1,724,276 research outputs found
Real Exchange Rates and International Competitiveness of SAAR Countries: An Analysis of Bangladesh, India, Pakistan and Sri-Lanka for 1960-2000
In an attempt to measure the intra and international trade competitiveness, we construct the indices of real exchange rate (RER), the conventional measure of competitiveness, for four major South Asian Association of Regional Cooperation (SAARC) nations using annual data for the period of 1960-2000. The objective of the study is to examine the performances of the sampled countries especially after the economic reforms through trade liberalisation that have been taken place under South Asian Preferential Trading Arrangement (SAPTA) and comparing the evolution in Bangladesh, India, Pakistan and Sri Lanka. Our empirical results reveal that in terms of intra regional trade the smaller countries, namely Bangladesh and Sri Lanka reap the higher gains from openness in their trade regime. However, Bangladesh and India gained international competitiveness not until mid 1990s. Movements of Real exchange rates for Pakistan and Sri Lanka indicate that trade liberalisation efforts did not seem to have much positive gain in terms of international trade.SAARC, SAPTA, SAFTA, Trading Bloc, Intra- and international Competitiveness, Real exchange rate, Openness in trade regime
What does regional trade in South Asia reveal about future trade integration? Some empirical evidence
In 1995 the seven South Asian countries-Bangladesh, Bhutan, India, the Maldives, Nepal, Pakistan, and Sri Lanka-initiated a multilateral framework for regionwide integration under the South Asian Preferential Trade Agreement (SAPTA). In a recent initiative, members agreed that SAPTA would begin the transformation into a South Asian Free Trade Area (SAFTA) by the beginning of 2006, with full implementation completed between 2009 and 2013. The impetus toward regional preferential trading arrangements and greater regional economic integration raises many important issues, both for the South Asian region as a whole and for the individual countries. The author uses the natural trading partners hypothesis as the empirical criterion to assess the potential success of a South Asian trading bloc. Using various definitions of the natural trading partner hypothesis-based on trade volume, geographic proximity, and the complementarity approaches-the author demonstrates that the South Asian countries can be characterized only moderately as natural trading partners. This characterization is, however, largely a consequence of previous impediments to trade among regional members. The author further demonstrates through additional statistical measures-including revealed comparative advantage indices, trade concentration, and trade competition profiles-that the trade structures that have evolved among the South Asian Countries may not facilitate a rapid increase in intra-regional trade. But there is evidence that previous unilateral trade liberalization efforts in the South Asian countries have already had a positive impact in boosting both intra- and extra-regional trade. Continuing the process of unilateral liberalization, in parallel with regional integration, would aid the South Asian countries to continue to diversify their still narrow export bases and potentially evolve new comparative advantages and complementarities that could facilitate the successful implementation of SAFTA.TF054105-DONOR FUNDED OPERATION ADMINISTRATION FEE INCOME AND EXPENSE ACCOUNT,Trade and Regional Integration,Economic Theory&Research,Trade Policy,Environmental Economics&Policies
PENGANUT KEPERCAYAAN SAPTA DARMA DALAM BINGKAI EKSKLUSI
Abstrak
Warga Kerokhanian Sapta Darma di Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur mengalami eksklusi oleh pemerintah setempat dan beberapa kelompok lokal. Sehingga warga Kerokhanian Sapta Darma yang notabennya penghayat kepercayaan harus mengalami diskriminasi dan marjinalisasi. Pendekatan dalam studi ini mengunakan teknik pengalian sumber data primer dan skunder, dengan sarana wawancara, observasi, dokumentasi, serta keabsaha data yang menggunakan teknik triangulasi. Sumber yang didapat akan digunakan untuk memahami bagaimana terbentuknya eksklusi yang menimpa warga Kerokhanian Sapta Darma? serta upaya apa saja yang warga Kerokhanian Sapta Darma lakukan dalam mengatasinya? Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dan tindakan kelompok lokal telah menyudutkan warga Kerokhanian Sapta Darma dalam bingkai eksklusi dan diskriminasi. Eksklusi yang diakibatkan oleh kebijakan pemeirntah, berupa sulitnya akses warga Sapta Darma dalam sarana pendidikan dan hak-hak kewarganegaraannya. Diskriminasi oleh kelompok lokal dengan memberikan stereotip buruk kepada warga Kerokhanian Sapta Darma, yang dianggap sesat. Dalam menyikapi perkara ini, warga Kerokhanian Sapta Darma tidak patah semangat, mereka selalu berjuang untuk hak kewarganegaraanya, dan selalu berpegang teguh pada prinsip hidup, yaitu ‘Ing ngendi bae lan marang sapa bae warga Sapta Darma kudu sumunur pindha baskara’.
Kata Kunci: Sapta Darma, Kebijakan Pemerintah, Eksklusi Kelompok Lokal
KONSEP KETUHANAN DALAM AJARAN SAPTA DARMA
ABSTRAK
Banyak masyarakat yang menganut aliran atau agama
tradisional. Salah satu dari aliran kepercayaan yang memiliki
banyak pengikut, yakni Sapta Dharma. Kepercayaan ini merupakan
sebuah organisasi yang pokok ajarannya adalah melaksanakan
tujuh kewajiban suci yang bertujuan untuk membentuk kerohanian
dan budi luhur dan berusaha membina kebahagiaan hidup manusia
di dunia dan akhirat. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk
mengetahui konsep ketuhanan dalam ajaran Sapta Darma,
bagaimana mereka bisa bertahan dalam lingkungan mayoritas, dan
apakah ada keterhubungan dengan agama agama besar.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research).
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi,
yaitu berupa data yang telah dikumpulkan dari beberapa rujukan
seperti buku-buku, jurnal ilmiah dan lainnya. Serta penulis
meminta buku wajib atau buku karangan langsung yang digunakan
oleh ajaran ini, untuk dijadikan bahan primer dalam penelitian ini.
Dalam penelitian ini penulis akan berusaha untuk membuat
gambaran umum secara sistematis, akurat, dan faktual mengenai
suatu fakta, sifat, hingga hubungan antar fenomena yang diteliti.
Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya penulis melakukan
análisis data. Analisis data adalah suatu proses penyusunan data
agar dapat ditafsirkan. Dan metode analisis data yang digunakan
ialah Content Analysis (analisis isi), yaitu upaya menafsirkan
gagasan atau ide tentang “Konsep Ketuhanan” dalam Ajaran Sapta
Darma, yang kemudian ide tersebut dianalisis secara mendalam
guna menjawab permasalahan krisis lingkungan yang terjadi saat
ini.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, Sapta
Darma termasuk aliran kebatinan yang sederhana, oleh karenanya,
ajaran tentang Tuhan juga sangat singkat. Dalam konsep ketuhanan
yang dianut oleh aliran Sapta Darma disebutkan bahwa Allah
adalah Zat yang Mutlak, pangkal segala sesuatu, serta pencipta segala yang terjadi. Para penganut Sapta Darma sangat beragam
baik muslim maupun non- muslim diantaranya; ragam profesi,
pendidikan, agama dan status sosialnya. Keragaman penganut
Sapta Darma dengan berbagai latar belakang memiliki keunikan
tersendiri. Mengenal sosio-religi Sapta Darma mengajarkan
kehidupan yang damai dan tentram ‘guyub rukun’. Keragaman
Sapta Darma melahirkan keunikan dalam memahami ajaran Sapta
Darma terutama pada aspek implementasi.
Di dalam skripsi yang penulis teliti, yaitu tentang konsep
ketuhanan dalam ajaran Sapta Darma, tentu masih banyak yang
perlu di kaji lebih dalam lagi. Maka semua pihak yang memiliki
pengetahuan yang lebih mendalam lagi tentang konsep ketuhanan
dalam ajaran Sapta Darma, penulis merekomendasikan untuk
mengeksplorasi buku-buku keagamaan.
Kata kunci: Aliran Kepercayaan Sapta Darma
SPIRITUALITAS DALAM SINKRETISME ISLAM DAN SAPTA DARMA
Every adherent of a religion or belief has a certain way to get closer to God. A strong desire to be close to God the creator of nature is a spirituality that can change human behavior for the better. The meeting between Islam and Sapta Darma is a way to find inner calm which has the concept of physical and spiritual awareness. Hence this article wants to explain the form of syncretism between Islam and Sapta Darma in Surabaya in the form of prostration or ening. The prostration performed by Sapta Darma is not a prayer, but a special ritual of seeking tranquility in the experience of life as a cultural interpretation. Prostration in Islam is the implementation of prayer to get closer to Allah with the provisions taught in Islam. This study uses in-depth interview as methodology to find the stage of religious maturity from the aspect of Shari'a and the implementation of religious teachings. This Research finds that, even though the syncretism between Islam and Sapta Darma is so pronounced but, this condition encourages its followers to maintain the two because they find what they want to achieve namely, balance and spiritual well-being. It shows that Islam and Sapta Darma are not as an escape but, as a way of life. This study also aims to provide a new perspective or paradigm in understanding religious concepts and spiritual values through syncretism between Islam and Sapta Darma. Syncretic diversity has been attached to society and has become the cultural identity of its locality.Setiap penganut agama atau kepercayaan memiliki cara tertentu untuk mendekatkan diri dengan Tuhannya. Keinginan yang kuat untuk dekat dengan Tuhan pencipta alam merupakan spiritualitas yang mampu mengubah perilaku manusia menjadi lebih baik. Pertemuan antara Islam dan Sapta Darma menjadi jalan untuk menemukan ketenangan batin yang memiliki konsep kesadaran jasmani dan rohani. Artikel ini menjelaskan bentuk sinkretisme antara Islam dan Sapta Darma di Surabaya, dalam bentuk sujud atau ening. Sujud yang dilakukan Sapta Darma bukanlah pelaksanaan sholat tetapi, ritual khusus mencari ketenangan dalam pengalaman hidup sebagai interpretasi budaya. Sujud dalam Islam adalah pelaksanaan sholat untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ketentuan yang diajarkan dalam Islam. Studi ini menggunakan metode in-depth interview guna, menemukan tingkat kematangan dalam beragama dari aspek syariat dan implementasi ajaran agama. Temuan penelitian menunjukan, kendati sinkretisme antara Islam dan Sapta Darma begitu terasa namun, kondisi ini mendorong mereka tetap mempertahankan keduanya karena, menemukan apa yang ingin dicapai yaitu, keseimbangan dan kesejahteraan spiritualitas. Agama Islam dan Sapta Darma bukan sebagai pelarian hidup semata tetapi, paradigma baru untuk memahami konsep keberagamaan dan nilai-nilai spiritualitas umat beragama melalui sinkretisme Islam dan Sapta Darma. Keberagamaan sinkretis telah melekat pada masyarakat dan menjadi identitas budaya lokalitasnya
Konsepsi Sujud dalam Ajaran Sapta Darma
Skripsi ini membahas tentang Sujud Menurut Ajaran Sapta Darma, maka dari itu penulis berkesimpulan bahwa: Ajaran Sapta Darma yaitu Sujud diwahyukan kepada pendirinya yang didirikan oleh HardjoSapoero pada tanggal 27 Desember 1952, pukul satu malam, yang dibimbing langsung oleh Hyang Maha Kuasa. Pada waktu itu secara tidak sadar HardjoSapoero digerakkan seluruh tubuhnya dengan gerak yang sekarang menjadi pedoman bagi persujudan Sapta Darma, sambil mengucapkan segala kalimat, yang sekarang juga dipergunakan pada upacara persujudan. Bagi warga Sapta Darma diwajibkan Sujud dalam sehari semalam sedikitnya satu kali. Lebih dari sekali lebih baik, dengan pengertian bahwa yang penting bukan banyaknya melakukan sujud, tetapi dilihat dari kesungguhan sujud. Dalam melaksanakan Sujud yang benar dan supaya bisa menyatu dengan Allah Hyang Maha Kuasa, warga Sapta Darma harus menjalankan beberapa jalan diantaranya: Duduk tegap menghadap timur. Bagi pria duduk bersila, dapat dilakukan dengan sila tumpang artinya kaki kiri dibawah kaki kanan diatas. Bagi wanita duduk betimpuh
Komposisi Karawitan"Sapta Pesona"
Komposisi Karawitan"Sapta Pesona"
Karya: Dedek Wahyudi Sutrisno, Ujian penyajian Karawitan, Pendapa ISI Surakart
Trade Potential in SAFTA: An Application of Augmented Gravity Model
The present paper investigates the trade creation and trade diversion effects of a number of RTAs, with special focus on the SAFTA, by using a gravity model. Apart from the traditional gravity variables, the model is augmented by some other import variables (e.g. bilateral exchange rate, bilateral free trade agreement). To capture the individual country effect, along with the impact of overall RTA, a set of additional dummy variable has been introduced. The model developed in this paper is estimated by using panel data approach with country-pair specific as well as year specific fixed effects. Two stages estimation technique is deployed to arrive at the estimates. The first stage is estimated using Tobit Model, while OLS is applied in the second stage. The study finds significant intra-bloc export creation in SAPTA; however, at the same time there is evidence of net export diversion in the SAPTA. Bangladesh, India and Pakistan are expected to gain from joining the RTA, while Nepal, Maldives and Sri Lanka are likely to be negatively affected. Among the other RTAs covered under the present study, AFTA, NAFTA, SADC, MERCOSUR, CAN, EAC are associated with intra-bloc export creation and net export diversion. EU and Bangkok agreement (APTA) are found to be intra-bloc export diverting and net export diverting. BIMSTEC is found to be intra-bloc export diverting but there is no evidence of net export creation or diversion. Although none of the RTAs covered by the study was found to be net export creating, more than one third of the members of these RTAs are found to be positively affected by joining the RTAs.Trade potential, SAFTA, RTA, Gravity Model, Bangladesh, India, Pakisthan, Sri Lanka, Nepal, Maldives
Implementasi Sapta Pesona Pada Museum Mandala Wangsit Siliwangi Kota Bandung
ABSTRAK
Museum merujuk kepada bangunan tempat menyimpan khazanah sejarah purba atau yang lalu. Museum penting sebagai tempat kita memperdalam pengetahuan tentang sejarah masa lampau. Banyak dari masyarakat kurang berminat untuk datang ke museum. Wisatawan menjadikan museum sebagai tempat wisata alternatif. Pengunjung yang berkunjung ke museum sendiri kebanyakan karena adanya jadwal tour atau kunjungan dari instansi atau sekolah-sekolah para pengunjung yang mengagendakan untuk mengunjungi museum. Mendirikan suatu tempat wisata harus memperhatikan hal-hal yang penting dalam dunia pariwisata, salah satunya yaitu sapta pesona. Sapta pesona merupakan kondisi yang harus diwujudkan dalam rangka menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke suatu daerah atau wilayah di negara kita. Sementara itu kondisi yang terlihat saat ini 7 (tujuh) unsur sapta pesona tersebut belum terwujud secara maksimal pada Museum Mandala Wangsit Siliwangi, masih ada beberapa unsur dalam sapta pesona yang belum diwujudkan oleh pengelola museum sehingga mempengaruhi daya tarik wisatawan hingga saat ini. Beberapa unsur yang belum maksimal penerapannya yaitu indah dan kenangan. Maka perlu dilakukan perubahan manajemen, promosi, dan pemugaran tata ruang pada Museum Mandala Wangsit berdasarkan 7 (tujuh) unsur dari sapta pesona. Implementasi sapta pesona dilakukan agar dapat menarik wisatawan dan meningkatkan tingkat kunjungan.
Kata Kunci: Museum, Implementasi dan Sapta Pesona.
ABSTRACT
Museum refers to the building that keeping the treasures of ancient history or past. Museum is important for our place deepen the knowledge of past history. Many of them are less interested to come to the museum. Travelers make the museum as an alternative tourist spot. Visitors who visit the museum itself mostly for their tour schedule or from institutions or schools of the visitors which was scheduled to visit the museum. Establishing a tourist must pay attention to things that are important in the world of tourism, one of Sapta Pesona. Sapta pesona is a condition that must be realized in order to attract more tourists to visit an area or region in our country. Meanwhile the condition seen at this time there are 7 (seven) elements of Sapta Pesona have not been realized to the maximize at the Museum Mandala Wangsit Siliwangi, still there are some elements in Sapta Pesona are not realized by the museum management that influence the tourist attraction until this time. Some elements are not maximized application that is beautiful and memorable. It is necessary to change the management, promotion, and restoration spatial Mandala Museum Wangsit by 7 (seven) elements of Sapta Pesona. Implementation of Sapta Pesona is done in order to attract tourists and increase the level of tourist traffic.
Keywords: Museum, Implementation, Sapta Pesona
PENGARUH AJARAN WEWARAH TUJUH TERHADAP ETOS KERJA PENGHAYAT KEPERCAYAAN SAPTA DARMA (Studi Kasus: Penghayat Sapta Darma Di Sanggar Candi Sapta Rengga Yogyakarta)
Indoensia merupakan salah satu negara yang majemuk. Hal ini dapat dilihat dari berbagai hal seperti, ragam bahasa, budaya, adat istiadat, agama, bahkan aliran-aliran kepercayaan pun ada di negara Indonesia ini. Yogyakarta salah satu provinsi yang masih begitu kental dengan keragaman Budayanya, tidak jarang banyak festival-festival yang di selenggarakan di berbagai sudut kota Yogyakarta. Sebagai salah satu pusat pendidikan, kota Yogyakarta juga sering kali di datangi oleh orang-orang di luar kota bahkan di luar pulau hanya untuk mencari ilmu. Di tengah tengah kemajemukan di Indonesia khusus nya di Yogyakarta, ada sebuah kepercayaan yang mereka menyebutnya dengan sebutan Sapta Darma. Sapta berarti tujuh (7) sedangkan Darma berarti kewajiban suci. Bisa disimpulkan bahwa kepercayaan Sapta Darma ini memiliki tujuh kewajiban atau tujuh ajaran yang misti di jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Baik itu kewajiban kepada Tuhan, kepada Negara, kepada masyarakat ataupun kepada diri sendiri. Kewajiban tersebut dinamakan wewarah tujuh atau jika dalam bahasa Jawa wewarah pitu. Selain dari wewarah tujuh ada juga ajaran ajaran dalam Sapta Darma lainnya, seperti sujud, racut, simbol pribadi manusia, dan juga Sesanti.
Selanjutnya penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan datanya yaitu dengan metode, observasi, wawancara, dan juga dokumentasi. Selain itu penulis juga mengambil beberapa sumber dari buku ataupun tulisan yang relevan dengan penulisan ini. Penelitian yang dilakukan penulis ini dimaksudkan menjelaskan relasi bagaimana ajaran-ajaran yang sudah di kemukakan diatas dalam membentuk sebuah tindakan baik itu tindakan tradisional, tindakan afektif, tindakan berorientasi nilai ataupun tindakan berorientasi tujuan,. Selain itu penulis merinci bagaimana pengaruh dari ajaran wewarah tujuh Sapta darma terhadap etos kerja nya penganutnya. Dengan menggunakan teori yang di kemukakan oleh Webber. weber berfokus pada pengaruh keyakinan agama terhadap melakukan sebuah tindakan.
Sehingga dihasilkan kesimpulan bahwa, pada dasarnya setiap warga Sapta Darma memiliki varian dalam menjalankan kewajiban nya. Dalam pandangan mereka ajaran wewarah tujuh ini memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam menjalani kehidupan, karena di dalamnya mengandung nilai-nilai ketuhanan, bernegara, bekerja, dan juga berhubungan sosial. Dalam melakukan pekerjaan sehari-hari sudah selayaknya seorang warga melakukan sebuah pekerjaan dalam rangka mencukupi segala kebutuhan sehari-harinya, kemudian dalam pandangan warga Sapta Darma kerja merupakan sesuatu yang sangat penting karena dalam pandangan mereka bekerja sama pentimgnya dengan beribadah. Oleh karena itu ketika mereka bekerja, mereka akan senantiasa melakukan yang terbaik. Kemudian dari ajaran wewarah tujuh ini membentuk seseorang dalam hal keimnanan warga Sapta Darma yang kemudian mempengaruhi apa yang dikerjakan oleh warga Sapta Darma
- …
