Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta
Indonesian Institute of the Art YogyakartaNot a member yet
16125 research outputs found
Sort by
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kediri Dalam Penyelenggaraan Seni Pertunjukan Jaranan
Penelitian ini mengkaji kebijakan publik Pemerintah Kabupaten Kediri dalam penyelenggaraan seni pertunjukan Jaranan, dengan fokus pada peran regulasi daerah dalam merespons dan memitigasi konflik sosial yang timbul selama pementasan. Meskipun terdapat perangkat hukum seperti Perbup No. 41/2022 dan Perda No. 2/2020, temuan menunjukkan minimnya kapasitas analitis, operasional, dan politis pemerintah daerah untuk menangani kompleksitas nilai simbolik, risiko sosial, dan dinamika komunitas pelaku seni. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus tunggal berpendekatan embedded digunakan untuk menyelami interaksi antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, aparat keamanan, Dewan Kesenian dan Kebudayaan, PASJAR, serta komunitas Jaranan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumentasi regulasi, laporan insiden, serta arsip media sosial. Hasil penelitian mengungkap bahwa praktik penyelenggaraan Jaranan sebagian besar bergantung pada inisiatif komunitas yang mengembangkan mekanisme informal seperti kode etik pentas, pagar barikade, dan ritual lokal untuk mengisi kekosongan SOP formal. Konflik yang muncul bersifat realistis (persaingan akses perizinan dan fasilitas) maupun non-realistis (pelampiasan emosi akibat degradasi makna ritual dan konsumsi alkohol), dengan intensitas bervariasi sesuai skala pentas dan tingkat partisipasi penonton. Kesimpulan pada penelitian ini adalah tata kelola budaya Jaranan di Kediri memerlukan kerangka kebijakan partisipatif yang mengintegrasikan nilai simbolik dan mekanisme mitigasi konflik berbasis komunitas. Rekomendasi meliputi penyusunan SOP penyelenggaraan pementasan, pendidikan nilai budaya, dan pembentukan forum konsultasi lintas aktor
Video Dokumenter Performatif Partisipatoris “Pasar Legi Kotagde” Melalui Arsip Warga
Tesis ini membahas proses kreatif produksi video dokumenter Mencari Makna Pasar Legi Kotagede dengan pendekatan partisipatoris dan performatif. Dokumenter berdurasi 30 menit ini melibatkan warga sebagai mitra kreatif dalam merekonstruksi memori kolektif dan sejarah ruang Pasar Legi Kotagede melalui lokakarya, eksplorasi arsip foto, serta pengambilan gambar kolaboratif. Pendekatan ini bertujuan menjadikan dokumenter sebagai medium reflektif dan ruang belajar bersama. Dokumentasi visual Muhammad Natsir Dabey menjadi contoh praktik pengarsipan afektif dan resistensi terhadap narasi sejarah dominan. Pemutaran dokumenter di ruang publik Pasar Legi memperkuat keterlibatan warga dan membuka ruang interaksi antara memori, identitas, dan representasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dokumenter partisipatoris dapat memperkuat peran warga dalam produksi pengetahuan kultural, serta memfasilitasi pembentukan ruang sosial yang reflektif dan inklusif. Karya ini berfungsi tidak hanya sebagai arsip visual, tetapi juga sebagai alat dialektis yang menghubungkan masa lalu, kini, dan kemungkinan masa depan ruang hidup warga
Implementasi Borobudur Trail Of Civilization: Antara Ada Dan Tiada
Penelitian ini membahas perencanaan dan implementasi program Borobudur Trail of Civilization (BToC) sub tema Jataka Fable Stories (JFS) di Desa Ngargogondo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Program BToC merupakan inisiatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang bertujuan mengembangkan wisata budaya berbasis narasi relief Candi Borobudur melalui 9 sub tema perjalanan wisata di 16 desa sekitar kawasan candi. Sub tema Jataka Fable Stories dirancang untuk menyampaikan nilai-nilai moral dari cerita Jataka kepada wisatawan melalui atraksi pertunjukan dongeng, permainan edukatif, dan media interpretatif lainnya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui dokumentasi, wawancara, dan observasi terhadap demo atraksi serta pelaksanaan program di tingkat desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan program telah disusun secara matang dan berbasis potensi lokal, dengan dukungan amenitas dan konsep interpretatif yang komprehensif. Namun, implementasi program di Desa Ngargogondo belum berjalan sesuai rencana. Berdasarkan teori implementasi kebijakan George C. Edwards III, ditemukan bahwa faktor komunikasi yang tidak konsisten, lemahnya struktur birokrasi, menurunnya disposisi pelaksana, dan keterbatasan sumber daya menjadi penyebab utama stagnasi program.
Program BToC sub tema Jataka Fable Stories di Desa Ngargogondo menghadapi hambatan signifikan pada tahap implementasi meskipun telah dirancang dengan baik, sehingga diperlukan strategi penguatan komunikasi, pendampingan berkelanjutan, dan perbaikan tata kelola untuk mewujudkan pariwisata berbasis budaya yang inklusif dan berkelanjutan. Ketiadaan pendampingan berkelanjutan, pembagian peran yang tidak jelas, dan minimnya partisipasi masyarakat menyebabkan program tidak terealisasi di lapangan. Akibatnya, program BToC sub tema JFS hanya hadir dalam dokumen perencanaan dan administratif, namun tidak tampak secara nyata dalam praktik. Temuan ini menegaskan bahwa pelaksanaan program masih berada dalam paradoks antara keberadaan konsep yang ideal dan kenyataan di lapangan yang nihil, sehingga membuat implementasi Borobudur Trail of Civilization berada pada posisi antara ada dan tiada
Sibiangsa Sebagai Ide Penciptaan Karya Opera Huspion Dengan Pemanfaatan Ruang Ketiga
Ritual Sibiangsa, sebagai salah satu praktik spiritual masyarakat Batak Toba, telah punah akibat modernisasi dan pengaruh agama Kristen yang menganggapnya sebagai kekerasan primitif. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengungkap urgensi ritual Sibiangsa sebagai objek studi budaya dengan mengeksplorasi nilai historis, spiritual, serta konfliknya dengan modernitas, dan (2) merancang naskah opera Husipon yang mereinterpretasikan nilai-nilai simbolik ritual tersebut melalui adaptasi estetika musik Barat dan drama Batak Toba. Metode yang digunakan adalah Practice Based Research, menggabungkan wawancara mendalam dengan narasumber kunci, observasi partisipatif, dan eksperimen artistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Sibiangsa bukan sekadar praktik kekerasan, melainkan sistem simbolik yang kompleks dalam kosmologi Batak Toba, terkait dengan prinsip Dalihan Na Tolu dan keseimbangan kosmologis. Opera Husipon berhasil mentransformasikan ritual ini ke dalam bentuk pertunjukan yang etis melalui pendekatan trans-tradisional, memadukan musik gondang dan andung-andung dengan struktur opera Barat, serta menggantikan representasi kekerasan dengan simbolisme teatrikal. Analisis menggunakan teori Hibriditas (Bhabha, 1994), Spiritualitas (Tisdell, 2003), dan Interaksionalisme Simbolik (Hadi, 2015) mengungkap bagaimana karya ini berfungsi sebagai ruang ketiga yang mempertemukan tradisi dan modernitas tanpa mengabaikan kedalaman makna spiritualnya.
Kontribusi penelitian ini terletak pada (1) pelestarian kritis warisan budaya yang terancam punah melalui medium seni, (2) pengembangan model komposisi trans- tradisional dalam seni pertunjukan Indonesia, dan (3) penyediaan perspektif baru dalam kajian dekolonialisasi seni. Opera Husipon tidak hanya menjadi dokumentasi non-teksual, tetapi juga medium refleksi kritis tentang dinamika pelestarian budaya di tengah globalisasi. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya meliputi eksplorasi format digital, studi dampak jangka panjang pada komunitas Batak Toba, serta analisis komparatif dengan adaptasi ritual budaya lain
Integrasi Struktur Musik Gondang Batak, Musik Populer, Dan Musik Tinggi Berbasis Tindakan Komunikatif Habermas
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan penggunaan idiom musik tradisional dan populer yang seringkali bersifat simbolik dan dekoratif semata, tanpa integrasi struktural yang bermakna. Dalam konteks ini, idiom Gondang Batak, musik populer, dan musik tinggi sering diposisikan secara tidak setara. Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi ketiga wilayah musik tersebut sebagai sumber idiomatik yang dapat dirundingkan secara kreatif dalam proses penciptaan musik lintas tradisi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif melalui studi kasus, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur, studi pustaka, dan observasi proses penciptaan. Penelitian ini menekankan proses pembacaan kritis terhadap struktur idiomatik setiap tradisi sebagai pijakan konseptual dalam pengolahan karya musik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi struktur musikal antar idiom dapat dicapai melalui pengolahan bentuk, harmoni, dan tekstur secara dialogis. Musik Gondang Batak menyumbang struktur ritmis yang siklik dan berlapis, dengan interaksi antar instrumen yang bersifat saling melengkapi secara kolektif. Musik populer menghadirkan pola repetitif dan stabilitas groove. Sementara musik tinggi memperkaya dengan bentuk reflektif dan eksplorasi warna harmoni. Ketiganya disusun dalam bentuk binari form (A-A’-B-B’) yang memungkinkan interaksi timbal balik antar idiom. Komposisi yang dihasilkan menunjukkan bahwa penciptaan musik lintas idiom dapat menjadi ruang tindakan komunikatif, di mana idiom-idiom berbeda tidak dileburkan secara homogen, melainkan dipertemukan dalam praktik musikal yang dialogis dan kontekstual
Perladangan Jagung dan Krisis Lingkungan di Kota Bima dalam Estetika Posthuman
Penelitian penciptaan ini terinspirasi dari pengalaman penulis saat menjadi relawan banjir bandang di tempat kelahirannya di Kota Bima, banjir terjadi akibat penebangan hutan yang digunakan untuk pertanian jagung. Petani tidak punya pilihan antara terus bertani yang merusak alam atau berhenti tetapi berdampak pada pemenuhan kebutuhan ekonomi. Keadaan di mana manusia sudah tergantung pada alam, tetapi mengancam ekosistem dan bencana banjir yang rutin terjadi setiap tahun. Hal ini memberikan keresahan bagi penulis, petani sudah berjuang dalam usaha pertanian jagung tetapi sia-sia karena selalu dianggap sebagai penyebab krisis lingkungan. Petani berada dalam dilema, bingung memilih mana yang terbaik, karena keduanya sulit dan penuh risiko. Kegelisahan atas dilema pertanian jagung menjadi pintu masuk penelitian untuk menghasilkan karya seni. Seni untuk membangun kesadaran bahwa manusia tidak berdiri sendiri pada alam, tetapi manusia adalah bagian dari ekosistem. Bahwa pohon, burung, dan lingkungan memiliki hak yang sama dalam kehidupan di bumi. Seni untuk melengkapi pemahaman bahwa manusia bukan lagi pusat kendali alam (antroposen) tetapi manusia mempunyai kedudukan yang sejajar dan seimbang dengan ekosistem lainnya, maka perspektif ini bersifat posthuman. Seni sebagai perspektif baru untuk menuntun dan menciptakan counter terhadap kondisi petani yang lemah dan kondisi krisis lingkungan, perspektif ini dapat juga disebut counter hegemoni. Metode yang digunakan dalam penciptaan ini adalah Practice-led Research, yaitu proses kreatif yang menjadi pusat penelitiannya. Maka karya seni hasil penelitian kreatif ini bertemakan Dou Labo Dana (Manusia dan Alam) sehingga menghasilkan karya seni yang berjudul; Mesin Ingatan, Ruang Antroposen, Tumbuh dalam Kepunahan, dan Penyelamat Tak Terselamatkan
Concerto D Major for four guitars by George Philipp Telemann 1681-1767
Concerto D Major for four guitars karya George Philipp Telemann 1681-1767. Karya ini terdiri dari 28 birama dengan sukat 4/4 dengan tempo Allegro dalam tangga nada D mayor. Birama 1 sampai denga 12 diulang kembali dari birama 1, selanjutnya masuk ke birama 13 sampai 28 diulang dari birama 13 dan berakhir di birama 28. Karya ini ditulis ulang dan dikonduktor oleh Kustap
Spiritualitas Kewayangbeberan Dalam Karya Seni Rupa
Pengalaman spiritual adalah pengalaman seseorang yang berkaitan dengan kepercayaan, kekuatan supranatural, kehidupan setelah kematian, dan juga kekuatan diluar nalar manusia. Pengalaman ini dicapai melampaui kelima indra
yang dimiliki oleh manusia secara umum. Setiap orang bisa memiliki kesan dan pemahaman yang berbeda dalam memahami pengalaman spiritual tersebut, bahkan kadang terjadi pro dan kontra dalam memaknai pengalaman itu. Pada sisi yang lain,
meskipun banyak potensinya namun pengalaman spiritual tidak banyak diteliti dalam bidang seni. Penelitian ini bertujuan mengaktualisasikan spiritualitas kewayangbeberan yang didapatkan dari pengalaman spiritual ketika mencermati
objek material Wayang Beber untuk dijadikan sebagai sumber ide penciptaan karya seni rupa. Metodologi penciptaan practice-led research (riset yang didorong oleh
praktek) digunakan dalam penelitian ini. Dengan metodologi ini penelitian dan proses penciptaan akan berjalan bersama, bersinggungan dan bereaksi secara berkelindan. Melalui penelitian ini akan ditemukan pengalaman spiritual
kewayangbeberan yang diaktualisasikan dalam bentuk karya seni rupa. Mengeksplorasi spiritualitas kewayangbeberan melalui pengalaman spiritual tersebut sebagai ide penciptaan untuk mengelaborasi konsep-konsep baru, termasuk
ruang untuk bereksperimen disertai kajian yang mendalam atas berbagai media maupun teknik yang melibatkan kebaruan teknologi. Penciptaan karya seni visual melalui pengalaman spiritual menawarkan kebaruan karya seni rupa. Selain itu
karya ini akan menghasilkan konsep penciptaan yang menyatukan antara spiritualitas, karya seni dan tekhnologi
Manipulasi Timbre Jegog Melalui Persepsi Kebisingan Dalam Karya "Jx-Tbr [Np]/01
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana ambiguitas persepsi terhadap kebisingan dalam timbre Jegog dapat dimanfaatkan sebagai dasar estetika dalam penciptaan musik. Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana manipulasi timbre Jegog memengaruhi persepsi pendengar terhadap gangguan, afeksi emosional, dan keunikan bunyi, serta bagaimana hasil persepsi tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bentuk komposisi. Melalui pandangan teori persepsi timbre multidimensi (McAdams & Winsberg, 1995), spectromorphology (Smalley, 1997), dan estetika ambiguitas timbral (Abram, 2021), penelitian ini memosisikan timbre sebagai pusat struktur musikal yang lentur, dinamis, dan terbuka terhadap interpretasi.
Metode yang digunakan adalah practice-led research dengan pendekatan eksperimen persepsi auditori terhadap 16 sampel bunyi hasil manipulasi timbre Jegog (berbasis struktur spektral, envelope, dan pitch) serta wawancara dengan dua narasumber ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pendengar membentuk tiga zona utama: zona netral, zona ambigu, dan zona ekstrem. Zona-zona ini digunakan sebagai dasar penyusunan karya musik berjudul JX-Tbr[Np]/01, yang dibangun secara non-linier dan dramaturgis berdasarkan peta persepsi afektif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa manipulasi terhadap aspek timbre Jegog pada struktur harmonik, envelope dan pitch dapat menghasilkan ambiguitas persepsi kebisingan yang dimanfaatkan sebagai dasar estetis dalam penciptaan musik
The Utilization Of Sea Glass As An Attractive Material In Jewelry With A Kintsugi Approach
One of the significant contributors to environmental pollution is waste from glass bottles. A potential solution to this problem is transforming glass into sea glass, consisting of glass shards that are naturally recycled by the ocean over 5 to 50 years, smoothing sharp edges. Unlike plastic, which breaks down into microplastics, the sea can recycle glass due to its high pH and the presence of sand and rocks that aid in the smoothing process. Sea glass has a positive environmental impact as a recycled material that can replace new raw materials. This study aims to develop jewelry from sea glass using the kintsugi technique, which combines glass fragments with precious metals to create aesthetic and economic value products. The research identifies market needs for attractive and sustainable jewelry through in-depth interviews with respondents. The analysis results indicate that the jewelry developed will comprise a necklace, ear cuff, and bracelet set. Therefore, developing sea glass-based jewelry using the kintsugi technique is expected to contribute to environmental preservation while enhancing the competitiveness of domestic jewelry products in the global market