6 research outputs found

    Broken Home sebagai Inspirasi Penciptaan Seni Lukis

    No full text
    BROKEN HOME SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN SENI LUKISRizky Nadia Amalia1, Triyono Widodo2 (Pendidikan Seni Rupa)-Seni dan Desain Universitas Negeri MalangE-mail: [email protected] ABSTRAKKeluarga bahagia ditandai oleh minimnya kesenggangan dan adanya perasaan puas terhadap keadaan dirinya. Ketika orang tua sudah tidak dapat berhubungan dengan baik entah dapat mempertahankan keluarganya secara utuh tanpa ada hubungan yang hangat maupun tidak, dapat dikatakan secara psikologis mereka sudah bercerai atau broken home. Keadaan tersebut dapat menyebabkan dampak buruk. Bedasarkan dari permasalahan tersebut pencipta menjadikannya sumber ide atau gagasan dalam penciptaan karya seni lukis. Penciptaan karya seni lukis ini menjadi sebuah upaya untuk menghindari keadaan broken home serta agar lebih menghargai dan menumbuhkan rasa kasih sayang dalam keluarga juga orang-orang di sekitarnya.Kata Kunci: Broken Home, Seni Lukis, Keluarga ABSTRACTA happy family characterized by the lack of  leisure and satisfaction feeling to their situation. Although they could defend their whole family or not, when parents don’t have a good relationship it can be said that they already divorce or had a broken home psychologically. Broken home could cause a bad effect. The creator makes the source of ideas in the creation of painting works based on these problems. This creation of painting works is an efforts to avoid broken home situation as well as more appreciating each other also growing up an affection with another family member and people around us. Keywords: Broken Home, Painting Works, FamilyKeadaan dimana seluruh anggota keluarga merasa bahagia, puas akan keadaan dan keberadaan dirinya, juga minim kesenggangan antar anggota keluarga, itulah yang disebut dengan keluarga bahagia. Ketika ayah dan ibu sudah tidak dapat berhubungan dengan baik karena kesibukan masing-masing atau karena egonya, maka mereka memilih untuk bercerai. Namun, disaat orang tua dapat mempertahankan keluarganya secara utuh tanpa ada hubungan yang hangat, dapat dikatakan secara psikologis mereka sudah bercerai atau broken home.Ulwan (2002:25) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan keluarga broken home adalah keluarga yang mengalami disharmonis antara Ayah dan Ibu. Pernyataan Ulwan ini dipertegas oleh Atriel (2008:15) yang mengatakan bahwa broken home merupakan suatu kondisi keluarga yang tidak harmonis dan orang tua tidak lagi dapat menjadi tauladan yang baik untuk anak-anaknya. Bisa jadi mereka bercerai, pisah ranjang atau keributan yang terus menerus terjadi dalam keluarga.Menurut asal usul kata seni lukis dari bahasa Inggris painting. Kata to-paint artinya, melebur, menyapu, memulas, mengecat. Menurut Widodo (1993:4) mengecat yang dimaksud adalah pengecatan bahan warna tertentu yang antara lain dapat berupa cat minyak atau cat air dengan menggunakan alat yang berupa kuas pada satu permukaan tertentu. Soedarso (1990:11) berpendapat bahwa seni lukis pada umumnya tergolong dalam seni murni, yaitu sebagai sarana curahan isi hati tanpa banyak dibebani dengan hal-hal lain di luarnya, namun ada pula seni lukis yang tergolong dalam seni terapan, misalnya seni ilustrasi dan seni lukis dinding. Menurut Kartika (2002:36) seni lukis merupakan ungkapan pengalaman estetik yang diwujudkan dalam bentuk dua dimensional, dengan menggunakan medium rupa yaitu garis, warna, tekstur, shape dan sebagainya.Dalam penciptaan karya seni lukis ini tidak bisa lepas dari aspek pengalaman-pengalaman terkait kehidupan, pola hidup di keluarga atau masyarakat, dan hubungan sosial lainnya antar sesama manusia. Terinspirasi dari pengalaman pribadi penulis dan kehidupan di sekitarnya, terciptalah ide untuk membuat karya seni lukis bertemakan dampak broken home. Berdasarkan penjelasan di atas, muncul kegelisahan untuk menunjukkan dampak broken home yang terjadi kepada anak melalui karya-karya seni lukis. Karya lukis ini dibuat dengan menekankan visual wajah anak-anak korban broken home antara lain, situasi emosi anak yang tidak terkontrol, mencari perhatian orang lain, menghindari keramaian, susah diatur, melawan orang tua dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Penciptaan karya seni lukis ini mengangkat dampak broken home pada anak dari sudut pandang penulis, sebagai upaya untuk menyadarkan orang tua maupun calon orang tua agar terhindar dari broken home. METODESetiap seniman atau pencipta memiliki metode yang berbeda-beda dalam proses berkarya. Dalam penciptaan karya seni lukis ini penulis menggunakan metode penciptaan dari L.H. Chapman. Syamsiar (2014:110) menjelaskan bahwa, proses penciptaan karya seni oleh L.H. Chapman terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap permulaan; (2) tahap penyempurnaan,  mengembangkan dan memantapkan gagasan awal; (3) tahap penyelesaian.Penulis mengembangkan metode penciptaan dari L.H. Chapman. Metode penciptaan tersebut dimulai dari tahapan pertama yaitu mencari sumber gagasan atau ide. Ide yang terkumpul kemudian dikembangkan menjadi konsep penciptaan yang merupakan tahapan kedua. Menentukan alat bahan, dan persiapan-persiapan lainnya berdasarkan konsep yang telah terbentuk. Langkah terakhir yaitu proses perwujudan karya, visualisasi karya ke dalam medium. Diawali dengan pembuatan blok pada kanvas, sketsa di atas blok, pewarnaan pada bagian-bagian sesuai dengan konsep, dan yang terakhir adalah finishing. HASIL DAN PEMBAHASANHasil penciptaan menjelaskan secara menyeluruh tentang karya yang telah diciptakan. Penjelasan karya meliputi identitas karya dan penjelasan tentang konsep dan isi setiap karya. Hasil penciptaan karya tersebut adalah sebagai berikut. 1. Karya 1Judul : Teriak dalam DiamUkuran : 63 x 98 cmMedia : Akrilik di atas KanvasTahun : 2018Penjelasan KaryaKarya lukis berjudul Teriak dalam Diam digarap pada tahun 2018 berukuran 63 x 98 cm dengan media cat akrilik pada kanvas. Teknik yang digunakan yaitu sapuan kuas basah, plakat, dan blok. Lukisan tersebut menampilkan objek utama anak perempuan setengah badan dengan potongan rambut pendek sebahu bermata menyerupai mulut dan mulut terjahit. Objek pendukung pada lukisan berupa tiga pulau berbagai ukuran dengan rumput diatasnya yang melayang di langit, sepasang kaki di atas pulau serta beberapa awan berwarna pink. Latar belakang dibuat langit berwarna kombinasi pink dengan kuning. Penggunaan warna latar belakang yang dominan cerah bertolak belakang dengan objek yang cenderung gelap.Penerapan prinsip komposisi pada karya ini terlihat pada pengulangan bentuk, objek dan penggunaan warna untuk mencapai keserasian. Tatanan objek yang menyebar, tidak di satu sisi saja, dengan perbedaan ukuran ditujukan untuk mendapatkan keseimbangan informal (asimetris). Latar belakang yang penggunaan warnanya dominan cerah bertolak belakang dengan objek yang cenderung gelap untuk memberi kesan emphasis pada objek. Perbedaan ukuran objek dan tatanan letak dibuat untuk memunculkan kesebandingan antar objek agar menimbulkan kesan meruang. Makna SimbolisKarakter utama dari karya ini yaitu anak perempuan, visualisasi dari seorang anak broken home. Keadaan sekitar si anak yang acuh, membuatnya tak dapat mengontrol emosinya dengan baik. Si anak memiliki kecenderungan menutup diri dari lingkungannya, tidak aktif, dan juga pendiam. Semua yang dirasakannya dipendam sendiri karena tak ada yang mempedulikannya. Dibalik semua itu, ada keinginan terpendam dalam si anak untuk meneriakkan semua perasaannya. Kurangnya perhatian dari lingkungan di sekitarnya membuatnya menjadi anak pendiam dengan beban yang disimpannya sendiri.Penggambaran objek utama, anak setengah badan dengan kaki yang terpisah menggambarkan ketidakteraturan, kekacauan, kegagalan untuk mengontrol sesuatu. Mulut objek utama pada karya tersebut dibuat seperti dijahit, menggambarkan kesulitan objek utama untuk berbicara, sedang matanya yang digambarkan sebagai mulut memvisualisasikan mata yang dapat berbicara. Maknanya, objek utama tidak sanggup berbicara tetapi matanya menjelaskan semuanya.Visualisasi karya menggunakan warna-warna cerah dan objek awan yang membuat tampilan terlihat manis dengan objek utama anak perempuan yang cenderung menyeramkan, menampakkan sebuah ironi. 2. Karya 2Judul : Aku Ada DisiniUkuran : 63 x 84 cmMedia : Akrilik di atas KanvasTahun : 2018Penjelasan KaryaKarya lukis berjudul Aku Ada Disini digarap pada tahun 2018 berukuran 63 x 84 cm dengan media cat akrilik pada kanvas. Teknik yang digunakan yaitu sapuan kuas basah, plakat, dan blok. Lukisan tersebut menampilkan objek utama siluet anak perempuan duduk di sebuah ayunan. Tali ayunan terhubung pada bulu mata bagian bawah sepasang mata. Di balik siluet tersebut terdapat bulan sebagai objek pendukung . Selain bulan, terdapat pula objek pendukung lain, yaitu tebing pada bagian bawah dan beberapa awan berwarna pink. Latar belakang dibuat langit berwarna kombinasi blue-green dengan blue-violet. Penggunaan warna latar belakang dominan gelap.Penerapan prinsip komposisi pada karya ini terlihat pada pengulangan bentuk, objek dan penggunaan warna untuk mencapai keserasian. Peletakkan objek yang cenderung berada di tengah bidang ditujukan untuk mendapatkan keseimbangan formal (simetris). Latar belakang yang penggunaan warnanya dominan gelap yang senada dengan objek yang cenderung berwarna gelap memberi kesan serasi, dengan warna objek bulan yang lebih cerah daripada objek utama membuat objek siluet menjadi point of interest. Tatanan letak dibuat untuk memunculkan kesebandingan antar objek agar menimbulkan kesan meruang. Makna SimbolisPerhatian yang seharusnya didapat tidak diperolehnya di rumah. Karakter utama mencoba menarik perhatian orang lain di luar rumah dengan berbagai cara, entah itu baik maupun buruk. Tak peduli bagaimanapun caranya, dia hanya ingin diperhatikan. Anak yang seharusnya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya malah mencari ditempat lain.Penggunaan warna yang cenderung gelap, mendukung penyampaian pesan dan kesan suram. Objek bulan dan siluet anak perempuan bermain ayunan dibuat dengan makna si anak yang tak begitu diperhatikan. Objek mata dengan bulu mata menyatu menjadi tali ayunan yang digenggam anak memiliki makna perhatian yang dicari oleh anak, tak peduli meskipun dengan cara yang menyakitkan orang lain. 3. Karya 3Judul : IntrovertUkuran : 63 x 73 cmMedia : Akrilik di atas KanvasTahun : 2018Penjelasan KaryaKarya lukis berjudul Introvert digarap pada tahun 2018 berukuran 63 x 72 cm dengan media cat akrilik pada kanvas. Teknik yang digunakan yaitu sapuan kuas basah, plakat, dan blok. Lukisan tersebut menampilkan objek utama anak perempuan yang terlihat sedang duduk meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri. Anak perempuan itu berada di dalam sebuah telur di atas sangkar. Objek pendukung pada lukisan berupa awan berwarna pink. Latar belakang dibuat langit berwarna kombinasi pink, kuning, juga biru. Penggunaan warna latar belakang yang dominan cerah dan tegas bertolak belakang dengan objek yang intensitas warnanya cenderung rendah.Penerapan prinsip komposisi pada karya ini terlihat pada penggunaan warna untuk mencapai keserasian. Peletakkan objek yang cenderung berada di bagian tengah bidang ditujukan untuk mendapatkan keseimbangan formal (simetris). Latar belakang yang penggunaan warnanya dominan cerah bertolak belakang dengan objek yang intensitas warnanya cenderung rendah ditujukan untuk memberi kesan emphasis pada objek. Tatanan letak dari tiap objek dibuat untuk memunculkan kesebandingan antar objek agar menimbulkan kesan meruang. Makna SimbolisDi dunia yang penuh dengan warna, ada anak yang cenderung menutup diri. Ketidakinginan untuk bersosialisai dikarenakan terbiasa dengan keadaan yang acuh terhadap dirinya. Si anak membuat ruang untuk dirinya sendiri. Dia nyaman dengan kesendiriannya, tak peduli keadaan sekitarnya. Si anak yang cenderung menghindari keramaian karena merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut.Objek anak perempuan yang meringkuk di dalam telur menggambarkan ruangnya sendiri, kesendiriannya, dengan warna gelap. Visual warna-warni di sekitar objek utama menggambarkan keadaan sekitar, keramaian. Sarang burung di bagian bawah telur menggambarkan kenyamanan berada di dalam ruangnya sendiri. 4. Karya 4Judul : Aku LariUkuran : 63 x 84 cmMedia : Akrilik di atas KanvasTahun : 2018Penjelasan KaryaKarya lukis berjudul Aku Lari digarap pada tahun 2018 berukuran 63x84 cm dengan media cat akrilik pada kanvas. Teknik yang digunakan yaitu sapuan kuas basah, plakat, dan blok. Lukisan tersebut menampilkan objek utama topeng wajah anak perempuan yang digantungkan pada dua kait dengan dua potongan puzzle yang hilang pada sisi wajah dekat mata dan bagian mulut. Objek pendukung pada lukisan berupa dua bagian puzzle dari objek utama yang memiliki kaki, tebing serta beberapa awan berwarna pink. Latar belakang dibuat langit berwarna gradasi kombinasi dari biru, pink dan kuning. Penggunaan warna hangat dari latar belakang yang dominan cerah serasi dengan objek yang menggunakan warna yang juga cenderung tegas.Penerapan prinsip komposisi pada karya ini terlihat pada pengulangan bentuk, objek dan penggunaan warna untuk mencapai keserasian. Tatanan objek yang cenderung berada di tengah bidang ditujukan untuk mendapatkan keseimbangan formal (simetris) juga mempermudah untuk menunjukkan emphasis pada karya. Latar belakang yang penggunaan warnanya dominan cerah senada dengan objek untuk memberi kesan harmony pada objek. Perbedaan ukuran objek dan tatanan letak dibuat untuk memunculkan kesebandingan antar objek agar menimbulkan kesan meruang. Makna SimbolisTerbiasa tidak dipedulikan dan tidak diberi perhatian membuat si anak susah diatur. Peraturan-peraturan yang ada diacuhkannya. Hal yang diharapkan orang terhadapnya tak dipedulikannya. Dia meninggalkan, menjauhi aturan dan tanggung jawabnya. Ada keinginan dari si anak untuk lari dari kenyataan yang ada di depan mata juga masalah-masalah yang dihadapinya.Topeng wajah dengan dua bagian yang hilang memvisualkan keadaan karakter utama yang tidak utuh. Objek potongan puzzle yang memiliki kaki dan terlihat seperti berlari menjauhi objek utama menggambarkan bagian dari anak tersebut yang menghindari atau lari dari tempatnya seharusnya, lari dari aturan yang ada. Selain ekspresi wajah yang terlihat pada topeng, penggunaan warna cerah dengan saturasi cukup tinggi pada latar belakang membuat efek sendu pada karya tersebut.  5. Karya 5Judul : Aku dan DuniakuUkuran : 64 x 98 cmMedia : Akrilik di atas KanvasTahun : 2018Penjelasan KaryaKarya lukis berjudul Aku dan Duniaku digarap pada tahun 2018 berukuran 64 x 98 cm dengan media cat akrilik pada kanvas. Teknik yang digunakan yaitu sapuan kuas basah, plakat, blok serta sentuhan fingerpainting. Lukisan tersebut menampilkan objek utama anak perempuan menggunakan headphone yang memiliki badan ikan. Objek pendukung pada lukisan berupa pulau tempat anak perempuan itu duduk, dua mulut, satu di sisi kiri dan satu di sisi kanannya, serta beberapa awan berwarna pink. Latar belakang dibuat langit berwarna blue-green dengan sentuhan warna kuning. Penggunaan warna latar belakang yang dominan cerah senada dengan objek yang memiliki intensitas warna yang tinggi.Penerapan prinsip komposisi pada karya ini terlihat pada pengulangan bentuk, objek dan penggunaan warna untuk mencapai keserasian. Tatanan objek yang cenderung berada di tengah bidang ditujukan untuk mendapatkan keseimbangan formal (simetris) juga untuk memudahkan penampakan emphasis objek. Latar belakang yang penggunaan warnanya dominan cerah senada dengan objek yang memiliki warna  tegas memberi kesan harmony pada objek. Perbedaan ukuran objek dan tatanan letak dibuat untuk memunculkan kesebandingan antar objek agar menimbulkan kesan meruang. Makna SimbolisKetidakpedulian orang disekitar si anak, terutama orang tuanya sendiri, membuat dia terbiasa dengan hal tersebut. Sosok penyendiri dan acuh akan keadaan disekitarnya , tak peduli dengan apa yang terjadi seakan-akan memiliki dunia sendiri. Keasyikan terhadap dunianya sendiri membuat si anak tak memperdulikan orang tuanya, melawan semua aturan yang diberikan.Objek manusia berbadan ikan yang berada di atas pulau yang mengambang memvisualkan keadaan anak yang tidak berada pada tempat yang seharusnya. Objek mulut pada sisi kanan dan kiri menggambarkan aturan-aturan yang disampaikan orang tuanya. Ekspresi wajah anak tersebut menunjukkan ekspresi enjoy. Headphone yang menutupi telinganya menggambarkan ketidakpedulian terhadap sekitar. Dia tampak menikmati apa yang ada di kepalanya, mengacuhkan sekitar. 6. Karya 6Judul : Ambil Saja!Ukuran : 64 x 74 cmMedia : Akrilik di atas KanvasTahun : 2018Penjelasan KaryaKarya lukis berjudul Ambil Saja! digarap pada tahun 2018 berukuran 63 x 74 cm dengan media cat akrilik pada kanvas. Teknik yang digunakan yaitu sapuan kuas basah, plakat, dan blok. Lukisan tersebut menampilkan objek utama anak perempuan melayang horizontal pada tengah bidang. Objek pendukung pada lukisan berupa beberapa tangan berwarna kehitaman dengan berbagai ukuran serta beberapa awan berwarna pink. Latar belakang dibuat langit berwarna kombinasi hijau dengan kuning. Penggunaan warna latar belakang yang dominan cerah senada dengan objek utama dan kontras dengan objek pendukung yang cenderung gelap.Penerapan prinsip komposisi pada karya ini terlihat pada pengulangan bentuk, objek dan penggunaan warna untuk mencapai keserasian. Tatanan objek objek cenderung berada di tengah bidang, dengan perbedaan ukuran ditujukan untuk mendapatkan keseimbangan formal (simetris). Latar belakang yang penggunaan warnanya dominan cerah senada dengan objek utama. Kontras dengan objek pendukung yang memiliki warna cenderung gelap memberi kesan emphasis pada objek dengan arah memusat ke tengah bidang. Perbedaan ukuran objek dan tatanan letak dibuat untuk memunculkan kesebandingan antar objek agar menimbulkan kesan meruang. Makna SimbolisKetidakpedulian terhadap lingkungan sekitar, itu salah dampak negatif yang ditimbulkan oleh keadaan broken home. Anak terbiasa tak dipedulikan sehingga dia juga tidak terbiasa mempedulikan. Situasi yang terjadi di sekelilingnya tak berpengaruh baginya. Ambil Saja! merupakan ungkapan untuk keacuhan si anak terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.Visual tangan-tangan berwarna gelap yang mencoba menggapai objek utama memiliki makna keadaan di sekitarnya yang mencoba mengambil apa yang dimiliki anak tersebut. Visual anak dengan ekspresi pasrah menggambarkan ketidakpedulian anak tersebut terhadap apa yang terjadi pada dirinya dan sekitarnya. Karakter utama tidak peduli apapun yang terjadi padanya maupun lingkungan di sekitarnya. SIMPULANKarya seni merupakan ungkapan perasaan dan pemikiran dari penciptanya. Setiap karya tak lepas pengalaman sehari-hari. Pengalaman yang telah dilalui, kegelisahan tentang hal-hal disekitar dapat menjadi dorongan yang kuat bagi pencipta untuk membuat sebuah karya.Penulis mengangkat dampak dari keadaan broken home sebagai inspirasi berkarya dikarenakan hal tersebut merupakan permasalahan di sekitar penulis. Penggunaan objek anak perempuan membantu penulis dalam penyampaian kesan ketidakberdayaan yang dirasakan oleh anak yang terkena dampak broken home. Penciptaan karya seni lukis ini diharapkan dapat dijadikan pelajaran bagi masyarakat agar mengetahui dampak-dampak negatif keadaan broken home yang terjadi, juga untuk bisa menghindari terjadinya keadaan tersebut. Selain itu, penulis berharap agar masyarakat sekitar lebih menghargai dan menumbuhkan kasih sayang dalam keluarga juga orang-orang di sekitarnya.Metode penciptaan dimulai dari tahapan pertama yaitu mencari sumber gagasan atau ide. Ide yang terkumpul kemudian dikembangkan menjadi konsep penciptaan yang merupakan tahapan kedua. Menentukan alat bahan, dan persiapan-persiapan lainnya berdasarkan konsep yang telah terbentuk. Langkah terakhir yaitu proses perwujudan karya, visualisasi karya ke dalam medium. Diawali dengan pembuatan blok pada kanvas, sketsa di atas blok, pewarnaan pada bagian-bagian sesuai dengan konsep, dan yang terakhir adalah finishing. Setiap karya seni yang dihasilkan tiap penciptanya memiliki aspek-aspek yang ditunjukkan dalam penciptaan karya. Karya tersebut menunjukkan aspek organisasi visual berupa karya yang mampu berdiri sendiri atau karya objektif. Pada setiap hasil karya seni lukis terdapat aspek kualitas estetik disetiap objeknya yang saling berkesinambungan dan teratur sehingga membentuk atribut kesatuan. Ada pula atribut variasi, baik berupa bentuk maupun warna yang mewakili keragaman karya itu sendiri.Penggunaan unsur-unsur rupa berupa titik, garis, bentuk, dan warna yang memberikan nilai estetik pada karya penulis merupakan aspek lain yang dapat dilihat dari karya yang dihasilkan. Aspek terakhir yaitu prinsip organisasi visual diantaranya kesatuan, keseimbangan, irama, emphasis, dan keserasian. Perpaduan penggunaan warna yang senada pada penciptaan karya menghasilkan keselarasan pada karya tersebut. Penggunaan unsur garis yang bervariasi pada karya memberikan kesan gerak yang menimbulkan adanya irama pada karya. Pemberian warna dengan tekanan yang berbeda pada setiap objek menghasilkan variasi yang berkesinambungan pada setiapkarya.Dalam penciptaan karya seni lukis dengan mengangkat dampak broken home sebagai sumber penciptaan karya seni lukis ini penulis mampu menghasilkan enam karya seni lukis yang orisinil dalam jangka waktu 3 bulan. Ada empat teknik yang dihadirkan penulis dalam penciptaan karya lukis yaitu, teknik sapuan  kuas, sapuan dengan menggunakan ujung jari, teknik plakat dan teknik blok. Masing-masing teknik memiliki karakter yang berbeda yang akan disesuaikan dengan pertimbangan artistik penciptaan sebuah karya seni lukis.Karya yang dihasilkan penulis mampu memenuhi tiga fungsi pokok seni sekaligus, yaitu fungsi personal, fungsi sosial, serta fungsi fisik. Fungsi personal adalah untuk m

    PENGARUH STRATEGI DEBAT AKTIF UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN PKN KELAS V MIN 6 BANDAR LAMPUNG

    Full text link
    Komunikasi adalah sebuah proses terjadinya pertukaran informasi baik dilakukan secara verbal maupun non verbal. Salah satu bentuk komunikasi yang paling berperan penting dalam kehidupan manusia adalah komunikasi antarpribadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh strategi debat aktif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi peserta didik pada mata pelajaran PKn kelas V MIN 6 Bandar Lampung. Jenis penelitian ini adalah quasi ekperiment dengan desain penelitian pretest-posttest control grup design. Letak kebaharuan pada penelitian ini adalah penggunaan strategi debat aktif lebih dikhusukan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, mengingat komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam segala hal baik di lingkungan sekolah maupun dimasyarakat Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas V MIN 6 Bandar Lampung yang berjumlah 54 peserta didik. Penggumpulan data dalam penelitian ini menggunakan penyebaran kuesioner, lembar observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi peningkatan presentase kemampuan komunikasi peserta didik kelas V MIN 6 Bandar Lampung. Berdasarkan hasi pra survei sebelum diterapkan strategi debat aktif hanya diperoleh sebesar 36,3% (kategori “sangat rendah”) sedangakan setelah diterapkan strategi debat aktif diperoleh rata-rata nilai 88,15 (kategori “tinggi”). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi debat aktif dapat meningkatkan kemampuan komunikasi peserta didik kelas V MIN 6 Bandar Lampun

    Efek Terapi Murottal Terhadap Peningkatan Kualitas Tidur Pada Pasien Hipertensi Di Ruang Kerinci RSUD Dr. Saiful Awar Malang

    No full text
    Introduction: Hypertension is often claimed to be the silent killer because the disorder in the early stages is asymptomatic, but can cause permanent organ damage that occurs in vital organs. One of the factor causing hypertension is a person's poor sleep patterns. Abnormal sleep patterns and poor sleep quality will cause physiological and psychological balance disorders in a person. There are several ways to improve sleep quality, one of which is non-pharmacological therapy with Al-Qur'an murottal therapy. Objective: To see a picture of the effect of murottal therapy on sleep quality in hypertensive patients at RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Method: The method used in this research is a case study (case report). The samples in this study were patients who complained of difficulty sleeping. Data collection was carried out using interviews, observation, physical examination and documentation methods. The research intervention provided was murottal therapy on sleep quality in hypertensive patients. Result: After administering the murottal therapy technique for 5 days, the results showed that there was a periodic improvement in sleep quality. The intervention was carried out over a period of 5 days with 10-20 minutes each time before bed. Conclusion: Providing murottal therapy techniques can significantly improve sleep quality in hypertensive patients

    Kemampuan Komunikasi Peserta Didik Sekolah Dasar Menggunakan Strategi Debat Aktif

    Full text link
    Komunikasi merupakan hal yang paling penting dalam intraksi setiap manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan komunikasi peserta didik setelah penerapan strategi pembelajaran debat aktif. Jenis penelitian ini adalah quasi ekperiment dengan desain penelitian pretest-posttest control grup design yang dilaksanakan dalam empat kali pertemuan. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas V MIN 6 Bandar Lampung yang berjumlah 27 peserta didik. Objek penelitian ini adalah kemampuan komunikasi. Penggumpulan data dalam penelitian ini menggunakan penyebaran kuesioner, lembar observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi peningkatan presentase kemampuan komunikasi peserta didik kelas V MIN 6 Bandar Lampung. Berdasarkan hasi observasi sebelum diterapkan strategi debat aktif hanya diperoleh sebesar 36,3% (kategori “sangat rendah”) sedangakan setelah diterapkan strategi debat aktif diperoleh rata-rata nilai 88,15 (kategori “tinggi”). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi debat aktif dapat meningkatkan kemampuan komunikasi peserta didik kelas V MIN 6 Bandar Lampun

    ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PENGUKURAN CAPAIAN PEMBELAJARAN LULUSAN PADA PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS AL-AZHAR INDONESIA

    Full text link
    Program Studi Teknik Industri Universitas Al-Azhar Indonesia dalam kegiatan akademiknya telah memanfaatkan sistem informasi.  Beberapa contoh sistem informasi yang ada yaitu student desk dan e-learning. Dari sistem-sistem informasi yang ada, belum adanya sistem informasi terkait capaian pembelajaran lulusan. Pada saat ini, program studi teknik industri Universitas Al-Azhar Indonesia dalam menghitung nilai capaian pembelajaran lulusan masih dilakukan dengan menggunakan Msexcel. Oleh karena itu perlu adanya sistem informasi yang dapat membantu dalam melakukan pengukuran capaian pembelajaran lulusan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan pengembangan sistem informasi yang dapat membantu Program Studi Teknik Industri Universitas Al-Azhar Indonesia dalam penilaian capaian pembelajaran lulusan. Pada perancangan sistem informasi ini akan menggunakan unified modelling language, untuk projek manajemen dengan critical path method dan project evaluation review technique, perhitungan biaya dengan capital expenditure, dan operational expenditure. Penelitian ini menghasilkan rancangan sistem informasi yang dapat membantu program studi dalam pengukuran capaian pembelajaran lulusan dengan mencakup aspek-aspek yang ada seperti dapat melakukan alokasi CPL dan CPMK dan melakukan pengukuran CPL serta sistem informasi yang mudah digunakan didapatkan waktu proyek dengan menggunakan CPM yaitu 85 hari dan didapatkan capital expenditure sebesar Rp35.187.290 dan operational expenditure Rp92.188.400,00

    PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA BERORIENTASI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN MEMECAHKAN MASALAH PADA SUBMATERI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU REAKSI (DEVELOPMENT OF STUDENT WORKSHEET WHICH CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING APPROACH ORIENTED TO TRAIN PROBLEM SOLVING SKILLS ON THE SUB MATERIAL OF FACTORS INFLUENCING REACTION RATE)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mendeskripsikan kelayakan LKS ditinjau dari kesesuaian dengan pendekatan CTL, kelayakan isi, kebahasaan, penyajian dan kegrafikan serta mendeskripsikan respon dan keterampilan memecahkan masalah siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Research and Development (R&D). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar telaah, lembar validasi, lembar angket respon siswa, dan lembar tes keterampilan memecahkan masalah. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh rata-rata kriteria kesesuaian dengan pendekatan CTL, kelayakan isi, kebahasaan, penyajian dan kegrafikan adalah sangat baik dengan perolehan persentase berturut-turut 93,03%, 84,44%, 86,67%, 94,67% dan 94,44%. Respon siswa sangat positif ditinjau dari kesesuaian dengan pendekatan CTL, kelayakan isi, kebahasaan, penyajian dan kegrafikan secara keseluruhan memperoleh persentase berturut-turut 85,71%, 85,42%, 95,45%, 88,33%, 87,50%. Hasil tes keterampilan memecahkan masalah mendapat nilai rata-rata 3,30 dengan predikat B+ dan rata-rata mendapat kriteria n-gain skor tinggi. Kata Kunci: LKS, pendekatan CTL, keterampilan memecahkan masalah, laju reaksi, kelayakan. The aim of this research are to develop and describe the feasibility of worksheet in terms of conformity with Contextual Teaching and Learning approach, in term of content feasibility, language feasibility, presentation feasibility and graphic feasibility and to describe student respon and problem solving skills. The method used in this research is the Research and Development (R&D). The instrument used in this research is the study sheet, validation sheet, student questionnaire responses, and test problem solving skills sheet. Based on the research result, obtained an average of conformity with CTL, in term of content feasibility, language feasibility, presentation feasibility and graphic feasibility are very good with the acquisition of the respective percentages of 93,03%, 84,44%, 86,67%, 94,67% and 94,44%. Student respon is very positive reviewed from conformity with CTL, in term of content feasibility, language feasibility, presentation feasibility and graphic feasibility obtained an average of the respective percentages of  85,71%, 85, 42%, 95,45%, 88,33%, 87,50%. Problem solving skill result obtained an average value of 3,30 with predicate B+ and average value of n-gain score is high. Keywords: Student worsheet, Contextual Teaching and Learning, Problem solving skills, reaction rate, feasibility
    corecore