Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta
Indonesian Institute of the Art YogyakartaNot a member yet
16125 research outputs found
Sort by
Visualisasi Buah Mengkudu Sebagai Motif Dalam Karya Dekoratif Hiasan Dinding
Penciptaan karya tugas akhir ini berangkat dari ketertarikan penulis terhadap buah mengkudu yang memiliki bentuk dan tekstur unik meskipun dikenal memiliki aroma yang kurang sedap. Di lingkungan masyarakat tempat tinggal penulis, buah ini sering diabaikan dan dibiarkan membusuk, padahal mengkudu menyimpan berbagai manfaat sebagai tanaman herbal yang telah dikenal sejak lama. Potensi visual yang dimiliki buah mengkudu menjadikannya objek menarik untuk dikembangkan sebagai motif dalam karya batik. Melalui penciptaan ini, penulis ingin mengangkat nilai-nilai tersembunyi dari kesederhanaan serta memperkenalkan kekayaan lokal melalui media seni kriya, khususnya hiasan dinding.
Proses penciptaan mengikuti pendekatan Practice-Based Research (PBR) yang menempatkan praktik kreatif sebagai inti dari proses pencarian pengetahuan. di mana penciptaan karya seni bukan hanya sebagai produk akhir, tetapi juga sebagai proses eksploratif untuk menjawab pertanyaan riset melalui tindakan berkarya, refleksi, dan dokumentasi. Hasil karya tidak hanya memiliki fungsi visual, tetapi juga menyampaikan makna keterhubungan manusia dengan alam. Metode pendekatan estetika menggunakan teori Craft Thinking dari Richard Sennett yang menekankan bahwa proses pembuatan karya lebih penting dari pada hasil akhir. Selain itu penulis juga menggunakan pendekatan estetika dalam mempertimbangkan komposisi bentuk, warna, tekstur, dan kesesuaian karya dengan fungsi dekoratif. Landasan teori yang digunakan merujuk pada teori estetika menurut Djelantik, yang mencakup aspek wujud, bobot, dan penampilan untuk membangun nilai keindahan dalam karya seni.
Karya yang dihasilkan memvisualisasikan buah mengkudu sebagai simbol dari “nilai tersembunyi dalam kesederhanaan”, serta memperkuat pesan mengenai pentingnya kearifan lokal, kesehatan, dan keindahan alami. Pendekatan estetika dan simbolik digunakan untuk menghadirkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mengandung makna filosofis dan edukatif
Representasi Kesendirian Tokoh Utama Melalui Depth Staging Dalam Penyutradaraan Film Fiksi "Adi And The Other Party"
Isu bullying masih marak terjadi di Kawasan sekolah SMA, hal tersebut yang terjadi pada tokoh Adi dalam film Adi and the Other Party. Bercerita tentang Adi seorang siswa SMA yang ingin mengadakan pesta ulang tahun dirinya, namun Adi harus mengundang seluruh teman kelas Adi yang tidak dekat dengan dirinya karena perbedaan cara berfikir mereka. Film Adi sendiri bertujuan untuk membuka mata para penonton serta Masyarakat diluar sana terkait maraknya kasus bullying yang masih terus terjadi hingga saat ini.
Kasus bullying ini menyebabkan munculnya representasi kesendirian pada tokoh utama, Adi. Kesendirian tersebut timbul sebagai akibat dari pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh teman-teman Adi yang bersikap toxic. Representasi kesendirian tersebut dapat terjadi jika di dukung oleh depth staging yang merupakan penggunaan ruang foreground, midground serta background untuk bercerita. Penggunaan depth staging sendiri juga di dukung dengan beberapa konsep seperti komposisi, acting pemain serta blocking pemain sehingga dapat terciptanya representasi kesendirian tokoh utama Interaksi antara tokoh yang berada di foreground serta background yang kemudian hanya meninggalkan tokoh Adi yang berada di midground tersebut yang menyebabkan terjadinya representasi kesendirian tokoh Adi.
Hasil dari film Adi and the Other Party memperlihatkan bahwa isu bullying masih sering terjadi di sekolah-sekolah yang berada di Indonesia. Dengan mengangkat capaian representasi kesendirian tokoh utama serta penggunaan metode depth staging dengan dukungan berbagai aspek konsep seperti komposisi, blocking, serta acting. Film ini diharapkan dapat membuka mata para penonton mengenai maraknya isu bullying yang masih terjadi di Indonesia serta film ini diharapkan dapat menjadi sarana referensi bagi para praktisi akademisi
Sinergi Korporasi dan Komunitas Seni Di Lippo Plaza Jogja
Pusat perbelanjaan kini tidak hanya sebagai tempat berbelanja, tetapi juga menjadi ruang sosial & budaya. Lippo Plaza Jogja menjadi salah satu pusat perbelanjaan yang aktif dalam kegiatan seni sejak pasca Covid-19. Kolaborasi dengan komunitas seni lokal menjadi strategi pemulihan performa pasca pandemi. Divisi Marketing Communication (Marcom) Lippo Plaza Jogja memegang peranan penting dalam penyelenggaraan acara seni dan memelihara sinergi dengan komunitas seni. Lippo Plaza Jogja menerapkan fungsi manajemen secara sistematis meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian dalam menyelenggarakan kegiatan seni. Penelitian membahas mengenai bagaimana proses sinergi dapat terbentuk antara Lippo Plaza Jogja dengan komunitas seni. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa sinergi dapat dibangun melalui penerapan fungsi manajemen sehingga kolaborasi jangka panjang dan saling menguntungkan dapat tercipta. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman strategi manajemen seni dalam ruang komersial untuk meningkatkan daya tarik mall.
Kata kunci :Sinergi, Komunitas Seni, Manajemen Seni, Pusat Perbelanjaan, Pandemi-pasca COVID
"Lagu Tuah Pangama" Sebagai Ekspresi Identitas Pecinta Sape' Yogyakarta
Penelitian ini menganalisis bagaimana komunitas Pecinta Sape’ Yogyakarta (PSY) dalam mempertahankan dan melestarikan budaya yang mereka bawa ke tanah rantau. Mulai dari konsep garap lagu yang dilakukan oleh PSY dalam menciptakan karya-karya mereka, hingga bagaimana sebuah identitas yang PSY hadirkan melalui salah satu karya yakni, lagu “Tuah Pangama”. Penelitian ini berfokus pada lagu “Tuah Pangama” yang menjadi objek dalam penelitian, lagu tersebut menggabungkan antara budaya tradisional dan modern. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dan perspektif etnomusikologi. Proses penelitian dengan langsung turun kelapangan untuk menggumpulkan data-data yang diperlukan, baik berupa dokumentasi, audio dan video. Dengan demikian, hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa konsep garap yang dilakukan oleh PSY mencakup perpaduan antara kreativitas musikal dan strategi PSY dalam menentukan identitas yang mereka miliki. “Tuah Pangama” sebagai karya yang syarat atas upaya komunitas dalam menghadapi dinamika identitas yang akan terus berlangsung
Karakteristik Instrumen Teren Bas Orkes Kampoeng Wangak (Kajian Musikologis)
Teren Bas merupakan instrumen musik khas Maumere yang berkembang dari tradisi musik kampung di Flores Timur. Dalam konteks musik etnik kontemporer, instrumen ini mengalami transformasi bentuk dan fungsi melalui praktik musikal kelompok Orkes Kampoeng Wangak di Yogyakarta. Penelitian ini membahas karakteristik instrumen Teren Bas dalam pertunjukan Orkes Kampoeng Wangak di Yogyakarta, khususnya melalui lagu “Gemu Fa Mi Re”. Teren Bas adalah instrumen khas Maumere, berbentuk mirip kontra bass dengan satu senar, dimainkan dengan teknik pukul menggunakan stik. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik organologis, akustik, dan peran musikal Teren Bas secara musikologis. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan musikologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Orkes Kampoeng Wangak merupakan kelompok musik etnik kontemporer yang meramu tradisi Maumere dalam format modern. Instrumen Teren Bas memiliki konstruksi khas dari kayu kemiri, menghasilkan suara bass bulat dan ritmis. Pola permainan Teren Bas mencakup gaya Kripso, Langgam, Mars, dan Dolo-Dolo, yang mencerminkan akar budaya Maumere. Dalam aransemen “Gemu Fa Mi Re”, Teren Bas menjadi pusat ritmis dan identitas musikal, dikombinasikan secara kreatif dengan instrumen lain seperti juk, benyol, biola, suling, dan jimbe. Proses aransemen menggabungkan progresi akor modern, struktur musik energik, serta eksplorasi bunyi lokal khas Maumere melalui instrumen tradisional dan non- tradisional
Redesain Interior Restoran Dan Bar Hubble Dengan Pendekatan Cultural Experience Ukraina
Perancangan restoran dan bar Hubble dengan mengusung tema budaya Ukraina bertujuan untuk menciptakan ruang makan dan hiburan yang tidak hanya nyaman secara fisik, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman budaya yang mendalam bagi para pengunjung. Konsep ini menggunakan pendekatan Cultural Experience, di mana elemen-elemen desain yang terinspirasi dari sejarah, budaya, dan identitas Ukraina diterjemahkan ke dalam ruang yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia, khususnya di Bali. Pembagian ruang restoran terdiri atas tiga zona utama: area makan di lantai satu yang didesain fungsional dan efisien, area bar dan panggung pertunjukan di lantai dua yang memberikan suasana dinamis dan interaktif, serta area rooftop yang dirancang fleksibel untuk mendukung berbagai kegiatan berskala kecil maupun besar. Di samping aspek estetika dan fungsi ruang, pemilihan material juga menjadi bagian penting dari konsep desain. Material seperti batu bata ekspos, kayu alami, dan logam tembaga digunakan untuk menciptakan kesan autentik yang kuat sekaligus merepresentasikan karakter visual khas Ukraina
Kombinasi Motif Batik Tengkorak Dengan teknik Ecoprint dan Pewarna Alam Sebagai Representasi Isu Fast Fashion Pada Busana Kasual
INTISARI
Fast fashion memberikan manfaat seperti memperluas akses tren mode, membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, di balik itu, terdapat persoalan serius terkait lingkungan dan etika produksi, seperti pencemaran, limbah tekstil berlebih, serta kerusakan ekosistem akibat bahan kimia sintetis. Karya ini merupakan bentuk kritik melalui penggabungan motif batik tengkorak yang merepresentasikan kehancuran lingkungan sekaligus simbol manusia sebagai pelaku dan korban dari krisis ekologis yang terjadi. Teknik ecoprint dan pewarna alami digunakan sebagai upaya menjaga kelestarian alam. Proses penciptaan karya ini menggunakan pendekatan estetika berdasarkan teori Edmund Burke serta metode penciptaan Hawkins yang mencakup eksplorasi ide, eksperimen, dan perwujudan. Berlandaskan teori estetika dan ergonomi, karya diwujudkan dalam enam busana kasual berwarna nuansa cokelat yang diharapkan menjadi media edukatif dan inspiratif dalam mengajak masyarakat untuk berbusana secara etis, berkelanjutan, dan tetap nyaman.
Kata kunci: fast fashion, batik tengkorak, ecoprint, pewarna alam, busana kasual.
INTISARI (ABSTRAK)
ABSTRACT
Fast fashion offers benefits such as expanding access to fashion trends, creating jobs, and driving economic growth. However, behind this lies a serious issue related to the environment and production ethics, such as pollution, excessive textile waste, and ecosystem damage caused by synthetic chemicals. This work is a form of criticism through the combination of batik skull motifs that represent environmental destruction as well as symbolize humans as both perpetrators and victims of the ecological crisis that is occurring. Ecoprinting techniques and natural dyes are used as efforts to preserve the environment. The creation process of this work employs an aesthetic approach based on Edmund Burke's theory and Hawkins' creation method, which includes idea exploration, experimentation, and realization. Based on aesthetic and ergonomic theories, the work is realized in six casual garments in earthy brown tones, intended to serve as an educational and inspirational medium in encouraging society to dress ethically, sustainably, and comfortably.
Keywords: fast fashion, skull batik, ecoprint, natural dyes, casual clothing
Eksplorasi Pemanfaatan Limbah Ampas Teh Hitam dan Teh Hijau Sebagai Bahan Baku Kertas
Ampas teh merupakan limbah sisa penyeduhan teh yang jumlahnya melimpah, tetapi selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan kebanyakan hanya dibuang begitu saja. Padahal, ampas teh mengandung selulosa sekitar 33,54%-43,87% yang sebenarnya berpotensi digunakan sebagai bahan baku alternatif pembuatan kertas. Permasalahan ini menjadi menarik karena sejauh ini ampas teh belum banyak dikaji dalam konteks desain produk, khususnya sebagai material kertas yang tidak hanya fungsional tetapi juga memiliki nilai estetika. Penelitian ini mengeksplorasi potensi ampas teh hitam dan teh hijau sebagai bahan baku alternatif pembuatan kertas. Metode yang digunakan adalah kombinasi metode eksperimen dan Material Driven Design (MDD). Eksperimen dilakukan dengan variasi jenis teh, tingkat kehalusan serat, perlakuan bleaching, serta uji tarik laboratorium untuk mengetahui kekuatan mekanis kertas. Sementara itu, metode MDD digunakan untuk mengeksplorasi pengalaman material dan evaluasi estetika melalui Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kertas dari ampas teh hijau memiliki kekuatan tarik paling tinggi dan paling disukai secara visual, warna, dan tekstur. Sedangkan kertas ampas teh hitam lebih unggul dari segi aroma dan warna alaminya. Penelitian ini menunjukkan bahwa ampas teh, terutama teh hijau, memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku kertas alternatif yang ramah lingkungan dan mendukung desain berkelanjutan
Fast Fashion sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis
Tugas akhir ini membahas proses penciptaan karya seni lukis yang menjadi perantara dan pesan isu sosial mengenai fast fashion sebagai ide utama. Gagasan ini lahir dari keresahan pribadi penulis yang memiliki latar belakang sebagai pelaku di bidang busana dan secara langsung menyaksikan dampak negatif industri fast fashion. Pengalaman ini menjadi pemicu refleksi kritis yang kemudian dituangkan dalam karya seni sebagai bentuk respon. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya adalah representatif simbolik, yang mengangkat simbol-simbol visual dengan bentuk figuratif deformatif. Media yang digunakan adalah cat air di atas kertas, dipilih karena karakteristiknya yang transparan dan cair, mampu memperkuat ekspresi emosional dan kesan rapuh yang relevan dengan tema yang diangkat. Pada penciptaan ini dihasilkan 15 karya lukis tentang fast sashion yang tidak hanya menjadi media ekspresi artistik, tetapi juga sebagai bentuk kritik dan edukasi kepada publik untuk lebih sadar terhadap etika konsumsi dan keberlanjutan dalam industri mode.
Kata kunci: Fast Fashion, representatif simbolik, figuratif deformatif, cat ai
Perancangan Interior Mariana Resort & Convention Tuktuk Samosir
Perancangan Mariana Resort ini memiliki tujuan untuk menjadi sebuah akomodasi bagi masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal sementara sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Mariana Resort ini terletak di pinggir Danau Toba yang dirancang dengan menggunakan pendekatan neo vernakular yang mencoba menggabungkan antara unsur budaya lokal dan lingkungan sekitarnya dengan tetap menghasilkan desain yang mengikuti zaman yang ada. Perancangan Mariana Resort ini menggunakan metode desain Rosemary Kilmer yang terdiri dari beberapa langkah seperti commit, state, collect, analyze, ideate, choose, implement, dan evaluate yang menjadikan acuan dalam merancang hotel ini. Pada perancangan sebelumnya Mariana Resort ini bergaya modern akan tetapi kurang memperlihatkan identitas daerahnya maka dilakukan redesign yang menggunakan konsep yang memperhatikan budaya serta lingkungan sekitarnya dan didukung juga dengan desain yang banyak memasukkan unsur lokal seperti pengaplikasian kain tenun, penerapan stilasi bentuk pada ukiran kayu batak, dan juga memasukan unsur alam sekitarnya yaitu Danau Toba yang diambil melalui warna dan bentuk dari danau itu sendiri