1,743,965 research outputs found
OPTIMASI PROSES PEMBUATAN SERAT ECENG GONDOK UNTUK MENGHASILKAN KOMPOSIT SERAT DENGAN KUALITAS FISIK DAN MEKANIK YANG TINGGI
Eceng gondok yang dikenal sebagai gulma perairan dapat memiliki nilai ekonomi yang tinggi dengan memanfaatkannya sebagai material serat alam alternatif dalam pembuatan komposit. Penelitian ini bertujuan menentukan kualitas fisik dan mekanik yang baik dalam pembuatan komposit serat dengan bahan baku eceng gondok. Tahapan yang dilakukan adalah dengan melakukan uji impak; uji tarik; dan uji bending terhadap komposit, dan menentukan jenis resin yang sesuai sebagai bahan pembuatan komposit. Penelitian ini menemukan bahwa semakin panjang serat maka harga impak akan semakin menurun, kekuatan impak maksimum terjadi pada panjang serat 50 mm, dengan kekuatan harga impak 0,002344 J/mm2, . Resin yang paling sesuai untuk pembuatan komposit dengan serat eceng gondok apabila ditinjau dari aspek teknis – ekonomis adalah unsaturated polyester resin.
Kata kunci : serat alam, serat eceng gondok, komposit Latar Belakang
Penggunaan dan pemanfaatan material komposit dewasa ini semakin berkembang, seiring dengan meningkatnya penggunaan bahan tersebut yang semakin meluas mulai dari yang sederhana seperti alat-alat rumah tangga sampai sektor industri baik industri skala kecil maupun industri skala besar. Komposit mempunyai keunggulan tersendiri dibandingkan dengan bahan teknik alternative lain seperti kuat, ringan, tahan korosi, ekonomis dan sebagainya.
Serat eceng gondok merupakan salah satu material natural fibre alternatif dalam pembuatan komposit. Secara ilmiah pemanfaatannya belum banyak digunakan, oleh sebab itu material komposit yang menggunakan serat eceng gondok perlu dikembangkan. Serat eceng gondok sekarang banyak digunakan dalam industri-industri mebel dan kerajinan rumah tangga karena selain mudah didapat, murah, dapat mengurangi polusi lingkungan (biodegradability) sehingga komposit ini mampu mengatasi permasalahan lingkungan, serta tidak membahayakan kesehatan. Pengembangan serat eceng gondok sebagai material komposit ini sangat dimaklumi mengingat dari segi ketersediaan bahan baku serat alam, Indonesia memiliki bahan baku yang cukup melimpah.
Pemanfaatan serat alam sebagai material komposit selama ini hanya sebatas penelitian saja karena belum ada implementasi yang nyata, baik berupa produk maupun industrinya. Penelitian terdahulu yang sudah suda
Teknik Pematahan Dormansi untuk Meningkatkan Daya Berkecambah Dua Aksesi Benih Yute (Corchorus olitorius L.)
Tanaman yute di Indonesia memiliki prospek dan peluang yang baik untuk dijadikan bahan baku industri karung goni, pulp dan kertas. Benih yute masih memiliki perkecambahan yang rendah karena secara morfologi memiliki kulit biji yang keras dan masa dormansi yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai teknik pematahan dormansi benih untuk meningkatkan daya berkecambah benih yute. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama terdiri atas aksesi benih yute (2005 dan 2006), faktor kedua terdiri atas media perkecambahan (kertas merang dan pasir), dan faktor ketiga terdiri atas perlakuan perendaman benih (tanpa perendaman, perendaman air suhu 80oC selama 1 jam, perendaman air suhu 80oC selama 2 jam, perendaman air suhu 80oC selama 3 jam, perendaman air suhu 27oC selama 12 jam, perendaman air suhu 27oC selama 20 jam dan perendaman air suhu 27oC selama 25 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara aksesi benih, media perkecambahan dan perlakuan benih memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase daya berkecambah, persentase benih keras dan panjang akar. Benih yute 2006 yang direndam air suhu 80ºC sampai dingin selama 3 jam dan dikecambahkan pada media kertas merang memiliki persentase keserempakan tumbuh terbaik (90,5%), daya berkecambah (90,1%), benih keras terendah (8,75%), tinggi plumula (3,88 cm) dan panjang radikula terbaik (3.89 cm). Persentase keserempakan tumbuh, daya berkecambah, persentase benih keras dan tinggi plumula tidak berbeda nyata antara dua aksesi benih yute. Perendaman benih dengan air suhu 80ºC sampai dingin selama 3 jam dan dikecambahkan pada media kertas merang mampu mematahkan dormansi dan meningkatkan daya berkecambah dua aksesi benih yute.The Techniques of Dormancy Breaking to Increase Seed Viability of Jute (Corchorus olitorius L.)Jute plants in Indonesia have prospects and opportunities to be used as raw materials for pulp and paper sack industries. Jute seeds have a low germination because they have hard seed shells and long dormancy periods. This study aims to determine the dormancy seed breaking technique to increase the germination level of jute seeds. The research method used a factorial completely randomized design. The first factor consisted of jute seed harvest in 2006 and 2005, the second factor consisted of germination media (paper and sand), and the third factor consisted of the treatment of seeds soaking (without soaking, soaking in 80oC water for 1 hour, in 80oC water for 2 hours, in 80oC water for 3 hours, in 27oC water for 12 hours, in 27oC water for 20 hours and in 27oC water for 25 hours). The results showed that the interaction between three factors gave a significant effect on the percentage of germination, percentage of hard seed and root length. The jute seed harvest in 2006 were soaked in 80ºC water for 3 hours and were germinated on paper media showed the best simultaneous growth percentage (90%), germination (90%), lowest hard seed (9%), plumula length (3.88 cm) and the longest radical length (3.89 cm). Those parameters were not significantly different between the two jute accessions. Soaking the seeds in 80oC water for 3 hours and then germinate the seeds on paper could break the seed dormancy and increase the germination
Pemanfaatan Biopori Serasah Daun Kering Untuk Memperbaiki Kesuburan Tanah Pada Pertanaman Kemiri Sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw)
Pengembangan kemiri sunan diarahkan pada lahan kering marginal, yang umumnya memiliki keterbatasan dalam menyediakan hara dan air bagi tanaman. Tingkat kesuburan lahan marginal dapat diperbaiki dengan teknologi biopori. Kondisi lahan marginal memiliki kandungan bahan organik rendah, sementara serasah daun kering kemiri sunan yang rontok melimpah pada saat menjelang musim kemarau. Daun kering kemiri sunan berpeluang dimanfaatkan sebagai pengisi biopori untuk meningkatkan bahan organik tanah, dan kapasitas memegang air. Tujuan penelitian untuk mengukur sumbangan bahan organik daun kering kemiri sunan melalui proses biopori terhadap perbaikan kesuburan tanah entisols. Penelitian dilakukan pada tahun 2017-2018 di Asembagus, ketinggian 5,5 m dpl, dan curah hujan sekitar 1.500 mm per tahun. Perlakuan disusun dalam Racangan Acak Kelompok (RAK), dengan 5 ulangan. Susunan perlakuan adalah a) Tanpa biopori dan daun kering (0); b) Biopori 20 cm, diisi 410 g daun kering; c) Biopori 30 cm, diisi 615 g daun kering; d) Biopori 40 cm diisi daun 820 g daun kering; dan e) Biopori 50 cm diisi 1.025 g daun kering. Tabung biopori (Æ13 cm) ditanam di bawah tajuk pohon kemiri sunan (umur 3 tahun), sebanyak 2 buah tabung, di sebelah kanan dan kiri. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah cabang, lebar kanopi, Carbon, Nitrogen, C/N ratio dan bahan organik tanah. Setelah 90 hari aplilkasi hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan biopori dengan pemberian daun kering kemiri sunan belum berpengaruh terhadap parameter vegetatif kemiri sunan tetapi berpengaruh nyata terhadap C-organik, N-total, C/N-ratio. Dari penelitian ini belum dapat diukur secara kuantitatif sumbangan bahan organik daun kering kemiri sunan dalam memperbaiki kesuburan tanah entisolAbstractToxic candlenut growing is directed at marginal dry land which generally has limitations in nutrients and water. Fertility can be improved with biopore technology. The dry leaves of toxic candlenut have the opportunity to be used as biopore litter to increase soil organic matter, water holding capacity and soil fertility. The aim of the research was to study the contribution of dry leaf of toxic candlenut through the biopore process to improve soil fertility of Entisols soil. The research was conducted in 2017-2018 at Asembagus with altitude of 5.5 m asl, and a rainfall of around 1500 mm per year. The treatments were arranged using a Randomized Block Design with 5 replicates i.e. a) Without biopore without dry leaves; b) 20 cm biopore length, filled with 410 g of dry leaves; c). 30 cm biopore length, filled with 615 g of dry leaves; d) 40 cm biopore length, filled with 820 g of dry leaves and e) 50 cm biopore length, filled with 1025 g of dry leaves. Biopore tubes planted under the canopy of the 3 years old candlenut tree, in right and left of trunk. The parameters observed included plant height, stem diameter, number of branches, canopy width, soil Carbon, Nitrogen, C/N ratio and organic matter. The results showed that biopore treatment with dry toxic candlenut leaves had not affected on vegetative parameters, but had a significant effect on organic C, N-total, C/N-ratio and organic matter which would improve the soil fertility, However, the contribution of the candlenut leaves to improve the fertility of entisol soil has not been quantitively measured.
Konsep dan Implementasi Teknologi Budi Daya Ramah Lingkungan pada Tanaman Tembakau, Serat, dan Minyak Industri Concept and Implementation of Environmentally-Friendly Technologies in Cultivation of Tobacco, Fiber, and Industrial Oil Crops
Penerapan teknologi ramah lingkungan budi daya tanaman pada suatu lahan akan dapat mempertahankan kelestarian lingkungan. Penciptaan teknologi budi daya tanaman tembakau, serat, dan minyak industri di-arahkan pada teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas dan mutu hasil, efisiensi biaya usaha tani, dan ramah lingkungan. Teknologi ramah lingkungan difokuskan pada penemuan komponen teknologi prapa-nen yang mempunyai dampak minimal terhadap pencemaran atau perusakan lingkungan, yang meliputi va-rietas-varietas unggul, teknik pengendalian hama dan penyakit, teknik konservasi lahan tembakau. Varietas-varietas unggul tersebut adalah varietas-varietas yang mempunyai ketahanan terhadap hama dan penyakit, yaitu tembakau Prancak 95, Prancak N1, Prancak N2, Kemloko 2, dan Grompol Jatim 1; kapas: Kanesia 11–Kanesia 13; kenaf: Karangploso 14–Karangploso 15; wijen: Sumberrejo 4; dan jarak kepyar: Asembagus 81. Teknik pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan adalah teknologi pengendalian hama yang membatasi atau meniadakan penggunaan insektisida kimia sintetik dan menerapkan teknik pengendalian de-ngan memanfaatkan peran musuh alami serangga hama atau antagonis patogen penyebab penyakit, dan penggunaan pestisida nabati. Teknik konservasi lahan untuk mengendalikan erosi dan penyakit lincat dikem-bangkan pada lahan tembakau temanggung dengan menerapkan penggunaan varietas tahan penyakit, pem-buatan terassering dan penguatnya, pengolahan lahan minimal, dan aplikasi mikroba antagonis. Teknologi ramah lingkungan tersebut telah diterapkan di tingkat petani dan memberikan dampak yang positif terhadap pengembangan komoditas.Technology innovations for tobacco, fibers, and industrial-oil crops are directed to increase production and quality of the products, efficiency, and environmentally-friendly technologies. The efficiency and environ-menttally-friendly technologies are focused on the pre-harvest technology innovations that have minimal im-pacts on environmental damages. The technologies include superior varieties, pest control, and land conser-vation. The superior varieties are those that resistant to either insect pests or diseases, i.e. tobacco: Prancak 95, Prancak N1, Prancak N2, Kemloko 2, and Grompol Jatim 1; cotton: Kanesia 11–Kanesia 13; kenaf: Ka-rangploso 14–Karangploso 15; sesame: Sumberrejo 4; and castor: Asembagus 81. Environmentally-friendly pest control is to limit or no use synthetic-chemical pesticides in pest control, but optimally make use the role of natural enemies and antagonists and use biopesticides. Land conservation technique to control erosi-on as well as ”lincat’ disease has been developed in fields of temanggung tobacco by using tobacco variety resistant to the disease, terracering, minimum tillage, and application of antagonist microbes. Those techno-logies has been implemented in the farmers’ fields and has a positive impacts for the commodity develop-ment.
Efektivitas Retting Embun Batang Kenaf oleh Jamur Pelapuk Putih Trametes versicolor (L.) Lloyd
Retting embun kenaf menggunakan jamur pada kondisi aerob menjadi alternatif yang murah, mudah, dan lebih ramah lingkungan untuk menggantikan retting basah yang membutuhkan banyak air. Pada beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa spesies jamur pelapuk putih dan Rhizopus sp dapat digunakan untuk membantu proses retting pada tanaman serat batang. Penelitian ini bertujuan mengukur efektivitas retting embun batang kenaf oleh jamur pelapuk putih Trametes versicolor (L.) Lloyd melalui perbandingan efektivitas retting embun oleh Rhizopus spp. dan retting basah, serta pengukuran karakter serat yang dihasilkan. Retting embun dilakukan dengan menginokulasikan biakan jamur pada 500 g batang kenaf berukuran panjang 25 cm yang telah dibasahi dan diinkubasikan selama 4 minggu. Parameter yang diamati meliputi rendemen serat, efektivitas retting, warna, kehalusan, kebersihan, dan kadar selulosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara perlakuan retting embun, jamur pelapuk putih menghasilkan rendemen tertinggi (4,77%), efektivitas tertinggi (77,68%), kehalusan serat sedang, dan serat terbersih. Konsorsium jamur T. versicolor dan inokulum jamur tempe hijau kehitaman menghasilkan serat dengan kadar selulosa tertinggi yaitu sebesar 57,97% dengan warna serat paling cerah. Seluruh serat yang dihasilkan mempunyai tingkat dan kisaran warna kekuningan dan kemerahan yang bervariasi. Perlakuan retting embun kenaf dengan inokulasi T. versicolor tanpa konsorsium merupakan perlakuan dengan efektivitas retting terbaik dengan kualitas serat mendekati hasil retting basah. Effectivity of Dew Retting of Kenaf Stem by White Rot Fungus Trametes versicolor (L.) Lloyd Aerobic dew retting of kenaf using fungal becomes a cheap alternative, easy and has a less environmental impact to replace water retting method. In several studies that have been carried out, it has been shown that white rot fungus species can be used to assist the retting process of bast fiber plants. This study aimed to measure the effectiveness of dew retting of kenaf stem by white rot fungus Trametes versicolor (L.) Lloyd by comparing it with the effectiveness of dew retting by Rhizopus spp. and wet retting, as well as measuring the character of the fiber produced. Dew retting was conducted by inoculating fungi cultures on moistened 500 g of 25 cm length kenaf stems and incubating them for 4 weeks. Fiber yield, retting efficiency, color, smoothness, cleanliness, and cellulose content were observed. The result shows that white rot fungus T.versicolor produced the highest fiber yield (4.77%), the highest effectivity (77.68%), medium fiber smoothness, and the cleanest fiber among dew retting treatments. Consortium of T. versicolor and blackish green tempeh inoculum produced fiber with the highest cellulose content (57.97%) and the brightest fiber color. All fiber produced has a yellowish and reddish color with varying levels and ranges. Kenaf dew retting treatment with T. versicolorinoculation without a consortium was the most effective dew retting treatment with fibers quality verge to the water retting yield.
Serat Piwulang Ngawula
Dalam tradisi sastra Jawa, batas antara berbagai bidang pengetahuan sering diabaikan. Bahkan pembauran dari berbagai bidang pengetahuan itu merupakan salah satu sifat dari sastra Jawa. Ajaran moral, unsur-unsur kepercayaan atau agama, uraian yang bersifat mitis, semuanya sering terjalin dalam satu gubahan. Akan tetapi, yang paling tampak menonjol dari hasil karya sastra Jawa pada umumnya adalah unsur didaktisnya. Banyak kitab-kitab yang khusus memuat ajaranajaran tanpa dijalin dalam ceritera, seperti misalnya kitab Wulang Reh, Wedhatama, Wulang Sunu, Wulangdalem, Wulang Puteri, Surit Piwulang, Serat Darmasarana, Serat Nitisruti, Paniti Sastra, Serat Nitipraja, Serat Sewaka, Serat Wicara Keras, Serat Sasanasunu, dan lain-lainnya
Serat Wredha Mudha Serat Ngelmu Sepiritisme
Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara,
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah-naskah lama di antaranya naskah kuno jawa yang berjudul Serat Wredha Mudha, Serat Ngelmu Seperitisme isinya tentang 1). Ajaran untuk memotivasi generasi muda agar jangan hidup melarat seperti apa yang dialami generasi sebelumnya 2). ajaran, petunjuk, nasehat yang berhubungan dengan budi pekerti, agama dan lain-lain. Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai nilai pendidikan, nilai agama, sopan-santun yang dapat menunjang pembangunan, baik fisik maupun spirituil
Respon Pemberian Paclobutrazol pada Beberapa Varietas Kapas (Gossypium hirsutum L.) di Lahan Sawah Sesudah Padi
Kapas (Gossypium hirsutum L.) merupakan penghasil serat alam yang digunakan untuk bahan baku tekstil. Pengembangan kapas diarahkan ke lahan-lahan marginal, walaupun sebagian ada yang ditanam pada sawah sesudah padi. Tingkat produktivitas serat kapas, saat ini masih rendah sekitar 0,8 sampai dengan 1 ton per hektar. Usaha peningkatan produksi kapas antara lain dengan pemberian zat stimulan (paclobutrazol), teruta-ma untuk memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif seperti tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah bu-nga, dan jumlah buah. Kedua komponen tersebut menjadi penentu hasil serat. Paclobutrazol adalah zat stimu-lan bagi tanaman. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sumberrejo, Bojonegoro pada bulan Mei sam-pai dengan Oktober 2010, pada lahan sawah sesudah padi. Perlakuan disusun secara faktorial dengan meng-gunakan rancangan acak kelompok yang diulang sebanyak empat kali. Sebagai faktor pertama adalah 4 varietas kapas yang terdiri atas 1) Kanesia 8, 2) Kanesia 13, 3) Kanesia 14, dan 4) Kanesia 15. Faktor kedua adalah pemberian paclobutrazol melalui penyemprotan pada tanaman dengan dosis: a) 0; b) 1,50 l/ha diberikan sekali pada umur 60 hari; dan c) 1,50 l/ha diberikan dua kali umur 60 hari dan 75 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapas varietas Kanesia 8 dan 13 yang ditanam di lahan sawah sesudah padi mempunyai pertumbuhan vegetatif dan generatif optimal, kemudian disusul dengan Kanesia 13, Kanesia 14, dan Ka-nesia 15. Paclobutrazol yang disemprotkan pada tanaman kapas, tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan baik vegetatif maupun generatif. Hasil kapas berbiji untuk varietas kapas Kanesia 8 dan Kanesia 13 sama, masing-masing sebesar 1.643 kg/ha dan 1.686 kg/ha. Cotton is a natural fibre crop for some textile raw material. The development of cotton is directed mainly to marginal lands, although few of it is planted in paddy fields after rice harvested. The productivity level of cotton fibre, is still low, about 0.8 to 1 ton per hectare. Effort to increase cotton production is done through the application of growth regulator aiming at enhancing to the growth of plant height, number of branches, number of flower, and boll. These components are fibre determinans. Research conducted at Sumberrejo Ex-perimental Garden, Bojonegoro from May to October 2010, in paddy fields after rice harvested. Factorial treat-ment arranged using randomized block design repeated four times. The first factor consisting of four cotton varieties: 1) Kanesia 8, 2) Kanesia 13, 3) Kanesia 14, and 4) Kanesia 15. The second factor is application of pa-clobutrazol by spraying the plants with usage of: a) 0, b) 1.50 l/ha given once at age 60 days, and c) 1.50 l/ ha given twice at the age of 60 days and 75 days. The research showed that Kanesia 8 and Kanesia 13 varie-ties gave optimum vegetative and generative growth followed with Kanesia 13, Kanesia 14, and Kanesia 15. Paclobutrazol did not contribute significant effect on the growth of both vegetative and generative of cotton. The productivity of seed cotton of Kanesia 8 and Kanesia 13, 1,643 kg/ha and 1,686 kg/ha, respectively
Serat Menak (Yogyakarta)
Buku ini berisi mengenai sebuah topik yaitu serat menakxi; 472 hlm; 23 c
RESPON RAMI TERHADAP DOSIS DAN APLIKASI PUPUK MIKRO DAN DOLOMIT DI LAHAN GAMBUT KALIMANTAN TENGAH
Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Instalasi Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Karangploso, Malang pada bulan September 1998 sampai dengan Agustus 1999. Tujuan dai penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk dai unsur hara mikro, dolomit dan waktu pembeian terhadap petumbuhan dan hasil serat rami pada tanah gambut Berengbengkel Kalimantan Tengah. Perlakuan disusun secara faklorial dalam ancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Faktor I berupa paket dosis pupuk yang terdii atas lima dosis yaitu d,. 30 g dolomit per pot ; d2. 50 mg CuSO, ♦ 50 mg ZnS04 + 50 mg MnS04 + 30 g dolomit per pot ; dj. : 100 mg CuS04 + 100 mg ZnS04 + 100 mg MnS04 + 30 g dolomit per pot ; <U 50 mg CuS04 + 50 mg ZnS04 + 50 mg MnS04 + 15 g dolomit per pot; dan d, TOO mg CuS04 + 100 mg ZnSO, + 100 mg MnS04 + 15 g dolomit per pot. Faktor II berupa tiga waktu pemberian pupuk mikro yang terdii atas tiga taraf yaitu w, : dibeikan setiap habis di panen (setiap umur 60 hari sekali tanaman rami dipanen , dipotong pada pangkal batang); w2: dibeikan setiap dua kali dipanen ; dan wj: dibeikan setiap tiga kali dipanen. Klon rami yang ditanam adalah Pujon 10. Panjang stek rhizome yang ditanam 8 cm. Tanah gambut, dolomit dan pupuk kandang dicampur secara merata. Pot-pot plastik wana hitam diisi campuran media tersebut dengan takaran sebanyak 20 kg/pot. Pot-pot ini merupkan unit percobaan. Pot-pot diletakan dengan jarak 75 cm x.40 cm. Pupuk dasar (1.5 g urea + 1.0 g ZA + 1.0 g SP-36 + 1.0 g KCI)/pot/panen + 100 g pupuk kandang (kotoran kambingj'pot'tahun Pupuk kandang dan dolomit diberikan hanya sekali saja pada permulaan tanam Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil serat kasar (china-grass) tertinggi diperoleh dari total panenan II, III dan IV sebesar 8.62 g/pot yang dihasilkan dai perlakuan 100 mg CuS04 + 100 mg ZnS04 + 100 mg MnS04 /pot dan 30 g dolomit dengan pembeian pupuk setiap kali dipanen.Kata kunci: Lahan gambut, dolomit, rami (Boehmeria nivea) ABSTRACT Response of ramie to the dose and application of micro element and dolomite in peat soil Central KalimantanThe experiment was conducted at the glass house of Ihe Research Institute For Tobacco and Fiber Crops, Karangploso, Malang from September 1998 to August 1999. The purpose of this expeiment was to ind out the dose of micro element, dolomite and time of application of fertilizer on the growth and iber yield of ramie in peat soil of Berengbengkel, Central Kalimantan Province. The treatment was arranged factoially in a completely randomized design with three replications. The irst factor was ive kind of fetilizers d|. : 30 g dolomite per pot ; di. 50 mg CuS04 + 50 mg ZnS04 + 50 mg MnS04 * 30 g dolomite per pot; dj. : 100 mg CuSO< + 100 mg ZnSO. * 100 mg MnS04 * 30 g dolomite per pot ; <U 50 mg CuS04 + 50 mg ZnS041 50 mg MnS04 + 15 g dolomite per pot; and d5 MOO mg CuS04 ♦ 100 mg ZnS04 * 100 mg MnS04 + 1J g dolomite per pot. The second factor was time of fetilizer application Wj : every harvesting ; w2 : every two times of harvesting , and wj : every three times of harvesting. The rhizome of ramie wilh 8 cm length size was used in this experiment. Black plastic pots were illed with 20 kg peat soil. These pots were the experiment unil. The peat soil, dolomite and farm manure were mixed evenly. The pots were arranged in a space 75 cm x 40 cm Basic fetilizer was 1.5 g urea * 1.0 g ZA + 1.0 g SP-36 • 1.0 g KCI) potliarvcsling ♦ 100 g farm manure pot/year. Dolomite and farm manure were applied at earl) planting. The result showed that the highest tolal fiber yield of harvest II, III and IV 8 62 g/pot was achieved by applying 100 mg CuSO< + 100 mg ZnS04 + 100 mg MnSO*/ pot/harvesting and 30 g dolomite/pot/year.Key words : Ramie, Boehmeria nivea, peat soil, dolomit
- …
