Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta
Indonesian Institute of the Art YogyakartaNot a member yet
16125 research outputs found
Sort by
Performativitas Pemain Kendang Perempuan dalam Kesenian Ebeg di Banyumas Jawa Tengah
Penelitian ini mengkaji transformasi gender dalam kesenian Ebeg Banyumas melalui fenomena kehadiran Firda Apriani sebagai pemain kendang perempuan. Secara historis, kesenian Ebeg yang dikenal dengan unsur mistis dan penggunaan kuda kepang telah lama menampilkan segregasi peran berbasis gender. Melalui pendekatan analisis kritis, penelitian ini mengungkap bagaimana masuknya pemain kendang perempuan tidak hanya menantang norma tradisional, tetapi juga mencerminkan pergeseran dinamika sosial-budaya dalam masyarakat Banyumas.
Studi ini menunjukkan bahwa keberhasilan Firda dalam memainkan kendang jaipong dan kendang ciblon Banyumasan tidak semata-mata didasarkan pada kemampuan teknisnya, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti latar belakang keluarga seniman dan penampilan fisik. Fenomena ini menghadirkan pertanyaan kritis tentang standar ganda dalam penilaian performativitas perempuan di ruang publik tradisional. Meskipun kehadirannya dianggap sebagai terobosan progresif, penelitian ini juga menggarisbawahi bagaimana eksploitasi media sosial dan aspek visual dapat menguatkan stereotip gender yang ada, sekaligus membuka diskusi tentang autentisitas dan modernisasi dalam pelestarian seni tradisional
Perempuan Dalam Praktik Kerja Tata Kelola Teater
Peluang kerja dalam teater bukan hanya pada ranah penciptaan karya tetapi juga manajerial. Kesamaan atas hak dan peluang untuk bekerja di dalam teater dimiliki siapapun, baik laki-laki maupun perempuan. Salah satu permasalahan yang dialami oleh perempuan yang bekerja di wilayah non-artistik sebuah organisasi teater adalah masih merangkap tugas yang menuntut perempuan menjadi pekerja yang multitasking atau multi-job. Permasalahan yang dialami oleh setiap subjek pada organisasi yang berbeda memiliki metode penanganan yang berbeda pula. Penelitian ini akan menganalisis secara lebih dalam bagaimana gaya kepemimpinan perempuan. Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Studi Kasus. Data dalam penelitian ini akan diambil melalui observasi dan wawancara mendalam. Hasil penelitian yang didapatkan akan dianalisis kembali menggunakan teori manajemen seni pertunjukan, teori perempuan dalam dunia kerja (gender at work), dan teori gaya kepemimpinan perempuan dengan menggunakan perspektif feminis. ketimpangan Ditemukan ketimpangan pada kerja domestik untuk perempuan. Terdapat kontradiktif pada hasil penelitian. Para Narasumber menyatakan bahwa pelabelan pekerjaan perempuan memang hasil dari kontruksi sosial tetapi tidak dianggap sebagai suatu masalah gender. Tindakan pencegahan ketimpangan berbasis gender dilakukan secara individu maupun institusional
Proses Kreatif Pembuatan Lagu Delusi oleh Kalaska di Yogyakarta
Percintaan adalah hal yang akan dialami oleh sebagian besar manusia yang ada di dunia. Belakang ini, musik dengan tema percintaan amat sangat digemari oleh pendengar musik tanah air. Dangdut dan pop menjadi salah satu genre musik yang banyak mengeluarkan karya bertema kisah asmara mengenai patah hati, jatuh cinta, dan hal-hal yang dialami ketika manusia menjalani hubungan asmara. Namun tidak sedikit juga para musisi melahirkan karya musik yang tidak hanya mengangkat cerita mengenai kisah asmara. Delusi menjadi salah satu karya yang lahir dari cerita kehidupan anak muda dengan pergaulan sosialnya. Penelitian ini bertujuan mengungkap proses kreatif yang dilakukan oleh grup musik kalaska dalam pembuatan karya lagu Delusi menggunakan teori The Four P’s of Creativity dari Mel Rhodes. Fokus utama penelitian ini adalah memahami tahapan-tahapan yang dilalui dalam proses kreatif, faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan lagu, serta bagaimana inspirasi dan konsep lagu diimplementasikan oleh Kalaska band dalam menciptakan karya lagu Delusi. Pengumpulan data menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Kalaska memiliki kreativitas pada aspek non musikal, Kalaska mampu mengeksplorasi ide tema tentang pergaulan sosial yang dianggap kurang baik untuk masyarakat pada umumnya menjadi sebuah karya lagu yakni tentang mengonsumsi minuman-minuman beralkohol, sedangkan pada aspek musikal dalam proses kreatif lagu “Delusi”, Kalaska mampu memberikan inovasi pada karyanya dengan bereksperimen menyisipkan aransemen dengan nuansa musik keroncong pada bagian lagu “Delusi” yang pada dasarnya bergenre Ska menjadikan karya ini menjadi karya yang memiliki keunikan dan keindahan yang kompleks. Delusi menambah ragam karya musik baik mengenai cerita maupun aransemen karya musik yang muncul belakangan ini
Perancangan Interior The Gaia Hotel Pontianak Dengan Pendekatan Eco-Cultural Design
Desain interior hotel The Gaia merupakan outlet city kota Pontianak. Hotel ini merupakan hotel yang sedang dalam tahap Pembangunan. Berlokasi di Pontianak Selatan, kota Pontianak dan terdiri dari 19 lantai, serta menawarkan total 213 unit kamar dengan pemandangan kota Pontianak. Hotel ini menurut hukum yang berlaku, termasuk dalam klasifikasi hotel bisnis bintang 5. Problem desain yang dihadapi untuk menjadi outlet city adalah menemukan ide solusi desain berbasis kebudayaan dan kekayaan alam Kalimantan. Solusi desain Eco-Cultural dalam perancangan kali ini digunakan untuk menjawab kebutuhan optimalisasi kekayaan budaya dan alam Kalimantan sebagai solusi desain interior hotel The Gaia Pontianak. Penerapan sisi alam dan budaya Kalimantan diimpelementasikan melalui penerapan ornamen-ornamen yang terinspirasi dari kekayaaan budaya Kalimantan. Gaya yang digunakan dalam perancangan The Gaia Hotel adalah modern contemporary yang dapat memberikan kesan timeless pada interior hotel dan juga kombinasi aksen luxury pada ornamen yang digunakan dapat memberikan kesan mewah pada interior hotel untuk menunjukan citra The Gaia Hotel sebagai hotel bintang 5. Dengan oplimalisasi keanekaragaman hayati, flora, dan fauna Kalimantan serta keunikan budaya Kalimantan diharapkan desain hotel The Gaia menjadi daya tarik pariwisata dan outlet city Kalimantan
Destructive Fishing terhadap Terumbu Karang Sebagai Ide dalam Karya Art Fashion
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya laut yang melimpah, termasuk terumbu karang seluas 7.000 km² dan lebih dari 480 jenis karang. Namun, aktivitas destructive fishing, seperti penggunaan pukat harimau, bom, dan racun, telah merusak ekosistem laut, termasuk terumbu karang. Kerusakan ini menyebabkan hilangnya habitat biota laut yaitu terumbu karang, penurunan populasi ikan, dan berkurangnya perlindungan pantai dari gelombang laut. Fenomena ini menginspirasi penulis untuk menciptakan karya seni berupa art fashion sebagai bentuk kampanye dan kritik terhadap dampak buruk aktivitas destructive fishing terutama terhadap kehidupan terumbu karang. Proses penciptaan dilakukan dengan metode practice-based research yang melibatkan observasi, imajinasi, pengembangan konsep, dan implementasi karya. Tahapannya dimulai dengan mengobservasi dan mengumpulkan data tentang fenomena destructive fishing yang merusak terumbu karang, dilanjut dengan imajinasi yang dibuat penulis menjadi karya busana art fashion dan pengembangan konsep dari segi teknik, bentuk dan warna yang akan diimplementasikan. Teknik yang dipakaipun beragam seperti jumputan, makrame dan jahit. Hasil yang dicapai adalah 4 busana dan 4 hiasan kepala yang saling mempunyai cerita dari fenomena aktivitas tersebut.Melalui pendekatan estetika dan artivisme, karya ini dirancang untuk menyampaikan pesan sosial dan lingkungan. Karya ini diharapkan tidak hanya menjadi ekspresi artistik, tetapi juga media edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem laut, khususnya terumbu karang. Dengan mengintegrasikan seni dan aktivisme, penulis memberikan ruang kreatif untuk menuangkan keresahan atas isu lingkungan ke dalam karya seni tekstil yang inovatif dan bermakna.
Kata Kunci : Destructive Fishing, Art Fashion, Terumbu Karan
Hole
Hubungan antara orang tua dan anak merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, namun sering kali dipengaruhi oleh konflik nilai dan pandangan. Karya ini menggambarkan perjalanan emosional seorang anak perempuan yang menghadapi putusnya hubungan dengan ayahnya akibat perbedaan prinsip dalam momen-momen penting kehidupannya, termasuk kehamilan di luar rencana. Kisah empiris ini menjadi inspirasi untuk menciptakan karya tari berjudul "Hole", sebuah koreografi tunggal dalam format video yang mengangkat tema kekosongan, perjuangan, dan ketahanan.
Melalui eksplorasi gerakan berbasis contemporary ballet, karya ini menekankan elemen ekspresi emosional dan simbolisme untuk menggambarkan proses penerimaan dan pertumbuhan diri di tengah konflik keluarga. Dengan pendekatan Stoikisme, seperti konsep dichotomy of control dan amor fati, penata mengintegrasikan pengalaman pribadi menjadi sebuah karya yang menggugah dan bermakna. Koreografi ini juga menggunakan elemen musik, tata cahaya, serta desain ruang yang mencerminkan dinamika emosi dari berbagai fase kehidupan karakter utama.
Tujuan dari karya ini adalah untuk menciptakan ruang ekspresi artistik yang mengkomunikasikan pengalaman pribadi, menginspirasi empati penonton, dan memenuhi tugas akademik. Selain itu, karya ini memberikan wawasan tentang pentingnya kesadaran kesehatan mental, ketahanan emosional, dan keberanian dalam menghadapi tantangan hidup. Koreografi "Hole" diharapkan dapat menjadi representasi seni yang menyentuh sekaligus inspiratif bagi penontonnya
Childfree Sebagai Sumber Penciptaan Naskah Drama Geruh Gerah
Geruh Gerah merupakan sebuah naskah drama yang bersumber dari fenomena childfree. Berangkat dari kekhawatiran - kekhawatiran yang semakin relevan dalam masyarakat modern, serta wawancara narasumber yang memilih untuk tidak mempunyai anak seringkali dipandang kontroversial lalu diangkat menjadi sebuah karya naskah drama. Penciptaan naskah drama Geruh Gerah menggunakan teori inner conflict dan peram sosial gender Teori inner conflict digunakan untuk menggali konflik batin yang dialami oleh karakter utama dan peran sosial gender digunakan untuk menjelaskan dinamika hubungan antara tokoh-tokoh, khususnya terkait harapan dan tekanan sosial yang dihadapi tokoh utama. Penulis menggunakan metode Graham Wallas untuk metode penciptaan tetapi pada tahap ini penulis memodifikasi metode penciptaan Graham Wallas . penulis memulai dengan tahap persiapan, kemudian dilanjutkan dengan tahap inspirasi, tahap pengeraman dan tahap pengujian Hasil dari penciptaan ini adalah naskah drama Geruh Gerah. Naskah ini menceritakan seorang wanita bernama Aruna yang memilih hidup untuk tidak mempunyai anak karena mempunyai trauma masa lalu. Ia memilih untuk merahasiakannya hal tersebut dari mertuanya, tetapi semua berubah ketika mertunya mengetahui rahasianya selama ini
Transformasi Tokoh Nurbaya dalam Novel Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai Karya Marah Rusli dengan Serial Musikal Nurbaya Karya Naya Anindita dan Venytha Yoshianthini
Serial Musikal Nurbaya merupakan sebuah karya kolaborasi antara teater
dan film yang diproduksi Indonesia Kaya tahun 2021. Serial ini terinspirasi dari
novel legendaris Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli.
Transformasi tokoh Nurbaya merupakan proses kreatif penulis naskah dan
sutradara yang telah membawa cerita Sitti Nurbaya ke latar Jakarta tahun 1970-an,
zaman dimana prostitusi dan perjudian bersifat legal. Tokoh Siti Nurbaya
digambarkan sebagai seorang perempuan cerdas, putri tunggal Baginda Sulaiman
sang pemilik surat kabar Cakrawala. Nurbaya berdaya, berkemauan kuat, bercitacita tinggi, dan mempunyai misi besar yakni membongkar kejahatan praktik
prostitusi suaminya sendiri, Tuan Meringgih. Nurbaya dibantu oleh temantemannya dalam menguak kebobrokan Taman Edan, namun di tengah misinya, ia
dibunuh Tuan Meringgih. Samsul Bahri meneruskan perjuangan Nurbaya dan
berhasil memenangkan sidang melawan Tuan Meringgih.
Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi tokoh Nurbaya dalam
Serial Musikal Nurbaya dengan tokoh Nurbaya dalam novel Sitti Nurbaya karya
Marah Rusli. Penelitian ini menggunakan teori transformasi dan ekranisasi,
sedangkan metode penelitiannya memakai metode kualitatif deskriptif. Teknik
dokumentasi dan studi pustaka digunakan sebagai metode pengumpulan data.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Serial Musikal Nurbaya memiliki
sejumlah perbedaan dari segi tema, alur, penokohan, dan latar dari novel aslinya.
Pengubahan latar dari Sumatra Barat menjadi Jakarta tahun 1970-an
menghadirkan konflik yang berbeda namun masih mengusung tema yang sama,
yaitu perjuangan dalam melawan kejahatan. Karakter utama yakni Siti Nurbaya
digambarkan berbeda dibandingkan karakter Nurbaya di dalam novel, namun ia
memiliki visi yang sama yaitu melawan kejahatan dan membebaskan diri dari
kondisi sosial masyarakat di zamannya
Pembuatan Gitar Klasik Dengan Bahan Baku kayu Khas Nusantara: Suara Dan Estetika
Gitar merupakan alat musik petik yang memiliki 6 dawai dengan steman standar nada E2 pada senar 6, A2 pada senar 5, D3 pada senar 4, G3 pada senar 3, B3 pada senar 2 dan E4 pada senar 1, juga dimainkan dengan menggunakan kuku atau plectrum (pick). Secara tradisional, gitar terbuat dari berbagai jenis kayu pilihan untuk dijadikan konstruksi. Tentu tonewood yang dihasilkan tiap jenis kayu berbeda pula seperti Rosewood dan Mahoni, kedua jenis kayu ini memiliki tone yang berbeda karena beberapa faktor, diantaranya adalah massa kayu dan kerapatan serat kayu dalam merespon gelombang suara yang dikirim oleh senar. Indonesia sendiri mempunyai hutan penghasil beberapa jenis kayu tonewood yang diakui secara Internasional untuk dijadikan bahan pembuatan gitar, terlebih pada produksi gitar klasik. Penelitian ini akan membahas pembuatan gitar klasik dengan bahan dasar kayu khas Nusantara. Penelitian ini akan berfokus pada beberapa jenis kayu khas Nusantara yang diambil dari beberapa tempat yang berbeda sebagai bahan dasar pembuatan gitar klasik. Penulisan ini bertujuan untuk memperkenalkan jenis-jenis kayu yang ada di Indonesia sebagai bahan pembuatan gitar klasik kepada masyarakat luas. Topik ini dipilih karena penulis menyadari bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia belum menyadari bahwa ada berbagai jenis kayu dari Indonesia yang ternyata adalah bahan pembuatan gitar klasik dan dipakai serta diakui secara Internasional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan tiga teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk melengkapi penel. Hipotesis yang diperoleh adalah gitar berbahan baku kayu khas Nusantara terambil dari berbagai tempat dan dapat mengejar produksi suara dari bracing Hermann Hauser dengan ciri khas tonewood nya sendiri
Desain Suara Untuk Meningkatkan Suspense Pada Film Bird Box
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana elemen suara berperan dalam membangun ketegangan (Suspense) pada film Bird Box (2018). Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menggunakan teori Michel Chion mengenai fungsi suara, teori naratif restricted narration dari David Bordwell, serta teori Suspense dari Branigan (1992), Noel Carroll, dan Brewer & Lichtenstein sebagai landasan analisis.
Data diperoleh melalui observasi mendalam terhadap adegan-adegan yang menampilkan ketegangan, kemudian dianalisis berdasarkan hubungan antara elemen audio dan naratif film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Suspense dalam Bird Box muncul melalui kombinasi keterbatasan visual dan desain suara yang sugestif.
Disparitas pengetahuan terjadi karena karakter dalam film menutup matanya untuk menghindari makhluk tak terlihat, sementara penonton tetap dapat melihat situasi di sekitarnya. Dalam kondisi visual yang terbatas, suara berfungsi sebagai pemandu persepsi dan pembentuk emosi penonton terhadap ancaman yang tidak tampak. Penelitian ini merekomendasikan agar kajian film selanjutnya lebih memperhatikan peran suara sebagai elemen naratif aktif yang mampu memperkuat ketegangan dan meningkatkan keterlibatan emosional penonton