Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta
Indonesian Institute of the Art YogyakartaNot a member yet
16125 research outputs found
Sort by
Pencahayaan Ruang untuk Menunjang Aktivitas Seni Anak Attention Deficit Hyperactivity Disorder di Autis Center Yogyakarta
Pencahayaan memiliki peranan penting dalam menunjang aktivitas manusia. Selain itu, pencahayaan juga dapat membantu menunjang aktivitas pengguna ruang yang memiliki kondisi tertentu seperti anak Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Kondisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan parah pada pemusatan perhatian, hiperaktivitas dan impulsivitas pada anak usia dini yang dapat mengganggu perkembangan anak dalam keseharian. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kuat terang cahaya yang sesuai untuk menunjang aktivitas anak dengan kondisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder terutama pada aktivitas seni. Hasil penelitian ini akan dapat dijadikan acuan dalam mendesain interior untuk pengguna dengan kondisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif melalui pendekatan uji coba. Uji coba pencahayaan ruang untuk aktivitas seni anak dengan kondisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder dilakukan di Autis Center Yogyakarta. Kuat terang cahaya yang diujikan adalah 45 lux (current lighting), 100 lux dan 200 lux. Responden melakukan aktivitas seni mewarnai gambar doodle art. Uji coba ini menggunakan alat ukur EEG 2-channels. Data EEG yang diambil dan dianalisis hanya pada data nilai attention dan nilai meditation
“Kidung Tani” Penciptaan Film Dokumenter Performatif Berdasarkan Eksistensi Kidung Imam Subakat Pada Pertanian Berkelanjutan
Kidung Tani merupakan karya film dokumenter performatif yang merefleksikan nilai-nilai kearifan lokal dalam praktik pertanian berkelanjutan melalui sosok Imam Subakat. Film ini tidak hanya menjadi rekaman atas praktik bertani tradisional, tetapi juga sebagai ekspresi estetis dan spiritual yang menghidupkan kembali nilai-nilai agraris Jawa melalui medium sinema. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif naratif (Webster & Mertova, 2007) serta artistic research Robin Nelson (2013), yang meliputi tahapan imersi, dialog reflektif, eksperimen artistik, hingga penciptaan karya visual. Melalui pendekatan dokumenter performatif (Nichols, 2017), film ini menempatkan pengalaman subjektif, ekspresi estetis, dan relasi emosional sebagai bagian penting dari konstruksi makna. Kidung diolah menjadi bagian naratif yang menghubungkan alam, spiritualitas, dan etika pertanian. Imam Subakat tampil bukan hanya sebagai petani, tetapi juga sebagai pemimpin kultural yang menjadi agen resistensi simbolik terhadap sistem pertanian modern. Ia tetap hidup bersahaja bersama petani lain, namun disegani karena kebijaksanaan dan kesetiaan pada nilai leluhur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanian berkelanjutan membutuhkan ikatan sosial, dan kultural. Dalam konteks ini, keberadaan pemimpin yang memiliki kapasitas pengetahuan lokal dan mampu mentransmisikan nilai melalui kidung menjadi sangat penting. Film ini merepresentasikan pertanian bukan hanya sebagai praktik produksi, tetapi juga sebagai ruang etika, estetika, dan spiritualitas yang saling terhubung. Kidung Tani menjadi ruang artistik untuk merefleksikan krisis ekologi sekaligus menawarkan model kesadaran melalui tradisi lokal
Transformasi Material Tutup Botol Plastik Dalam Seni Rupa
Penelitian ini membahas transformasi material tutup botol plastik sebagai media dalam karya seni rupa yang mengusung nilai estetika, edukatif, dan keberlanjutan lingkungan. Transformasi dalam konteks seni rupa tidak hanya merujuk pada perubahan bentuk fisik, tetapi juga mencakup perubahan fungsi, makna sosial, dan nilai budaya dari limbah tutup botol plastik. Melalui pendekatan teoritis karya seni ini memperlihatkan beberapa bentuk transformasi: tipologikal, gramatikal, distorsi, dan reversal. Pemanfaatan limbah botol plastik sebagai media artistik bertujuan menyampaikan pesan ekologis yang kuat mengenai bahaya plastik, sekaligus menawarkan solusi kreatif melalui proses daur ulang. Pendekatan visual berdasarkan prinsip seni rupa seperti kesatuan, keseimbangan, dominasi, ritme, dan harmoni membentuk narasi visual yang menyentuh dan komunikatif. Lebih jauh, karya ini menjadi medium edukasi sosial yang mengajak masyarakat, khususnya komunitas pesisir seperti petani rumput laut, untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Transformasi sampah menjadi karya seni menunjukkan bahwa limbah memiliki potensi estetis dan dapat menjadi alat advokasi dalam membangun kesadaran ekologis dan keberlanjutan. Seni rupa dalam hal ini menjadi bukan hanya wadah ekspresi, tetapi juga agen perubahan sosial dan lingkungan
Transformasi Pola Sikap Dalam Pembelajaran Tari Jawa Di Dedy Lutan Dance Company
Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses transformasi pola sikap pada murid dewasa beretnis non-Jawa melalui pembelajaran tari Jawa di bawah bimbingan Elly D. Lutan di Dedy Lutan Dance Company. Fokus utama penelitian ini adalah melihat bagaimana pembelajaran seni tari tradisional dapat menjadi medium perubahan psikologis. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus digunakan untuk menggali secara mendalam pengalaman subjektif murid melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta dokumentasi reflektif. Berdasarkan kerangka teori individuasi dan archetype dari Carl Gustav Jung, penelitian ini menemukan bahwa proses belajar tari Jawa memicu pertemuan murid dengan berbagai aspek batin seperti persona, shadow, anima/animus, dan simbol keutuhan diri (self). Proses ini ditandai dengan perubahan sikap dari frustrasi menuju penerimaan, penguatan refleksi diri, dan pembentukan identitas baru yang lebih sabar, terbuka, dan harmonis. Peran guru serta lingkungan belajar yang aman dan non-kompetitif turut memperkuat proses transformasi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman estetis yang dialami melalui tari Jawa dapat membentuk koneksi emosional lintas budaya. Para murid tidak hanya menguasai keterampilan tari secara teknis, tetapi juga mengalami pembelajaran nilai-nilai budaya Jawa secara reflektif. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa seni tari tradisional, jika dipraktikkan dengan pendekatan yang reflektif dan kontemplatif, memiliki potensi sebagai medium pengembangan diri dan penyelarasan psikologis dalam konteks pembelajaran lintas budaya
Peran Gaya Penceng Dalam Memenuhi Selera Musik Anak Muda Karo
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mengapa gaya musik penceng dapat memenuhi selera musik anak muda desa Durian Tinggung. Berdasarkan fenomena pro kontra yang terjadi dikalangan masyarakat. Bagi orang tua dan beberapa seniman etnik menganggap musik penceng terkesan negatif bahkan bukan bagian dari budaya Karo. Sementara, anak muda menganggap musik penceng menjadi bagian dari budaya mereka, karena dapat mengakomodir soal gairah yang mereka butuhkan. Untuk menjelaskan data yang sudah dikumpulkan, penelitian ini menggunakan konsep habitus, modal budaya dan modal soisal Bourdieu. Modal budaya akan menjelaskan proses pembentukan pengetahuan dan keterampilan musik penceng yang dimiliki oleh pemain keyboard. Habitus menjelaskan proses sistem disposisi terbentuk pada musisi dan anak muda. Sementara, modal sosial akan memotret proses kesenangan kolektif yang menjadi tujuan anak muda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Instrumen pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, studi pustaka dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengetahuan dan keterampilan bermain musik penceng musisi terbentuk akibat sosialsiasi masa lalu yang membentuk struktur, proses tersebut dinamakan cara kerja terstruktur. Struktur yang terstruktur tersebutlah yang dimaskud dengan habitus atau sistem disposisi. Habitus musisi tersebut pada akirnya akan menstruktur, proses ini terlihat pada saat musisi dapat mempengaruhi anak muda untuk berjoget dengan agresif. Kesenangan koletif merupakan efek yang ditularkan musisi melalui keterampilan dan pengetahuanya. Kesenangan kolektif ini secara tidak langsung menjadi salah satu usaha anak muda untuk merawat selera musik penceng yang sudah terbentuk
Transformasi Pelampung Dan Jaring Sebagai Representasi Ekologi Maritim Dalam Karya Eco Art
Berdasarkan pengalaman empiris penulis serta observasi langsung sebagai masyarakat Brebes pesisir Pantura, ditemukan sejumlah masalah ekologi maritim yang memprihatinkan. Rendahnya kesadaran masyarakat pesisir terhadap dampak serius limbah domestik dan industri perikanan seperti pelampung, jaring, dan material lain yang menumpuk di dermaga hingga dasar laut mengancam keberlanjutan ekosistem. Fenomena ini diangkat sebagai bentuk kritik dan refleksi kolektif, khususnya bagi masyarakat pesisir yang belum sepenuhnya memahami pentingnya keseimbangan alam. Dampaknya meliputi penurunan hasil tangkapan, meningkatnya bencana alam seperti banjir rob, serta berkurangnya ketergantungan pada sektor kelautan sebagai mata pencaharian utama. sebagai respons, penulis mengembangkan ide penciptaan empat karya seni berbasis eco art dengan judul “Bonggan Sapa”, “Kala-kalaeh”, “Jagad Wis Ora Karuan”, dan “Ngarepkna Apa?”. Karya ini memanfaatkan material limbah nelayan seperti pelampung bekas, jaring rusak, tali tambang, botol plastik, dan besi tua, yang divisualisasikan dalam bentuk instalasi, mixed media, dan wall sculpture. Pendekatan artistik ini mengadopsi metode practice-based research dari Mika Hannula dengan prinsip in and through, menekankan proses eksplorasi kreatif sebagai bagian integral dari penelitian. Proses penciptaan mengikuti lima tahapan David Campbell, yaitu persiapan, konsentrasi, iluminasi, inkubasi, dan verifikasi/produksi, untuk memastikan karya tidak hanya bernilai estetis tetapi juga merepresentasikan narasi ekologi maritim
Pengembangan Pola Permainan Sasando: Idiom Musikal Sasandu Rote Sebagai Ide Penciptaan Karya Sangguana #1
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pola permainan sasando dengan mengkaji idiomatik sasandu di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Sasando adalah alat musik tradisional yang memiliki keunikan dalam teknik permainan dan suara yang tidak hanya mencerminkan kearifan lokal, tetapi juga berfungsi sebagai medium ekspresi masyarakat Rote. Fokus utama penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengembangkan pola permainan sasando berdasarkan idiom- idiom musikal dalam konteks budaya musik Rote dan idiom musik sasando yang berkembang.
Pola permainan yang dimainkan dalam instrumen sasando muncul dengan hanya memakai kaidah-kaidah teori musik barat dan tanpa kaidah-kaidah permainan atau idiom musikal sasandu Rote, dari sasandu yang secara jelas ada pada idiom musik sasandu (pentatonis). Penulis merasa musik ini penting untuk diteliti karena pada dasarnya akan memberikan sumbangsih pengetahuan pola permainan sasando dengan menjalankan kaidah-kaidah pada instrumen sasandu. Penulis melakukan eksplorasi dengan pola ritme, pola melodi dan penggabungan elemen idiom musik sasandu dengan teori musik barat dalam hal ini penjarian teknik chord, arrpegio, tutti pada sasando dan teknik penjarian lainnya. Penelitian ini bertujuan menemukan proses eksplorasi dari peleburan antara musik sasandu Rote dan teori musik barat.
Penelitian ini menggunakan metode Practice-Led Research untuk proses penciptaan karya “sangguana #1” dengan tahapan pengumpulan data, eksplorasi, eksperimen, dan evaluasi. Tahapan-tahapan pada metode penelitian ini ditemukan persamaan pemahaman di tiga nusak di pulau Rote yakni teknik nggasa dan leko yang diyakini penting dalam pola permainan sasandu, kemudian digunakan dalam permainan instrumen sasando kemudian dianalisis menggunakan teori musik barat dan diproses dalam bentuk karya konserto sasando agar dapat menunjukan hasil pengembangan pola permainan dan skil pola permainan yang ditonjolkan dalam karya. “Sangguana #1”.
Penelitian ini membuktikan bahwa kesenian musik sasandu Rote ini dapat dikaji dan diolah secara ilmiah. Pola melodi, ritme dan teknik arrpegio dengan peleburan idiom musik sasandu, dalam hal ini penemuan teknik nggasa dan leko mampu menghadirkan suasana baru terhadap pengembangan pola permainan sasando dengan keterbatasan yang dimiliki
Preparator Helutrans Artmove Dalam Analisis Manajemen Rantai Pasok Logistik Seni
Preparator memiliki peran yang besar dalam setiap pekerjaan Helutrans, sehingga mulai dari persiapan hingga evaluasi dipersiapkan secara detil. Dikelola dalam sebuah rantai pasok logistik seni yang bertujuan untuk menyelesaikan peristiwa seni ArtBasel.
Penelitian ini menggunakan teori Galal Salem, Eleri Jones dan Nigel Morgan bahwa melalui tiga tahapan untuk melihat pelaksanaan sebuah peristiwa seni. Tahapannya dimulai dari pengambilan keputusan, perencanaan yang detail, implementasi dan evaluasi. Proses ini dilakukan juga dalam melengkapi rantai pasokan logistik seni oleh Helutrans di ArtBasel Hongkong.
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus pada objek penelitian yaitu Helutrans. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan tahapan Miles Huberman dan uji validitas data menggunakan triangulasi data.
Helutrans mendapatkan hasil yang memuaskan untuk menyelesaikan gelaran ArtBasel Hongkong, metode yang diterapkan mampu mengelola seluruh karya yang dimiliki konsumen dan preparator yang memenuhi ekspektasi konsumen. Rantai pasok logistik seni yang djalankan mampu mencegah Helutrans melakukan kesalahan yang fatal dalam gelaran ArtBasel Hongkong. Tentu dukungan infrastruktur seni dalam ArtBasel juga yang mendorong perkembangan Helutrans untuk menjadi korporasi logistik seni yang besar dan stabil seiring dengan tantangan – tantangan yang terjadi juga perkembangan mengenai logistik seni
Inklusivitas Program Dalam Artjog 2022-2024 Melalui Pendekatan Teori Persona
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi representasi nilai-nilai inklusivitas dalam program-program festival seni rupa kontemporer ARTJOG selama periode 2022–2024. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh urgensi penguatan identitas Yogyakarta sebagai City of Festival, yang menempatkan festival sebagai ruang budaya publik yang inklusif dan partisipatif. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini menganalisis bagaimana program-program ARTJOG dirancang dan dijalankan untuk menjangkau beragam kelompok masyarakat.
Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur (siaran pers dan dokumentasi resmi ARTJOG), pengamatan kanal media sosial resmi, serta wawancara mendalam dengan tim penyelenggara ARTJOG dan pemangku kepentingan eksternal. Data dianalisis melalui pemetaan program, identifikasi stimulus berdasarkan teori persona (Cooper dan Carl Jung) dan behaviorisme (Watson), serta pencocokan stimulus dengan lima dimensi tolok ukur inklusivitas (social, spatial, economic, political, dan environmental) yang disusun berdasarkan teori kota inklusif (Liang, 2022), teori festival (Getz, 2007), dan sosiologi seni (Bourdieu, 1984).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ARTJOG secara umum telah memenuhi seluruh dimensi inklusivitas dengan dominasi tertinggi pada Social Inclusion (57 temuan), disusul Economic Inclusion (24 temuan), Spatial Inclusion (21 temuan), Political Inclusion (10 temuan), dan Environmental Inclusion (4 temuan). Melalui analisis stimulus dan respons pengguna, ditemukan bahwa program-program ARTJOG secara aktif menghadirkan akses, partisipasi, dan representasi bagi beragam persona pengguna, termasuk anak-anak, penyandang disabilitas, komunitas lokal, hingga seniman lintas generasi.
Kontribusi utama dari penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka operasional untuk menganalisis hubungan antara desain program festival, karakter pengguna (persona), dan nilai inklusivitas. Selain memperkaya kajian di bidang sosiologi seni, desain komunikasi visual, dan manajemen festival, temuan ini diharapkan menjadi referensi praktis bagi penyelenggara, perancang kebijakan, dan masyarakat umum dalam membangun festival yang lebih inklusif dan berkelanjutan di masa depan.
Kata Kunci: ARTJOG, inklusivitas, festival, persona, Yogyakarta City of Festiva
Tunrung Pa'Balle Sebagai Ruang Kontestasi Dalam Panggung Gandrang Makassar
Penelitian ini bertujuan mengungkap fenomena ritus musikal tunrung pa’balle dalam panggung gandrang Makassar sebagai ruang kontestasi, tempat norma penyajian dan pengalaman pagandrang berjumpa dalam ketegangan yang terus berlangsung. Masalah penelitian lahir dari dominasi norma penyajian yang membatasi ruang gerak pagandrang, tetapi pada saat yang sama membuka celah bagi negosiasi dalam pengalaman bermain. Analisis data menggunakan konsep ritme dari Christopher F. Hasty yang dirangkai dengan gagasan politik estetik dari Jacques Ranciere. Melalui pendekatan etnografi, berupaya menelusuri bagaimana norma terbentuk, didistribusikan, dan dihadapi dalam pengalaman bermain. Tunrung pa’balle dibaca sebagai peristiwa durasional yang di dalamnya setiap proyeksi ritmis, aksentuasi, dan kesinambungan durasi memunculkan ketegangan yang memperlihatkan bagaimana norma ditegakkan sekaligus digugat. Pengalaman pagandrang tidak sekadar mereproduksi tatanan mapan, tetapi tubuh mereka memainkan bunyi sebagai jalan untuk menegosiasi batas-batas norma. Tunrung pa’balle tidak berhenti sebagai simbol kesakralan, melainkan menjadi medan tempat seni, ritme, dan politik bertaut dalam pengalaman musikal yang membuka ruang disensus. Temuan ini menawarkan cara baca baru terhadap seni tradisi sebagai ruang negosiasi estetik dan politis dalam kehidupan sosial budaya