139 research outputs found

    Perancangan Arsitektur Ramah Lingkungan: Pencapaian Rating Greenship GBCI

    Full text link
    The design of eco-friendly building has become imperative in anticipation of environmental degradation and climate change in the world. Indonesia already has institutions GBCI (Green Building Council of Indonesia) who does green building certification, but still very few (less than 5%) buildings that are certified according to criteria of green building. This paper aims to review the architectural design aspects of green building rating greenship in order to achieve the GBCI.Design analysis using empirical data with descriptive method is based on version 1.1 GBCI rating tools for new buildings especially in the design aspect. Feasibility study includes architectural design consists of a minimumlimit of building area, eco-friendly, environmental management, earthquake resistance, fire protection, accessibility and availability of information and data, is a basic requirement of Building Permit (IMB).Appropriate Land, Proportion Size & Quality green open space that aims to maintain or expand the city greenery to improve the quality of the microclimate, reduce CO2 and pollutants; prevent soil erosion, reduce the burden on the drainage system; maintain the balance of water and ground water systems.Criterion is the presence of a vegetation landscape area (softscape) that is free of the building structure and building simple structures garden (hardscape) above ground or below ground. Development / Revitalization which aim is to avoid construction in green areas and avoid opening new land. General accessibility facilities which aim is to encourage development in a place that al ready has network connectivity and increase the use of the building to facilitate the achievement of the community in carrying out daily activities and avoid the use of motor vehicles. Planning for public transport, pedestrian access and pedestrian paths for cycling and city parks, the purpose of the garden greenery maintain or expand the city to improve the quality of the microclimate, reduce CO2 and pollutants; prevent soil erosion, reduce the burden on the drainage system; maintain balance water balance and groundwater systems. So having micro climate comfort.Abstrak - Perancangan bangunan ramah lingkungan sudah menjadi keharusan dalam mengantisipasi kerusakan lingkungan dan perubahan iklim di dunia. Indonesia sudah memiliki lembaga GBCI (Green Building Council Indonesia) yang melakukan sertifikasi green building, tetapi masih sedikit sekali (kurang dari 5%) bangunan yang memiliki sertifikat sesuai kriteria bangunan ramah lingkungan. Paper ini bertujuan untuk meninjau aspek desain arsitektur gedung ramah lingkungan dalam rangka mencapai rating greenship GBCI. Analisis perancangan menggunakan data empiris dengan metode deskriptif berdasarkan rating tools GBCI versi 1.1. untuk bangunan baru khususnya pada aspek desain. Kajian perancangan arsitektur meliputi kelayakan terdiri dari batasan minimal luas bangunan yang ramah lingkungan, pengelolaan lingkungan, ketahanan gempa, pencegahan bahaya kebakaran, aksesibilitas dan ketersediaan informasi data, merupakan persyaratan baku ijin mendirikan bangunan (IMB). Tepat guna lahan, proporsi luas dan kualitas ruang terbuka hijau yang bertujuan untuk memelihara atau memperluas kehijauan kota untuk meningkatkan kualitas iklim mikro, mengurangi CO2 dan zat polutan; mencegah erosi tanah; mengurangi beban sistem drainase; menjaga keseimbangan neraca air bersih dan sistem air tanah. Tolak ukurnya adalah adanya area lansekap berupa vegetasi (softscape) yang bebas dari striktur bangunan dan struktur sederhana bangunan taman (hardscape) di atas permukaan tanah atau di bawah tanah. Pembangunan/revitalisasi kawasan yang bertujuan untuk menghindari pembangunan di lahan hijau dan menghindari pembukaan lahan baru. Fasilitas aksesibilitas umum yang bertujuan untuk mendorong pembangunan di tempat yang telah memiliki jaringan konektivitas dan meningkatkan pencapaian penggunaan gedung sehingga mempermudah masyarakat dalam menjalankan kegiatan sehari-hari dan menghindari penggunaan kendaraan bermotor. Merencanakan transportasi umum, akses pejalan kaki dan jalur pedestrian untuk bersepeda dan taman-taman kota. Tujuan dari taman tersebut untuk memelihara atau memperluas kehijauan kota untuk meningkatkan kualitas iklim mikro, mengurangi CO2 dan zat polutan; mencegah erosi tanah; mengurangi beban sistem drainase; menjaga keseimbangan neraca air bersih dan sistem air tanah. Sehingga memiliki kenyamanan iklim mikro

    Study on Architectural Characteristic and Natural Environment Control System of Japanese Traditional House: Case Study Traditional Houses in Kitakyushu City, Japan

    Full text link
    Abstract — Japanese traditional housing, in its approach to harmony with natural surroundings and environment has formed as unique shape and philosophy which become Japan National property. In the other hand Japan traditional house recently becomes not popular in Japan while Japanese contemporary house has technology method for controlling its environment. However high technology needs more energy to consume and this causes the other problem of environment. This study of traditional houses, located in Kitakyushu City, aims to investigate the architectural characteristic of Japanese traditional house such as structure, plan, material, and natural environment control system. In the beginning, two traditional houses have been selected as target of study; those are Takasaki Old Residence and Shimizu Old Residence in Yahata Nishi Ward. The first section is devoted to the analysis of basic form and structure in three traditional houses. In the following section, the study examines methods used to control the architectural environment in Japanese traditional house which we can call natural environment control system. In conclusion, a preliminary outline of the architectural characteristic and natural environment control system analysis are given. Moreover, the result of this study can be expected become inspiration for recent house construction

    Identifikasi Penataan Reklame Di Kota Medan

    Full text link
    The urban grew along with the growing economic and technological developments. Medan city developed along with the rate of economic growth, social and physical development of cities experiencing the dynamics from time to time in accordance with conditions of development. The rise of outdoor billboards in the city of Medan show high interest in the billboard business people who were involved in the creative industries due to the high demand of the market who want to promote the product through media advertising campaign. This is due to the type of media is very effective and efficient in delivering a product message that will be presented to potential customers who do not have many opportunities to make use of other promotions. The purpose of this study is to establish the placement of billboards deployment area. This study focuses on the corridor leading to the city core (Merdeka field) with respect to some criteria such as protocol roads area, the region's historic, commercial and business district, residential areas and areas of government. ---Kota tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya perkembangan ekonomi dan teknologi. Kota Medan berkembang seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi, sosial dan pembangunan fisik kota yang mengalami dinamika dari waktu ke waktu sesuai dengan kondisi perkembangan. Maraknya reklame luar ruang di Kota Medan menunjukkan tingginya minat pelaku bisnis reklame yang terjun dalam bentuk industri kreatif yang disebabkan tingginya permintaan pasar yang ingin mempromosikan produk melalui media promosi reklame. Hal ini disebabkan jenis media ini sangat efektif dan efisien dalam menyampaikan pesan produk yang akan disampaikan kepada konsumen potensial yang tidak memiliki banyak kesempatan memanfaatkan media promosi lainnya. Tujuan dilakukannya kajian ini adalah menetapkan kawsan penyebaran peletakan reklame. Identifikasi ini menitikberatkan pada koridor yang menuju inti kota (lapangan Merdeka) dengan memperhatikan beberapa kriteria seperti kawasan jalan protokol, kawasan bersejarah, kawasan komersial dan bisnis, kawasan perumahan dan kawasan pemerintahan.

    Rupa Bentuk Menara Masjid Kudus, Bale Kulkul dan Candi

    Full text link
    Holy Mosque tower building is often equated with Bale Kulkul in such form, and the temples in East Java like Jago Temple Left Temple, and Temple Singasari. This perception arises because of the Tower of the Holy Mosque and Bale Kulkul have such a section shaped like a bale, constructed a wooden frame and rafters are hung under atapnya.Juga because the tower and the temple of the Holy Mosque in East Java and is considered to have a high solid parts that hold the bale the. This paper is the result of a preliminary study on the shape of such a tower building of the Holy Mosque, which is comparable with Bale Kulkul, Jago temple, Kidal temple, and the temple Singasari. The results of this study are expected to provide additional understanding of the Holy Mosque tower that has been informed via the internet, and some previous studies.Bangunan Menara Masjid Kudus sering dipersamakan rupa bentuknya dengan Bale Kulkul, dan candi-candi di Jawa Timur seperti Candi Jago Candi Kidal, dan Candi Singasari. Persepsi demikian muncul karena Menara Masjid Kudus dan Bale Kulkul memiliki bagian yang rupa bentuknya seperti bale, berkonstruksi rangka kayu dan terdapat Jurnal Arsitektur Universitas Bandar Lampung, Desember 3 201 28kentongan yang digantungkan di bawah atapnya.Juga karena Menara Masjid Kudus dan bangunan candi di Jawa Timur dianggap memiliki bagian pejal dan tinggi yang menyangga bale tersebut. Tulisan ini merupakan hasil dari penelitian awal tentang rupa bentuk pada bangunan Menara Masjid Kudus, yang diperbandingkan dengan Bale Kulkul, Candi Jago, Candi Kidal, dan Candi Singasari. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi pemahaman tambahan tentang Menara Masji

    Prediksi Settlement Pondasi Tiang Cara Hand Method vs Pile Driving Analysis (PDA) di Kota Palembang

    Full text link
    Foundation reduction calculation end bearing foundation and friction pilehand Boussinesq theory method based on the simplification of the theory of soil mechanics. To determine the level of accuracy of the calculation of this hand method, conducted a comparison with the results of a decrease in the pole using a PDA Test . It is assumed that there is a positive correlation between the decrease in mast results of Static Load Test and PDA Test, so that PDA Test results of the settlement can be considered to replace the results of the settlement of Static Load Test.Comparison of reduction in foundation using hand method borepile Boussinesq theory and the PDA Test conducted at 3 locations in the city of Palembang. The result shows that the calculation of hand method Boussinesq theory can predict a moderate decrease in pile foundation in these three locations. In addition, a practical calculation for settlement of the pole, based on the ultimate load of the column, so the decline in each column can be estimated, so that differential settlement can be predicted. ---Perhitungan penurunan pondasi end bearing dan friction pilehand method teori Boussinesq didasarkan penyederhanaan teori mekanika tanah. Untuk mengetahui tingkat keakurasian perhitungan hand method ini diperbandingkan dengan penurunan tiang hasil PDA Test. Dengan asumsi dengan adanya korelasi positif antara penurunan tiang hasil Static Load Test dan PDA Test, sehingga hasil settlement PDA Test dapat dianggap menggantikan hasil settlement dari Static Load Test. Perbandingan penurunan pondasi borepile hand method teori Boussinesq dan PDA Test yang dilakukan 3 lokasi di Kota Palembang menunjukkan perhitungan hand method teori Boussinesq secara moderat dapat memprediksi penurunan pondasi tiang di ketiga lokasi. Selain itu perhitungan praktis settlement tiang ini didasarkan pada beban ultimit kolom sehingga penurunan masing-masing kolom dapat diestimasi sehingga differential settlement dapat diprediksi

    The Impact of Urban Sprawl on Air Quality: A Case Study of Hua-Takae Community, Latkrabang District, Bangkok, Thailand

    Full text link
    Abstract â The purpose of this study is to investigate the impacts of urban sprawl in the Latkrabang District which directly affects to Hua-Takae Community. Effects of sprawl development were examined to understanding sprawl condition in the district. Calculating a sprawl condition in the district is equal to 33.5 of 100 that shown a low degree of sprawl. Nevertheless, Hua-Takae community are expected to be affected by urbanization and trends of growing population from various sprawl development factors including airport, industrial estates, educational center, and motorway. Lack of public transportation provision in the community by using automobile dependency that resulting air quality. The air pollution analysis based on traffic volume and population growth was found that the major sources were passenger car and pick-up and the major pollutants were CO and PM. The vehicle emissions of mobile sources in 2005, 2010, and 2015, are also found that higher emission standards. The emissions from mobile sources, therefore, it needs to be addressed the related policy for improving air quality of community in future

    Evaluasi Kepuasan Penghuni pada Fasilitas Hunian Perusahaan Industri Perkebunan

    Full text link
    Evaluation of the occupant satisfaction in the residential facilities of plantation industry wa a spesific research. The specific of research was caused its occupancy status was the royalty. The status of the royalty only owned for occupant still working in the company. The propose of this research was to find out the most important residential factors and the occupant satisfaction. The research also aimed at determining the relationship between occupant characteristic and its occupancy factors. The method of this research was a combination method between qualitative abd quantitative and it was conducted sequentially. Method of data collection and data analysis were carried out in accordingly. Analysis in qualitative data was content analysis while quantitative data used statistical methods such as frequency analysis, factor analysis, and correlation analysis. This research found that the quality and condition of building were the most important residential factors but the occupants did not feel satisfied. Education and income were the occupancy characteristics which correlated with the occupancy factor such as bathroom and the relationship of space front yard area. Another correlation wa indicated by the education characteristic and the flexibility factors modified the function and form. ---Evaluasi Kepuasan penghuni pada fasilitas hunian industri perkebunan merupakan penelitian yang khas. Kekhasan kajian ini disebabkan status huniannya yang bersifat hak pakai. Status hak pakai hanya dimiliki selama penghuni masih bekerja di perkebunan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor hunian paling yang dianggap penting dan dirasakan puas oleh penghuni. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik penghuni dan faktor-faktor huniannya. Metode yang digunakan pada penelitian ini merupakan metode gabungan antara kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan secara berurutan. Metode pengumpulan dan analisis data dilakukan sesuai tahap penelitiannya. Analysis yang digunakan pada data kualitatif berupa content analysis sedangan pada data kuantitatif menggunakan metode statistik berupa analisis frekuensi analisis faktor, dan analisis korelasi. Penelitian ini menemukan bahwa kondisi dan kualitas bangunan merupakan faktor hunian yang paling dianggap penting namun tidak dirasakan paling puas oleh penghuni. Pendidikan dan penghasilan merupakan karakteristik penghuni yang berkorelasi dengan faktor-faktor hunian berupa KM/WC dan hubungan ruang serta luas halaman depan. Korelasi lainnya ditunjukkan oleh karakteristik pendidikan dan faktor keleluasaan mengubah fungsi dan bentuk

    Kajian Konsep Adaptive Reuse Sebagai Alternatif Aplikasi Konsep Konservasi

    No full text
    Everything that has been unused it a place, area or building that are old and in poor condition and not well maintained will cause a scene will destroy to anyone who looked. This condition can occur because of the place or the building no longer has a function and benefits. Not care and indifference is usually the major factor that makes a place or an abandoned building. Actually, if anyone can be smarter and more careful in looking at these conditions, there is a lot of potential in a place or old building was abandoned and not maintained. One step that can be done is to recreate such a place or a building that is not used again become a place, building or something with a new function that can bring many benefits and advantages both from an economic, cultural and social. This step is commonly known as Adaptive Reuse. Adaptive reuse or reuse of the most frequently just supposed with a conservation concept. The meaning itself is the preservation or protection. In other words if these two concepts just supposed to create a change in the optimal function while protecting or maintaining the true shape of something you want to function better than the faced ( physical ) and the historical value of the place or building . However, in this implementation is sometimes controversial concept, because this concept is considered as an act of demolition of a place or a building that can make the loss of historical value. in other word the use of functions on the space of obstruction or lack of proper building is also often a problem that must be considered again.Segala sesuatu yang sudah tidak terpakai baik itu sebuah tempat, kawasan atau pun bangunan yang sudah berumur tua dan kondisinya rusak serta tidak terawat akan menimbulkan sebuah pemandangan yang menggagngu pada siapa saja yang melihat. Kondisi ini bisa terjadi karena tempat atau bangunan tersebut sudah tidak memiliki fungsi dan manfaat. Ketidak perdulian dan sikap acuh biasanya menjadi factor besar yang membuat sebuah tempat ataupun bangunan terbengkalai. Sebenarnya jika setiap orang dapat lebih pandai dan cermat lagi dalam melihat kondisi tersebut, banyak sekali potensi yang terdapat pada sebuah tempat atau bangunan tua yang terbengkalai dan tidak terawat itu. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah seperti memfungsikan kembali tempat ataupun bangunan yang sudah tidak dipergunakan lagi menjadi sebuah tempat, bangunan ataupun sesuatu dengan fungsi baru yang dapat mendatangkan banyak manfaat, dan keuntungan baik dari sudut ekonomi, budaya dan social. Langkah ini biasa dikenal dengan Adaptive Reuse. Adaptive Reuse atau penggunaan kembali pada  biasanya sering disandingkan dengan sebuah konsep konservasi. Arti konservasi itu sendiri adalah pelestarian atau perlindungan. Dengan kata lain jika kedua konsep ini disandingkan akan menciptakan sebuah perubahan fungsi yang optimal dengan tetap melindungi ataupun memelihara keaslihan dari sesuatu yang ingin difungsikan baik dari fasad ( fisik ) maupun nilai sejarah dari tempat atau bangunan tersebut. Namun dalam pelaksaannya konsep ini terkadang menimbulkan kontroversiSegala sesuatu yang sudah tidak terpakai baik itu sebuah tempat, kawasan atau pun bangunan yang sudah berumur tua dan kondisinya rusak serta tidak terawat akan menimbulkan sebuah pemandangan yang menggagngu pada siapa saja yang melihat. Kondisi ini bisa terjadi karena tempat atau bangunan tersebut sudah tidak memiliki fungsi dan manfaat. Ketidak perdulian dan sikap acuh biasanya menjadi factor besar yang membuat sebuah tempat ataupun bangunan terbengkalai. Sebenarnya jika setiap orang dapat lebih pandai dan cermat lagi dalam melihat kondisi tersebut, banyak sekali potensi yang terdapat pada sebuah tempat atau bangunan tua yang terbengkalai dan tidak terawat itu. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah seperti memfungsikan kembali tempat ataupun bangunan yang sudah tidak dipergunakan lagi menjadi sebuah tempat, bangunan ataupun sesuatu dengan fungsi baru yang dapat mendatangkan banyak manfaat, dan keuntungan baik dari sudut ekonomi, budaya dan social. Langkah ini biasa dikenal dengan Adaptive Reuse. Adaptive Reuse atau penggunaan kembali pada  biasanya sering disandingkan dengan sebuah konsep konservasi. Arti konservasi itu sendiri adalah pelestarian atau perlindungan. Dengan kata lain jika kedua konsep ini disandingkan akan menciptakan sebuah perubahan fungsi yang optimal dengan tetap melindungi ataupun memelihara keaslihan dari sesuatu yang ingin difungsikan baik dari fasad ( fisik ) maupun nilai sejarah dari tempat atau bangunan tersebut. Namun dalam pelaksaannya konsep ini terkadang menimbulkan kontrovers

    Pengaruh Pasir pada Pembuatan Beton Sikat di Dinding

    Full text link
    The use of natural stone floor and wall permeability can cause the impact natural building of buildings architecture. Concrete finishing comb is the use of small natural stone the comb after begin tobe dry stir up the surface in the form of small natural stone ( krikil ). Because the concrete comb is one of many types of natural stone used in buildings, especially in the assembly to the floor, but lets also be assembly on the wall. Installation on the wall is difficult job and should be done by an experienced person, stir mixture 1 pc : 2 sand : 3.5-4 krikil comb concrete is adequate in comparison to concrete employment comb. But the results of the experiment it was found that the installation of the concrete wall comb the sand influential role for successful employment comb concrete wall influential role enough sand to concrete employment outcomes comb . From the test results it was found that the greatest impact of sand for concrete up the comb , the sands of time are not suitable for the job Translucent concrete comb mounted on the wall , whereas sand Mount Sugih  and  Cape of Star has good properties for the installation of concrete brush on the floor and on the wall.Penggunaan bahan batu alam padadinding dan lantai bangunan dapat memyebabkan kesan alami pada bangunan arsitektur. Beton sikat adalah bentuk finishing yang menggunakan batu krikil yang di sikat setelah adukan perekatnya mulai mongering sehingga permukaannya berupa batu alam kecil-Jurnal Arsitektur Universitas Bandar Lampung, Desember 3 201 23kecil (krikil). Karena itu beton sikat merupakan salah satu dari jenis batu alam yang digunakan pada bangunan terutama pada pemasangan untuk lantai, tetapi memungkinkan juga di pasang pada permukaan dinding. Pemasangan pada dinding merupakan pekerjaan cukup sulit dan harus dikerjakan oleh orang yang berpengalaman, campuran adukan 1 pc : 2 pasir : 3,5-4 krikil beton sikat merupakan perbandingan yang cukup memadai dalam pekerjaan beton sikat. Tetapi dari hasil percobaan didapatkan bahwa pada pemasangan beton sikat dinding peranan pasir cukup berpengaruh untuk keberhasilan pekerjaan beton sikat dinding peranan pasir cukup berpengaruh untuk keberhasilan pekerjaan beton sikat tersebut. Dari hasil uji coba didapatkan bahwa jenis pasir berpengaruh besar untuk adukan beton sikat, pasir dari Kali Bening tidak cocok untuk pekerjaan beton sikat yang di pasang pada dinding, sedangkan pasir Gunung Sugih dan Tanjung Bintang mempunyai sifat yang baik untuk pemasangan beton sikat pada lantai maupun pada dinding

    Analisis Rancangan Norman Foster Pada Bangunan Chek Lap Kok Airport (Hong Kong) Dalam Konteks Arsitektur High-Tech

    Full text link
    Teknologi sering kali diartikan sebagai perwujudan dari imajinasi manusia, dimana hal yang tidak mungkin  dapat menjadi sebuah kenyataan. Hal ini dapat dibuktikan melalui penemuan-penemuan manusia yang memberikan dalam penggunaannya. Teknologi bagi seorang arsitek  sangat berarti, hal ini dikarenakan teknologi dapat menjadi salah satu pemecahan dalam perwujudan imajinasinya yang akan diterapkan pada hasil karyanya, berarti dengan teknologi seorang  arsitek dapat leluasa dan lebih berkembang dalam menciptakan sebuah hasil karya arsitektur yang spektakuler.Karya-karya besar seorang arsitek dapat terwujud dikarenakan adanya pendukung dan pengaruh dari kemajuan teknologi yang saat sekarang ini semakin canggih. Hal inilah yang menjadi motivasi sekelompok orang untuk mengembangkan pola pikir dan penggunaan teknologi.Norman Foster dalam mendesain unsur yang muncul dalam setiap karyanya yang identik dengan perkembangan teknologi, disamping itu kedua unsur tersebut dalam penggunaanya sangat tepat untuk efisiensi waktu dan biaya. Bagaimana ia dapat memanfaatkan kedua unsur material tersebut, yang berupa logam dan kaca menjadi suatu hasil karya yang berteknologi tinggi, karena kedua unsur tersebut tidak hanya di pakai pada desain-desainya tetapi juga banyak digunakan pada karya-karya arsitek yang lain.Walaupun logam dan kaca merupakan bahan-bahan bangunan yang biasa digunakan dalam karya arsitektur, namun ia mampu memamfaatkannya menjadi suatu tampilan yang mempunyai nilai tinggi karena ia sendiri juga mendesain pengolahan dari bahan-bahan tersebut hingga menjadi komponen-komponen bangunan yang nantinya akan menghasilkan suatu bangunan yang berteknologi tinggi

    126

    full texts

    139

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JA! UBL
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇