Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta

Indonesian Institute of the Art Yogyakarta
Not a member yet
    16125 research outputs found

    Perancangan Buku Ilustrasi 'Fatherless' Pentingnya Peran dan Kehadiran Ayah Bagi Dewasa Awal

    Get PDF
    Di kehidupan manusia, manusia tidak akan jauh dari yang namanya isu atau permasalahan hidup. Isu fatherless di Indonesia sendiri baru akrab dikenal pada mulai tahun 2023. Hal ini disebabkan karena kentalnya budaya Patriarki yang dilanggengkan oleh masyakarat Indonesia, khususnya ayah di Indonesia. Saat digali lebih dalam, pola patriarkal ini tidak hanya disebabkan oleh faktor internal, namun juga eksternal seperti adanya andil dari lingkungan sekitar. Tujuan dari Perancangan buku ilustrasi adalah sebagai media penyebaran akan informasi dan cara memperbaiki relasi yang telah rusak, juga sebagai media penyadaran kepada pelaku bahwa sebenarnya seorang ayah peran dan kehadirannya bagi anak sangat penting. Diperkuat oleh hukum negara dan agama bahwa seorang ayah tidak hanya memiliki kewajiban dan tanggung jawab memberi nafkah lahir, namun juga nafkah batin, tujuannya untuk memelihara relasi agar selalu harmonis. Metode yang digunakan perancang dalam mengidentifikasi masalah adalah menggunakan metode kualitatif yang tujuannya untuk memperoleh data secara mendalam. Metode yang digunakan adalah 5W+1H, kuesioner dan metode wawancara. Kuesioner sendiri dibagikan kepada korban yang merupakan dewasa awal karena lebih piawai dalam mengidentifikasikan dan menjelaskan isu yang terjadi dalam dirinya. Berdasarkan data yang sudah terkumpul dan sudah diolah kemudian data tersebut perancang gunakan sebagai landasan ide dalam perancangan naskah, penokohan, dan desain dunia dalam buku ilustrasi. Hasil dari perancangan buku ilustrasi yang berjudul The Father’s Secret Agreement secara garis besar membahas proses penerimaan dan perubahan diri pelaku menjadi sosok ayah yang lebih baik bagi keluarganya. Berdasarkan segi perancangan buku ilustrasi, mengingat media yang digunakan adalah buku ilustrasi sehingga dari segi narasi dan visualisasi yang ada perancang desain agar terlihat menarik juga memiliki pesan dan informasi yang detail. Dalam buku ilustrasi juga memiliki unsur kebaharuan, mengingat di Indonesia sendiri media dan karya yang membahas isu fatherless masih terbatas dan belum sebanyak isu sosial lainnya

    Konstelasi Api Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis

    Get PDF
    Dengan seni seorang seniman dapat mengangkat peristiwa atau fenomena kehidupan manusia. Unsur panas dalam kehidupan kita adalah api yang juga memiliki arti maknawi. Api merupakan hasil reaksi kimia (oksidasi) dari perpaduan tiga unsur panas, oksigen, dan bahan mudah terbakar. Dalam kehidupan, api dipahami sebagai simbol yang sarat makna ambivalen antara penghancuran dan penyelamatan, kekacauan dan kehangatan. Representasi interpretatif menjadi metode utama dalam mengkomunikasikan gagasan, representasi di sini dimaknai sebagai proses menggambarkan, menampilkan, atau mewakili suatu objek, ide, atau realitas ke dalam bentuk visual. Melalui pendekatan ini, karya yang dihasilkan tidak hanya menghadirkan bentuk, tetapi juga memuat penafsiran yang membuka ruang dialog dengan pengalaman kolektif maupun individual. Sebanyak 15 karya seni lukis diciptakan menggunakan media cat akrilik di atas kanvas, dengan penerapan teknik plakat, basah, ciprat, dan ekspresif

    Pengaruh tingkat pengalaman musikal terhadap persepsi musik tonal dan atonal pada musisi dan non - musisi

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan persepsi antara trained musicians dan non musisi terhadap musik tonal dan atonal. Perbedaan diasumsikan berasal dari pengalaman musikal kedua kategori. Atonal mendapatkan stigma negatif terhadap kompleksitas komposisinya, sehingga seringkali tidak mendapatkan perhatian yang setara dengan musik dalam struktur tonalitas. Musisi strings terlatih memiliki korteks motorik pada lobus parietal yang lebih besar sebagai adaptasi dari gerakan-gerakan yang cepat, sehingga pengalaman musikal diasumsikan memengaruhi persepsi. Persepsi dua kategori subjek terhadap kompleksitas atonal dilihat melalui gelombang dan area aktivasi otak yang dominan. Trained musicians dan non-musisi memiliki perbedaan cara dalam menavigasi musik atonal yang kompleks seperti yang dikatakan oleh Sloboda. Subjek non musisi memiliki Persepsi musikal sebagai sebuah fungsi kognitif diuraikan ke dalam beberapa kategori oleh Sloboda. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan desain ex post facto dan between-subject. Terdapat tiga sesi eksperimen, mencakup praperlakuan, perlakuan, dan pasca perlakuan (baseline, stimulus, dan after stimulation). Gelombang otak digunakan sebagai indikator perbedaan, dan cognitive load serta identifikasi elemen musikal sebagai indikator pemahaman subjek akan stimulus yang diperdengarkan. Kedua kategori trained musicians dan non musisi dirandomisasi, sehingga setiap subjek memiliki kesempatan yang sama dalam mendengarkan musik tonal atau atonal. Teknik pemilihan sampel menggunakan convenience non-probabilitas. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan electroencephalography 14-channels Emotiv Epoc, TestBench v1.2.1.5 dan peneliti dalam sesi wawancara. Hasil independent samples t-test musisi dan non musisi terhadap musik tonal (116.87±780.17 t(6)=0.150, p<0.724). Hasil independent samples t-test musisi dan non musisi terhadap musik atonal (103.75±216.6 t(6)=0.479, p < 0.696). Keduanya berarti tidak signifikan, namun terdapat perbedaan cara subjek menavigasi musik tonal dan atonal

    Film Dokumenter di Era Konvergensi Media: Analisis Model Industri Eagle Institute Indonesia

    Get PDF
    Penelitian ini menganalisis peran Eagle Institute Indonesia (EII) dalam membentuk dan mempertahankan model industri ketika menghadapi fenomena konvergensi media. EII sebagai lembaga pendidikan produksi film dokumenter yang bernaung di bawah Metro TV menjalankan model industri dengan cakupan proses pengembangan, produksi, distribusi, dan eksebisi film dokumenter. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun EII tidak banyak melakukan pembaruan struktural pada model industrinya, lembaga ini mampu beradaptasi secara teknis melalui integrasi kanal distribusi digital seperti YouTube dan kerjasama internasional. Program unggulan seperti Eagle Awards Documentary Competition (EADC) dan Melihat Indonesia telah melahirkan ratusan karya dokumenter serta membangun jaringan alumni yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Peneliti juga menemukan bahwa ketergantungan EII pada Metro TV dan pemerintah sebagai sumber pendanaan hingga distribusi menjadi tantangan dalam menghadapi perkembangan media digital dan dinamika politik industri media. Studi ini menegaskan pentingnya peran lembaga berbasis pendidikan dalam merawat keberlanjutan ekosistem dokumenter nasional, bersamaan dengan menyoroti kebutuhan akan transformasi digital, pendanaan, dan penguatan kapasitas kelembagaan untuk mempertahankan relevansi di era konvergensi medi

    Female Gaze dalam Film Before, Now, and Then dan Penyalin Cahaya

    Get PDF
    Dominasi male gaze dalam film sering kali tidak merepresentasikan subjektivitas dan pengalaman emosional perempuan sehingga memperkuat dominasi hegemoni maskulinitas. Hadirnya female gaze merupakan respon tandingan terhadap kekeliruan male gaze. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis female gaze dalam karya film sutradara perempuan dan laki-laki yang berupaya mengungkapkan pendekatan female gaze berdasarkan kedua gender sutradara. Film menggunakan dua unsur penting yaitu naratif dan sinematik yang tidak bisa dipisahkan untuk dianalisis. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis wacana kritis untuk mengkaji isi naratif dalam film yang berguna untuk mengungkapkan representasi perempuan sebagai subjektivitas aktif. Sementara itu, the movement image atau citra gerak diterapkan untuk menganalisis elemen sinematik yang membentuk female gaze melalui penggunaan perception image, action image, dan affection image. Kedua pendekatan ini berguna untuk membangun pemahaman mendalam tentang narasi dan visual dalam mendukung subjektivitas perempuan. Penelitian ini menerapkan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif pada dua film yaitu Before, Now, and Then (Nana) dan Penyalin Cahaya. Data diperoleh melalui pengumpulan adegan-adegan representatif female gaze dengan pedoman alur ketegangan dramatis Aristotelian untuk mengidentifikasikan naratif dan sinematik yang mencerminkan female gaze serta mengidentifikasikan pola representasi perempuan. Hasil penelitian menunjukkan kedua film membentuk pola female gaze yang sama, yaitu perempuan sebagai subjek aktif, perempuan dengan pengalaman emosional, perempuan dalam solidaritas sesama perempuan, dan perempuan dalam perlawanan patriarki. Namun, pola female gaze kedua film memiliki urutan pola yang berbeda. Film sutradara perempuan mengutamakan pengalaman emosional, sedangkan sutradara laki-laki memulai dengan aksi perempuan. Female gaze tidak sekedar merespon male gaze, melainkan ada proses negosiasi melalui narasi yang menonjolkan subjektivitas perempuan, serta dukungan sesama perempuan berpotensi menciptakan female gaze

    Pemilihan Chinrest Ergonomis Berdasarkan Bentuk Tulang Rahang Studi Kasus : Mahsiswa Violin Dan Viola Program Studi Penyajian Musik

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis atau tipe chinrest yang sesuai berdasarkan bentuk tulang rahang manusia, serta menganalisis hubungan antara keduanya dalam konteks pemilihan chinrest yang tepat bagi pemain violin dan viola. Studi kasus dilakukan terhadap mahasiswa aktif Program Studi D4 Penyajian Musik, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Fokus penelitian mencakup identifikasi tipe chinrest, klasifikasi bentuk tulang rahang, serta keterkaitan keduanya dalam menentukan chinrest yang ideal bagi masing-masing individu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pemain violin dan viola belum mengetahui keberagaman tipe chinrest maupun kaitannya dengan bentuk anatomi rahang. Mayoritas subjek juga belum pernah mencoba menggunakan chinrest yang disesuaikan dengan struktur rahang mereka. Melalui proses observasi dan eksperimen penggunaan chinrest yang lebih sesuai, sebagian subjek melaporkan peningkatan kenyamanan saat bermain. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman para pemain violin dan viola mengenai pentingnya pemilihan chinrest yang sesuai dengan bentuk anatomi, guna mendukung kenyamanan dan performa bermain yang optimal

    Implementasi Blender Geometry Nodes Untuk Efisiensi Pemodelan Pelek Mobil Pada Film Animasi 3D "Kurangi Kecepatan"

    Get PDF
    Film animasi modern terus berkembang dengan mengadopsi teknik visual yang lebih kompleks, termasuk optimalisasi proses modeling melalui pendekatan prosedural yang dapat melengkapi sumber daya alat dan juga waktu. Salah satu inovasi yang diterapkan dalam produksi film animasi 3D “Kurangi Kecepatan” adalah penggunaan Geometry Nodes untuk modeling pelek mobil, menggantikan metode tradisional seperti Destruktif dan Modifier Array. Penelitian ini berfokus pada pengembangan sistem Geometry Nodes yang memungkinkan penyesuaian parameter pelek secara dinamis, efisien, dan fleksibel, sehingga mempercepat workflow produksi animasi tanpa mengorbankan presisi geometri. Melalui analisis komparatif dan statistik deskriptif, ditemukan bahwa Geometry Nodes memiliki waktu pengerjaan yang lebih cepat dan lebih stabil dibandingkan metode lainnya, menunjukkan keunggulan dalam efisiensi produksi. Implementasi sistem ini menghasilkan pengurangan waktu modeling yang signifikan dan memudahkan proses revisi tanpa perlu pemodelan ulang secara manual. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan metode modeling prosedural dalam animasi, terutama untuk objek otomotif yang memiliki bentuk kompleks dan membutuhkan fleksibilitas tinggi dalam desain

    Dinamika Efek Soundscape Dalam Kreativitas Pola Musikal Pada Komposisi Karawitan "Swara Loka"

    Get PDF
    Penelitian ini merupakan hasil penciptaan karya komposisi karawitan yang terinspirasi dari bunyi-bunyian soundscape warung kopi sebagai sumber ide musikal. Latar belakang penciptaan didasari oleh ketertarikan terhadap dinamika bunyi di ruang sosial, khususnya warung kopi, yang memadukan antara kebisingan aktivitas manusia dan momen ketenangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pola musikal yang terbentuk dari pengaruh bunyi kebisingan dan ketenangan serta sejauh mana efek dari kedua jenis soundscape tersebut berkontribusi terhadap proses kreatif dalam penciptaan pola musikal komposisi karawitan. Landasan teori utama dalam karya ini adalah teori soundscape R. Murray Schafer yang memandang lingkungan bunyi sebagai material estetis dan kontekstual dalam penciptaan musik. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif research led practice yang menggabungkan proses penciptaan karya dengan refleksi analitis selama praktik berlangsung. Hasil dari proses penciptaan ini adalah pola musikal yang dibangun dari interpretasi terhadap dua kutub utama dalam soundscape warung kopi, yaitu kebisingan dan ketenangan. Unsur kebisingan melahirkan tekstur musikal padat, dinamis, dan poliritmik, sedangkan unsur ketenangan diolah menjadi struktur yang minimalis, statis, dan repetitif. Analisis representasi, individuality, dan ekspresi digunakan untuk membentuk struktur komposisi dan pendekatan penyajian dengan tujuan menggambarkan pengalaman personal pencipta terhadap ruang sosial tersebut. Karya ini menunjukkan bahwa soundscape sebagai objek dapat memberikan kontribusi konseptual dan material terhadap penciptaan komposisi karawitan. Pengaruh kebisingan dan ketenangan dalam soundscape mampu membentuk pola musikal yang relatif ekspresi dan juga saling melengkapi, serta menjadi media ekspresi personal dan interpretatif. Selain itu juga membuka kemungkinan baru dalam membangun hubungan antara lingkungan bunyi dan komposisi karawitan

    Proses Penciptaan Tari Seinggok Sepemunyian Karya Taufik Di Kota Prabumulih

    Get PDF
    Penelitian ini mengkaji proses kreatif penciptaan Tari Seinggok Sepemunyian, sebuah tari penyambutan tamu yang diciptakan oleh Taufik pada tahun 2006 di Kota Prabumulih. Karya ini menggabungkan unsur dari tiga tari tradisional yang sudah ada sebelumnya yakni Tari Tupai Begelut (Suku Belida), Tari Pincang Urung Lebak Kelekar (Suku Lematang), dan Tari Sembilan Bidadari (Suku Rambang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitik serta menggunakan teori kreativitas 4P dari Mel Rhodes (person, press, process, product) untuk mengungkap bagaimana ide kreatif muncul, faktor pendorong, tahapan proses kreatif yang dilalui, serta bentuk produk tari yang dihasilkan. Selain itu, konsep penciptaan tari dari Alma Hawkins digunakan untuk mengidentifikasi tahapan penciptaan mulai dari penemuan ide, eksplorasi dan improvisasi gerak, pembentukan struktur tari, hingga evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas Taufik sebagai penata tari tercermin melalui kemampuannya mengolah pengalaman personal, pengetahuan budaya lokal, dan kepekaan artistik menjadi sebuah karya yang tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan seremonial tetapi juga sebagai simbol identitas budaya Kota Prabumulih. Temuan ini memperkuat pentingnya peran kreativitas individu dalam penciptaan seni sekaligus memberikan kontribusi terhadap kajian proses kreatif dalam seni pertunjukan

    Garap Rebab Gendhing Kaduk Manis Laras Pelog Pathet Nem Kendhangan Sarayuda

    Get PDF
    Skripsi yang berjudul “Garap Ricikan Rebab Gendhing Kaduk Manis Laras Pelog Pathet Nem Kendhangan Sarayuda” adalah penelitian yang berbasis pada garap ricikan rebab. Gendhing Kaduk Manis yang terdapat dalam manuskrip Serat Pakem Wirama Wiled Gendhing Bredangga Laras Pelog, yang pada dasarnya merupakan gendhing soran. Dalam kajian ini, penulis menggarap gendhing tersebut ke dalam format lirihan gaya Yogyakarta, mengingat belum ditemukannya referensi terdahulu yang menyajikan versi lirihan gaya tersebut. Oleh karena itu, proses penggarapan memerlukan pertimbangan mendalam, khususnya terhadap ricikan ngajeng, terutama ricikan rebab sebagai pamurba lagu.Tujuan penelitian ini adalah untuk menafsirkan serta mendeskripsikan garap rebab dalam Gendhing Kaduk Manis Laras Pelog Pathet Nem Kendhangan Sarayuda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis, yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis garap rebab dalam gendhing tersebut. Peralihan dari format soran ke lirihan ini melalui proses tafsir dan analisis yang meliputi pola tabuhan balungan, struktur padhang-ulihan, pathet, kosokan, serta berbagai jenis cengkok rebab, termasuk cengkok umum, khusus, gantungan, dan tuturan. Selain itu, konsep nunggal-misah antara rebab dan balungan dianalisis dan disajikan dalam bentuk notasi rebaban lengkap dengan grafik, untuk memudahkan pemahaman alur lagu. Secara teknis penggarapan, penulis menerapkan irama 4 pada bagian dhawah cengkok kedua ulihan pertama hingga cengkok pertama ulihan kedua, serta penempatan andhegan menjelang gong cengkok kedua yang terinspirasi dari Gendhing Onang-Onang. Salah satu keunikan gendhing Kaduk Manis terdapat pada bagian dhawah cengkok kedua, khususnya gatra ke-3 kenong ketiga, yaitu balungan . 7 . 6. Kehadiran nada 7 (barang) adalah sebagai pengganti nada 1 (penunggul), meskipun balungan menunjukan seleh 7, ricikan rebab memainkan nada 1 dengan tetap mengacu pada pathet induknya, yaitu pelog pathet nem. Kasus yang sama juga ditemui pada gendhing Kagok Laras. Kosokan yang digunakan mencakup kosokan nibani, mbalung, nduduk, dan wangsul

    15,254

    full texts

    16,125

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Institute of the Art Yogyakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇