Jurnal Ilmu Dakwah
Not a member yet
    206 research outputs found

    The Identity of Ba Alawi women islamic communicators: Najwa Shihab and Halimah Alaydrus as models

    Full text link
    Purpose - This research aims to uncover the identity of Ba Alawite women Islamic communicators, regarding their background of being closed (exclusive) while others are a small part of being inclusive. Also, to explain their transformation from exclusive to inclusive. This research is important to know the gender equality of Ba Alawy women.Method - This research is qualitative with the type of literature review. Data is obtained from YouTube channels, journals, books, and related websites. The theory used is Mary Jane Collier's cultural identity theory.Result  -  Ba Alawi women are closed because of communication with Tarim customs and traditions carried out since childhood, in this case, Halimah Alaydrus. At the same time, Najwa Shihab is an inclusive Ba Alawi woman whose identity has been influenced by openness since childhood in communicating with all traditions and thoughts.Implication – This article is intended to provide encouragement and knowledge about the diversity of Ba Alawi women; the majority of them are exclusive, and a small number are inclusive. The climate in Indonesia and Hadramut is not the same.  And Ba Alawi women need to take opportunities in the world of da'wah.Originality/Value - This research is the first on female Islamic communication actors from among the ba alawy and their role in the world of da'wah, as well as their inclusive or inclusive life motives.***Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap identitas komunikator Islam perempuan Ba Alawite, mengenai latar belakang mereka yang tertutup (eksklusif) dan sebagian kecil yang inklusif. Selain itu, untuk menjelaskan transformasi mereka dari eksklusif menjadi inklusif. Penelitian ini penting untuk mengetahui kesetaraan gender perempuan Ba Alawy.Metode - Penelitian ini bersifat kualitatif dengan jenis tinjauan literatur. Data diperoleh dari kanal YouTube, jurnal, buku, dan situs web terkait. Teori yang digunakan adalah teori identitas budaya Mary Jane Collier.Hasil - Perempuan Ba Alawi tertutup karena komunikasi dengan adat dan tradisi Tarim yang dilakukan sejak kecil, dalam hal ini Halimah Alaydrus. Sementara itu, Najwa Shihab merupakan perempuan Ba Alawi yang inklusif yang identitasnya dipengaruhi oleh keterbukaan sejak kecil dalam berkomunikasi dengan semua tradisi dan pemikiran.Implikasi - Artikel ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan dan pengetahuan tentang keberagaman perempuan Ba Alawi yang mayoritas bersifat eksklusif dan sebagian kecil bersifat inklusif. Iklim di Indonesia dan Hadramut tidak sama.  Dan perempuan Ba Alawi perlu mengambil peluang dalam dunia dakwah.Orisinalitas/Nilai - Penelitian ini merupakan penelitian pertama tentang pelaku komunikasi Islam perempuan dari kalangan ba alawy dan peran mereka dalam dunia dakwah, serta motif hidup mereka yang inklusif atau tidak

    Addressing cyberloafing behaviors: The Efficacy of psychological interventions through mauidzah hasanah

    Full text link
    Purpose - This research aims to find out how addressing  cyberloafing behavior: the efficacy of psychological intervention through Mauidzah Hasanah Method - This research is qualitative research. The subjects in the research were three employees. Data collection methods use interviews, observation and documentation. The data analysis used is data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Result  -  The results of the research show that psychological intervention through mauidzah hasanah can handle cyberloafing behavior by using forms of mauidzah hasanah such as advice, guidance and teaching (spiritual formation), success stories containing wisdom, and positive messages. Meanwhile, the description of cyberloafing behavior includes causes, forms, motivation, impact of cyberloafing behavior and minor cyberloafing.. Implication – The implications of this research show that psychological intervention through mauidzah hasanah is a complementary approach in helping someone achieve mental and spiritual health, especially cyberloafing behavior problems. Psychological interventions provide a scientific basis for addressing emotional and behavioral problems, while mauidzah hasanah adds a moral and spiritual dimension that strengthens a person's motivation to change. With the right combination, the two can provide a more holistic and meaningful solution for individuals in facing life's challenges. Originality/Value - Intervention based on mauidzah hasanah is a spiritual and moral approach to influence a person's behavior through conveying values that touch the heart and awareness. This approach is relevant in dealing with cyberloafing behavior, which often arises from weak self-control, lack of awareness of responsibility, or being tempted by digital distractions.*** Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mengatasi perilaku cyberloafing: kemanjuran intervensi psikologi melalui mauidzah hasanah. Metode - Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Subjek dalam penelitian berjumlah tiga karyawan. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil  -  Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi psikologi melalui mauidzah hasanah dapat menangani perilaku cyberloafing dengan menggunakan bentuk-bentuk mauidzah hasanah seperti nasihat, bimbingan dan pengajaran (pembinaan spiritual), kisah-kisah sukses yang mengandung hikmah, dan pesan-pesan positif. Sedangkan gambaran perilaku cyberloafing meliputi penyebab, bentuk, motivasi, dampak perilaku cyberloafing dan minor cyberloafing. Implikasi – Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi psikologi melalui mauidzah hasanah merupakan pendekatan yang saling melengkapi dalam membantu seseorang mencapai kesehatan mental dan spiritual terutama masalah perilaku cyberloafing. Intervensi psikologis memberikan landasan ilmiah untuk mengatasi masalah emosional dan perilaku, sementara mauidzah hasanah menambahkan dimensi moral dan spiritual yang memperkuat motivasi seseorang untuk berubah. Dengan kombinasi yang tepat, keduanya dapat memberikan solusi yang lebih holistik dan bermakna bagi individu dalam menghadapi tantangan hidup. Orisinalitas/Nilai - Intervensi berbasis mauidzhah hasanah adalah pendekatan spiritual dan moral untuk memengaruhi perilaku seseorang melalui penyampaian nilai-nilai yang menyentuh hati dan kesadaran. Pendekatan ini dapat menangani perilaku cyberloafing, yang sering kali muncul akibat lemahnya kontrol diri, kurangnya kesadaran tanggung jawab, atau tergoda oleh distraksi digital

    Analyzing big data of da'wah manuscripts based on Dimensions: Mapping research on da'wah on social media

    Full text link
    Purpose – This study aimed to explore big data analysis on social media da'wah manuscripts to understand and gain deeper insights into the phenomenon of da'wah in the digital era.Method – Using the big data analysis method, this study describes the main trends, interaction patterns, and impact of da'wah-themed texts on social media. Data was collected from the Dimension indexer as it is one of the platforms recognized by Arjuna (a national journal accreditation agency), and it is able to identify the most discussed and cited articles as well as other interaction analyses.Result – This big data analysis provides a deep understanding of the dynamics of the study of da'wah on social media. This allows us to see how da'wah messages on social media are adapted, accepted, and used by society in a digital context.Implication – This article details the implications of big data analysis findings for developing da'wah studies in social media. It presents potential future research directions to enrich our understanding of the dynamics of da'wah in the digital age.Originality/Value – This article makes a new contribution by examining extensive data from da'wah manuscripts through the Dimensions platform to track da'wah research on social media. This study stands out for its fresh method of merging big data analysis with Dimensions-indexed data, an area that has not been thoroughly investigated.***Tujuan – Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi analisis big data pada naskah dakwah di media sosial sebagai sarana untuk memahami dan mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang fenomena dakwah di era digital.Metode – Dengan menggunakan metode analisis big data, penelitian ini mendeskripsikan tren utama, pola interaksi, dan dampak dari teks-teks bertema dakwah di media sosial. Data dikumpulkan dari pengindeks Dimensions karena merupakan salah satu platform yang diakui oleh Arjuna (lembaga akreditasi jurnal nasional), dan mampu mengidentifikasi artikel yang paling banyak dibicarakan, paling banyak dikutip, serta analisis interaksi lainnya.Hasil – Hasil dari analisis big data ini memberikan pemahaman yang mendalam tentang dinamika studi dakwah di media sosial, yang memungkinkan kita untuk melihat bagaimana pesan-pesan dakwah di media sosial diadaptasi, diterima, dan digunakan oleh masyarakat dalam konteks digital.Implikasi – Artikel ini merinci implikasi dari temuan analisis big data untuk pengembangan studi dakwah di media sosial dan menyajikan potensi arah penelitian di masa depan untuk memperkaya pemahaman kita tentang dinamika dakwah di era digital.Orisinalitas/Nilai – Artikel ini memberikan kontribusi baru dengan mengkaji data ekstensif dari naskah dakwah melalui platform Dimensions untuk melacak penelitian dakwah di media sosial. Penelitian ini menonjol karena menggunakan metode optimum dalam menggabungkan analisis data besar dengan data yang diindeks oleh Dimensions

    Tuan Guru's communication strategy in resolving religious ideological conflict in Lombok, Indonesia

    Full text link
    Purpose – This article attempts to explain Tuan Guru's communication strategy in conflict resolution between Islamic groups in Lombok, namely between communities affiliated with the Nahdlatul Wathan organization versus the Sunnah (Wahhabi) group.Method – This article uses a qualitative method-case study. Data were collected through observation, documentation, and interviews and then analyzed through the stages of condensation, display, interpretation, and conclusion.Result  – The results of this study show that the source of conflict that occurs in the community is the difference in religious ideology between Aswaja Islam and Wahhabi Islam. Second, the master teacher was able to mediate the conflict by using religious and cultural communication strategies. He campaigned for peace values derived from Islamic teachings and strengthened socio-cultural capital as a tool for harmony, such as silaturrahim in the tradition of begawe (feast) of marriage, birth, and death.Implication – This article contributes to the study of Tuan Guru employs a communication strategy that emphasizes dialogue and mutual understanding, facilitating open discussions to bridge gaps between differing religious ideologies. By fostering a respectful exchange of perspectives, he creates a platform for resolving conflicts and promoting religious harmony.Originality/Value – This research exploration of tuan guru not only as a leader of the pesantren but also as a "peacemaker" This shows that the guru's leadership is quite strategic in terms of conflict and peace.***Tujuan - Artikel ini bertujuan menjelaskan strategi komunikasi Tuan Guru dalam penyelesaian konflik antara kelompok-kelompok Islam di Lombok, yaitu antara komunitas yang terafiliasi dengan organisasi Nahdlatul Wathan versus kelompok Sunnah (Wahabi). Metode - Artikel ini menggunakan metode kualitatif-studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara kemudian dianalisis melalui tahapan kondensasi, tampilan, interpretasi, dan kesimpulan. Hasil - Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa sumber konflik yang terjadi dalam masyarakat adalah perbedaan ideologi agama antara Islam Aswaja dan Islam Wahabi. Kedua, guru besar mampu memediasi konflik dengan menggunakan strategi komunikasi agama dan budaya. Dia melakukan kampanye untuk nilai-nilai perdamaian yang bersumber dari ajaran Islam dan memperkuat modal sosial-budaya sebagai alat untuk keharmonisan, seperti silaturrahim dalam tradisi begawe (persilatan) pernikahan, kelahiran, dan kematian. Implikasi - Artikel ini memberikan kontribusi pada studi tentang Tuan Guru yang menggunakan strategi komunikasi yang menekankan dialog dan pemahaman saling, memfasilitasi diskusi terbuka untuk menjembatani kesenjangan antara ideologi agama yang berbeda. Dengan mendorong pertukaran pandangan yang saling menghormati, dia menciptakan platform untuk penyelesaian konflik dan mempromosikan harmoni agama. Orisinalitas/Nilai - Penelitian ini mengeksplorasi Tuan Guru bukan hanya sebagai pemimpin pesantren tetapi juga sebagai "peacemaker." Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan guru cukup strategis dalam hal konflik dan perdamaian

    Implications of the Meeting of religion and new media for contemporary da'wah in Indonesia

    Full text link
    Purpose - The transformative power of new media has revolutionized the practice of Islamic da'wah. This article examines the implications of the intersection of religion and new media for contemporary da'wah practices.Method - This study uses qualitative research with a new media and da'wah approach. Data was obtained by online observation of da’wah social media that featured or involved several da’wah figures in Indonesia.Result - This study found that testing the 5 Cs (Communication, Collaboration, Community, Creativity, and Convergence) that characterize new media shows a different form of da'wah in new media from the construct of da'wah in the conventional era. In the new media era, for example, da'wah is understood as open communication that allows the preacher and the recipient to exchange messages simultaneously. In new media, da'wah is also a collaborative activity that allows everyone to collaborate to support a da'wah idea. New media-based da'wah is also characterized by the existence of various da'wah communities spread across multiple platforms, the creativity of various actual content that is by various issues developing in society, as well as the combination of numerous media which makes da'wah content in new media available completely, openly, and easily accessed.Implication - Academically, this study has implications for enriching preaching theories in the contemporary world, while practically, this study has implications for the importance of preachers in adapting to the dynamics produced by new media.Originality/Value - The originality of this research lies in its novelty, which focuses on changes in preaching due to new media that have received little attention from previous researchers.***Tujuan - Media baru telah mengubah praktik dakwah Islam. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji implikasi pertemuan agama dan media baru terhadap praktik dakwah kontemporer.Metode - Studi ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan media baru dan dakwah. Data diperoleh melalui observasi online terhadap website dan media sosial dakwah yang menampilkan atau melibatkan beberapa tokoh dakwah di Indonesiat.Hasil - Studi ini menemukan bahwa pengujian 5 C (Communication, Collaboration, Community, Creativity, dan Convergence) yang menjadi ciri media baru menunjukkan adanya bentuk dakwah yang berbeda dalam new media dengan konstruk dakwah pada era konvensional. Di era media baru misalnya, dakwah dipahami sebagai komunikasi terbuka yang memungkinkan pendakwah dan penerimanya bertukar pesan secara simultan. Selain itu, dalam media baru, dakwah juga dipahami sebagai kegiatan kolaboratif yang memungkinkan semua orang bekerja sama untuk mendukung suatu gagasan dakwah. Dakwah berbasis media baru juga ditandai dengan adanya berbagai komunitas dakwah yang tersebar di berbagai platform, kreativitas berbagai konten aktual yang sesuai dengan berbagai isu yang berkembang di masyarakat, serta perpaduan berbagai media yang menjadikan dakwah di media baru bekerja dalam mode yang utuh, terbuka, dan mudah diaskses.Implikasi - Secara akademis studi ini berimplikasi pada pengayaan teori-teori dakwah dalam dunia kontemporer sedangkan secara praktis studi ini berimplikasi pada pentingnya pendakwah dalam beradaptasi dengan dinamika yang dihasilkan oleh media baru.Orisinalitas/Nilai - Keaslian penelitian ini terletak pada kebaruannya yang berfokus pada perubahan dakwah akibat media baru yang belum banyak mendapat perhatian dari peneliti sebelumnya

    Government communication strategy in building the image of Batam as a civilised world city: A social construction theory approach and city image elements

    Full text link
    Purpose – Tujuan penelitian ini untuk mengulas tentang strategi komunikasi pemerintah dalam mengkontruksi citra kota Batam Sebagai Bandar Dunia Madani, khususnya strategi komunikasi Pemerintah dalam mengkontruksi citra kota presfektif teori Lynch dengan lima elemennya.Method – Penelitian ini merupakan penelitian yang berbentuk lapangan atau field research. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena dan dinamika strategi komunikasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Batam di tengah masyarakat. Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dengan Walikota dan kepala dinas terkait. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif.Result – Pemerintah kota Batam menerapkan 2 (dua) klasifikasi strategi komunikasi, yakni human communication dan Media communication. Strategi komunikasi manusia terdiri dari government public relations, Walikota menerapkan semua Aparat Sipil Pemerintahan (ASN) adalah public relations agent selanjutnya menggunakan kelompok masyarakat dalam berbagai komponen dengan mitra dan pemangku kepentingan seluruh perangkat daerah Kota Batam. Strategi komunikasi media dilakukan melalui media cetak, media elektronik, media baru dan media luar ruang. Realisasi pencapaian visi dan misi yakni tercapainya indeks pembangunan manusia, terciptanya kota layak anak dan pembangunan infrastruktur yang massif serta pembagian insentif kepada masyarakat. Sinergitas terlihat dari elemen pentahelix kota Batam antara lain, Pemerintah, Pengusaha, Akademisi, Media dan Komunitas (masyarakat) dalam memberi support penuh dengan pembangunan yang dilakukan Walikota tanpa menghilangkan akar budaya melayu yang madani..Implication – Pemerintah Kota Batam dalam mengkontruksi Citra Kota tanpa menghilangkan sentuhan budaya Melayu dan menyesuaikan strategi komunikasinya dengan komunikasi kemanusiaan dan komunikasi media yang menyentuh semua aspek masyarakat, sehingga pengkonstruklsian citra kota berjalan dengan lancar. Selain itu, Pemerintah Kota Batam tidak lupa juga meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia serta pemberian insentif bagi masyarakat.Originality – Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang mengkaji tentang pengkontruksian Citra Kota Batam dalam presfektif Visi dan Misi dengan 5 elemen dalam teori Lyinch.AbstractPurpose – Tujuan penelitian ini untuk mengulas tentang strategi komunikasi pemerintah dalam mengkontruksi citra kota Batam Sebagai Bandar Dunia Madani, khususnya strategi komunikasi Pemerintah dalam mengkontruksi citra kota presfektif teori Lynch dengan lima elemennya.Method –Penelitian ini merupakan penelitian yang berbentuk lapangan atau field research. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena dan dinamika strategi komunikasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Batam di tengah masyarakat. Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dengan Walikota dan kepala dinas terkait. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif.Result – Pemerintah kota Batam menerapkan 2 (dua) klasifikasi strategi komunikasi, yakni human communication dan Media communication. Strategi komunikasi manusia terdiri dari government public relations, Walikota menerapkan semua Aparat Sipil Pemerintahan (ASN) adalah public relations agent selanjutnya menggunakan kelompok masyarakat dalam berbagai komponen dengan mitra dan pemangku kepentingan seluruh perangkat daerah Kota Batam. Strategi komunikasi media dilakukan melalui media cetak, media elektronik, media baru dan media luar ruang. Realisasi pencapaian visi dan misi yakni tercapainya indeks pembangunan manusia, terciptanya kota layak anak dan pembangunan infrastruktur yang massif serta pembagian insentif kepada masyarakat. Sinergitas terlihat dari elemen pentahelix kota Batam antara lain, Pemerintah, Pengusaha, Akademisi, Media dan Komunitas (masyarakat) dalam memberi support penuh dengan pembangunan yang dilakukan Walikota tanpa menghilangkan akar budaya melayu yang madani..Implication – Pemerintah Kota Batam dalam mengkontruksi Citra Kota tanpa menghilangkan sentuhan budaya Melayu dan menyesuaikan strategi komunikasinya dengan komunikasi kemanusiaan dan komunikasi media yang menyentuh semua aspek masyarakat, sehingga pengkonstruklsian citra kota berjalan dengan lancar. Selain itu, Pemerintah Kota Batam tidak lupa juga meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia serta pemberian insentif bagi masyarakat.Originality – Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang mengkaji tentang pengkontruksian Citra Kota Batam dalam presfektif Visi dan Misi dengan 5 elemen dalam teori Lyinch

    The latest religious practices of da’i influencer and content creator in digital da’wah

    Full text link
    Purpose - The aim of this research is to describe new religious practices in digital media. Method - Digital ethnography and literature review are the methods used in this research. Result - A new form of religious practice has emerged, conducted by influencers (A'yun, Ulfi, and Hijrapedia). This includes online muroja'ah, online Quran waqf, and online umrah substitutes. All three clearly indicate the existence of negotiations between offline and online spaces. Implication - This research definitively shows the shift from conventional preaching to digital methods without diminishing traditional religious authority. It is a definitive reference point for other new religious practices. Originality/Value - This research offers originality by revealing how digital media reshapes religious practices, introducing unique forms such as online muroja’ah, Quran waqf, and umrah substitutes led by influencers. It bridges the gap between traditional and digital spaces, challenging conventional sociological views and providing new insights into the evolution of religion in the digital age. *** Tujuan - Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan praktik-praktik keagamaan baru di media digital. Metode - Etnografi digital dan tinjauan literatur adalah metode yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil - Bentuk praktik keagamaan baru telah muncul, yang dilakukan oleh para influencer (A'yun, Ulfi, dan Hijrapedia). Hal ini mencakup muroja'ah online, wakaf Alquran online, dan pengganti umrah online. Ketiganya dengan jelas menunjukkan adanya negosiasi antara ruang luring dan daring. Implikasi - Penelitian ini secara definitif menunjukkan pergeseran dari da’wah konvensional ke metode digital tanpa mengurangi otoritas keagamaan tradisional. Penelitian ini merupakan titik referensi yang pasti untuk praktik-praktik keagamaan baru lainnya. Orisinalitas/Nilai - Penelitian ini menawarkan orisinalitas dengan mengungkapkan bagaimana media digital membentuk kembali praktik keagamaan, memperkenalkan bentuk-bentuk unik seperti muroja'ah daring, wakaf Alquran, dan pengganti umrah yang dipimpin oleh influencer. Penelitian ini menjembatani kesenjangan antara ruang tradisional dan digital, menantang pandangan sosiologis konvensional dan memberikan wawasan baru tentang evolusi agama di era digita

    Enhancing family resilience through spirituality and positive psychology based interventions

    Full text link
    Purpose - This study aimed to examine the role of spirituality and positive psychology interventions with family resilience, as is expected together; if family resilience increases, the community will become empowered and rise together. The hypothesis proposed in this study is that spirituality and positive psychology interventions increase family resilience in the new average era.Method - The research participants were 40 people. The research method is quasi-experimental.Result  -  In the Independent Sample t-test, the value of sig (2-tailed) is 0.000 < 0.05; it can be concluded: "There is a difference in the average family resilience between the experimental group and the control group."  In calculating the percentage N-Gain, the mean value in the control group is 4.27%, while in the experimental group, 65.33% is in the category (quite effective). The change in the control group was 20%. Meanwhile, the experimental group showed a change from the initial 11.29% to 65.33%. The SPP intervention plays a significant role in increasing the family resilience of parents in the era of the new order.Implication - This Method suggests improving the skills performance in family resilience. The conclusion is that the intervention of spirituality and positive psychology significantly increases family resilience in the era of adaptation to new habits and is expected to help realize prosperity in the new normal.Originality - This study is the first research to use spirituality and positive psychology-based interventions to increase family resilience.***Tujuan - Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji peran spiritualitas dan intervensi psikologi positif dengan ketahanan keluarga, seperti yang diharapkan bersama, jika ketahanan keluarga meningkat, maka masyarakat akan menjadi berdaya dan bangkit bersama. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah intervensi spiritualitas dan psikologi positif berperan dalam meningkatkan resiliensi keluarga di era new normal.Metode - Partisipan penelitian berjumlah 40 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen.Hasil - Pada uji Independent Sample t-Test diperoleh nilai sig (2 tailed) sebesar 0.000 < 0.05, maka dapat disimpulkan "terdapat perbedaan rata-rata resiliensi keluarga antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol".  Pada perhitungan persentase N-Gain, nilai rata-rata pada kelompok kontrol sebesar 4,27% sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 65,33% berada pada kategori (cukup efektif). Perubahan pada kelompok kontrol sebesar 20%. Sedangkan pada kelompok eksperimen menunjukkan perubahan dari yang semula 11,29% menjadi 65,33%. Intervensi SPP berperan secara signifikan dalam meningkatkan ketahanan keluarga orang tua di era orde baru.Implikasi - Metode ini menyarankan untuk meningkatkan kinerja keterampilan dalam ketahanan keluarga. Kesimpulannya adalah intervensi spiritualitas dan psikologi positif secara signifikan berperan dalam meningkatkan resiliensi keluarga di era adaptasi kebiasaan baru dan diharapkan dapat membantu mewujudkan kesejahteraan di tatanan baru.Orisinalitas - Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang menggunakan intervensi berbasis spiritualitas dan psikologi positif dalam meningkatkan resiliensi keluarga

    The Meaning of the Sakinah Family in Couples with HIV/AIDS and its relevance to Islamic family counseling guidance

    Full text link
    Purpose – This study aims to determine the meaning of the sakinah family in couples with HIV/AIDS at the Jepara Plus Foundation and its relevance to Islamic family counseling guidance.Method – The type of research used is qualitative with a grounded theory approach. This research uses interview, observation, and documentation research methods.Result – Thus, the meaning of the sakinah family for couples with HIV/AIDS at the Jepara Plus Foundation is a family that is as it is, harmonious, always together, principled, happy, calm, peaceful, and a role model. The meaning of the sakinah family is by the concept of the sakinah family that it has values that are following the QS. Ar-Rum verse 21. Although the verse does not clearly explain in detail what the sakinah family itself is, other verses provide instructions in realizing this goal. The meaning of the sakinah family in couples with HIV/AIDS can also be used as the first step in the process of forming a sakinah family for couples at the Jepara Plus Foundation through Islamic family guidance and counseling. In detail, the relevance between the meaning of the sakinah family in couples with HIV/AIDS at the Jepara Plus Foundation and Islamic family guidance and counseling lies in the essence, principles, goals, and functions of Islamic family guidance and counseling.Implications – This study the impact on the development of Islamic family guidance and counseling services at the Jepara Plus Foundation in creating a sakinah family for its members.Originilaty – This study focuses on finding a theory about the meaning of the sakinah family in couples with HIV/AIDS at the Jepara Plus Foundation

    Model of Islam Nusantara da'wah based on multiculturalism

    Full text link
    Purpose - This study aims to develop a model of Islamic da'wah based on religious and cultural multiculturalism in Indonesia as a response to religious violence.Method - This research was conducted through a literature review (library research) with a philosophical hermeneutic approach in which data related to da'wah scholarship, the term Islam Nusantara, and multiculturalism were analyzed using descriptive-holistic-heuristic elements.Result - The results of the study show that: 1). Islam Nusantara da'wah necessitates the presence of Islam, which is constantly in dialectics with the culture of the people of the Archipelago. In this dialectical process of Islam and culture, it is not uncommon for "Islam Nusantara" to succeed in creating new Islamic symbols that do not exist in the Middle East region. Therefore, several models of da'wa are obtained, including deculturative dialogue da'wah/taghayyur, additive acculturation dialogue da'wah/takammul, considerate acculturation dialogue da'wah/tahammul and inclusive-institutional acculturation dialogue da'wah/tasallum. The da'wah approach used is a structural-formalistic, cultural-naturalistic, and spiritual-intuitive approach. This da'wah approach is applied through dakwah bi al-lisān, dakwah bi al-qalam, and dakwah bi al-ḥāl. 2). The characteristics of Islam Nusantara da'wah based on multiculturalism include: acknowledging and appreciating the uniqueness and diversity of cultures and beliefs, as well as the existence of points of similarity in this diversity, viewing the phenomenon of religion as a culture, and understanding religion in a progressive, dynamic manner and without "sacredism." 3). Da'wah's models in responding to religious violence differ depending on the typologies of causative factors.Implication - This article suggests the development of da'wah scholarship, namely the Islam Nusantara da'wah based on multiculturalism, which allows for corrections, additions, and improvements to developing new knowledge.Originality - This article is a study that shows the formulation of Islam Nusantara da'wah model with a multiculturalism perspective.***Tujuan - Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model dakwah Islam yang berbasis pada multikulturalitas agama dan budaya di Indonesia sebagai respon terhadap kekerasan beragama.Metode - Penelitian ini dilakukan melalui studi kepustakaan dengan pendekatan hermeneutika filosofis di mana data yang berkaitan dengan keilmuan dakwah, Islam nusantara dan multikulturalisme di analisa dengan menggunakan unsur deskriptif-holistik-heuristik.Hasil - Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1). dakwah Islam Nusantara meniscayakan kehadiran Islam yang terus-menerus berdialektika dengan budaya masyarakat Nusantara. Dalam proses dialektika Islam dan budaya ini, tidak jarang Islam Nusantara berhasil menciptakan simbol-simbol Islam baru yang tidak ada di kawasan Timur Tengah. Oleh karena itu didapatkan beberapa model dakwah, antara lain: dakwah dialog dekulturatif/taghayyur,   dakwah dialog akulturasi aditif/takammul, dakwah dialog akulturasi konsideratif/tahammul dan dakwah dialog akulturasi inklusif-institutif/tasallum. Pendekatan dakwah yang digunakan adalah pendekatan struktural-formalistik, kultural-naturalistik dan spiritual-intuitif. Pendekatan dakwah ini diterapkan melalui metode dakwah bi al-lisān, dakwah bi al-qalam dan dakwah bi al-ḥāl. 2). Karakteristik dakwah Islam Nusantara berbasis multikulturalisme antara lain: mengakui dan menghargai keunikan dan keragaman budaya dan keyakinan, serta adanya titik kesamaan dalam keragaman tersebut, memandang fenomena keberagamaan sebagai kultur, dan memahami agama secara progresiv, dinamis dan tidak ada “pensakralan”.  3). model dakwah dalam merespon fenomena kekerasan beragama berbeda-beda tergantung dari perbedaan tipologi faktor penyebabnya.Implikasi - Artikel ini menyarankan pengembangan keilmuan dakwah, yaitu dakwah Islam Nusantara berbasis multikulturalisme, yang memungkinkan adanya koreksi, penambahan dan penyempurnaan pengembangan ilmu baru.Orisinalitas - Artikel ini merupakan kajian yang menunjukkan formulasi model dakwah Islam Nusantara dengan perspektif multikulturalisme

    191

    full texts

    206

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Dakwah
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇