Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Not a member yet
87 research outputs found
Sort by
Pengaruh Ukuran Sampel dan Lama Waktu Destilasi terhadap Rendemen Minyak Atsiri Tembakau Lokal Indonesia
Tanaman tembakau merupakan tanaman yang memiliki aroma yang khas, hal ini menunjukkan bahwa tembakau mengandung minyak atsiri. Ekstraksi minyak atsiri tembakau terkendala rendahnya rendemen minyak atsiri yang dihasilkan. Minyak atsiri tembakau merupakan salah satu diversifikasi produk tembakau non rokok yang dapat dimanfaatkan dalam bidang biofarmaka (antibakteri) dan kosmetik (parfum badan). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ukuran sampel dan lama waktu destilasi terhadap rendemen minyak atsiri tembakau lokal Indonesia. Daun tembakau berasal dari enam daerah sentra tembakau di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Enam daerah tersebut antara lain Temanggung, Yogyakarta, Purwodadi, Boyolali, Blitar dan Probolinggo. Minyak atsiri tembakau diperoleh dengan metode destilasi uap-air dengan variasi ukuran sampel daun tembakau dan lama waktu destilasi. Penelitian dilakukan dengan dua kali ulangan. Lama waktu destilasi yang digunakan adalah 2; 4; dan 6 jam, sedangkan ukuran serbuk daun tembakau yang digunakan adalah 6; 8; dan 10 mesh. Rendemen tertinggi diperoleh pada daun tembakau ukuran 10 mesh tembakau Boyolali yakni sebesar 3,39% dengan waktu destilasi selama 6 jam.Effect of Sample Size and Destilation Time on Rendement of Indonesian Tobacco Essential OilTobacco plants are plants that have a distinctive aroma, this shows that tobacco contains essential oils. Tobacco essential oil extraction is constrained by the low yield of essential oil produced. Tobacco essential oil is a diversification of non-tobacco products that can be utilized in the field of biopharmaca (antibacterial) and cosmetics (body perfume). This study aims to extract local tobacco essential oil and increase its yield through variations in leaf powder size and distillation time. Tobacco leaves originate from six tobacco centers in Central and East Java. The six regions are Temanggung, Yogyakarta, Purwodadi, Boyolali, Blitar and Probolinggo. Tobacco essential oil is obtained by the steam water distillation method with variations in the size of the tobacco and the time of distillation. The study was conducted with two replications. The duration of distillation used is 2; 4; and 6 hours, while the size of tobacco leaf powder used is 6; 8; and 10 mesh. The highest yield was obtained in Boyolali tobacco leaf size of 10 mesh which is 3.39% with a distillation time of 6 hours
Pemetaan Tipologi Lahan dan Kesesuaian Tipe Kemasakan Varietas Tanaman Tebu di Jatiroto Lumajang;
Tebu merupakan tanaman industri penting di Indonesia. Produktivitas tanaman tebu menurun dari tahun ke tahun. Fakta menunjukkan bahwa varietas yang ditanam belum disesuaikan dengan tipologi lahan, sehingga diperlukan pemetaan tipologi lahan dan penataan varietas tanaman tebu yang disesuaikan dengan sinergi kesesuaian dengan tipologi wilayah. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan pemetaan tipologi lahan dan penataan varietas tanaman tebu berdasarkan tipe kemasakan varietas di Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2019 sampai dengan Januari 2020. Metode penelitian yang digunakan adalah survei secara eksplorasi lapang dengan 3 tahap kegiatan yaitu pra survei, survei, dan pasca survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Jatiroto terbagi atas 5 tipologi lahan yaitu BPJ (3.153,444 ha), BPL (546,377 ha), RPL (660,550 ha), RHJ (143,094 ha), RHL (1.455,456 ha). Varietas VMC 76-16 dan CMG Agribun, 90% sesuai dengan tipol ogi lahan di Kecamatan Jatiroto, sedangkan varietas Kidang Kencana, PS 881, Cenning, Kentung, PSDK 923, PS 882, PS 865, TLH 1, GMP 1, X 03, PSMLG 1 Agribun, dan NXI 4T membutuhkan lahan yang spesifik di Kecamatan Jatiroto, sehingga penanaman varietas tersebut untuk memperoleh hasil yang optimal perlu memperhatikan kondisi lahan yang sesuai dengan varietas tersebut. Land Typology Mapping and Suitable Maturity Stage of Sugarcane Varieties in Jatiroto LumajangSugar cane is an important industrial plant in Indonesia. Sugarcane productivity decreases from year to year. The facts show that the planted varieties have not been adapted to the typology of the land, so it is necessary to map the typology of land and the arrangement of sugarcane varieties that are adjusted to the synergy of confirmed typology of the area. The purpose of this study is to map the typology of land and the arrangement of sugarcane varieties according to the type of sugarcane varieties in Jatiroto District, Lumajang Regency, East Java. The study was conducted in November 2019 to January 2020. The research method used was a field survey in exploration with 3 stages pre survey, survey and post survey. The results showed that Jatiroto District was divided into 5 land typologies, namely BPJ (3.153.444 ha), BPL (546.377 ha), RPL (660.550 ha), RHJ (143.094 ha), RHL (1455.456 ha). Sugarcane VMC 76-16 and Agribun CMG varieties have 90% suitability to land typology in Jatiroto District, while Kidang Kencana, PS 881, Cenning, Kentung, PSDK 923, PS 882, PS 865, TLH 1, GMP 1, X 03, PSMLG 1 Agribun, and NXI 4T varieties require specific land in Jatiroto District, so planted these varieties, it is necessary to pay attention to the conditions of the land to obtain optimal production
Penyakit Zebra Pada Sisal (Agave spp.): Tantangan Bagi Pengembangan Sisal di Indonesia dan Managemen Pengendaliannya
ABSTRAKPenyakit Zebra merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman sisal. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophthora nicotianae Breda de Haan. Ada tiga fase infeksi jamur ini pada tanaman sisal, yaitu fase bercak daun zebra, busuk batang (bole rot), dan busuk ujung daun (spike rot). Infeksi pada daun akan menurunkan mutu serat, bahkan pada tingkat kejadian yang parah dapat menyebabkan lembaran daun tidak dapat dipanen dan kematian tanaman. Pengembangan tanaman sisal di Indonesia bagian Timur dengan menggunakan varietas introduksi H11648 yang rentan terhadap penyakit ini perlu diwaspadai dan diantisipasi kejadian dan penyebarannya. Makalah ini mengulas tentang penyakit zebra dan manajemen pengendaliannya secara terpadu, mulai dari upaya pemuliaan, pengendalian hayati, penggunaan ekstrak nabati dan fungisida sintetis. Untuk mendukung pengembangan sisal di NTB dan NTT yang baru dimulai, diperlukan penelitian terutama yang berkaitan dengan pengendalian penyakit ini. Zebra Zebra Disease of Sisal: Challenge for Sisal Development in Indonesia and Its Control ManagementABSTRACTZebra disease is one of important diseases of Sisal (Agave spp.), which is caused by a fungus Phytophthora nicotianae Breda de Haan. There are three stadia of the disease, ie: zebra leaf spot, bole rot, and spike rot. Infection on lamina would decrease fibre quality, and severe infection would caused yield loss and death of the plant. The development sisal plant using the new variety H11648, which is susceptible to the disease should be anticipated its outbreak and spread. This paper reviews the zebra disease and its integrated control management including breeding program, biological control, the use of botanical and synthetic fungicides. The development program in NTB and NTT should be supported with adequate research program, especially in controlling the disease
Penggunaan Teknik Analisis AMMI Biplot Untuk Mengenali Aksesi Wijen Tahan Salin
Kendala dalam produksi wijen di lahan salin yaitu salinitas yang mengakibatkan perubahan kondisi morfologi, fisiologi, biokimia dan molekuler pada tanaman. Analisis AMMI (Additive Main Effect and Multiplicative Interaction) adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk menjelaskan dan menginterpretasikan tanggapan genotipe terhadap keragaman lingkungan, mencari model yang tepat, menjelaskan interaksi antara genotipe dengan lokasi, meningkatkan keakuratan dugaan tanggapan interaksi antara genotipe dengan lokasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap bobot biji per tanaman pada enam aksesi wijen dan menentukan aksesi wijen yang stabil pada lingkungan salin dengan menggunakan analisis AMMI Biplot. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UGM mulai bulan Maret hingga Juli 2012. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial dua faktor yang terdiri dari tiga ulangan. Faktor pertama enam aksesi wijen dan faktor kedua 6 konsentrasi NaCl (0 g/L, 2 g/L, 4 g/L, 6 g/L, 8 g/L dan 10 g/L). Sifat yang diamati adalah bobot biji per tanaman. Data dianalisis menggunakan metode AMMI Biplot. Hasil menunjukkan bahwa genotipe III det 36 (G2) dan Sbr 3 (G3) adalah genotipe yang stabil di lingkungan salin dengan bobot biji per tanaman di atas rerata umum sehingga berpotensi dikembangkan dilahan salin, sedangkan genotipe Lokal Hitam (G5) tergolong stabil di lingkungan salin namun dengan bobot biji per tanaman lebih rendah dari rerata umum. AMMI biplot dapat digunakan untuk mengenali aksesi wijen tahan salin.ABSTRACTConstraints to production of sesame in saline fields are salinity which causes changes in morphological, physiological, biochemical and molecular conditions in plants. AMMI (Additive Main Effect and Multiplicative Interaction) analysis is a method that can be used to explain and interpret genotypic responses to environmental diversity, find the right model, explain the interaction between genotype and location, increase the accuracy of the predicted interaction responses between genotype and location. The aim of the study was to determine the effect of salinity on seed/plant weight in six sesame accessions and determining sesame accessions that are stable in the saline environment using the AMMI Biplot. This research was conducted at Faculty of Agricultural Greenhouse, UGM from March to July 2012. The method used was a two-factor factorial completely randomized design consisting of three replications. The first factor was 6 sesame accessions and the second factor was 6 concentrations of NaCl (0 g/L, 2 g/L, 4 g/L, 6 g/L, 8 g/L and 10 g/L). The trait observed was seed weight per plant. Data were analyzed using the AMMI Biplot method. The results showed that the genotypes III det 36 (G2) and Sbr 3 (G3) were stable in the saline environment with seed/plant weights above the general average so that it has the potential genotypes to be developed in saline soil while the local black genotypes (G5) were classified as stable in the saline environment but with seed/plant weight lower than the general average. The AMMI biplot can be used to recognize saline resistant sesame accession
Uji Ketahanan Klon-klon Harapan Tebu terhadap Kekeringan
Pengembangan tebu di lahan kering harus didukung oleh ketersediaan varietas tebu tahan kering dan mempunyai rendemen yang tinggi. Penelitian rumah kaca bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan klon-klon harapan tebu terhadap cekaman kekeringan. Sebanyak 13 klon-klon harapan tebu masak awal sampai awal tengah dan satu varietas pembanding ditanam di dalam pot mulai Juni sampai Desember 2018 menggunakan benih budchip. Rancangan perlakuan menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan tiga ulangan, petak utama terdiri dari tiga perlakuan kekeringan yaitu (A) kadar air tanah tersedia (KAT) dipertahankan suboptimal 40% (kisaran 38-43%) dan (B) KAT dipertahankan 70% (68-73%) dan (C) KAT dipertahankan optimal 100% (95-100%) saat tanaman berumur setelah satu bulan sampai empat bulan setelah tanam (fase pembentukan anakan). Anak petak teridiri dari 14 klon/varietas pembanding (PS 881). Hasil penelitian menunjukkan tingkat ketahanan klon-klon unggul tebu terhadap kekeringan bervariasi dari sangat rentan sampai sangat toleran, yaitu sembilan klon ungggul dengan ketahanan kekeringan yang lebih baik dibanding varietas pembanding (rentan) yaitu MLG 26, MLG 12, MLG 55, dan MLG 11 (moderat), MLG 24 (toleran), MLG 9, MLG 14, MLG 4, dan MLG 49 (sangat toleran). Terdapat tiga klon unggul dengan ketahanan yang sama dengan varietas pembanding yaitu MLG 38, MLG 5, dan MLG 52 (rentan), serta satu klon dengan ketahanan tidak lebih baik dibanding varietas pembanding yaitu MLG 56 (sangat rentan). Drought Resistance Test of Sugarcane Promising ClonesABSTRACT The development of sugarcane in dry land must be supported by the availability of sugarcane dry-resistant varieties and high yield. A greenhouse research was done to determine the level of resistance of sugarcane clones to drought stress using bud chips planted in plastic pots from June to December 2018. The experiment was arranged in a Split Plot Design with three replicates. The main plots consisted of three moisture availability to provide the available soil water (ASW) content maintained at 40% (range 38-43%), 70% (68- 73%) and 100% (95-100%) at the age 1-4 months after planting. Sub plots consisted of 13 clones and one check variety (PS 881). The results showed the level of drought resistance of sugarcane clones varied from very vulnerable to very tolerant, nine clones with better drought resistance compared to check variety (susceptible) namely MLG 26, MLG 12, MLG 55, and MLG 11 (moderate), MLG 24 (tolerant), MLG 9, MLG 14, MLG 4, and MLG 49 (very tolerant). There are three clones with the same level of drought resistance with check variety namely MLG 38, MLG 5, and MLG 52 (susceptible), and one clone namely MLG 56 is very susceptible
Efektivitas Retting Embun Batang Kenaf oleh Jamur Pelapuk Putih Trametes versicolor (L.) Lloyd
Retting embun kenaf menggunakan jamur pada kondisi aerob menjadi alternatif yang murah, mudah, dan lebih ramah lingkungan untuk menggantikan retting basah yang membutuhkan banyak air. Pada beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa spesies jamur pelapuk putih dan Rhizopus sp dapat digunakan untuk membantu proses retting pada tanaman serat batang. Penelitian ini bertujuan mengukur efektivitas retting embun batang kenaf oleh jamur pelapuk putih Trametes versicolor (L.) Lloyd melalui perbandingan efektivitas retting embun oleh Rhizopus spp. dan retting basah, serta pengukuran karakter serat yang dihasilkan. Retting embun dilakukan dengan menginokulasikan biakan jamur pada 500 g batang kenaf berukuran panjang 25 cm yang telah dibasahi dan diinkubasikan selama 4 minggu. Parameter yang diamati meliputi rendemen serat, efektivitas retting, warna, kehalusan, kebersihan, dan kadar selulosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara perlakuan retting embun, jamur pelapuk putih menghasilkan rendemen tertinggi (4,77%), efektivitas tertinggi (77,68%), kehalusan serat sedang, dan serat terbersih. Konsorsium jamur T. versicolor dan inokulum jamur tempe hijau kehitaman menghasilkan serat dengan kadar selulosa tertinggi yaitu sebesar 57,97% dengan warna serat paling cerah. Seluruh serat yang dihasilkan mempunyai tingkat dan kisaran warna kekuningan dan kemerahan yang bervariasi. Perlakuan retting embun kenaf dengan inokulasi T. versicolor tanpa konsorsium merupakan perlakuan dengan efektivitas retting terbaik dengan kualitas serat mendekati hasil retting basah. Effectivity of Dew Retting of Kenaf Stem by White Rot Fungus Trametes versicolor (L.) Lloyd Aerobic dew retting of kenaf using fungal becomes a cheap alternative, easy and has a less environmental impact to replace water retting method. In several studies that have been carried out, it has been shown that white rot fungus species can be used to assist the retting process of bast fiber plants. This study aimed to measure the effectiveness of dew retting of kenaf stem by white rot fungus Trametes versicolor (L.) Lloyd by comparing it with the effectiveness of dew retting by Rhizopus spp. and wet retting, as well as measuring the character of the fiber produced. Dew retting was conducted by inoculating fungi cultures on moistened 500 g of 25 cm length kenaf stems and incubating them for 4 weeks. Fiber yield, retting efficiency, color, smoothness, cleanliness, and cellulose content were observed. The result shows that white rot fungus T.versicolor produced the highest fiber yield (4.77%), the highest effectivity (77.68%), medium fiber smoothness, and the cleanest fiber among dew retting treatments. Consortium of T. versicolor and blackish green tempeh inoculum produced fiber with the highest cellulose content (57.97%) and the brightest fiber color. All fiber produced has a yellowish and reddish color with varying levels and ranges. Kenaf dew retting treatment with T. versicolorinoculation without a consortium was the most effective dew retting treatment with fibers quality verge to the water retting yield.
Profil Minyak Biji dari Empat Varietas Rosela Herbal (Hisbiscus sabdariffa var. sabdariffa) Indonesia
Rosela herbal dibudidayakan untuk diambil kalik (kelopak bunga) sebagai bahan baku minuman herbal. Produk samping dari budidaya rosela herbal salah satunya adalah biji rosela. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi komposisi senyawa asam lemak dan kadar minyak biji rosella dari empat varietas unggul rosella herbal (Roselindo 1, Roselindo 2, Roselindo 3, dan Roselindo 4 dan membahas potensinya sebagai bahan pangan). Minyak biji rosella herbal diekstrak dengan cara pengepresan dan analisa profil asam lemak dengan metode GCMS. Biji rosela herbal mempunyai kadar minyak yang cukup tinggi, yaitu antara 23,25 – 27,31%. Asam linoleat, asam oleat, asam palmitat dan asam nonadekanoat adalah asam lemak utama pada empat varietas rosela herbal. Pengelompokan varietas rosela berdasarkan persentase kemiripan kandungan minyak dan asam lemak menunjukkan bahwa Roselindo 1 berada dalam satu kelompok dengan Roselindo 3 dan Roselindo 2 dengan Roselindo 4. Senyawa asam lemak dari Roselindo 1 dan Roselindo 3 asam adalah dari kelompok asam lemak tak jenuh (UFA) yakni asam linoleat pada Roselindo 1 dan asam oleat pada Roselindo 3. Senyawa asam lemak utama varietas Roselindo 2 dan Roselindo 4 adalah asam nonadekanoat. Berdasarkan jenis asam lemak tersebut maka minyak biji rosella termasuk dalam kategori minyak yang aman dikonsumsi (edible oil) dan juga berkhasiat bagi kesehatan.Profile of Four Varieties of Indonesian Herbal Roselle (Hisbiscus sabdariffa var. sabdariffa) Herbal roselle is cultivated for calices production as raw material for herbal drinks. One of the by products from herbal roselle cultivation is roselle seeds. This study was conducted to evaluate the composition of fatty acid compounds and roselle seed oil content of four herbal roselle superior varieties (Roselindo 1, Roselindo 2, Roselindo 3, and Roselindo and discuss their potency as a foodstuff 4). Herbal roselle seed oil is extracted using pressing method and analyzing fatty acid profiles using GC-MS method. Herbal roselle seeds have high oil content, i.e., 23.25 - 27.31%. Linoleic acid, oleic acid, palmitic acid and nonadecanoic acid are the main fatty acids in four herbal rosela varieties. The grouping of rosela varieties based on the percentage similarity of oil content and fatty acids shows that Roselindo 1 is in one group with Roselindo 3 and Roselindo 2 with Roselindo 4. The main fatty acids of Roselindo 1 and Roselindo 3 are from a group of unsaturated fatty acids (UFA), namely linoleic acid on Roselindo 1, and oleic acid in Roselindo 3 The main fatty acid compounds of Roselindo 2 and Roselindo 4 are nonadecanoic acid. Based on these types of fatty acids, rosella seed oil of Roselindo varieties is in the category of edible oil and is also beneficial for health.Rosela herbal dibudidayakan untuk diambil kalik (kelopak bunga) sebagai bahan baku minuman herbal. Produk samping dari budidaya rosela herbal salah satunya adalah biji rosela. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi komposisi senyawa asam lemak dan kadar minyak biji rosella dari empat varietas unggul rosella herbal (Roselindo 1, Roselindo 2, Roselindo 3, dan Roselindo 4 dan membahas potensinya sebagai bahan pangan). Minyak biji rosella herbal diekstrak dengan cara pengepresan dan analisa profil asam lemak dengan metode GCMS. Biji rosela herbal mempunyai kadar minyak yang cukup tinggi, yaitu antara 23,25–27,31%. Asam linoleat, asam oleat, asam palmitat dan asam nonadekanoat adalah asam lemak utama pada empat varietas rosela herbal. Pengelompokan varietas rosela berdasarkan persentase kemiripan kandungan minyak dan asam lemak menunjukkan bahwa Roselindo 1 berada dalam satu kelompok dengan Roselindo 3 dan Roselindo 2 dengan Roselindo 4. Senyawa asam lemak dari Roselindo 1 dan Roselindo 3 asam adalah dari kelompok asam lemak tak jenuh (UFA) yakni asam linoleat pada Roselindo 1 dan asam oleat pada Roselindo 3. Senyawa asam lemak utama varietas Roselindo 2 dan Roselindo 4 adalah asam nonadekanoat. Berdasarkan jenis asam lemak tersebut maka minyak biji rosella termasuk dalam kategori minyak yang aman dikonsumsi (edible oil) dan juga berkhasiat bagi kesehatan.Profile of Four Indonesian Herbal Roselle (Hisbiscus sabdariffa var. sabdariffa) VarietiesHerbal roselle is cultivated for calices production as raw material for herbal drinks. One of the by products from herbal roselle cultivation is roselle seeds. This study was conducted to evaluate the composition of fatty acid compounds and roselle seed oil content of four herbal roselle superior varieties (Roselindo 1, Roselindo 2, Roselindo 3, and Roselindo and discuss their potency as a foodstuff 4). Herbal roselle seed oil is extracted using pressing method and analyzing fatty acid profiles using GC-MS method. Herbal roselle seeds have high oil content, i.e., 23.25 - 27.31%. Linoleic acid, oleic acid, palmitic acid and nonadecanoic acid are the main fatty acids in four herbal rosela varieties. The grouping of rosela varieties based on the percentage similarity of oil content and fatty acids shows that Roselindo 1 is in one group with Roselindo 3 and Roselindo 2 with Roselindo 4. The main fatty acids of Roselindo 1 and Roselindo 3 are from a group of unsaturated fatty acids (UFA), namely linoleic acid on Roselindo 1, and oleic acid in Roselindo 3 The main fatty acid compounds of Roselindo 2 and Roselindo 4 are nonadecanoic acid. Based on these types of fatty acids, rosella seed oil of Roselindo varieties is in the category of edible oil and is also beneficial for health
Teknik Pematahan Dormansi Dua Aksesi Benih Kenaf ( Hibiscus cannabinus L.) Untuk Meningkatkan Daya Berkecambah Benih
Kenaf termasuk tanaman semusim yang memiliki struktur benih yang relatif keras dan sangat berpengaruh terhadap viabilitas benih. Viabilitas benih dapat dihambat oleh adanya kemampuan benih untuk menunda perkecambahan, yaitu mempunyai sifat dormansi. Beberapa teknik pematahan dormansi dapat dilakukan untuk membantu perkecambahan benih yang disebabkan oleh kondisi fisik maupun fisiologis benih. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menguji pengaruh antara teknik pematahan dormansi pada dua aksesi benih terhadap peningkatan daya berkecambah benih kenaf. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2017. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap faktorial. Faktor pertama adalah aksesi benih yang terdiri dari dua aksesi yaitu ACC 322 dan ACC 1301, sedangkan faktor kedua adalah teknik pematahan dormansi yang terdiri atas 10 perlakuan yaitu perendaman air suhu 90ºC selama 3 menit, perendaman air suhu 90ºC selama 5 menit, perendaman air suhu 27ºC selama 12 jam, perendaman air suhu 27ºC selama 16 jam, pemotongan pada salah satu sisi benih, pemanasan benih dalam oven 80ºC selama 10 menit, pemanasan benih dalam oven 80ºC selama 20 menit, perendaman 98% H2SO4 selama 10 menit, perendaman 98% H2SO4 selama 15 menit dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pemotongan pada salah satu sisi benih dapat meningkatkan persentase daya berkecambah hingga >90% dan merupakan teknik pematahan dormansi yang mampu meningkatkan daya berkecambah pada dua aksesi benih kenaf. Techniques of Dormancy Breaking in Two Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) Accessions t o Increase Seed Germination ABSTRACTKenaf is a seasonal plant that has a relatively hard seed structure and greatly affects the viability of the seed. The viability of seeds can be inhibited by the ability of seeds to delay germination, which has dormancy character. Some dormancy breaking techniques can be done to help seed germination caused by physical and physiological conditions of the seed. The purpose of this study is to examine the effect of dormancy breaking techniques on some seed accessions on increasing the germination of kenaf seeds. This study was conducted from March to May 2017. This research method used a factorial completely randomized block design. The first factor was the accession of seeds consisting of two accessions ie ACC 322 and ACC 1301, while the second factor was dormancy breaking technique consisting of 10 treatments ie. soaking in 90ºC water for 3 minutes, in 90ºC water for 5 minutes, soaking in 27ºC water for 12 hours, soaking in water 27ºC for 16 hours, seed cutting, seed heating in oven 80ºC for 10 minutes, seed heating in oven 80ºC for 20 minutes, soaking in 98% H2SO4 for 10 minutes, soaking in 98% H2SO4 for 15 minutes and control. The results showed that the cutting treatment on one side of the seed can increase the percentage of germination power up to >90% and is a dormancy breaking technique that can increase germination on two accessions of kenaf seeds.
Pengaruh Perlakuan Pelapisan Benih (seed coated) terhadap Viabilitas Benih Tiga Varietas Kapas (Gossypium hirsutum L.)
Seed coated merupakan teknologi pelapisan benih dengan bahan tertentu untuk mempertahankan mutu benih dan membuat bentuk benih lebih teratur. Prosesing benih kapas saat ini masih menggunakan bahan kimia seperti asam sulfat (acid seed delinted) untuk menghilangkan kabu-kabu (linter) yang masih menempel pada biji setelah proses pemisahan serat dan biji. Acid Seed delinted memungkinkan terjadinya kerusakan kulit hingga lembaga biji dan dapat menimbulkan masalah lingkungan dari limbah yang dihasilkan dalam proses tersebut. Teknik pelapisan benih (seed coated) berpeluang untuk diterapkan dalam proses perbenihan kapas, sehingga proses tersebut menjadi ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pelapisan benih pada tiga varietas terhadap viabilitas benih kapas. Penelitian ini menggunakan Rancangan Faktorial dalam rancangan acak kelompok (RAK). Faktor Pertama terdiri atas empat perlakuan benih yaitu benih berkabu tanpa perlakuan (kontrol), benih diperlakukan dengan acid delinted, benih dilapisi (coated) dengan tapioka, kaolin, dan arabic gum. Faktor kedua terdiri atas varietas kapas yaitu Kanesia 10, Kanesia 18, dan Kanesia 19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan benih dengan arabic gum menghasilkan viabilitas benih yang terbaik dan benih kapas varietas Kanesia 10 menunjukkan persentase keserempakan tumbuh, persentase daya berkecambah, dan persentase potensi tumbuh maksimum terbaik masing-masing 92,25%; 96,25% dan 98,00%. Perlakuan coated benih kapas dengan arabic gum berpotensi untuk diterapkan dalam perbenihan kapas sebagai alternatif teknik acid delinting yang kurang ramah lingkungan Effect of Seed Coating on the Seeds Viability of Three Cotton Varieties (Gossypium hirsutum L.)Seed coating technology with certain materials is objected to maintain seed quality and to make seed shapes more regular. Currently, cotton seeds processing is using chemicals such as sulfuric acid (acid seed delinted) to remove the linter which is still attached to the seeds after the separation of fibers and seeds. Acid seed delinting could causing damage on the seed skin as well as to the seed embryo and also cause environmental problems from the waste produced in the process. Seed coated technology has the prospect to be applied in the process of cotton seeding, so the process becomes environmentally friendly. This study aims to evaluate the effect of seed coating treatment on three cotton varieties on the seed viability. This study uses Randomized Block Design Factorial. The first factor consisted of four seed treatments namely fuzzy seed (control), seed delinted, seed coated with tapioca and kaolin and seed coated with arabic gum. The second factor were cotton varieties namely Kanesia 10, Kanesia 18, and Kanesia 19. The results showed that the interaction between seed treatments with cotton varieties significantly affected the radicular length parameters and produced a coefficient of varians 9.85%. Seed coated with arabic gum showed the best results for all observation parameters. Kanesia 10 showed the best of growing simultaneity, germination, and the potential maximum growth by 92%, 96%, and 98%, recpectively. The cotton cotton seed coated with arabic gum is prospective to be applied in the cotton seeding process as an alternative to the acid delinting technique that is not environmentally friendly
Ketahanan Delapan Klon Abaka (Musa textilis) Terhadap Fusarium oxysporum F sp. cubesence
Penyakit layu Fusarium pada tanaman Abaka (Musa textilis L.) yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f sp. cubesence (Foc) merupakan salah satu kendala terhambatnya perkembangan Abaka di Indonesia karena menyebabkan penurunan kualitas serat. Gejala serangan Foc adalah terbelahnya batang semu bagian luar dan warna daun berubah menjadi kuning pucat sampai kuning kecoklatan kemudian layu. Indonesia belum memiliki varietas unggul untuk mendukung pengembangan Abaka, meskipun Balittas memiliki koleksi plasma nutfah yang cukup. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi ketahanan delapan klon Abaka yang memiliki potensi produksi tinggi terhadap infeksi Foc. Penelitian dilakukan di rumah kaca Balittas pada tahun 2018. Sebanyak delapan klon abaka (UB4, Tangongon, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7, Cilacap, UB-8, UB-11, dan UB-5) yang diuji disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan tiga kali ulangan. Isolat Foc yang digunakan berasal dari tanaman abaka yang menunjukkan gejala layu Fusarium. Masing-masing klon ditanam dalam polibag berukuran 500 g satu tanaman per polibag. Setiap klon ditanam sebanyak 10 polibag per ulangan. Benih abaka berumur 3 bulan direndam selama 24 jam dalam suspensi konidia Foc dengan kerapatan105/ml. Pengamatan kejadian penyakit dilakukan setiap 5 hari sekali sampai tanaman berumur 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, tidak ada klon abaka yang diujikan tahan terhadap Foc melainkan rentan (UB8 dan Tangongon) dengan tingkat kejadian penyakit 43,3% - 46,7% dan sangat rentan (Cilacap, UB4, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7, UB-11, dan UB-5) dengan tingkat kejadian 56,7% - 96,7%. Resistance of Eight Clones of Abaca (Musa textilis) to Fusarium oxysporum F sp. cubesenceABSTRACT.Fusarium wilt on Abaca (Musa textilis L.) caused by Fusarium oxysporum f sp. cubesence (Foc) was one of the obstacles to development of Abaca in Indonesia since it decreased fibre quality. Symptom of Foc infection was splitted of the outer low pseudostem and discoloured of the leaf sheat to pale yellow or brownish yellow and then wilt. Indonesia has not released a superior variety (ies) to support the development of Abaca, although Balittas has enough germplasm collection. This paper reported the resistance of eight Abaca clones, which have high potential production, to Foc. The trial activity has been conducted in the screen house of BALITTAS in 2018. The tested clones were: UB4, Tangongon, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7, Cilacap, UB-8, UB-11, and UB-5 which was arraned in randomized block design with three replicates. Foc was isolated diseased abaca with wilt and yellow leaf symptom. Each clone was grown in sterilised soil in a 500 g polybag, with 10 three months old plants for each replicate. The plants were soaked in conidial suspension (105/ml) for 24 hours. Disease incidence was observed every five days for 60 days. Result of the test showed, none of the clones was resistant to Foc but susceptible (UB8 and Tangongon) with disease incidence rates of 43.3% - 46.7% and very susceptible (Cilacap, UB4, Tangongon 70-3-1-1 -2, UB-7, UB-11, and UB-5) with an incidence rate of 56.7% - 96.7%, respectively.Penyakit layu Fusarium pada tanaman Abaka (Musa textilis L.) yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f sp. cubesence (Foc) merupakan salah satu kendala terhambatnya perkembangan Abaka di Indonesia karena menyebabkan penurunan kualitas serat. Gejala serangan Foc adalah terbelahnya batang semu bagian luar dan warna daun berubah menjadi kuning pucat sampai kuning kecoklatan kemudian layu. Indonesia belum memiliki varietas unggul untuk mendukung pengembangan Abaka, meskipun Balittas memiliki koleksi plasma nutfah yang cukup. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi ketahanan delapan klon Abaka yang memiliki potensi produksi tinggi terhadap infeksi Foc. Penelitian dilakukan di rumah kaca Balittas pada tahun 2018. Sebanyak delapan klon abaka (UB4, Tangongon, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7, Cilacap, UB-8, UB-11, dan UB-5) yang diuji disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan tiga kali ulangan. Isolat Foc yang digunakan berasal dari tanaman abaka yang menunjukkan gejala layu Fusarium. Masing-masing klon ditanam dalam polibag berukuran 500 g satu tanaman per polibag. Setiap klon ditanam sebanyak 10 polibag per ulangan. Benih abaka berumur 3 bulan direndam selama 24 jam dalam suspensi konidia Foc dengan kerapatan105/ml. Pengamatan kejadian penyakit dilakukan setiap 5 hari sekali sampai tanaman berumur 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, tidak ada klon abaka yang diujikan tahan terhadap Foc melainkan rentan (UB8 dan Tangongon) dengan tingkat kejadian penyakit 43,3% - 46,7% dan sangat rentan (Cilacap, UB4, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7, UB-11, dan UB-5) dengan tingkat kejadian 56,7% - 96,7%. Resistance of Eight Clones of Abaca (Musa textilis) to Fusarium oxysporum F sp. cubesenceABSTRACT.Fusarium wilt on Abaca (Musa textilis L.) caused by Fusarium oxysporum f sp. cubesence (Foc) was one of the obstacles to development of Abaca in Indonesia since it decreased fibre quality. Symptom of Foc infection was splitted of the outer low pseudostem and discoloured of the leaf sheat to pale yellow or brownish yellow and then wilt. Indonesia has not released a superior variety (ies) to support the development of Abaca, although Balittas has enough germplasm collection. This paper reported the resistance of eight Abaca clones, which have high potential production, to Foc. The trial activity has been conducted in the screen house of BALITTAS in 2018. The tested clones were: UB4, Tangongon, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7, Cilacap, UB-8, UB-11, and UB-5 which was arraned in randomized block design with three replicates. Foc was isolated diseased abaca with wilt and yellow leaf symptom. Each clone was grown in sterilised soil in a 500 g polybag, with 10 three months old plants for each replicate. The plants were soaked in conidial suspension (105/ml) for 24 hours. Disease incidence was observed every five days for 60 days. Result of the test showed, none of the clones was resistant to Foc but susceptible (UB8 and Tangongon) with disease incidence rates of 43.3% - 46.7% and very susceptible (Cilacap, UB4, Tangongon 70-3-1-1 -2, UB-7, UB-11, and UB-5) with an incidence rate of 56.7% - 96.7%, respectively