Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Not a member yet
    87 research outputs found

    Yield Components of Some Sesame Mutant Populations Induced by Gamma Irradiation

    Full text link
    Sesame is an producing seed whose oil is commercially needed. Breeding attempts to improve the productivity of sesame and yield components are induction of gamma ray irradiation mutations (Co-60). This study was aimed to identify effects of induced mutation by gamma rays irradiation in quantitative characteristics and yield of sesame in M4 generation originated from local cultivars. Two types of sesame (black and white) are irradiated with eight doses (100-800 Gy) of Co-60. The result showed a high variation in almost all morphological characters and modified the character of stem height from base to first branch, number of capsules per plant, biomass yield per plant, and seed yield per plant. Sesame irradiated with 600 Gy Co-60 doses has a beneficial effect on the number of capsules (black:120.23; white: 255.23, respectively) and the weight of 1000 seeds (black:3.63 g; white: 4.55 g, respectively). Genotypic Coefficient of Variation in M4 generation were recorded for high value for characters number of primary branches (30.16%), stem height from base to the first branch (30.96%), stem height from base to first capsule (14.82%), number of secondary branches (53.64%), number of nodes to first flower (72.66%), number of capsules/plant (44.90%), biomass yield/plant (28.37%), and seed yield/plant (36.68%). Genetic variability of plant population is very important for plant breeding program and to sustain level of high productivity.Komponen Hasil Beberapa Populasi Mutan Wijen yang Diinduksi oleh Iradiasi GammaWijen adalah tanaman penghasil biji yang minyaknya dibutuhkan secara komersial. Upaya pemuliaan untuk meningkatkan produktivitas wijen dan komponen hasil adalah dengan induksi mutasi iradiasi sinar gamma (Co-60). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh induksi mutasi iradiasi sinar gamma pada karakter kuantitatif dan hasil pada generasi M4 wijen yang berasal dari kultivar lokal. Dua jenis wijen (hitam dan putih) diiradiasi dengan delapan dosis (100-800 Gy) Co-60. Sejumlah pengaruh mutasi wijen berhasil menunjukkan variasi yang tinggi pada hampir semua ciri morfologi dan memodifikasi karakter tinggi batang dari pangkal ke cabang pertama, jumlah kapsul/tanaman, hasil biomassa/tanaman dan hasil biji/tanaman. Wijen yang diiradiasi dengan dosis 600 Gy Co-60 memiliki efek menguntungkan pada jumlah kapsul (hitam:120,23; putih: 255,23) dan berat karakter 1000 biji (hitam:3,63 g; putih: 4,55 g). Koefisien Keragaman Genotipik pada generasi M4 dicatat nilai tertinggi pada karakter jumlah cabang primer (30,16%), tinggi batang dari pangkal ke cabang pertama (30,96%), tinggi batang ke kapsul pertama (14,82%), jumlah cabang sekunder (53,64%), jumlah ruas ke bunga pertama (72,66%), jumlah kapsul/tanaman (44,90%), hasil biomassa/tanaman (28,37%), dan hasil biji/tanaman (36,68%). Keragaman genetik dari populasi tanaman sangat penting untuk program pemuliaan tanaman dan mempertahankan produktivitas yang tinggi

    Teknik Pematahan Dormansi untuk Meningkatkan Daya Berkecambah Dua Aksesi Benih Yute (Corchorus olitorius L.)

    Full text link
    Tanaman yute di Indonesia memiliki prospek dan peluang yang baik untuk dijadikan bahan baku industri karung goni, pulp dan kertas. Benih yute masih memiliki perkecambahan yang rendah karena secara morfologi memiliki kulit biji yang keras dan masa dormansi yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai teknik pematahan dormansi benih untuk meningkatkan daya berkecambah benih yute. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama terdiri atas aksesi benih yute (2005 dan 2006), faktor kedua terdiri atas media perkecambahan (kertas merang dan pasir), dan faktor ketiga terdiri atas perlakuan perendaman benih (tanpa perendaman, perendaman air suhu 80oC selama 1 jam, perendaman air suhu 80oC selama 2 jam, perendaman air suhu 80oC selama 3 jam, perendaman air suhu 27oC selama 12 jam, perendaman air suhu 27oC selama 20 jam dan perendaman air suhu 27oC selama 25 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara aksesi benih, media perkecambahan dan perlakuan benih memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase daya berkecambah, persentase benih keras dan panjang akar. Benih yute 2006 yang direndam air suhu 80ºC sampai dingin selama 3 jam dan dikecambahkan pada media kertas merang memiliki persentase keserempakan tumbuh terbaik (90,5%), daya berkecambah (90,1%), benih keras terendah (8,75%), tinggi plumula (3,88 cm) dan panjang radikula terbaik (3.89 cm). Persentase keserempakan tumbuh, daya berkecambah, persentase benih keras dan tinggi plumula tidak berbeda nyata antara dua aksesi benih yute. Perendaman benih dengan air suhu 80ºC sampai dingin selama 3 jam dan dikecambahkan pada media kertas merang mampu mematahkan dormansi dan meningkatkan daya berkecambah dua aksesi benih yute.The Techniques of Dormancy Breaking to Increase Seed Viability of Jute (Corchorus olitorius L.)Jute plants in Indonesia have prospects and opportunities to be used as raw materials for pulp and paper sack industries. Jute seeds have a low germination because they have hard seed shells and long dormancy periods. This study aims to determine the dormancy seed breaking technique to increase the germination level of jute seeds. The research method used a factorial completely randomized design. The first factor consisted of jute seed harvest in 2006 and 2005, the second factor consisted of germination media (paper and sand), and the third factor consisted of the treatment of seeds soaking (without soaking, soaking in 80oC water for 1 hour, in 80oC water for 2 hours, in 80oC water for 3 hours, in 27oC water for 12 hours, in 27oC water for 20 hours and in 27oC water for 25 hours). The results showed that the interaction between three factors gave a significant effect on the percentage of germination, percentage of hard seed and root length. The jute seed harvest in 2006 were soaked in 80ºC water for 3 hours and were germinated on paper media showed the best simultaneous growth percentage (90%), germination (90%), lowest hard seed (9%), plumula length (3.88 cm) and the longest radical length (3.89 cm). Those parameters were not significantly different between the two jute accessions.  Soaking the seeds in 80oC water for 3 hours and then germinate the seeds on paper could break the seed dormancy and increase the germination

    Uji Daya Hasil Genotipe Tebu Potensial di Lahan Kering

    No full text
     Pengembangan tebu di Indonesia saat ini sebagian besar terdapat di lahan kering, oleh karena itu perakitan varietas toleran kekeringan merupakan suatu langkah yang bijaksana, karena merupakan pendekatan yang paling mudah aplikasinya dan ekonomis. Saat ini telah diperoleh beberapa genotipe harapan tebu untuk lahan kering. Penelitian ini bertujuan unuk mengkaji daya hasil genotipe tebu hasil persilangan untuk pengembangan di lahan kering. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Ngemplak, Pati dari bulan Januari sampai dengan November 2017, menggunakan 8 genotipe tebu yang berpotensi toleran kering dibandingkan dengan 2 varietas PS 864 dan Kenthung) sebagai pembanding. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok yang diulang tiga kali. Petak yang digunakan berukuran 5 m x 10 m, serta jarak pusat ke pusat (PKP) 1 m, atau 10 juring dengan panjang masing-masing 5 m. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah batang per meter juring, jumlah ruas, panjang batang, bobot batang, nilai brix nira batang bagian atas, tengah dan bawah, rendemen serta hasil hablur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe berpengaruh terhadap keragaan hasil tebu dan komponen hasilnya. Genotipe MLG 1308 mempunyai produksi hablur tertinggi diantara genotipe lain, 21% lebih tinggi dibandingkan varietas pembanding PS 864 dan 156% dibandingkan dengan Kenthung. Dengan demikian genotipe MLG 1308 adalah genotipe harapan untuk pengembangan tebu di lahan kering Yield Test of  Potential  Genotypes of Sugarcane in Dry  ConditionsSugarcane cultivation in Indonesia have been mostly done in dry lands, therefore consructing tolerant varieties to dry-agro-ecological condition is a wise decision as it is easily applicable and economically feasible. Currently, some genotypes tolerant to dry condition have been identified. This research was aimed to test the yield performance of potentially drought tolerant genotypes. The reserch was done in Research Station Ngemplak, Pati on January to December 2018, used 8 genotypes and two varieties (PS 864 and Kenthung) as comparision varieties. The research used randomized block design with 3 replicates. Plot size was 5 m x 10 m and the distance from center to center was 1 m, 10 rows with length 5 m per row. The parameters observed were plant height, stem diameter, number of stalk per m row, number of internode per stalk, length and weight of stalk, upper stem brix, mid and lower, sugar content/sucrose content and sugar yield per ha. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by Duncan Multiple Range Test at 5% level. Results showed that genotypes affected the performances of yield and its component characters. MLG 1308 showed the highest sugar yield per ha among the other genotypes, 21 % and 156 % higher than that of variety PS 864 and Kenthung varieties, respectively. Therefore, genotype MLG 1308 is considered as a promising genotype to support the development of sugarcane in dry areas

    Keragaan Karakter Morfologi, Stomata, dan Klorofil Enam Varietas Tembakau Lokal Tulungagung

    Full text link
    Tembakau lokal tulungagung merupakan salah satu jenis tembakau yang  memiliki peran penting dalam industri rokok kretek di Indonesia. Beberapa varietas tembakau telah banyak dibudidayakan di wilayah Kabupaten Tulungagung, tetapi tingkat heterogenitas tanaman cukup tinggi, baik secara morfologi maupun anatomi. Stomata merupakan salah satu bagian struktur daun yang sering digunakan dalam klasifikasi taksonomi sehingga informasi keragaman sifat morfologi, stomata dan kadar klorofil dapat dimanfaatkan pemulia tanaman untuk melakukan perakitan varietas baru dengan produktivitas sesuai dengan kebutuhan konsumen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari keragaan sifat morfologi, stomata, dan kadar klorofil serta produktivitas tanaman. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, pada bulan April sampai Oktober 2015.  Bahan penelitian terdiri atas 6 varietas tembakau yang sudah lama berkembang di Tulungagung, yaitu varietas Rejeb Arang, Rejeb Kerep, Gagang Sidi, Gagang Jembrak, Gagang Ijo, dan Rejeb Jae. Tiap-tiap varietas ditanam pada petak berukuran 12 m x 4,50 m dengan jarak tanam 60 cm x 90 cm (100 tanaman/petak).  Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa 6 varietas tembakau yang diteliti mempunyai bentuk morfologi yang beragam. Varietas Rejeb arang memiliki nilai tertinggi pada karakter tinggi tanaman, jumlah daun, dan pajang daun, sehingga dapat menunjang produktivitas tanaman.  Tipe stomata Rejeb Arang adalah Amphibraci-parasitik, Rejeb Kereb dan Gagang Jae Diasitik, Gagang Sidi dan Gagang Ijo bertipe Anisositik sedangkan Gagang Jembrak bertipe Laerositik.  Kerapatan stomata tertinggi pada Gagang Jae (44,87/mm2) dan kadar klorofil tertinggi pada varietas Rejeb Arang (34,85 unit).Performance of Morphological, Stomata, and Chlorophyll Characters of Six Tulungagung Local Tobacco Variety Tulungagung tobacco is one type of tobacco that has an important role in the cigarette industry in Indonesia. Some varieties of tobacco have been cultivated in Tulungagung, but the heterogeneity degree of the plant is quite high, so that the information of diversity of morphology, stomata and chlorophyll can be utilized to carry out the assembly of new varieties with productivity in accordance to customer needs. The aim of research is study  the morphological properties, stomata, chlorophyll content, and crop productivity. This research was conducted in the village of Kendalbulur, District Boyolangu, Tulungagung, from April to October 2015. The research material consisted of six varieties of tobacco has long been developing in Tulungagung, ie Rejeb Arang, Rejeb Kerep, Gagang Sidi, Gagang Jembrak, Gagang Ijo, and Rejeb Jae. Each variety was grown on plots sized 12 m x 4.50 m with plant spacing of 60 cm x 90 cm (100 plants/plot). This study used a randomized complete block design with three replications. The results showed that six varieties of tobacco studied have varying morphology. Varieties Rejeb charcoal has the highest value on plant height, leaf number, and leaf length, so that could support the productivity of the plant. Stomata type of Rejeb Arang is Amphibraci-parasitic, Rejeb Kereb and Rejeb Jae are Diasitic, Gagang Sidi and Gadang Ijo are Anisositic; Gagang Jembrak is Laerositik. The highest chlorophyll content was in Rejeb Arang varieties (34.85 units)

    N2O Emissions from Rainfed Sugarcane Plantation

    Full text link
    Expansion of sugarcane areal to support enhancement production and fulfilment target of self-sufficiency for national sugar should be conducted to see environment impact, particularly related to greenhouse gases emission. The objective of this study was to figure out N2O emission from conventional sugarcane plantation by farmer in rainfed area. The observation of N2O gas was carried out in sugarcane plantation in Sidomukti Village, Jaken District, Pati, Central Java. Sampling of N2O gas was conducted by close chamber method. The study showed that maximum fluxes of sugarcane plantation before and after fertilizer application are 4.011 and 223 µg N2O m-2 day-1. Meanwhile, after fertilizer application the maximum and minimum fluxes of N2O are 6.408 and 25 µg N2O m -2 day-1. N2O emission from sugarcane plantation recorded in rainfed area as 4.21 ± 2.53 kg N2O ha-1 year-1 with potential of global warming number as 1.31 ton CO2-e per hectar per year.Emisi N2O dari Pertanaman Tebu di Lahan Tadah HujanPerluasan areal tanam tebu untuk mendukung peningkatan produksi dan pemenuhan target swasembada gula nasional sudah dianggap perlu untuk melihat dampak lingkungan khususnya mengenai evaluasi emisi gas rumah kaca dari pertanaman tebu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui emisi gas N2O dari sistem pertanaman tebu secara konvensional petani di lahan tadah hujan. Pengamatan gas N2O dilakukan pada lahan perkebunan tebu di desa Sidomukti Kecamatan Jaken Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah. Pengambilan sampel N2O menggunakan metode sungkup tertutup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluks maksimum pada pertanaman tebu sebelum pemupukan sebesar 4,011 µg N2O m -2 hari-1 dan fluks minimum sebesar 223 µg N2O m -2 hari-1, sedangkan fluks maksimum setelah pemupukan sebesar 6,408 µg N2O m -2 hari-1 dan fluks minimum sebesar 25 µg N2O m -2 hari-1. Emisi N2O pertanaman tebu sebesar 4.21 ± 2.53 kg N2O ha-1tahun-1 dengan nilai potensi pemanasan global sebesar 1.31 ton CO2-e per hektar per tahun

    Analisis Potensi Tebu dalam Mendukung Pencapaian Swasembada Gula di Kabupaten Bondowoso

    Full text link
    Impor gula mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Walaupun penelitian yang mendukung pencapaian swasembada gula telah banyak dilakukan, namun penelitian terkait analisis potensi suatu wilayah untuk pengembangan komoditas tebu belum banyak dilakukan.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi tebu dalam mendukung pencapaian swasembada gula di Kabupaten Bondowoso.  Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dengan menggunakan pendekatan sistem dinamik untuk menghitung share tebu terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan analisis Shift Share Esteban Marquillas untuk menghitung potensi/spesialisasi komoditas tebu di Kabupaten Bondowoso.  Hasil analisis menunjukkan bahwa Kabupaten Bondowoso selama kurun waktu 2010–2015 mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialisasi pada komoditas tebu, sehingga Kabupaten Bondowoso mempunyai peluang untuk keberlanjutan komoditas tebu ke depan.  Strategi yang dapat dilakukan adalah membuka lahan-lahan perkebunan tebu baru di wilayah lain yang belum terdapat komoditas tebu seperti Kecamatan Binakal, Sempol, dan Pakem. Analysis of Sugar Cane Potential to Support the Achievement of SelfSufficiency of Sugar in Bondowoso DistrictSugar importation increases in the last decade. Several studies have been conducted to achieve self-sufficiency in sugar, but few studies have looked at whether a region/area has an excellence potenty for further sugarcane development.  This study aims to analyze the sugarcane potency in supporting achievement of sugar self-sufficiency in Bondowoso District. The analysis method used in this research is quantitative analysis using dynamic system approach to calculate sugarcane share to Gross Regional Domestic Product, and Shift Share Esteban Marquillas analysis to calculate potency/specialty of sugar cane commodity in Bondowoso regency.  The analysis showed that Bondowoso district during 2010-2015 has competitive advantage and specialization in sugarcane, so that Bondowoso district has an opportunity for sustainable sugarcane development in the future.  Strategies that can be done is to open new sugarcane plantations fields in other regions that have no sugarcane plantation such as in Binakal, Sempol, and Pakem sub-district

    Respon Fisiologis Tanaman Tebu Terhadap Kekeringan

    Full text link
    Produksi tebu nasional sering terhambat oleh adanya masalah kekeringan.  Tujuan dari penulisan tinjauan ini adalah untuk membahas hasil-hasil penelitian tentang respon fisiologi tanaman tebu terhadap kekeringan sebagai dasar bagi pengelolaannya baik secara genetik maupun teknologi budi daya. Melalui tinjauan ini diharapkan kegiatan perakitan varietas unggul toleran kekeringan dan teknologi budi daya untuk penurunan dampak kekeringan lebih efektif. Kekeringan menyebabkan perubahan aktivitas fisiologis  penting dimulai dari penutupan stomata untuk menekan transpirasi, penurunan input karbondioksida, penurunan jumlah klorofil, dan pada akhirnya penurunan laju fotosintesis netto. Akar merespon kekeringan dengan mensintesis dan mengirimkan sinyal asam absisat (ABA) yang mengakibatkan penutupan stomata sehingga menurunkan transpirasi dan serapan CO2. Kekeringan menyebabkan penurunan kandungan klorofil a, b, dan nisbah klorofil a/b. Penurunan laju fotosintesis dan kegiatan fisiologis lain menurunkan pertumbuhan tanaman tebu, dan akhirnya produktivitas gula. Genotipe yang toleran kekeringan menunjukkan kemampuan untuk meminimalkan pengaruh buruk kekeringan. Tingkat kerugian dari kekeringan paling besar pada fase perpanjangan, karena fase kebutuhan air yang besar untuk meningkatkan bobot tebu, terutama untuk pemanjangan batang. Fase pemasakan membutuhkan air paling sedikit, namun sangat penting karena menentukan rendemen gula. Konsentrasi senyawa osmoprotektan, yang membantu mengatasi peningkatan potensial osmosis sel, pada genotipe tanaman toleran kekeringan meningkat tinggi pada kondisi kekeringan.  Senyawa osmoprotektan dapat berupa kelompok asam amino, gula atau amonium kuarter, seperti prolin, trehalosa, dan glisin betain.  Senyawa lain untuk ketahanan kekeringan adalah larutan kompatibel yang memiliki bobot molekul rendah, mudah larut dan non-toksik dalam sitosol. Pemahaman biosintesis dan fungsi senyawa tersebut merupakan dasar dari upaya pemanfaatannya untuk penelitian dan pengelolaan kekeringan terutama melalui pemuliaan bioteknologi, konvensional, maupun produksi senyawa osmoprotek-tan untuk aplikasi eksogen. National sugarcane production is often inhibited by drought problem. The objective of this review is to discuss research findings on physiological responses of sugarcane to drought as a base for genetic and cultivation management. Through this review drought tolerance breeding activities and cultivation technology for mitigationimpact will be coped with more effectively.  Drought influencesesimportant physiological activities from stomata closure to minimize transpiration, reducing carbon dioxide input, chlorophylland nettphotosynthesis. Plant roots respond to drought througoutbiosynthesis and send signalto abscisic acid (ABA) for closing stomata to reduce transpiration and CO2 absorption. Drought reduces chlorophyll a, b, and a/b ratio. Reducing photosynthesis rate and other physiological activities inhibit sugarcanegrowth, and finally sugar productivity.  Drought tolerance genotype hasabilityto minimize these negative impacts.  The most lost productivity caused by drought is taking place during elongation phase, especially stalk elongation. Ripening phase requires least water, but it is very important to sucrose accumulation. Concentration of osmoprotectant compounds, which helps to cope with increasing cell osmosis potential on drought tolerance plant genotypes, increases during drought condition, however, it is high during drought, especially in tolerance genotype, Osmoprotectant compounds are amino acid, sugar, or quartenary ammonium, such as proline, trehalosa, and glicine betain.  Other compounds for plant tolerance to drought is compatible solute which has low molecular weight, high solable, and nontoxic cytosolic.  Understanding on biosynthesis and function of osmoprotectant are required as a base for further research on drought tolerance mechanism and managing drought especially in biotechnology plant breeding, conventional, and producttion of osmoprotectant for exogenous application.

    Uji Efikasi Teknik Kultur Meristem dan Kemoterapi untuk Eliminasi Sugarcane Streak Mosaic Virus (SCSMV) pada Tebu

    Full text link
    Penggunaan benih bebas virus merupakan salah satu cara pengendalian penyakit virus. Jaringan tanaman dapat dibebaskan dari virus melalui aplikasi teknik eliminasi virus, seperti termoterapi, kemoterapi, kultur meristem, dan krioterapi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji respon varietas tebu terhadap perlakuan teknik kultur meristem dan kemoterapi dengan bahan antiviral, serta untuk mengetahui efektivitasnya dalam mengeliminasi virus sugarcane streak mosaic virus (SCSMV) pada tebu. Penelitian ini dilakukan pada April−November 2015 di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian dan Laboratorium Virologi, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Penelitian terdiri atas tiga tahap, yaitu 1) Deteksi virus dari tanaman induk, 2) Aplikasi teknik kultur meristem dan kemoterapi, serta 3) Indeksing virus. Bahan tanaman yang digunakan adalah sebelas varietas tebu (GMP3, PS865, dan Kentung asal Bogor, PS862 dan Cening asal Cirebon, PS881 asal Jember, PSJK922 asal Malang, serta PS864, PS881, PSJK922, PSJT941 asal Pati). Deteksi virus dilakukan secara RT-PCR dengan primer universal MJ dan primer spesifik SCSMV. Bahan antiviral yang digunakan untuk kemoterapi adalah Ribavirin (0 dan 25 µg/l). Hasil uji RT-PCR menggunakan primer universal MJ menunjukkan bahwa empat varietas (GMP3 asal Bogor, PS864 dan PSJT941 asal Pati, serta Cening asal Cirebon) terinfeksi oleh Potyvirus. Empat varietas lainnya (PS862 asal Cirebon, PS881 asal Jember, PSJK922 asal Malang, dan Kentung asal Bogor) terbukti terserang virus SCSMV berdasarkan uji RT-PCR dengan primer spesifik. Seluruh meristem mampu beregenerasi membentuk tunas. Penggunaan Ribavirin 25 µg/l tidak menyebabkan penurunan daya tumbuh meristem (50−100%), bahkan seluruh varietas mampu bermultiplikasi tunasnya dibandingkan dengan kontrol yang hanya memiliki daya tumbuh 0−100%, dan tidak semua varietas mampu bermultiplikasi tunasnya. Secara tunggal, aplikasi teknik kultur meristem tidak mampu mengeliminasi virus SCSMV, namun jika dikombinasikan dengan perlakuan kemoterapi maka virus SCSMV dapat tereliminasi dengan efikasi sebesar 44,4%. The use of virus-free seedling is an option for controlling viral disease that can be obtained through the application of viral elimination method. Plant tissues can be eliminated from virus infection by applying virus thermotherapy, chemotherapy, meristem culture, and cryotherapy. The research objectives were to examine the response of sugarcane varieties to meristem culture treatments and antiviral agent and also to determine the efficacy rate of both techniques in eliminating SCSMV disease. The study was conducted atTissuseCulture Laboratory, Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research andDevelpoment, and also at Virology Laboratory, Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University.   This study consisted of three activities: 1) Virus detection of the mother plants, 2) Application of meristem culture and chemotherapy, and 3) Virus indexing. The plant material used was eleven varieties of sugarcane (GMP3, PS865, and Kentung from Bogor, PS862 and Cening from Cirebon, PS881 from Jember, Malang PSJK922 origin, as well as the PS864, PS881, PSJK922, PSJT941 from Pati). Virus detection was performed by RT-PCR assay with universal primer of MJ and specific primers of SCSMV. Antiviral used for chemotherapy was Ribavirin (0 and 25 µg/l). The result of RT-PCR using universal primers MJ showed that four varieties (GMP3 from Bogor, PS864 and PSJT941 from Pati, and Cening from Cirebon) were infected by Potyvirus. Based on RT-PCR assay with specific primer, four other varieties (PS862 from Cirebon, PS881 from Jember, PSJK922 from Malang, and Kentung from Bogor) were infected by SCSMV. All of meristems were able to regenerate to form shoots. The use of Ribavirin (25µg/l) did not decrease the growth rate of meristems and the shoots of all of the varieties could be multipied compared to control where the shoots could not be multiplied in all varietis. The application of meristem culture technique was not able to eliminate the SCSMV, but when it was combined with chemotherapy treatment, the SCSMV virus could be eliminated with the efficacy rate of 44.4%.

    Kesesuaian Tipe Kemasakan Varietas Tebu pada Tipologi Lahan Bertekstur Berat, Tadah Hujan, dan Drainase Lancar

    Full text link
    Tanaman tebu merupakan salah satu tanaman perkebunan yang strategis berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gula.  Saat ini berbagai tipe kemasakan varietas tebu dapat ditemui pada tipologi lahan yang sama sehingga potensi varietas akan sulit dicapai pada tipologi lahan yang tidak sesuai. Untuk itu kesesuaian varietas tebu dengan tipe kemasakan yang berbeda perlu diuji dengan tipologi lahan.  Penelitian dilaksanakan di Desa Gili Timur, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan dengan tipologi lahan tekstur tanah berat (B), lahan tadah hujan (H), dan drainase lancar (L) atau BHL mulai Oktober 2014 sampai September 2015.  Penelitian lapang menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang 5 kali dengan 8 perlakuan varietas dengan tipe kemasakan yang berbeda yaitu PS 881 (Awal);  Cenning, PSJK 922, dan PS 882 (Awal Tengah);  KK, VMC 76-16, PSDK 923, dan BL (Tengah Lambat).  Varietas tebu yang ditanam menggunakan benih bagal mata 2–3 dengan PKP 135 cm.  Kesesuaian tipologi lahan BHL dengan tipe kemasakan varietas tebu menunjukkan bahwa varietas tebu tipe kemasakan awal bila ditanam tepat waktu menghasilkan produktivitas sama dengan varietas masak tengah lambat dengan tingkat produktivitas (92,98–109,28 ton/ha). Varietas tebu dengan  tipe ke masakan awal sampai awal tengah menghasilkan produktivitas tebu 93–96 ton/ha menggunakan varietas PS 881, Cenning, dan PSJK 922, dan varietas tengah lambat menghasilkan produktivitas tebu 92-109 ton/ha menggunakan varietas VMC-7616, PSDK 923, dan BL.  Produksi hablur tertinggi varietas masak awal 8,46 ton/ha (PS 881), varietas awal tengah 8,66 ton/ha (PSJK 922), varietas  tengah lambat 9,40 ton/ha (PSDK 923).  Panen tebu dilakukan berdasarkan tingkat kemasakan yang optimal, di lokasi penelitian (wilayah Bangkalan, Madura) varietas tipe kemasakan awal sampai awal tengah mencapai tingkat kemasakan optimal pada saat tanaman mencapai umur 9 bulan dan 9,5 bulan setelah tanam pada tipe kemasakan tengah lambat. Dengan demikian pada tipologi lahan BHL direkomendasikan penggunaan varietas tebu dengan tipe kemasakan awal sampai tengah lambat.  Informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan penataan varietas tebu. Pemilihan varietas yang berproduksi tinggi dan tahan kepras serta sesuai dengan lingkungan setempat  sangat dianjurkan. Sugar cane is one of the strategic plantation crops associated with the fulfillment of sugar. At present various types of ripening sugarcane varieties can be found on the same land typology, so the potential productivity of a variety would be difficult to achieve on a typology that is not appropriate. The suitability of sugarcane varieties with different maturity types need to be checked with appropriate land typology. The research was conducted in East Gili, Kamal, Bangkalan on the land typology of heavy soil texture (B), the rainfed (H), and good drainage (L) or BHL started in October 2014 to September 2015. The field research was designed using a Randomized Block Design (RAK) with five replications with 8 varieties treatments namely PS 881 (early maturity), Cenning, PSJK 922 and PS 882 (middle early maturity); KK, VMC 76-16, PSDK 923 and BL (middle late maturity). Sugarcane stalks with 2-3 buds of each variety were planted per plot at 135 cm row spacing. Suitability of sugarcane varieties with different maturity types with land tipology showed that early maturity sugarcane varieties planted at the right time produced the similar productivity with late maturity varieties on lands with BHL tipology with a ranges of productivity 92.98 to 109.28 tons/ha. Sugarcane varieties with early maturity to mid early maturity of sugarcane produced 93-96 tons/ha using PS 881, Cenning, and PSJK 922, and varieties with mid late to late maturity produced 92-109 tonnes/ha using VMC-7616, PSDK 923, and BL. High sugar yields were produced by early variety of 8.46 tonnes/ha (PS 881), mid early variety of 8.66 tonnes/ha (PSJK 922), mid late variety of 9,40 tonnes/ha (PSDK 923). Cane harvesting was done based on the optimum maturity, in the study site (Bangkalan, Madura) cane varieties with early to middle early maturty reached the optimal maturity at the crop age of 9 months and 9.5 months in middle late maturity. Thus the land tipology of BHL recommended the use of sugarcane varieties with early to mid late maturity. This information can be used as a basis for the implementation of the planting management of sugarcane varieties.  Selection of high yielding varieties and ratooning ability and appropriate to the local environment is highly recommended.

    Potensi Diversifikasi Rosela Herbal (Hibiscus sabdariffa L.) untuk Pangan dan Kesehatan

    Full text link
    Tanaman penghasil serat alami dari genus Hibiscus yang cukup populer di Indonesia adalah rosela (Hibiscus sabdariffa L.). Nilai kemanfaatan rosela sangat luas baik untuk pangan dan kesehatan, sehingga potensi diversifikasi rosela cukup besar.  Tujuan penulisan review ini adalah untuk memberikan informasi kandungan fitokimia potensial tanaman rosela herbal yang memiliki efek farmakologis dan fisiologis serta beberapa diversifikasi produk makanan, minuman dan produk kesehatan. Bagian tanaman rosela herbal yang memiliki kandungan fitokimia potensial adalah daun, buah, biji, batang dan akar. Senyawa fitokimia potensial tersebut meliputi kelompok senyawa fenol, alkaloid, tannin, flavonoid, saponin, dan asam organik. Fungsi rosela herbal secara farmakologis dan fisiologis diantaranya memiliki aktivitas antibakteri, antifungal, aktivitas antiinflamasi, antidiabetes, aktivitas antioksidan, dan aktivitas antihipertensi. Diversifikasi produk rosela herbal meliputi nanokapsul ekstrak rosela, pewarna alami, pangan fungsional, obat herbal, feed additive, bahan kosmetik, minyak goreng, cat, dan bahan bakar nabati. Inovasi teknologi proses produksi dalam diversifikasi produk rosela perlu terus dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah dan optimalisasi pemanfaatan komponen bioaktif rosela herbal. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan produksi rosela herbal nasional. Potential Divercification of Herbs Roselle (Hibiscus sabdariffa L.) for Food and HealthPlants of the genus Hibiscus that produce natural fibers are roselle (Hibiscus sabdariffa L.). The benefit value of roselle is very wide for food and health, so the potential of roselle product diversification is quite large. The purpose of this review provides information on potential phytochemical content of herbs roselle plants that have pharmacological and physiological effects as well as some product diversification for food, drink, and health product. The plant part of herbs roselle that has potential phytochemical content is leaves, fruit, seed stem and root. These potential phytochemical compounds include groups compounds of phenol, alkaloids, tannins, flavonoids, saponins, and organic acids. The functions of herbs roselle for pharmacological and physiological include antibacterial, antifungal, anti-inflammatory activity, antidiabetic activity, antioxidant activity, and antihypertensive activity. Products diversification of herbs roselle includes nanocapsul of roselle extract, natural dyes, functional foods, herbal medicines, feed additives, cosmetic ingredients, cooking oil, paints, and biofuels. The innovation technological of production process in the roselle product diversification needs to be continuously done to increase the added value and optimization of bioactive herb component utilization. Therefore it is expected to improve the welfare of farmers and national production of herbs roselle

    70

    full texts

    87

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇