Jurnal Ilmu Dakwah
Not a member yet
206 research outputs found
Sort by
Gayo Lues as Da'i: An analysis of the challenges of communication strategy in the success of the Thousand Hafiz Programme
Purpose - This study aims to discover the challenges or obstacles of the Gayo Lues Regency government's communication strategy in the success of the Thousand Hafiz Quran program.Method - This research is field research, the source of data from documents in the form of regulations of the regent of Gayo Lues Regency, the results of interviews with the regent, deputy regent, and employees of the Islamic Sharia Office of Gayo Lues Regency as the implementing agency of the thousand hafiz Quran program. The research data was analyzed using qualitative data analysis techniques.Result - The results showed that the obstacles or barriers of the Gayo Lues Regency government in the success of the thousand hafiz Quran program were miscommunication between the Islamic Sharia Office and the person in charge of the budget about budget cuts due to the Covid-19 pandemic that the funding for tahfiz teachers and also the cost of food and other needs for tahfiz students was insufficient.Implication - The results of this study provide information on the obstacles of the Tahfiz program so that it becomes a basis for consideration for the government to find solutions so that the Thousand Hafiz program can run again as planned.Originality - This is the first study to examine the obstacles of the Quran memorization program in the Gayo Lues Regency so that it can be used as a basis for policy-making.***Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tantangan atau hambatan strategi komunikasi pemerintah Kabupaten Gayo Lues dalam menyukseskan program Seribu Hafiz Quran.Metode - Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), dengan sumber data dari dokumen berupa peraturan bupati Kabupaten Gayo Lues, hasil wawancara dengan bupati, wakil bupati, dan pegawai Dinas Syariat Islam Kabupaten Gayo Lues sebagai pelaksana program seribu hafiz Quran. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif.Hasil - Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala atau hambatan pemerintah Kabupaten Gayo Lues dalam menyukseskan program seribu hafiz Quran adalah adanya miskomunikasi antara Dinas Syariat Islam dengan penanggung jawab anggaran tentang adanya pemotongan anggaran akibat pandemi Covid-19 sehingga dana untuk para pengajar tahfiz dan juga biaya makan dan kebutuhan lainnya untuk para santri tahfiz tidak mencukupi.Implikasi - Hasil penelitian ini memberikan informasi mengenai hambatan program tahfiz sehingga menjadi dasar pertimbangan bagi pemerintah untuk mencari solusi agar program Seribu Hafiz dapat berjalan kembali sesuai dengan yang telah direncanakan.Orisinalitas - Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang meneliti tentang tantangan komunikasi program tahfiz di Kabupaten Gayo Lues sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan
The Da’wah strategy through health mitigation for geriatric hajj pilgrims in the Covid 19 with a humanistic psychology perspective
Purpose - This study aimed to find a Da’wah strategy through mitigating health for geriatric hajj pilgrims in the covid 19 with a humanistic psychology perspective.Method - The population of this study is canceled geriatric hajj pilgrims at the SOC embarkation in 2022. The selection of samples used the purposive method, and 201 persons were selected. The data was analyzed using an interactive model.Result - The results showed two models of Da’wah strategies in mitigation health for geriatric. First, the health resilience strategy is carried out by identifying comorbidities, raising awareness about disease conditions, carrying out prevention of disease transmission, accelerating recovery, and promoting independent self-development. The second mitigation of social resilience using a humanistic psychology perspective is directed at the function of strengthening social support, such as families and peer groups, for a healthy life. This is a humanization strategy for health using the principles of behavior development and actualization of senior health.Implication – This strategy can help grow geriatric resilience skills, especially in preparing and mitigating for the pilgrimage in 2024.Originality - This research is the first study on the Da’wah strategy, which uses a humanistic psychology perspective to mitigate senior pilgrims' health.***Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk menemukan strategi dakwah melalui mitigasi kesehatan bagi jemaah haji geriatri pada masa covid 19 dengan perspektif psikologi humanistik.Metode - Populasi penelitian ini adalah jemaah haji geriatri yang batal berangkat di embarkasi SOC tahun 2022. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive, dan terpilih 201 orang. Data dianalisis dengan menggunakan model interaktif.Hasil - Hasil penelitian menunjukkan dua model strategi dakwah dalam mitigasi kesehatan bagi geriatri. Pertama, strategi ketahanan kesehatan dilakukan dengan cara mengidentifikasi komorbiditas, meningkatkan kesadaran tentang kondisi penyakit, melakukan pencegahan penularan penyakit, mempercepat pemulihan, dan mendorong pengembangan diri secara mandiri. Mitigasi kedua yaitu ketahanan sosial dengan menggunakan perspektif psikologi humanistik diarahkan pada fungsi penguatan dukungan sosial, seperti keluarga dan kelompok sebaya, untuk hidup sehat. Ini merupakan strategi humanisasi kesehatan dengan menggunakan prinsip-prinsip pengembangan perilaku dan aktualisasi kesehatan lansia.Implikasi - Strategi ini dapat membantu menumbuhkan kemampuan resiliensi geriatri, terutama dalam mempersiapkan dan memitigasi ibadah haji di tahun 2024.Orisinalitas - Penelitian ini merupakan penelitian pertama tentang strategi dakwah yang menggunakan perspektif psikologi humanistik untuk memitigasi kesehatan jemaah haji lansia
Contextualization of Abdurrahman Wahid's humanistic da’wah in cases of violation of human rights in Indonesia
Purpose - Two things become the purpose of this paper. First, to describe Abdurahman Wahid's humanistic da’wah. Second, to read the contextualization of humanistic da’wah on Human Rights Abuse.Method - This paper applied Creswell's phenomenology in seeing the phenomena of Human Rights abuse. The data was taken from documents with humanistic da’wah and Abdurrahman Wahid's humanistic da’wah, along with human rights abuse cases that occurred, either from books, journals, news, or relevant online sources. The data was then analyzed descriptively.Results - The research results show that: first, based on the reading of Abdurrahman Wahid's humanistic da’wah, humanization was performed based on its role as a da’i, author, activist, or nationalist. Humanization was visible from the writings published in books or printed media, the attitude of being aligned to the oppressed through speeches as his plea towards the oppressed, and the policy issued through revocation of President Instruction number 14 of 1967 replaced by President Decree Number 6 of 2000. Second, in the context of human rights abuse, humanistic da’wah could be performed through 4 (four) aspects: da’i, material, method, and mad’u. From the aspect of da’i, humanistic da’wah could be achieved by anyone. However, people with power and authority will have a more significant impact. The material in humanistic da’wah should be about pluralism, justice, equality, and affection (anti-violence). The methods used were policy advocacy, assistance for the victims, and a massive community awareness movement. While mad’u from humanistic da’wah means everyone, disregarding their sex, social class, race, religion, age, and disabilities.Implication – This result suggests improving the skills performance in da’wah strategy, messages, and methods related to social problems.Originality - This research is a complementary study of the previous works, which focus on Abdurrahman Wahid's role in performing da’wah based on his authority. This study emphasizes the four aspects of humanity which could be applied for da’i to accomplish the humanitarian phenomena.***Tujuan - Dua hal yang menjadi tujuan dari tulisan ini. Pertama, untuk mendeskripsikan dakwah humanistik Abdurahman Wahid. Kedua, membaca kontekstualisasi dakwah humanistik tentang Pelanggaran HAM.Metode - Artikel ini menerapkan fenomenologi Creswell dalam melihat fenomena pelanggaran HAM. Data diambil dari dokumen dakwah humanistik dan dakwah humanistik Abdurrahman Wahid, beserta kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi, baik dari buku, jurnal, berita, maupun sumber online yang relevan. Data kemudian dianalisis secara deskriptif.Hasil - Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, berdasarkan pembacaan dakwah humanistik Abdurrahman Wahid, humanisasi dilakukan berdasarkan perannya sebagai da’i, penulis, aktivis, atau nasionalis. Humanisasi itu terlihat dari tulisan-tulisan yang dimuat dalam buku atau media cetak, sikap berpihak kepada yang tertindas melalui pidato-pidato sebagai pembelaannya terhadap yang tertindas, dan kebijakan yang dikeluarkan melalui pencabutan Instruksi Presiden nomor 14 tahun 1967 diganti dengan Keppres Nomor 6 Tahun 2000. Kedua, dalam konteks pelanggaran HAM, dakwah humanistik dapat dilakukan melalui 4 (empat) aspek: da’i, materi, metode, dan mad’u. Dari aspek da’i, dakwah humanistik dapat dilakukan oleh siapa saja. Namun, orang dengan kekuasaan dan otoritas akan memiliki dampak yang lebih signifikan. Materi dakwah humanistik harus tentang pluralisme, keadilan, kesetaraan, dan kasih sayang (anti kekerasan). Metode yang digunakan adalah advokasi kebijakan, pendampingan korban, dan gerakan penyadaran masyarakat secara masif. Sedangkan mad’u dari dakwah humanistik berarti semua orang, tidak memandang jenis kelamin, kelas sosial, ras, agama, usia, dan kecacatan.Implikasi – Hasil ini menyarankan peningkatan kinerja keterampilan dalam strategi dakwah, pesan, dan metode yang berkaitan dengan masalah sosial.Orisinalitas - Penelitian ini merupakan studi pelengkap dari karya-karya sebelumnya, yang berfokus pada peran Abdurrahman Wahid dalam melakukan dakwah berdasarkan otoritasnya. Kajian ini menekankan pada empat aspek kemanusiaan yang dapat diterapkan da’i untuk menyelesaikan fenomena kemanusiaan
Implementation of transformative da'wah its implications on character education in marginal children
Purpose – This study aims to prove that the transformational da'wah carried out by the Bina Insan Kamil Islamic Boarding School Jakarta for marginalized children can impact character education.Method – The method used in this research is a phenomenological method with a qualitative approach. From the phenomenological research, a description of the existing social phenomena is carried out. The primary data source in this study was the result of interviews with the da'wah activists of the Bina Insan Kamil Islamic Boarding School, parents, and marginalized children assisted by the da'wah of the Bina Insan Kamil Islamic Boarding School.Result - The study results show that the transformative da'wah carried out by the Bina Insan Kamil Islamic Boarding School is persuasive, honest work and empowerment adapted to the situation and conditions of marginalized children.Implication – The transformative da'wah carried out by the Bina Insan Kamil Islamic Boarding School has an impact on changing the character of marginalized children. The form of character change is that marginal children look cheerful, enthusiastic, independent, confident, optimistic, and have high fighting power. Empowerment of marginalized children impacts their enthusiasm to study, some return to school, enter Islamic boarding schools, and some are already working. Circles will realize transformative da'wah.Originality – This research is the first study to link the da'wah movement with implications for character changes in marginalized children.***Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa da’wah transformasional yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Bina Insan Kamil Jakarta terhadap anak-anak marjinal dapat memberikan dampak terhadap pendidikan karakter.Metode - Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode fenomenologi dengan pendekatan kualitatif. Dari penelitian fenomenologi tersebut, dilakukan pendeskripsian terhadap fenomena sosial yang ada. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dengan para aktivis da’wah Pondok Pesantren Bina Insan Kamil, orang tua, dan anak-anak marjinal dampingan da’wah Pondok Pesantren Bina Insan Kamil.Hasil - Hasil penelitian menunjukkan bahwa da’wah transformatif yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Bina Insan Kamil bersifat persuasif, kerja nyata dan pemberdayaan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi anak marjinal.Implikasi - Da’wah transformatif yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Bina Insan Kamil berdampak pada perubahan karakter anak marjinal. Bentuk perubahan karakter tersebut adalah anak-anak marjinal terlihat ceria, bersemangat, mandiri, percaya diri, optimis, dan memiliki daya juang yang tinggi. Pemberdayaan anak-anak marjinal berdampak pada semangat belajar mereka, ada yang kembali bersekolah, masuk pesantren, dan ada juga yang sudah bekerja. Lingkaran akan mewujudkan da’wah yang transformatif.Orisinalitas - Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang mengaitkan gerakan da’wah dengan implikasi perubahan karakter pada anak-anak yang terpinggirkan
The Symbolic meaning of marhabaan culture as a da'wah activity among the Nahdliyin community
Purpose - This research aims to determine and analyze da'wah activities in Marhabaan culture, which include the Marhabaan process, the symbolism of shaving a baby's hair, and the symbolism of the da'wah message on Marhabaan devices.Method - The method used in this research is qualitative. This method clearly defines various research procedures to produce descriptive data from what is observed in Marhabaan cultural activities, whether written or oral. Data collection was carried out through observation, interviews, and documentation.Result - This research shows that the Marhabaan culture as a da'wah activity among the Nahdliyin community is: First, the Marhabaan process as a da'wah activity has initial activities, core activities, and final activities. Second, the symbolism of shaving a baby's hair has a preaching message in which Islam requires shaving a baby's hair when they are born. Third, the symbolism of the da'wah message in the Marhabaan device includes cau (banana), ulen (glutinous rice), cai herang (water). Cau (banana) symbolizes life that is believed to grow and develop into a large family because the banana tree represents the integrity of family life. Thus, Islam, as a missionary religion, invites and expects a family to grow, develop, and have qualities so that God's mandate can be carried out well. Ulen (glutinous rice) has a message of da'wah, namely as muscular Islamic strength and unity by the word of Allah in surah Ali Imran:103). Meanwhile, cai herang (white water) preaches that humans should always have a clean heart and mind and carry out actions according to the commands of Allah and His Messenger.Implication – This research suggests that the existence and essence of Marhabaan culture as a da'wah activity needs to be adequately maintained as a form of acculturation and negotiation between Islamic religion and culture.Originality - The study of Marhabaan culture as an ethnography of da'wah differs from previous studies because no previous research has specifically discussed Marhabaan culture as an ethnography of da'wah.***Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis aktivitas dakwah dalam budaya Marhabaan, yang meliputi proses Marhabaan, simbolisme mencukur rambut bayi, dan simbolisme pesan dakwah pada perangkat Marhabaan.Metode - Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Metode ini secara jelas mendefinisikan berbagai prosedur penelitian untuk menghasilkan data deskriptif dari apa yang diamati dalam kegiatan budaya Marhabaan, baik tertulis maupun lisan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.Hasil - Penelitian ini menunjukkan bahwa budaya Marhabaan sebagai aktivitas dakwah di kalangan masyarakat Nahdliyin: Pertama, proses Marhabaan sebagai kegiatan dakwah memiliki kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Kedua, simbolisme mencukur rambut bayi memiliki pesan dakwah dimana Islam mewajibkan untuk mencukur rambut bayi ketika dilahirkan. Ketiga, simbolisme pesan dakwah dalam perangkat Marhabaan meliputi cau (pisang), ulen (ketan), cai herang (air). Cau (pisang) melambangkan kehidupan yang diyakini akan tumbuh dan berkembang menjadi sebuah keluarga besar karena pohon pisang melambangkan keutuhan hidup berkeluarga. Dengan demikian, Islam sebagai agama dakwah mengajak dan mengharapkan sebuah keluarga untuk tumbuh, berkembang, dan memiliki kualitas sehingga amanah Allah dapat dijalankan dengan baik. Ulen (beras ketan) memiliki pesan dakwah, yaitu sebagai perekat kekuatan dan persatuan umat Islam sesuai dengan firman Allah dalam surah Ali Imran:103). Sedangkan cai herang (air putih) mendakwahkan agar manusia selalu memiliki hati dan pikiran yang bersih dan melakukan tindakan sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.Implikasi - Penelitian ini menunjukkan bahwa eksistensi dan esensi budaya Marhabaan sebagai aktivitas dakwah perlu dipertahankan secara memadai sebagai bentuk akulturasi dan negosiasi antara agama Islam dan budaya.Orisinalitas - Kajian budaya Marhabaan sebagai etnografi dakwah berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya karena belum ada penelitian sebelumnya yang secara khusus membahas budaya Marhabaan sebagai etnografi dakwah
Da'wah communication in the Contemporary Era: Implementing da'wah ethics on social media
Purpose - This study aims to analyze the urgency of communication in da'wah and the ethics of digital da'wah media.Method - The research approach used is qualitative. While the data collection technique uses observation and documentation techniques, the analysis method is through data reduction, data presentation, verification, and drawing conclusions.Result - The study results show that communication plays a vital role in the effectiveness of da'wah in the digital era. The ethics of using digital media, especially on social media, can be classified in three ways: ethics in the context of time, age, and message content. In addition to not offending Sara (ethnicity, religion, race, and intergroup) and avoiding inappropriate elements to be used as jokes in preaching through digital media.Implication - Modern digital communication media must be used to develop human intellect to make Islamic da'wah more targeted and relevant.Originality - In the digital era, da'wah has become an alternative practice focusing on transcendence, humanization, and liberation. Thus, disseminating da'wah messages shows efforts to organize religious communication messages that are diverse, tolerant, wise, and harmonious.***Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis urgensi komunikasi dalam dakwah dan etika media dakwah digital.Metode - Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan dokumentasi, dengan metode analisis melalui reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan kesimpulan.Hasil - Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi memegang peranan penting dalam efektivitas dakwah di era digital. Etika penggunaan media digital, khususnya di media sosial, dapat diklasifikasikan dalam tiga hal, yaitu etika dalam konteks waktu, usia, dan isi pesan. Selain itu tidak menyinggung SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) dan menghindari unsur-unsur yang tidak pantas untuk dijadikan bahan candaan dalam berdakwah melalui media digital.Implikasi - Media komunikasi digital modern harus digunakan untuk mengembangkan intelektualitas manusia agar dakwah Islam lebih tepat sasaran dan relevan.Orisinalitas - Di era digital, dakwah telah menjadi praktik alternatif yang berfokus pada transendensi, humanisasi, dan pembebasan. Dengan demikian, penyebaran pesan dakwah menunjukkan upaya untuk menata pesan komunikasi keagamaan yang beragam, toleran, bijak, dan harmonis
Da’wah tourism: Formulation of collaborative governance perspective development
Purpose - Departing from the phenomenon that the number of da’wah tourist destinations is quite large, especially the tombs of ulama', and the number of tourist visits have increased significantly, this study aims to describe the formulation of tourism destination development, describe collaborative governance in tourism destination development and describe the inhibiting and supporting factors of tourism destination development in Semarang City.Method - The type and approach of research used is descriptive with a qualitative approach. Data validity checks using data source triangulation techniques are carried out by comparing the results of observation data with interview data and interview results with related documents and data analysis through data reduction, data presentation, and conclusion drawing.Result - The results showed that the development of da’wah tourist destinations had yet to be carried out. However, there is a growth in the number of da’wah tourist destinations. Collaborative governance in the development of tourism destinations has yet to run optimally. There are several supporting and inhibiting factors in the development of tourism destinations.Implication - The formulation of the development of da'wah tourism in Semarang with collaborative covernance affects the maximum achievement of the professionalism of da'wah tourism services, completeness of facilities and infrastructure, reputation and credibility of the existing destination image so that tourists can feel safe and satisfied and increase their religious awareness. The results of this study are used to provide input to the Semarang city government, the Tourism Office, other related agencies to improve in connection with the development that has been done.Originality - This research is the first research related to da'wah tourism in Semarang City, where in this tourism development research uses a collaborative governance approach.***Tujuan - Berangkat dari adanya fenomena yang berupa jumlah destinasi wisata dakwah cukup banyak, terutama makam ulama’, dan jumlah kunjungan wisatawan mengalami kenaikan yang signifikan, maka penelitian ini bertujuan mendiskripsikan formulasi pengembangan destinasi pariwisata, mendeskripsikan collaborative governance dalam pengembangan destinasi pariwisata dan mendeskripsikan faktor penghambat dan pendukung pengembangan destinasi pariwisata di Kota Semarang.Metode - Tipe dan pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi sumber data yang dilakukan dengan membandingkan hasil data pengamatan dengan data hasil wawancara dan hasil wawancara dengan dokumen yang terkait, dan analisis data melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil - Hasil Penelitian menunjukkan bahwa, pengembangan destinasi wisata dakwah belum dilakukan secara keseluruhan akan tetapi terdapat pertumbuhan jumlah destinasi wisata dakwah, Collaboratie governance dalam pengembangan destinasi pariwisata belum berjalan maksimal dan terdapat beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam pengembangan destinasi pariwisata.Implikasi – Formulasi pengembangan wisata dakwah di Semarang dengan collaborative covernance berpengaruh terhadap pencapaian yang maksimal terhadap profesionalitas pelayanan wisata dakwah, kelengkapan sarana dan prasarana, reputasi dan krebilitas citra destinasi yang ada sehingga wisatawan bisa merasa aman dan puas serta meningkatkan kesadaran beragama mereka. Hasil penelitian ini digunakan untuk memberikan masukan kepada pemerintah kota Semarang, Dinas Pariwisata, Dinas terkait lainnya untuk membenahi sehubungan dengan pengembangan yang telah dilakukan.Orisionalitas – Penelitian ini merupakan penelitian pertama terkait dengan wisata dakwah di Kota Semarang, di mana dalam penelitian pengembangan wisata ini menggunakan pendekatan collaborative governance
Da'wah on new media and religious authorities in Indonesia
Purpose - The purpose of this research is to find out the art and management of Ustadz Syam's da'wah in the TikTok account from the analysis of the sociology of da'wah.Method - This research uses a netnographic approach that focuses on the art and sociology of da'wah Ustadz Syam on the TikTok account.Result - The results showed that religious authority is not only controlled by traditional da'i who have a scientific base in pesantren, but now new authority is born from those Da'is who are close to new media, content, packaging, fashion, and social media platforms to preach.Implication - The da'wah movement that needs to be carried out in the future should adapt to the dynamics of the times and in accordance with the needs of the wider community..Originality - This research is related to the application of da'wah in TikTok, Ustadz Syam presents a new authority as a challenge to the old Da'i who need to care about popular media platforms.***Tujuan - Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seni dan manajemen dakwah Ustadz Syam di akun TikTok dari analisis sosiologi dakwah.Metode - Penelitian ini menggunakan pendekatan netnografi yang berfokus pada seni dan sosiologi dakwah Ustadz Syam di akun TikTok.Hasil - Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritas keagamaan tidak hanya dikuasai oleh da'i tradisional yang memiliki basis keilmuan di pesantren, namun kini otoritas baru lahir dari para da'i yang dekat dengan media baru, konten, kemasan, fashion, dan platform media sosial untuk berdakwah.Implikasi - Gerakan dakwah yang perlu dilakukan di masa depan harus menyesuaikan dengan dinamika zaman dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas.Orisinalitas - Penelitian ini terkait dengan penerapan dakwah di TikTok, Ustadz Syam menghadirkan otoritas baru sebagai tantangan bagi para Da'i lama yang perlu peduli dengan platform media populer
Voice of society: Revealing people's aspirations and reactions to da'wah communication containing halal product messages
Purpose - This paper aims to present data on citizens' aspirations and responses regarding da'wah communication channels containing messages about halal products. This data can be referred by preachers (muballig) to improve the citizen literacy regarding halal products.Method - This paper results from quantitative research with 468 respondents in Bandung Regency, Indonesia. This applies uses and gratifications theory (UGT) as a conceptual framework.Result - The findings show that a) media and communication channels are intensively put forward to convey information about halal products; b) da'wah communication channels through preachings are widely used because those are able to grow citizens' trust toward halal products; and c) public channels are believed to be able to grow citizens' desire for using halal products.Implication – This implies that da'wah communication channels urgently raise people's trust toward information about halal products.Originality - The originality of this article is that it reveals aspects of citizens' aspirations.***Tujuan - Tulisan ini bertujuan untuk menyajikan data tentang aspirasi dan tanggapan masyarakat mengenai saluran komunikasi dakwah yang memuat pesan tentang produk halal. Data ini dapat dirujuk oleh para muballig untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai produk halal.Metode - Makalah ini merupakan hasil penelitian kuantitatif dengan 468 responden di Kabupaten Bandung, Indonesia. Penelitian ini menggunakan teori uses and gratifications (UGT) sebagai kerangka kerja konseptual.Hasil - Temuan menunjukkan bahwa a) media dan saluran komunikasi secara intensif dikedepankan untuk menyampaikan informasi tentang produk halal; b) saluran komunikasi dakwah melalui ceramah banyak digunakan karena dapat menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap produk halal; dan c) saluran publik diyakini dapat menumbuhkan keinginan masyarakat untuk menggunakan produk halal.Implikasi - Hal ini mengimplikasikan bahwa saluran komunikasi dakwah sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap informasi tentang produk halal.Orisinalitas - Orisinalitas dari artikel ini adalah bahwa artikel ini mengungkapkan aspek aspirasi warga negara
Dynamics of mosque-based da’wah and its implications for the Diversity of muslim communities in Medan
Purpose - This study aims to determine the dynamics of mosque-based da’wah and its implications for the diversity of society in the city of Medan.Method - This study used a qualitative-quantitative approach (mixed method) with a descriptive method. This study uses data sources in the form of primary and secondary, which are based on experience or literature review. Data collection techniques were carried out through interviews and observation. In data analysis techniques, researchers reduce data, present it, then conclude.Result – this study indicates that the preachers in Medan have approached the professional direction in preaching. The preachers can be said to have competence so that they can carry out their duties as rijalud da’wah properly.Implication - The preaching material delivered is generally still focused on the basic Islamic sciences, and a small part has started to develop da’wah material more broadly.Originality - The da’wah methods used by the preachers are very diverse; providing problem-solving offers on religious issues, building religious awareness, mastering social media da’wah strategies, and paying attention to the philosophy of da’wah (goals to be achieved), abilities and expertise (da’i background), sociology (situations and conditions), and psychology (pleasant thing).***Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika dakwah berbasis masjid dan implikasinya terhadap keberagaman masyarakat di Kota Medan.Metode - Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-kuantitatif (mix method) dengan metode deskriptif. Penelitian ini menggunakan sumber data dalam bentuk primer dan sekunder, yakni berdasarkan pengalaman ataupun kajian literatur. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan observasi. Pada teknik analisis data, peneliti melakukan reduksi data, menyajikannya, kemudian membuat suatu kesimpulan.Hasil - penelitian ini menunjukkan bahwa para da’i di Kota Medan telah mendekati kearah professional dalam berdakwah. Para da’i dapat disebutkan sebagai da’i yang memiliki kompetensi, sehingga mampu menunaikan tugas sebagai rijaluddakwah dengan baik.Implikasi - Materi dakwah yang disampaikan umumnya masih terfokus pada ilmu-ilmu dasar keislaman dan sebahagian kecil sudah mulai mengembangkan materi dakwah secara lebih luas.Orisinalitas - Metode dakwah yang digunakan oleh para da’i sangat beragam; memberikan tawaran problem solving isu-isu keagamaan, membangun kesadaran beragama, mengusai strategi dakwah media sosial, serta memperhatikan filosofi dakwah (tujuan yang kaan dicapai), kemampuan dan keahlian (latar belakang da’i), sosiologi (situasi dan kondisi), dan psikologi (hal yang disenenangi).