Jurnal Ilmu Dakwah
Not a member yet
    206 research outputs found

    Kartun sebagai media dakwah bagi anak-anak: Studi pada tayangan Upin dan Ipin

    Get PDF
    Da'wa through film media has been widely carried out, including cartoons. In general, Upin and Ipin animations incorporate more Islamic values into their shows, not just ordinary cartoon shows. In contrast to other cartoons, animation that makes children the target of the message must pay attention to the message, language, and context by the object. Making children mad’u da’wah requires special materials according to their needs and packaged lightly so that they are easily accepted. This study aims to explain how much Upin and Ipin shows contain da’wah messages in each episode, as well as what forms of da’wah material are contained in Upin and Ipin shows. The descriptive quantitative method was chosen as the approach to get a clear picture of the data. Data were taken randomly as many as 30 of 240 episodes. Data is analyzed simply by giving meaning to the numbers. The results showed that 90 % of the shows contained da’wah methods or elements of da’wah. Meanwhile, 10% of the rest shows that do not display da’wah messages. This shows that the Upin and Ipin shows, judging from the material, have three elements of da’wah. First, the show is very child-friendly, there is no element of violence or pornography in the show. Second, it contains an element of entertainment so that the material is easily accepted by children. The audio-visual presentation displayed by the program makes children more interested and not bored. Third, to meet the needs of children in terms of quality shows and full of noble values. Such as values about filial piety and respect for parents, please help fellow friends, respect differences, uphold a sense of tolerance, keep the environment clean, learn to explore nature, love the homeland, and have faith in Allah SWT.***Dakwah melalui media film telah banyak dilakukan, tak terkecuali film kartun. Bukan hanya tayangan kartun biasa seperti pada umumnya, animasi Upin dan Ipin lebih banyak memasukkan nilai-nilai keislaman ke dalam tayangannya. Berbeda dengan film kartun lainnya, animasi yang menjadikan anak-anak sebagai sasaran pesan harus memperhatikan pesan, bahasa, dan konteks yang sesuai dengan objeknya. Menjadikan anak-anak sebagai mad’u dakwah membutuhkan materi khusus sesuai dengan kebutuhannya serta dikemas dengan ringan agar mudah diterima. Penelitian ini bertujuan menjelaskan tentang seberapa besar tayangan Upin dan Ipin memuat pesan dakwah dalam setiap episodenya, serta apa saja bentuk materi dakwah yang terkandung dalam tayangan Upin dan Ipin. Metode kuantitatif deskriptif dipilih sebagai pendekatan agar mendapatkan gambaran yang jelas tentang data. Data diambil secara random sebanyak 30 dari 240 episode. Data dianalisis secara sederhana dengan memberikan makna atas angka-angka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 90% tayangan memuat metode dakwah ataupun unsur dakwah. Sedangkan 10% dari sisanya adalah tayangan yang tidak menampilkan pesan dakwah. Hal ini menunjukkan bahwa tayangan Upin dan Ipin, dilihat dari materi, memiliki tiga unsur dakwah. Pertama, tayangan yang sangat ramah pada anak-anak, tidak ada unsur kekerasan ataupun pornografi dalam tayangan. Kedua, mengandung unsur hiburan sehingga materi mudah diterima oleh anak-anak. Sajian audio visual yang ditampilkan oleh tayangan lebih membuat anak-anak tertarik dan tidak bosan. Ketiga, mencukupi kebutuhan anak-anak dalam hal tontonan berkualitas serta sarat akan nilai-nilai yang luhur. Seperti nilai tentang berbakti dan menghormati orang tua, tolong menolong pada sesama teman, menghargai perbedaan, menjunjung tinggi rasa toleransi, menjaga kebersihan lingkungan, belajar mengexplorasi alam, cinta pada tanah air, serta beriman kepada Allah Swt

    Etika komunikasi dakwah: Studi terhadap video kajian Ustaz Abdul Somad tentang K-Pop dan Salib

    Get PDF
    Ustaz Abdul Somad kembali menjadi sorotan khalayak karena dakwahnya yang kontroversial. Pada akhir Agustus 2019, video ceramah Ustaz Abdul Somad yang diunggah pada tahun 2016 yang berjudul “Hukum Melihat Salib” sempat viral di media sosial karena dianggap mengandung unsur Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Video pendek yang berisi jawaban Ustaz Abdul Somad atas pertanyaan jamaah, mengandung konten yang menyinggung tentang salib sehingga menimbulkan respon negatif dari umat nonmuslim. Selain itu, ada video ceramah lain yang berjudul “Hukum Menonton Film Korea” yang juga menimbulkan respon negative bagi para penggemar KPop atau KPopers. Tulisan ini fokus pada bagaimana etika komunikasi dakwah Ustaz Abdul Somad yang dibangun berdasarkan perspektif Al Quran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif. Subjek penelitiannya adalah dua video ceramah Ustaz Abdul Somad yang berjudul “Hukum menonton Film Korea” dan “Hukum Melihat Salib”. Sementara objek penelitian ini ialah retorika Ustaz Abdul Somad dalam video-video tersebut. Hasilnya, ceramah dalam kedua video tersebut mengandung prinsip etika komunikasi dalam Al Quran, dengan catatan ceramah tersebut dilakukan pada kelompok terbatas. Etika Al Quran yang dimaksud adalah prinsip bicara tegas dan jujur. Namun, jika dalam konteks media sosial yang bersifat general atau umum, maka pesan dakwahnya tidak sesuai dengan salah satu kode etik dakwah serta dinilai tidak efektif. Ustaz Abdul Somad returned to the media spotlight because of his preaching that triggered a negative response by other groups. At the end of August 2019, Ustaz Abdul Somad's video lecture uploaded in 2016 entitled "Hukum Melihat Salib" was viral on social media because it was considered to contain SARA elements. In the video footage, there is content that is offensive about the cross, giving rise to negative responses from non-Muslim communities. In addition, the lecture video entitled "Hukum Menonton Film Korea" also caused a negative response for KPopers. Therefore, this paper focuses on how the ethics of Ustaz Abdul Somad's missionary communication are built on the perspective of the Qur'an. This research uses a qualitative descriptive approach. His research subjects used Ustaz Abdul Somad's video lecture entitled "Hukum Menonton Film Korea" and "Hukum Melihat Salib". While the object of this research is the rhetoric of Ustad Abdul Somad in the videos. As a result, both videos contain ethical principles of communication in the Koran, if the lecture is aimed at a particular group. Unlike the case in social media that is universal (anyone, anytime and anywhere can be accessed), then the message of preaching is not following one of the preaching code of ethics and has not been effective

    Pengaruh Peran Lembaga Karya Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa dalam Pengelolaan Zakat untuk Kemandirian Penerima Manfaat Program

    No full text
    This research is about the role of the Dompet Dhuafa Independent Community Work Institute on the independence of program beneficiaries in the process of community empowerment in the productive economy based on zakat. This research approach is quantitative with survey methods. Variable X is the role of the Independent Work Society Institute and the Y variable is behavior change for the independence of program beneficiaries. The results of this study show that the role of the Independent Community Work Institutions (the role of the facilitator, the role of educators and the technical role) of behavior change is close to 40%. This is indicated by the results of the SPSS determination coefficient (R2) of 0.382. This effect is very significant (significant) as indicated by the probability 0.00 **. The influence of the role of the Independent Community Works Institution is very significant for behavioral change for the independence of program beneficiaries. Penelitian ini mengenai peran Lembaga Karya Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa terhadap kemandirian penerima manfaat program pada proses pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi produktif berbasis zakat. Pendekatan penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode survei. Variabel X adalah peran Lembaga Karya Masyaraka Mandiri dan variabel Y perubahan perilaku untuk kemandirian penerima manfaat program. Hasil dari penelitian ini bahwa Peran Lembaga Karya Masyarakat Mandiri (peran fasilitator, peran pendidik dan peran teknis) terhadap perubahan perilaku hampir mendekati 40 %. Hal ini ditunjukkan dengan hasil SPSS koefisien determinasi (R2) sebesar 0,382. Pengaruh ini sangat nyata (signifikan) yang ditunjukkan dengan probabilitas 0,00**. Pengaruh peran Lembaga Karya Masyarakat Mandiri sangat nyata bagi perubahan perilaku untuk kemandirian penerima manfaat program

    Efektivitas Dakwah melalui Program Kuliah Subuh di Muhammadiyah Kota Gorontalo

    Get PDF
    Da'wah needs to be developed in a systematic, systematic, planning, organizing, directing, and supervising process, which in the modern context is called Da'wah management. One of the da'wah activities is the dawn lecture organized by Muhammadiyah Gorontalo City. The organization certainly aims to achieve better results and not fail. Therefore it needs to be well organized. On this basis the researchers conducted research related to the effectiveness of da'wah through the dawn lecture program organized by Muhammadiyah Gorontalo City. This research is a descriptive qualitative study using a da'wah approach, sociology and management. Data collection techniques are done through observation, interviews and documentation. While the validity of the data uses triangulation techniques. The purpose of this study was to determine the effectiveness of the da'wah process in the Muhammadiyah dawn lecture program in Gorontalo City, and to find out the supporting and inhibiting factors of this program. The results of the study that preaching through the dawn lecture program in the City of Gorontalo Muhammadiyah based on the Qur'an and Hadith. The program has a planning flow that is deliberating in forming an effective and efficient work program, organizing in accordance with the organizational structure in general, there are two parts in the preaching of dawn lectures in the Muhammadiyah City of Gorontalo, namely internal and external, evaluation in general a process for determining or making decisions to what extent program objectives have been achieved. The inhibiting factors are only found in unfavorable weather and difficult to find addresses, because the people who ask are different so the addresses are different. The supporting factors are the commitment of the organizers of the Gorontalo City Muhammadiyah organization, the members of the dawn lecture itself and the cost / funds, as well as from the local government. Dakwah perlu dikembangkan dengan proses perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan yang sudah ditetapkan terlebih dahulu secara sistematis, yang dalam konteks modern dinamakan manajemen dakwah. Aktivitas dakwah salah satunya yakni kuliah subuh yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Kota Gorontalo. Organisasi tentu bertujuan mencapai hasil yang lebih baik dan tidak gagal. Oleh karena itu perlu terorganisir dengan yang baik. Atas dasar ini peneliti melakukan penelitian terkait efektivitas dakwah melalui program kuliah subuh yang diadakan oleh Muhammadiyah Kota Gorontalo. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan dakwah, sosiologi dan manajemen. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, interview dan dokumentasi. Sedangkan keabsahan data mengunakan teknik triangulasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keefektifan proses dakwah pada program kuliah subuh Muhammadiyah Kota Gorontalo, serta untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat program ini. Hasil penelitian bahwa dakwah melalui program kuliah subuh di Muhammadiyah Kota Gorontalo berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Adapun program ini memiliki alur perencanaan yaitu bermusyawarah dalam membentuk program kerja yang efektif dan efisien, pengorganisasian sesuai dengan struktur organisasi pada umumnya, penggerakkan dalam dakwah kuliah subuh di Muhammadiyah Kota Gorontalo ada dua bagian yakni internal dan eksternal, evaluasi secara umum suatu proses untuk menentukan atau membuat keputusan sejauh mana tujuan program yang telah tercapai. Adapun factor penghambat hanya terdapat pada cuaca yang kurang mendukung dan alamat yang sulit untuk ditemukan, karena yang meminta orang berbeda sehingga alamat pun berbeda-beda. Adapun faktor pendukung terdapat pada komitmen para pengurus organisasi Muhammadiyah Kota Gorontalo, jamaah kuliah subuh itu sendiri dan biaya/dana, serta dari kalangan pemerintah setempat

    Desain Praktek Pengalaman Lapangan Berbasis KKNI Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang

    Get PDF
    This article is a result of research with the Developmental Research Approach with the aim to produce the Design of PPL based on KKNI of BPI FDK Department of UIN Walisongo Semarang. The research is devided into two steps, they are pre-development and development. Pre-development consist of the purpose formulating and begining study through need assessment. The development step is conducted by formulating PPL design based on need assessment result. The research restriction is producing prototype product as PPL design with the base of KKNI. The design has two products which has its excellence each. The description of design consists of; definition, purpose, target, time allocation and standard/ criterion. The result of the research is supposed to be the material and suggestion to BPI department in conducting PPL program. Artikel ini merupakan hasil penelitian dengan pendekatan Developmental Research dengan model Borg and Gall yang bertujuan menghasilkan desain Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) berbasis KKNI pada Jurusan BPI FDK UIN Walisongo Semarang. Hal ini penting dilakukan mengingat adanya perubahan kurikulum 2010 yang berbasis KTSP menjadi kurikulum 2015 yang berbasis KKNI. Tahapan penelitian terbagi menjadi dua, yaitu pra pengembangan dan pengembangan. Tahap pra pengembangan meliputi perumusan tujuan dan studi pendahuluan melalui need assesment. Tahap pengembangan dilakukan dengan merancang desain PPL berdasarkan hasil need assesment. Pembatasan penelitian ini hanya sampai menghasilkan prototipe produk berupa Desain PPL berbasis KKNI. Desain yang dihasilkan ada dua bentuk, yang memiliki keunggulan masing-masing. Deskripsi desain meliputi; Definisi, Tujuan, Target, Alokasi Waktu, dan Standar/Kriteria. Hasil penelitian ini diharapkan sebagai bahan dan masukan bagi Jurusan BPI dalam pelaksanaan program PPL

    Eksistensi komunitas hijrah dan dakwah masa kini: Studi komunitas jaga sesama Solo

    Get PDF
    Tulisan ini menunjukkan perkembangan dakwah kontemporer di Indonesia ditandai dengan fenomena maraknya komunitas hijrah diberbagai Kota. Bahkan, hijrah sudah menjadi sebuah fenomena yang tak asing dan bahkan familiar di kalangan masyarakat Islam. Bagi pemeluk agama Islam, hijrah sudah menjadi fenomena yang ramai dilakukan. Dalam hal ini dijelaskan bahwa hijrah sebagai jalan untuk mengubah seorang individu atau bertaubat. Baik yang dilakukan oleh setiap individu ataupun dalam sebuah komunitas. Salah satunya di Kota Solo yang memiliki latar keberagamaan dan keberagaman yang dinamis. Tujuan penelitian ini untuk menguraikan secara detail tentang pengelolaan dakwah dalam komunitas Jaga Sesama Solo. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang menjelaskan mengenai manajemen dakwah di Komunitas Jaga Sesama Solo. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun wawancara mendalam (indept interview) dengan pengelola komunitas Jaga Sesama (ketua, bagian humas dan anggota). Hasil penelitian ini adalah Komunitas Jaga Sesama menjalankan dalam menajemen dakwah untuk mewadahi generasi muda Solo belajar dasar Islam. Perencanaan dakwah (takhthith) ditempuh melalui menentukan sasaran dakwah, menyusun visi misi komunitas, memilih ustaz. Pengorganisasian dakwah (tanzhim) dengan pembagian tugas kepada pengurus komunitas. Penggerakan dakwah (tawjih) dengan menghadirkan kegiatan yang relevan dengan generasi muda dan optimalisasi media sosial. Pengendalian dan evaluasi dakwah (riqabah) melalui evaluasi bulanan. In this paper the development of da’wa in contemporary Indonesia is marked by the phenomenon of the spread of hijrah communities in various cities. Hijrah has become a familiar phenomenon among the Muslim community. For Muslims, hijrah has become a predictable phenomenon. In this case, it is explained that hijrah is a way to change an individual or repent. Whether done by each individual or community. One of them is Solo, which has a dynamic diversity and religious background. This research is qualitative research that describes the da’wa management in Komunitas Jaga Sesama Solo. Interviews with Komunitas Jaga Sesama Solo managers (head of public relations and members) were used as the primary data collection method. This study concluedes that the Komunitas Jaga Sesama Solo carries out da’wa management to accommodate the young generation of Solo to learn the basics of Islam. Da'wa planning (takhthith) is pursued through determining the target of the da'wa, compiling the vision and mission of the community, choosing the ustaz. Organizing da'wa (tanzhim) by distributing tasks to community administrators. The movement of da'wa (tawjih) by presenting activities that are relevant to the younger generation and optimization of social media. Control and evaluation of da’wa (riqabah) by monthly evaluation

    Masjid, Khutbah Jumat, dan Konstruksi Realitas Keagamaan di Ruang Publik: Studi tentang Materi Khutbah Jumat di Masjid-Masjid Kota Surakarta

    Get PDF
    This research is about the material or sermons content in Surakarta mosques in which there is an indication of hate speech if it is viewed from the analysis discourse and its implications for the religious diversity of worshipers in each mosque. Is there an element of hate speech in sermons in several mosques in the city of Surakarta? what are the implications of the Friday sermon on the diversity of society? This research is a descriptive qualitative research, data collection is done by observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis was performed with interactive analysis including: data reduction, data delivery; and drawing conclusions. Sermons are words that contain religious advice and information. Sermon material serves to strengthen the religious narrative of pilgrims. In general, the Friday sermon material does not contain indications of hate speech. The implication of Friday sermons on worshipers is to provide perspective and point of view so that it will affect the religious life of worshipers so they can be tolerant and respectful to groups outside of themselves. Penelitian ini mengenai materi atau konten khutbah yang ada di masjid-masjid Surakarta didalamnya ada indikasi mengandung unsur ujaran kebencian jika dilihat dari diskursus analisis serta implikasinya terhadap keberagamaan jamaah di setiap masjid. Apakah ada unsur ujaran kebencian pada khutbah di beberapa masjid a di Kota Surakarta? bagaimana implikasi khutbah Jumat terhadap keberagamaan masyarakat? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan interaktif analisis meliputi: reduksi data, penyampaian data; dan penarikan kesimpulan. Khutbah merupakan perkataan yang mengandung nasehat dan informasi keagamaan. Materi khutbah berfungsi untuk penguatan narasi keagamaan jamaah. Secara umum, materi khutbah Jumat yang ada tidak mengandung indikasi ujaran kebencian. Implikasi khutbah Jumat pada jamaah adalah memberikan perspektif dan cara pandang sehingga akan berpengaruh terhadap kehidupan beragama jamaah sehingga bisa bersikap toleran dan menghargai kepada kelompok di luar dirinya

    Strategi Dakwah pada Pengikut Tarekat Khalidiyah wa Naqsabandiyah di Masjid Kwanaran Kudus

    Get PDF
    Tarekat khalidiyah wa naqsabandiyah develops rapidly, but researchers find problems that arise in internal religious practices of the tarekat khalidiyah wa naqsabandiyah, including: 1) The number of members participating in suluk is only half of the total members; 2) Majority of the followers of the tarekat khalidiyah wa naqsabandiyah are the elderly. The purpose of this research is to find out the da'wah strategy in the congregation of khalidiyah wa naqsabandiyah to overcoming problems. The subject of his research was the congregation of the khalidiyah wa naqsabandiyah at the Kwanaran Kudus Mosque. The method in this study is interviews, observations, uses social learning theory and da’wah bil hal. The results of research on to overcoming the problems is to use transformative da'wah, which is to provide direct community assistance in the form of preaching activities Ershad al-Islam. The method used is the dialog method, the applicative method and the exemplary method. Recommendations: 1) Question and answer intersperse and balance lectures to reduce misunderstandings of the mad'u; 2) Applicative methods that emphasize the practice of prayer and reading the Qur'an with sorogan; 3) The exemplary method by involving students of Pondok Yanbu'ul Qur’an in suluk as a companion and role model.Keywords: Khalidiyah wa naqsabandiyah; transformative da'wa; irsyad al-Islam; suluk.Tarekat khalidiyah wa naqsaabandiyah berkembang pesat, namun peneliti menemukan permasalahan yang muncul pada internal praktik keagamaan tarekat khalidiyah wa naqsabandiyah, diantaranya : 1) Jumlah anggota yang mengikuti kegiatan khalwat atau suluk pada tarekat ini hanya setengah dari jumlah keseluruhan anggota, yaitu 240 dari 450 anggota; 2) Pengikut tarekat khalidiyah wa naqsabandiyah mayoritas adalah lanjut usia. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui strategi dakwah yang tepat pada jamaah tarekat khalidiyah wa naqsabandiyah dalam mengatasi masalah pada jama’ah. Subjek penelitiannya adalah jama’ah tarekat khalidiyah wa naqsabandiyah di Masjid Kwanaran Kudus. Metode pada penelitian ini adalah wawancara dan observasi serta menggunakan teori pembelajaran sosial dan dakwah bil hal. Hasil penelitian tentang strategi dakwah dalam mengatasi permasalahan jama’ah tarekat adalah menggunakan dakwah transformatif, yaitu melakukan pendampingan masyarakat secara langsung dan berbentuk kegiatan dakwah Irsyad al-Islam. Metode yang digunakan adalah metode dialog, metode aplikatif dan metode keteladanan. Rekomendasi dalam menghadapi permasalahan meliputi: 1) Tanya jawab menyelingi dan mengimbangi ceramah untuk mengurangi kesalahpahaman para mad’u; 2) Metode aplikatif yang menekankan materi praktek shalat dan membaca Al-Qur’an dengan sistem sorogan; 3) Metode keteladanan dengan melibatkan santri putri Pondok Yanbu’ul Qur’an dalam suluk sebagai pendamping dan teladan kepada anggota tarekat

    Komunikasi dakwah da’i dalam pembinaan komunitas mualaf di kawasan pegunungan Karomba kabupaten Pinrang

    Get PDF
    Komunikasi dakwah yang dilakukan oleh da’i dalam membinaan mualaf sangat penting bagi perrubahan sudut pandang dan perilaku komunitas mualaf dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Islam, mengingat da’i sebagai tokoh sentral bagi pengetahuan keagamaan mualaf. Penelitian ini berupaya untuk mengetahui dan menganalisis komunikasi dakwah yang dilakukan da’i dalam pembinaan komunitas mualaf di kawasan pegunungan Karomba yang meliputi da’i sebagai komunikator, materi atau pesan ajaran Islam yang disampaikan, media yang digunakan dalam pembinaan dan perubahan sikap komunitas mualaf yang menerima pembinaan keagamaan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara dan observasi langsung. Sedangkan data sekunder didapatkan dari studi pustaka pada berbagai sumber bacaan yang sesuai dengan tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, komunikasi dakwah dilakukan dengan tatap muka secara langsung dalam kelompok pengajian dan konsultasi syari’ah, ceramah keagamaan serta kelompok belajar mengaji. Kedua, materi yang disampaikan da’i berupa nilai-nilai dasar keagamaan, keutamaan Islam dan keindahan-keindahan Islam, shalat dan mengaji. Ketiga, media yang digunakan da’i dalam pembinaan adalah dengan cara tatap muka secara langsung. Keempat,  terjadi perubahan sikap pada diri mualaf setelah mendapatkan pembinaan, yaitu meningkatnya pengetahuan komunitas mulaf tentang Islam, seperti pengetahuan tentang nilai-nilai tauhid, akhlak dan syariat. The da'wah communication carried out by the da'i in fostering converts is very important for changing the perspective and behavior of the converts community in daily life according to Islamic teachings, considering that the da'i is a central figure for converts' religious knowledge. This study seeks to identify and analyze the da'wah communication carried out by preachers in coaching the community of converts in the Karomba mountain area which includes preachers as communicators, the material or messages of Islamic teachings conveyed, the media used in coaching, and changes in the attitudes of the converts who accept religious formation. The research method used in this research is a qualitative method with a case study approach, primary data collection is done by interview and direct observation. Meanwhile, secondary data were obtained from literature studies on various reading sources in accordance with the theme. The results showed that first, da'wah communication was carried out face-to-face in recitation groups and shari'ah consultations, religious lectures, and Koran study groups. Second, the material presented by the da'i was in the form of basic religious values, the virtues of Islam and the beauties of Islam, prayer, and recitation. Third, the media used by da'i in coaching is face-to-face. Fourth, there is a change in the attitude of the converts after receiving guidance, namely increasing knowledge of the mulaf community about Islam, such as knowledge of the values of tawhid, morals, and sharia

    Anak autis sebagai mad’u dakwah: Analisis komunikasi interpersonal

    Get PDF
    Anak autis merupakan seseorang yang memiliki gangguan komunikasi, yang membuat penderitanya tidak mampu mengadakan interaksi sosial dengan baik. Sehingga keberadaan anak autis masih dipandang sebagai orang lain di masyarakat. Padahal, anak autis mampu melakukan komunikasi, meskipun komunikasi yang dilakukan berbeda dengan orang non-autis. Kaitannya dengan dakwah, anak autis seharusnya mampu menerima pesan-pesan dakwah, sehingga penelitian mengenai anak autis dari sudut pandang mad’u dakwah sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini dilakukan di SLB Autis Jalinan Hati Payakumbuh dengan tujuan mengetahui tentang apakah anak autis dapat digolongkan sebagai mad’u dakwah, dan bagaimana perkembangan sosial dan komunikasi anak autis sehingga ia mampu menerima pesan dakwah. Melalui penelitian lapangan (field research), penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif, data diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menujukan bahwa (1) dilihat dari pengertian dan kriteria mad’u, anak autis dapat digolongkan sebagai mad’u dakwah; (2) anak autis memiliki pola komunikasi interpersonal yang berbeda dengan anak non-autis, dalam perkembangannya ia tetap mampu melakukan komunikasi dengan orang lain, baik mengirim ataupun menerima pesan, melalui 3 tahapan, yaitu the own agenda stage (tahapan perkembangan komunikasi yang mendasar), the requester stage (perkembangan komunikasi mengalami kemajuan yang baik, tetapi masih terbatas), dan the early communication stage (tahapan kemampuan berkomunikasi sudah lebih baik).Child with autism is someone who has a communication disorder, which makes the sufferer unable to have good social interactions. So that the existence of autistic children is still seen as another person in society. In fact, autism can communicate, even though communication is different from non-autism. With regard to da'wah, autism should be able to receive da'wah messages, so research on autism from the point of view of mad'u da'wah is very important to do. This research was conducted at SLB Autism Jalinan Hati Payakumbuh to know whether autism can be classified as mad'u da'wah, and how the social development and communication of autism so that they can receive da'wah messages. Through field research (field research), this study uses qualitative descriptive methods, data obtained from interviews, observation and documentation. The results show that (1) seen from the definition and criteria of mad'u, autism can be classified as mad'u da'wah; (2) autism has different interpersonal communication patterns from non-autism, in their development they are still able to communicate with other people, either sending or receiving messages, through 3 stages, namely the own agenda stage (basic stages of development of communication) , the requester stage (communication development has progressed well, but is still limited), and the early communication stage (the stage of communication skills is better)

    191

    full texts

    206

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Dakwah
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇