Jurnal MEKANIKAL
Not a member yet
139 research outputs found
Sort by
ANALISIS DEFLEKSI PADA MATERIAL BAJA RINGAN DENGAN MENGGUNAKAN PLAT PENGUAT
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis defleksi pada material baja ringan secara teoritis dan secara eksperimental dengan variasi plat penguat. Metode integrasi ganda digunakan untuk analisis secara teoritis, sedangkan metode pengujian digunakan untuk analisis eksperimental. Tumpuan yang digunakan dalam penelitian adalah tumpuan jepitan, menggunakan material baja ringan dengan dimensi panjang 1500 mm, lebar 60 mm dan tebal 0,65 mm. Hasil penelitian yang diperoleh adalah : defleksi maksimum yang terjadi pada material tanpa plat penguat : (yeksp =2,09 mm; yteo = 1,06 mm), satu plat penguat (yeksp =1,94 mm; yteo = 0,62 mm), dua plat penguat (yeksp =1,70 mm; yteo = 1,06 mm) dan tiga plat penguat (yeksp =1,23 mm; yteo = 0,62 mm). Defleksi yang terjadi secara eksperimental maupun secara teoritis pada penggunaan tiga plat penguat lebih besar jika dibandingkan dengan defleksi yang terjadi pada penggunaan dua plat penguat, satu plat penguat dan tanpa plat penguat. Defleksi yang diperoleh secara eksperimental lebih besar jika dibandingkan dengan secara teoritis dengan prosentase kesalahan maksimum 69,43 %.Kata Kunci: Defleksi, baja ringan, plat penguat
PENGARUH SUHU TEMPERING TERHADAP SIFAT KEKERASAN DAN KEAUSAN BAJA SNI TP-24 DENGAN PROSES PACK CARBURIZING MEDIA ARANG TEMPURUNG KELAPA
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi temperatur tempering tehadap nilai kekerasan dan laju keausan pada baja SNI TP 24 dengan proses pack carburizing media arang tempurung kelapa. Media karbon yang digunakan yaitu arang tempurung kelapa dengan persentase sebesar (80%) dan CaCO3 sebesar (20%). Proses pack carburizing dilakukan pada temperatur 950oC dengan waktu penahanan selama 2 jam, quenching media air dan temperingselama 1 jam dengan suhu 300oC, 400oC, 500oC, setelah proses pack carburizing kemudian dilakukan pengujian kekerasan dan pengujian keausan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Jurusan Teknik Mesin Universitas Tadulako.Hasil pengujian kekerasan pada raw material adalah 177 Kg/mm2, setelah proses pack carburizing nilai kekerasan adalah sebesar 726,06 Kg/mm2 sedangkan untuk variasi suhu tempering nilai kekerasannya pun bervariasi. Pada suhu tempering 300°C nilai kekerasannya 453,50 kg/mm2, tempering 400°C nilai kekerasannya 369,90 kg/mm2 dan tempering 500°C nilai kekerasannya 314,57 kg/mm2. Hasil pengujian keausan dengan jarak tempuh yang sama yaitu 37,58 km bahwa laju keausan untuk raw material sebesar1,11% dan faktor keausannya 0,0294 mm3/N.km. Pendinginan cepat (quenching ) laju keausannya menurun menjadi 0,25% dengan faktor keuasannya 0,00650 mm3/N.km. Variasi suhu temperingsetiap variasi berbeda nilai laju keausannya. Untuk suhu tempering 300°C nilai laju keausannya mencapai 0,46% dan faktor keausannya 0,01220 mm3/N.km, suhu tempering 400°C nilai laju keausannya 0,53% dan faktor keausannya 0,01300 mm3/N.km sedangkan suhu tempering 500°C laju keausannya mencapai 0,98%, dan faktor keausannya 0,02451 mm3/N.km.Kata Kunci : pack carburizing, suhutempering,arang tempurung kelapa, kekerasan, keausan, baja SNI TP 2
LAJU KOROSI STAINLESS STEEL DALAM MEDIA AIR LAUT
Logam ferro banyak diaplikasikan dalam bidang keteknikan terutama pada lingkungan korosif. Sifat logam ferro yang korosif menyebabkan perlunya alternatif material dalam lingkungan korosif terutama pada lingkungan air laut. Salah satu material yang digunakan pada lingkungan air laut adalah stainles steel.Korosi adalah penurunan mutu logam yang diakibatkan oleh lingkungan atau zat kimia dan berpengaruh pada kondis suatu material yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti salinitas, pH, temperatur dan kelarutan oksigen dalam media korosi, dllPerhitungan laju korosi stainles steel dalam media air laut dilakukan dengan perendaman (Immersion) dengan metode kehilangan berat (Weight Losst) menggunakan media korosi air laut kondisi pasang dan kondisi surutDari hasil penelitian diperoleh bahwa pengurangan berat pada kondisi surut lebih besar dibandingkan kondisi pasang yang berpengaruh pada laju korosi.Kata kunci : Korosi, steinles steel , Metode kehilangan berat (Weight Lost), air laut, pasang, suru
PENGARUH RADIUS SUDU KUARTAL TERHADAP KINERJA TURBIN ANGIN SAVONIUS
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari penambahan variasi radius sudu kuartal pada sisi cekung sudu utamanya terhadap kinerja yang dihasilkan turbin angin savonius. 3 model turbin angin savonius yang digunakan pada penelitian ini yang masing-masing modelnya memiliki variasi yang berbeda-beda seperti turbin model 1 dengan penambahan variasi sudu kuartal yang radiusnya masing-masing 4.3 cm dan 3.1 cm, turbin model 2 dengan penambahan variasi sudu kuartal yang radiusnya masing-masing 4.5 cm dan 3.5 cm, serta turbin model 3 dengan tipe konvensional yang tanpa menggunakan sudu kuartal.Dari hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa variasi turbin angin savonius yang menghasilkan kinerja terbaik ada pada turbin model 1 dengan penambahan variasi sudu kuartal yang radiusnya masing-masing 4.3 cm dan 3.1 cm dengan nilai koefisien daya yang dihasilkan mencapai 0.201 pada fungsi TSR 0.134 dan nilai koefisien torsi yang dihasilkan sebesar 1.806 pada fungsi TSR 0.082. Sedangkan pada turbin model 2 dengan penambahan variasi sudu kuartal yang radiusnya masing-masing 4.5 cm dan 3.5 cm, nilai koefisien daya yang dihasilkan mencapai 0.194 pada fungsi TSR 0.125 dan nilai koefisien torsi yang dihasilkan sebesar 1.617 pada fungsi TSR 0.076, serta pada turbin model 3 dengan tipe konvensional yang tanpa menggunakan sudu kuartal, nilai koefisien daya yang dihasilkan mencapai 0.172 pada fungsi TSR 0.119 dan nilai koefisien torsi yang dihasilkan sebesar 1.548 pada fungsi TSR 0.078.Kata kunci : Turbin Angin Savonius, Sudu Kuartal, Radius, Koefisien Daya, Koefisien Torsi, Tip Speed Ratio
PENGARUH DIAMETER NOZZLE TERHADAP HASIL SERBUK DARI LIMBAH ALUMINIUM MELALUI METODE ATOMISASI AIR
Metalurgi serbuk merupakan metode pembuatan benda benda yang menggunakan logam serbuk sebagai bahan dasar. Proses dalam teknologi metalurgi serbuk terdiri dari pembentukan serbuk, compacting, sintering dan finising. Salah satu metode dalam pembuatan serbuk logam dengan metode atomisasi airDalam penelitian ini serbuk dibuat dengan menggunakan metode atomisasi air, Prinsip kerja alat atomisasi ini adalah aluminium limbah yang sudah dicairkan dialirkan melalui nozzle yang terletak dibagian atas, dengan variasi diameter nossel 5, 6 dan 7 mm kemudian di semprot dengan air dengan tekanan 25 kg/Cm2 dan sudut water sprayer 60. Selanjutnya cairan aluminium akan terurai menjadi butiran butiran serbuk.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diameter nossel mempengaruhi hasil produksi serbuk dengan metode atomisasi air. Hasil penelitian dengan diameter 5 mm menghasilkan serbuk 41,7%, diameter 6 mm menghasilkan serbuk 25% dan diameter 7 mm menghasilkan serbuk %. Hasil serbuk aluminium optimum dihasilkan pada diameter 5 mm. Bentuk serbuk hasil proses atomisasi air sebagian besar adalah irregular, acicular dan flake.Kata kunci: aluminium, Limbah, metalurgi serbuk , diameter nosse
VARIASI MEDIA PENDINGIN PADA THERMOELETRIC GENERATOR YANG MEMANFAATKAN PANAS BUANG AIR CONDITIONER
Panas buang pada air conditioner merupakan energy berkualitas rendah yang terbuang cuma-cuma ke lingkungan, kalor yang terbuang tersebut dapat dimanfaatkan untuk memanaskan modul thermoelektik generator (TEG) akan tetapi modul tersebut perlu didinginkan pada sisi lainnya agar tercipta perbedaan temperature pada kedua sisi modul.Pada penelitian ini dilakukan eksperimen dengan memanfaatkan dua media pendingin yaitu air dan refrigerant yang keluar dari evaporator pada sebuah heat exchanger tipe liquid plate yang besrfungsi sebagai heat sink.Hasil pengujian menunjukkan kinerja terbaik didapatkan pada media refrigerant dimana open circuit voltage (Voc) dan Short circuit current (Isc) yang dihasilkan dari 10 modul yang disusun seri adalah 9,31 Volt dan 270.8 mA dengan selisih temperature 21.08 oC, dan pada media pendingin air Voc 7,5 Volt , Isc 200,2 mA dengan selisih temperature 17,5 oC Kata Kunci: Air Conditioner, Thermoelectric generator, media pendingin, air, refrigeran
PENGARUH LAJU ALIRAN FLUIDA PENDINGIN TERHADAP UNJUK KERJA ALAT PENUKAR KALOR PIPA GANDA DENGAN PENGARAH BERALUR HELIX
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji alat penukar kalor pipa ganda dengan penambahan pengarah helix 40° dan tanpa pengarah, pada arah aliran fluida berlawanan arah dengan variasi kecepatan fluida dingin yaitu sebesar 0.67 m/s, 0.60 m/s dan 0.52 m/s. Dalam penelitian ini digunakan kondensor tipe double pipe dan untuk bahan shell digunakan akrilik dengan diameter dalam 74 mm dan diameter luar 80 mm. Pada tube menggunakan bahan stainless steel dengan diameter dalam 24 mm dan diameter luar 26 mm dengan panjang 1500 mm. hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa semakin cepat aliran fluida pendingin yang diberikan maka akan meningkatkan nilai efektifitas, laju perpindahan kalor dan penurunan temperature fluida panas. Penurunan temperatur yang diperoleh dengan menggunakan pengarah helix tiap variasi kecepatan sebesar 34,275 oC; 34,45 oC; 25,99 oC dan perpindahan kalor sebesar 7262,8; 6560,8; 5530 Watt. Kata Kunci : Pengarah helix 40ᵒ, kecepatan fluida dingin, perpindahan kalor
PERFORMA DAN EMISI GAS BUANG MESIN BENSIN DENGAN SISTEM EGR PANAS PADA CAMPURAN BAHAN BAKAR PREMIUM DAN HIGH PURITY METHANOL
Abstrak: Performa dan emisi gas buang mesin bensin system EGR panas pada campuran bahan bakar premium dan high purity methanol. Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di Indonesia menyebabkan meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak dan polusi udara. Konsumsi bahan bakar minyak meningkat mengakibatkan cadangan bahan bakar fosil menipis. Methanol merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang diharapkan dapat menggantikan bahan bakar fosil, karena dapat diperbarui dan ramah lingkungan. Eksperimen ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahan bakar campuran premium dan hight purity methanol (HPM) dengan sistem EGR(Exhaust Gas Recirculation) panas terhadap performa dan emisi gas buang pada mesin bensin, 4 silinder, 16 katup, sistem EFI dilengkapi dengan sistem EGR panas. Sebuah dynamometer merek DYNO-mite Land&Sea untuk mengukur daya mesin dan sebuah gas analyser Stargass untuk mengukur emisi gas buang. Pada saat pengambilan data menggunakan persentase campuran bahan bakar premium-methanol yaitu 0, 5 10 dan 15% atau M0/Premium murni, M5, M10 dan M15. Eksperimen dilakukan pada variasi putaran mesin 2500 rpm, 3000 rpm, 3500 rpm dan 4000 rpm, beban ditetapkan 25% dan bukaan katup EGR atau Opening of EGR Valve(OEV) 0% dan 7%. Analisa data dengan membandingkan antara tanpa EGR dan dengan EGR serta antara bahan bakar campuran methanol dengan premium murni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pemakaian bahan bakar campuran premium-methanol dan diaplikasikan dengan EGR, mengakibatkan kenaikan nilai torsi, daya dan efisiensi termal. Brake specific fuel consumption(BSFC), dengan bahan bakar campuran premium-methanol meningkat, sedangkan dengan EGR mengalami penurunan. Penerapan EGR menyebabkan temperatur gas buang turun yang berarti mengindikasikan emisi NOX turun. Sedangkan penurunan emisi gas buang terjadi pada CO rata-rata sebesar 42.6% dan HC turun rata-rata 10.6%, sementara CO2 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 22.62%.Kata Kunci: EGR, emisi, HPM, perform
Omniwheels Dengan Manipulator Untuk Robot Penjinak Bom
Penelitian ini bertujuan untuk merancang bangun Omniwheels robot sebagai prototipe robot penjinak bom. Kelebihan hasil rancangan ini adalah robot dapat bergerak ke segala arah tanpa melakukan manuver terlebih dahulu. Selanjutnya menganalisis kinematika mobile roboti untuk navigasi omniwheels mobile robot sebagai prototipe robot penjinak bom. Omni Wheel robot dapat bergerak mengikuti jalur pada permukaan bidang datar dan mempertahankannya dengan memanfaatkan sensor cahaya, atau line follower sistem. Roda omni adalah roda khusus dimana selain roda inti juga terdapat roda kecil tambahan yang memiliki sumbu tegak lurus terhadap sumbu roda. Sehingga inti roda pada mobile robot ini bisa berputar pada sumbunya seperti roda normal. Hal ini disebabkan karena adanya tambahan roda kecil roda inti juga dapat bergerak sejajar dengan sumbunya. Metode experimen dilakukan dengan dua motor yang bergerak saat bergerak arah sumbu x serta dua motor yang lain yang berfungsi saat bergerak arah sumbu y. Penelitian ini berhasil membuat prototipe robot yang deikenal dengan omni wheel mobile robot. Adapun interface yang digunakan untuk mengendalikan motor omniwheel adalah perangkat mikrokontroller ATmega 8535, alat ini berfungsi sebagai computer mini yang dapat melakukan eksekusi program kendali robot. Selanjutnya diletakkan 4 DOF (degree of freedom) manipulator pada omniwheels mobile robot untuk mengangkat sebuah benda yang mirip bom
DISTRIBUSI TINGKAT KARAT DAN LAJU KOROSI BAJA ST 37 DALAM LINGKUNGAN AIR LAUT DAN AIR TANAH
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat karat, jenis dan tingkat korosi yang terjadi pada st.37 pelat baja karbon yang digunakan dalam air laut dan air tanah. Pengujian dilakukan melalui eksperimen perendaman pada suhu kamar. Air laut yang berasal dari perairan sekitar kota Makassar dan air tanah dari pinggiran kota Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Bahan dasar yang digunakan adalah pelat baja St 37, dibuat dalam bentuk spesimen pelat datar. Pengujian dilakukan selama 10 minggu dengan selang waktu 2 minggu. Perhitungan laju korosi didasarkan pada penurunan berat badan. Mikroskop dilengkapi dengan persentase wilayah pengamatan cacat, baik untuk tingkat karat dan pitting pori-pori, berdasarkan Dot Bagan ASTM B 537-70 (80) dengan mengasumsikan bahwa jenis kerusakan permukaan adalah kombinasi dari segala bentuk korosi dari logam dasar. Pengamatan korosi, tampak bahwa spesimen setelah waktu 4 sampai 10 minggu perendaman, spesimen permukaan berkarat merata. Perubahan warna juga terjadi secara merata yaitu untuk spesimen air sungai kecoklatan dan air laut untuk spesimen coklat kehitaman. Perubahan warna ini sebagai bentuk produk korosi seragam (karat). Produk lainnya adalah pembentukan korosi pitting korosi di hadapan bintik-bintik kecil. Persentase karat dan korosi tingkat bila dilihat secara visual atau langsung spesimen terlihat di lingkungan laut cenderung lebih besar dari lingkungan air sungai