1,720,986 research outputs found

    Akulturasi budaya lokal dan Islam dalam tradisi ritual Besale : Studi kasus pada Suku Anak Dalam di Desa Dwi Karya Bhakti Provinsi Jambi

    Full text link
    Besale merupakan ritual pembersihan jiwa-jiwa yang dianggap kotor akibat pengaruh roh-roh jahat. Awalnya, partisipasi dalam Besale terbatas hanya untuk anggota Suku Anak Dalam, dan etnis lain yang berbeda Tumenggung tidak diizinkan bergabung karena dianggap sakral. Namun, setelah Islam masuk ke wilayah Suku Anak Dalam di Desa Dwi Karya Bhakti, banyak unsur-unsur Besale yang diakulturasikan dengan Islam seperti pra Besale dilaksanakan sholat taubat terlebih dahulu, ketika Besale ada pembacaan ayat Al-quran dan pasca Besale bersedekah kepada yang membutuhkan. Fokus penelitian yang dibahas dalam tesis ini meliputi: pertama, bagaimana prosesi tradisi ritual Besale pada Suku Anak Dalam. Kedua, bagaimana akulturasi yang terjadi dalam tradisi ritual Besale. Ketiga, bagaimana implikasi akulturasi dalam Besale terhadap paham keislaman Suku Anak Dalam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan ilmu Antropologi. Pengumpulan data dengan observasi sebanyak 5 kali, wawancara dengan 20 informan dan hasil dokumentasi seperti catatan harian Suku Anak Dalam, notulensi rapat dan dokumen privat Suku Anak Dalam. Analisis data yang digunakan yaitu analisis kualitatif model Creswell. Temuan Penelitian menunjukan bahwa prosesi tradisi ritual Besale dilaksanakan dalam tiga tahapan: Bejampi, Beterkas dan Besale. Kemudian akulturasi yang terjadi dalam tradisi ritual Besale dikategorikan sebagai bentuk sinkretis. Sinkretisme adalah suatu bentuk perubahan budaya di mana unsur budaya yang sudah ada (tradisi ritual Besale) bercampur dengan unsur budaya yang baru (Islam) tanpa menghilangkan sepenuhnya unsur-unsur aslinya. Ada 5 bentuk akukturasi yang terjadi dalam ritual Besale. Pertama, pada tataran sistem nilai seperti nilai aqidah pada kalimat bassmallah dan kalimat tauhid, nilai akhlak, nilai ibadah dan nilai silaturrahmi. Kedua, pada tataran sistem kognitif seperti do’a-do’a atau ayat Al-quran. Ketiga dan keempat, pada tataran interaksi dan sistem kelembagaan seperti berkolaborasi dengan lembaga muslim. Kelima, pada tataran kelakuan, seperti pasca Besale diwajibkan untuk bersedekah kepada warga yang membutuhkan. Akulturasi yang terjadi antara budaya lokal dan Islam dalam tradisi ritual Besale kemudian memunculkan dua paham Islam di kalangan Suku Anak Dalam, yaitu Suku Anak Dalam yang cendrung radikal (ekslusif) beranggapan akulturasi yang terjadi berdampak negatif karena sebagian Suku Anak Dalam mulai berpindah keyakinan dan tidak menghormati adat leluhur. Kemudian Suku Anak Dalam yang Inklusif beranggapan bahwa akulturasi yang terjadi berdampak positif karena bisa membuat Suku Anak Dalam lebih dekat dengan warga sekitar

    Peranan Guru Bimbingan dan Konseling Dalam Mengatasi Penyalahgunaan HP di Lingkungan SMP Muhammadiyah 4 Banjarmasin

    Full text link
    Asniah 2016. Peranan Guru Bimbinagan dan Konseling Dalam Mengatasi Penyalahgunaan HP di Lingkungan SMP Muhammadiyah 4 Banjarmasin. Skripsi, Jurusan Kependidikan Islam (KI) Bimbingan dan Konseling Islami (BKI), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Pembimbing: Dr. Hj. Romdiyah, M.Pd. Penelitian ini membahas tentang Peranan Guru BK dalam mengatasi penyalahgunaan HP di lingkungan SMP Muhammadiyah 4 Banjarmasin dan faktor pendukung dan penghambat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan guru BK dalam mengatasi penyalahgunaan HP di lingkungan SMP Muhammadiyah 4 Banjarmasin meliputi pemberian layanan dan pendekatan serta untuk mengetahui faktor penghambat peranan guru BK dalam mengatasi penyalahgunaan HP di lingkungan SMP Muhammadiyah 4 Banjarmasin yaitu latar belakang pendidikan guru, kurangnaya waaktu yang tersedia untuk memberikan bimbingan konseling, sarana dan prasarana bimbingan konseling, lingkungan, pengaruh teman, kemajuan teknologi dan keluarga. Subjek penelitian ini adalah guru BK yang berjumlah 1 orang, sedangkan objek penelitian ini adalah peranan guru BK dalam mengatasi penyalahgunaan HP di lingkungan SMP Muhammadiyah 4 Banjarmasin dan faktor-faktor yang mempengaruhi peranan guru BK. Metode, jenis, dan pendekatan yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penyajian data dilakukan dengan teknik editing, klasifikasi, dan penarikan simpulan. Sedangkan teknik pengolahan data menggunakan metode deskriptif dan dalam pengambilan kesimpulan menggunakan metode induktif. Berdasarkan penelitian temuan dilapangan tentang peranan guru BK dalam mengatasi penyalahgunan HP di lingkungan SMP Muhammadiyah 4 Banjarmasin meliputi pemberian nasehat, pembiasaan, dan hukuman kepada siswa yang ketahuan membawa dan memyalahgunakan. Sedangkan faktor penghambat peranaan guru BK adalah tidak sependapat dengan guru lain, faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi tingkah laku siswa dalam pergaulan, faktor pengaruh teman yang membuat siswa menyalahgunakan HP bukan pada tempatnya, kemajuan teknologi yang semakin maju sekarang ini menyebabkan penggunaan HP tidak terbatasi lagi, dan faktor keluarga yang memberikan anak HP tanpa dibatasi lagi. Faktor pendukung peranan guru BK adalah adanya sarana dan prasarana yang cukup lengkap

    Akulturasi Islam Dan Hukum Adat Minangkabau

    No full text
    This research is a qualitative study of Minangkabau customs and culture, data collected by reviewing documents, both in the form of books and articles. In addition, interviews were conducted with a number of Minang figures, and some of the experiences of Minang residents. The results of the study indicate that there has been acculturation between Minang customs and Islamic teachings since the early arrival of Islam in Minang, namely in the 8th century AD. Before the arrival of Islam to the Minangkabau, there were traditions that had been passed down from generation to generation based on their habits. The acculturation that took place was fairly peaceful, so that the traditional leaders did not make a problem at all and accepted it freely in the area. The acculturation of Islam and Minangkabau culture is in the form of syntheticism, while others conform to their teachings. There has been a change when Minang culture and Islam acculturated, namely in three forms. First, when Minang customs are not in line with Islamic law, habituation can be carried out, as contained in the Minang philosophy which reads, "Adaiak basandia alua jo patui', alua jo patui' basandia bana, bana badiri surangnyo" is changed to "Adaiak basandia syara' , syara' basandia Kitabullah”. Second, customs and culture that are in line with Islam are preserved, such as the principle of deliberation and consensus. Third, bring up Islamic da'wah with a new culture that did not exist before, such as the Al-Qur'an khatam ceremony for children

    Pengembangan Model Kurikulum Integrasi Madrasah Diniyah Kedalam Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti pada Sekolah Dasar di Kabupaten Kutai Kartanegara

    Full text link
    Ketidakberhasilan adanya perubahan sikap dan perilaku keberagamaan oleh sebagian peserta didik, acapkali dikaitkan dengan kegagalan proses pendidikan karena kurikulumnya masih terkonsentrasi pada hal-hal yang bersifat abstrak bahkan masih jauh dari kehidupan nyata. Keterbatasan alokasi waktu pelajaran pendidikan agama Islam dengan luasnya materi, mengakibatkan kurang optimalnya kurikulum yang dilaksanakan, dan hal ini menjadi masalah bagi guru untuk menyampaikan materi dengan metode yang tepat. Kurikulum pendidikan Diniyah menjadi satu alternatif mengatasi hal tersebut, sebab pada kurikulumnya mengajarkan Alquran dan pelajaran keagamaan seperti Aqidah, Akhlak, Fiqih dan Tarikh. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat pengembangan model kurikulum Madrasah Diniyah integrasi kedalam pendidikan agama Islam dan budi pekerti pada SD di Kabupaten Kutai Kartanegara, serta membuktikan kelayakan dan mengukur tingkat efektivitasnya. Jenis penelitian ini adalah research and development (R&D) yang menggunakan model penelitian adaptasi dari Borg and Gall dengan prosedur 10 langkah. Menggunakan pengembangan kurikulum Taba Inverted Model dengan teori integrasi Robin Fogarty pendekatan integrated dan connected. Hasil penelitian bahwa kurikulum ini memiliki spesifikasi agar peserta didik memahami konsep tafaqquh fī ad-dīn, mampu mengamalkan nilai-nilai Islam Rahmatan Lil ‘Âlamin dan ber akhlaqul karimah, berperilaku moderat (wasatiyyah). Fokus pada materi aqidah (sifat 20 bagi Allah), akhlak, Alquran (hafidz juz 30), hadist, fikih (ibadah), dan tarikh (para Nabi dan Wali). Prosedur diawali dengan studi pendahuluan dengan pengumpulan informasi serta analisis kebutuhan (Need Assessment), selanjutnya uji coba dengan validasi rancangan para ahli dan para praktisi pendidikan, kemudian dilakukan revisi, kemudian diuji coba kelompok kecil lalu melakukan revisi model, selanjutnya uji coba kelompok besar kemudian revisi akhir sebagai penyempurnaan model akhir dan diseminasi Hasil uji kelayakan MKT melalui uji validitas oleh Expert dan praktisi pendidikan serta uji coba lapangan menunjukkan validasi sebesar 3,725 > 3 dan uji coba lapangan sebesar 3,469 > 3, menunjukan validasi dan kelayakan yang sangat tinggi. Hasil uji coba menunjukkan adanya perubahan yang signifikan sebelum dan sesudah penerapan MKT, hal ini menunjukkan bahwa MKT sangat efektif dalam meningkatkan prestasi dan pemahaman siswa tentang agama Islam serta keterampilan sosial di SD

    Implementasi Moderasi Beragama dalam Meningkatkan Kerukunan Suku Anak Dalam di Desa Dwi Karya Bakti Jambi

    No full text
    This study aims to explore and analyze the implementation of religious moderation in improving interreligious harmony among Suku Anak Dalam in Dwi Karya Bakti Village, Jambi Province. Suku Anak Dalam is a community that coexists with members who adhere to Hinduism, Buddhism, Christianity, animism, and Islam. Despite their religious diversity, they still live peacefully and harmoniously. The results showed that implementing religious moderation among the Suku Anak Dalam in Dwi Karya Bakti Village had a positive impact. The Suku Anak Dalam community daily exhibits tolerance, mutual respect, and inter-religious cooperation. Interfaith dialogue activities, inclusive religious rituals, and cooperation in socio-religious activities are concrete examples of successful implementation of religious moderation. However, this study also identifies several challenges in implementing religious moderation in the Suku Anak Dalam. Factors such as limited access to formal education, infrastructure constraints, and geographical differences are obstacles to widely spreading the understanding of religious moderation in this community

    Morphological and Molecular Characteristics of Endophytic Fungi in Sugarcane as Antagonists of the Pathogen Fusarium sacchari

    No full text
    Fusarium sacchari is a pathogenic fungus that causes the pokkah boeng disease in sugarcane plants. The symptoms of pokkah boeng disease are systemic, spreading throughout all parts of the plant. The control measures implemented so far still rely on synthetic pesticides but have not yielded optimal results and are not environmentally friendly. One of the environmentally friendly control methods is the use of endophytic fungi. Endophytic fungi live within plant tissues without causing disease symptoms. This research aims to discover endophytic fungi derived from sugarcane and evaluate their ability to suppress the growth of the pathogen F. sacchari. The research began with the isolation of sugarcane tissue, followed by the morphological and molecular characterization of endophytic fungi and testing their inhibitory capacity against the pathogen F. sacchari. Morphological identification was based on colony and microscopic characteristics, while molecular identification was conducted using PCR and sequencing, with similarities based on GenBank. Inhibition tests were conducted through dual culture and volatile compound testing, as well as enzyme production. The research results obtained 38 endophytic fungal isolates from sugarcane plants that have the ability to inhibit the pathogen F. sacchari. Five of these isolates showed the highest inhibition against F. sacchari and produced cellulase, protease, and chitinase enzymes. Molecular identification results indicated that these five-sugarcane endophytic fungal isolates are Daldinia eschscholdzii, Hypoxylon pulicicidum, Trichoderma virens, Trichoderma harzianum, and Diaporthe phaseolorum. The endophytic fungus T. harzianum provides the highest inhibition rate of 83.33% in dual culture and 55.5% inhibition through the production of volatile compounds. Keywords: Endophytic fungi, inhibitory power, Fusarium sacchari, morphological characteristics, molecular characteristics, pokkah boeng disease, sugarcane plants

    TRANSFORMASI PENDIDIKAN ORANG RIMBA: Menyelaraskan Pola Pengajaran dengan Pedoman Agama Islam untuk Pembentukan Karakter

    Full text link
    This research explores the implementation of teaching patterns with Islamic religious guidelines for Orang Rimba in Dwi Karya Bhakti Hamlet, with a focus on character education, basic education, counseling for parents and children, and providing assistance for educational facilities and infrastructure. This research involves the stages of identifying needs and implementing educational programs, with the aim of increasing the participation and quality of education of Orang Rimba children. The results provide a comprehensive picture of the efforts made to improve their education system, overcome obstacles such as the lack of facilities, and increase community awareness of the importance of formal education. The conclusion of this study shows that although there are still obstacles, these efforts provide a positive foundation for the development of faith-based character and access to education for Orang Rimba children in Dwi Karya Bhakti Hamlet. Facilities and infrastructure assistance is expected to be an important impetus for further changes in their education system

    Kesetaraan Gender Perspektif Hukum Islam

    No full text
    Penafsiran yang “kurang tepat†terhadap suatu fenomena sosial adalah suatu hal yang wajar, selama penafsiran itu tidak membawa kepada pereduksian hak-hak asasi manusia, terhadap the interpretation of gender misalnya, yang justru kebanyakan membuat salah satu jenis kelamin manusia baik kehormatan, derajat, martabat, keadilan menjadi tereliminir. Banyak orang menyepelekan hal  ini sebagai sesuatu yang alami yang berlaku dalam suatu komunitas sosial. Sehingga ketidakadilan dan ketidaksamaan peran seakan tampak legitimated. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perspektif hukum Islam tentang kesetaraan gender dalam konteks Al-Quran, hadis, ijma’, dan qiyas. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik analisis isi. Penelitian ini melibatkan pengumpulan data dari sumber-sumber primer dan sekunder, seperti kitab suci Al-Quran, hadis, dan kajian-kajian akademis terkait. Temuan penelitian menunjukan bahwa kesetaraan gender dalam hukum Islam merupakan isu yang kompleks dan bervariasi dalam konteks yang berbeda. Namun, terdapat konsensus di antara para ulama bahwa kesetaraan hak dan kewajiban antara pria dan wanita dalam agama dan masyarakat harus diakui dan dihormati. Kesimpulannya bahwa hukum Islam memiliki perspektif yang seimbang dan adil dalam hal kesetaraan gender, di mana perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam banyak aspek kehidupan, termasuk dalam hal akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi politik. Namun, terdapat juga beberapa ketidaksetaraan gender dalam beberapa aspek kehidupan, seperti dalam hal warisan dan pewarisan. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memperluas pemahaman tentang perspektif hukum Islam tentang kesetaraan gender, yang dapat menjadi acuan bagi para pengambil kebijakan dalam mempromosikan kesetaraan gender di masyarakat Muslim

    EVALUASI KETAHANAN KULTIVAR SORGUM TERHADAP PENYAKIT LAYU FUSARIUM

    No full text
    This study aimed to evaluate the resistance of sorghum cultivars to wilt fusarium. This research was arranged in a randomized block design, with six  treatments [brown  sorghum, white sorghum and  red  sorghum with no inoculation fusarium, brown    sorghum, white sorghum  and  red  sorghum with  inoculation  fusarium]  with  3  (three)  replications. Data observed were plant height, leaf number, leaf area, and heaviest of grain weight for vegetative observation, while for disease character was disease incidence. The results showed that none of sorghum cultivars evaluated showed resistance to wilt fusarium infection. The tolerant response to wilt fusarium  was observed on brown sorghum, whereas red and white sorghum were  susceptible to wilt fusarium. The heaviest of  grain weight was found in brown sorghum (27.86 g/penicle). The wilt fusarium caused disease incidences ranging from 33.33% (brown sorghum)  to 50% (red sorghum). Keywords: cultivars, disease incidence, fusarium, sorghum, resistanc
    corecore