Jurnal Ilmu Dakwah
Not a member yet
206 research outputs found
Sort by
Retorika dakwah KH Syukron Djazilan pada pengajian rutin masjid Rahmat Kembang Kuning Surabaya
This paper describes the da'wah rhetoric delivered by KH Syukron Djazilan through regular recitations. By knowing the preaching rhetoric of KH Syukron Djazilan as a topic of discussion, an overview of his preaching rhetoric application is expected to got, especially in routine recitations. In addition, the da'wah rhetoric presented by KH Syukron Djazilan can be used as a comparison material to the da'wah development for novice preachers. The method used in this study is a qualitative method with descriptive analysis based on the canon of rhetoric theory. The data collection techniques are conducted by observation and documentation through interviews. Observation by observing the preaching rhetoric of KH Syukron Djazilan in one of the themes presented in routine recitations at the Rahmat Kembang Kuning Mosque in Surabaya. The results of this research show that KH Syukron Djazilan has applied the canons of rhetoric in preaching (discovery, arrangement, style, delivery, and memory). However, KH Syukron Djazilan has prepared everything. He is also fluent in speaking and used it frequently, sometimes repeating his words when giving a religious lecture and it is fair-minded. This research have implicaiton that rhetoric in preaching is a must. It will be better includes unique public speaking skill (humorous) to gain the attention.***Tulisan ini menjelaskan retorika dakwah yang disampaikan oleh KH Syukron Djazilan melalui pengajian rutinan. Dengan mengetahui retorika dakwah KH Syukron Djazilan pada salah satu topik pembahasan, diharapkan akan memperoleh gambaran tentang penerapan retorika dakwah beliau khususnya pada pengajian rutinan. Di samping itu, retorika dakwah yang disajikan oleh KH Syukron Djazilan dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagi pengembangan dakwah untuk para pendakwah pemula. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan analisis deskriptif berdasarkan teori kanon retorika. Adapun teknik pengumpulan datanya melalui observasi dan dokumentasi serta wawancara. Observasi dengan cara mengamati retorika dakwah KH Syukron Djazilan dalam salah satu tema yang disampaikan dalam pengajian rutin di Masjid Rahmat Kembang Kuning Surabaya. Hasil riset ini menunjukkan bahwa KH Syukron Djazilan telah menerapkan kanon retorika dalam berdakwah yaitu (penemuan, pengaturan, gaya, penyampaian, dan ingatan). Namun demikian, KH Syukron Djazilan sudah menyiapkan segala sesuatunya, dan juga sudah lancar berbicara dan terbiasa, ada kalanya mengulangi ucapan ketika berceramah, dan hal tersebut merupakan yang wajar saja. Penelitian ini memiliki implikasi bahwa retorika dakwah itu perlu, akan lebih baik ketika disertai keahlian berbicara di depan umum yang unik (humoris) untuk menarik perhatian
Mechanization of Islamic moderation da’wah in the Nahdlatul Ulama pesantren tradition
Pesantren (madrassah) is Indonesia's oldest educational institution; it is through pesantren (madrassah) that the country's national educational system was formed, and despite the rapid changes in society, pesantren has managed to keep its characteristics. The kyai, santri, mosque, and classical reference books are at least three key parts of pesantren culture (Kitab Kuning). Pesantren play a critical role in distributing Islamic moderation in the society to maintain community resilience, since the tendency of social religiosity in today's Indonesian culture has reached into religious conservatism to some extent. The objective of this research is to describe pesantren elements (Kyai, Santri, Masjid, and Kitab Kuning) are engaged in producing religious moderation character-building approaches and patterns. This research examines five renowned Nahdhatul Ulama pesantren in Central and East Java using a qualitative methodology. According to results this study that based on in-depth observations, documentation, and observation of the pesantren environment under independent investigation, as well as interviews with pesantren leaders (kyai) and other informants who are fully acquainted with the pesantren under research. The Pesantren-Islamic boarding school-style integrated education system and the classical halaqah system, according to the findings of this study, became an integrated and complementary educational system, preparing social cadre with an understanding of religious moderation, which was actualized in the form of national commitment, religious tolerance, anti-violence da'wah, and accommodative behavior to local culture. The results of this study can be implemented that the four elements of pesantren can be used as a strategy in strengthening the values of islamic moderation not limited to the pesantren but extended to the scope of national life.***Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia; Dari pesantren (madrasah) perkembangan sistem pendidikan nasional di Indonesia terbangun, meski terjadi perubahan masyarakat yang dinamis, pesantren tetap mampu mempertahankan ciri khasnya. Setidaknya ada tiga unsur penting dalam budaya pesantren, yaitu kyai, santri, masjid, dan kitab klasik (kitab kuning). Tren religiusitas sosial dalam masyarakat Indonesia saat ini - sampai batas tertentu - telah menunjukkan gejala ke arah konservatisme agama, oleh karena itu pesantren memainkan peran krusialnya dalam mensosialisasikan diskursus moderasi Islam di masyarakat untuk membentengi sekaligus membangun resiliensi sosial dari arus konservatisme agama yang ekstrem. Tujuan dalam penelitian ini adalah menggambarkan elemen pesantren (Kyai, Santri, Masjid, dan Kitab Kuning) yang digunakan dalam mengembangkan strategi dan pola pembentukan karakter moderasi beragama. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan melihat lima pesantren ikonic Nahdhatul Ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Berdasarkan hasil observasi mendalam dengan mendokumentasikan dan mengamati lingkungan pesantren melalui inkuiri independen, serta wawancara mendalam dengan beberapa informan yang benar-benar mengenal pesantren yang menjadi objek kajian. Selanjutnya temuan penelitian ini, sistem pendidikan terpadu ala pesantren dan sistem halaqah klasik-sistem pendidikan terpadu dan komplementer pesantren- telah mampu mempersiapkan kader masyarakat yang memahami moderasi beragama, yang diaktualisasikan dalam bentuk komitmen kebangsaan, toleransi beragama, dakwah tanpa kekerasan, dan perilaku akomodatif terhadap budaya lokal. Hasil kajian ini dapat diimplementasikan bahwa empat elemen pesantren dapat dijadikan strategi dalam memperkuat nilai-nilai moderasi beragama tidak terbatas pada lingkungan pesantren tapi diperluas pada lingkup kehidupan berbangsa dan bernegara
Rekonstruksi dakwah era revolusi media studi kasus pergolakan Front Pembela Islam
This research that is Islam in Indonesia is a religion in great demand by the public (the majority). This at the same time brings Islamic da'wa to various kinds of developments. The dynamics of the development of da'wa from time to time also experienced significant changes from various aspects. In addition, many Community Organizations (Ormas) were established to strengthen resilience. Where should be with the frills of the majority of Muslims, able to preach very freely and easily accepted by the community? However, in reality, people are increasingly afraid because many community organizations (Ormas) have different opinions and blame each other. The Islamic Defenders Front (FPI) is one of the Islamic community organizations (Ormas) that emerged because of its controversial preaching. This study uses a qualitative method with a historical approach, while the research specifications used are descriptive. The results of the study show that da'wa in the current era is experiencing a setback due to the pros and cons of Islamic community organizations (Ormas). Because the majority of Muslims in Indonesia are only concerned with the social status of each individual, not mutually reinforcing one another. Therefore, this incident can be overcome with Islamic community organizations (Ormas) who preach according to Islamic law, not by violence, both verbally and physically, and mutually reinforcing towards an Indonesian Islam that is Rahmatan Lil Alamin.***Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa agama Islam di Indonesia menjadi agama yang banyak diminati oleh masyarakat (Mayoritas). Hal ini sekaligus membawa dakwah Islam menuai berbagai macam perkembangan. Dinamika perkembangan dakwah dari masa ke masa pun mengalami perubahan yang signifikan dari berbagai aspek. Selain itu, banyak Organisasi Masyarakat (Ormas) yang didirikan guna memperkuat ketahanan. Di mana seharusnya dengan embel-embel mayoritas umat Muslim, mampu berdakwah dengan sangat leluasa dan mudah diterima oleh masyarakat. Namun kenyataannya, masyarakat semakin takut karena banyaknya Organisasi masyarakat (Ormas) yang berbeda pendapat dan saling menyalahkan satu sama lain. Front Pembela Islam (FPI) menjadi salah satu Organisasi masyarakat (Ormas) Islam yang muncul karena dakwahnya yang kontroversial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis, sedangkan spesifikasi penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah di era saat ini mengalami kemunduran yang diakibatkan pro-kontra Organisasi masyarakat (Ormas) Islam itu sendiri. Karena mayoritas Muslim di Indonesia hanya mementingkan status sosial setiap individu, bukan saling menguatkan satu sama lain. Oleh karenanya kejadian ini bisa diatasi dengan Organisasi masyarakat (Ormas) Islam yang berdakwah sesuai syari’at Islam, tidak dengan kekerasan baik secara verbal maupun fisik dan saling menguatkan untuk menuju Islam Indonesia yang Rahmatan Lil Alamin.
Dakwah Aisyiyah melalui kader Tuberkulosis (Tb) care di Kabupaten Sinjai
Islamic da'wah is carried out in all sectors, including health. Likewise, Tuberculosis (TB) Care Aisyiyah in Sinjai Regency. The purpose of the study was to determine the form of Aisyiyah preaching through TB Care cadres. This type of research, qualitative, data collection using the method of observation, interviews and documentation. Data analysis applied in this study started from data collection, data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results showed that Aisyiyah preaching through TB Care cadres started from mentoring. Assistance of TB Care cadres is carried out periodically, the first visit is called sampling and becomes a discussion partner with patients, and patients' families starting from information on treatment, healing and health (starting from monitoring taking medication for a period of six months to the recovery stage). Furthermore, the form of da'wah carried out by TB Care cadres in broadcasting da'wah through three forms, namely da'wah by oral bill, da'wah bil hal and da'wah bil qalam. The implication of this research is that the delivery of da'wah for TB Care cadres should be optimized by providing knowledge related to da'wah for TB Care cadres.***Dakwah Islam dilakukan di semua sektor, termasuk kesehatan. Begitu juga yang dilakukan oleh Tuberculosis (TB) Care Aisyiyah di Kabupaten Sinjai. Tujuan penelitian untuk mengetahui bentuk dakwah Aisyiyah melalui kader TB Care. Jenis penelitian, kualitatif, pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini mulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah Aisyiyah melalui kader TB Care dimulai dari pendampingan. Pendampingan kader TB Care dilakukan secara berkala, kunjungan pertama disebut dengan pengambilan sampel serta menjadi mitra diskusi terhadap pasien, dan keluarga pasien mulai dari Informasi pengobatan, kesembuhan dan kesehatan (mulai dari pengawasan minum obat selama kurung waktu enam bulan sampai pada tahap kesembuhan). Selanjutnya bentuk dakwah yang dilakukan oleh kader TB Care dalam menyiarkan dakwah melalui tiga bentuk, yakni dakwah secara bil lisan, dakwah bil hal dan dakwah bil qalam. Implikasi penelitian ini bahwa penyampaian dakwah kader TB Care hendaknya dioptimalkan dengan memberikan pengetahuan terkait dakwah terhadap kader TB Care
Dakwah Islam dan pencegahan radikalisme melalui ketahanan masyarakat
Community resilience is an important aspect of da'wah as an effort to prevent radicalism in Indonesia. The importance of community resilience is based on the phenomenon where the community has become the victim of various events that have the nuances of radicalism. Bombings, shootings, stabbings and vandalism events have harmed the community, both individually and collectively. The destruction of public facilities has disrupted social activities and governance. In addition, violent-motivated events have disrupted people's lives because they feel afraid, insecure, and threatened by circumstances that are beyond their capabilities. Therefore, it is necessary to have da'wah through efforts of resilience in the face of acts of violence with a background of radicalism. This study aims to determine da'wah activities through the form of community resilience by taking locations in the Solo Raya area in the face of various radicalism events, forms of community resilience and how steps are taken to prevent the spread of radical ideology through da'wah activities. This study is a qualitative research with a symbolic interactionism approach involving a number of informants who were selected using a purposive sampling method from 4 areas in Solo Raya, namely Surakarta, Sukoharjo, Sragen and Karanganyar. Data was collected through a Focus Group Discussion technique ( FGD). This study found that Da’wah can be utilised as a method to prevent radicalism through strengthening community resilience. The way of prevention focus on anticipating and adapting to the dangers of radicalism through 4 (four) forms; awareness of plurality, synergy between institutions, cultural communication and strategic partnerships.***Ketahanan masyarakat (Community Resiliency) menjadi aspek penting dalam dakwah sebagai upaya pencegahan radikalisme di Indonesia. Pentingnya ketahanan masyarakat didasarkan pada fenomena dimana masyarakat telah menjadi korban berbagai peristiwa yang bernuansa radikalisme. Peristiwa pengeboman, penembakan, penusukan dan perusakan telah merugikan masyarakat baik secara individu maupun komunitas. Hancurnya fasilitas publik telah menggangu kegiatan dan tata laksana sosial. Selain itu, peristiwa bermotif kekerasan telah mengganggu kehidupan masyarakat karena merasa takut, tidak aman, dan terancam oleh keadaan yang berada di luar kemampuan mereka. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya dakwah melalui upaya ketangguhan (resiliency) dalam menghadapi tindakan kekerasan yang berlatarbelakang radikalisme. Studi ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan dakwah melalui bentuk ketahanan masyarakat dengan mengambil lokasi di wilayah Solo Raya dalam menghadapi berbagai peristiwa radikalisme, bentuk ketangguhan masyarakat dan bagaimana langkah yang ditempuh untuk melakukan pencegahan terhadap penyebaran ideologi radikal melalui kegiatan dakwah. Studi ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan interaksionisme simbolik dengan melibatkan sejumlah informan yang dipilih dengan metode sampel bertujuan (purposive sampling) yang berasal dari 4 wilayah di Solo Raya, yaitu Surakarta, Sukoharjo, Sragen dan Karanganyar, dan data diambil melalui teknik Focus Group Discussion (FGD). Studi ini menemukan bahwa dakwah pencegahan radikalisme dapat dilakukan melalui penguatan ketahanan masyarakat yang merupakan proses antisipasi dan adaptasi terhadap bahaya atau bencana radikalisme melalui 4 (empat) bentuk; kesadaran pluralitas, sinergitas antar lembaga, komunikasi budaya dan kemitraan strategis
Peran Kementerian Agama dalam mempromosikan moderasi beragama di era digital
Religious moderation is an important key in the religious diversity landscape. This concept is one of the alternatives and solutions amid various conflicts and problems in the name of the division in the name of religion, especially in Indonesia. These problems must be responded to and find solutions so that religious problems in Indonesia can be unraveled. Especially during the digital era like today, promoting and actualizing religious moderation in the context of religion in Indonesia is an absolute must. This study seeks to explore and examine the role of the Ministry of Religion as one of the government institutions that functions as a policymaker in religious activities, especially in the issue of implementing religious moderation in Indonesia, especially in the context of the current digital era. This study uses a descriptive-analytical approach by taking some data and references sourced from several journal articles, books, and the Ministry of Religion website, as well as various kinds of literature that support the topic in the discussion of this research. Researchers found that the Ministry of Religion seeks to encourage religious moderation in its policies and programs, especially in dealing with religious conflicts in Indonesia, especially conflicts between religious believers, strengthening radicalism, and the emergence of transnational religious ideas that have begun to develop and enter Indonesia, as well as spreading understanding in a structured and massive manner. This is done to muffle and reduce the occurrence of various acts and acts of radicalism and extremism in Indonesia. ***Moderasi beragama merupakan kunci penting dalam lanskap keragaman agama. Konsep ini menjadi salah satu alternatif dan solusi di tengah berbagai konflik dan permasalahan yang mengatasnamakan pemecahbelahan atas nama agama, khususnya di Indonesia. Permasalahan-permasalahan tersebut harus direspon dan dicarikan solusi agar permasalahan keagamaan di Indonesia dapat terurai. Apalagi di tengah era digital seperti sekarang ini, menggalakkan dan mengaktualisasikan moderasi beragama dalam konteks beragama di Indonesia menjadi hal yang mutlak. Kajian ini berupaya menelusuri dan mengkaji peran Kementerian Agama sebagai salah satu lembaga pemerintah yang berfungsi sebagai pembuat kebijakan dalam kegiatan keagamaan, terutama dalam persoalan implementasi moderasi beragama di Indonesia, terutama dalam konteks era digital saat ini. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif-analisis dengan mengambil beberapa data dan referensi yang bersumber dari beberapa artikel jurnal, buku, dan website Kementerian Agama, serta berbagai literatur yang mendukung topik dalam pembahasan penelitian ini. Peneliti menemukan bahwa Kementerian Agama berupaya untuk mendorong moderasi beragama dalam kebijakan dan programnya, terutama dalam menangani konflik agama di Indonesia, khususnya konflik antarumat beragama, menguatnya paham radikalisme, dan munculnya ide-ide keagamaan transnasional yang sudah mulai berkembang dan masuk ke Indonesia, serta menyebarkan pemahamannya secara terstruktur dan masif. Hal ini dilakukan untuk meredam dan mengurangi terjadinya berbagai aksi dan tindakan radikalisme dan ekstremisme di Indonesia
Perkembangan Dakwah Muhammadiyah di Tombolo Pao Kabupaten Gowa
Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi masyarakat keagamaan memiliki misi melakukan perubahan dalam kehidupan umat Islam kepada kondisi yang lebih baik. Melalui strategi amar ma’ruf nahi munkar sebagai dasar gerakan, Muhammadiyah bertujuan untuk memurnikan kembali ajaran Islam yang banyak dipengaruhi oleh hal-hal mistis. Termasuk yang terjadi di Kecamatan Tombolo Pao, keadaan masyarakat masih dipengaruhi oleh kepercayaan animisme dan dinamisme dengan praktik-praktik ibadah yang penuh dengan bid’ah, khurafat, takhyul dan syirik. Seiring dengan berdirinya Muhammadiyah, perlahan tapi pasti selalu memberikan bimbingan dan pencerahan dengan metode dakwah berdasarkan Al quran dan Hadis. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif, teknik analisis data yakni pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Tulisan ini fokus pada sejarah berdirinya Muhammadiyah serta pengaruh pemikiran dakwah Muhammadiyah di Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa. Implikasinya, dakwah yang dilakukan Muhammadiyah melalui berbagai sektor dan sasaran dakwah bisa dianut oleh organisasi masyarakat keagamaan lainnya, supaya diterima kalangan masyarakat luas seperti halnya yang terjadi di Tombolo Pao.***Muhammadiyah as one of the religious community organizations has a mission to make changes in the lives of Muslims to a better condition. Through the strategy of amar ma'ruf nahi munkar as the basis of the movement, Muhammadiyah aims to purify the teachings of Islam which are heavily influenced by mystical things. Including what happened in Tombolo Pao District, the condition of the community is still influenced by animistic beliefs and dynamism with worship practices that are full of heresy, superstition and shirk. Along with the establishment of Muhammadiyah, slowly but surely always provide guidance and enlightenment with da'wah methods based on the Qur'an and Hadith. This type of research uses qualitative methods, data analysis techniques, namely data collection, data reduction, data presentation and drawing conclusions. This paper focuses on the history of the founding of Muhammadiyah and the influence of Muhammadiyah's da'wah thought in Tombolo Pao District, Gowa Regency. The implication is that the da'wah carried out by Muhammadiyah through various sectors and targets of da'wah can be embraced by other religious community organizations, so that it is accepted by the wider community as happened in Tombolo Pao
Strategi dakwah dalam meminimalisir penyebaran informasi hoax di media sosial
This study aims to determine the da'wa strategy in minimizing the spread of hoax information on social media for UIN Alauddin Makassar students. Focused on how to recognize hoax information in the media, what factors caused the spread of hoax information and what strategic da'wa steps were taken to minimize the spread of hoax information on social media for UIN Alauddin Makassar students. This research is descriptive qualitative research using social media and da'wa approaches. The data sources of this research were students of UIN Alauddin Makassar using data collection methods through observation, questionnaires, interviews, and documentation. The results showed that the ways to recognize hoax information on social media were checking the site and article quality, checking the truth of the information, being aware of provocative titles, checking facts, checking the authenticity of photos, participating in anti-hoax discussion groups. The factors that caused the spread of hoax information on social media by UIN Alauddin Makassar students were prioritizing substance over news sources, liking to share and being lazy to read, being too anxious, and feeling threatened by danger, the most updated and wanting recognition. The strategic steps for da'wa in minimizing the spread of hoax information on social media for UIN Alauddin Makassar students are to be careful of news from wicked people, spreading hoax information is a sin, spreading hoax information can make others miserable. The implication of this research is the need for awareness to recognize hoax information and not spread it to irresponsible parties.***Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi dakwah dalam meminimalisir penyebaran informasi hoax di media sosial bagi mahasiswa UIN Alauddin Makassar. Terfokus pada bagaimana cara mengenali informasi hoax di media, faktor-faktor apa yang menyebabkan tersebarnya informasi hoax dan langkah strategis dakwah apa yang dilakukan dalam meminimalisir penyebaran informasi hoax di media sosial bagi mahasiswa UIN Alauddin Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan media sosial dan dakwah. Sumber data penelitian ini adalah mahasiswa UIN Alauddin Makassar dengan menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi, angket, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara mengenali informasi hoax di media sosial adalah memeriksa situs dan kualitas artikel, memeriksa kebenaran informasi, waspada dengan judul provokatif, memeriksa fakta, mengecek keaslian foto, ikut serta grup diskusi anti hoax. Adapun faktor-faktor penyebab tersebarnya informasi hoax di media sosial oleh mahasiswa UIN Alauddin Makassar adalah memprioritaskan substansi dari pada sumber berita, suka berbagi dan malas membaca, terlalu cemas dan merasa terancam akan terjadi bahaya, paling update dan ingin pengakuan. Adapun langkah strategis dakwah dalam meminimalisir penyebaran informasi hoax di media sosial bagi mahasiswa UIN Alauddin Makassar adalah berhati-hati terhadap berita dari orang-orang fasik, menyebarkan informasi hoax adalah dosa, menyebarkan informasi hoax dapat menyengsarakan orang lain. Implikasi penelitian ini adalah perlunya ada kesadaran untuk mengenali informasi hoax dan tidak menyebarkannya kepada pihak yang tidak bertanggung jawab
Etika stand up comedy dalam proses penyampaian dakwah
The Islamic da’wah method has undergone many innovations as it adapts to the needs of mankind, especially supported by the presence of increasingly sophisticated technology and provides many conveniences for the activities of human life. Stand-up comedy da’wah is one form of innovation from the Islamic da’wah method as well as a virtual public space product that has now been in great demand by the public. Nevertheless, the presence of stand-up comedy invites pros and cons. Some scholars argue that stand-up comedy is not allowed because it looks like playing with religion, while some other scholars consider that it is permissible with due regard to limitations. This study aims to review the effectiveness of stand-up comedy da’wah amid the globalization era and discusses the ethics of stand-up comedy da’wah when delivering da’wah messages. This research uses the descriptive qualitative method. The data in this study were taken from documentation and audiovisual data in the form of youtube shows. The research results show that stand-up comedy da’wah, a product of virtual public spaces, has been successfully favored by the community, especially rural communities. In addition, preachers who have brought stand-up comedy as a way of da’wah can be seen from the method used by preachers in conveying messages through jokes. Even so, the message of da’wah is not entirely conveyed using jokes. That is, da’i uses ethics in preaching through stand-up comedy, by providing joke limits in conveying da’wah’s message. Stand-up comedy in da’wah must have ethical and aesthetic standards that must be met in carrying out da’wah. ***Metode dakwah Islam seiring berjalannya waktu telah mengalami banyak inovasi baru sebagaimana menyesuaikan dengan kebutuhan umat manusia, terlebih didukung dengan hadirnya teknologi yang semakin canggih dan memberikan banyak kemudahan bagi aktivitas kehidupan manusia. Stand up comedy dakwah merupakan salah saatu bentuk inovasi dari metode dakwah Islam sekaligus menjadi produk ruang publik virtual yang kini telah banyak diminati oleh masyarakat. Meskipun demikian, kehadiran stand up comedy mengundang pro dan kontra. Beberapa ulama berpendapat bahwa tidak diperbolehkannya stand up karena terlihat seperti mempermainkan agama, sementara beberapa ulama lain menganggap bahwa hal tersebut diperbolehkan dengan tetap memperhatikan batasan-batasan. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau efektifitas stand up comedy dakwah di tengah era globalisasi serta membahas tentang etika stand up comedy dakwah yang perlu diperhatikan ketika menyampaikan pesan dakwah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini diambil dari dokumentasi dan data audiovisual berupa tayangan youtube. Hasil dari penelitian yang sudah dilakukan menunjukan bahwa stand up comedy dakwah yang menjadi produk dari ruang publik virtual berhasil digemari masyarakat, terlebih masyarakat pedesaan. Selain itu, da’i yang telah membawakan stand up comedy sebagai jalan dakwah, hal ini terlihat dari cara yang digunakan da’i dalam menyampaikan pesan melalui selingan joke. Meskipun begitu, pesan dakwah tidak secara keseluruhan disampaikan menggunakan jokes. Artinya, da’i menggunakan etika dalam berdakwah melalui stand up comedy, dengan cara memberikan batasan lawakan dalam menyampaikan pesan dakwah. Stand up comedy dalam dakwah harus memiliki standar etis dan estetis yang harus dipenuhi dalam melakukan dakwah.
Dakwah di masa pandemi Covid-19: Eksistensi, problematika serta solusi
This research is motivated by the presence of the covid-19 outbreak, which causes many activities that cannot be done by gathering and meeting face to face. This impact is not only in the world of business or education, but also has an impact on worship activities and other religious activities such as congregational prayer at the mosque, weekly recitation at the mosque, including listening to dakwah directly from the ulama. With the covid-19 outbreak as a pandemic that has spread to various countries, another step is needed in religious activities to prevent and break the covid-19 chain so that it does not spread widely. So staying at home and maintaining a distance is the choice of muslims when circumstances are felt to be detrimental to themselves and other. In respone to this, it is necessary to conduct a study of some of the impact that occur in dakwah activities in the middle of a pandemic, which aims to find out whether due to the many obstacles, dakwah activities are still being carried out or not. To achieve this goal, this study used a qualitative-descriptive research method with litelature study techniques. The result of this study obtained data and the fact that there are many problems in dakwah in a pandemic situation like this. However, the data shows that the problems that occur are not a barrier to the existence of dakwah amid the covid-19 pandemic. ***Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hadirnya wabah covid-19, yang menyebabkan banyaknya aktivitas dan kegiatan yang tidak bisa dilakukan dengan berkumpul dan bertatap muka secara langsung. Dampak tersebut bukan hanya dalam dunia usaha ataupun pendidikan saja, tetapi juga berdampak pada kegiatan beribadah dan kegiatan keagamaan lainnya seperti salat fardhu berjama’ah di masjid, pengajian mingguan di masjid, termasuk mendengarkan dakwah dari para ulama secara langsung pun terhenti. Dengan adanya wabah covid-19 sebagai pandemi yang telah tersebar ke berbagai negara, diperlukan suatu langkah lain dalam kegiatan keagamaan untuk pencegahan dan memutus rantai covid-19 agar tidak tersebar dan tidak meluas. Maka tetaplah di rumah dan tetap menjaga jarak merupakan pilihan umat Islam saat keadaan sekitar dirasa dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Menyikapi hal tersebut perlu kiranya dilakukan kajian terhadap beberapa dampak yang terjadi pada kegiatan berdakwah di tengah pandemi, yang bertujuan untuk mengetahui apakah dengan banyaknya kendala, kegiatan berdakwah tetap terlaksana atau tidak. Untuk mencapai tujuan tesebut, dalam penelitian ini digunakan metode penelitian kualitatif-deskriptif dengan teknik studi pustaka. Hasil dari penelitian ini diperoleh data dan fakta bahwa banyak sekali problematika dalam dakwah di dalam situasi pandemi seperti ini, tetapi di dalam data tersebut menunjukan bahwa problematika yang terjadi tidak menjadi penghalang dalam keeksistensian dakwah di tengah pandemi covid-19