Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta
Indonesian Institute of the Art YogyakartaNot a member yet
16125 research outputs found
Sort by
Perancangan Interior Lobi Dan Restoran Hotel Swiss-Belboutique Cirebon Dengan Konsep Historis Multikultural
Identitas Cirebon sebagai kota multikultur berkembang melalui kejayaan perdagangan maritim abad ke-14 yang terjadi di Pesisir Muara Jati. Namun identitas ini mulai meredup seiring perkembangan teknologi dan arus globalisasi. Pengaruh kemajuan teknologi membawa perubahan dalam perkembangan gaya hidup global sehingga memunculkan kelompok baru dalam masyarakat urban, yaitu remote worker. Disisi lain wisatawan pada kota ini meningkat setiap tahunnya. Perancangan interior ini mengambil lokus Swiss-BelBoutique sebagai studi kasus, sebuah hotel butik berbintang 4 bertarafkan internasional, berpotensi mengintegrasikan sejarah Pesisir Muara Jati penyebab multikulturalisme yang relevan dengan perkembangan gaya hidup modern melalui konsep Historis Multikultural. Metode perancangan menggunakan pendekatan Design Thinking Double Diamond, yang terdiri dari empat tahap utama: Penemuan (pengumpulan data dan studi lapangan), Perumusan Masalah (perumusan inti masalah), Pengembangan ide (pengembangan ide dan konsep desain), dan Penerapan Solusi (finalisasi desain). Solusi desain yang dihadirkan tidak hanya berfokus pada kenyamanan fungsi ruang, tetapi juga menyatukan narasi sejarah melalui elemen visual, tata ruang, dan pemilihan material yang mendukung kebutuhan produktivitas remote worker. Melalui konsep Historis Multikultural, perancangan ini diharapkan dapat menghadirkan pengalaman ruang yang unik, memperkuat identitas lokal, serta memperkuat daya tarik pengunjung melalui desain yang adaptif terhadap kebutuhan remote worker di tengah berkembangnya pariwisata Cirebon
Eksplorasi Kardus Sebagai Medium Ekspresi dalam Penciptaan Karya Seni Patung
Eksplorasi material dalam seni patung bukan hanya soal teknik, tetapi juga
cara seniman menyampaikan makna dan pengalaman pribadi melalui medium yang
digunakan. Dalam karya ini, kardus dipilih sebagai material utama karena sifatnya
yang rapuh namun lentur, mencerminkan emosi manusia yang rentan tapi juga
mampu bertahan. Proses kreatif ini lahir dari pengalaman pribadi penulis, seperti
kecemasan sosial, rasa kehilangan, dan usaha beradaptasi di lingkungan baru.
Melalui perobekan, penyusunan, dan pembentukan kardus, penulis
mengekspresikan perjalanan emosionalnya yang berawal dari luka dan
keterpurukan hingga proses pemulihan. Hasilnya bukan hanya bentuk patung secara
visual, tapi juga narasi personal yang jujur dan menyentuh. Karya ini menunjukkan
bahwa seni patung dapat menjadi ruang refleksi sekaligus sarana penyembuhan,
terutama ketika eksplorasi material dilakukan dengan pendekatan yang kontekstual
dan bermakna
Perancangan Home Gardening Appliances Berbasis Musik Untuk Apartemen Tipe Studio
Perkembangan zaman telah mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat menuju gaya hidup yang lebih modern dan sehat. Masyarakat semakin menyadari pentingnya kesehatan, yang mendorong pencarian akan makanan sehat, terutama sayuran segar. Namun, di Indonesia, tantangan dalam memenuhi asupan sayuran hijau muncul akibat jarak pasar yang jauh dan harga yang mahal, serta isu food miles. Berkebun di rumah seharusnya menjadi solusi, tetapi keterbatasan lahan dan waktu menjadi hambatan. Untuk mengatasi masalah ini, dirancang home gardening appliances berbasis musik sebagai inovasi menarik untuk menarik perhatian masyarakat. Dengan menerapkan metode design thinking, proses ini melibatkan langsung pengguna yang berminat dalam berkebun hidroponik. Pendekatan ini fokus pada fungsionalitas dan keramahan pengguna, serta kemudahan instalasi. Harapannya, inovasi ini dapat mendorong masyarakat untuk berkebun di rumah dan meningkatkan konsumsi sayuran segar secara efisien
Tugas Akhir Karya Seni Pakeliran Wayang Kulit Purwa Ekalaya
Karya ini merupakan bentuk perancangan seni pertunjukan Pakeliran Wayang Kulit Purwa dengan mengangkat lakon Ekalaya sebagai tema utama. Tokoh Ekalaya dipilih karena menyimpan nilai-nilai penting seperti semangat belajar secara otodidak, kesetiaan kepada guru, serta konflik sosial antara keinginan belajar dan stratifikasi sosial. Dalam perancangan ini, pengkarya menciptakan sanggit baru dengan menekankan pada dualisme karakter antara Ekalaya yang rendah hati dan gigih, serta Arjuna yang ambisius dan tidak segan melanggar norma demi keunggulan. Pertunjukan disajikan dalam gaya Yogyakarta dengan durasi dua jam, mengutamakan struktur dramatik sambung rapet dan greget sahut. Lakon ini diperkaya dengan riset kepustakaan, wawancara, serta referensi pertunjukan dari beberapa dalang seperti Ki Purbo Asmoro, Ki Seno Nugroho, dan Ki Cermo Hadi Sutoyo. Karya ini juga menyoroti relevansi sosial dari nilai-nilai dalam lakon Ekalaya terhadap fenomena masyarakat masa kini, khususnya dalam konteks pendidikan, etika belajar, dan ketimpangan sosial
Pengaruh Dimensi Arousal Musik Instrumental Jazz terhadap Selective Attention pada Mahasiswa di Yogyakarta
Kemampuan mempertahankan selective attention merupakan aspek vital dalam mendukung konsentrasi belajar mahasiswa, khususnya di tengah lingkungan dan era modern yang penuh distraksi. Musik instrumental, khususnya jazz, memiliki potensi untuk memodulasi dimensi arousal yang berperan dalam kinerja attentional tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh musik instrumental jazz terhadap selective attention mahasiswa, serta membandingkan pengaruh dua gaya musikalnya dengan karakteristik serta tingkat arousal berbeda, yakni ballad (low-arousing music) dan bebop (high-arousing music). Penelitian ini menggunakan desain true experiment dengan dua grup eksperimen (ballad dan bebop), dengan masing-masing grup terdiri dari 10 mahasiswa. Selective attention diukur menggunakan Stroop Test dengan dua operasionalisasi dan parameter utama yakni response time (RT) dan error rate (ER). Data atau skor attention dari perangkat EEG (NeuroSky Mindwave) digunakan secara eksploratif guna memperkaya dan memperdalam interpretasi. Hasil menunjukkan bahwa kedua grup mengalami peningkatan selective attention secara signifikan setelah mendengarkan musik instrumental jazz, yang dimanefistasikan oleh penurunan RT dan ER dari pretest ke posttest. Grup bebop menunjukkan RT posttest yang lebih cepat secara signifikan dibandingkan grup ballad. Namun, tidak terdapat perbedaan signifikan pada ER maupun skor attention EEG antar grup. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa musik instrumental jazz dapat meningkatkan selective attention mahasiswa, namun penggunaannya memerlukan pertimbangan yang mendalam, menyeluruh, serta kontekstual
Penciptaan Skenario Film "Peristiwa-Peristiwa Di Hari Ulang Tahunku" Terinspirasi Dari Fenomena Fatherless Children
Fenomena fatherless children atau ketiadaan peran ayah dalam pengasuhan anak menjadi inspirasi utama dalam penciptaan skenario film pendek berjudul Peristiwa-Peristiwa di Hari Ulang Tahunku. Karya ini berangkat dari keprihatinan terhadap banyaknya anak yang tumbuh dalam keluarga utuh secara fisik, namun secara emosional kehilangan sosok ayah. Penciptaan ini menggunakan pendekatan teoritik melalui teori psikososial Erik Erikson untuk membedah dampak emosional yang dialami anak akibat ketidakhadiran figur ayah, serta teori tragedi modern guna membangun konflik batin tokoh utama secara mendalam dan realistis. Penelitian dilakukan melalui wawancara dengan narasumber yang mengalami kondisi fatherless serta konsultasi dengan psikolog, yang kemudian diolah menjadi skenario dengan format dramatik tiga babak. Peristiwa-Peristiwa di Hari Ulang Tahunku mengisahkan Mira, seorang perempuan yang memiliki luka masa kecil karena hubungan disfungsional dengan ayahnya. Ketergantungan emosional terhadap kekasihnya menjadi cerminan dari trauma yang tidak pernah tuntas. Skenario ini dikembangkan dengan memperhatikan elemen sinematografi dan simbol visual, guna memperkuat nuansa emosional dan simbolik dalam cerita. Karya ini diharapkan menjadi media reflektif yang menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya kehadiran emosional seorang ayah dalam tumbuh kembang anak, sekaligus mengangkat isu fatherless yang seringkali terabaikan di tengah keluarga yang tampak utuh
Gorga Jenggar Sebagai Ide Penciptaan Busana Artwear
Busana dengan motif gorga Jenggar menjadi insiprasi dalam penciptaan
karya busana artwear, yang menggabungkan keindahan bentuk motif dan makna
filosofinya yang mendalam. Keunikan Gorga Jenggar ini terletak pada bentuk,
warna, dan tempatnya berada, memberikan ciri khas pada desain busana. Artwear
sendiri dikenal dengan estetika, ekspresi seni, dan unik. Artwear tidak hanya indah,
tetapi juga bermakna. Penerapan motif Gorga Jenggar pada busana artwear dapat
memperkaya desain secara visual dalam setiap detail karya.
Metode yang digunakan dalam penciptaan karya Tugas Akhir ini adalah
metode eksplorasi, perancangan, dan perwujudan yang memiliki arti mencari
gagasan ide atau inspirasi mengenai konsep yang ingin dibawakan dan
ditumpahkan ke dalam suatu karya. Tahap ini juga diperlukan oleh pencipta karya
untuk mengetahui latar belakang motif Gorga Jenggar dan busana artwear untuk
menemukan korelasi yang dapat diambil menjadi unsur utama pada penciptaan
karya.
Hasil Tugas Akhir ini adalah enam busana artwear yang menciptakan
keseimbangan antara estetika dan kenyamanan. Jenis busana yang diciptakan
mengutamakan bentuk, warna, dan tekstur dari busana artwear. Penciptaan busana
ini bertujuan untuk menghasilkan karya yang berkelanjutan dan relevan di tengah
trend fashion yang berkembang dan moder
SEJAUH KAKI MENAPAK
Karya tari Sejauh Kaki Menapak merupakan bentuk refleksi diri penata saat menjalani fase kedukaan akibat kematian almarhum ibu. Perasaan rindu yang muncul saat melihat foto album yang berisi momen-momen kebersamaan dengan ibu dan keluarga merupakan stimulus awal yang menggugah diri untuk menciptakan karya tari Sejauh Kaki Menapak. Perasaan rindu yang kuat bisa terjadi karena beberapa faktor dan salah satunya adalah saat seseorang ditinggalkan dengan orang terdekatnya. Pasca ditinggalkan seseorang terdekatnya, mereka akan mengalami setidaknya lima fase kedukaan yaitu denial atau menyangkal, anger atau marah, bargaining atau tawar menawar, depression atau depresi, tahap terakhir yaitu acceptance atau menerima.
Gerak-gerak yang hadir dalam karya Sejauh Kaki Menapak merupakan hasil dari pemikiran penata terhadap setiap respon tubuhnya kemudian mentransformasikannya ke dalam bentuk gerak yang kemudian dikembangkan baik dalam pengolahan ruang, waktu dan juga tenaga. Motif gerak yang kerap hadir yaitu gerak jatuh bangun dan motif gerak getaran yang menyimbolkan rasa rindu yang kuat itu hadir di setiap tahap dan kehadirannya tidak menentu mengikuti emosi yang naik turun. Iringan musik sebagai penguat suasana dalam karya ini yaitu berupa MIDI dan beberapa alat musik live berdasarkan latar belakang penata yang berasal dari Bali untuk menghadirkan suasana yang lebih kompleks.
Proses seluruh tahap dari fase kedukaan akibat kematian almarhum ibu, penata mengetahui bahwa rasa rindu itu akan selalu hadir walalupun kita sudah bisa menerima untuk iklas namun tanpa disadari dalam perjalannya akan selalu ada yang tetap menyayangi, mendukung, dan menerima kita apa adanya yaitu anggota keluarga lainnya.
Kata kunci: Sejauh Kaki Menapak, Rindu, Kematian, Fase Kedukaan, Keluarg
Representasi Emosi dan Ingatan Lagu Vocaloid Sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Patung
Skripsi ini membahas proses penciptaan karya seni patung yang berangkat dari pengalaman personal penulis terhadap Vocaloid, sebuah perangkat lunak sintetis vokal yang berperan penting dalam membentuk memori masa kecil serta preferensi estetika penulis. Pengalaman mendengarkan lagu-lagu Vocaloid sejak usia dini, lengkap dengan visualisasi video musiknya, telah membentuk pustaka visual penulis yang secara signifikan mempengaruhi arah gaya dan konsep artistik. Lagu-lagu Vocaloid tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menyimpan simbolisme, metafora, dan narasi emosional yang mendalam. Dalam penciptaan ini, penulis mengadaptasi bentuk figur koleksi sebagai media ekspresi artistik, seraya merefleksikan kembali keterkaitan antara musik, visual, dan pengalaman afektif masa kecil. Proyek ini menjadi sarana penulis untuk mengolah pengalaman pribadi menjadi bentuk patung yang merepresentasikan ingatan dan keterhubungan emosional terhadap Vocaloid, serta merespons kekhawatiran penulis melalui pendekatan seni rupa kontemporer.
Kata kunci: seni patung, vocaloid, memori masa kecil, figur koleks
Bentuk Penyajian Tari Lesong Panjang di Sanggar Dian Praja Kabupaten Belitung
Tari Lesong Panjang di Sanggar Dian Praja ini diciptakan karna terinspirasi dari kesenian Lesong Panjang yang berasal dari Kabupaten Belitung. Kesenian Lesong Panjang ini dikembangkan dalam bentuk Tarian tanpa meninggalkan unsur pijak. Tari ini terdiri dari 4 orang penari inti ditengah dengan menggunakan Alu dan Lesung sebagai properti yang dipukul ke Lesung dengan teknik gerak sehingga menimbulkan bunyi sebagai irama dan alu kemudian di lempar dari penari ke penari lainnya. Tari Lesong Panjang di Sanggar Dian Praja diciptakan sebagai bentuk penghormatan dan pengembangan terhadap Kesenian Lesong Panjang yang berasal dari Kabupaten Belitung.
Tari Lesong Panjang adalah sebuah bentuk dari perasaan yang alami dari manusia sebagai suatu pencurahan kekuatan. Kesenian Lesong Panjang merupakan pertunjukan yang melibatkan alat tradisional seperti lesung dan alu, atraksi lempar alu serta bunyi pukulan alu ke lesung itulah yang menjadi inspirasi utama dalam penciptaan tarian ini. Dalam Tari Lesong Panjang, terdapat empat orang penari inti yang berperan aktif, di mana masing-masing penari memegang alu. Penari menggunakan teknik gerak yang dinamis untuk memukul lesung, menghasilkan bunyi ritmis yang berfungsi sebagi penambah irama pengiring.
Tari Lesong Panjang di Sanggar Dian Praja disajikan dalam bagian satu (introduksi), bagian dua (inti), dan bagian tiga (penutup). Gerak dalam koreografi adalah dasar ekspresi, oleh sebab itu "gerak" dipahami sebagai ekspresi dari semua pengalaman emosional. Lesong memiliki ukuran 1 hingga 1,5 meter dan diameter 25cm hingga 30cm. Alat pemukulnya adalah Alu, Alu memiliki panjang antara 75 cm hingga 120 cm dan diameter 6 cm. Ciri khas gerak dalam Tari Lesong Panjang adalah Limpar Alu dan Nutok Alu, yang menggambarkan interaksi antara penari serta menekankan bagaimana penari berinteraksi antara satu sama lain. dan ritme yang dihasilkan saat alu dipukul ke lesong menciptakan harmoni yang menarik, menunjukkan bahwa kerja sama menghasilkan sesuatu yang lebih baik