplikasi terus memenuhi kebutuhan pengguna
Pengaruh Temperatur Reforming Terhadap Sifat Mekanik dan Metalografi Material Aluminium 6061 Pada Sidewall Kereta
The results of observations on the Makasar Pare-Pare train sidewall frame assembly process at PT INKA (Persero) welding process that produces residual stresses resulting in geometry changes, so that the reforming process is carried out. The reforming method is a method to restore geometry due to residual stresses generated by post-welding using a welding torch tool with a certain heat temperature. This research aims to analyze the value of tensile strength, macro structure, and micro structure after heat input variations. The parameters in this study use temperature variations of 100-150 ° C, 150-200 ° C, and 200-250 ° with aluminum 6061 material. This research produces data from the value of the tensile test, macro examination, and micro examination. Based on the research that has been done, the greater the reforming temperature, the tensile strength value decreases due to the prespitat which becomes larger and coarser due to over-agedHasil observasi pada proses perakitan rangka dinding samping (sidewall) kereta Makasar Pare-Pare di PT. INKA (Persero) proses pengelasan yang menghasilkan tegangan sisa mengakibatkan perubahan geometri, sehingga dilakukannya proses reforming. Metode reforming adalah metode untuk mengembalikan geometri akibat tegangan sisa yang dihasilkan akibat pasca pengelasan dengan menggunakan alat torch las dengan suhu panas tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai kekuatan Tarik, struktur makro, dan struktur mikro setelah ada variasi masukkan panas. Parameter pada penelitian ini menggunakan variasi temperatur 100-150°C, 150-200°C, dan 200-250° dengan material aluminium 6061. Penelitian ini menghasilkan data dari nilai tensile test, macro examination, dan micro examination. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan semakin besar temperatur reforming nilai kekuatan Tarik semakin menurun dikarenakan prespitat yang menjadi lebih besar dan kasar akibat over-age