Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Not a member yet
    87 research outputs found

    Kondisi Optimum Reaksi Vulkanisasi Minyak Jarak Kepyar dengan Sulfur dalam Pembentukan Faktis Cokelat Bermutu Tinggi

    Full text link
    Manufaktur produk karet diawali oleh pembuatan kompon karet dengan cara mencampurkan karet dengan bahan kimia. Salah satu bahan kimia utama karet adalah bahan bantu olah yang berfungsi untuk mempermudah pencampuran dan distribusi bahan kimia terutama bahan pengisi dalam matriks karet. Faktis cokelat yang dihasilkan dari vulkanisasi minyak nabati dengan sulfur merupakan bahan bantu olah karet yang banyak digunakan dalam industri hilir karet. Dalam reaksi vulkanisasi terjadi pembentukan ikatan silang antar trigliserida dalam minyak nabati yang dijembatani oleh sulfur. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum pembentukan faktis cokelat pada skala laboratorium berkapasitas 200 ml/batch dari minyak jarak kepyar sebagai sumber trigliserida yang direaksikan dengan sulfur (23 dan 24 bsm) pada berbagai suhu (150oC, 160oC, dan 170oC). Penentuan kondisi optimum reaksi didasarkan pada hasil karak-terisasi visualisasi fisik dan sifat kimia faktis cokelat yang diperoleh. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kondisi optimal reaksi vulkanisasi pembentukan faktis cokelat tercapai pada suhu 150oC dan penambahan sulfur 24 bsm. Pada kondisi reaksi vulkanisasi tersebut diperoleh faktis cokelat yang memiliki spesifikasi mutu terbaik meliputi kadar ekstrak aseton 52,43%, kadar sulfur bebas sebesar 1,20%, kadar abu 0,11%, dan pH sebesar 6,45 dan derajat ikatan silang 3,2 x 10-4 mol/mL. Faktis ini berwarna cokelat dan bertekstur kenyal. Mengacu pada sifat tersebut, faktis cokelat yang diperoleh layak dikembangkan pada skala yang lebih tinggi. Manufacture of rubber goods is began with rubber compounding by mixing the rubber with its chemicals including processing aids. The function of processing aids is to facilitate the compounding process. Brown factice from vulcanization of vegetable oil with sulphur, is the most processing aid being used in downstream rubber industry. During vulcanization, the triglyceride content on vegetable oil form crosslink which is bridged by sulphur. The research was aimed to determine the optimum condition of brown factice formation at laboratory scale (200 ml/batch) from castor oil which was reacted with various sulphur concentration (23 and 24 pho) and themperature of reaction (150oC, 160oC, dan 170oC). The determination of optimum condition was based on brown factice characteristic such physical visualization and chemical properties. The result showed that the optimum reaction condition was gained at themperature reaction of 150oC and sulphur concentration of 24 pho. By those condition, the brown factice had 52.43% extract acetone content, 1.20% free sulphur content, 0.11% ash content and pH 6.45 and crosslink density as 3.2 x 10-4 mol/mL. The brown factice also had good brown color and elastic texture. Based on its properties, the brown factice achieved was feasible to be developed at higher scale

    Pengaruh Penambahan Biomassa di Lahan Kering terhadap Diversitas Arthropoda Tanah dan Produktivitas Tebu

    Full text link
    Program pengembangan tebu saat ini diarahkan ke lahan kering yang memiliki ketersediaan air dan kesuburan tanah terbatas.  Kondisi lahan kering dapa menjadi pembatas produktvitas tebu.  Penambahan biomassa ke lahan dapat meningkatkan kesuburan dan populasi arthropoda tanah/detrivora.  Penelitian penambahan biomassa Crotalaria juncea  pada lahan kering  dilaksanakan di Kebun Percobaan Asembagus, Situbondo mulai bulan Januari–Juli 2015. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisa pengaruh penambahan biomassa pada lahan kering terhadap diversitas arthropoda tanah dan pengaruhnya terhadap produksi tebu. Perlakuan terdiri atas lahan dengan penambahan biomassa (serasah tebu dan pupuk hijau C. juncea) dan lahan yang tanpa penambahan biomassa.  Pengamatan kelimpahan arthropoda tanah dan tingkat diversitas dilakukan dengan pemasangan pitfall traps dan yellow pan traps. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Collembola dan Hymenoptera merupakan arthropoda tanah yang dominan. Indeks diversitas arhropoda tanah pada lahan dengan penambahan biomassa lebih tinggi (0,82–0,84) dibandingkan pada lahan tanpa penambahan biomassa (0,75–0,79). Penambahan biomassa pada tahun pertama dapat meningkatkan kandungan C Organik tanah dari 0,76 menjadi 1,06, dan meningkatkan kandungan N dari 0,03 menjadi 0,11, serta meningkatkan produksi tebu dari 70,4 ton/ha menjadi 101,4 ton/ha. Untuk memperbaiki kondisi ekosistem lahan kering diperlukan penambahan biomassa secara terus menerus.Effect of Biomass Addition in Dry Land to Diversity of Soil Arthropods and Productivity of SugarcaneThe current sugarcane development program is directed to dry lands that have limited water availability and soil fertility, thereby limiting the productivity of sugarcane.  In order to restore soil fertility and reduce the evaporation of groundwater, addition of biomass in the form of trash (dried leaves) of sugarcane as well as the addition of green manure (Clotalaria juncea) is needed.  Biomass addition to the land could increase soil fertility and the population of soil arthropods/detrivores.  The experiment was conducted on dry land at Asembagus Experimental Station, Situbondo from January 2015–July 2015.  The purpose of this research was to analyze the effect of biomass addition to the diversity of soil arthropods and sugarcane productivity.  Treatments consisted of land with the addition of biomass (sugarcane/sugarcane and green manure C. juncea) and control.  Observation of the abundance of soil arthropods and diversity level was done by setting pitfall traps and yellow pan traps, observation was done monthly.  The results showed that the order of Collembola and Hymenoptera were dominant arthropods. The diversity index of ground arhropods on the land with biomass increments was higher (0.82–0.84) than that in the land without biomass addition (0.75–0.79).  The addition of biomass in the first year succeeded in increasing the organic C content of soil from 0.62 to 1.06 and increasing the production of sugar cane from 70.4 tons/ha to 101.4 tons/ha.  In order to improve the ecosystems condition, it is required the addition of biomass continuously.Program pengembangan tebu saat ini diarahkan ke lahan kering yang memiliki ketersediaan air dan kesuburan tanah yang terbatas, sehingga menjadi pembatas produktvitas tebu.  Penambahan biomassa ke lahan dapat meningkatkan kesuburan dan populasi arthropoda tanah/detrivora.  Penelitian penambahan biomassa Crotalaria juncea  pada lahan tebu dilaksanakan di Kebun Percobaan Asembagus, Situbondo mulai bulan Januari - Juli 2015.  Tujuan penelitian adalah untuk menganalisa pengaruh penambahan biomassa terhadap diversitas arthropoda tanah dan pengaruhnya terhadap produksi tebu. Perlakuan terdiri atas lahan dengan penambahan biomassa (serasah tebu dan pupuk hijau C. juncea) dan lahan yang tanpa penambahan biomassa.  Pengamatan kelimpahan arthropoda tanah dan tingkat diversitas dilakukan dengan pemasangan pitfall traps dan yellow pan traps, Hasil penelitian menunjukkan bahwa Collembola dan Hymenoptera merupakan arthropoda tanah yang dominan. Indeks diversitas arhropoda tanah pada lahan dengan penambahan biomassa lebih tinggi (0,82–0,84) dibandingkan pada lahan tanpa penambahan biomassa (0,75–0,79). Untuk memperbaiki kondisi ekosistem diperlukan penambahan biomassa secara terus menerus. Penambahan biomassa pada tahun pertama berhasil meningkatkan kandungan C Organik tanah dari 0,76 menjadi 1,06, dan meningkatkan kandungan N dari 0,03 menjadi 0,11, serta meningkatkan produksi tebu dari 70,4 ton/ha menjadi 101,4 ton/ha. Effect of Biomass Addition in Dry Land to Diversity of Soil Arthropods and Productivity of Sugarcane ABSTRACT The current sugarcane development program is directed to dry lands that have limited water availability and soil fertility, thereby limiting the productivity of sugarcane.  In order to restore soil fertility and reduce the evaporation of groundwater, the addition of biomass in the form of trash (dried leaves) of sugarcane as well as the addition of green manure (Clotalaria juncea).  Biomass addition to the land could increase soil fertility and the population of soil arthropods/detrivores.  The experiment was conducted at Asembagus Experimental Station, Situbondo from January 2015–July 2015.  The purpose of this research was to analyze the effect of biomass addition to the diversity of soil arthropods and sugarcane productivity.  Treatments consisted of land with the addition of biomass (sugarcane/sugarcane and green manure C. juncea) and control.  Observation of the abundance of soil arthropods and diversity level was done by setting pitfall traps and yellow pan traps, observation was done monthly.  The results showed that the order of Collembola and Hymenoptera were dominant arthropods. The diversity index of ground arhropods on the land with biomass increments was higher (0.82–0.84) than that in the land without biomass addition (0.75–0.79).  In order to improve the ecosystems condition, it is required the addition of biomass continuously.  The addition of biomass in the first year succeeded in increasing the organic C content of soil from 0.62 to 1.06 and increasing the production of sugar cane from 70.4 tons/ha to 101.4 tons/ha

    Pengaruh Rizobakteri dalam Meningkatkan Kandungan Asam Salisilat dan Total Fenol Tanaman terhadap Penekanan Nematoda Puru Akar

    Full text link
     Penyakit puru akar pada tanaman kenaf (Hibiscus cannabinus L.) yang disebabkan oleh nematoda Meloidogyne spp. mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas serat. Kolonisasi rizobakteri dalam rizosfer berperan sebagai antagonis yang dapat dimanfaatkan dalam ketahanan tanaman terhadap patogen.  Peran rizobakteri sebagai bioprotektan dapat menurunkan populasi nematoda yang akan mempengaruhi perkembangan patogen penyebab penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rizobakteri yang potensial dalam meningkatkan ketahanan tanaman kenaf terhadap infeksi nematoda Meloidogyne spp. melalui pembentukan metabolit sekunder diantaranya kandungan total fenol dan asam salisilat. Aplikasi rizobakteri dengan cara perendaman dan tanpa perendaman baik secara tunggal maupun konsorsium.  Rizobakteri yang digunakan terdiri dari 3 jenis yaitu Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis, dan Azotobacter sp. Pengamatan kandungan total fenol dan asam salisilat diamati pada 15 dan 25 hari setelah inokulasi dengan menggunakan alat spektrofotometer. Peningkatan total fenol dan asam salisilat tertinggi diperoleh ketika benih kenaf direndam dengan bakteri P. fluorescens berturut-turut sebesar 513,45% dan 235,99%. Terdapat peningkatan bobot kering tanaman kenaf dengan aplikasi rizobakteri dibandingkan dengan kontrol. Effect of Rhizobacteria  in Content  of Salicylic Acid and Total Phenol of Kenaf Against Nematodes Infections Root knoot disease of kenaf caused by nematodes Meloidogyne spp. is an important disease since it lowers quality and quantity of the fiber. Colonization of rhizobacteria in rhizosphere acts as an antagonist that can be utilized in plant resistance to pathogens. The role of rhizobacteria as a bioprotectan could reduce nematode population, and thus affect development of the disease. This study aimed to evaluate the potency of rhizobacteria in improving kenaf resistance against root knot nematode by inhibiting the production of total phenols and salicylic acid. Application of rhizobacteria was done by soaking or without soaking kenaf seeds either singly or in consortium. There were three rhizobacteria used in this study, i.e: Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis, and Azotobacter sp. The content of total phenols and salicylic acid was observed at 15 and 25 days after inoculation using a spectrophotometer. The highest elevation level of total phenols and salicylic acid was obtained when kenaf seeds were soaked in P. fluorescens 513,45% and 235,99% respectively. There is an increase dry weight of kenaf with aplication of rhizobacteria compared with controls

    Pengaruh Pupuk Majemuk Berbentuk Granul dan Briket Terhadap Pertumbuhan, Produktivitas, dan Rendemen Tebu

    Full text link
    Program intensifikasi tebu dalam rangka meningkatkan produksi dan hablur dapat dilakukan dengan penambahan hara tanah melalui aplikasi pupuk.  Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas  pupuk majemuk NPK (22% N:12% P2O5:12% K2O) berbentuk granul dan briket terhadap pertumbuhan, produktivitas, dan rendemen tebu.  Penelitian dilakukan pada bulan November 2012-Oktober 2013 di Kebun Percobaan  Kalipare, Kabupaten Malang. Perlakuan meliputi (1) 600 kg/ha NPK granul (G1), (2) 700 kg/ha NPK granul (G2), (3) 800 kg/ha NPK granul (G3), (4) 1.000 kg/ha NPK granul (G4), (5)  600 kg/ha NPK granul (G5) + 300 kg/ha Ammonium Sulfat (AS), (6) 700 kg/ha NPK granul (G6) + 300 kg/ha AS, (7) 800 kg/ha NPK granul (G7) + 300 kg/ha AS, (8) 1.000 kg/ha NPK granul (G8) + 300 kg/ha AS, (9) 600 kg/ha NPK briket (B1), (10) 700 kg/ha NPK briket (B2), (11) 800 kg/ha NPK briket (B3), (12) 1000 kg/ha NPK briket (B4), (13) 600 kg/ha NPK briket (B5) + 300 kg/ha AS, (14) 700 kg/ha NPK briket (B6) + 300 kg/ha AS, (15) 800 kg/ha NPK briket (B7) + 300 kg/ha AS, (16)  1.000 kg/ha NPK briket (B8) + 300 kg/ha AS, (17) 600 kg/ha (N15, P15, K15) + 500 kg/ha AS (pembanding/aplikasi petani). Rancangan disusun secara acak kelompok dan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B8,  B6, B7, dan G8 menghasilkan pertumbuhan, produktivitas, rendemen, dan hasil hablur lebih tinggi dibanding dengan pembandingnya. Perlakuan B6 paling efisien dalam meningkatkan produktivitas (22,29 ton/ha), hasil hablur (2,03 ton/ha) dan keuntungan (Rp11.013.120,00/ha).The Influence of Granular and Briquette Compound Fertilizers on Growth, Productivity,and Sugar Content of SugarcaneIntensification program of sugarcane in order to increase production and sugar crystal can be done with the addition of soil nutrient through fertilizer application. This study aims to evaluate the effectiveness of NPK compound fertilizer (22% N:12% P2O5:12% K2O) in the form of granular and briquettes to growth, productivity, and sugar content. The research was conducted on November 2012–October 2013 at Kalipare Experiment Station, Malang. The treatments include (1) 600 kg/ha granule NPK (G1), (2) 700 kg/ha granule NPK (G2), (3) 800 kg/ha granule NPK (G3), (4) 1,000 kg/ha NPK granule (G6) + 300 kg/ha NPK granule (G5) + 300 kg/ha Ammonium Sulphate (US), (6) 700 kg/ha NPK granule (G6) + 300 kg / ha US, (7) 800 kg / ha NPK granule (G7) + 300 kg / ha US, (8) 1,000 kg / ha granule NPK (G8) + 300 kg/ha US, (9) 600 kg/ha NPK briquettes (B1), (10) 700 kg/ha NPK briquettes (B3), (12) 1.000 kg/ha NPK briquettes (B4), (13) 600 kg/ha NPK briquettes (B5) + 300 kg/ha US, (14) 700 kg/ha NPK briquette (B6) + 300 kg/ha US, (15) 800 kg/ha NPK briquette (B7) + 300 kg/ha US, (16) 1,000 kg/ha NPK briquettes (B8) + 300 kg/ha US, (17) 600 kg/ha (N15, P15, K15) + 500 kg/ha AS (famer’s application). The experiment was arranged design in randomized block design and repeated three times. The results showed that treatments B8, B6, B7, and G8 resulted in higher growth, productivity, and sugar production compared to farmer’s application. The treatment of B6 is the most efficient in increasing productivity (22.29 ton/ha), sugar production (2.03 ton/ha), and net profit (Rp11,013,120/ha)

    Pengaruh Komposisi Media Terhadap Induksi Tunas dan Akar Lima Genotipe Tanaman Agave Pada Kultur In Vitro

    Full text link
    Agave (Agave sisalana Perrine) merupakan tanaman penghasil serat alam. Pengembangan agave terkendala penyediaan bahan tanam bermutu. Teknik kultur jaringan dapat menghasilkan benih agave dalam jumlah banyak dengan kualitas yang seragam. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan komposisi media terbaik dalam induksi tunas dan akar lima genotipe agave pada kultur in vitro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balittas dari bulan Juli 2015 sampai Juni 2016. Sumber eksplan adalah tunas aseptik agave genotipe Balittas 10, Balittas 12, Balittas 13, Balittas 14, dan H-11648 dari kultur in vitro. Rancangan penelitian yang digunakan rancangan acak lengkap faktorial (dua faktor, tiga ulangan). Faktor I adalah komposisi media dan faktor II adalah genotipe. Komposisi media induksi tunas: M1 (MS + BAP 0,5 mg/l + IBA 0,5 mg/l); M2 (MS + BAP 1 mg/l + IBA 0,5 mg/l), dan M3 (MS + BAP 1,5 mg/l + IBA 0,5 mg/l). Komposisi media perakaran: M1 (MS + arang aktif 2 g/l); M2 (MS + arang aktif 2 g/l + IBA 0,5 mg/l); M3 (MS + arang aktif 2 g/l + IBA 1 g/l); M4 (MS + arang aktif 2 g/l + NAA 0,5 mg/l), dan M5 (MS + arang aktif 2 g/l + NAA 1 mg/l). Hasil penelitian menunjukkan komposisi media induksi tunas menghasilkan jumlah tunas (1,09–1,33) dan kecepatan induksi (4 minngu) yang tidak berbeda nyata. Komposisi media induksi akar yang terbaik adalah media M4 (MS + arang aktif 2 g/l + NAA 0,5 mg/l) dengan jumlah akar 4,53. Genotipe Balittas 14 menghasilkan jumlah tunas dan jumlah akar yang paling tinggi dibandingkan genotipe lain (1,56 tunas dan 4,59 akar). The Effect of Media Composition on The Induction of Shoot and Roots and of Five Agave Clones on In Vitro CultureAgave (Agave sisalana Perrine) is a plant that producenaturalfibre. Agave cultivation for commercial use is still limited by the availability of good plant materials. In vitro culture technique can produce  a large amount of plant material with same quality in relatively short time. The study aimed to obtain a suitable medium composition for in vitro shoot multiplication and root induction for five agave genotypes. The experiment was conducted from July 2015 to June 2016 in Tissue Culture Laboratory of Indonesian Sweetener and Fibre Crops Research Institute. Explant source derived from aseptic shoot of agave genotypesBalittas 10, 12, 13, 14, andH-11648 in in vitro ISFCRI germplasm collection. The experiment was arranged in factorial complete random design (two factors: media composition, genotype, and  three replication). Shoot induction media: M1 (MS + BAP 0.5 mg/l + IBA 0.5 mg/l); M2 (MS + BAP 1 mg/l + IBA 0.5 mg/l);and M3 (MS + BAP 1.5 mg/l + IBA 0.5 mg/l). Root induction media: M1 (MS + active carbon(AC) 2 g/l); M2 (MS + AC2 g/l + IBA 0,5 mg/l); M3 (MS + AC 2 g/l + IBA 1 g/l); M4 (MS + AC 2 g/l + NAA 0,5 mg/l);and M5 (MS + AC 2 g/l + NAA 1 mg/l). The results showed that the shoot induction media compositions were not differ significantly on shoot numbers (1.09–1.33) and time for shoot induction (4 weeks). The best composition medium of root induction was M4 (MS + AC 2 g/l + NAA 0.5 mg/l), that yielded 4.53 root numbers. Balittas 14 genotype yielded the highest shoot and root numbers (1,56 shoot numbers and 4.59 root numbers)

    Konsep dan Implementasi Teknologi Budi Daya Ramah Lingkungan pada Tanaman Tembakau, Serat, dan Minyak Industri Concept and Implementation of Environmentally-Friendly Technologies in Cultivation of Tobacco, Fiber, and Industrial Oil Crops

    No full text
    Penerapan teknologi ramah lingkungan budi daya tanaman pada suatu lahan akan dapat mempertahankan kelestarian lingkungan. Penciptaan teknologi budi daya tanaman tembakau, serat, dan minyak industri di-arahkan pada teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas dan mutu hasil, efisiensi biaya usaha tani, dan ramah lingkungan. Teknologi ramah lingkungan difokuskan pada penemuan komponen teknologi prapa-nen yang mempunyai dampak minimal terhadap pencemaran atau perusakan lingkungan, yang meliputi va-rietas-varietas unggul, teknik pengendalian hama dan penyakit, teknik konservasi lahan tembakau. Varietas-varietas unggul tersebut adalah varietas-varietas yang mempunyai ketahanan terhadap hama dan penyakit, yaitu tembakau Prancak 95, Prancak N1, Prancak N2, Kemloko 2, dan Grompol Jatim 1; kapas: Kanesia 11–Kanesia 13; kenaf: Karangploso 14–Karangploso 15; wijen: Sumberrejo 4; dan jarak kepyar: Asembagus 81. Teknik pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan adalah teknologi pengendalian hama yang membatasi atau meniadakan penggunaan insektisida kimia sintetik dan menerapkan teknik pengendalian de-ngan memanfaatkan peran musuh alami serangga hama atau antagonis patogen penyebab penyakit, dan penggunaan pestisida nabati. Teknik konservasi lahan untuk mengendalikan erosi dan penyakit lincat dikem-bangkan pada lahan tembakau temanggung dengan menerapkan penggunaan varietas tahan penyakit, pem-buatan terassering dan penguatnya, pengolahan lahan minimal, dan aplikasi mikroba antagonis. Teknologi ramah lingkungan tersebut telah diterapkan di tingkat petani dan memberikan dampak yang positif terhadap pengembangan komoditas.Technology innovations for tobacco, fibers, and industrial-oil crops are directed to increase production and quality of the products, efficiency, and environmentally-friendly technologies. The efficiency and environ-menttally-friendly technologies are focused on the pre-harvest technology innovations that have minimal im-pacts on environmental damages. The technologies include superior varieties, pest control, and land conser-vation. The superior varieties are those that resistant to either insect pests or diseases, i.e. tobacco: Prancak 95, Prancak N1, Prancak N2, Kemloko 2, and Grompol Jatim 1; cotton: Kanesia 11–Kanesia 13; kenaf: Ka-rangploso 14–Karangploso 15; sesame: Sumberrejo 4; and  castor: Asembagus 81.  Environmentally-friendly pest control is to limit or no use synthetic-chemical pesticides in pest control, but optimally make use the role of natural enemies and antagonists and use biopesticides. Land conservation technique to control erosi-on as well as ”lincat’ disease has been developed in fields of temanggung tobacco by using tobacco variety resistant to the disease, terracering, minimum tillage, and application of antagonist microbes. Those techno-logies has been implemented in the farmers’ fields and has a positive impacts for the commodity develop-ment.

    Pengaruh Komposisi Media Terhadap Produksi Konidia Jamur Entomopatogen Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin

    Full text link
    Penelitian pengaruh komposisisi media dan suhu terhadap produksi konidia Beauveria bassiana dilaksanakan di Laboratorium Patologi Serangga Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang mulai Mei sampai dengan November 2009. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan komposisi media terha-dap produksi konidia B. bassiana. Perlakuan yang digunakan adalah: (1) beras, (2) jagung, (3) beras+glu-kosa, (4) beras+yeast, (5) jagung+glukosa, dan (6) jagung+yeast. Setiap perlakuan disusun dalam rancang-an acak lengkap (RAL) dengan enam kali ulangan. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan dan produksi konidia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beras dan jagung berpotensi menjadi media tumbuh yang baik bagi jamur B. bassiana. Proses pembentukan konidia sudah dimulai pada 3 minggu setelah inoku-lasi, lebih cepat dibanding pada media jagung (4,5 minggu). Penambahan yeast lebih nyata meningkatkan produksi konidia B. bassiana pada beras maupun jagung dibanding dengan penambahan glukosa. Rata-rata produksi konidia pada komposisi media beras+yeast dapat mencapai > 4,0 x 109 konidia/g media dan lebih tinggi dibanding produksi konidia pada media lainnya (< 3,0 x 109 konidia/g media). Study on the effects of solid medium composition and temperature on conidia production of B. bassiana was conducted at Insect Pathology Laboratory of Indonesian Tobacco and Fiber Crops Institute (IToFCRI), Malang from May to November 2009. The objective of the study was to find out the effects of different me-dium composition. Treatments used were (1) whole rice, (2) broken maize, (3) whole rice+glucose, (4) whole rice+yeast, (5) broken maize+glucose, and (6) broken maize+yeast. Each treatment was arranged in randomized complete design (RCD) with six replications. Parameters observed were growth rate and conidial production of B. bassiana at room temperature. Results showed that whole rice and broken maize could be used as solid medium for B. bassiana. Conidia production was faster on most of medium based on whole rice than that on broken maize. On whole rice medium conidia of B. bassiana were produced about 10 days earlier than that on broken maize. Yeast and glucose addition into medium was able to speed up the fungi growth and to increase conidia production. Addition of yeast potentialy increased conidia production com-pared with other medium with glucose addition. Average production of conidia on whole rice+yeast was more than 4,0 x 109 conidia/g medium compared with any other medium composition that produced less than 3,0 x 109 conidia/g medium

    Tembakau Temanggung: Fotosintesis, Respirasi, Partisi Karbohidrat, Serta Keterkaitannya dengan Hasil dan Mutu Rajangan Kering

    Full text link
    Peningkatan hasil dan mutu tembakau temanggung dapat dilakukan bila sudah diketahui karakter tanaman serta keterkaitan antara karakter fisiologi dengan hasil dan mutu tersebut. Karakter fisiologi tanaman temba-kau temanggung (termasuk fotosintesis, respirasi, dan partisi karbohidrat) serta keterkaitan karakter terse-but dengan hasil dan mutu belum banyak diketahui. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi foto-sintesis, respirasi, partisi karbohidrat, serta kaitannya dengan hasil dan mutu rajangan kering dilakukan di rumah kaca Balittas, Malang pada Maret–Agustus 2008. Sembilan kultivar tembakau temanggung disusun dalam rancangan acak kelompok dan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis pada berbagai umur pengamatan bervariasi 0,6660,787 mg CO2/cm2/detik, sedangkan laju respirasi berva-riasi (0,040–0,238) x 10-2 mg CO2/g/det. Partisi karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada berbagai umur pengamatan bervariasi 65,4–78,7% dari karbohidrat untuk pertumbuhan tanaman. Adapun untuk daun ber-variasi 34,8–78,3%, batang bervariasi 23,2–53,3%, bunga bervariasi 11,7–37,4%, dan tunas samping ber-variasi 10,6–27,5% dari karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk. Partisi untuk pembentukan nikotin bervariasi 1,8–9,4% dari karbohidrat untuk pertumbuhan akar. Karakter partisi untuk tajuk dan akar pada 030 hst, partisi untuk nikotin dan jaringan akar pada > 60 hst, serta laju respirasi pada 45 hst mempunyai pengaruh sebesar 92,3% terhadap hasil tembakau temanggung. Adapun karakter partisi untuk nikotin dan tajuk pada > 60 hst, partisi untuk tajuk pada 30–45 hst, partisi untuk daun pada 0–30 hst, partisi untuk bunga, dan laju respirasi pada 45 hst mempunyai pengaruh sebesar 90,8% terhadap mutu tembakau temanggung. Yield and quality temanggung tobacco could be increased if plant characteristics and the relationship be-tween plant physiology characteristic and yield quality had been identified in which such relationship has not yet been defined clearly. An experiment to find several information of photosynthesis, respiration, carbo-hydrate partitioning and its relationship with yield and quality was conducted in glasshouse IToFCRI, Malang since March–August 2008. Nine cultivars of temanggung tobacco were arranged in randomized block design with three replications. The results showed that the photosynthetic rates at different ages observations va-ried from 0.666 to 0.787 mg CO2/cm2/sec, while the respiration rate varied (0.040 to 0.238) x 10-2 mg CO2/ g/sec. Carbohydrate partitioning for shoot growth at various ages observations varied from 65.4 to 78.7% from carbohydrates for plant growth. As for the leaves varied from 34.8 to 78.3%, varying 23.2 to 53.3% for stems, flowers vary 11.7 to 37.4%, and suckers varied 10.6 to 27.5% from carbohydrates for shoot growth. Carbohydrate partitioning to the formation of nicotine varied from 1.8 to 9.4% from carbohydrates for root growth. Carbohydrate partitioning for shoot and root at 0–30 dap, the partition to nicotine and root tissue at > 60 dap, and respiration rate at 45 dap have influence 92.3% on yield temanggung tobacco. Carbohydrate partitioning for nicotine forming and shoot at > 60 dap, the partition for shoot at 30–45 dap, partitioning to leaves at 030 dap, the partition to flower, and respiration rate at 45 days having the effect of 90.8% for the quality temanggung tobacco

    Potensi Nematoda Patogen Serangga Steinernema spp. dalam Pengendalian Hama Utama Tanaman Kapas

    Full text link
    Steinernema spp. memiliki potensi untuk mengendalikan hama tanaman kapas seperti Helicoverpa armigera dan Pectinophora gossypiella. Steinernema spp. mampu menyebabkan mortalitas P. gossypiella dan H. armi-gera berturut-turut sebesar 31,6–55,4 dan 46,3–63,8%. Steinernema spp. memiliki kemampuan membunuh lebih baik pada P. gossypiella, sedangkan kemampuan reproduksi dalam inangnya lebih baik pada H. armi-gera. Steinernema spp. mampu menginfeksi serangga inang lebih baik pada stadium ulat lebih tua diban-dingkan stadium muda. Steinernema spp. dapat diproduksi secara in vivo dan in vitro. Produksi secara in vivo dapat menggunakan Tenebrio molitor, Tirathaba rufivena, dan Attacus atlas. Produksi secara in vitro dapat menggunakan usus ayam, lemak sapi, dan minyak kedelai. Perlu dikembangkan formulasi Steinerne-ma spp. yang murah dan efektif untuk mengendalikan hama di atas permukaan tanah. Selain itu diperlukan pencarian isolat Steinernema spp. yang virulen dan cepat membunuh hama sasaran. Steinernema spp. could be potentially used for controlling H. armigera and P. gossypiella on cotton. Steiner-nema spp. causes mortality on P. gossypiella and H. armigera 31,6–55,4 and 46,3–63,8% respectively. The nematode causes a higher mortality on P. gossypiella than on H. armigera, however, produces more juvenile infective on H. armigera than on P. gossypiella. Higher successful infections of Steinernema spp. occurs on late larval stadium than on early one. Production of Steinernema spp. can be in vivo using Tenebrio molitor, Tirathaba rufivena, and Attacus atlas; and in vitro using chicken intestinum, cow lipid, and soy bean oil. For effecttively use, this nematode need to be formulated especially for controlling insect pests on soil surface, as well as finding the more virulent isolates against the target insects

    Analisis Kelayakan Usaha Tani dan Persepsi Petani terhadap Penggunaan Varietas Unggul Kapas

    Full text link
    Balittas telah melepas tiga varietas baru kapas seri Kanesia yang mempunyai ketahanan moderat terhadap Amrasca biguttulla, yaitu Kanesia 11, Kanesia 12, dan Kanesia 13. Analisis ekonomi dan persepsi pengguna terhadap varietas-varietas kapas yang telah dilepas dapat memberikan informasi tentang kelayakan suatu varietas untuk dapat dikembangkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang analisis ekonomi dan persepsi pengguna tentang varietas kapas Indonesia (Kanesia) yang mempunyai sifat ketahanan terhadap A. biguttulla. Penelitian ini dilaksanakan di daerah pengembangan kapas di Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah dari Maret–Oktober 2008. Dalam penelitian ini digunakan varietas Kane-sia 10, 11, 12, 13, dan Kanesia 8 sebagai pembanding. Pada kegiatan ini digunakan metode demonstrasi plot dan wawancara. Demonstrasi plot merupakan petak percobaan yang ditanami varietas yang akan di-analisis kelayakannya. Kegiatan ini menggunakan lahan seluas 4 hektar yang dimiliki oleh 11 orang petani. Tata tanam mengikuti pola yang diterapkan petani di Blora dan teknologi budi daya lain diterapkan sesuai rekomendasi Balittas. Pada kegiatan ini analisis kelayakan usaha tani kapas varietas baru dilakukan dengan membandingkan hasil usaha tani secara parsial pada musim tanam jagung dan kapas, yaitu kegiatan pada akhir bulan April sampai dengan awal hingga akhir bulan Agustus. Analisis dilakukan dengan membanding-kan hasil usaha tani varietas-varietas baru pada lahan petani peserta kegiatan ini dengan usaha tani varietas yang sudah digunakan di wilayah tersebut (ISA 205A) di lahan petani IKR dan dengan hasil usaha tani ja-gung di lahan petani yang tidak menanam kapas tumpang sari dengan jagung. Produksi kapas berbiji dari varietas-varietas baru yang diuji pada lahan petani peserta tidak berbeda nyata, tetapi lebih tinggi diban-dingkan dengan produksi varietas pembanding Kanesia 8 sehingga dapat dikatakan bahwa varietas-varietas baru tersebut lebih unggul produktivitasnya dibandingkan Kanesia 8. Budi daya tumpang sari kapas varietas baru dengan jagung memberikan pendapatan yang lebih baik dibandingkan Kanesia 8. Akan tetapi, jika di-bandingkan dengan usaha tani jagung + kapas varietas ISA 205A atau dengan pendapatan usaha tani ja-gung monokultur, maka pendapatan usaha tani varietas-varietas baru ini jauh lebih rendah. Faktor yang ber-pengaruh terhadap perbedaan ini adalah waktu tanam, serta penggunaan input saprodi dan tenaga kerja. Di antara varietas-varietas unggul baru yang diintroduksikan, preferensi petani tertinggi adalah pada Kanesia 10, karena produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan produksi varietas lainnya. Indonesian Tobacco and Fiber Crops Research Institute (IToFCRI) has released three cotton varieties which are moderate resistant to A. biguttulla, namely Kanesia 11, Kanesia 12, and Kanesia 13. Economic analysis and users’ perception to the new varieties would provide in important information of the variety’s feasibility for cotton development. The aim of this research activity was to obtain information about economic analysis and user’s perception of the newly released cotton varieties with moderately resistant to A. biguttulla. This research was conducted in cotton development area, in Jati, Blora, Central Java from March–October 2008. This research used cotton varieties, i.e. Kanesia 10, 11, 12, 13, and Kanesia 8 as a comparison. This re-search used demonstration plots and interview. Demonstration plots were plots where the evaluated varie-ties will be analyzed for their feasibility. This research activity used 4 hectares owned by 11 farmers. Planting system was as farmer’s practice, i.e., cotton intercropped with maize and cultivation technology recom-mended by IToFCRI. This analysis was done by comparing partially farming output of the new varieties planted by participant farmers with that of established varieties (ISA 205A) planted by non-participant farmers and with maize planted by non-participant farmers on April–August 2008. Cotton seed production of the new varieties was not significantly different, however, it was significantly higher than that of the compa-rison variety (Kanesia 8), so that those newly releases varieties are superior to the previously released va-riety. Intercropping maize with new cotton varieties gave a higher income than that with Kanesia 8. How-ever, it was much lower when comparing with the farming output of monoculture maize. Factors affected this different include planting time, the use of farming inputs including man power. Among the introduced cotton varieties, farmer’s preference was to Kanesia 10, because of its production performance

    70

    full texts

    87

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇