1,722,065 research outputs found

    TEORI EKONOMI FASE KEDUA (AL-GAZALI)

    No full text
    Al-Gazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin at-Tusi al-Gazali, digelar Hujjah al-Islam, lahir di Ghazaleh suatu desa dekat Thus, bagian dari kota Khurasan, Iran pada tahun 450 H/1056 M. Al-Gazali berada dalam era kehidupan ekonomi Islam era feodal militer atau perbudakan. Era ini ditandai dengan dominasi kehidupan agraris yang dikendalikan oleh pihak penguasa yang selalu mengawasi kegiatan para buruh

    Hukum kausalitas menurut Al-Gazali

    No full text
    Buku ini membahas tentang tinjauan filosofi yang dimana pendapat Al-Gazali tentang hukum kausalitas.v, 260 hlm. : 20 c

    Al-Gazali dalam Pendidikan Islam

    No full text
    Al-Gazali merupakan salah satu tokoh yang sangat populer di kalangan islam, kepopuleranya itu bukan karena harta, atau dia merupakan anak kolomerat, akan tetapi kepopuleranya disebabkan oleh begitu luasnya ilmu yang dimilikinya. Dari tangan beliu lahir bermacam-macam buku yang sampai sekarang ini masih menjadi rujukan bagi dunia islam, adapun karyanya yang sangat populer yaitu kitab Ihya Ulumuddin yang sampai saat ini masih di pelajari di pondok-pondok pesantren. Dalam pendidikan islam Al Gazali banyak sekali kontribusinya seperti dalam filsapat, dalam dunia pendidikan, tasauf, dan lain-lain. Adapun kontribusi yang sudah dikebangkan dalam dunia pendidikan seperti: merumuskan apa tujuan dari pendidiakn tersebut, makna pendidikan, sehingga dengan dengan pemikiranya tersebut Al-Gazali di kenang sampai sekarang oleh dunia pendidikan

    KONSTRUKSI PENAFSIRAN AL-GAZALI DALAM KITAB JAWAHIR AL-QUR'AN

    Get PDF
    Jawāhir Al-Qur'an sebagai kitab yang merepresentasikan pemikiran al-Gazali tentang penafsiran Al-Qur'an cenderung dikaji dalam aspek parsial. Penelitian terdahulu hanya menguraikan aspek Maqasidu al-Qur'an dan pembagian dua dimensi ilmu Al-Qur'an (ilmu ṣadf dan ilmu lubab). Secara dominan pembahasan dalam kitab ini justru merefleksikan penafsiran simbolik al-Gazali sehingga ia memunculkan ekstrak penafsiran yang berbeda dengan hasil penafsiran beberapa mufassir yang lain, seperti pada surat Al-Fatihah [1]: ayat 5. Al-Gazali menarik pemaknaan iyyāka na'budu sebagai konsep taḥliyah (menghiasi diri dengan ibadah dan ikhlas) dan iyyaka nasta'in sebagai konsep tazkiyah (mebersihkan diri dari kesyirikan). Selain itu, al-Gazali banyak memberikan ungkapan metaforis pada kandungan ilmu lubāb. Untuk itu, penelitian ini hendak mengkonstruksi model penafsiran simbolik al-Gazali dalam kitab ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan didasarkan pada penelitian kepustakaan yang bersifat analitis-kritis melalui sumber utama berupa kitab Jawahir Al-Qur'an dan beberapa sumber terkait. Semiotika signifikasi Umberto Eco akan digunakan sebagai pendekatan untuk membantu mengkostruksikan penafsiran simbolik al-Gazali. Secara teknis semiotika signifikasi Eco diaplikasikan untuk memaknai beberapa ungkapan metaforis al-Gazali kemudian dirumuskan aspek transformasi perubahan fungsi-tandanya. Hasilnya akan digunakan untuk meninjau beberapa spesimen penafsiran al-Gazali pada surat al-Fatihah, Surat al-Ikhlaṣ dan ayat kursi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konstruksi penafsiran al-Gazali merupakan hubungan pembalikan antara fungsi-ekspresi (penanda) dan fungsi-isi (petanda). Hubungan pembalikan ini didasari oleh konsepsinya mengenai dualisme dunia dan akhirat. Bagi al-Gazali dunia merupakan alam gambar dan bayangan sedangkan akhirat merupakan alam ide dan ruh. Hal ini yang membuatnya menganggap bahasa sebagai sekumpulan kata yang mempunyai dua dimensi makna; makna jasmani yaitu makna bahasa yang berlaku di alam nyata dan makna ruhani yaitu makna hakiki di alam malakut. Jika dalam semiosis denotasi merupakan makna level pertama yang mengacu secara langsung pada realitas dunia nyata, maka bagi al-Gazali denotasi ini adalah makna metaforis dan jika makna konotasi merupakan makna level lanjutan dan merupakan pengembangan dari denotasi maka bagi al-Gazālī konotasi inilah yang justru merupakan makna hakiki. Dengan kata lain, hubungan kata dengan makna bahasa yang berlaku bersifat metaforis, sementara hubungannya dengan makna ruhani bersifat hakiki. Model pemaknaan ini al-Gazali terapkan dalam penyimbolan ilmu lubāb dengan benda-benda mulia seperti batu yaqut, kibrit merah dan lainnya untuk menjustifikasi kemuliaan ilmu lubab yang ia tetapkan berdasarkan konversi Maqāṣidu al-Qur'an yang telah ia rumuskan. Sementara itu, dalam aplikasi penafsiran pada surat al-Fatihah, surat al-Ikhlas, dan ayat kursi, al-Gazali gunakan untuk melegitimasi hadis nabi tentang kemuliaan ayat-ayat tersebut dengan mengaitkan masing-masing ayat berdasarkan kandungan Maqāṣidu al-Qur'an. Menariknya, dalam upaya mengkaitkan ini membuat al-Gazali memperluas konotasi makna ayat agar dapat sesuai dengan acuan Maqasidu al-Qur'an

    Al-Gazali, L.

    No full text

    Proseminararbeit: Al-Gazali

    Get PDF
    In der islamischen Tradition gibt es eine Überlieferung, nach der zu Beginn eines jeden Jahrhunderts eine Person in Erscheinung tritt, um den Islam zu reinigen und zu beleben. Für den Jahrhundertwechsel vom 5. zum 6. Jahrhundert nach der Hedschra wird diese Rolle oft Abu Hamid Muhammad ben Muhammad al-Tusi al Gazali zugeschrieben.Zur gleichen Zeit tritt auch der Sufismus verstärkt in den Vordergrund. Durch die Tatsache, daß sich die dogmatische Theorie zunehmend in Details verrätselt, gewinnt die islamische Mystik an Gewicht. Die Menschen üben sich in Askese und Meditation und versuchen so Gott näher zu kommen, Gott zu "schauen". In diese Welt voll verschiedener Strömungen wird nun Al-Gazali hineingeboren. Im Laufe seines Lebens wird er versuchen alle verschiedenen Richtungen kennen zu lernen, um dann seinen Weg zu finden. Sein Leben war ein ewiges Suchen nach einer für ihn annehmbaren Wahrheit

    Proseminararbeit: Al-Gazali

    No full text
    In der islamischen Tradition gibt es eine Überlieferung, nach der zu Beginn eines jeden Jahrhunderts eine Person in Erscheinung tritt, um den Islam zu reinigen und zu beleben. Für den Jahrhundertwechsel vom 5. zum 6. Jahrhundert nach der Hedschra wird diese Rolle oft Abu Hamid Muhammad ben Muhammad al-Tusi al Gazali zugeschrieben.Zur gleichen Zeit tritt auch der Sufismus verstärkt in den Vordergrund. Durch die Tatsache, daß sich die dogmatische Theorie zunehmend in Details verrätselt, gewinnt die islamische Mystik an Gewicht. Die Menschen üben sich in Askese und Meditation und versuchen so Gott näher zu kommen, Gott zu "schauen". In diese Welt voll verschiedener Strömungen wird nun Al-Gazali hineingeboren. Im Laufe seines Lebens wird er versuchen alle verschiedenen Richtungen kennen zu lernen, um dann seinen Weg zu finden. Sein Leben war ein ewiges Suchen nach einer für ihn annehmbaren Wahrheit

    Konsep Pendidikan Moral menurut Al-Gazali dan Émile Durkheim

    Get PDF
    Tesis ini berjudul Konsep Pendidikan Moral menurut al-Gazali dan Émile Durkheim. Masalah pokok tesis ini adalah bagaimana konsep pendidikan moral menurut al-Gazali dan Émile Durkheim. Penelitian ini dibangun atas tiga rumusan masalah yaitu: 1) Bagaimana persamaan dan perbedaan konsep pendidikan moral menurut al-Gazali dan Émile Durkheim, 2) Bagaimana analisis kritis terhadap konsep pendidikan moral menurut al-Gazali dan Émile Durkheim dan relevansinya dengan pendidikan Islam, 3) Bagaimana paradigma al-Gazali dan Émile Durkheim dalam pengembangan konsep pendidikan moral. Penelitian ini merupakan riset kepustakaan atau library research. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan multidisipliner meliputi; teologis-normatif, historis, filosofis, sosiologis. Sumber data ada dua macam yakni sumber data primer yaitu data otentik atau data yang berasal dari sumber pertama dan sumber data sekunder yaitu data yang memuat informasi yang mempunyai keterkaitan dengan penelitian dan ada relevansinya dengan objek kajian, sedangkan metode pengumpulan dan pengelolahan data menggunakan analisis data atau content analysis. Penelitian ini mengungkapkan persamaan konsep pendidikan moral antara al-Gazali dan Émile Durkheim. Meskipun demikian, al-Gazali memberi penekanan pada aspek pengembangan spirit internal individu yang mengarah kepada pembentukan insan kamil dan pencapaian kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Al-Gazali meletakkan wahyu sebagai sumber otoritas moralitas manusia yang bersifat religius, mistik dan idealis. Berbeda dengan al-Gazali, Émile Durkheim menekankan aspek pengembangan gerakan spirit solidaritas masyarakat. Konsep yang ditawarkan Émile Durkheim berorientasi pada pembentukan moralitas individu yang mengarah pada pembentukan gerakan solidaritas masyarakat. Oleh karena itu, Émile Durkheim meletakkan masyarakat sebagai otoritas tertinggi dari tindakan moralitas. Relevansi pendidikan Islam dengan sumber pendidikan moral yang diungkapkan oleh kedua tokoh tersebut dapat dilihat pada prinsip pendidikan Islam yaitu bersifat universal dan menyeluruh, yaitu antara ilmu empirik, sosial, dan wahyu saling berkaitan, dan ketiga ilmu tersebut berasal dari Allah. Paradigma al-Gazali dan Émile Durkheim dalam pengembangan konsep pendidikan moral akan melahirkan paradigm baru pendidikan moral yaitu “pendidikan moral berbasis sosio-religius” sebuah konsep pendidikan moral yang hendak memadukan antara dimensi spiritual dengan dimensi realitas empirik. Penelitian ini berimplikasi pada keniscayaan dekonstruksi terhadap konstruksi paradigm pendidikan moral yang dianggap sudah mapan, sehingga dapat melahirkan paradigm integratif yang mengapresiasi dan mempertautkan serta mempertemukan tradisi keilmuan Barat dan Timur sebagai upaya pengembangan konsep pendidikan moralitas dan keilmuan secara umum. Penelitian ini juga diharap dapat menjadi bagian dari tangga pencarian wajah baru pendidikan moral yang relevan dengan konteks keindonesiaan

    IHTIKAR DALAM HUKUM ISLAM (STUDI TERHADAP PANDANGAN AL-GAZALI)

    Get PDF
    Al-Gazali berpendapat dalam kitab Ihya ‘Ulum ad-Din bahwa penimbunan itu terkait dengan jenis dan waktunya. Larangan penimbunan hanya terdiri dari makanan pokok saja. Apabila makanan berlimpah sedangkan masyarakat tidak membutuhkan dan tidak berminat sedikitpun kecuali dengan penawaran harga yang rendah, kemudian penjual menunggu situasi harga yang stabil, bukan menunggu musim krisis, maka hal ini dianggap boleh. Dari aspek kajian hukum Islam, jelas bahwa pandangan al-Gazali didasari pada konsep al-Maqasid al-Syar’iyyah. Baginya penimbunan barang sangat syarat dengan unsur kezaliman dan ini bertentangan dengan konsep al-Maqasid al-Syar’iyyah. Pandangan al-Gazali tentang Ihtikar dengan mendasarkan pada konsep diatas, hukumnya sangat tergantung pada tingkat kemadaratan yang dirimbulkan. Ia lebih menekankan kepada kemadaratan yang ditimbulkan dari pada jenis barang yang dilarang untuk ditimbun. Bagaimana relevansi pandangan al-Gazali tentang Ihtikar dengan sistem ekonomi perdagangan dewasa ini khususnya pada konsep teori mekanisme pasar (market mechanism) Peneilitian ini menggunakan metode pendekatan normatif, yakni sebuah pendekatan yang diarahkan untuk menilai suatu persoalan baik atau buruk, benar atau salah terhadap pandangan al-Gazali tentang Ihtikar. Persoalan ini kemudian dianalisa dengan menggunakan tinjauan al- Maqsid al-Syar’iyyah dan qaidah fiqhiyah. Dari permasalahan ini dapat disimpulkan bahwa pandangan al-Gazali tentang Ihtikar atau penimbunan makanan pokok masih relevan dengan konsep teori ekonomi modern saat ini terutama tentang konsep pasar (market mechanism) yang didalamnya terdapat teori penawaran dan permintaan, teori nilai guna (utility) terutama konsep nilai guna margina
    corecore