JA! UBL
Not a member yet
139 research outputs found
Sort by
Studi Kenyamanan Termal Ruang Kelas Di Universitas Bandar Lampung Dengan Perbandingan Data Empiris dan Persepsi
Kemajuan teknologi bukan saja berpengaruh pada satu aspek, namun terhadap lingkungan seperti efek rumah kaca. Sebagai akibat dari kurang ramahnya bangunan terhadap lingkungan, Pendekatan statis menunjukan lebih dari 50% energi listrik pada bangunan digunakan untuk pendinginan aktif. Universitas Bandar Lampung adalah salah satu tempat pendidikan swasta tertua di Bandar Lampung. Ruang R.3.4 adalah satu dari banyaknya ruangan yang sering menggunakan AC sebagai penghawaan buatan, namun apakah penggunaan penghawaan buatan dapat memberikan nilai kenyamanan yang tinggi pada penggunanya? Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat kenyamanan termal sebuah ruang perkuliahan, yang selalu menggunakan penghawaan buatan (AC) disetiap kegiatan belajar mengajar
Analisis Kenyamanan Pengguna Koridor Pada Pasar Bandarjaya Plaza
Pasar Bandarjaya Plaza merupakan pasar terbesar di Lampung Tengah. Kurang maksimalnya fungsi koridor yang terdapat pada pasar, mengakibatkan adanya permasalahan di dalam koridor pasar. Keadaan koridor pasar menunjukkan adanya okupansi koridor yang di lakukan oleh pedagang buah dengan asumsi bahwa area koridor merupakan area strategis untuk berjualan. Tujuan dilakukan penelitian tentang tingkat kenyamanan pengguna koridor pasar adalah untuk mendapatkan pengetahuan baru tentang kenyamanan pengguna koridor pada pasar tradisional serta dapat memberikan kontribusi positif kepada arsitek agar membuat koridor sesuai dengan ketentuan. Metode yang dipilih pada pembahasan yaitu metode gabungan yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif yang dilakukan secara berurutan, tahap pertama adalah metode kualitatif, pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara terbuka pada 30 orang responden yang dipilih dengan teknik incidental sampling. Tahap kedua adalah metode kuantitatif, pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara mendistribusikan kuesioner kepada 100 orang responden. Hasil temuan menunjukkan bahwa tingkat kenyamanan pengguna koridor terhadap okupansi koridor dengan skala rata-rata sebesar 2,5 dari nilai maksimal 4. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa tingkat kenyamanan pengguna koridor pasar rendah dan perlu adanya perbaikan dan peningkatan fasilitas penunjang pada koridor pasar tersebu
Identifikasi Area Berpotensi Macet di Kawasan Pendidikan Jl. Z.A. Pagar Alam Bandarlampung
Jalan raya merupakan jalan utama yang dapat menghubungkan satu kawasan ke kawasan lainnya. Salah satu jalan raya di Bandarlampung yang memiliki peran sangat penting yaitu Jl. Z.A. Pagar Alam. Jalan ini menghubungkan kawasan-kawasan penting di Kota Bandarlampung. Beberapa titik pada jalanan ini selalu terdapat kemacetan, khususnya pada jam-jam sibuk. Salah satu indikasi kemacetan yang terjadi adalah kendaraan yang ada saat ini sudah sangat banyak namun luasan jalan raya belum menyesuaikannya. Penyebab lainnya juga adalah perilaku pengguna jalan raya yang memarkirkan kendaraan mereka yang illegal. Identifikasi ini bertujuan untuk menganalisa kemacetan yang ada di kawasan pendidikan di Jl. Z.A. Pagar Alam. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi dan dokumentasi. Data dianalisis dengan membandingkan keadaan dengan peraturan yang berlaku. Hasil penelitian menunjukan 1) area parkir illegal pada kawasan ini merupakan tindakan yang didasari oleh tidak tersedianya lahan parkir yang cukup; 2) parkir ilegal di area ini juga dikarenakan bangunan pendukung seperti warung makan, tempat print dan photocopy yang tidak memiliki lahan parkir sehingga menggunakan bagian jalan raya untuk parkir illegal; 3) Kemacetan yang terjadi pada beberapa titik ini didasari oleh fenomena yang disebut bottleneck atau penyempitan jalur yang pada akhirnya membuat pengendara harus mengambil jalur tengah atau tindakan bergeser atau zig zag; 4) Parkir illegal pada beberapa titik di kawasan ini merupakan area yang tidak seharusnya ada tempat parkir illegal dikarenakan beberapa titik seperti pada titik A, C, D, dan E merupakan area dengan pertemuan jalan penghubung lainnya yang menjadikan area ini cukup terhambat pergerakan kendaraannya. Solusi untuk mengatasi permasalahan kemacetan yaitu: dilakukan pelebaran jalan, diberikan kantung parkir, merelokasi pedagang pinggir jalan ke jalan gang, dan memberikan ruang pada area kendaraan yang akan berbalik arah
Ruang Kontemplasi Sebagai Sarana dan Berapresisasi dengan Media Ruang Arsitektur yang Impresif
Kompleksitas kebutuhan masyarakat urban dapat diwadahi oleh ruang yang kontekstual terhadap kebutuhan fisik dan non-fisik, jiwa dan raga, place dan space, bahkan masa lalu dan masa depan. Sehingga simbiosis dari seluruh kebutuhan tersebut mampu terangkum dalam satu wadah yang ekspresif dan apresiatif terhadap kebutuhan masyarakat urban. Masyarakat urban dalam konteks budaya ’leisure’ membutuhkan ciptaan ruang yang impresif dan kontemplatif sebagai cerminan pemanfaatan waktu yang berharga. Untuk memanfaatkan waktu tersebut, dapat diakomodasi oleh ruang kontemplasi dimana kebutuhan jiwa sebagai hal yang mendasar memerlukan sesuatu yang impresif yang memberikan dampak terhadap jiwa. Sehingga dapat memandang jauh ke depan untuk mengisi ‘hidup’ lebih bermakna, dapat menciptakan sesuatu yang ‘indah’ (pemikiran, tindakan, dan karya), serta mampu mangambil bagian dalam hidup sebagai pengejawantahan makna dari ‘hidup itu indah’. Masyarakat urban yang sibuk dengan urusan karya dan bisnisnya terkadang merindukan waktu-waktu khusus untuk pemenuhan relaksasi jiwa sebagai upaya keseimbangan hidup antara kebutuhan jasmani dan rohani. Eksistensi dan apresiasi seni dan budaya merupakan suatu kebutuhan yang dapat diwadahi oleh ruang arsitektur sebagai wahana berkreasi, berekspresi, berelaksasi, bermeditasi dalam wujud berkontemplasi. Ekspresi sebagai jiwa dari proses kreatif dan apresiasi sebagai bagian dari pemahaman dan penikmatan, memerlukan media yang berupa ruang arsitektur yang impresif sebagai sarana berkontemplasi dalam konteks seni dan buday
Fenomena Terbentuknya Ruang Spatio-Temporal Di Kawasan Stadion Pahoman Bandarlampung
Aktivitas masyarakat Kota Bandarlampung yang semakin variatif membentuk hadirnya ruang-ruang publik yang tidak terencana. Ruang publik yang terbentuk hadir pada waktu-waktu tertentu. Dalam hal ini, ruang dan waktu mempunyai keterikatan yang kuat dalam kehidupan masyarakat perkotaan dan kebutuhan akan ruang publik. Dimensi waktu dalam konteks perancangan urban diistilahkan dengan “temporal”, sedangkan ruang yang dapat berfungsi mewadahi transformasi aktivitas sesuai dengan transformasi waktu disebut ruang “spatio-temporal”. Ruang spatio-temporal ini terlihat hadir di Kawasan Stadion Pahoman, Bandarlampung di mana kawasan ini mempunyai fungsi yang beragam sesuai dengan pergantian waktunya. Dengan menggunakan metoda fenomenologi, penelitian ini akan menganalisis ruang dan aktivitas apa saja yang terbentuk di kawasan Stadion Pahoman, dari pagi hingga malam dan dari Senin sampai Minggu. Hasil dari riset ini dapat digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan kawasan Stadion Pahoman di masa mendatang
Tipologi Bentuk Atap pada Arsitektur Jawa
Bentuk awal hasil karya Arsitektur Jawa adalah tempat tinggal Masyarakat Jawa. Manusia Jawa sangat memperhatikan orientasi diri dan refleksi sikap hidup mereka dan memasukkannya ke dalam berbagai simbol. Simbol-simbol ini kemudian diaplikasikan ke dalam Arsitektur Jawa, sehingga dapat dikatakan bahwa Arsitektur Jawa mencerminkan kedudukan pemiliknya. Tipologi arsitektur nusantara sendiri terbagi atas karakter atap dan pembagian ruang. Diantara kedua aspek tipologi tersebut, wujud fisik Arsitektur Jawa yang paling mudah diidentifikasi adalah bentuk atap. Bentuk atap rumah Arsitektur Jawa yang dibahas dalam penelitian ini adalah atap rumah bentuk Joglo, Limasan, dan Kampung. Penelitian ini memakai metode deskriptif. Data yang diambil dari buku maupun internet dikumpulkan, dijabarkan secara deskrptif, dan kesimpulan diambil dari data yang ada. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk atap suatu arsitektur Jawa adalah kedudukan sosial pemilik dan kedudukan ekonomi pemilik
Identifikasi Respon Pengunjung mengenai Keberadaan Desa Wisata Taman Purbakala Pugungraharjo Lampung
Indonesia memiliki banyak tempat tujuan wisata mulai dari wisata alam, bahari, sejarah, kuliner, maupun yang lainnya. Salah satunya adalah Desa Wisata Taman Purbakala Pugungraharjo. Lokasinya berada di kabupaten Lampung Timur yang berlokasi di Kecamatan Sekampung Udik, Provinsi Lampung. Menurunnya jumlah pengunjung Desa Wisata Taman Purbakala Pugungraharjo dalam berapa tahun terakhir menjadi permasalahan yang menarik untuk diteliti. Sehingga perlu diketahui bagaimana Respon pengunjung terhadap kenyamanan, kepuasan dan pengetahuannya agar dapat diminati kembali oleh para pengunjung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi, wawancara dan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan metode kuantitatif- deskriptif dengan bantuan software berbasis olah data excel kemudian dideskripsikan ke dalam kalimat- kalimat penjelas. Faktor- faktor yang dianalisis terbagi menjadi tiga, yaitu tingkat kenyamanan, tingkat kepuasan, dan tingkat pengetahuan pengunjung. Tingkat kenyamanan terdiri dari kenyamanan visual, aroma, suara, dan penghawaan. Sedangkan tingkat kepuasan terdiri dari kondisi infrastruktur, transportasi, keterjangkauan lokasi, fasilitas Desa Wisata, dan nilai manfaatnya bagi masyarakat. Untuk tingkat pengetahuan dilihat dari pengetahuan pengunjung dan sumber informasi yang didapatkannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Desa Wisata Taman Purbakala Pugungraharjo ini masih cukup diminati oleh wisatawan, namun masih perlu banyak peningkatan dan perbaikan. Terutama dalam hal infrastrktur atau sarana prasarana yang disediakan. Untuk penelitian selanjutnya, perlu diketahui lebih dalam mengenai harapan masyarakat setempat dan pengunjung untuk pengembangan Desa Wisata ini. Sehingga hasil temuan dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dan masyarakat dalam mengembangkan Desa Wisata Taman Purbakala Pugungraharjo sebagai Desa Wisata favorit sepanjang masa dan ramah terhadap lingkungan
Manfaat Ruang Terbuka dan Hubungannya dengan Kegiatan Interaksi Sosial Studi Kasus: Perumahan Nusa Tamalanrea Indah Makassar
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik ruang terbuka, kegiatan interaksi sosial masyarakat di ruang terbuka, dan hubungan antara ruang terbuka dan kegiatan interaksi pada Perumahan Nusa Tamalanrea Indah di Makassar. Pengumpulan data dilakukan dengan survei lokasi, teknik angket dengan 42 sampel pelaku kegiatan interaksi, dan dokumentasi kegiatan masyarakat perumahan tersebut untuk kemudian dianalisis dengan metode deskriptif dengan jenis data kualitatif dan kuantitatif. Kesimpulan yang didapatkan bahwa karakteristik ruang terbuka yang digunakan untuk melakukan kegiatan interaksi yaitu: 1) Letaknya di depan rumah, halaman masjid, tepi taman, jalan dan tanah kosong, jaraknya dari rumah sekitar 0-100 m dengan luasan ruang terbuka yang dominan digunakan ialah sekitar 0-12 m2, serta perabot ruang terbuka seperti: lampu taman dan tempat duduk dan pohon peneduh. 2) Kegiatan interaksi seperti: bercerita, bermain, menelpon dan bertransaksi jual beli. Adapun intensitas kegiatan interaksi yang dilakukan ialah dominan beberapa kali seminggu dengan durasi kegiatan sekitar 15-30 menit. 3) Variabel karakteristik ruang terbuka dan karakteristik responden yang signifikan bepengaruh terhadap terjadinya interaksi sosial ialah letak ruang terbuka tersebut, jarak ruang terbuka dari rumah, luasan ruang terbuka dan perabot ruang terbuka. Dari hasil penelitian, disarankan untuk mengelola kembali ruang terbuka yang sudah ada dan lengkapi dengan fasilitas, agar interaksi warga dapat berjalan dengan lebih baik
Analisis Penerapan Art Deco Pada Rumah Di Bandung Periode Perang Dunia I-II Studi Kasus: Tiga Villa dan Perumahan Dosen UPI
Gaya Art Deco merupakan gaya yang berkembang pertama kali di Perancis, pada periode Perang Dunia I hingga Perang Dunia II, yang dikenal juga dengan periode interwar. Perkembangan gaya Art Deco pada bangunan di Indonesia dibawa oleh para arsitek Belanda yang bekerja sekaligus menetap di Indonesia dan salah satu kota di Indonesia yang paling kaya akan bangunan bergaya Art Deco adalah kota Bandung. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menganalisa bagaimana gaya Art Deco diterapkan pada bangunan yang memiliki fungsi awal sebagai rumah tinggal di Bandung, periode Perang Dunia I hingga Perang Dunia II, berikut faktorfaktor yang mempengaruhi penerapannya, sehingga didapatkan gambaran yang pasti mengenai Art Deco pada bangunan-bangunan rumah tinggal tersebut, yang dalam penelitian ini mengambil studi kasus bangunan Tiga Villa dan Perumahan Dosen UPI. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif untuk mendapatkan kejelasan mengenai penerapan Art Deco pada bangunan-bangunan rumah tinggal di Bandung, periode Perang Dunia I hingga Perang Dunia II. Dimana hal tersebut mencakup sejarah masuknya Art Deco ke Bandung, dan pengkajian teori-teori mengenai Art Deco, berikut perubahan-perubahan yang terjadi, beserta faktor penyebab perubahan tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa bangunan Tiga Villa dan Perumahan Dosen UPI ini secara keseluruhan berbentuk utilitarian house, dimana bentuk ini merupakan bentuk bangunan yang masif, yang dipadukan dengan bentuk-bentuk streamline dengan balkon dan lantai atap bangunan yang berbentuk melengkung plastis mengalir (streamline) dan masif. Sedangkan penerapan Art Deco pada bentuk fasad bangunan terlihat dari permainan perbedaan ketinggian fasad, dan kanopi-kanopi yang membentuk elemen garis horisontal, hingga penerapan bentuk-bentuk porthole dan garis-garis fasad yang tegas. Berdasarkan analisa yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa secara garis besar, penerapan gaya Art Deco pada bangunanbangunan rumah tinggal di Bandung periode Perang Dunia I hingga Perang Dunia II yang berlangsung antara tahun 1914 – 1943, berupa penggunaan bentuk-bentuk streamline plastis maupun masif, atau geometris dan linear, ataupun penggabungan kedua bentuk tersebut pada bentuk badan bangunan. Sementara itu, dekorasi yang banyak dipakai adalah berupa garis-garis lurus vertikal dan horisontal, kurva melengkung, serta bentuk geometris
Studi Redesain Pasar Kangkung Teluk Betung (Tema : Arsitektur Modern Tropis)
Pasar Kangkung merupakan sebuah pasar tradisional yang cukup dikenal di wilayah Teluk Betung. Pasar Kangkung menjadi tujuan yang cukup diperhitungkan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya gaya hidup masyarakat, pasar tradisional mulai kehilangan citranya. Pasar tradisional yang tidak mengikuti perkembangan jaman lama-kelamaan mulai ditinggalkan. Masyarakat memiliki banyak pilihan tempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan cara yang lebih instan dan praktis. Misalnya dengan berbelanja online, atau pergi ke minimarket yang sekarang menjamur keberadaannya yaitu hanya dalam beberapa radius meter saja. Sebagai pasar tradisional yang dapat dikatakan merupakan citra masyarakat Teluk Betung ini, pasar kangkung diharapkan dapat bertahan dari pertumbuhan dan persaingan pasar-pasar modern. Oleh sebab itu penulis berkeinginan untuk meredesain pasar kangkung dengan pendekatan Arsitektur modern tropis. Dengan menggunakan pendekatan ini diharapkan Pasar Kangkung dapat mengikuti perkembangan jaman dan tidak kalah saing dengan pasar modern dan terus menarik minat pembeli untuk datang ke pasar. Penulis juga berharap agar dapat terus mendukung keberlangsungan pasar tradisional yang telah banyak berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat teluk betung ini