Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Not a member yet
    87 research outputs found

    Tindakan Pengembalian Residu Panen Tebu untuk Meningkatkan Kualitas Tanah dan Produktivitas Tebu (Saccharum officinarum L.)

    Full text link
    Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan stretegis di Indonesia. Penanaman tebu secara monokultur yang sering dilakukan selama bertahun-tahun di suatu wilayah yang sama di Indonesia menyebabkan penurunan kualitas fisik, kimia, maupun biologi tanah. Hal tersebut berdampak pada penurunan produktivitas tebu. Implementasi metode green cane harvesting-trash blanketing dapat membantu mempertahankan, bahkan meningkatkan kualitas tanah. Green cane-trash blanketing dilakukan dengan cara memanen tebu secara manual tanpa membakar residu (green cane harvesting), kemudian residu tersebut dicacah dan dikembalikan ke lahan tebu. Cacahan residu tebu akan terdekomposisi dan menjadi sumber bahan organik di lahan tersebut. Implementasi metode green cane-trash blanketing di perkebunan tebu juga memberikan berbagai manfaat lainnya, antara lain meningkatkan populasi makro- dan mikrofauna tanah, menurunkan tingkat pertumbuhan gulma, dan mengurangi evaporanspirasi tanah atau menjaga kadar air tanah. Beberapa studi juga melaporkan peningkatan hasil dan produktivitas tebu pada lahan yang menerapkan metode green cane-trash blanketing. Dalam prakteknya, green cane-trash blanketing dapat dilakukan secara manual atau mekanis, baik pada tanaman baru maupun keprasan. Prosesnya dimulai dari pemanenan tebu secara manual atau tanpa pembakaran, pencacahan serasah tebu, aplikasi di atas lahan, penambahan (bio)aktivator, dan inkorporasi serasah dengan tanah. Green cane-trash blanketing perlu diterapkan oleh petani tebu dan pabrik gula untuk meningkatkan kualitas tanah, yang pada akhirnya berimbas pada peningkatan hasil dan produktivitas tebu

    No full text
    ABSTRAKSesamum indicum L. adalah salah satu tanaman alternatif penghasil minyak nabati penting. Pendekatan pemuliaan melalui induksi mutasi berusaha untuk menghasilkan variabilitas baru populasi wijen, yang secara umum tersusun dari individu homozigot. Karakter morfologi berguna untuk mengidentifikasi galur dan memastikan hasil pemuliaan mutasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keragaman morfologi wijen hasil mutasi berdasarkan 26 karakter kualitatif. Penggalian informasi dengan metode analisis kelompok juga dikaji untuk menggambarkan variabilitas genetik pada 57 galur mutan wijen (jenis hitam dan putih) generasi M4 dan M5. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap: tahap pertama terdiri 18 galur generasi M4, dievaluasi pada Maret-Agustus 2015; tahap kedua terdiri atas 39 galur M5, ditanam pada November 2015 hingga April 2016. Pemeriksaan penampilan kualitatif mengikuti panduan descriptor list untuk wijen. Secara umum, penilaian representatif dari sifat kualitatif pada galur mutan wijen generasi M4 akan diikuti oleh keturunan generasi M5. Dendrogram dibangun untuk membedakan galur menjadi kelompok berdasarkan matriks tingkat kemiripan. Struktur populasi utama dari 57 galur berdasarkan sifat kualitatif dikategorikan dalam dua kelompok besar. Materi genotipe kelompok I diklasifikasikan menjadi dua sub-kelompok, terdiri 17 dan 31 galur. Sub-kelompok ini menjadi bagian distribusi genotipe terbesar. Kelompok II tersusun oleh 9 galur, mayoritas dari M4. Nilai korelasi antar karakter bervariasi antara 0,7176 hingga 1,0. Keragaman morfologi antar galur wijen dipengaruhi oleh sifat genetik dibandingkan faktor lingkungan. Studi ini membantu seleksi galur terpilih berdasarkan kestabilan fenotipe. Evaluasi keragaman struktur populasi wijen mutan bermanfaat untuk program pemuliaan.ABSTRACTDiversity of Sesame Mutants (Sesamum indicum L.) Based on Qualitative CharactersSesamum indicum L. is one of the alternative crops that produces vegetative oil. The plant breeding approach through mutation induction could produce new genetic variability in sesame populations, which are generally composed of homozygous individuals. The study aims were to determine the diversity of sesame-mutant lines based on 26 qualitative characters. Cluster analysis method was carried out to describe the genetic variability of 57 sesame mutant lines (consist of black and white types) 4th (M4) and 5th generations (M5). The study was done in two phases, the first phases consisted of 18 M4 lines planted in March-August 2015; the second phase consisted 39 M5 lines planted in November 2015 to April 2016. Analyses of qualitative morphological characters followed the descriptors list for sesame. In general, a representative assessment of qualitative traits in M4 lines will be followed by the offspring of M5. Dendrogram showed that the 57 mutant lines categorized into two major clusters. Cluster I were composed of two sub-clusters, consisting 17 and 31 lines. This sub-cluster was the largest part of the genotype distribution. Cluster II composed of 9 lines, where M4 were the majority. The correlation value between characters ranged from 0.7176 up to 1.0. Morphological diversity among lines were largely influenced by genetic rather than environmental factors. This study supports the selection of lines based on phenotype stability. Evaluation of the structural diversity of mutant-sesame populations could be applied in sesame-breeding programs

    Multifungsi Biochar dalam Budi Daya Tebu

    Full text link
    Biochar (biomassa charcoal) adalah bahan padat kaya karbon (C), berasal dari biomassa yang dipanaskan dengan suhu <700oC dalam kondisi tanpa atau sedikit oksigen, bertujuan menyimpan karbon dalam tanah dan memperbaiki kualitas tanah. Biomassa dikonversi menjadi biochar dengan pirolisis atau dengan pengarangan sederhana. Biochar memiliki sifat fisika-kimia yang dapat berfungsi memperbaiki kualitas tanah. Sifat fisik biochar yang penting adalah luas permukaan yang besar dan adanya pori mikro, yang membuatnya memiliki kemampuan menyerap sangat tinggi. Sifat kimia biochar yang penting adalah permukaannya yang memiliki gugus fungsional yang dapat bersifat hidrofilik dan hidrofobik, asam dan basa, sehingga dapat bereaksi dengan larutan di sekitarnya.  Kualitas tanah sebagai media tumbuh tanaman tebu ditentukan oleh kandungan bahan organik (C-organik). Umumnya kadar C-organik lahan pengembangan tebu rendah – sangat rendah. Upaya perbaikan status C-organik (kualitas tanah) dengan biochar lebih efisien dibanding aplikasi bahan organik lainnya, karena tahan terhadap degradasi sehingga karbon lebih stabil di dalam tanah. Aplikasi biochar menyebabkan perubahan sifat fisika tanah, yakni: struktur, porositas, distribusi ukuran pori tanah, agregasi, sehingga dapat memperbaiki aerasi tanah, kapasitas menyimpan air. Aplikasi biochar memperbaiki sifat kimia tanah: meningkatkan kapasitas tukar kation, memegang hara, mengurangi pencucian hara, bioremediasi kontaminan logam berat dan pestisida serta mendukung aktivitas mikrobia di rizosfir. Perbaikan sifat fisika dan kimia tanah akibat aplikasi biochar sangat mendukung budidaya tebu. Limbah biomassa tebu sebaiknya tidak dibakar terbuka, melainkan dikonversi menjadi biochar untuk dikembalikan ke dalam tanah, dengan demikian kualitas (karbon) tanah dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.Biochar Multifunction in Sugarcane Cultivation ABSTRACTBiochar is a solid carbon (C)-rich material, derived from a heated biomass with a <700oC temperature without or slightly oxygen condition, aimed carbon sequestration and improving the soil quality. Biomass is converted to biochar with pyrolysis. The physical properties of the biochar are large surface areas and the presence of micro pores makes them very high absorbing capability. Biochar chemical properties in the form of a functional group on its surface make it can be hydrophilic-hydrophobic, acid-base, so as to react with the surrounding solution.  Soil quality is determined by the content of organic matter (organic-C). Generally organic-C level of sugarcane land is low to very low. The application of biochar is more efficient than other organic material in the improvement of organic-C status, because biochar is resistant to degradation so that carbon is more stable in soil. The application of biochar changed the soil physical properties (structure, porosity, distribution of soil pore size, aggregation), so that it can improve soil aeration and water holding capacity. The application of biochar improved soil chemical properties: increased cation exchange capacity, hold nutrients, reduce nutrient leaching, bioremediation of heavy metal and pesticide contaminants and support microbial activity in Rhizosphere. The improvement of soil physical and chemical properties due to biochar application strongly supports sugarcane cultivation. The waste of sugarcane biomass should not be burned, it should be converted into biochar and returned to soil, so that the soil quality can be maintained even improved

    Pemanfaatan Biopori Serasah Daun Kering Untuk Memperbaiki Kesuburan Tanah Pada Pertanaman Kemiri Sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw)

    No full text
    Pengembangan kemiri sunan diarahkan pada lahan kering marginal, yang umumnya memiliki keterbatasan dalam menyediakan hara dan air bagi tanaman.   Tingkat kesuburan lahan marginal dapat diperbaiki dengan teknologi biopori. Kondisi lahan marginal memiliki kandungan bahan organik rendah, sementara serasah daun kering kemiri sunan yang rontok melimpah pada saat menjelang musim kemarau. Daun kering kemiri sunan berpeluang dimanfaatkan sebagai pengisi biopori untuk meningkatkan bahan organik tanah, dan  kapasitas memegang air. Tujuan penelitian untuk mengukur sumbangan bahan organik daun kering kemiri sunan melalui proses biopori terhadap perbaikan kesuburan tanah entisols. Penelitian dilakukan pada tahun 2017-2018 di Asembagus, ketinggian 5,5 m dpl, dan curah hujan sekitar 1.500 mm per tahun.  Perlakuan  disusun dalam Racangan  Acak Kelompok (RAK), dengan 5 ulangan.  Susunan perlakuan adalah a) Tanpa biopori dan daun kering (0); b) Biopori 20 cm, diisi 410 g daun kering; c) Biopori 30 cm, diisi 615 g daun kering; d) Biopori 40 cm diisi daun 820 g daun kering; dan e) Biopori 50 cm diisi 1.025 g daun kering. Tabung biopori (Æ13 cm) ditanam di bawah tajuk pohon kemiri sunan (umur 3 tahun), sebanyak 2 buah  tabung, di sebelah kanan dan kiri.  Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah cabang, lebar kanopi, Carbon, Nitrogen, C/N ratio dan bahan organik tanah. Setelah 90 hari aplilkasi hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan biopori dengan pemberian daun kering kemiri sunan belum berpengaruh terhadap parameter vegetatif  kemiri sunan tetapi berpengaruh nyata terhadap C-organik, N-total, C/N-ratio.  Dari penelitian ini belum dapat diukur secara kuantitatif sumbangan bahan organik daun kering kemiri sunan dalam memperbaiki kesuburan tanah entisolAbstractToxic candlenut growing is directed at marginal dry land which generally has limitations in nutrients and water. Fertility can be improved with biopore technology. The  dry leaves of toxic candlenut have the opportunity to be used as biopore litter to increase soil organic matter, water holding capacity and soil fertility. The aim of the research was to  study the contribution of  dry leaf of  toxic candlenut through the biopore process to improve soil fertility of Entisols soil. The research was conducted in 2017-2018 at Asembagus with altitude of 5.5 m asl, and a rainfall of around 1500 mm per year. The treatments were arranged using a Randomized Block Design with 5 replicates i.e. a) Without  biopore without  dry leaves; b) 20 cm  biopore length, filled with 410 g of  dry leaves; c). 30 cm  biopore length, filled with 615 g of  dry leaves; d) 40 cm  biopore length, filled with 820 g of  dry leaves and e) 50 cm  biopore length, filled with 1025 g of  dry leaves.  Biopore tubes planted under the canopy of the 3 years old candlenut tree, in right and left of trunk. The parameters observed included plant height, stem diameter, number of branches, canopy width,  soil Carbon, Nitrogen, C/N ratio and organic matter. The results showed that biopore treatment with  dry toxic candlenut leaves had not affected on vegetative parameters, but had a significant effect on organic C, N-total, C/N-ratio and organic matter which would improve the soil fertility,   However, the contribution of the candlenut leaves to improve the fertility of entisol soil has not been quantitively measured.

    Analisis Input-Output Produksi Tebu di Provinsi Jawa Timur

    Full text link
    ABSTRAKTebu sebagai bahan baku industri gula merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi keterkaitan ke depan dan ke belakang komoditas tebu terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur, dan kontribusi dampak pengganda (multiplier effect) yang ditimbulkanya terhadap multiplier output dan pendapatan di Jawa Timur. Metode yang digunakan adalah perhitungan Tabel Input-Output dari data Badan Statistik Nasional tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budi daya tebu sebagai input antara untuk industri gula yang bersifat hilir, keterkaitannya sangat tinggi. Keberadaan sektor tebu kurang kuat pengaruhnya dalam meningkatkan output pada sektor tebu dan sektor-sektor ekonomi secara keseluruhan.  Pengganda pendapatan usaha tani tebu adalah tipe I dan tipe II yang bermakna bahwa sektor tebu cukup besar dalam meningkatkan pendapatan dari usaha tani tebu dan sektor-sektor ekonomi secara keseluruhan.   ABSTRACTInput-Output Analysis of Sugarcane Production in East Java Sugar cane as a raw material for the sugar industry has a strategic role in the economy in Indonesia. This study aims to analyze the contribution of forward and backward linkages of sugarcane to economic growth in East Java, and the contribution of the multiplier effect on the multiplier output and income in East Java. The method used was the calculation of the Input-Output Table from the 2015 National Statistics Agency data. The results showed that sugarcane cultivation as an intermediate input for the downstream sugar industry, had a  very high relationship. The existence of the sugarcane sector was less powerful in increasing the output of the sugarcane sector and overall economic sectors. However, the income multipliers of sugarcane farming are type I and type II, which means that the sugarcane sector is quite large in increasing the income from sugarcane farming and the overall economic sectors. 

    Pengaruh Penambahan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dan Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Benih Tembakau Cerutu Besuki (Nicotiana tobacum L.)

    Full text link
    Penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) secara tepat dengan dosis yang sesuai maka dapat menunjang pertumbuhan tanaman tembakau sehingga memberikan hasil pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Bibit tembakau yang berkualitas baik, media pesemaian merupakan faktor yang penting. Media tanam merupakan tempat berkembangnya akar dan hampir semua unsur hara yang dibutuhkan tanaman diserap melalui akar. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian ZPT dan berbagai komposisi media tanam pada benih tembakau dengan lama simpan terhadap pertumbuhan bibit tembakau cerutu besuki. Penelitian ini smenggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) faktorial terdiri dari 3 faktor. Faktor pertama lama simpan yaitu Benih disimpan dalam 13 tahun (B1), Benih disimpan dalam 8 tahun (B2), Benih disimpan dalam 3 tahun (B3). Faktor kedua yaitu pencampuran IAA, BAP, dan GA3 dengan konsentrasi 100 ppm (N1), 200 ppm (N2), 300 ppm (N3). Faktor ketiga yaitu tiga komposisi media yaitu tanah (control), tanah + kompos kambing, tanah + kompos ayam. Terdapat interaksi kombinasi antara perlakuan lama simpan benih tembakau, yang terbaik dalam merespon perlakuan aplikasi pada penelitian yaitu pada benih simpan 8 tahun. Kombinasi perlakuan yang paling baik adalah media tanam dengan campuran tanah+kotoran ayam yaitu 6,0 cm, sedangkan pada dosis ZPT tertinggi yaitu 200 ppm. Pemberian ZPT dengan dosis yang lebih sedikit atau melebihi kebutuhan bibit maka dapat menurunkan luas daun. Aplikasi penambahan media tanam tanah+kotoran ayam pada pembibitan tembakau dengan dosis ZPT 200 ppm meningkatkan hasil rata-rata tertinggi sekitar 0,85 cm, dibanding dengaan perlakuan kontrol (tanah).Effect of Addition of Growth Regulatory Substances (ZPT) and Planting Media on Changes in Besuki Cigar Tobacco Seeds (Nicotiana tobacum L.) ABSTRACTThe addition of plant growth regulators (PGR) with appropriate dosages can support optimal growth of tobacco plants. Growing media is a place for root development and almost all nutrients needed by plants are absorbed through the roots. This study aims to evaluate the aplication of PGR and various composition of the planting medium to the growth of besuki tobacco seeds. This research was used a factorial completely randomized design (RAL) consisting of two factors. The first factor was the composite of IAA, BAP, and GA3 with concentrations of 100 ppm (Z1), 200 ppm (Z2), 300 ppm (Z3). The second factor was three media compositions, namely soil (control), soil + goat compost, soil + chicken compost. A total of 1 gram of tobacco seed was sown in a germination tank. All treatments were repeated 3 times. Observations were made once a week until the age of 45 days after planting. The parameters observed included plant height (cm), stem diameter (cm), number of leaves, root length (cm), root volume (mL), leaf area (cm2) and parameters of chemical compounds observed i.e protein content (mg / g) , chlorophyll levels (mg / L), and nicotine levels (%) in leaves. The results showed that the aplication of soil growing media with chicken compost and 200 ppm PGR was the optimal treatment to obtain good tobacco growing seeds

    Mikropropagasi Pada Tanaman Stevia rebaudiana (Bertoni)

    Full text link
    Stevia merupakan salah satu tanaman penghasil pemanis alami. Mikropropagasi stevia melalui kultur jaringan dapat menyediakan bahan tanaman secara massal dan cepat yang diperlukan untuk pengembangan stevia. Pada mikropopagasi melalui kultur jaringan diperlukan komposisi media yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji komposisi media yang sesuai untuk mikropropagasi  tanaman stevia. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada Februari - Juni 2016. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) setiap perlakuan diulang tiga kali. Induksi tunas stevia menggunakan media dasar Murashige and Skoog (MS) dengan penambahan Benzil Amino Purin (BAP) dengan konsentrasi 0; 0,25; 0,5; 0,75 dan 1 mg/L. Induksi perakaran stevia menggunakan media dasar MS dengan dengan penambahan 1; 1,5; 2 dan 2,5 mg/L IAA, IBA dan NAA dan media MS tanpa penambahan ZPT sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media MS + BAP 0,5 mg/L menunjukkan pertumbuhan terbaik dengan rerata jumlah tunas 17,80 dan rerata panjang tunas 3,25 cm. Media perakaran terbaik terdapat pada perlakuan media MS + IAA 1mg/L yang menghasilkan jumlah akar dengan rerata 4,60 dan panjang akar 2,27 cm.ABSTRACTMicropropagation of Stevia rebaudiana (Bertoni)Stevia is one of the plants that produces natural sweeteners. Stevia micropropagation through tissue culture can provide a large of amount and fast plant material needed for stevia plantation. Micropropagation through tissue culture requires a proper media composition. This study aims to examine the composition of media suitable for stevia micropropagation. The study was conducted at the Tissue Culture Laboratory, Indonesian Sweeteners and Fiber Crops Research Institute in February - June 2016; using a completely randomized design (CRD) with three replicates. The treatment for shoot induction using Murashige and Skoog (MS) basic medium plus Benzyl Amino Purin (BAP) with concentrations: 0; 0.25; 0.5; 0.75 and 1 mg/L.  The treatment for root induction using MS basic medium with the addition of 1; 1,5; 2 and 2,5 mg/L IAA, IBA and NAA and for control using MS basic medium without the addition of plant growth regulators. The results showed that the best growth of stevia shoots with mean of shoots number 17.80 and mean of shoots length 3.25 cm was found in MS basic medium + BAP 0.5 mg/L. The best stevia root growth with mean of root number 4.60 and mean of root length 2.27 cm was found in MS basic medium + IAA 1 mg/L

    Uji Kinerja Dekortikator Sistem Kering Untuk Daun Sisal

    Full text link
    Tanaman sisal (Agave sisalana L.) merupakan tanaman serat alam yang dimanfaatkan untuk membuat tali, kertas, kain, alas kaki, topi, tas, karpet, papan permainan, dan bahan industri penting lainnya. Pengembangan sisal berada di daerah marginal dengan ciri utamanya keterbatasan ketersediaan air, sehingga kegiatan usaha tani sisal mulai dari budidaya hingga pasca panen harus mempertimbangkan kondisi tersebut. Untuk proses penyeratan daun sisal diperlukan mesin penyerat atau dekortikator.  Mesin dekortikator yang tersedia saat ini berkerja dengan sistem basah menggunakan aliran air. Untuk mendukung pengembangan sisal di Indonesia, dekortikator tersebut perlu dimodifikasi fungsinya untuk penyeratan daun sisal dengan sistem kering atau tanpa aliran air.  Tujuan dari penelitian ini adalah menguji kinerja dekortikator yang bekerja untuk proses penyeratan daun sisal dengan sistem kering. Penelitian dirancang menggunakan rancangan percobaan acak lengkap (RAL) dengan jumlah ulangan berbeda (5-10 ulangan), dan perlakuan disusun secara faktorial. Faktor pertama terdiri dari 2 perlakuan yaitu sistem penyeratan kering dan sistem penyeratan basah (pembanding). Faktor kedua terdiri dari 4 perlakuan kecepatan putaran silinder mesin yaitu 600 rpm, 700 rpm, 800 rpm, dan 900 rpm. Sampel daun segar yang digunakan dalam setiap perlakuan sebanyak 5 pelepah daun dengan berat total berkisar 3,5 - 5 kg.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dekortikator dapat berfungsi untuk proses dekortikasi atau penyeratan daun sisal dengan sistem kering. Kapasitas penyeratan sebesar 101 – 127 kg daun segar per jam dengan rendemen hasil serat kering sebesar 4,66 – 4,86 % serat kering per jam pada kecepatan putaran silinder 600 – 900 rpm. Perlakuan kecetapan silinder 600 rpm merupakan kecepatan yang paling efisien. PERFORMANCE TEST OF DRY SYSTEM DECORTICATOR FOR SISAL LEAVES Sisal plant (Agave sisalana L.) is a natural fiber plant that is used to make ropes, paper, cloth, footwear, hats, bags, carpets, board games, and other important industrial materials. Sisal crop development is in marginal areas with the main characteristic i.e., the limited availability of water, therefore sisal farming activities for cultivation to post-harvest must consider these conditions. To obtained sisal fibers, decorticator is needed . Currently available decorticator is set to wet systems, i.e., using water flow. To support the development of sisal in Indonesia, the function of the decorticator needs to be modified for sizing the sisal leaves with a dry or no water flow system. The purpose of this study is to test the performance of dry sysrwm decorticator to sisal-leaf-fibering process. The study was designed using a completely randomized design (CRD) with a number of different replicates (5-10 replicates), and treatments arranged in factorial. The first factor consists of 2 treatments, namely a dry system and a wet system (as comparison). The second factor consisted of 4 treatments of engine cylinder rotation speed of 600 rpm, 700 rpm, 800 rpm and 900 rpm. Fresh leaf samples used in each treatment were 5 leaf midribs with a total weight ranging from 3.5 - 5 kg. The results showed that the decotator could function for the process of decortication for sisal leaves with a dry system. Fibrous capacity of 101 - 127 kg of fresh leaves per hour with dry fiber yields of 4.66 - 4.86% per hour at cylinder rotation speed of 600 - 900 rpm. The 600 rpm cylinder speed treatment is the most efficient speed

    Genetika Ketahanan Tanaman Kenaf Terhadap Nematoda Patogen

    Full text link
    Nematoda puru akar merupakan salah satu nematoda parasit pada tanaman yang menyerang akar tanaman. Penurunan hasil pertanian diseluruh dunia akibat gangguan nematoda patogen mencapai 19-67%. Penggunaan tanaman resisten terhadap nematoda merupakan cara pengendalian yang efektif untuk menekan kepadatan populasi nematoda dan membatasi kerusakan, sehingga dapat menekan kehilangan hasil tanaman. Tulisan ini merupakan tinjauan yang membahas genetika ketahanan tanaman kenaf terhadap nematoda patogen. Untuk mengetahui ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit tidak dapat terlepas dari pola pewarisan ketahanan genetik dari tanaman itu sendiri. Pola pewarisan sifat ketahanan suatu varietas terhadap nematoda puru akar, tipe ketahanan, mekanisme ketahanan, dan sumber ketahanan genetik perlu diketahui sebelum memulai program perbaikan ketahanan tanaman. Pola pewarisan genetik atau heritabilitas merupakan parameter yang menggambarkan daya waris individu kepada keturunannya atau derajat kemiripan diantara keduanya untuk sifat tertentu dalam menganalisis pengaruh genetik dan lingkungan terhadap kemiripan tersebut. Pola pewarisan ketahanan genetik tanaman terhadap nematoda puru akar bersifat monogenik sederhana, oligogenik atau bahkan poligenik. Jumlah gen pengendali sifat ketahanan tanaman terhadap nematoda patogen berkisar antara satu hingga empat gen. Ketahanan tanaman kenaf terhadap nematoda patogen yang dikendalikan oleh gen monogenik adalah sebesar 52%, oligenik sebesar 28% dan sebesar 20% dikendalikan oleh gen poligenik. Ketahanan tanaman kenaf terhadap nematoda Meliodogyne sp. dikendalikan oleh gen monogenik yang bersifat dominan. Genetic Resistance of Kenaf to Root-knot NematodeRoot-knot nematode is one of the parasitic nematodes in plants that attack plant roots. Decline in agricultural yields worldwide due to pathogenic nematode infection reaches 19–67%. The use of plants resistant to nematodes is an effective control method to reduce the population density of nematodes and limit damage, so as to reduce the loss of crop yield. This paper is a review that discusses the genetic of kenaf resistance to pathogenic nematodes. To find out the resistance of plants to pests and diseases can not be separated from the inheritance patterns of genetic resistance of the plants themselves. The inheritance pattern of a variety's resistance characteristics to root-knot nematodes, the type of resistance, the mechanism of resistance, and the source of genetic resistance need to be known before starting a plant resistance improvement program. The pattern of genetic inheritance or heritability is a parameter that describes an individual's inheritance to his offspring or the degree of similarity between the two for certain traits in analyzing genetic and environmental influences on these similarities. The pattern of inheritance of plant genetic resistance to root purebred nematodes is simple, oligogenic or even polygenic. The number of genes controlling the nature of plant resistance to pathogen nematodes ranges from one to four genes. The resistance of kenaf plants to pathogenic nematodes controlled by monogenic genes is 52%, oligenic is 28% and 20% is controlled by polygenic genes. The resistance of kenaf plants to Meliodogyne sp. nematodes is controlled by dominant monogenic gene

    Karakteristik Biodiesel Kemiri Sunan dengan Katalis NaOH dan KOH

    Full text link
    Minyak non pangan seperti minyak biji kemiri sunan berpeluang digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Masalah yang muncul dalam pembuatan biodiesel adalah reaksi transesterifikasi tanpa katalis berlangsung sangat lambat sehingga dikhawatirkan reaksinya tidak stabil, serta kebutuhan input energi yang sangat tinggi menjadikan tidak layak teknis. Oleh karena itu, untuk mempercepat reaksi transesterifikasi diperlukan katalis. Penggunaan KOH 1% dan NaOH 0,75% sebagai katalis pada proses transesterifikasi dapat mempercepat reaksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biodiesel dari minyak biji kemiri sunan, campuran dari beberapa aksesi, yang dihasilkan dengan katalis NaOH 0,75% dan KOH 1 % dibandingkan dengan SNI 04-7182-2015 tentang Biodiesel. Metode pembuatan biodiesel yang digunakan meliputi tahapan degumming, transesterifikasi, separasi dan pencucian. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Tanaman Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Malang pada bulan Agustus-Desember 2019. Biodiesel kemiri sunan menggunakan katalis NaOH 0,75% memiliki nilai kadar air 0,03%, densitas 0,89 (g/cm3 ), angka asam 0,38 mg/KOH/g, angka iod 42,67, viskositas kinematik pada suhu 40 °C 5,45 °C, dan titik nyala 173 °C. Biodiesel dengan penambahan katalis NaOH 0,75% menghasilkan mutu lebih baik dari penambahan katalis KOH 1%. Biodiesel dengan katalis NaOH 0,75% sudah memenuhi SNI 04-7182-2015 tentang Biodiesel pada parameter mutu yang diukur (kadar air, densitas, angka asam, angka iod, viskositas kinematik, dan titik nyala). Parameter lain dalam SNI 04-7182-2015 yang belum dilaporkan dalam penelitian ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk biodiesel minyak kemiri sunan menggunakan katalis NaOH 0,75%.Characteristics of Toxic-Candlenut Biodiesel with NaOH and KOH CatalystsNon-food oils, such as toxic candlenut seed oil, have the opportunity to be used as raw material for biodiesel. The problem that arises in biodiesel process is the slowly transesterification reaction, when without a catalyst will cause unstable reaction, need very high energy inputs, so that makes it technically unfeasible. Therefore, a catalyst is needed to accelerate the transesterification reaction. The use of 1% KOH and 0.75% NaOH in the transesterification process can accelerate the reaction. This study was aimed to determine the characteristics of biodiesel from toxic candlenut oil, a mixture of several accessions of the toxic candlenuts, which was produced with 1% KOH and 0.75% NaOH catalyst.  The results were then compared to the characteristics of those determined in SNI 04-7182-2015 of Biodiesel. The method in producing biodiesel included the stages of degumming, transesterification, separation and washing. The experiment was conducted in Phytochemical Laboratory of IRSFCRI in August to December 2019. Toxic candlenut biodiesel using 0.75% NaOH catalyst has a value of moisture content (0.03%), density (0.89 g/cm3), acid number (0.38 mg/KOH/g), iodine number (42.67), kinematic viscosity at temperature 40°C (5.45°C), and flash point (173°C). Biodiesel quality with 0.75% NaOH is better than that of 1% KOH catalyst. Biodiesel with 0.75% NaOH catalyst has achieved the requirement of the SNI 04-7182-2015 on Biodiesel on almost all parameters (i.e., water content, density, acid number, iodine number, kinematic viscosity, and flash point). Other parameters in SNI 04-7182-2015 that have not been reported in this study need further research on biodiesel of toxic candlenut oil using 0.75% NaOH catalyst. Toxic candlenut biodiesel is expected to be used for biofuel

    70

    full texts

    87

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇