Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta
Indonesian Institute of the Art YogyakartaNot a member yet
16125 research outputs found
Sort by
Bentuk Penyajian Kesenian Tayub dalam Upacara Sedekah Bumi di Desa Payak, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati
Sebagai masyarakat agraris, masyarakat Desa Payak selalu mengadakan upacara ritual kesuburan setiap tahunnya, yaitu upacara sedekah bumi. Dalam upacara tersebut, pertunjukan kesenian Tayub selalu hadir sebagai ritus kesuburan yang dipercaya dapat berpengaruh terhadap kesuburan tanah dan melimpahnya hasil panen. Pada dasarnya, kesenian yang berkaitan dengan upacara ritual pasti memiliki aturan tertentu dalam pelaksanaannya, serta memiliki bentuk penyajian yang berbeda dengan acara-acara lain. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian kesenian Tayub dalam upacara sedekah bumi di Desa Payak, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati.
Penelitian ini menggunakan pendekatan koreografi yang mengacu pada teori Y. Sumandiyo Hadi mengenai kajian tari teks dan konteks. Penelitian ini lebih difokuskan pada kajian tekstual yang digunakan untuk menganalisis bentuk penyajian kesenian Tayub berkaitan dengan konsep koreografis, struktural maupun simbolik. Secara koreografis meliputi aspek pelaku, gerak, pola lantai, tempat pertunjukan, waktu pertunjukan, iringan, tata rias dan busana. Sedangkan secara struktural berkaitan dengan urutan atau rangkaian pertunjukan Tayub, dan simbolik berkaitan dengan semua hal dalam pertunjukan Tayub yang dilakukan dengan maksud tertentu.
Tayub dalam upacara sedekah bumi Desa Payak terdiri dari penari perempuan (ledhek), penabuh gamelan (pengrawit), pengarih (pembawa acara), dan penari laki-laki (pengibing). Pertunjukan ini dilaksanakan pada tempat dan waktu tertentu, yaitu di punden Mbah Ngobak pada hari Minggu Legi bulan Apit. Gerak tari pada kesenian ini dilakukan secara spontan oleh ledhek dan pengibing yang mengacu pada gerak tari gaya Surakarta. Pola lantainya hanya menggunakan pola garis lurus, yaitu lurus ke depan dan ke belakang, dan lurus ke samping. Iringannya menggunakan alat musik gamelan Jawa dan gendhing-gendhing Jawa, termasuk gendhing Campursari ataupun gendhing yang sedang populer. Tata rias dan busana ledhek juga cukup sederhana yaitu mengenakan kebaya, jarik, sampur, kondhe, serta riasan wajah korektif. Sementara itu, untuk tata rias dan busana pengarih (pranatacara), pengibing, dan pengrawit tidak ada ketentuan atau atauran tertentu. Struktur pertunjukannya terdiri dari sungkeman, gambyongan, slering, dan tayuban
Pengaruh Implementasi Etude Schmitt Op.16 No. 1-5 Terhadap Keterampilan Fingering Siswa Ekstrakurikuler Pianika
Kondisi yang ideal untuk memainkan pianika adalah dengan menggunakan kelima jari pada tangan kanan. Berdasarkan observasi awal di SDN Kaliduren, ditemukan adanya indikasi siswa ekstrakurikuler di SDN Kaliduren hanya menggunakan satu atau dua jari saja saat memainkan pianika, dalam artian belum terbiasa menggunakan seluruh jari pada saat memainkan pianika. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis dampak dan korelasi pelatihan etude Schmitt Op.16 no. 1-5 terhadap keterampilan fingering siswa ekstrakurikuler pianika di SDN Kaliduren. Etude Schmitt Op.16 no. 1-5 dipilih sebagai bahan intervensi karena memiliki komposisi teknik fingering sederhana yang menggunakan keseluruhan jari saat dimainkan pada piano. Transkrip kedalam notasi angka dan penyesuaian pada etude dilakukan agar dapat dimainkan pada instrumen pianika. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif pre-experimental one-group pretest-posttest design. Populasi pada penelitian ini adalah siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pianika, dan sampel penelitiannya adalah keseluruhan populasi, yaitu 20 siswa. Terdapat 3 variabel, yaitu etude Schmhitt Op.16 no. 1-5 (X1), motivasi pendukung (X2), dan keterampilan fingering (Y). Terdapat peningkatan rata-rata nilai pada hasil pretest dan posttest, sedangkan pada hasil uji linier dan korelasi nilai t hitung X1 1,392 dan X2 0,42 kedua nilai ini lebih kecil daripada t tabel 1,325 dan pada uji F didapatkan F hitung 1,789 < F tabel 3,634. Didapatkan kesimpulan bahwa tidak terdapat pengaruh dari implementasi etude Schmitt Op.16 no. 1-5 terhadap kemampuan fingering siswa ekstrakurikuler pianika
Manajemen Pembelajaran Tari Candhik Ayu di Sanggar Ruang Tari Kaki Mungil Magelang
Kunci keberhasilan yaitu persiapan yang baik, salah satunya manajemen tari Candhik Ayu di Sanggar Ruang Tari Kaki Mungil Magelang yang terletak di desa yang jauh dari perkotaan. Meskipun demikian sanggar tersebut tetap eksis di daerahnya karena telah menerapkan manajemen yang baik. Oleh karena itu, patut diteliti mengenai manajemen pembelajarannya, khususnya tari Candhik Ayu. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan manajemen pembelajaran tari Candhik Ayu di Sanggar Ruang Tari Kaki Mungil Magelang.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui manajemen yang dilakukan di sanggar tersebut dengan menggunakan metode kualitatif dan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek dari penelitian ini yaitu pemilik sanggar, pelatih, dan peserta didik. Validasi data dilakukan dengan teknik triangulasi teknik yaitu membandingkan data dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi saat penelitian, didukung dengan triangulasi sumber dan waktu. Tahap selanjutnya dilakukan analisis data yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen yang diterapkan pada kelas tari Candhik Ayu di Sanggar Ruang Tari Kaki Mungil terlaksana dengan teratur. Penerapan manajemen tersebut dilakukan dengan empat tahap, yakni perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan/pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling). Adanya penerapan tersebut berdampak baik pada hasil belajar yaitu anak sering mengikuti pementasan di berbagai acara dan mengajarkan sikap percaya diri, tanggung jawab, kerja sama, dan kedisiplinan
Interaksi Sosial dalam Komunitas Sinau Ngejes
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk meneliti interaksi sosial yang ada dalam komunitas Sinau Ngejes, dari kegiatan dan proses yang dilakukan komunitas Sinau Ngejes di sebuah restoran yang dikenal dengan nama Bakmi Maju Tak Gentar. Komunitas ini terbentuk setelah terjadinya covid-19 sekitar tahun 2020, kemudian dengan sepakat memberi nama Sinau Ngejes yang diambil dari bahasa jawa Sinau yang berarti “belajar” Ngejes yang berarti “bermain musik jazz”. Dari pembentukan nama Sinau Ngejes komunitas ini dengan rutin menggelar kegiatan kumpul sampai belajar di dalamnya. Pertunjukan jam session yang ada dalam komunitas Sinau Ngejes memberikan gambaran bagaimana anggota membangun interaksi sosial di dalamnya. Penelitian ini mengambil tiga orang responden, yang terdiri dari dua orang anggota komunitas yang aktif berpartisipasi selama berkomunitas, serta salah satu figur penting di balik terbentuknya komunitas Sinau Ngejes. Untuk memperoleh hasil yang lebih mendalam, Penelitian ini dilaksanakan dengan menerapkan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi kasus berdasarkan kerangka teoritis dari Cresswell. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik wawancara dilakukan dengan melakukan wawancara terstruktur dengan narasumber terkait. Teknik observasi dilakukan dengan cara peneliti sebagai pengamat dan melakukan observasi langsung di lapangan. Analisis data penelitian bersifat deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Interaksi sosial dalam komunitas Sinau Ngejes memiliki substansi seperti anggota membangun interaksi sosial melalui jam session, anggota membangun interaksi sosial dengan memanfaatkan keahlian anggota, anggota membangun interaksi sosial dengan mengadakan kolaborasi musisi. (2) Implikasi terhadap anggota memiliki aspek pengembangan pengetahuan dan penambahan jaringan sosial. Implikasi terhadap masyarakat berupa hiburan seni dan kegiatan sosial masyarakat
Representasi Karakter Topeng Dewi Sekartaji Dalam Komposisi Karawitan Mantadji
Topeng panji merupakan dalah satu jenis topeng yang tumbuh dan berkembang di Yogyakarta. Salah satu tokoh utama dalam cerita topeng panji adalah Dewi Sekartaji yang digambarkan sebagai sosok wanita ideal. Topeng panji Dewi Sekartaji pada umunya digarap dalam sebuah pertunjukan tari, ketoprak, wayang orang, wayang topeng, dan wayang kulit, sehingga jarang ditemukan pertunjukan karawitan mandiri yang mengangkat tentang topeng panji Dewi Sekartaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter Dewi Sekartaji yang digambarkan dalam bentuk topeng dan merepresentasikan karakternya dalam sebuah karya komposisi karawitan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif dan penciptaan komposisi karawitan. Penulis melakukan pengumpulan data melalui observasi, studi pustaka, diskografi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan lima karakter topeng Dewi Sekartaji, yaitu jujur, bijaksana, kesatria, lucu, dan suci. Kelima karakter tersebut direpresentasikan dalam komposisi karawitan berjudul MANTADJI. Komposisi karawitan MANTADJI terdiri atas enam bagian dimulai introduksi sampai bagian penutup. Komposisi karawitan yang diciptakan penulis dalam penelitian ini dapat menjadi salah satu alternatif karya komposisi karawitan yang berangkat dari karakter topeng panji
Penerapan Metode Hand Sign Kodaly Dalam Mengenalkan Tangga Nada Diatonis Di Kelas 3 SD Negeri 02 Blunyahan Kaliputih Sewon
Membaca solmisasi tangga nada merupakan kemampuan dasar yang penting dalam pembelajaran seni musik, karena mampu melatih kepekaan nada pada anak. Penelitian ini berfokus pada kelas 3 di SD Negeri 02 Blunyahan. Adanya penelitian ini, dikarenakan siswa belum mendapatkan pelajaran musik dari guru pengajar, sehingga ekstrakurikuler drum band menjadi salah satu sarana siswa untuk mendapatkan pengalaman bermusik. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini, menggunakan metode hand sign kodaly agar siswa mampu memahami dan menghafal pola solmisasi tangga nada diatonis dikarenakan terdapat siswa yang tidak memiliki pianika.
Proses pengenalan metode hand sign kodaly, dilakukan dengan demonstrasi gerakan yang selanjutnya diikuti oleh siswa. Proses belajar secara kelompok ikut dilibatkan ketika penelitian berlangsung, karena siswa mampu belajar bersama dalam memahami dan menghafal gerakan tangan pada masing-masing solmisasi. Hasil dari penelitian ini disajikan secara deskriptif bahwa siswa mengalami perkembangan dalam memahami teori musik terlebih dalam memahami solmisasi tangga nada diatonis dengan menggunakan metode hand sign kodaly. Siswa-siswi kelas 3 SD sangat terbantu dan secara lebih cepat mampu memahami konsep hand sign kodaly yang digunakan.
Lebih daripada itu, atmosfer pembelajaran dikelas menjadi lebih aktif dan interaktif, diwujudkan dari respon siswa dengan secara lebih cepat dan tepat dalam menjawab pertanyaan yang diberikan
Relief Candi Gampingan Dalam Busana Batik Casual Zero Waste Untuk Remaja
Relief Candi Gampingan dipahatkan pada sebelas bidang disekeliling tubuh kaki bagian tengah candi. Relief itu berupa relief hewan katak, relief unggas (burung gagak, burung pelatuk, ayam jantan dan betina), dan relief tumbuhan sulur-suluran (padmamula). Relief Candi Gampingan ini menjadi sumber ide dalam penciptaan motif batik untuk karya tugas akhir ini. Motif batik ini akan dibuat dengan teknik batik tulis dengan pewarnaannya colet remasol, dan akan diaplikasikan ke dalam busana casual zero waste untuk remaja. Busana casual zero waste yaitu busana santai yang cara pembuatannya dengan meminimalisir limbah produksi, dengan cara mendesain pola yang efisien dan mengoptimalkan penggunaan kain.
Metode penciptaan karya ini dilakukan berdasarkan teori S.P Gustami, tentang tiga tahap (eksplorasi, perancangan, dan perwujudan) dan enam langkah (eksplorasi, ide/konsep, merancang sketsa, penyempurnaan desain, mewujudkan karya, dan evaluasi). Landasan teori yang digunakan yaitu teori estetika menurut Djelantik dan teori ergonomi menurut Pulat. Tahap pengerjaannya yaitu, membuat sketsa batik dan busana, membuat pola busana, menggambar pola batik, menjiplak motif, mencanting kain, mewarna kain, mengunci warna, melorod kain, memotong kain, menyetrika kain dan furing, menjelujur kain batik dan kain furing, mengobras dan menjahit kain, dan finishing.
Karya yang dihasilkan dalam tugas akhir ini adalah berupa enam busana casual zero waste dengan warna busananya yang beragam. Warna batiknya didominasi dengan warna-warna cerah, seperti warna merah, pink, biru, kuning, oranye, dan hijau. Pemilihan warna cerah ini karena anak remaja yang identik dengan keceriaan dan semangat baru, sehingga cocok untuk memakai baju dengan warna cerah. Warna cerah juga mampu membuat penampilan terlihat lebih simple dan tetap menarik. Enam karya busana ini memiliki judul nama yang berbeda-beda, hal ini disesuaikan dengan arti warna atau motif batik pada busananya
Komparasi Teknik Bow Prancis Dan Bow Jerman Pada Instrumen Double Bass : Studi Kasus Mahasiswa Prodi Penyajian Musik ISI Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dua teknik bow utama dalam permainan double bass, yaitu bow Prancis (overhand) dan bow Jerman (underhand), dengan fokus pada mahasiswa dan alumni Program Studi D4 Penyajian Musik ISI Yogyakarta. Kedua teknik ini memiliki perbedaan mendasar dalam aspek ergonomi, kontrol tekanan, dan karakter suara. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur terhadap sembilan informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bow Jerman lebih disukai karena kenyamanan fisik dan kontrol tekanan yang lebih stabil, sedangkan bow Prancis unggul dalam fleksibilitas ekspresif dan kecepatan teknik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemilihan teknik bow bersifat subjektif dan kontekstual, tergantung pada kebutuhan musikal, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik masing-masing pemain
Dokumenter Performatif Animasi 2D “Our Father Hour” Dengan Metode Split-Screen Untuk Menyajikan Perbandingan Kehidupan Dua Karakter
Penggunaan split-screen pada dokumenter performatif film animasi berjudul “Our Father Hour” yang menceritakan tentang dua kehidupan fatherless digunakan untuk perbandingan cerita antara narsumber satu dengan narasumber yang lain. Tujuan utama penggunaan split-screen pada film dokumenter peformatif ini adalah meningkatkan kepemahaman penonton tentang fatherless serta lebih mengenal para narasumber dan memperkuat pesan emosional pada dokumenter performatif film animasi yang akan dibawa
Pembuatan Visual Background dengan Skema Monokromatik untuk Membangun Suasana Dramatis pada Film Animasi 2D “Contrast: Two Sided Life"
Untuk menciptakan animasi yang menarik perlu memperhatikan berbagai aspek, salah satunya pembuatan background. Background membantu pembangunan cerita serta suasana pada film animasi. Pada penelitian ini membahas mengenai pembuatan visual background dengan skema monkromatik untuk membangun suasana yang dramatis pada film animasi “Contrast: Two Sided Life”. Skema warna monokromatik digunakan karena dapat membantu memperkuat adegan yang dramatis pada film animasi “Contrast: Two Sided Life” yang merupakan animasi fabel bergenre drama dan aksi. Metode perancangan yang digunakan adalah ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation) dengan evaluasi menggunakan metode kuantitatif melalui survei yang menghasilkan data validasi penggunaan warna monokrom pada background. Hasil dari perancangan ini adalah background dengan skema monokromatik yang mampu membantu mendukung cerita dengan suasana yang lebih dramatis