1,721,125 research outputs found
KARAKTERISTIK BATIK AGUS SUPRIYANTO DI UKEL BATIK ART JAGANGREJO BANTUL DITINJAU DARI IDE DASAR, PROSES PENCIPTAAN, DAN ESTETIKANYA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam dan mendeskripsikan: (1) ide dasar batik Agus Supriyanto di Ukel Batik Art Jagangrejo Bantul dari tahun 2012 sampai bulan Maret tahun 2013; (2) proses penciptaan batik Agus Supriyanto di Ukel Batik Art Jagangrejo Bantul dari tahun 2012 sampai bulan Maret tahun 2013; (3) estetika batik Agus Supriyanto di Ukel Batik Art Jagangrejo Bantul dari tahun 2012 sampai bulan Maret tahun 2013 karena pada periode tersebut batik yang diciptakan merupakan karya batik unggulan.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data diperoleh dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri yang dibantu dengan pedoman observasi, pedoman wawancara, dan pedoman dokumentasi. Teknik penentuan validitas data dilakukan dengan cara keajegan pengamatan dan triangulasi. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan.
Hasil penelitian ini adalah: (1) Ide dasar penciptaan batik Agus Supriyanto bersumber dari: (a) motif-motif khas kraton Yogyakarta, yaitu kawung, parang rusak barong, dan truntum; (b) flora yaitu daun sirsak. (2) Proses penciptaan batik Agus Supriyanto, yaitu: (a) membuat pola, yaitu dengan cara menggambar pola langsung pada kain dan menggambar pola dengan bantuan penggaris; (b) penglowongan atau pelekatan malam pada kain ketika kain belum diberi warna, yaitu dengan teknik ciprat, teknik canting, dan teknik kuas; (c) pewarnaan pertama, yaitu dengan teknik esek dan teknik celup; (d) njupuki atau pelekatan malam pada kain setelah kain diberi warna, yaitu dengan teknik ciprat, teknik canting, dan teknik kuas; (e) pewarnaan kedua, yaitu dengan teknik celup; (f) pelorodan, yaitu dengan cara merebus kain. (3) Estetika batik Agus Supriyanto tercermin pada dua nilai, yaitu: (a) nilai estetis atau nilai murni, nilai tersebut terdapat pada batik Agus Supriyanto yaitu penerapan gradasi warna, kontras value, tekstur kasar semu yang disebabkan oleh perbedaan raut dan persinggungan antar bentuk berupa titik, garis, dan bidang organik, serta memiliki arah, kedudukan, ukuran, dan gerak yang berbeda-beda sehingga memunculkan irama transisi, dominasi, kontras proporsi, dan kesatuan; (b) nilai ekstra estetis atau nilai tambahan, nilai tersebut terdapat pada makna dari motif yang diterapkan dalam batik Agus Supriyanto, yaitu motif kawung yang bermakna keperkasaan dan keadilan, motif parang rusak barong yang bermakna ketajaman dalam berpikir dan bertindak, motif truntum yang bermakna cinta yang tulus dan abadi, serta motif daun sirsak yang bermakna kesehatan dan kesegaran
Implementasi Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Dalam Pembelajaran Pengetahuan Sosial Geografi Materi Pokok Unsur Sosial Wilayah Indonesia (Studi Deskriptif Di Kelas VIII Semester Gasal SMP Negeri 40 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007)
Agus Supriyanto, 2007: “Implementasi Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
Dalam Pembelajaran Pengetahuan Sosial Geografi Materi Pokok Unsur Sosial
Wilayah Indonesia (Studi Deskriptif Di Kelas VIII Semester Gasal SMP Negeri 40
Semarang Tahun Ajaran 2006/2007)”. Skripsi, Jurusan Geografi Fakultas Ilmu
Sosial Universitas Negeri Semarang.
Kata Kunci:, Pendekatan Kontekstual, Pembelajaran Geografi.
Salah satu bentuk dari usaha pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan
adalah dengan melaksanakan pembaharuan kurikulum pendidikan, karena kurikulum
pendidikan merupakan faktor yang esensial dalam dunia pendidikan. Pembaharuan
tersebut adalah dengan digantinya Kurikulum 1994 beserta suplemennya dengan
Kurikulum 2004 yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang
telah diberlakukan secara nasional pada tahun ajaran 2004/2005. Salah satu ciri dari
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah Pendekatan Kontekstual, yaitu
learning by doing yang artinya bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya
menciptakan kesempatan siswa untuk mengalami secara nyata yang dipelajari terkait
dengan kehidupan dan dunia nyata. Pendekatan kontekstual adalah pendekatan
pembelajaran yang berfokus pada siswa dan apa yang akan dikerjakan oleh siswa.
SMP Negeri 40 Semarang telah menerapkan pendekatan kontekstual dalam
pembelajaran khususnya pembelajaran geografi sejalan dengan dilaksanakannya
Kurikulum Berbasis Kompetensi. Akan tetapi dari observasi awal menunjukan bahwa
prestasi siswa pada materi pokok unsur sosial wilayah Indonesia masih dibawah
standar ketuntasan belajar minimal (SKBM) yang telah ditetapkan yaitu 6,5.
Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah, bagaimanakah
implementasi pendekatam kontekstual dalam pembelajaran pengetahuan sosial
geografi materi pokok unsur sosial wilayah Indonesia pada siswa kelas VIII SMP 40
Semarang? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan
implementasi pendekatan kontekstual dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial
Geografi materi pokok unsur sosial wilayah Indonesia pada siswa kelas VIII SMP
Negeri 40 Semarang dan untuk mengetahui prestasi belajar siswa kelas VIII SMP
Negeri 40 Semarang tahun ajaran 2006/2007 pada materi pokok unsur sosial wilayah
Indonesia. Manfaat penelitian ini adalah diharapkan dapat menjadi evaluasi bagi guru
bidang studi Pengetahuan Sosial Geografi dalam melaksanakan pembelajaran
kontekstual khususnya pada materi pokok unsur sosial wilayah Indonesia.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP 40
Semarang sebanyak 232 siswa. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan taknik
Proportional Random Sampling, sebanyak 58 siswa. Variabel penelitian ini adalah:
Implementasi pendekatan kontekstual dalam pembelajaran pengetahuan sosial
geografi dan prestasi belajar siswa pada materi pokok unsur sosial wilayah Indonesia.
Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif persentase.
Penelitian deskriptif merupakan penelitian non hipotesis sehingga dalam langkah
penelitian tidak perlu merumuskan hipotesis.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di SMP 40 Semarang dapat
diketahui bahwa implementasi pendekatan kontekstual dalam pembelajaran
pengetahuan sosial geografi materi pokok unsur sosial wilayah Indonesia sudah dalam
kriteria cukup, yaitu mencapai 57,6%.
Bagi guru mata pelajaran geografi di SMP Negeri 40 Semarang hendaknya
tidak hanya memanfaatkan media yang ada disekolah tetapi kreatif untuk membuat
media pembelajaran sendiri. Proses pembelajaran hendaknya tidak hanya dilakukan di
dalam kelas tetapi juga di lingkungan sekitar. Bagi pihak sekolah diharapkan agar
melengkapi fasilitas terutama berkaitan dengan perangkat pendukung pembelajaran
seperti media audiovisual, CD pembelajaran dan buku-buku literatur
KANDUNGAN SUSPENSI SEDIMEN AIR LAUT DI PERAIRAN LAUT PUGER,JEMBER
Telah dilakukan penelitian kandungan suspensi sedimen air laut di perairan laut puger jemberdan diperoleh nilai rata rata berat suspensi sedimen air laut di perairan laut puger jember
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Effects of the combination between bio-surfactant product types and washing times on the removal of crude oil in nonwoven fabric
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
