Jurnal Ilmiah AgriSains
Not a member yet
144 research outputs found
Sort by
Comparison of Natural and Synthetic Antioxidant Supplementation in CEP Extender for Bali Cattle Frozen Semen: Perbandingan Pengaruh Penambahan Antioksidan Alami dan Sintetis dalam Pengencer CEP Semen Beku Sapi Bali
Spermatozoa sapi Bali rentan terhadap kerusakan akibat stres oksidatif selama kriopreservasi, yang dapat menurunkan kualitas semen beku. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penambahan antioksidan alami (ekstrak teh hijau) dan sintetis (glutathione) pada pengencer Cauda Epididymal Plasma (CEP) terhadap kualitas semen beku sapi Bali. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan enam ulangan, pengencer CEP dasar (kontrol), CEP + 0.75 mM glutathione, dan CEP + 0.15% ekstrak teh hijau. Evaluasi kualitas spermatozoa dilakukan saat before freezing dan post thawing, meliputi motilitas menggunakan Computer-Assisted Semen Analysis (CASA), viabilitas menggunakan pewarna eosin-nigrosin dan integritas membran dan uji Hypo-Osmotic Swelling Test (HOST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan antioksidan secara signifikan meningkatkan kualitas spermatozoa dibanding dengan kontrol (p<0,05). CEP yang ditambahkan 0,15% ekstrak teh hijau memberikan hasil terbaik dalam mempertahankan post-thawing motilitas (49,2 ± 2%), viabilitas (67,4 ± 2,6%), dan integritas membran (62,1 ± 1,9%). Kesimpulannya, ekstrak teh hijau dan glutathione secara signifikan lebih efektif dibandingkan kontrol, dengan ekstrak teh hijau cenderung memberikan nilai tertinggi pada motilitas, viabilitas, dan integritas membran post-thawing
The Effect of Adding Lemongrass Leaves (Cymbopogon citratus) to Rice Husk Bedding on the Chemical Quality of Broiler Chicken Meat: Efek Penambahan Daun Serai (Cymbopogon citratus) pada Alas Kandang Sekam Padi Terhadap Kualitas Kimia Daging Ayam Pedaging
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penambahan daun serai (Cymbopogon citratus) pada alas kandang sekam padi dengan persentase berbeda terhadap kualitas kimia daging ayam. Setiap ayam pada penelitian ini mendapatkan alas kandang yang sama namun dengan salah satu dari perlakuan: tanpa penambahan daun serai P0=control, penambahan 5% daun serai pada alas kandang sekam padi (P1), penambahan10% daun serai pada alas kandang sekam padi (P2), penambahan 15% daun serai pada alas kandang sekam padi (P3), dan penambahan 20% daun serai pada alas kandang sekam padi (P4). Parameter yang diamati yaitu kadar air (%); protein kasar (%); serat kasar (%); lemak kasar (%); abu (%) dan karbohidrat (%). Analisis data menggunakan rancangan acak lengkap pola searah. Data yang berbeda nyata akan diuji lanjut dengan uji lanjut Duncan’s new multiple range test. Hasil penelitian penambahan daun serai (Cymbopogon citratus) pada alas kandang sekam padi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kandungan kadar air 73,85±0,02-73,78±0,08 %; Protein kasar 22,65±0,03-22,68±0,03 %; Serat kasar 2,50±0,00-2,52±0,02 %; Abu 1,41±0,01-1,43±0,01 %; Karbohidrat 1,31±0,01-1,33±0,01 % dan terjadi penurunan kandungan lemak kasar 2,32±0,00-2,31±0,00 %. Kesimpulan perlakuan penambahan daun serai sebagai alas kandang tidak berpengaruh terhadap sifat kimia daging, tetapi dapat menurunkan kandungan lemak kasar daging ayam
Correlation between Sea Surface Temperature and Rainfall Intensity in Untia Waters, Makassar (2019–2024): Korelasi Suhu Permukaan Laut Terhadap Intensitas Curah Hujan Tahun 2029-2024 di Perairan Untia, Makassar
Perairan Untia merupakan salah satu kawasan pesisir di Makassar yang memiliki aktivitas perikanan dan ekonomi yang tinggi. Perubahan pola curah hujan dapat memengaruhi aktivitas perikanan, kualitas air, dan ekosistem lokal. Variasi suhu permukaan laut (SPL) yang disebabkan oleh faktor seperti musim Timur dan musim Barat dapat memengaruhi distribusi dan intensitas curah hujan. Penelitian ini menganalisis data SPL dan intensitas curah hujan selama lima tahun terakhir (2019–2024) di Perairan Untia, Makassar. Data diperoleh dari Stasiun Meteorologi Maritim Makassar. Analisis dilakukan menggunakan uji normalitas, uji korelasi Pearson, dan analisis korelasi silang (cross-correlation) untuk mengetahui keterlambatan waktu (time lag) antara perubahan suhu laut dan terjadinya curah hujan. Hasil uji korelasi menunjukkan SPL memiliki hubungan yang lemah dengan curah hujan di Musim Barat (r = -0.31) dan Musim Peralihan I (r = -0.05), serta hubungan kuat hingga sangat kuat di Musim Timur (r = 0.53) dan Musim Peralihan II (r = 0.77). Hasil analisis cross-correlation memperlihatkan adanya time lag sekitar 1 bulan antara peningkatan SPL dan terjadinya hujan, terutama pada Musim Timur dan Peralihan II. Temuan ini penting untuk mendukung prediksi iklim lokal dan manajemen sumber daya pesisir
Growth and Survival of Abalone (Haliotis asinina) on Various Doses of Seaweed (Eucheuma spinosum) in Controlled Containers: Pertumbuhan dan Sintasan Abalon (Haliotis asinina) pada Berbagai Dosis Rumput Laut Eucheuma spinosum dalam Wadah Terkontrol
Budidaya abalon (Haliotis asinine) di Indonesia memiliki kendala seperti pertumbuhan relatif lambat dan tingkat kelangsungan hidup yang rendah, sehingga diperlukan ketepatan jenis dan dosis pakan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Eucheuma spinosum terhadap pertumbuhan dan sintasan abalon H. asinina. Penelitian didesain dalam Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas 5 taraf perlakuan dan 4 kelompok. Perlakuan yang dicobakan yaitu: P1: 5% E. spinosum per 4 individu; P2: 10% E. spinosum per 4 individu; P3: 15% E. spinosum per 4 individu; P4: 20% E. spinosum per 4 individu; dan P5: 25% E. spinosum per 4 individu. Hasil analisis ragam kontras polinomial ortogonal menunjukkan bahwa perlakuan dosis pakan berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan bobot mutlak dan panjang mutlak abalon. Nilai perlakuan optimum ordo polinomial kuadratik pada dosis pakan dengan pertambahan bobot mutlak masing-masing sebesar 11,92% dan 1,20 g, ordo polinomial kubik sebesar 14,07% dan 1,51 g, dan ordo polinomial kuartik sebesar 10,5% dan 1,15 g. Nilai perlakuan optimum pertumbuhan panjang mutlak ordo polinomial kuadratik pada dosis pakan dengan pertumbuhan panjang mutlak masing-masing sebesar 14,96% dan 0,20 cm, ordo polinomial kubik sebesar 19,33% dan 0,36 cm, serta ordo polinomial kuartik sebesar 12,5% dan 0,19 cm
Different Application Methods of Probiotic on the Growth of Whiteleg Prawn (Penaeus vannamei Boone, 1931): Metode Aplikasi Probiotik yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Udang Kaki Putih (Penaeus vannamei Boone, 1931)
Intensifikasi budidaya udang disamping meningkatkan produksi, juga mengakibatkan penurunaan kualitas air akibat akumulasi limbah organik, sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang. Salah satu solusi yang dapat ditempuh adalah penerapan probiotik sebagai agen biokontrol. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh aplikasi probiotik yang berbeda terhadap pertumbuhan udang kaki putih. Penelitian ini bersifat eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, yaitu A (tanpa penambahan probiotik, kontrol); B (penambahan probiotik dosis 10 mL/kg pakan); C (penambahan probiotik dosis 0,5 mL/L air media pemeliharaan); dan D (penambahan probiotik dengan dosis 10 mL/kg pakan dan 0,5 ml/L air media pemeliharaan). Data pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan harian (SGR) dan rasio konversi pakan (FCR) dianalisis ragam (ANOVA) dan uji BNJ digunakan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Data kelangsungan hidup dan kualitas air dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan mutlak dan SGR tertinggi diperoleh pada perlakuan penambahan probiotik melalui media pemeliharaan, masing-masing sebesar 2,91 g dan 3,06%/hari. FCR terbaik dan kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada perlakuan penambahan probiotik melalui pakan dan air, masing-masing 1,84 dan 26%. Aplikasi probiotik melalui air meningkatkan pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan harian, sedang aplikasi probiotik melalui pakan, baik secara tunggal maupun kombinasi menghasilkan nilai FCR lebih rendah dan kelangsungan hidup lebih tinggi