Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta

Indonesian Institute of the Art Yogyakarta
Not a member yet
    16125 research outputs found

    Transformasi Nilai Musik Iringan Dalam Prosesi Rampanan Kapa’ Di Desa Telemow – Sepaku – Penajam Paser Utara

    Get PDF
    Pro kontra mengenai perubahan penggunaan gendang Pa’gellu dalam Rampanan Kapa’ di desa Telemow, Sepaku, Penajam Paser Utara memberikan dampak terhadap transformasi nilai musik iringan. Berdasarkan permasalahan terebut maka penelitian ini mempunyai fokus pada transformasi nilai musik iringan dalam prosesi Rampanan Kapa’ di Desa Telemow, Sepaku, Penajam Paser Utara. Untuk mengelaborasi transformasi nilai maka digunakan pendekatan teori transformasi nilai dari Hoffman dan estetika musik Scruton. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi pustaka dan dokumentasi. Teknik analisis data mempergunakan konsep Miles, Huberman tentang analisis interaksi yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, klasifikasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai moral sosial budaya yang berkembang dalam masyarakat Toraja di desa Telemow, Sepaku, Penajam Paser Utara memberikan dampak terhadap transformasi nilai guna gendang Pa’gellu dalam prosesi Rampanan Kapa’, yang ditunjukan dari perubahan peran gendang Pa’gellu sebagai musik iringan arak-arakan penggantin menuju ke pelaminan menjadi peran hiburan. Transformasi nilai terjadi bukan hanya sekedar adopsi alat musik baru, melainkan proses internalisasi serta adaptasi nilai-nilai budaya agar tetap relevan di tengah modernisasi. Transformasi nilai sosial budaya gendang Pa’gellu dalam Rampanan Kapa’ terjadi pada ruang intramusikal yaitu adanya preferensi musikal yang menginginkan tidak hanya pada ruang ritme dan harmoni tetapi juga melibatkan unsur melodi karena untuk membangun pengalaman musikal antar makhluk hidup. Secara keseluruhan, penelitian ini menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, memperkuat identitas budaya sekaligus memenuhi selera musikal masyarakat Toraja masa kini. Kata Kunci : Transformasi, Nilai, Rampanan Kapa’

    Produksi Sistem Tanda I Ketut Gede Bendesa pada Pembelajaran Tari Bagi Disabilitas Rungu di Sanggar Tari Sekar Dewata Bali

    Get PDF
    Penelitian ini menganalisis “Produksi Sistem Tanda I Ketut Gede Bendesa Pada Pembelajaran Tari Bagi Disabilitas Rungu Di Sanggar Tari Sekar Dewata Bali”. Sanggar Tari Sekar Dewata merupakan salah satu sanggar inklusi yang di dalamnya terdapat murid disabilitas rungu. Keterbatasan yang dimiliki disabilitas rungu, menjadikan adanya perbedaan cara berkomunikasi. Disabilitas rungu berkomunikasi dengan nonverbal yaitu bahasa isyarat. Hal tersebut menjadikan I Ketut Gede Bendesa sebagai pendiri sekaligus pengajar Sanggar Tari Sekar Dewata memproduksi tanda, sebagai media komunikasi penyampaian materi tari. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan dan menganalisis produksi sistem tanda I Ketut Gede Bendesa pada pembelajaran tari bagi disabilitas rungu di Sanggar Tari Sekar Dewata. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif yaitu menggambarkan atau menguraikan hal-hal dengan apa adanya, serta menggunakan data kualitatif yang akan menghasilkan data deskriptif, dengan berupa kata-kata yang tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang diamati. Peneliti menggunakan pendekatan semiotika menurut Ferdinan de Saussure. Dua cara pandang Saussure Syncronic and Diachronic dan Signifier and Signified digunakan oleh peneliti untuk mengetahui bagaimana produksi sistem tanda I Ketut Gede Bendesa pada pembelajaran tari bagi disabilitas rungu. Tanda diproduksi mengacu pada BISINDO memiliki karakteristik seperti memunculkan ekspresi wajah, gerakan mulut dan memiliki kemiripan dengan bentuk gerak yang sebenarnya. Tanda paling dasar yang diproduksi oleh I Ketut Gede Bendesa adalah tanda sikap, tanda sikap kemudian dikembangan menjadi tanda yang menginstruksikan suatu gerak tari. Tanda yang diproduksi oleh I Ketut Gede Bendesa dimaknai sebagai aba-aba mulainya tarian, ekspresi, sikap dan gerak tari. Tanda harus disampaikan secara berurutan sehingga murid dapat melakukan motif gerak tari hingga repertoar Tari Pendet dan Tari Baris Tunggal. Tanda tersebut dapat digunakan sebagai media komunikasi penyampaian materi, karena adanya kesepakatan pemahaman antara pengajar dan murid disabilitas rungu. Kata kunci: Disabilitas, Semiotika, Tari

    Studi Komparasi Tari Golek Sulung Dayung Di Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa Dan Siswa Among Beksa

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan yaitu untuk mengetahui perbedaan dan persamaan bentuk Tari Golek Sulung Dayung baik di Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa maupun di Siswa Among Beksa tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif komparatif yaitu dengan membandingkan satu tarian dari 2 tempat berbeda, yang terdapat pada Tari Golek Sulung Dayung di Siswa Among Beksa dengan Tari Golek Sulung Dayung di Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa. Oleh karena itu, untuk menjawab permasalahan pada masalah di atas serta dapat mencapai tujuan, penelitian ini menggunakan teori perbandingan. Dalam penelitian ini jurnal komparatif yang berjudul “Comparative Study of Japanese and Indonesia Panji Mask in Light on Fine Art Element and Principles” oleh Slamet Subiyantoro, digunakan untuk membantu sebagai jembatan membedah sebuah objek penelitian yang di ambil, selain itu di dalam jurnal tersebut tari juga berfokus terhadap bentuk, dapat dikatakan bahwa garis dan warna pada hakikatnya juga berbicara tentang bentuk. Sedangkan di dalam objek yang akan diteliti ini, yang dimaksud dengan bentuk adalah bentuk koreografi tentang Tari Golek Sulung Dayung tersebut, yang terdiri dari motif gerak, ragam gerak, pola lantai, dan gending pengiringnya. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kajian tekstual. Tekstual di dalam sebuah pertunjukan tari yaitu terlihat pada struktur, bentuk, dan koreografinya, maka untuk dapat membandingkan dan melihat perbedaan juga persamaannya, kaitannya pada bentuk tersebut yaitu melihat bentuk motif dan frase pada bagian beksan pokok kedua tarian tersebut, lalu pada sebuah bentuk penyajiannya pada masing-masing tarian tersebut dan yang terakhir akan dikaitkan pada bentuk geraknya yang akan di analisis menggunakan analisis laban (effort). Dari hasil penelitian yang diperoleh perbedaan yang terdapat pada bentuk penyajian yaitu pada aspek gerak, pola lantai, dan iringannya. Terdapat pula persamaan kedua bentuk tersebut berdasarkan tema, properti, penari, rias busana, dan tempat pertunjukan. Selebihnya juga terdapat persamaan dan perbedaan pada analisis komparasi pada kedua bentuk tari tersebut

    Rancangan Model Pembelajaran Dan Pengukuran Kreativitas Untuk Seni Tari Sekolah Menengah Atas Di Kota Yogyakarta

    Get PDF
    Tesis ini mengembangkan model pembelajaran berbasis pengalaman diperkaya dengan penguatan elemen-elemen pembentuk kreativitas. Model ini dirancang untuk pelajaran seni tari yang saat ini tidak menarik perhatian siswa. Penyertaan elemen- elemen kreativitas akan dapat meningkatkan kreativitas siswa. Pemanfaatan model pembelajaran ini untuk seni tari dimotivasi oleh model-model pembelajaran yang sebelumnya tidak menjelaskan cara membuat pelajaran seni tari menjadi menyenangkan (joyful), bermakna (meaningful), dan berkesan (mindful.) Demikian juga, penelitian tentang kreativitas adalah tentang apa itu kreativitas, bukan bagaimana membuat siswa menjadi lebih kreatif. Model pembelajaran yang diusulkan mengacu pada teori pembelajaran berbasis pengalaman gagasan Kolb (1984, 2011). Teori ini memuat siklus pembelajaran menggali pengalaman siswa sebelum memulai pembelajaran, melakukan pengamatan refelektif secara konkret, memikirkan konsep abstrak yang mendasari hasil pengamatan, aktif mencobakan konsep tersebut pada permasalahan nyata, dan merumuskan pengalaman konkret pembelajaran dan mengomunikasikannya. Teori ini digabung dengan hasil penelitian Dyers dkk (2011) bahwa kreativitas adalah keterampilan yang dibentuk dari keterampilan-keterampilan dasar: mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasikan, dan mengomunikasikan, yang sejalan dengan gagasan Kolb. Ketidakhadiran model serupa adalah pemicu tesis ini mengusulkan model pembelajaran kreativitas, khususnya untuk seni tari. Model ini menggabungkan gagasan Kolb dengan elemen-lemen kreativitas penelitian Dyers, dkk. Model ini diimplementasikan di empat sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta. Tesis ini juga merancang instrumen untuk menilai kesesuaian proses pembelajaran saat ini dengan yang diusulkan dan untuk menilai peningkatan kreativitas siswa sebelum dan sesudah implementasi model yang diusulkan. Tesis ini juga merancang instrumen penilaian kemampuan teknis, ekspresi, dan kecerdasan siswa dalam menari. Hasil pengumpulan data dianalisis dengan metode statistik untuk menentukan nilai rata-rata tiap sekolah dan tiap kriteria. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebelum implementasi model, pembelajaran seni tari di empat SMA menunjukkan tingkat kesesuaian terhadap model ideal sebesar 63,25%. Kelemahan ditemukan pada penggalian pengalaman awal siswa, eksplorasi ruang dan waktu, serta pemahaman nilai estetika. Kemampuan teknis siswa tergolong cukup (73,5%), tetapi masih lemah dalam akurasi dan stabilitas gerak. Kreativitas siswa dinilai tinggi oleh guru (81,5%), namun tidak sepenuhnya sejalan dengan penilaian diri siswa (77,25%) yang mengungkapkan kesulitan dalam menciptakan gerak yang kompleks dan ekspresi yang tepat. Penilaian akhir guru terhadap kemampuan siswa berada pada angka 75,75%, sedangkan penilaian peneliti lebih rendah, yaitu 60,75%. Setelah implementasi model pembelajaran, terjadi peningkatan signifikan dalam berbagai aspek, antara lain penggalian pengalaman awal, pengamatan kritis, keterkaitan lintas pelajaran, keberanian dalam eksplorasi gerak, dan pemanfaatan pola iringan. Hasil ini menunjukkan bahwa model pembelajaran yang dirancang efektif dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran seni tari, sekaligus menumbuhkan kreativitas siswa secara lebih menyeluruh. Kata kunci: model pembelajaran, kreativitas, seni tari, sekolah menengah atas, penilaian pembelajara

    Implementasi Hidup Pelan Melalui Penciptaan Seni Rupa

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana konsep hidup pelan dapat diimplementasikan melalui penciptaan karya seni rupa sebagai bentuk refleksi diri atas tekanan kehidupan modern. Permasalahan yang diangkat meliputi bagaimana visualisasi problematika hidup pelan diwujudkan dalam karya seni serta bagaimana proses penciptaannya menjadi sarana menjalani hidup secara lebih sadar dan bermakna. Praktik ini lahir dari pengalaman pribadi penulis dalam menghadapi ritme kehidupan yang cepat dan tuntutan sosial yang melelahkan, yang mendorong pencarian bentuk hidup yang lebih pelan, reflektif, dan manusiawi.Landasan teoritis yang digunakan mencakup konsep kesadaran diri, konsep waktu (Chronos dan Kairos), hidup pelan, dan mindfulness. Serta kajian teori yang mencakup seni mixed media, conceptual art, dan interaksi sosial. Referensi terhadap karya dari seniman seperti Olafur Eliasson, Slow Art Collective, dan Jakob Grosse-Ophoff memperkuat pendekatan penciptaan yang tidak hanya visual, tetapi juga imersif dan reflektif.Metode penciptaan yang digunakan adalah practice-based research dengan mengacu pada tahapan kreatif SP. Gustami, yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Proses ini menekankan keterlibatan personal dan refleksi mendalam melalui eksperimen media, material, dan interaksi dengan lingkungan. Media yang digunakan bervariasi, mulai dari video hologram, instalasi kinetik, hingga objek sehari-hari yang memiliki kedekatan emosional dengan pencipta.Hasil penciptaan menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang kontemplatif untuk merespons tekanan hidup modern melalui cara yang lebih perlahan dan penuh makna. Menghasilkan 5 karya dengan judul “Di sini?”, “,”, “Laun“, “Semua (tak) Sama”, “Adaptasi”, yang tidak hanya menyampaikan pesan tentang pentingnya kehadiran dan kesadaran, tetapi juga menjadi sarana merawat diri dan membangun kembali keterhubungan dengan lingkungan sekitar. Seni rupa menjadi medium pertemuan antara dunia modern dan nilai-nilai hidup lambat yang transformatif

    Peran Modal Musikal dan Model Pembelajaran Otodidak Untuk Menjadi Gitaris Musik Pop: Studi Kasus Musisi Jalanan di Kodya Yogyakarta

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk memahami modal musikal dan model pembelajaran otodidak dalam proses penguasaan gitar musik pop oleh musisi jalanan di Kodya Yogyakarta. Latar belakangnya berangkat dari kenyataan bahwa banyak gitaris jalanan mampu memainkan lagu-lagu pop dengan baik meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan musik formal. Masalah yang dikaji meliputi bagaimana model pembelajaran otodidak terbentuk, jenis modal musikal apa saja yang dimiliki, serta alasan mengapa pendekatan otodidak bisa menghasilkan penguasaan musikal yang efektif. Sebagai landasan analisis, penelitian ini mengacu pada teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura yang menekankan individu belajar dari masyarakat. Teori ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana gitaris otodidak belajar secara mandiri, dengan mengolah pengalaman musikal mereka menjadi pengetahuan yang bersifat reflektif dan kontekstual. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara semi terstruktur dengan empat gitaris otodidak, serta studi pustaka. Data yang diperoleh dianalisis secara tematik menggunakan bantuan perangkat lunak NVivo, yang membantu mengelompokkan temuan berdasarkan tema seperti pendekatan belajar, sarana belajar, elemen musikal, dan hasil capaian belajar gitaris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran gitaris otodidak terbentuk dari pengalaman sosial dengan melalui empat tahap penting seperti attention, retention,reproduction, motivation. Modal musikal seperti melodi utama, nada dasar, tangga nada, progresi akor, hingga akor dasar menjadi pondasi dalam memahami dan memainkan lagu secara intuitif. Pendekatan belajar yang fleksibel, aktif, dan adaptif ini terbukti mampu membentuk kemampuan musikal secara mandiri tanpa bergantung pada lembaga pendidikan formal

    Karya Penciptaan Seni Pertunjukan "Narima" Terinspirasi dari Penerimaan Ibu Terhadap Anak Tuli

    Get PDF
    Ibu sebagai ide penciptaan seni pertunjukan bukan hanya menghadirkan kisah personal, melainkan juga membuka ruang diskusi sosial, budaya, politik, dan spiritual. Topik ini datang dari kegelisahan dalam pengalaman memiki anak, tidak mudah merawat dan memberi pengasuhan terhadap mereka. Hal ini menggugah keingintahuan tentang bagaimana peneriamaan seorang ibu ketika mempunyai anak tuli. Karya ini bertujuan Menghadirkan karya seni pertunjukan narima dengan teori presentasi dan representasi, serta Menjadikan teori psikologis Sigmund Freud sebagai landasan psikologis ibu pada karya narima. Pertunjukan ini menggabungkan dua pendekatan utama dalam seni pertunjukan, presentasi dan representasi, yang dirancang dalam gaya realis dan surealis, dan diperkaya dengan kekuatan media hiburan (entertainment) serta audio visual untuk menciptakan pengalaman multi indrawi dan transformatif. Karya Narima menggunakan metode penciptaan pertunjukan Practice lead Research. Dalam penciptaan seni, karya yang diciptakan tidak akan memiliki nilai ketika tidak ada narasi di balik karya tersebut. Karya pertunjukan narima adalah contoh bagaimana seni pertunjukan dapat menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan isu-isu kemanusiaan, khususnya terkait penerimaan terhadap perbedaan. Penerimaan adalah perjalanan yang membutuhkan keberanian, kesabaran, kasih sayang yang disampaikan dengan kekuatan artistik yang matang. Pertunjukan ini tidak hanya menjadi kisah pribadi ibu dan anak, tetapi juga menjadi cermin dalam memandang perbedaan dan keberagaman di sekitar kita

    Pendampingan Lingkung Seni ( Studi Kasus : Sanggar Tari Jaipongan )

    Get PDF
    Program pendampingan lingkung seni merupakan hasil inisiasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Program ini terbentuk atas usulan kewilayahan untuk memberikan bantuan non materi untuk sanggar seni. Tujuannya untuk membantu memperbaiki sistem manajemen sanggar seni menjadi lebih profesional. Program pendampingan lingkung seni pertama kali dilaksanakan pada tahun 2021 diikuti lima kecamatan, kemudian terjadi peningkatan pada tahun 2022 menjadi delapan kecamatan. Pelaksanaan program pendampingan lingkung seni menunjukan adaptasi pelaksanaan program, sebelumnya dilaksanakan secara online pada pandemi COVID-19 menjadi pendampingan secara langsung ke lapangan, melibatkan pendataan, kunjungan, pelaksanaan kegiatan seminar, dan penyelenggaraan kolaborasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses perencanaan serta proses pelaksanaan program pendampingan lingkung seni. Kemudian melihat sistem manajemen sanggar tari Jaipongan, setelah mengikuti program pendampingan lingkung seni. Penelitian dilakukan di Kota Bandung berfokus pada tiga subjek, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata selaku perencana program, tim Bandung Mesat selaku pelaksana program, dan sanggar tari jaipongan selaku penerima program. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi peningkatan pada sistem manajemen sanggar. Program pendampingan berhasil mengatasi masalah surat tanda legalitas sanggar yang belum diperbarui dan belum ada, serta membantu sanggar dalam efisiensi operasional melalui pemanfaatan fasilitas peminjaman tempat. Meski sanggar memiliki struktur organisasi bervariasi, program ini mendorong pentingnya pengelolaan sanggar yang lebih profesional. Program pendampingan lingkung seni secara mendasar mengubah manajemen sanggar menjadi lebih profesional. Namun demikian keberlanjutan dan optimalisasi program pendampingan lingkung seni perlu terus dilakukan

    “Awa Tantra” Pertunjukan Teater Visual; Fenomena Meditasi Cahaya

    Get PDF
    Meditasi cahaya adalah salah satu praktik spiritual Jawa. Penciptaan karya seni menjadi salah satu menifestasi pertunjukan dengan mengelaborasikan pengalaman empiris dan seni. Banyak peneliti yang meneliti tentang meditasi beserta dampaknya, namun masih sedikit yang mentransformasikan kedalam bentuk seni pertunjukan. Fenomena meditasi cahaya merupakan praktik meditasi yang melibatkan kesadaran diri terhadap visualisasi di dalam penglihatan. Melalui pendekatan fenomenologi persepsi, fenomena meditasi cahaya dapat diamati dan ditransformasikan menjadi bentuk karya seni. Fenomenologi persepsi mengarah pemahaman individu tentang empiris dan kesadaran diri. Meditasi cahaya dapat ditransformasikan kedalam bentuk teater visual dengan pendekatan posdramatik yang lebih menekankan pada eksplorasi cahaya, gerak, bunyi, visual, dan lanskap. Proses transformasi fenomena meditasi cahaya ke dalam bentuk pertunjukan teater visual menggunakan metode practice-led research. Menekankan pada kreativitas praktisi seni dalam penelitian dan praktik seni. Pertunjukan teater visual Awa Tantra ini menjadikan sarana edukatif bagi pelaku seni cahaya maupun praktisi meditasi. Temuan penting dalam penciptaan karya seni pertunjukan ini adalah bagaiamana transformasi pengalaman meditasi cahaya ke dalam teater visual. Pertunjukan posdramatik ini berbentuk fragmentatif. Elemen cahaya, gerak, visual, dan lanskap menjadi medium utama yang menghadirkan kesadaran transendetal dan spiritual

    Komodifikasi Budaya Kutai Adat Lawas "Nutuk Beham" Dari Tradisi Ke Komersialisasi

    Get PDF
    Penelitian ini membahas proses komodifikasi budaya pada upacara adat Nutuk Beham di Desa Kedang Ipil, Kutai Kartanegara, yang mengalami pergeseran makna dari tradisi sakral menjadi festival komersial. Awalnya, Nutuk Beham merupakan ritual adat untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah, dilakukan secara gotong royong di ladang dengan serangkaian prosesi adat yang sarat nilai spiritual dan komunal. Namun, sejak tahun 2014, upacara ini diangkat menjadi festival tahunan sebagai bagian dari pengembangan desa wisata dan pelestarian budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analisis dengan strategi multi-method, yaitu pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam (tatap muka dan daring melalui WhatsApp), serta dokumentasi secara triangulasi untuk memperoleh pemahaman yang mendalam dan valid. Teori komodifikasi Anthony Brewer digunakan sebagai pisau analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komodifikasi budaya Nutuk Beham telah mengubah bentuk, makna, dan pelaksanaannya: dari ritual sakral menjadi atraksi budaya berorientasi ekonomi dan pariwisata. Pergeseran ini berdampak positif berupa meningkatnya kunjungan wisatawan, memperkuat identitas budaya, dan membuka peluang ekonomi, tetapi juga mengikis nilai spiritual, gotong royong, dan kesakralan tradisi. Kata kunci: Komodifikasi Budaya, Kutai Adat Lawas, Nutuk Beham, Festival, Tradisi, Multi-Metho

    15,254

    full texts

    16,125

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Institute of the Art Yogyakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇