32 research outputs found

    A legal study of the effectiveness of Poisons Act 1952 in regulating possessions of 'Ketum' offence / Mohd Hafizi Hanapi

    No full text
    Possession of 'Ketum' is no strangers and this offence is increasing year by year. Criminals prefer to use 'Ketum' from dangerous drugs because 'Ketum' is easy to find and the price is cheaper than other dangerous drugs. Furthermore, the sentences of possession of 'Ketum' is lower than sentences to other dangerous drugs because 'Ketum' is considered as poison and listed under Poisons Act 1952; not under Dangerous Drugs Act 1952. Heroin is one of the example under dangerous drugs which have same effect with 'Ketum' but it is listed under Dangerous Drugs Act 1952. Hence, the offender will may repeat committing the crime because the sentence is lower and inadequate to give lessons to the offender. This research to analyses about the adequacy of Poisons Act 1952 in regulating possession of 'Ketum' and other relevant statutes that can be used to regulate possession of 'Ketum' comparing with other countries such as Thailand. End of this chapter, the author will show that, Poisons Act 1952 is inadequate in regulating possession of 'Ketum' offences

    Application of Sanctions for Performers of Siri Marriage in the Fatwa MPU Aceh Number 1 of 2010 concerning Siri Marriage: Penerapan Sanksi Bagi Pelaku Nikah Siri Dalam Fatwa MPU Aceh Nomor 1 tahun 2010 Tentang Nikah Siri

    No full text
    Some society assumed that all person who perform marriages under the hands or unregistered marriages are marriages that are carried out secretly without the knowledge of official officers, namely mariages record officer. Unregistered marriages become a problem in the community that can’t stop it soon, more harm than good. Unregistered marriages can also have a big impact on the consequences of the marriages law there is especially an bad effect on women and children. Now a days much of all still many unregistered marriages processed, because there are still many unofficial marriages with decision of false judge, therefore need for applicate the sanctions for the two perpetrators of unregistered marriages, in this case teh MPU Aceh have the create Fatwa about this problem one, so they must state a regulation to protect this habitual can not occur again in our community. Therefore, the researcher is interested in reviewing the application of sanctions for unregistered marriages perpetrators in MPU Aceh Fatwa No. 1 of 2010 concerning Siri Marriages. The research methods used are field research and literature research. The result in this study state that MPU Aceh applied sanctions for perpetrators of this series of marriages against false judge with imprisonment, the presence of false judge this unregistered marriages is viral now, therefore there needs to be sanctions applied. In the study of Maqasid Syar’iyah the recording of marriages agreements falls into the category of primary benefits of Daruriyat that can protect and maintain the benefit of religion, soul, reason, offspring, and property. Related to offspring, because with the recording, for women children benefif from the wife gets an inheritance and the child gets

    KONSEP PENYELESAIAN UTANG BERSAMA SUAMI ISTERI DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

    No full text
    When there is a marriage contract, husband and wife are legally bound and bear each other's rights and obligations. Not infrequently in household life, there are often debts carried out by both husband and wife in meeting family needs. In theory, the settlement of joint debt cases seems easy to do. But in fact, there are often protracted and often unresolved problems. The purpose of this study is to find out the concept of joint debt settlement according to Islamic Law and Indonesian Positive Law and to find out how to combine these two concepts in the lives of Indonesian people. This research is library research. The method used in this research is a qualitative method using a juridical-normative approach to understand the laws and regulations; ta'lili reasoning to understand the 'illat of all the provisions of the texts revealed by Allah as well as a comparative approach to compare Islamic Law and Indonesian positive law and find common ground.The results of the study indicate that according to Islamic law, the husband is obliged to pay the debt during the marriage because the husband is the one who is obliged. While according to Positive Indonesian Law, the husband and wife are jointly obliged to pay the family debt based on the union of property during the marriage. These differences can be integrated in the lives of Indonesian people by understanding mutual debt as 'urf which does not conflict with Islamic law and of course to achieve the common good of husband and wife (mashlahah mursalah)

    Perlindungan Terhadap Anak dalam Analisis Undang-Undang Perlindungan Anak dan Qanun Jinayat

    No full text
    Di dalam Qanun Jinayat dan Undang-Undang perlindungan anak, pelecehan seksual terhadap anak sudah mendapatkan perlindungannya. Namun keduanya tentuk memiliki perbedaan dari segi hukuman, denda dan lain sebagainya. Maka dari itu penulis akan melakukan studi komparasi terhadap dua hukum tersebut. Penelitian hukum ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif, dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dimana peneliti menggunakan peraturan perundang-undangan sebagai dasar awal melakukan analisis, pendekatan analitis), pendekatan analitis ini digunakan oleh peneliti dalam rangka melihat suatu fenomena kasus yang telah diputus oleh pengadilan dengan melihat analisis yang dilakukan oleh ahli hukum yang dapat digunakan oleh hakim dalam pertimbangan putusannya. Sumber data utama berupa data sekunder dengan Teknik pengumpulan data terhadap bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, bahan hukum tersier. Analisis yang digunakan analisis yang bersifat evaluative. Hasil penelitian mejelaskan bahwa Qanun jinayat ini diakui dalam hirarki perundang-undangan yang sejajar dengan perda, tindak pidana pelecehan seksual terhadap anak apabila memenuhi unsur maka wajib menerapkan qanun jinayat akan tetapi bagi non-muslim diperkenankakn untuk memilih dijerat dengan Kitab Undang-undang Perlindungan anak ataupun qanun jinayat, mengingat adanya kompetensi absolut mengenai wewenang mengadili. Namun selama ini hukuman cambuk bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak tidak memiliki efek jera bagi pelaku, pihak penuntut umum lebih mengarahkan tuntutannya dalam uqubat penjara, tidak dengan cambuk, hukuman ini dirasakan lebih lama memiliki efek jera bagi pelaku

    Urgency of Marriage Registration for Women and Child Protection in Gayo Lues District

    No full text
    Announcing marriage is an act to spread Islamic greatness. There have never been any previous scholars who married secretly or did not announce their marriages. Currently, marriages that are carried out in secret are synonymous with elopement and are not recorded in the Religious Affairs Office. The phenomenon of underage elopement, which the locals refer to as ‘naik’ (rising), is quite prevalent in Gayo Lues District. There have been six cases occurred already in one year. A pair of students who were still under 19 without the permission of their parents or the school deliberately went to a traditional leader, begging to be married off, while some others even dared to skip the administrative procedures and directly married, thinking that the procedures could be taken care of later. However, the real-life is not as smooth as they expected, and so their marriage was not registered, eventually causing the women and children to be the victims. In this study, the focus has related the perspective of Islamic jurisprudence and legislation in Indonesia on marriage registration and the consequences for women and children when there is no marriage registration. This qualitative study used in-depth interviews, descriptive analysis methods, the empirical juridical approach, and the normative juridical approach. The results of the study showed that students who eloped in high school generally no longer continued their studies because of shame and inferiority towards their friends. Marriage registration is handled by the State or the Government through statutory regulations in order to create orderly marriage in society

    PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK DARI PERKAWINAN YANG TIDAK DICATAT

    No full text
    Abstrak Peraturan Menteri Dalam Negeri  Nomor 108 Tahun 2019 Tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil. Aturan tersebut menyatakan kebolehan pembuatan Kartu Keluarga atas perkawinan siri dengan status “Perkawinan belum tercatat”. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bireuen dengan tujuan untuk menganalisis proses pelaksanaan permendagri Nomor 108 Tahun 2019 Tentang Kebolehan Pencatatan Anak Perkawinan Belum Tercatat. Dan mengkaji konsekuensi berlakunya Permendagri Nomor 108 Tahun 2019 Terhadap Perlindungan Anak. Metode penelitian yang digunakan adalah field research (penelitian lapangan) dalam mengambil kesimpulan menggunakan jenis penelitian deskriptif analisis yaitu memaparkan secara detail fakta-fakta yang ditemukan di lapangan atau masyarakat, kemudian di analisis kembali untuk memperoleh kesimpulan terhadap permasalahan dalam penelitian ini.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Proses Pelaksanaan Permendagri Nomor 108 Tahun 2019 Tentang Kebolehan Pencatatan Anak Perkawinan Belum Tercatat. Dengan pencantuman status “Kawin Belum Tercatat” dalam kartu keluarga telah legal sesuai dengan substansi dari peraturan tersebut untuk membedakan penduduk sudah atau belum memiliki surat nikah yang dikeluarkan Kantor Urusan Agama (KUA) dikeluarkan melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan melampirkan surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM) sebagai upaya perlindungan terhadap hak warga negara khususnya anak. Konsekuensi Berlakunya Permendagri Nomor 108 Tahun 2019 Terhadap Perlindungan Anak. Dapat dilihat dari dua sisi postif dan juga negatif.  Positif memberikan hak anak dalam hal administrasi, memberikan manfaat konkrit yang dirasakan oleh masyarakat antara lain memberikan kepastian mengenai status perkawinan dan hubungan dalam keluarga pada kartu keluarga. Memberikan kepastian mengenai asal usul anak (siapa ayah dan ibunya). Dapat mulai membuka informasi tentang perkawinan siri dan perkawinan adat yang kemudian didorong dan dilanjutkan dengan isbat nikah. Negatifnya, melemahkan otoritas lembaga pencatat perkawinan Kantor Urusan Agama dan Kantor, mempersempit kewenangan lembaga peradilan dalam hal penetapan (istbat) suatu perkawinan yang tidak tercatat. Bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 dalam hal pencatatan perkawinan. Kata Kunci: Permendagri, Anak, Perkawinan, Perlindunga

    Dinamika Pencatatan Perkawinan di Indonesia

    No full text
    Abstract: Apart from being regulated through Islamic law, the rules regarding marriage are sourced from the Al-Qur'an and hadith, in the dynamics of the state in Indonesia, marriage is also regulated in laws and government regulations. In the Marriage Law Number 1 of 1974 as amended by Law Number 19 of the year, marriages are required to be registered, but in fact many people are reluctant to register these marriages, so many people call them sirri marriages, the meaning of sirri marriage is marriage. which is valid because it is carried out in accordance with the provisions of religious law, namely by fulfilling the pillars and conditions of marriage, but the marriage does not receive state recognition because it is not registered. Siri marriages cause many problems, especially legal problems in the family, such as the absence of legal recognition of the marriage and other problems that follow such as the status of children who do not get marriage certificates, other family rights, especially the rights of women (wives) and children who often does not receive recognition from his father and/or his father's family, such as receiving maintenance and inheritance rights from his father. Marriage registration is actually an effort to provide legal protection for families regarding the rights that must be obtained properly from a marriage, and marriage registration, although not prescribed in the Islamic religion, is actually not in conflict with Islamic law and is even recommended with the aim of avoiding harm and problems that arise. it may occur later in the family.Keywords: Family, Marriage, Siri, Islamic Law, Laws and Registration. Abstrak : Aturan mengenai perkawinan selain diatur melalui syariat Islam yaitu bersumber dari Al-Qur’an dan hadits, dalam dinamika bernegara di indonesia Perkawinan Juga diatur di dalam Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah. Didalam Undang-undang perkawinan Nomor 1 tahun 1974 sebagaimana telah dirubah melalui Undang-undang Nomor 19 tahun bahwa Perkawinan wajib untuk dicatatkan, namun pada faktanya banyak masyarakat yang enggan mencatatkan perkawinan tersebut, sehingga banyak yang menyebutnya dengan istilah perkawinan sirri, pengertian perkawinan sirri adalah perkawinan yang sah karena dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hukum agama, yaitu dengan terpenuhinya rukun dan syarat perkawinan, hanya saja perkawinan tersebut tidak mendapat pengakuan negara karena tidak tercatat. perkawinan siri banyak menimbulkan problem terutama problem hukum dalam keluarga, seperti tidak adanya pengakuan hukum terhadap perkawinan tersebut dan problem lain yang mengikutinya seperti status anak yang tidak mendapatkan akte nikah, hak-hak keluarga lainnya terutama hak-hak perempuan (istri) dan anak yang sering tidak mendapat pengakuan dari bapak dan atau keluarga bapaknya seperti untuk mendapat hak nafkah dan waris dari bapaknya. Pencatatan perkawinan sesungguhnya adalah upaya untuk memberikan perlindungan hukum bagi keluarga terhadap hak-hak yang harus didapatkan sebagaimana mestinya dari sebuah perkawinan, dan pencatatan perkawinan meski tidak disyariat dalam agama Islam tetapi sesungguhnya tidak bertentangan dengan hukum Islam dan bahkan dianjurkan dengan tujuan menghindari kemudaratan dan problem yang mungkin akan terjadi di kemudian hari dalam keluarga.Kata kunci : Keluarga, Kawin, Siri, Hukum Islam, Undang-Undang dan Pencatatan

    Penelantaran Isteri oleh Suami sebagai Sebab Perceraian (Studi Kasus di Mahkamah Syar’iyah Tapaktuan)

    No full text
    Salah satu penyebab perceraian adalah penelantaran yang dilakukan oleh suami terhadap isteri sehingga isteri menuntut perceraian di pengadilan. Namun hal ini terjadi di Mahkamah Syar’iyah Tapaktuan dimana ada beberapa kasus penelantaran isteri sehingga menyebabkan perceraian. Berdasaran kasus tersebut Skripsi ini meneliti tentang Penelantaran Isteri Oleh Suami Sebagai Sebab Perceraian. Adapun cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah Library research (Penelitian Pustaka), yaitu penelitian dengan mengambil data-data dari kepustakaan. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis melalui metode analisis deskriptif. Adapun penyebab terjadinya penelantaran di Mahkamah Syar’iyah Tapaktuan adalah Mabuk, Meninggalkan salah satu pihak, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Cacat badan, Perselisihan dan pertengkaran terus menerus, Jiwa/Mental, Pihak ketiga, Tidak tanggungjawab dan Ekonomi. Dasar hukum terdapat dalam surat ar-Rum ayat 21, Dan Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, Pasal 19, menyebutkan, salah satunya jika antara suami isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun dalam rumah tangga dan salah satunya pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya

    Hak Wali Mujbīr Membatalkan Pernikahan (Analisis Putusan Mahkamah Syari'ah Perak)

    No full text
    Izin wali sangat penting dalam menentukan sahnya suatu perkawinan. Adanya wali adalah syarat sahnya perkawinan, sebagaimana adanya saksi. Nikah tidak sah tanpa wali laki-laki yang mukallaf, merdeka, muslim, adil, dan berakal sempurna. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana pertimbangan Hakim dalam memberikan putusan Hak wali mujbir di Mahkamah Syari'ah Perak Islam dan bagaimana pandangan Hukum Islam terhadap pernikahan tanpa wali mujbi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan telaah kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research). Pertimbangan hakim dalam memberikan putusan di Mahkamah Syari'ah Perak adalah berdasarkan seksyen 13 EKIP 2004. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim boleh membatalkan pernikahan yang tidak mengikuti Undang-Undang Malaysia yang telah ditetapkan oleh Mahkamah Syari'ah. Selain itu, Hakim juga melihat dari sekufu atau tidak antara pasangan mempelai tersebut. Adapun pernikahan yang tidak sesuai dengan Undang-undang Negara dan Hukum Islam, Hakim boleh membatalkan pernikahan pasangann tersebut
    corecore