139 research outputs found

    Desain Dan Perencaaan Taman Wisata Yang Berwawasan Mutu Dan Lingkungan Serta Berbasis Teknologi Informasi (Studi Kasus : TWA DAM Raman)

    Full text link
    Pada saat ini, peran pariwisata digolongkan sebagai industri terbesar di indonesia bahkan di dunia dan merupakan sektor ekonomi yang memiliki pertumbuhan yang sangat cepat dan penyedia lapangan pekerjaan yang banyak. Salah satu sektor pariwisata yang berkembang di Indonesia adalah wisata alam, Dam Raman sebagai salah satu potensi wisata alam yang keberadannya belum dapat dikembangkan dan dikelola dengan baik.  Perencanaan tapak TW Dam Raman memperhatikan beberapa aspek yaitu : Wawasan Lingkungan,  Metro Tempo Dulu dan Keberpihakan terhadap masyarakat sekitar. Dibangunnya TW Dam raman, diharapkan mempunyai visi dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitarnya. Selain dari segi ekonomi, edukasi serta partisipasi  mengenai pariwisata diharapkan terbentuk baik untuk masyarkat sekitanya. Standar Internasional ISO 9001:2008 yang menetapkan persyaratan sistem manajemen mutu untuk Taman Wisata Dam Raman  yang  perlu menunjukkan kemampuannya secara terus menerus dalam menghasilkan pelayanan yang baik terhadap pengunjung maupun stakeholder, serta Sistem manajemen lingkungan (SML) yakni dengan standard ISO 14001:2004 merupakan sebagai dari sistem manajemen secara keseluruhan yang termasuk di dalamnya struktur organisasi,aktivitas perencanaan, pertanggungjawaban, pelaksanaan, prosedur, dalam hal di obyek wisata dengan didukung oleh Sistem informasi e-tourism dalam suatu pemahaman yang sederhana dapat didefinisikan sebagai satu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang serupa

    Sertifikasi Arsitektur/Bangunan Hijau: Menuju Bangunan Yang Ramah Lingkungan

    Full text link
    Arsitektur / Bangunan hijau merupakan gerakan moral. Konsep green building yang telah dirumuskan dalam sistem rating oleh lembaga-lembaga hijau, telah menjadi bagian dari market/pasar dan tren bangunan yang dilatarbelakangi oleh kesadaran yang semakin tinggi dari warganya untuk mulai peduli dengan lingkungan. Konsep hijau bangunan dapat dikuantifikasikan berdasarkan pemeringkatan melalui beberapa macam kriteria yang dirumuskan oleh lembaga-lembaga rating green building, melalui proses sertifikasi hijau. Beberapa negara maju telah melaksanakan program ini yang pada perkembangannya diikuti oleh negara-negara lain termasuk Indonesia.Sertifikasi hijau pada bangunan di Indonesia sangat penting dilakukan mengingat perkembangan konstruksi khususnya bangunan gedung sudah semakin maju. Dengan proses sertifikasi hijau ini sebagai bagian dari bangunan hijau dunia, diharapkan pembangunan di Indonesia dapat selaras dengan lingkungan dengan minimnya dampak yang ditimbulkan baik oleh proses perancangan, konstruksi maupun rekonstruksinya

    Kajian Pengembangan Apartemen Wisata Sebagai Hunian Sementara Wisatawan

    Full text link
    Apartemen wisata sebagai hunian (tempat tinggal) bagi profesi ilmuan, peneliti maupun profesional yang tergolong sebagai pengunjung dengan kategori special interest. Pada umumnya melakukan kegiatan secara aktif dalam aspek potensi alam dan budaya yang disertai unsur edukatif. Sehingga bagi mereka yang memiliki profesi tersebut dapat melakukan kegiatan sambil berwisata dalam waktu tertentu di kawasan yang nyaman. Apartemen wisata sebagai hunian bagi wisatawan asing maupun lokal yang menghendaki tinggal beberapa waktu di Pantai Merak Belantung. Dengan adanya apartemen wisata ini diharapkan dapat menambah fasilitas dan menjadi fasilitas penunjang di kawasan Pantai Merak belantung dan sekitarnya, sehingga akan meningkatkan minat wisatawan asing maupun lokal untuk berkunjung dengan waktu tinggal yang lama

    Kebijakan Transportasi Kota Bandar Lampung

    Full text link
    Perbaikan transportasi Kota Bandar Lampung dapat dilakukan dengan memilih dua jalur perbaikan yaitu jalur penanganan volume lalu lintas dan kapasitas jalan. Perbaikan volume berarti mendorong pengembangan angkutan umum, sementara perbaikan kapasitas berarti pembangunan dan pelabaran jalan. Opsi yang paling realistis bagi Bandar Lampung adalah pengembangan angkutan umum. Selain karena keterbatasan anggaran untuk menaikkan kapasitas jalan, juga karena opsi ini akan bersifat berkelanjutan

    (RE) Interpretasi Arsitektur Vernakular: Humanis, Progresif, Dan Kontekstual Dalam Peradaban Manusia

    Full text link
    Genuinely, vernacular architecture is to think humanist, it is the process and the product of human thoughts, senses, intentions and activities, as an effort to give meanings to their environment. Vernacular architecture by nature is progressive and contextual, since it appears to answer current environment needs and challenges. Vernacular theorys dialogues, and practices, are always interesting to re-study. This writing is an effort to study several related things to common vernacular architecture movement. From middle ages to renaissance era appears to be an important point on discussing vernacular architecture theories to date. The purpose of re-interpreting vernacular architecture, within todays context is, as an attempt of human to re-meaning its environment through the way of humanism. Aim for todays humanist, progressive, and contextual vernacular architecture.Arsitektur vernakular sejatinya adalah berfikir humanis, karena merupakan proses sekaligus produk cipta, rasa, karsa dan karya manusia sebagai upaya memberi makna terhadap lingkungannya. Arsitektur vernakular bersifat progresif dan kontekstual, karena berkembang menjawab tantangan lingkungan dan kondisi terkininya. Dialog teori vernakular, dan praktiknya, merupakan hal yang menarik untuk selalu dikaji kembali. Tulisan ini berusaha mengkaji beberapa hal terkait perkembangan gerakan arsitektur vernakular secara umum. Abad pertengahan menuju renaissance merupakan titik penting dalam membahas perkembangan teori-teori vernakular hingga saat ini. Tujuan memaknai kembali arsitektur vernakular, dalam konteks perkembangan dunia saat ini, adalah sebagai usaha manusia memaknai kembali lingkungannya melalui cara berfikir yang humanis. Menuju sebuah arsitektur vernakular masa kini yang humanis, progresif dan kontekstual

    Refurbish The Rubbish-Land

    Full text link
    Landfill nowadays is still considered as the cheapest solution in waste management especially for municipalities in developing countries. For these countries, roughly, it only requires an open space in particular location with several precondition, manual collecting mechanism (sometimes involving private partnerships), relatively low cost maintenance (mainly for the collecting instrument e.g.: trucks, containers, etc) and some very brief regulation for the waste management. The technical requirements and regulations for a landfill has been developed from time to time and proved it has increased to high level of safety and effectiveness of a landfill operation, but in the end it only causes a high number of operational costs. Even furthermore in European Union level, one directive about Landfill (Council Directive 1999/31/EC of 26 April 1999 on the landfill of waste) has been adapted and amended among the member countries only to result a so called âModern Landfillâ which characterized with strict controls of the potential impacts and sophisticated high cost technology. But this modern landfill still cannot cover the fact that the environmental impacts behind each landfill arent disarmed yet. Therefore recently there are even more and more landfills or ex-landfills are putting under reclamation while as a substitute, some alternatives of waste management have been introduced and proved to be more environmental friendly. There are many open landfill sites in Indonesia, which is mainly the general household rubbish, and most of the sites are used without any appropriate treatments and maintenances. Therefore nowadays, there are many concerns, issues, and problems following the existing landfills operation as well. And it will be even much more in the future regarding to the environmental pre-caution. The objective of this paper firstly is to initate a way to prepare the transition of waste management in such developing country as Indonesia into non landfill approaches in context of landscape design and planning by creating development scenarios of reuse and reclamation the space within environmental, economical, social and time concern. Secondly, introducing new methods and technologies of municipal waste management as alternatives solutions particularly in sustainable ecologically ways for developing countries would be the inseparable complement of this paper

    Negotiating Space and Space of Negotiation: Consuming Spaces in the Urban Kampong

    Full text link
    The understanding of place cannot be undertaken without major theoretical endeavor. To know something as apparently simple as the social relations of place and its consumption is to have to engage with a sophisticated array of social theorizing. Built environment (space) will be naturally transformed into a place by desirable quality of human intervention: people permeate it with life and spirit of place. Space is a material product, in relation with other material elements â among others, men, who themselves enter into particular social relations, which give to space a form, a function, a social signification. (Castells,1979: p.115). It is emphasized by Lefebvre proposition about (social) space is a (social) product (Lefebvre, 2007, p.26). Therefore, it is relevant to analyze urban space and its architecture as the spatial products of the socio-cultural representation. Meanwhile, Habraken mentioned that intimate and unceasing interaction between people and the forms they inhabit uniquely defines built environment (Habraken, 2000). In addition, Habraken argued that built environment is universally organized by the Orders of Form, Place, and Understanding. These three fundamental, interwoven principles correspond roughly to physical, biological, and social domain. For those grounds, this paper is an attempt to develop theoretical understanding about production and consumption of social space on the basis of everyday life spatial practices in the domestic setting of Urban Kampong settlement

    Archipelascape A Master Plan For Regenerating The Archipelagic Country

    Full text link
    The regeneration of coastal cities is one of the key architectural, urban design and planning innovation with the of industrial decline, enhance livability and sustainability and transform the image of the Indonesian archipelagic and marine decline. Thus, the various design and planning model for waterfront regeneration could be able to develop and expand into mixed-use and hybrid function which invent new conjunction of public and private interest. In this emerging waterfront projects, inter-coastal cities competition turns the city into a product which is marketed and sold, focusing attention on the imagery which iconed the city and differentiates it from other coastal cities. Such images includes iconography of local waterfront and function is linked to the rise brand marketing in the archipelagic context.These planning activities show there have been a wide array of responses the opportunities and problems associated with spatial networks of coastal areas of metropolitan cities. They recognize a process starting with growing the nodes (coastal activities centers) and clustering some sub spatial networks through bridging them by water transportation systems. This process is shaped by creating multi-layered network of regional coastal cities into some clusters and corridors in the context of waterfront metropolitan regeneration in archipelagic country. There are three level of network in archipelagic spatial planning concepts that is cities network, regional network (intra-island and inter-island) and global network for fostering the ability of other regions to rival Jakarta city dominance in activities and drawing power. This is only when the regional coastal cities have acquired this power can there be a harmonization of centralized and decentralized planning policy

    Spatial Enclosure Sebagai Dasar Penataan Kampung Kota

    Full text link
    Terdapat beberapa macam pendekatan di dalam menata sebuah kawasan/tempat â dalam konteks perancangan kota (urban design) - termasuk dalam menata kampung kota, terkait dengan eksistensi ruang terbuka (jalur sirkulasi) yang merupakan ruang yang multiperan dalam menentukan kelayakan huni dalam kampung kota tersebut. Salah satu pendekatan tersebut adalah dengan mengkaji derajat keruangan â spatial enclosure â pada ruang terbukanya sebagai dasar penataan. Derajat keruangan memiliki pengaruh psikologis terhadap manusia yang berada di dalamnya, yang bermuara pada persepsi terhadap suatu tempat, termasuk kampung kota. Dengan mengkaji beberapa literatur terkait, maka dapat diketahui pentingnya spatial enclosure ini sebagai sebuah metode dalam menata sebuah tempat, khususnya pada tempat-tempat dengan eksistensi ruang terbuka yang kritis seperti pada kampung kota

    126

    full texts

    139

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JA! UBL
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇