Jurnal Ilmu Dakwah
Not a member yet
206 research outputs found
Sort by
Ekspresi Keberagaman Online: Media Baru dan Dakwah
This paper explain how diversity expression of dakwah in new media. Today, media makes many preachers and mad’u use new media facilities, including internet media where content to Islam is packaged in stories of everyday life and given with funny things. this strategy attracts many interested people on both sides of the preacher and the mad'u themselves. Da'wah is the one of the activities aimed at inviting others in kindness, reminiscent of the end of the day, while new media is a tool used to invite others to better paths. In other developments the question arises regarding human imagination about God and the path of understanding spirituality experiencing setbacks or impoverishment in the digital age. Will the path of God's search for this generation of media cause visitors to the place of worship to recede, the preaching of the Scriptures is not heard, and the spirit of the religious community was down. Is the “new media gedia generation” aware or not “deify” “virtual God”. This research uses a case study on the response of preachers and people related to the expression of diversity in using new media, so that how to interpret the message in the social media content Instagram, Facebook, Twitter and YouTube which is a unity of the internet world. Tulisan ini berupaya menjelaskan bagaimana dakwah dengan ekspresi keberagaman pada media baru saat ini. Dewasa ini media membuat banyak pendakwah maupun mad’u memanfaatkan fasilitas media baru, diantaranya media internet dimana konten-konten ke Islaman yang dikemas dengan santai dalam cerita kehidupan sehari-hari serta dibumbuhi hal-hal lucu. Strategi ini banyak menjaring peminat pada kedua sisi baik pendakwah maupun para mad’u itu sendiri. Dakwah adalah salah satu kegiatan yang bertujuan mengajak orang lain dalam kebaikan, mengingatkan terhadap hari akhir, sedangkan media baru adalah alat yang digunakan untuk mengajak orang lain kejalan yang lebih baik. Pada perkembangan lain muncul pertanyaan terkait imajinasi manusia tentang Tuhan dan jalan pemahaman spritualitas mengalami kemunduran atau pemiskinan di era digital. Apakah jalan pencarian Tuhan generasi media ini akan menyebabkan pengunjung tempat ibadah surut, pemberitaan Kitab Suci tidak didengar, dan spirit komunitas keagamaan tatap muka meredup. Apakah “generasi media baru” ini sadar atau tidak mulai : “menuhankan” “Tuhan-tuhan virtual”. Penelitian ini menggunakan studi kasus terhadap respon pendakwah dan umat terkait ekspresi keberagaman didalam menggunakan media baru, sehingga bagaimana memaknai pesan dakwah yang terkandung didalam konten-konten media sosial Instagram, facebook, twitter maupun youtube yang merupakan satu kesatuan dunia internet
Program less waste sebagai inovasi dakwah Hanan Attaki
Dakwah tentang pengurangan sampah sangat penting dilakukan mengingat persoalan sampah masih menjadi problem bersama yang belum terselesaikan solusinya. Namun, tidak banyak para pendakwah yang melakukan dakwah dengan tema lingkungan, pengurangan sampah khususnya. Hanan Attaki sebagai pendakwah muda yang memiliki banyak pengikut, melakukan inovasi dakwah dengan mengkampanyekan program less waste sebagai materi dakwah. Tulisan ini merupakan studi kasus pada dakwah yang dilakukan Hanan Attaki di komunitas pemuda Bandung. Tulisan ini membahas tentang dua hal, pertama tentang inovasi dakwah yang disampaikan oleh Hanan Attaki kepada para pemuda untuk menanggulangi permasalahan sampah di kota Bandung, kedua tentang proses program less waste mampu memaksimalkan peran pemuda. Penulis menggunakan pendapat Al-Bayanuni dalam kitab Al-Madkhal Ila Ilmi Dakwah dalam menganalisis. Hasil studi menunjukkan bahwa inovasi dakwah Hanan Attaki dilakukan dengan membuat program less waste merupakan tindakan awal dalam pengaplikasian materi yang disampaikan kepada pemuda kota Bandung. Less waste dijadikan sebagai gaya hidup baru bagi para pemuda Bandung. Para pemuda diajarkan cara meminimalisir dan mengelola sampah organik dan anorganik. Sehingga, program less waste dapat membuat pemuda Bandung terlibat mengambil peran dalam isu lingkungan sekaligus mengatasinya secara langsung, serta mampu mengubah gaya pemuda yang suka nongkrong di cafe menjadi nongkrong di masjid. Da'wah about waste reduction is very important considering the problem of waste is still a common problem whose solution has not been resolved. However, not many preachers carry out preaching on the theme of the environment, especially waste reduction. Hanan Attaki as a young preacher who has many followers innovates da'wah by campaigning for a less waste program as a material for da'wah. This paper is a case study on the da'wah carried out by Hanan Attaki in the Bandung youth community. This paper discusses two things, first about the da'wah innovation conveyed by Hanan Attaki to youths to overcome the waste problem in the city of Bandung, second about the process of the less waste program capable of maximizing the role of youth. The author uses Al-Bayanuni's opinion in the book Al-Madkhal Ila Ilmi Dakwah in analyzing. The results of the study show that Hanan Attaki's innovation in preaching by creating a less waste program is the first step in the application of the material presented to the youth of Bandung. Less waste is used as a new lifestyle for Bandung youth. The youth are taught how to minimize and manage organic and inorganic waste. Thus, the less waste program can make Bandung youths involved in taking part in environmental issues as well as addressing them directly, as well as being able to change the style of youth who like to hang out in cafes to hang out in mosques
Social media utilization in Covid-19 epoch: Virtual da’wah-ramadan lectures in Northern Nigeria
Social media have become part of the individual and public lifestyles of Muslims globally. The paper examined the utilization of social media platform such as Facebook and YouTube as an available option to conduct Virtual Da’wah Ramadan lectures on the commentary of the Glorious Qur’an and Ta’aleem in Northern Nigeria and this was done with the sampled of scholars from the three zones in Northern Nigeria, i.e. North-West, North-Central and North-East. The paper adopts the use of secondary data as method of data collection where In-depth survey of the various pages/channels on social media and participant observation to obtain data. The researchers purposively sampled nine scholars for the study and survey was carried out on their various social media pages/channels to ascertain their level of utilization of the technology during the COVID-19 period to teach their followers with the restriction of movement and gathering in places of worship in Nigeria. Some of the findings of the study revealed that the sampled Muslims scholars finds it convenient to present live programme of their teachings virtually and post video and audio of their Virtual Da’wah Ramadan lectures on the commentary of the Glorious Qur’an and Ta’aleem social media. The research paper concludes Muslim scholars to continue with the utilization of the social media platforms even after the Ramadan and Post-COVID-19 pandemic in carrying out their day to day virtual teachings so that other audience who are not close to their Masjid will benefit from their lectures on the various teachings of Islam
Pondok Pesantren dan Dakwah Politik: Kajian Histori Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara
Political Da'wah at the Islamic boarding school (pesantren) is an interesting theme that needs to be discussed. Many people have a perception that Islamic boarding school and Political Da'wah are separated from each other. The purpose of this study was to analyze the efforts of Hasyim Asy'ari Islamic Boarding School in embed political da'wah to students and the role of caregivers in applying political da'wah towards students and the community. This research was conducted with a historical qualitative approach. The results of this study are, Islamic Boarding School Hasyim Asy'ari in an effort to embed Political Da'wah to students by (1) learning about leadership and politics in pesantren, (2) conducting leadership training, (3) applying political culture. In addition, the role of caregivers (pengasuh) in carrying out Political Da'wah to students (santri) is seen in religious teaching by embedding spiritual, moral and social values as a provision for students to face social life. The role of caregivers in carrying out political da'wah to the public is by serving as an official in the government, caregivers are able to provide knowledge to the public about the importance of politics and the political system of the country, the role of government in making policies, and participation in political activities (balanced between rights and obligations as citizens), so that the public is aware of the importance of politics and is able to choose leaders who are competent and trustworthy. Dakwah Politik yang di lakukan di pondok pesantren menjadi tema menarik yang perlu dibahas karena banyak orang memiliki persepsi bahwa pondok pesantren dan dakwah politik memiliki sekat yang tidak mampu disatukan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis terhadap upaya Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari dalam penanaman dakwah politik kepada santri serta peran pengasuh dalam menerapkan dakwah politik kepada santri dan masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitattif historis. Hasil kajian ini membuktikan bahwa, Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari dalam upaya penanaman dakwah politik kepada santri dengan cara (1) melakukan pembelajaran tentang kepemimpinan dan politik di pesantren, (2) mengadakan pelatihan kepemimpinan, (3) menerapkan budaya politik. Selain itu, peranan pengasuh dalam melakukan dakwah politik kepada santri dapat dilihat dalam mengajarkan pendidikan agama dengan menanamkan nilai-nilai spiritual, moral dan sosial kemasyarakatan sebagai bekal santri dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat. Adapun peranan pegasuh dalam melakukan dakwah politik kepada masyarakat yaitu dengan mengabdikan diri sebagai pejabat di pemerintahan, pengasuh mampu memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya politik dan sistem politik negara, peran pemerintah dalam membuat kebijakan, serta pasrtisipasi dalam kegiatan politik (seimbang antara hak dan kewajiban sebagai warga negara), sehingga masyarakat sadar akan pentingnya politik dan mampu memilih pemimpin yang kompeten dan amanah
Self-disclosure melalui media instagram: Dakwah bi al-nafsi melalui keterbukaan diri remaja
Self disclousure atau pengungkapan diri menjadi hal yang wajar dilakukan remaja di media sosial untuk saat ini. Remaja terbiasa membuka diri melalui postingan di instagram, yang merupakan ruang publik yang dapat dikonsumsi oleh banyak orang. Untuk itu mengetahui cara dan motif pengungkapan diri yang dilakukan oleh remaja di media sosial menjadi sangat penting dilakukan karena hal ini dapat memberikan dampak nilai, baik ataupun buruk, bagi pembaca. Selain itu, pengungkapan diri dapat ditelusuri dari segi dakwah nafsiyah yang dilakukan oleh remaja. Sehingga, fokus penelitian ini mengenai dakwah nafsiyah melalui keterbukaan diri remaja di masa pandemi Covid-19 di media sosial, instagram. Untuk menjabarkan fokus penelitian tersebut secara mendalam, penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan konstruktif, sementara self disclosure menggunakan teori dari Jendela Johari. Hasil Penelitian menunjukkan bahwasannya pertama, remaja melakukan pengungkapan diri di media sosial instagram secara terbuka dengan tujuan untuk menjernihkan diri dan aktualisasi diri. Hal yang dilakukan remaja dalam pengungkapan diri termasuk dalam dakwah nafsiyah jika dilihat dari kontrol yang dilakukan remaja secara terus menerus pada dirinya. Sementara, dampak yang ditimbulkan dari self disclosure pada diri remaja dapat dikategorisasikan berupa dampak positif dan negatif. Dampak positif yang ditimbulkan berupa motivasi bagi seseorang untuk merubah diri menjadi lebih baik. Sementara, dampak negatif yang ditimbulkan adalah menjadikan orang lain tidak nyaman bahkan terganggu dengan keterbukaan yang disampaikan. Self disclosure is a natural thung for teenagers to do on social media at this time. Teenagers are accustomed to opening up through posts on instagram, which are public spaces that can be customed by many people. For this reason, knowing how and motives for self disclosure carried out by teenagers on social media are very important to do because this can have a value impact, good or bad, on the reader. In addition, self disclosure can be traced in terms of the preaching of the nafsiyah by adolescents. So, the focus of this research is on da’wah nafsiyah through the self disclosure of youth during the covid 19 pandemic on social media, instagram. To describe the focus of this research in depth, this study uses descriptive qualitative methods with a constructive approach, while self disclosure uses the theory of Johari Window. The result showed that adolescents made self disclosure on instagram openly with the aim of self purification and self actualization. What adolescents do in self disclosure is included in the preaching of the nafsiyah when viewed from the control that adolescents do continuiusly in themselves. Meanwhile, the impact of self disclosure on adoloscents can be categorized as positive and negative impacts. The positif impact is in the form of motivation for someone to change themselves for the better. Meanwhile, the negative impact caused is making other people uncomfortable and even distrubed by the openess conveyed
Blaming the Victim: Alienasi Gender dalam Media Online
Bebagai data menunjukkan bahwa jumlah kasus pemerkosaan di Provinsi Jawa Tengah masih tergolong tinggi sehingga perlu mendapat perhatian dari semua pihak terkait. Berbagai kasus pemerkosaan di Jateng tak luput diberitakan oleh berbagai media massa, salah satunya adalah Suaramerdeka.com. Suaramerdeka.com merupakan media online lokal berbasis media cetak pertama di Indonesia. Bertitik tolak dari realita tersebut, penelitian ini dilakukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam paradigma kritis dengan desain analisis isi framing Entman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berita kekerasan seksual di Suaramerdeka.com banyak menggunakan sudut pandang Blaming the Victim, indikasinya adalah terjadinya Alienasi Gender. Alienasi Gender merupakan konsep penting berdasarkan temuan dari penelitian ini yang menjelaskan bahwa korban kekerasan seksual ataupun pihak-pihak yang membela korban disingkirkan pendapatnya sebagai narasumber berita. Selain itu, juga terdapat pemilihan diksi bias yang mengukuhkan terjadinya Blaming the Victim berita-berita di media online. Pemilihan diksi bias dan praktik Alienasi Gender merupakan wujud kekerasan simbolik siber. Kekerasan Simbolik Siber menggambarkan kekerasan yang terjadi karena dominasi bahasa berita media di dunia maya.***The number of rape victims in Central Java is very high so that need to gain attention from various parties. Many rape news in Central Java have been reported by numerous mass media, Suaramerdeka.com is one of them. Suaramerdeka.com is the first online local media based on printed media in indonesia. Based on that reality, this researched was conducted. This research is qualitative with critical paradigm on Framing Entman design. This research results show that many sexual assault news on Suaramerdeka.com used Blaming the Victim point of view. The indication is Gender Alienation practice took place. Gender Alienation is important concept based on this research which explain that the opinion of rape victims and the victim defenders were alienated as news resources. Beside that, bias diction was choosen on rape news that strengthen Blaming the Victim news on online media. Gender Alienation Practice and bias diction is Cyber Symbolic Violence. Cyber Symbolic Violence picturized violence that took place because of languange domination on online media
Pemberdayaan Sekolah Islam untuk Meningkatkan Kompetensi Profesionalisme Guru di Kabupaten Semarang
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah mengukur dampak pemberian perlakuan pemberdayaan sekolah Islam melalui pemberian motivasi guru dalam melaksanakan program pengembangan keprofesian berkelanjutan, peningkatkan kualitas dan kuantitas program pengembangan keprofesian berkelanjutan, peningkatkan kualitas dan kuantitas karya khususnya karya pengembangan penelitian tindakan kelas hingga berbentuk pelaporan hasil, peningkatan kemampuan pemilihan kesesuaian metode statistik dalam evaluasi pembelajaran dan penelitian tindakan kelas dengan penggunaan komputer. Tujuan tesebut diselesaikan menggunakan metode workshop dengan teknik presentasi materi dilanjutkan dengan diskusi, teknik klinik, dan pendampingan. Guru yang menjadi mitra berasal dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nahdatul Ulama (NU) Ungaran Kabupaten Semarang yang dilaksanakan pada tahun 2018. Hasil capaian dari kegiatan program kemitraan masyarakat bagi guru SMK NU Ungaran tercermin dari para guru memiliki tren persepsi positif tentang jenjang karir guru, program keprofesian berkelanjutan, serta memahami lebih lanjut tentang penelitian tindakan kelas dan evaluasi pembelajaran
Prinsip-Prinsip Pemberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Al Qur’an
Becoming a challenge for every country and society, poverty is a problem that must be overcome. In Islam, it is also viewed as a disease that must be cured. One of the effective instruments of poverty alleviation is community empowerment. Community empowerment is methods used by individuals, groups and communities so they are able to manage the environment, achieve their own goals, work and help each other to maximize their quality of life. In the Qur'an there are many verses that speak about theme of community empowerment. This paper discusses community empowerment according to the Qur'anic perspective using thematic interpretation methods. The principles of community empowerment in the Qur'an are the principle of ukhuwwah, ta'awun principle, and the principle of equality. The steps of empowerment as mentioned in the Qur'an include continuous self-development, encouraging zakat and infaq programs, conducting training and skills education for the community, and avoiding economic behaviors prohibited by Islam such as hoarding and monopoly (ihtikar).***Kemiskinan merupakan masalah yang harus diatasi dan menjadi tantangan bagi setiap negara dan masyarakat. Islam juga memandang kemiskinan sebagai penyakit yang harus disembuhkan. Karena kemiskinan dekat dengan kekufuran. Salah satu instrumen pengentasan kemiskinan yang efektif adalah dengan melakukan pemberdayaan masyarakat. Yang dimaksud dengan pemberdayaan masyarakat adalah cara dan metode yang digunakan individu, kelompok dan komunitas sehingga mereka menjadi mampu mengelola lingkungan dan mencapai tujuan mereka sendiri, dan dengan demikian mampu bekerja dan membantu satu sama lain untuk memaksimalkan kualitas hidup mereka. Dalam Al Quran terdapat banyak ayat yang membicarakan tema pemberdayaan masyarakat. Tulisan ini membahas pemberdayaan masyarakat menurut perspektif Al Qur’an dengan menggunakan metode penafsiran tematik. Prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat dalam Al Quran yaitu prinsip ukhuwwah, prinsip ta’awun, dan prinsip persamaan derajat. Langkah-langkah pemberdayaan sebagaimana disebutkan Al Qur’an antara lain pengembangan diri yang kontinyu, mendorong program zakat dan infaq, melakukan pembinaan dan pendidikan ketrampilan bagi masyarakat, dan tidak melakukan perilaku ekonomi yang dilarang oleh agama seperti menimbun harta (hoarding) dan monopoli (ihtikar
IMPLEMENTASI BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN SELF ESTEEM PASIEN PENYAKIT TERMINAL DI KELOMPOK DUKUNGAN SEBAYA (KDS) RSUP DR. KARIADI SEMARANG
HIV / AIDS patients experience complex problems both physically, psychologically, socially, and spiritually. Psychosocial problems experienced include depression, anxiety, despair, and worry, and affect the destruction of social life such as isolating themselves and getting stigmatized. These various problems make HIV / AIDS patients feel useless and worthless. In dealing with psychological problems such as low self-esteem, HIV / AIDS patients desperately need social support from both partners, parents, children, friends, counselors and health teams. Unfortunately during this time the expected social support, rarely HIV / AIDS patients were found, including from their own families. To facilitate these needs, hospitals that become a reference center for HIV / AIDS patients form Peer Support Groups (PSG). PSG activities include group guidance and peer counseling for HIV / AIDS patients. These activities provide opportunities for HIV / AIDS patients to increase knowledge about their illness, exchange experiences with each other, even help each other solve problems. The various positive benefits of peer support groups in turn can increase the self-esteem of HIV / AIDS patients. ****Pasien HIV/AIDS mengalami problem yang kompleks baik fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Problem psikososial yang dialami antara lain depresi, cemas, putus asa, dan khawatir, serta berpengaruh pada rusaknya kehidupan sosial seperti mengisolasikan diri dan mendapat stigmatisasi. Berbagai masalah tersebut membuat ODHA merasa tidak berguna dan tidak berharga. Dalam menghadapi problem psikologis seperti rendahnya harga diri, ODHA sangat membutuhkan dukungan sosial baik dari pasangan, orang tua, anak, teman, konselor dan tim kesehatan. Sayangnya selama ini dukungan sosial yang diharapkan tersebut, jarang ODHA didapatkan termasuk dari keluarganya sendiri. Untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut, rumah sakit yang menjadi pusat rujukan bagi ODHA membentuk Kelompok Dukungan Sebaya (KDS). Kegiatan KDS diantaranya bimbingan kelompok dan konseling sebaya bagi ODHA. Kegiatan tersebut memberikan peluang bagi ODHA untuk menambah pengetahuan tentang sakitnya, bertukar pengalaman dengan sesamanya, bahkan saling membantu memecahkan masalah. Berbagai manfaat positif KDS tersebut pada gilirannya mampu meningkatkan harga diri ODHA
Dakwah Transformatif Kiai (Studi terhadap Gerakan Transformasi Sosial KH. Abdurrahman Wahid)
Artikel ini mengangkat tentang dakwah transformasi sosial KH. Abdurrahman Wahid di Indonesia. Artikel ini setidaknya membuktikan bahwa perubahan strategi, metode dan orientasi dakwa berkontribusi signifikan terhadap transformasi sosial di kalangan masyarakat. Sumber utama penelitian ini adalah data berupa metode, strategi dan orientasi dakwah dan tindakan sosial yang dilakukan oleh KH. Abdurrahman Wahid sebagai fungsionaris agama, sebagai tokoh politik dan tokoh budaya. Untuk memahami metode, strategi, orientasi dan tindakan sosial KH. Abdurrahman Wahid dalam upaya transformasi sosial digali melalui metode kualitatif dengan cara pembacaan terhadap karya-karyanya, karya cendekiawan terkait dengannya, pengamatan semasa ia masih hidup dan wawancara, kemudian diperkaya dengan metodologi dan disiplin ilmu sosiologi komunikasi dan sosio-antropologi agama. Temuan artikel ini menunjukkan bahwa transformasi sosial-budaya di Indonesia di antaranya terjadi karena adanya perubahan materi, metode, strategi dan orientasi dakwah KH. Abdurrahman Wahid sebagai fungsionaris agama, katalisator, penghubung sumber, pemberi pemecahan masalah dan mediator. Dengan demikian, artikel ini membuktikan bahwa Kiai, khususnya KH. Abdurrahman Wahid, bukan saja berperan sebagai penyampai pesan agama, makelar budaya dan mediator, tapi lebih dari itu, sebagai pemberi pemecahan masalah, pemicu proses, dan pendamping masyarakat, bahkan sebagai “tuhan” kaum minoritas yang tertindas