Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta
Indonesian Institute of the Art YogyakartaNot a member yet
16125 research outputs found
Sort by
Membangun Teka-Teki Dengan Penerapan Pola Alur Nonlinier Dalam Penulisan Skenario Film Fiksi "Wicked"
Film Indonesia dengan genre thriller bisa dibilang jarang. Penciptaan skenario film “Wicked” bertujuan untuk memperbanyak referensi skenario film fiksi genre thriller yang menerapkan pola alur nonlinier. Skenario film “Wicked” bercerita tentang 5 kejadian dalam 5 hari yang dialami Tommy, meghadapi kematian bos-nya yang terjadi secara tiba-tiba. Skenario film “Wicked” mengeksplorasi sisi gelap sifat manusia seperti kekerasan, keserakahan, dan korupsi. Sebuah cerita tentang sisi gelap kemanusiaan yang memberikan persepsi bahwa dunia bukanlah tempat yang baik, penuh dengan rasa sakit yang tak terhindarkan dan orang-orang yang mengerikan. Tapi kebajikan masih ada, dan pada akhirnya layak untuk diperjuangkan.
Skenario film “Wicked” menggunakan konsep pola alur nonlinier. Alasan penggunaan pola alur nonlinier adalah karena pola alur nonlinier dapat memiliki efek yang kuat pada pembaca atau penonton karena dengan mundur atau maju dalam waktu, cerita dapat memberikan efek mengejutkan atau yang biasa disebut element of surprise tentang mengapa sesuatu aksi dilakukan oleh tokoh atau bagaimana tokoh mencapai posisinya saat itu di dalam cerita. Pola alur nonlinier dapat membangun teka-teki karena pembaca atau penonton tidak benar-benar mengetahui atau memahami apa yang sedang terjadi, dan terkadang disorientasi tersebut tercermin dari pemikiran dan keputusan karakter
Nyanyian Sunyi Lembah Pauh: Sebuah film dokumenter musik
Film dokumenter "Nyanyian Sunyi Lembah Pauh" mengangkat kekayaan budaya musik tradisional yang pernah tumbuh dan berkembang di Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat. Karya ini mendokumentasikan mengenai aspek organologi, filosofis, teknik permainan serta aspek sosial kulturalnya. Film ini bertujuan untuk mengangkat kembali eksistensi Saluang Pauh yang mengalami penurunan di era modernisasi, sekaligus sebagai upaya pelestarian dan Pemajuan Kebudayaan. Melalui pendekatan audio visual, film ini menyajikan narasi yang komunikatif dan estetis, menampilkan suasana alam dan kehidupan masyarakat Pauh yang menjadi latar pertunjukan Saluang Pauh. Proses produksi melibatkan riset mendalam terhadap nilai-nilai budaya, wawancara narasumber, serta pengambilan gambar di lokasi-lokasi strategis di Kota Padang. Film ini tidak hanya sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai media pembelajaran dan mengajak masyarakat untuk ikut andil dalam pelestarian seni tradisional yang mengandung nilai kebersamaan, solidaritas, dan pendidikan karakter. Demikian, film dokumenter "Saluang Pauh" menjadi kontribusi penting dalam menjaga warisan budaya lokal agar tetap hidup dan relevan di tengah dinamika zaman. Dokumenter ini dibuat untuk menggali kembali identitas masyarakat di daerah pauh, dikarenakan sudah banyaknya masyarakat lokal maupun masyarakat umum tidak mengetahui mengenai instrumen tiup yang unik ini. Semoga dengan adanya film dokumenter “Nyanyian Sunyi Lembah Pauh” menjadi sebuah jembatan baru mengenai kesenian yang merupakan bagian dari masyarakat Minangkabau untuk dapat dikatahui oleh siapapun
Membangun Perkembangan Motif Pada Protagonis Dengan Penggunaan Foil Character Dalam Penulisan Skenario Film "The Search For Everything"
Penelitian penciptaan seni ini membahas bagaimana penggunaan Foil Character dapat membangun perkembangan motif pada protagonis dalam skenario film “The Search for Everything”. Dengan mengangkat genre coming of age berlatar sekolah homogen berbasis agama Katolik, cerita ini berfokus pada dinamika dua karakter utama: Ryan sebagai protagonis, dan Rita sebagai foil character yang menjadi kontras sekaligus katalis dalam perjalanan psikologis dan emosional Ryan. Penelitian ini menggunakan pendekatan tiga babak, dalam mengkaji bagaimana kontras sifat, ambisi, dan cara menyelesaikan konflik antara kedua tokoh menciptakan sebuah motif yang akan berkembang secara bertahap. Motif-motif tersebut tercermin dalam perilaku Ryan, mulai dari ketergantungan hingga akhirnya mencapai kemandirian sebagai bentuk pendewasaan karakter. Metode penciptaan yang digunakan melibatkan riset lapangan, pengembangan karakter, penulisan treatment, dan penyusunan skenario dengan menekankan relasi interpersonal serta simbolisme di setiap motifnya. Hasil dari penciptaan karya ini menunjukkan bahwa penggunaan Foil Character tidak hanya dapat membangun perkembangan motif, namun juga efektif dalam menggerakkan naratif serta menonjolkan karakteristik melalui interaksi dan perilaku protagonis
Refleksi Proses Kreatif Reproduksi Lagu Rohani Lamaholot "Ole Ina Maria" Ciptaan Pyet Lonek oleh APZ Studio
Lagu rohani daerah merupakan bagian integral dari kekayaan budaya lokal yang mencerminkan ekspresi keagamaan masyarakat setempat. Salah satu contohnya adalah lagu "Ole Ina Maria", sebuah bentuk devosi kepada Bunda Maria yang umum dinyanyikan dalam ibadah misa Katolik di wilayah Lamaholot, mencakup Adonara, Lembata, Larantuka, dan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses kreatif dalam produksi ulang lagu "Ole Ina Maria" ciptaan Pyet Lonek oleh APZ Studio. Metode yang digunakan adalah penelitian artistik dengan pendekatan autoetnografi, yang menempatkan peneliti sebagai subjek dan objek penelitian, memungkinkan refleksi mendalam terhadap pengalaman pribadi dalam proses kreatif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kreativitas. Proses produksi meliputi tahapan pembuatan musik, perekaman instrumen dan vokal, pengambilan video klip, serta publikasi melalui platform YouTube. Dalam proses ini, digunakan teknologi musik digital seperti Digital Audio Workstation (DAW), MIDI, dan Virtual Studio Technology (VST). Hasil dari produksi ini adalah aransemen baru dalam birama 3/4 dengan genre pop rohani, yang dinyanyikan oleh Ficky Lonek dan dipublikasikan melalui kanal YouTube dengan judul “Ole Ina Maria (Cipt. Pyet Lonek) – Ficky Lonek | Lagu Daerah Lamaholot Terbaru 2023”. Melalui pendekatan autoetnografi dalam penelitian artistik ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pelestarian dan pengembangan musik rohani daerah, serta memperkaya khazanah penelitian seni berbasis praktik
Peran Masyarakat dalam Akulturasi Budaya Melalui Gaya Ekpositori pada Penyutradaraan Program Feature “Jelajah Nusantara” Episode “Perayaan Imlek di Yogyakarta”
Indonesia merupakan negara multikultural yang kaya akan keberagaman budaya. Keberagaman ini mendorong terjadinya proses akulturasi budaya yang unik. Skripsi penciptaan ini diwujudkan dalam bentuk program televisi feature berjudul “Jelajah Nusantara”, yang pada episode perdananya menyoroti peran masyarakat dalam akulturasi budaya melalui perayaan Imlek di Yogyakarta. Episode ini menampilkan bagaimana masyarakat Tionghoa dan non-Tionghoa lintas agama terlibat aktif dalam menjaga tradisi secara kolaboratif dan harmonis.
Program ini terdiri dari tiga segmen utama yang mengeksplorasi keterlibatan masyarakat dalam ritual ciswak, pengajian Tionghoa Muslim, dan Festival Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY). Penyutradaraan menggunakan gaya ekspositori yang menyampaikan informasi secara objektif melalui narasi voice-over, wawancara dengan tokoh masyarakat, dan interaksi host di lapangan.
Metode penciptaan meliputi tahapan pra-produksi (riset dan penulisan naskah), produksi (pengambilan gambar di lokasi budaya seperti klenteng dan pesantren), serta pasca-produksi (editing, mixing audio dan mastering). Hasil akhir menunjukkan bahwa gaya ekspositori efektif dalam merepresentasikan peran aktif masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan budaya secara kolaboratif. Program ini berfungsi sebagai media informasi sekaligus dokumentasi visual yang memperkuat nilai toleransi dan keberagaman budaya di Indonesia
Memperkuat Konflik Karakter Utama Melalui Penggunaan Ritme Lambat dalam Editing Film Fiksi “Anak Jerapah”
Skripsi penciptaan ini berjudul Memperkuat Konflik Karakter Utama Melalui Penggunaan Ritme Lambat Dalam Editing Film Fiksi “Anak Jerapah”. Film “Anak Jerapah” menceritakan tentang Ruth seorang penjaga playground anak-anak yang sedang mengalami masalah keuangan sebagai konsekuensi biaya pendaftaran kerjanya di Jakarta. Di tengah kesulitannya, Ruth diminta ayahnya, Tono, untuk mengurus adik tirinya, Krisna. Ruth mengalami konflik internal dan eksternal akibat tekanan situasi dan dilema yang dihadapinya, yang menjadi inti dari perjalanan emosionalnya. Penerapan ritme lambat dalam editing digunakan untuk memberikan ruang pada ekspresi karakter dan memperdalam momen emosional, melalui pacing, timing, jeda pemotongan, dan durasi shot yang diperpanjang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritme lambat berperan penting dalam membentuk dinamika emosional dan memperkuat konflik. Ritme lambat memberikan ruang bagi perkembangan kondisi emosional karakter utama secara lebih jelas, serta membangun ketegangan yang dialami Ruth sepanjang film
“Four Dragons of Runeterra” Komposisi Mix Ensemble Menggunakan Leitmotif Berdasar 4 Elemental Dragon Video Game “League of Legends”
Penelitian ini berjudul “Four Dragons of Runeterra”. League of Legends (LoL) adalah permainan daring bergenre multiplayer online battle arena (MOBA), mengulas interpretasi dari keempat Elemental Dragons yang terdiri dari Wind Drake (angin), Earth Drake (tanah), Infernal Drake (api), dan Ocean Drake (air). Tujuan dari penelitian ini adalah memahami bagaimana interpretasi empat Elemental Dragons dari video game “League of Legends“ dalam penciptaan karya “Four Dragons of Runeterra” dengan leitmotif.
Proses yang dilakukan dalam penulisan karya “Four Dragons of Runeterra” adalah merumuskan ide penciptaan dengan melakukan beberapa langkah yaitu, studi pustaka dan studi karya untuk mengeksplorasi kemungkinan interpretasi keempat naga tersebut. Metode yang dipakai adalah metode penelitian interpretatif, karena sejalan dengan proses interpretasi keempat Elemental Dragons. Dalam konteks penciptaan karya musik berbasis narasi atau simbolisme, interpretasi memegang peran yang cukup penting.
Hasil penelitian ini menghasilkan sebuah pemebelajaran bagaimana penerapan teknik leitmotif berdasar keempat naga tersebut sebagai upaya interpretasi bentuk dan ciri khas Elemental Dragons, untuk selanjutnua diaplikasikan ke dalam musik program berdasarkan Elemental Dragons. Penciptaan karya ini tidak berpegang pada struktur komposisi yang baku; sebaliknya, harmoni, bentuk, dan instrumentasi dirancang fleksibel, menyesuaikan dinamika peristiwa naratif dalam alur musikal. Penekanan utama terletak pada pengembangan dan penggunaan leitmotif sebagai penanda identitas musikal dari masing-masing naga, sehingga karya ini diharapkan bisa menjadi sumber pembelajaran dan kontribusi artistik dalam bidang seni, khususnya musik
Inovasi Motif Benang Pakan Pada Stagen ATBM Dalam Busana Mini Dress
Kain stagen sebagai salah satu hasil tenun tradisional Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam ranah desain busana modern. Stagen merupakan kain ikat pinggang busana tradisional Jawa yang secara turun-temurun diproduksi secara manual di berbagai daerah, termasuk di Desa Sumberarum, Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Desa ini dikenal sebagai sentra pengrajin stagen yang hingga kini tetap memproduksi menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dan tetap mempertahankan nilai-nilai ketradisionalan dalam proses pembuatannya. Stagen diposisikan sebagai alternatif inovatif dalam pengembangan tekstil warisan budaya yang mengandung nilai-nilai tradisi, serta memiliki potensi tinggi untuk diadaptasi dalam berbagai bentuk karya busana kontemporer. Tujuan dari penciptaan karya ini adalah untuk menjelaskan, mendeskripsikan, dan menghasilkan inovasi motif benang pakan pada stagen ATBM dalam bentuk mini dress.
Penciptaan karya ini menggunakan metode pendekatan estetika dan ergonomi. Pendekatan estetika digunakan untuk memahami dan menerjemahkan nilai keindahan dari motif serta karakter kain stagen ke dalam konteks busana modern, sedangkan pendekatan ergonomi menjadi landasan dalam memastikan bahwa hasil rancangan memenuhi standar kenyamanan dan fungsi. Metode penciptaan yang digunakan mengacu pada kerangka metodologis SP. Gustami, yang meliputi tiga tahap utama, yakni eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Penciptaan karya ini memanfaatkan pewarna alami dengan menerapkan teknik celup serta teknik tenun ikat pakan. Selain itu, proses perwujudan juga didukung oleh penambahan elemen dekoratif melalui teknik sulam payet dan teknik makramé yang dipadukan dengan manik-manik kayu.
Hasil akhir dari tugas akhir ini berupa 6 variasi motif pada kain stagen yang kemudian diaplikasikan ke dalam 6 mini dress untuk wanita remaja hingga dewasa. Setiap rancangan dirumuskan dengan pendekatan desain feminim dan modern, dengan penempatan motif dan corak stagen yang selaras serta mempertimbangkan proporsi dan siluet tubuh agar tercapai harmoni visual dalam keseluruhan tampilan busana.
Kata Kunci: stagen ATBM, tekstil tradisional Indonesia, inovasi benang pakan, mini dres
Penerapan Surprise Untuk Membangun Humor Pada Penyutradaraan Program Televisi Komedi Parodi “Hansip 68” Episode “Tim Banteng Tutul Bantul Menyusuri Kecamatan Sewon”
Skripsi penciptaan ini berjudul “Penerapan Surprise untuk Membangun Humor pada Penyutradaraan Program Televisi Komedi Parodi ‘Hansip 68’ Episode Tim Banteng Tutul Bantul Menyusuri Kecamatan Sewon”. Program ini memparodikan program “86” yang tayang di NET TV dan mengadopsi gaya reality show fly on the wall sebagai pendekatan penyutradaraan. Penciptaan program “Hansip 68” dilatarbelakangi oleh menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian, yang kemudian dijawab melalui pendekatan parodi dengan mengganti representasi polisi menjadi petugas hansip. Konsep utama dari penciptaan program komedi parodi “Hansip 68” adalah penggunaan unsur surprise sebagai pembangun humor. Teknik surprise digunakan untuk mematahkan ekspektasi penonton yang dibangun melalui suasana realis ala reality show sehingga menghasilkan humor. Temuan dari penciptaan program ini menunjukkan bahwa pendekatan fly on the wall yang umumnya digunakan dalam program serius ternyata dapat digunakan sebagai setup untuk menciptakan efek humor melalui teknik surprise. Proses penciptaan program “Hansip 68” menunjukkan bahwa unsur surprise efektif membangun humor karena sejalan dengan prinsip dasar komedi, yaitu pematahan asumsi. Selain itu, penggunaan gaya kamera handheld yang khas dalam fly on the wall turut memperkuat kesan realis yang dibutuhkan dalam membangun ekspektasi. Namun, tantangan muncul dalam menyeimbangkan elemen realisme dengan unsur komedi, karena keduanya memiliki karakteristik yang kontradiktif
Manajemen Pembelajaran Musik Angklung pada Anak Tunarungu di SLB B Karnnamanohara Yogyakarta
Pembelajaran seni musik bagi anak berkebutuhan khusus, khususnya tunarungu, merupakan bagian penting dari pendidikan inklusif yang mendukung pengembangan potensi diri. SLB B Karnnamanohara Yogyakarta merupakan sekolah khusus anak tunarungu yang menarik untuk diteliti karena menerapkan manajemen pembelajaran angklung pada anak tunarungu secara terstruktur. Meskipun memiliki keterbatasan sarana, peserta didik di sekolah ini mampu meraih berbagai prestai baik dalam kegiatan pentas seni di sekolah maupun di luar. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan manajemen pembelajaran musik angklung pada anak tunarungu di SLB B Karnnamanohara Yogyakarta.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, dan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi terstruktur, serta dokumentasi. Subjek penelitian mencakup kepala sekolah, guru pembimbing seni musik angklung, dan peserta didik. Fokus penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran angklung yang diterapkan secara adaptif sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik tunarungu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pembelajaran di SLB B Karnnamanohara Yogyakarta berjalan dengan baik karena sudah menerapkan empat fungsi manajerial yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Meskipun keterbatasan fasilitas dan sarana masih menjadi kendala, pembelajaran tetap berjalan optimal. Guru menggunakan metode Hand Sign Kodaly untuk membantu anak tunarungu memahami ritme dan melodi. Pengelolaan pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan individu, mencakup materi, jadwal, dan formasi permainan angklung. Evaluasi dilakukan langsung selama latihan untuk memantau fokus, disiplin, dan penguasaan materi. SLB B Karnnamanohara juga menerapkan MMR (Metode Maternal Reflektif), yaitu pendekatan reflektif yang menekankan interaksi emosional antara guru dan siswa. Guru menyesuaikan strategi pembelajaran berdasarkan respons dan kebutuhan siswa, sehingga proses belajar menjadi lebih empatik dan efektif