1,720,975 research outputs found

    Model Kepemimpinan Transformasional Abdullah Azwar Anas dalam Memimpin Kabupaten Banyuwangi

    No full text
    Penelitian ini membahas mengenai model kepemimpinan transformasional Abdullah Azwar Anas dalam memimpin Kabupaten Banyuwangi. Kepemimpinan merupakan faktor penting dari seorang pemimpin yang mempengaruhi kemajuan dan perkembangan pengikutnya dalam organisasi yang dipimpin untuk menciptakan sebuah perubahan disuatu daerah tertentu. kepemimpinan transformasional adalah suatu keadaan dimana para pengikut dari seorang pemimpin transformasional merasa adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan, dan hormat terhadap pemimpin tersebut, dan mereka termotivasi untuk melakukan lebih dari pada yang awalnya diharapkan mereka. Dalam kepemimpinan Abdullah Azwar Anas, berbagai inovasi berhasil diciptakan dan membawa perubahan dan kemajuan bagi Kabupaten Banyuwangi. Fenomena inilah yang menjadi perhatian bagi peneliti untuk mengetahui gambaran mengenai, bagaimana model kepemimpinan Abdullah Azwar Anas dalam memimpin Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model kepemimpinan transformasional Abdullah Azwar Anas dalam memimpin Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan teori Model Kepemimpinan Transformasional yang dikemukakan oleh Bernard M. Bass (Nourthouse, 2013) dengan empat indikator yang digunakan untuk menganalisis temuan, yaitu: Pengaruh Ideal, Motivasi Yang Menginspirasi, Rangsangan Intelektual, Pertimbangan Yang Diadopsi. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik wawancara, kuisioner terbuka dan dokumentasi yang bertujuan untuk menggambarkan berbagai kondisi yang menjadi fokus penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kepemimpinannya di Kabupaten Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas merupakan sosok pemimpin yang mempunyai model kepemimpinan transformasional dengan melakukan pendekatan terhadap ASN di Banyuwangi. Beliau memberikan motivasi kepada para ASN untuk dapat menciptakan sebuah inovasi guna meningkatkan kualitas kinerja para ASN di Banyuwangi sehingga mampu memberikan dampak positif bagi kemajuan Kabupaten Banyuwangi dan membawa Kabupaten Banyuwangi ke arah perubahan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Kata Kunci: Abdullah Azwar Anas, Banyuwangi, Kepemimpinan Transformasiona

    PERAN POLITIK NU DALAM PEMENANGAN BUPATI BANYUWANGI ABDULLAH AZWAR ANAS – YUSUF WIDYATMOKO DALAM PILKADA BANYUWANGI PERIODE 2015-2020

    Get PDF
    Dalam dua periode terakhir telah terpilih kader NU, Abdullah Azwar Anas sebagai bupati Banyuwangi selama dua tahun berturut-turut. Pada pemilihan Bupati Banyuwangi 14 Juli 2010. Diikuti oleh 3 Pasangan Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko (PKB, PDIP, Partai Golkar, PKS, dan PKNU) mengalahkan kedua kontestan yang lain yaitu pasangan Jalal-Yusuf Nur Iskandar (Partai Demokrat). Sedangkan pasangan Emilia Contesa - Zaenuri Ghazali (Gerindra, Republikan, PAN). Tidak jauh berbeda pada Pilkada 2010, pada Pilkada 2015 pasangan Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko (PKB, PDIP, Partai Gerindra, Nasdem, PKS, PAN, Demokrat, dan PPP) kembali maju berkompetisi dalam pemilihan bupati Banyuwangi 2015-2020 dengan kompetitor yang berbeda yaitu Sumantri Soedomo- Sigit Wahyu Widodo (Golkar dan Hanura), Abdullah Azwar Anaz merupakan satusatunya kader NU yang berhasil menduduki kursi bupati selama dua periode berturutturut.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan NU Banyuwangi dalam PILKADA Banyuwangi 2015 dan untuk mengetahui kepentingan yang diperjuangkan NU Banyuwangi pada pasca Pilkada 2015. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana metode analisis yang digunakan berdasarkan survey secara langsung dilapangan, wawancara dan analisis berdasarkan dokumen yang ditemukan dilapangan. Adanya kontrak Jami’yah yang merupakan perjanjian antara Abdullah Azwar Anas dan NU dalam mensejahterakan masyarakat

    Kepemimpinan Inovatif Kepala Daerah untuk Sektor Publik di Kabupaten Banyuwangi (Studi Kasus Bupati Abdullah Azwar Anas)

    No full text
    Kepemimpinan menjadi kunci sukses dalam perkembangan organisasi, baik sektor privat maupun publik (Sudaryono, 2014). Dalam sektor publik, pemimpin, khususnya kepala daerah dituntut untuk mampu berinovasi, sehingga membuat perubahan daerah yang dipimpinnya. Inovasi kepala daerah ini seperti ditunjukkan oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Sejak tahun 2010, Kabupaten Banyuwangi berkembang cukup pesat. Pesatnya pembangunan daerah di ujung Timur Pulau Jawa ini disebabkan banyaknya inovasi di bawah kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas. Pembangunan, baik fisik maupun non fisik, dirasakan sangat baik oleh masyarakat. Salah satu pembangunan non fisik yang paling menonjol adalah inovasi dalam mempopulerkan pariwisata di Kabupaten Banyuwangi di kancah nasional dan sektor pelayanan publik. Dalam sektor administrasi publik, inovasi pelayanan publik yang mampu memberikan kemudahan bagi masyarakat. Salah satunya, penggunaan teknologi digital dalam pengurusan administrasi publik. Dari keberhasilan membuat berbagai inovasi sektor publik ini, tahun 2018, Kabupaten Banyuwangi mendapat penghargaan sebagai Kabupaten Terinovatif dalam Kompetisi Innovative Government Award (IGA) dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri)

    PERBEDAAN KOMUNIKASI POLITIK ANTARA BUPATI IPUK FIESTIANDANI DENGAN BUPATI ABDULLAH AZWAR ANAS PERIODE 2016-2021 ( Studi di Kelurahan Bakungan dan Banjarsari )

    No full text
    People who are involved in the world of politics, have different styles or forms of communication according to their respective characteristics to convey messages to the audience, so this study aims to analyze whether there is a difference in political communication styles between Ipuk Fiestiandani as the current Regent of Banyuwangi and the previous Regent, Azwar Anas, where these two leaders have a family relationship. The paradigm used in this study is positivism, a type of quantitative research with a total of 100 respondents. there is a difference in political communication carried out by the Regent of Ipuk Fistiandani and the former Regent Abdullah Azwar Anas. This study also found that the Regent of Ipuk Fistiandani tended to use the controlling style, the structuring style, the dynamic style and the withdrawal style, while the former Regent Abdullah Azwar Anas tended to use the equalitarian style and the relinguishing style. Although the Regent of Ipuk Fistiandani and the former Regent Abdullah Azwar Anas are a married couple, they have different tendencies in political communication styles

    PEMBENTUKAN PERSONAL BRANDING BUPATI BANYUWANGI ABDULLAH AZWAR ANAS DALAM MEMPERKUAT LEGITIMASI KEPEMIMPINAN POLITIK

    Get PDF
    Studi ini berusaha mengeksplorasi proses pembentukan personal branding dalam menguatkan legitimasi kepemimpinan. Brand memiliki posisi yang begitu penting dalam menguatkan legitimasi. Anas dan Banyuwangi memiliki karakter yang berbeda, baik dari kultur maupun gaya hidup masyarakat sehingga itu akan berpengaruh pada karakter brand yang dipilih serta cara yang dilakukan untuk membentuk brand tersebut. Dengan brand yang dia bentuk, Anas mampu meyakinkan rakyat Banyuwangi. Fenomena itulah yang kemudian menjadi perhatian peneliti untuk mengetahui gambaran mengenai, bagaimana proses pembentukan personal branding Abdullah Azwar Anas dalam menguatkan legitimasi kepemimpinan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif-kualitatif bertujuan untuk menggambarkan berbagai kondisi yang ada fokus penelitian, dan berupaya menarik realitas itu ke permukan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi, ataupun fenomena tertentu. Menurut hukum pembentukan personal branding, diantaranya: spesialisasi, kepemimpinan, kepribadian, perbedaan, visibilitas, kesatuan, keteguhan dan nama baik. Sedangkan dalam teori legitimasi Ramlan Surbakti menyebutkan salah satu tipe legitimasi adalah legitimasi Kharismatik. Legitimasi kharismatik atau kualitas pribadi akan lebih terlihat apabila seorang pemimpin mampu mengemas kualitas yang dimilikinya dengan personal branding yang kuat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, Abdullah Azwar Anas melihat dengan jeli megenai kondisi masyarakat Banyuwangi, baik secara kultur maupun geografis. Berdasarkan hukum pembentukan personal branding Montoya sebagai pemimpin dia memiliki spesialisasi khusus yaitu di bidang Inovasi. Dari sisi kepribadian Anas menolak hukum personal branding Montoya bahwa seorang pemimpin harus memiliki kepribadianyang baik namun tidak harus sempurna. Dalam mempromosikan Brand, dia menjalin hubungan kerjasama dengan media, mengkondisikan bentuk dan isi berita yang dimunculkan, serta menjalin hubungan personal dengan para jurnalis. Anas juga secara konsisten menetapkan branding dirinya, Berdasarkan tahapan proses tersebut akhirnya Anas di asosiasikan oleh publik Banyuwangi sebagai seorang pemimpin yang religus, inovatif dan mencintai budaya

    Peran Elite Politik Daerah dalam Penentuan Rekomendasi Partai Pada Pilkada Banyuwangi Tahun 2020.

    No full text
    Pelaksanaan Pilkada Banyuwangi 2020 tidak terlepas dari peran elite politik daerah yang berpengaruh terhadap penenentuan rekomendasi partai. Peran elite politik untuk mengusung pasangan Ipuk-Sugirah sangat kuat dalam mempengaruhi lawan politiknya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif untuk memahami tujuan dari adanya peran elite politik dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan dokumentasi. Focus analisis penelitian ini menggunakan teori elite dari Keller dan konsep politik local. Kemenangan yang diraih oleh Ipuk-Sugirah pada dasarnya tidak lepas dari dukungan elite politik daerah yang telah memberikan rekomendasi kepada partai politik. Elite politik berperan penting dalam memenangkan sebuah pemilu. Beberapa factor yang menjadi alasan pemberian rekomendasi partai kepada pasangan Ipuk Sugirah. Pertama, adanya elektabilitas Abdullah Azwar Anas. Kedua, rekam jejak H. Sugirah yang baik selama menjadi DPRD 3 periode yang didukung dengan reaksi positif masyarakat. Ketiga, relasi yang baik dengan masyarakat dimana Ipuk merupakan istri Abdullah Azwar Anas yang dikenal biak serta H. Sugirah dengan latar belakang petani yang dekat dengan masyarakat. Sedangkan dampak rekomendasi partai dari elite politik terhadap pasangan Ipuk-Sugirah mampu melegitimasi kualitas pasnagan tersebut. Selain itu, didukung pula dengan koalisi partai-partai besar untuk mengusung pasangan Ipuk-Sugirah. Adapun dampaknya pertama adalah mempengaruhi rakyat sebagai pemilih sebab masyarakat cenderung berpedoman pada partai yang mereka pilih. Dampak kedua adalah rekomendasi partai dari elite politik menjadi kesempatan memenangkan pemilu menjadi lebih besar. Ketiga, kepercayaan public yang harus dimanfaatkan dengan baik melalui kualitas pasangan yang sejalan dengan visi misi partai politik

    Exertion of Cultures and Hegemonic Power in Banyuwangi: The Midst of Postmodern Trends

    No full text
    This article aims to criticize the incorporation and commodification of Using cultures undergone by Abdullah Azwar Anas in Banyuwangi, East Java. To answer the problem, we analyze primary data from our field research and secondary data from online media related to AAA’s efforts to incorporate, articulate, and commodify Using cultures into various carnival programs (2011-2017) by applying theories of commodification, postmodernism, and hegemony. The result of this study shows that, driven by his desire to promote Using cultures globally in the midst of postmodern trends, since 2011 the government of Banyuwangi has created many carnivals and festivals, such as “Banyuwangi Ethno Carnival”, “Banyuwangi Beach Jazz Festival”, “Parade Gandrung Sewu”, and other various programs. Economically, the programs are idealized to support the regional economic growth through tourism activities, both for domestic and international tourists, by displaying traditional expressions with new styles and performances. Politically, the carnivals and festivals can support AAA efforts to negotiate its political concern in order to produce consensus. [Artikel ini hendak mengkritisi proses inkorporasi dan komodifikasi budaya Using yang dijalankan oleh Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Jawa Timur. Untuk menjawab permasalahan tersebut, kami menganalisis data primer dari penelitian lapangan dan data sekunder dari media online yang terkait usaha AAA untuk menginkorporasi, mengartikulasikan, dan mengkomodifikasi budaya Using ke dalam bermacam program karnaval (2011-2017) dengan menerapkan teori komodifikasi dan hegemoni. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa, digerakkan oleh hasratnya untuk mempromosikan budaya Using secara global di tengah-tengah trend pascamodern, sejak 2011 pemerintah Banyuwangi menciptakan banyak karnaval dan festival, seperti “Banyuwangi Ethno Carnival”, “Banyuwangi Beach Jazz Festival’, “Parade Gandrung Sewu”, dan bermacam program lainnya. Secara ekonomis, program tersebut diidealiasi mendukung pertumbuhan ekonomi regional melalui aktivitas pariwisata, untuk wisatawan domestik dan internasional, dengan memamerkan ekspresi tradisional dengan gaya dan tampilan baru. Secara politis, festival dan karnaval tersebut bisa mendukung usaha AAA untuk menegosiasikan kepentingan politiknya agar memroduksi konsensus.

    Politisasi Riset Opini Kinerja Pemerintah Daerah Di Kabupaten Banyuwangi

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan politisasi dalam riset lembaga survei yaitu Lingkaran Survei Indonesia terhadap kebijakan pemerintah daerah di Kabupaten Banyuwangi. Bupati Kabupaten Banyuwangi menunjuk langsung LSI untuk mensurvei tingkat kepuasan masyarakat terhadap kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi. Indikator kepuasaan masyarakat yang disurvei meliputi pelayanan publik, layanan kesehatan dan kegiatan Banyuwangi Festival. Hal ini dikarenakan Bupati ingin mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah daerah sehingga program-program dari hasil kebijakan pemerintah daerah dapat tepat guna. Teori struktural fungsional mengupas kontribusi lembaga swasta seperti LSI yang termasuk dalam input dimana LSI mengidentifikasi program-program pemerintah daerah, dan meyajikan solusi dari hasil riset kebijakan tersebut. Sedangkan Teori kelompok kepentingan, menganalisis sisi politisasi dibalik penunjukkan langsung LSI oleh Bupati. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan , menganalisis dan menginterpretasikan peran LSI terhadap kebijakan pemerintah daerah di Kabupaten Banyuwangi. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebenarnya peran LSI yang berlangsung sejak tahun 2013 bukan hanya mensurvei tingkat kepuasaan masyarakat terhadap program-program pemerintah daerah saja, tetapi ada politisasi dari penunjukkan langsung LSI yaitu karena Abdullah Azwar Anas, yang menjabat Bupati pada periode 2010-2015 ingin menjadi Bupati untuk kedua kalinya pada pilkada 9 Desember 2015, sehingga dia memembangun kepercayaan kepada masyarakat Banyuwangi melalui kinerjanya dengan berpedoman pada hasil riset kebijakan yang dilakukan oleh LSI. Hasilnya dibuktikan dengan program-program pelayanan publik dan kesehatan yang kehadirannya sangat memudahkan masyarakat Banyuwangi ditambah peningkatan perekonomian yang pesat. Sehingga atas kepercayaan yang masyarakat Banyuwangi berikan kepada pasangan ini, pada pilkada 9 Desember 2015 lalu Abdullah Azwar Anas dan pasanganya, Yusuf Widyatmoko berhasil merebut kembali kursi kepala daerah Kabupaten Banyuwangi dengan perolehan suara yang jauh lebih tinggi dari pilkada 2010

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore