2,698 research outputs found
The Political Thought of the Late H.H. Sheikh Zayed Bin Sultan Al Nahyan, Founder of the United Arab Emirates (1966 - 2004)
This thesis highlights the political thought of H.H. Sheikh Zayed Bin Sultan Al Nahyan, a man who made decisive contributions to the history of the twentieth century, and the various reflections of this political thought on the UAE, its people and the international community at large. In this regard, it explores and analyzes a multifaceted political thought that took its form in political practice in the establishment of the Federation, the management of crises and in the building of a prosperous enduring nation. Evaluating the factors that influenced the formation of the doctrinal matrix of Sheikh Zayed Bin Sultan Al Nahyan, this thesis traces the background from within which Sheikh Zayed’s leadership skills evolved and developed. From his early years onwards, Sheikh Zayed made a firm commitment to undertake the considerable task of building a fully fledged state out of a divided tribal background, improve the lives of citizens, and carve a place for the UAE in the international arena.
This research project illustrates the implications and dimensions of Sheikh Zayed's political thinking process exemplified in his discursive statements and actions. It documents and analyzes the career achievements of Sheikh Zayed, a statesman acknowledged by contemporary and future generations to have had significant impact on the political direction and overall development of the UAE. This impact also demonstrates the potential of his contribution to the field of political thought.
One of this study’s primary conclusions is that the accomplishments of Sheikh Zayed Bin Sultan Al-Nahyan during his rule have resulted primarily from his development of an integrated doctrine of governance that reflected his humanistic outlook. In this regard, at both the domestic and international levels, Sheikh Zayed’s political decisions and acts were undertaken with reference to this outlook
Sheikh Mohammad Abdullah tragic hero of Kashmir
Biography of Sheikh Mohammad Abdullah, 1905-1982, former chief minister of Jammu and Kashmir, Indi
Desiring the east: a comparative study of Middle English romance and modern popular sheikh romance
This thesis comparatively examines a selection of twenty-first century sheikh romances and Middle English romances from the fourteenth and fifteenth centuries that imagine an erotic relationship occurring between east and west. They do so against a background of conflict, articulated in military confrontation and binary religious and ethnic division. The thesis explores the strategies used to facilitate the cross-cultural relationship across such a gulf of difference and considers what a comparison of medieval and modern romance can reveal about attitudes towards otherness in popular romance.
In Chapter 1, I analyse the construction of the east in each genre, investigating how the homogenisation of the romance east in sheikh romance distances it from the geopolitical reality of those parts of the Middle East seen, by the west, to be "other". Chapter 2 examines the articulation of gender identity and the ways in which these romances subvert and reassert binary gender difference to uphold normative heterosexual relations. Chapter 3 considers how ethnic and religious difference is nuanced, in particular through the use of fabric, breaking down the disjunction between east and west. Chapter 4 investigates the way ethnicity, religion and gender affect hierarchies of power in the abduction motif, enabling undesirable aspects of the east to be recast.
The key finding of this thesis is that both romance genres facilitate the cross-cultural erotic relationship by rewriting apparently binary differences of religion and ethnicity to create sameness. While the east is figured differently in Middle English and modern sheikh romance, the strategies they use to facilitate the cross-cultural erotic relationship are similar. The thesis concludes that the constancy of certain attitudes towards the east in both medieval and modern romance reveals a persistence of conservative values in representations of the east in romance
Metode syarah hadis dalam kitab mastika hadis karya Sheikh Abdullah Basmeih
Penelitian ini dilakukan karena pada saat ini, banyak kitab hadis yang telah ditemukan. Di Malaysia, banyak kitab hadis yang diajarkan di sejumlah masjid dan pesantren. Beberapa di antara kitab hadis tersebut banyak yang sudah dikaji dan ada yang belum dikaji. Kitab Mastika Hadis karya Sheikh Abdullah Basmeih termasuk di antara kitab yang tidak banyak yang dikaji. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah geonologi keilmuan Sheikh Abdullah Basmeih, kemudian karakteristik kitab Mastika Hadis dan metode Sheikh Abdullah Basmeih dalam mensyarah kitab Mastika Hadis. Dalam menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research). Yaitu penelitian terhadap buku-buku yang memuatkan inforamasi terkait penelitian ini, di samping mengutip dan meneliti buku-buku yang ditulis oleh Sheikh Abdullah Basmeih. Penelitian ini juga menggunakan metode deskriptif yaitu menggambarkan metode syarah yang digunakan Sheikh Abdullah Basmeih berkaitan dengan kitab Mastika Hadis yang kemudian dikuatkan dengan teori syarah hadis. Hasil dari penelitian ini, ditemukan bahwa Sheikh Abdullah Basmeih memulakan pendidikannya pada usia tujuh tahun di Mekah sebelum ayahnya membawanya berhijrah ke Tanah Melayu. Sebelum bergelar seorang penulis, Sheikh Abdullah Basmeih melakukan berbagai pekerjaan bagi menyara kehidupan keluarganya. Selanjutnya hasil analisis terhadap karakteristik kitab Mastika Hadis. Sheikh Abdullah Basmeih mengumpulkan hadis-hadis yang berkaitan persoalan aqidah dan juga ibadah. Hadis-hadis di dalam kitab Mastika Hadis dicantumkan mengikut bab tertentu dan dikuti dengan syarah hadisnya. Sheikh Abdullah Basmeih menerapkan metode Ijma>li dalam mensyarah hadis pada kitab Mastika Hadis. Hadis-hadis disyarahkan dengan bahasa yang ringkas dan mudah diapahami oleh kebanyakan masyarakat di Malaysia. Sheikh Abdullah Basmeih mencantumkan ayat Alquran, hadis, pendapat ulama dan lainnya ketika mensyarahkan hadis. Kitab Mastika Hadis telah memberikan banyak manfaatkepada masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya masjid-masjid di Malaysia yang menggunakan kitab Mastika Hadis sebagai bahan ajar. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menambah wawasan ilmu dan menjadi referensi bagi pembaca. Sekaligus, diharap agar penelitian ini dapat menjadi literatur yang bisa dipertanggungjawabkan sebagai sumber kajian mahasiswa. Akhirnya, kritik dan saran dari semua pihak sangatlah dibutuhkan bagi memperbaiki segala kekurangan dalam penelitian ini
Karakteristik tafsir pimpinan Ar-Rahman kepada pengertian Al-Quran karya Sheikh Abdullah Basmeih
Tafsir Pimpinan Ar-Rahman kepada Pengertian Al-Qur’an karya Sheikh Abdullah Basmeih terdiri dari 30 juz yang telah diterjemahkan dan dijelaskan ke dalam bahasa Melayu. Kitab tafsir ini telah diterima dengan baik oleh masyarakat umum. Kitab Tafsir Pimpinan Ar-Rahman merupakan antara terjemahan dan tafsir yang jelas dan ringkas. Di sisi lain, ada beberapa orang yang percaya bahwa kitab ini tidak lebih dari sekedar buku terjemahan. Maka, bertolak dari hal tersebut, penulis akan meneliti lebih lanjut dalam judul “Karakteristik Tafsir Pimpinan Ar-Rahman Kepada Pengertian Al-Qur’an Karya Sheikh Abdullah Basmeih.”
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna yang ingin disampaikan oleh Sheikh Abdullah Basmeih dalam kitabnya. Mengetahui bagaimana sumber, metode dan corak penafsiran Sheikh Abdullah Basmeih, di samping kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam kitab tafsir tersebut.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teori penelitian pustaka (library research), yaitu penelitian yang berusaha memperoleh data dari perpustakaan, seperti buku, terbitan berkala, manuskrip, jurnal, cerita, makalah, dan lain-lain. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode analisis isi (content analysis) dan interpretasi isi. Tahapan penelitian yang ditempuh berawal dari mengumpulkan data atau buku, kemudian penulis mulai mencari tahu tentang Sheikh Abdullah Basmeih selanjutkan menjelaskan karakteristik sumber, metode dan corak penafsirannya.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa sumber rujukan yang digunakan seperti Tafsir Al-Qur’anul Karim oleh Asy-Syaikh Mahmud Syutut, Tafsir Al-Jawaahir oleh Al-‘Allaamah Tantaawi Jauhari, dan lain-lain. Metode penafsiran Sheikh Abdullah Basmeih dalam kitabnya adalah metode ijmali. Corak penafsirannya lebih cenderung kepada tafsir bi al-matsur. Kelebihan dari kitab ini adalah kitab penafsiran 30 juz menggunakan bahasa Melayu atau bahasanya yang mudah dimengerti serta sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat di Malaysia. Kekurangannya adalah dalam penafsiran yang lebih rinci pembaca harus merujuk ke buku-buku lain, terutama yang berbahasa Arab.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah sumber penafsiran yang digunakan oleh Sheikh Abdullah Basmeih dalam menghasilkan karya rata-rata bersumber dari Al-Qur’an dan hadits sendiri dan didukung oleh hasil-hasil karya ulama’ lain sebagai penguat ketika menghasilkan tafsir ini. Terdapat 19 buah kitab tafsir dan 8 buah kitab hadits dijadikan sebagai rujukan. Metode penafsiran Sheikh Abdullah Basmeih dalam kitabnya adalah metode ijmali. Karena beliau menafsirkan secara singkat ayat-ayat yang dianggap perlu, tetapi cukup untuk memahami penafsiran ayat-ayat tersebut. Akan tetapi tidak semua ayat yang ditafsirkan beliau dijelaskan dengan ringkas, terdapat beberapa ayat tertentu yang ditafsirkan dengan luas, tetapi tidak mengarah pada penafsiran yang bersifat analitis (tahlili). Sementara corak penafsirannya lebih cenderung kepada tafsir bi al-matsur karena lebih kepada menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, hadits atau dengan kata-kata sahabat dan tabi’in. Kelebihan dari kitab ini adalah Sheikh Abdullah Basmeih telah menggunakan kitab-kitab tafsir kuno sebagai sumber rujukan dalam karya tafsirnya dengan pemilihan pendapat-pendapat ilmiah. Kitabnya diterima dan disahkan oleh mufti Negeri Kelantan, Dato’ Haji Muhammad Noor, yang tidak terkesan dengan ilmunya. Kekurangannya adalah banyak aspek penafsiran yang tidak disoroti Sheikh Abdullah Basmeih dalam kitabnya termasuk aspek mufradat, nahu, i’rab dan sebagainya. Adapun corak penafsiran yang ditonjolkan Sheikh Abdullah Basmeih dalam penafsirannya tidak rinci
Manhaj tafsir pimpinan al Rahman kepada pengertian al Qur'an karya Sheikh Abdullah Basmeih
Skripsi ini merupakan hasil penelitian yang bertujuan untuk menjawab permasalahan yang dirumuskan yaitu: Sumber-sumber yang digunakan oleh Sheikh Abdullah Basmeih dalam menafsirkan Tafsir Pimpinan al-Rahman Kepada Pengertian al-Qur’an, kemudian Metode yang digunakan oleh beliau dalam menafsirkan dan yang terakhir adalah Validitas Penafsiran yang digunakan oleh Sheikh Abdullah Basmeih dalam menghasilkan karyanya. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (Library Research). Yaitu melakukan penyelidikan terhadap buku-buku informasi lainnya yang berhubungan dengan masalah penelitian ini, disamping mengutip dan mengkaji dari kitab yang dikarang oleh Sheikh Abdullah Basmeih. Dengan menggunakan metode deskriptif yaitu dengan mengambarkan hasil penelitian yang disdasarkan atas perbandingan dari berbagai sumber yang ada dan yang berbicara tentang tema yang sama. Dalam penelitian ini diperoleh hasil bahwa sumber penafsiran yang digunakan oleh Sheikh Abdullah Basmeih dalam menghasilkan karya rata-rata bersumber dari Al-Qur’an dan hadits sendiri dan didukung oleh hasil-hasil karya ulama’ lain sebagai penguat ketika menghasilkan tafsir ini. Kemudian metode yang digunakan dalam menghasilkan tafsir ini ialah metode ijmali, yaitu dengan menafsirkan sebagian ayat dan memberi penjelasan secara ringkas tetapi padat dengan isi. Akan tetapi tidak semua ayat yang ditafsirkan beliau dijelaskan dengan ringkas, terdapat beberapa ayat tertentu yang ditafsirkan dengan luas, tetapi tidak mengarah pada penafsiran yang bersifat analitis tahlily. Kemudian validitas penafsiran Sheikh Abdullah Basmeih ini antara salah satu yang menggunakan teori kebenaran korespondi. Oleh karena itu, penafsiran Sheikh Abdullah Basmeih banyak menghubungkan dengan fakta-fakta yang telah disebut sendiri didalam al-Qur’an itu sendiri mahupun hadits. Begitu pula sebaliknya jika dilihat dalam ranah ilmu pengetahuan Islam yang antaranya adalah ilmu pengetahuan Bayani, Irfani dan Burhani. Dan berdasarkan teori ilmu pengetahuan Islam pula Sheikh Abdullah Basmeih menggunakan ilmu pengetahuan bayani dalam konteks penafsirannya. Oleh karena itu juga penafsiran yang ditawarkan oleh beliau lebih terarah kepada nash secara otoritas mahupun langsung atau tidak langsung. Dengan adanya penelitian ini diharap dapat menjadi referensi yang bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan bagi pembentukan suatu produk ilmu. Sekaligus diharap menjadi literatur yang bisa dipertanggung jawabkan sebagai sumber kajian mahasiswa. Akhirnya kritik dan saran yang membangun sangatlah dibutuhkan dari semua pihak supaya segala kekurangan dan kekhilafan dapat dikoreksi dan dibenahi
Sheikh Mohammad Abdullah of Kashmir, 1965–1975: From Externment to Enthronement
Ousted as Premier, Jammu and Kashmir, in August 1953 and anointed as Chief Minister in February 1975, the so-called ‘Lion of Kashmir’ Sheikh Mohammad Abdullah was imprisoned, in between these years, ultimately on charges of treason, with brief intermissions. Much has been written about the politics of Kashmir dispute, less so about the Sheikh and his personal troubles especially after the death of his friend Jawaharlal Nehru in May 1964. This somewhat overshadowed decade of his life, in comparison with his hey-days of 1947–1953, shows the kind of settlement in Kashmir that the government of Indira Gandhi was willing to consider. More interestingly, it shows how Sheikh Abdullah was willing to agree to it and provides the context in which he moved from being in a conflictual relationship with New Delhi to becoming, once again, a collaborator in Srinagar in 1975, thereby showcasing the limits of Abdullah’s politics and popularity. </jats:p
Sheikh Mohammad Abdullah of Kashmir, 1965–1975: From externment to enthronement
© 2018 Lokniti, Centre For The Study Of Developing Societies. Ousted as Premier, Jammu and Kashmir, in August 1953 and anointed as Chief Minister in February 1975, the so-called ‘Lion of Kashmir’ Sheikh Mohammad Abdullah was imprisoned, in between these years, ultimately on charges of treason, with brief intermissions. Much has been written about the politics of Kashmir dispute, less so about the Sheikh and his personal troubles especially after the death of his friend Jawaharlal Nehru in May 1964. This somewhat overshadowed decade of his life, in comparison with his hey-days of 1947–1953, shows the kind of settlement in Kashmir that the government of Indira Gandhi was willing to consider. More interestingly, it shows how Sheikh Abdullah was willing to agree to it and provides the context in which he moved from being in a conflictual relationship with New Delhi to becoming, once again, a collaborator in Srinagar in 1975, thereby showcasing the limits of Abdullah’s politics and popularity
History Of Hazrat Qasim Sheikh Azizan Complex Built By Abdullah Khan II
In this article, the history of the construction of Hazrat Qasim Sheikh Azizon mosque and house built in Karmana in 1558 by Abdulla Khan ibn Iskandar Khan (1534-1598), who ruled Movarounnahr in the 16th century, and the importance of this structure for its time is shown. The article also discusses the role of Hazrat Qasim Sheikh Azizon in the socio-political and spiritual life of the state ruled by Abdullah Kha
ILMU SILAT SYEIKH ABDULLAH: SEBUAH KRITIKAN: (Syeikh Abdullah Silat’s Teaching: A Critical Study)
Syeikh Abdullah merupakan tokoh pendakwah yang mengislamkan Raja Kedah iaitu Seri Paduka Maharaja Derbar Raja sekaligus menyebarkan Islam di Empayar Kedah. Yahya Said yang merupakan pengasas Silat Kalimah menisbahkan ilmu persilatannya berasal daripada Syeikh Abdullah atau digelar Syeikh Tajrid, tetapi kesemuanya adalah berdasarkan riwayat lisan semata-mata. Silat Cekak yang diasaskan oleh Hanafi Ahmad yang beliau pelajari ilmu silat itu daripada Yahya Said turut menyebut mengenai Syeikh Tajrid. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka artikel ini memiliki dua objektif. Pertama, mengenal pasti kebenaran gelaran Syeikh Abdullah iaitu Syeikh Tajrid. Kedua, mengenal pasti pengajaran silat Syeikh Abdullah dalam catatan sejarah. Kajian ini dilakukan secara kepustakaan yang menjadikan tiga buku sebagai rujukan utama bagi memenuhi objektif iaitu Hikayat Merong Mahawangsa, Salasilah Atau Tarikh Kerajaan Kedah dan Al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah. Selain itu, bahan-bahan penulisan daripada Silat Cekak dan Silat Kalimah juga dijadikan rujukan. Dapatan kajian dianalisis secara kritis. Hasil kajian mendapati tiada langsung catatan bahawa Syeikh Abdullah membawa gelaran Syeikh Tajrid melainkan penisbahan “Qumairi” yang terdapat beberapa perbezaan sebutan. Selain itu, tiada dalam mana-mana catatan sejarah bahawa Syeikh Abdullah mengajarkan silat, melainkan beliau ditampar dan ditumbuk oleh Iblis dalam Hikayat Merong Mahawangsa. Penelitian awal mendapati bahawa silibus Silat Kalimah atau Silat Cekak yang wujud sekarang ini berkemungkinan adalah hasil pengalaman Kesultanan Kedah mengambil ilmu persilatan daripada pelbagai sumber.
ABSTRACT
Sheikh Abdullah was a prominent Islamic missionary who converted the King of Kedah, Seri Paduka Maharaja Derbar Raja, to Islam and subsequently spread Islam throughout the Kedah Empire. Yahya Said, the founder of Silat Kalimah, attributed his martial arts knowledge to Sheikh Abdullah, also known as Sheikh Tajrid, although this claim is based solely on oral tradition. Silat Cekak, founded by Hanafi Ahmad who learned the martial art from Yahya Said, also references Sheikh Tajrid. Given these issues, this article has two objectives. First, to verify the authenticity of the title "Sheikh Tajrid" attributed to Sheikh Abdullah. Second, to identify any historical records of Sheikh Abdullah teaching silat. This study was conducted through a literature review, using three main books as primary references to fulfill the objectives: Hikayat Merong Mahawangsa, Salasilah Atau Tarikh Kerajaan Kedah, and Al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah. In addition, written materials from Silat Cekak and Silat Kalimah were also used as references.The research findings were critically analyzed. The results show that there is no historical record indicating that Sheikh Abdullah held the title Sheikh Tajrid, except for the attribution "Qumairi," which appears with varying pronunciations. Furthermore, there is no historical evidence that Sheikh Abdullah taught silat, apart from an account in Hikayat Merong Mahawangsa where he was slapped and punched by Iblis (the Devil). Preliminary observations suggest that the current syllabus of Silat Kalimah or Silat Cekak may be a product of the Kedah Sultanate’s accumulated experiences, drawing martial arts knowledge from various sources.
- …
