Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta
Indonesian Institute of the Art YogyakartaNot a member yet
16125 research outputs found
Sort by
Penerapan Gaya Art Deco Pada Interior Hotel Lenora Bandung
Kota Bandung merupakan salah satu kota wisata yang terkenal, nampak pada daya tarik yang kuat secara fisik dan budayanya. Hal ini ditinjau melalui julukan “Mutiara Art Deco” sebagai kota dengan warisan bangun Art Deco terbanyak, menjadikan bentuk identitas budaya dalam perkembangan pariwisata di Kota Bandung. Minat wisatawan untuk pergi berlibur memiliki alasan erat yang berkaitan yaitu mengunjungi situs wisata populer untuk merasakan pengalaman yang ditawarkan pada suatu daerah tersebut. Hotel Lenora merupakan hotel bintang 2 (dua), yang terletak di Jalan Kopo No.20, Bandung Selatan. Hotel Lenora menjual gaya desain utama modern minimalis, dimana ditemukan bahwa konsep gaya utama hotel ini tidak senada pada area cafe & bar dengan tema dan gaya yang berbeda. Metode Perancangan yang digunakan mengacu pada metode Rosemary Kilmer dengan pendekatan eco-cultural yang diintegrasikan ke dalam desain melalui penerapan gaya Art Deco pada interior Hotel Lenora Bandung. Pendekatan eco-cultural diterapkan melalui implementasi elemen Art Deco, stilasi bentuk Bunga Patrakomala, dan pengenalan lokalitas Bandung, serta pemilihan material eco setempat yang berkontribusi dalam segi kemudahan maintenance desain. Maka desain hotel yang dirancang meliputi aspek-aspek pendukung seperti kenyamanan, pengalaman, dan interaksi antara pengunjung dengan hotel tersebut atas kaitannya terhadap ikonik Bandung sebagai Ibu Kota Jawa Barat
Perancangan Armband Guna Meningkatkan Kenyamanan Dan Efektivitas Penggunaan Smartphone Untuk Olahraga Nordic Walking
Perkembangan gaya hidup aktif serta meningkatnya penggunaan smartphone saat berolahraga mendorong munculnya kebutuhan akan perangkat yang dapat menunjang aktivitas fisik tanpa mengorbankan kenyamanan dan keamanan. Aktivitas Nordic walking, yang melibatkan banyak gerakan tubuh terutama bagian lengan, menuntut adanya solusi penyimpanan smartphone yang stabil, ergonomis, dan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah armband yang mampu meningkatkan kenyamanan dan efektivitas penggunaan smartphone selama aktivitas Nordic walking.Metode yang digunakan dalam proses perancangan adalah Design Thinking, dengan tahapan empati, definisi masalah, ideasi, prototipe, dan pengujian. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi terhadap produk eksisting, wawancara dengan pengguna aktif Nordic walking, serta penyebaran kuesioner kepada 30 responden. Hasil dari analisis tersebut menjadi dasar dalam pengembangan 5 varian desain armband dengan 3 opsi pada setiap varian, yang kemudian disaring melalui analisis matriks hingga terpilih 3 desain final. Produk armband yang dihasilkan menggunakan kombinasi material seperti neoprene, mesh sandwich, ripstop, kain anti-slip, dan teknologi Quick Lacing System untuk mendukung kenyamanan, fleksibilitas, serta stabilitas selama penggunaan. Pengujian produk dilakukan kepada dua responden pengguna, yang menunjukkan bahwa desain mampu memenuhi aspek ergonomi, kemudahan akses smartphone, dan kestabilan saat bergerak. Dari hasil tersebut, perancangan armband ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif yang efektif dan ergonomis untuk mendukung aktivitas Nordic walking sambil tetap memungkinkan interaksi yang aman dan nyaman dengan perangkat smartphone
Perancangan Kantor Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surakarta Dengan Konsep Ignis Spectrum
Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surakarta memiliki peran vital dalam penanggulangan kebakaran, mengingat pesatnya pembangunan kota dan peningkatan kasus kebakaran yang dipengaruhi oleh faktor alam dan perilaku masyarakat, seperti pembakaran sampah sembarangan di Kampung Joyosudiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan konsep redesain Kantor Damkar Surakarta menjadi pusat edukasi berbasis edutainment yang menggabungkan fungsi operasional petugas dengan sarana pembelajaran bagi masyarakat. Konsep "Ignis Spectrum: Safety Education Through Historical Fires" diusulkan sebagai solusi untuk masalah ruang, yang mencakup zona pelatihan petugas dengan simulasi interaktif, area edukasi untuk masyarakat, dan ruang pamer informatif dengan tampilan visual menarik. Pendekatan edutainment dipilih untuk meningkatkan efektivitas penyampaian materi pencegahan kebakaran melalui pengalaman belajar yang menyenangkan. Diharapkan, hasil perancangan ini dapat menjadi model inovatif yang tidak hanya meningkatkan kinerja operasional petugas, tetapi juga memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan kebakaran serta memenuhi kebutuhan fasilitas pelatihan yang selama ini terbatas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara, dan studi literatur terkait desain fasilitas publik berbasis edukasi
Redesain Restoran Dragon Flames dengan Membangkitkan Budaya Chinese dalam Sentuhan Modern di Kemang Jakarta
Di era modern ini, ketika identitas budaya seringkali tergerus oleh arus globalisasi, membangkitkan kembali kekayaan tradisi dengan cara baru menjadi tantangan yang menarik. Mengingat minimnya identitas budaya Chinese yang terlihat di banyak restoran, terutama di Kemang. Restoran Dragon Flames hadir untuk mengatasi kurangnya representasi budaya Chinese dan memberikan suasana yang modern. Tantangan yang dihadapi saat ini adalah kurangnya elemen visual khas Chinese, penataan ruang yang kurang efektif, serta pencahayaan dan penghawaan yang belum optimal. Proyek ini
menerapkan metode desain melalui tahapan analisis, dimulai dari pengumpulan data, analisis kebutuhan ruang, hingga pengembangan ide desain. Konsep perancangan menggabungkan elemen budaya seperti warna, material, dan ornamen atau bentuk simbolik dengan pendekatan modern. Ruang dibagi menjadi area makan publik, hotpot, privat, dan outdoor dengan mempertimbangkan kenyamanan ergonomis dan alur sirkulasi. Desain akhir menampilkan ruang makan yang tidak hanya fungsional tetapi juga menawarkan pengalaman budaya. Dengan demikian, restoran Dragon Flames dapat menjadi tempat makan sekaligus sarana edukasi dan pelestarian nilai-nilai budaya dalam konteks modern.
Kata kunci: Restoran, Budaya Chinese, Moder
Fenomena Kawin Kontrak Di Puncak Bogor Sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Naskah Emut 'Ah
Skripsi ini merupakan karya penciptaan naskah drama yang terinspirasi dari fenomena kawin kontrak yang marak terjadi di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Fenomena ini menjadi isu sosial yang kompleks karena melibatkan persoalan hukum, agama, ekonomi, serta dampak psikologis terhadap perempuan dan anak-anak yang lahir dari hubungan tersebut. Penulisan naskah drama Emut ‘Ah menggunakan pendekatan adaptasi kreatif berdasarkan teori adaptasi Linda Hutcheon dan teori penulisan drama Lajos Egri, dengan fokus pada premis, karakter, dan konflik. Melalui proses kreatif empat tahap Graham Wallas persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi fenomena tersebut diinterpretasikan ke dalam bentuk dramatik. Tokoh utama dalam naskah ini adalah Mutia, seorang anak hasil kawin kontrak yang mengalami diskriminasi sosial dan krisis identitas. Karya ini tidak hanya menyampaikan refleksi sosial, tetapi juga bertujuan membuka ruang diskusi tentang nilai kemanusiaan dan pentingnya empati terhadap individu yang lahir dari kondisi sosial yang termarjinalkan. Hasil akhir dari penciptaan ini adalah naskah drama yang telah melalui proses evaluasi internal dan eksternal serta dipentaskan dalam bentuk dramatic reading
Pengaruh Gaya Belajar Auditori Terhadap Konsentrasi Belajar Peserta Didik Pada Pembelajaran Tari Di SMP Negeri 14 Yogyakarta
Pemilihan gaya belajar auditori sebagai variabel dalam penelitian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan bahwa pembelajaran tari umumnya lebih identik dengan gaya belajar kinestetik. Namun demikian, dalam proses pembelajaran tari, peserta didik tidak hanya dituntut untuk mampu menggerakkan tubuh, tetapi juga harus memiliki kemampuan menyimak instruksi verbal, memahami irama musik, serta menangkap penjelasan guru yang disampaikan secara auditif. Oleh karena itu, gaya belajar auditori dipandang relevan untuk diteliti lebih lanjut, khususnya dalam hubungannya dengan konsentrasi belajar peserta didik. Konsentrasi belajar merupakan aspek penting dalam keberhasilan proses pembelajaran, termasuk dalam pembelajaran tari yang memerlukan fokus tinggi terhadap rangsangan auditif dan gerakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan pengaruh dari gaya belajar auditori terhadap konsentrasi belajar peserta didik pada pembelajaran tari di SMP Negeri 14 Yogyakarta.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 14 Yogyakarta. Sumber data dalam penelitian ini yaitu primer yang bersumber dari peserta didik, dan sekunder yang bersumber dari hasil literatur, website, artikel, jurnal, buku dan penelitian sebelumnya. Teknik pengumpulan data yaitu melalui kuesioner atau angket yang akan disebarkan kepada peserta didik dengan 59 responden menggunakan teknik random sampling dan teknik analisis data yaitu analisis data deskriptif, analisis uji prasyarat, dan analisis data inferensial. Dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi pearson (product moment) serta jawaban hipotesis yang menyimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima.
Setelah melalui penyebaran angket, pengumpulan, serta analisis data secara menyeluruh, maka hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya belajar auditori memiliki pengaruh yang signifikan terhadap konsentrasi belajar dengan distribusi nilai sebesar 41,5%. Namun analisis juga mengungkapkan bahwa terdapat 58,5% yang dimungkinkan dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini
Guwai
Karya Guwai Terinspirasi dari kegiatan pesta budaya yang ada di Lampung Barat, yang dikenal dengan Pesta Sekura Cakak Buah. Karya ini berusaha menelusuri bagaimana pesta budaya dengan menggunakan topeng atau penutup wajah memiliki makna sebagai sebuah ajang silaturahmi dibulan ramadhan. Mulai dari sejarah topeng Sekura hingga lahirnya pesta Sekura. Terdiri dari arak-arakan, pesta Sekura, ngelimuk dan diakhiri dengan puncak acara yaitu panjat pinang. Topeng sekura ada sejak zaman Sekala Brak kuno dan menganut kepercayaan animisme. Pesta Sekura Cakak Buah lahir bersama dengan masuknya peradaban islam yang membuat topeng Sekura memiliki makna dan fungsi yang berbeda di masa sekarang. Bersekura adalah menutup identitas diri menggunakan topeng dan bertingkah berbeda dari biasanya. Hal tersebut merupakan gestur yang biasa dilakukan pada aktivitas Pesta Sekura Cakak Buah. Karya ini diungkapkan dengan koreografi kelompok tipe tari dramatik dengan jumlah penari 8 orang. Menggunakan kostum karakter Sekura Kamak, seting panjat pinang dan juga properti dedaunan hijau, berfokus pada Pesta Sekura Cakak Buah dengan topeng Sekura kamak sebagai objeknya. Terbentuk akibat aktivitas dalam Pesta Sekura Cakak Buah, karya tari berjudul Guwai ini diwujudkan dalam metode-metode penciptaan dalam buku Creating Through Dance oleh Alma M. Hawkins (1988), yang diterjemahkan oleh Y. Sumandiyo Hadi (1990) Mencipta Lewat Tari. Menurut Hawkins, ada tiga tahapan pengembangan kreatif: Eksplorasi, Improvisasi, dan Komposisi. Karya ini berangkat dari keinginan penata untuk membongkar narasi tersirat pada Pesta Sekura Cakak Buah. Sebagai sebuah upaya untuk memberikan perspektif baru terkait dengan pengetahuan mengenai sejarah pada topeng Sekura Lampung Barat
Desakralisasi Tari Sintren Sanggar Sekar Pandan Kota Cirebon
Tulisan ini mengupas “Desakralisasi Tari Sintren di Sanggar Sekar Pandan
Kota Cirebon”. Tari Sintren merupakan kesenian tradisional yang memiliki unsur
spiritual dan sakral, terutama dalam konteks budaya Cirebon. Tradisi ini dikenal
dengan unsur mistis dan sakral, seperti proses kerasukan penari oleh roh leluhur.
Dipercaya perlu dilakukan berbagai ritual sebelum pementasan, seperti melakukan
beberapa puasa dan mandi kembang sebelum pementasan serta penari Sintren yang
masih terjaga keperawanan dan kesuciannya. Namun, di Sanggar Sekar Pandan,
terjadi proses desakralisasi, yaitu terjadinya penurunan kesakralan dengan tidak
dilakukannya berbagai macam ritual.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif
analisis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan
dokumentasi. Teori Kontruksi Sosial Realitas milik Peter L. Berger digunakan
sebagai landasan teori pada penelitian ini. Di dalamnya membahas dialektika yang
berlangsung dalam suatu proses dengan tiga “momen” simultan, yakni
eksternalisasi (penyesuaian diri dengan dunia sosio-kultural sebagai produk
manusia), obyektivasi (interaksi sosial dalam dunia intersubyektifikasi yang
dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi), dan internalisasi (individu
mengidentifikasikan diri dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial
tempat individu menjadi anggotanya).
Ketiga aspek tersebut membentuk konfigurasi masyarakat yang terdiri atas
individu maupun kelompok yang saling terhubung. Ketika aspek-aspek ini
diimplementasikan dalam konteks struktur Tari Sintren, struktur internal Sanggar
Sekar Pandan, serta dinamika masyarakat secara umum, maka terbentuklah suatu
proses yang mengarah pada terjadinya desakralisasi Tari Sintren di Sanggar Sekar
Pandan, Kota Cirebon. Proses desakralisasi yang terjadi mengakibatkan terjadinya
transformasi budaya. Transformasi ini mencerminkan upaya masyarakat untuk
menjaga keberlanjutan budaya mereka, sembari membuka diri terhadap inovasi yang
memungkinkan budaya tersebut untuk terus hidup dan diterima oleh generasi muda
Konflik Batin Lansia Pasca Kematian Pasangan Hidup Sebagai Inspirasi Penciptaan Skenario Kar
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konflik batin yang dialami lansia pasca kematian pasangan hidup sebagai inspirasi penciptaan skenario film pendek berjudul Kar. Studi ini berangkat dari pengalaman empiris penulis yang menyaksikan pergulatan batin neneknya, Karmonah, setelah kehilangan suami secara mendadak. Fenomena late-life crisis (krisis identitas di usia lanjut) dan grief dream (mimpi duka) menjadi pondasi utama dalam membangun karakter dan konflik cerita. Late-life crisis menggambarkan krisis jati diri yang dialami lansia akibat perubahan besar seperti kematian pasangan, sedangkan grief dream menyoroti mimpi tentang orang yang telah tiada sebagai respon psikologis terhadap kehilangan.
Penciptaan skenario ini menggunakan pendekatan empiris melalui observasi dan wawancara, serta analisis data yang kemudian diolah menggunakan struktur naratif miniplot Robert McKee, yang menekankan protagonis pasif, konflik internal, akhir cerita terbuka, dan fokus pada banyak karakter. Konsep l'autre (yang lain) dalam eksistensialisme Jean-Paul Sartre diintegrasikan untuk menggambarkan bagaimana kehadiran orang lain, baik nyata maupun dalam bentuk kenangan, dapat menjadi sumber konflik sekaligus mendorong rekonstruksi identitas dan makna hidup. Selain itu, realisme magis diterapkan sebagai pendekatan estetika untuk memperdalam pengalaman batin tokoh melalui perpaduan antara realitas sehari-hari dan unsur magis, khususnya dalam visualisasi mimpi dan kenangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman empiris lansia yang berduka dapat diolah menjadi narasi sinematik yang kaya makna, merepresentasikan kompleksitas emosi, pencarian makna, dan proses penyembuhan psikologis. Skenario Kar tidak hanya menjadi refleksi personal, tetapi juga menawarkan perspektif baru mengenai pentingnya dukungan sosial dan pemaknaan ulang identitas diri bagi lansia pasca kehilangan pasangan hidup
Potret Environmental Ballo' Dalam Masyarakat Suku Toraja
Skripsi penciptaan karya fotografi ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara visual eksistensi ballo’, yaitu minuman fermentasi tradisional masyarakat Suku Toraja yang berasal dari getah pohon nira, dengan menggunakan pendekatan fotografi potret lingkungan (environmental portraiture). Masyarakat Toraja memaknai ballo’ bukan hanya sebagai minuman konsumsi, melainkan sebagai simbol yang mencerminkan nilai-nilai sosial, spiritual, dan ekonomi dalam kehidupan mereka. Melalui pendekatan dokumenter dan artistik, karya merepresentasikan hubungan antara manusia dan lingkungan hidupnya, serta menunjukkan bagaimana budaya lokal mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan zaman. Proses penciptaan karya dilakukan dengan menggunakan metode observasi langsung di lapangan, wawancara dengan pelaku budaya seperti penyadap, penjual, dan konsumen ballo’, studi pustaka, rancangan pemotretan, pemotretan, penyuntingan foto hingga publikasi. Teori yang mendasari penciptaan ini adalah prinsip Gestalt. Hasil karya fotografi menunjukkan eksistensi ballo’ dalam berbagai aktivitas sosial masyarakat Toraja, seperti penyadapan, distribusi, penjualan di pasar, hingga konsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Potret lingkungan dalam penelitian ini juga menjadi sarana pengarsipan visual sekaligus upaya pelestarian identitas budaya lokal. Penelitian ini memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan wacana seni fotografi dokumenter di Indonesia