139 research outputs found

    Pertimbangan Iklim Tropis Lembab Dalam Konsep Arsitektur Bangunan Modern

    Full text link
    Pemahaman terhadap prinsip arsitektur tropis lembab di Indonesia, sangat perlu untuk menciptakan bangunan dengan ruang-ruang yang nyaman dan sehat. Selain itu dengan mengantisipasi permasalahan dan memanfaatkan potensi iklim tropis lembab, akan didapatkan hal yang sangat penting, yakni penghematan energi, pelestarian lingkungan dan penghematan sumberdaya alam. Nenek moyang bangsa Indonesia terbukti telah berhasil merencanakan banguan yang sesuai dengan iklim tropis lembab secara trial and error dalam kurun waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu untuk mewujudkan arsitektur yang berkelanjutan dan sesuai dengan alam serta budaya Indonesia. Perlu dipelajari local wisdom atau kearifan lokal pada arsitektur Nusantara yang dapat dipadukan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan modern yang bersifat global untuk mewujudkan arsitektur masadepan yang berkelanjutan

    Tipologi Ventilasi Bangunan Vernakular Indonesia

    Full text link
    Buildings are the world's largest energy absorbers. They absorb 48 percents of energy, transportation absorbs 21 percent of it, while the rest of the energy is used by other sectors. The use of Air Conditioner that takes up a lot of energy is replaced by natural ventilation to reduce energy consumption. This paper discusses how the ventilation system and the model on the vernacular buildings in Indonesia, and aims to determine and identify the type of ventilation system. Ventilation is one way of vernacular buildings to cope with climate conditions. This study is applies qualitative method. It study is conducted to observe the subject and compare it to related literature and analyze the result based on related theories. This paper explore  the type of ventilation system in some vernacular buildings in Indonesia. In the end, the author found out that there are four types of ventilaton sytem of vernacular building in Sumatera, Java, Bali, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, and Papua

    Preferensi anak terhadap ruang bermain pada rusunawa di Bandung (Studi kasus : Rusunawa Cigugur dan Cingised)

    Full text link
    Rumah susun sewa umumnya dihuni oleh keluarga kecil, terdiri dari orang tua dan 1 (satu) orang anak berumur hingga 12 tahun yang membutuhkan ruang bermain sebagai bagian dari pertumbuhan mereka. Anak juga mempunyai preferensi mengenai ruang bermain yang baik bagi perkembangannya, berdasarkan lokasi, dimensi, pencahayaan dan penghawaan, dan peralatan pengisi ruang. Untuk itu, dilakukan penelitian kualitatif pada beberapa penghuni di Rusunawa Cigugur dan Cingised di kota Bandung, guna mengetahui preferensi dari anak  terhadap kebutuhan ruang bermain. Preferensi ini bermanfaat bagi masukan desain, mengingat masih banyak dibutuhkannya rusunawa di Indonesia.Rental flats are generally inhabited by small family, consisting of parents and 1 (one) children aged up to 12 years old who need space to play as part of their growth. Children also have preferences about space to play which is essential for their development, based on location, dimension, lighting and air circulation, and furniture. Therefore, qualitative research were conducted on some occupants in rusunawa Cigugur and Cingised in Bandung city, in order to understand the preferences of the children for  the needs of space to play. These preferences is beneficial for design criteria, considering that there are much rusunawa needs in Indonesia

    Kota Taman Berbasis Pendidikan

    Full text link
    Saat ini, perencanaan kota di Indonesia menghadapi beberapa permasalahan. Pada masa otonomi, setiap daerah diberikan kesempatan untuk membangun dan mengembangkan kotanya masing-masing. Kebijakan ini menjadi dasar yang baik bagi setiap daerah untuk berkembang berdasarkan potensi unik masing-masing. Tapi masalahnya adalah tidak semua daerah mampu menemukan apa potensi yang mereka miliki, dan akhirnya melakukan kesalahan dengan hanya mengembangkan sarana fisik saja. Perencanaan kota yang baik tidak hanya berpusat pada masalah sarana fisik saja tapi juga bisa memberi solusi untuk permasalahan sosial, ekonomi dan kebudayaan serta melestarikan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di daerah tersebut. Setiap kota memerlukan perencanaan yang berbeda tergantung dari potensi yang menjadi visi mereka. Visi kota Metro pada tahun 2010-2015 adalah menjadi kota pendidikan yang unggul dan masyarakat yang makmur. Lingkungan pendidikan yang baik adalah lingkungan yang mendukung terciptanya suasana pendidikan dan proses belajar yang bisa menginspirasi pelajar untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki secara aktif. Lingkungan alami atau lingkungan buatan yang baik dan sehat akan sangat membantu pengembangan fisik dan spiritual, dan pada akhirnya proses belajar akan berjalan dengan baik. Salah satu acuan adalah konsep Garden City. Pada konsep ini, struktur landscape menjadi sangat penting. Karena itu, penting untuk memiliki konsep desain ruang luar atau landscape dan strategi pelaksanaannya. Strategi ini sebagai dasar perencanaan kota yang lebih detil dalam rangka mewujudkan konsep Kota Metro sebagai Garden City yang berbasis pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menciptakan prinsip dasar dari Garden City yang berbasis pendidikan. Studi kasus dari penelitian ini adalah Kota Metro, sebuah kota kecil di ujung selatan Pulau Sumatra, yang mewarisi pola spasial yang diciptakan oleh Pemerintah Hindia Belanda

    Kajian Desain Sirkulasi Ruang Luar Dan Ruang Dalam Bagi Penyandang Cacat Pada Kawasan Bangunan Ciwalk ( Cihampelas Walk )

    Full text link
    Kawasan bangunan publik merupakan suatu kawasan yang diperuntukan untuk umum, dengan berbagai fasilitas guna memenuhi bermacam-macam kebutuhan di dalamnya. Belakangan ini, keberadaan penyandang cacat pada kawasan bangunan publik kurang mendapat perhatian, meskipun hal ini sudah ada Peraturan Pemerintah Kota Bandung No.02 Tahun 2009 yang mewajibkan bahwa bangunan publik di Indonesia harus dapat mendukung aksesibilitas bagi penyandang cacat. Ciwalk merupakan suatu kawasan bangunan publik, yang asri menjadi objek studi yang menarik untuk dikaji. Pola sirkulasi menurut DK Ching (Bentuk Ruang dan Susunan 1996) yang terbentuk sebagai penghubung antar ruang luar dan penguhubung ruang dalam bangunan pada lahan berkontur dikawasan Ciwalk ini akan dirasakan berat bagi penyandang cacat. Faktor-faktor kenyamanan penunjang seperti sarana dan prasarana harus memenuhi persyaratan sesuai dengan Peraturan Menteri No. 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas Pada Bangunan dan Lingkungan. Penyandang cacat dapat beraktifitas di kawasan publik Ciwalk baik diluar maupun dalam bangunan dengan mudah tanpa bantuan orang lain. Kajian ini dilakukan dengan metoda analisis deskriptif kualitatif dari segi pola tata letak ruang luar dan ruang dalam, sirkulasi, material, signage, sarana dan prasarana. Kemudian metoda kuantitatif diarahkan untuk mengukur sudut kemiringan atau ramp dan lebar koridor. Kedua metoda tersebut untuk membandingkan data dilapangan dengan literatur dan peraturan yang terkait, Hasilnya menunjukkan bahwa aksesibilitas sirkulasi bagi penyandang cacat di kawasan Ciwalk masih kurang dapat memberikan kenyamanan terhadap penyandang cacat sebagai pengguna bangunan publi

    Perancangan Fasilitas Publik di Wana Wisata Kawah Putih Menggunakan Teori POETIC ARCHITECTURE di Bentang Alam

    No full text
    Arsitektur merupakan salah satu bentuk interpretasi manusia terhadap keindahan alam. Interpretasi yang menyatakan bahwa manusia adalah pembentuk lingkungan binaan dan bagian dari alam itu sendiri, sehingga mewujudkan interpretasi tersebut ke dalam arsitektur merupakan suatu kebutuhan. Salah satu cara untuk menginterpretasi alam ke dalam wujud arsitektur, adalah dengan berpuisi. Arsitek "membaca" unsur-unsur alam layaknya puisi karena keindahannya. Interpretasi alam dengan cara berpuisi ini, terkandung dalam teori Poetic Architecture yang ditulis oleh Antonie C. Antoniades.Wana Wisata Kawah Putih merupakan salah satu area wisata yang terletak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Area wisata ini merupakan suatu kesatuan unsur alam yang berpuisi dengan keindahannya. Area wisata ini juga dikenal dengan nilai mitologis dan historis yang turut memperkuat karakternya. Sayangnya nilai-nilai puitis dari keindahan alam tersebut belum diapresiasi dengan baik melalui desain fasilitas publik yang tersedia, oleh karena itu dibutuhkan suatu perancangan fasilitas publik yang lebih menggali potensi dan menyampaikan nilai-nilai puitis alam tersebut. Dalam perancangan ini, fasilitas publik diwujudkan melalui respon terhadap nilai puitis alam yang dibagi ke dalam tiga spot perancangan yaitu, area pengenalan dengan transisi lahan datar ke curam (spot 1), area hutan dan tebing (spot 2) dan area kawah (spot 3)

    Regionalisme Dalam Kondisi Post-Modern

    Full text link
    Peristilahan Post Modern mulai diperkenalkan oleh Frederico De Onis, sebagai awal reaksi terhadap modernisme. Sebenarnya peristilahan ini muncul bermula dalam kalangan gerakan artistik, sebagai tanggapan yang reaktif dan mekanis terhadap adanya fenomena perubahan estetis yang menggejala didalam sendi-sendi kehidupan masyarakat saat itu, yang meliputi bidang-bidang seni, musik, drama, film, fiksi dan justru perkembanganya yang terakhir barulah ke dalam arsitektur. Gejala Post Modern sebenarnya dipicu oleh adanya pertumbuhan mashab filsafat baru yang berkembang pasca kebangkitan Revolusi Industri. Berawal sejak pertama istilah Post Modern diperkenalkan tahun 1930-an, kemudian istilah tersebut segera populer ditahun 1960-an terutama dalam kalangan artis muda di New York, Amerika Serikat, dengan merujuk pada gerakan seni di masa-masa Modernisme yang sedang menggapai puncak kejayaannya akan tetapi mendapat penolakan akibat institusionalisasi dalam museum dan akademi. Kemudian pada tahun 1970-an istilah Post Modern banyak digunakan dalam bidang arsitektur, seni panggung, lukisan, seni patung, tarian dan musik, bahkan dalam bidang ideologi. Mencapai tahun 1980-an peristilahan Post Modern menjadi semakin meluas, karena didorong oleh usaha pencarian penjelasan teoritis dan justifikasi Post Modern dalam bidang seni. Dilihat secara lebih jauh sesungguhnya secara umum bisa dikatakan bahwa kebangkitan Post Modern merupakan perkembangan pemikiran falsafat baru di dunia Barat yang menolak tentang pola pemikiran kedudukan sains yang selama ini lebih mengacu kepada logika diskursif formal Arisotelian yang cendrung melihat kinerja sains secara hitam putih, sehingga tidak memberikan peluang kepada kemungkinan-kemungkinan yang bersifat paradoxal.  Di dalam pola pemikiran falsafat Barat selama ini yang dianggap terlalu menuntut adanya penjabaran-penjabaran secara logika saja, dengan dasar-dasar adanya keterukuran yang sedemikian ketat. Padahal secara logika, sains sehararusnya justru lebih memberikan ruang bagi kritik dan keterbukaan terrhadap adanya pola pemikiran-pemikiran yang beragam dan memberikan kesempatan terhadap adanya peluang pemikiran yang non ilmiah sekalipun. Sehingga akibat adanya kejadian ini timbullah sebuah pendapat yang menyatakan sains kini hanyalah tak lebih dari sekedar sebuah dogma yang justru menimbulkan kerumitan-kerumitan baru yang tak jelas akibat bias ideologi yang timbul oleh kaburnya efesiensi dan efektivitas dari metoda-metoda yang berkembang selanjutnya. Yang berakibat kepada lahirnya pendapat dan pemikiran baru yang dengan tegas-tegas menolak segala macam hal-hal yang dianggap bersifat dogmatis bahkan pendapat ini menjadi cenderung fatalis dengan mengatakan bahwa “kini sebenarnya Tuhan telah mati”

    Kajian Estetika Yang Beda Relief Candi Jawa Timur

    Full text link
    Penelitian ini disusun untuk mendalami bidang estetika Arsitektur pada relief candi. Untuk mengkaji danmenguji estetika relief candi dipakai teori Komposisi Polykleitos dan Prasejarah (Dick Hartoko).Diambil sepuluh sampel dari masing-masing daerah (Jawa Tengah-Jawa Timur), lalu dibuatkan matrik, untuk mudah pembacaan. Menjelaskan kedua kasus dipakai metode kritik Deskriptif dari Wayne Attoe. Hasil penelitian menunjukkan, relief candi Jawa Tengah masuk kategori indah menurut teori barat Polykleitos, tidak indah menurut teori Prasejarah - Dick Hartoko dan sebaliknya.The research was designed to explore the field of aesthetic architecture in temple reliefs. To examine and test the theory of aesthetic composition of the reliefs used Polykleitos and Prehistory (Dick Hartoko). Ten samples taken from each region (Central Java, East Java), then made ?the matrix, for easy reading. Explain both cases the methods used descriptive criticism of Wayne Attoe. The results showed that the relief of the temple in Central Java is categorized according to the theory of western Polykleitos beautiful, not beautiful according to the theory of Prehistory - Dick Hartoko and vice versa

    Pengaruh Penggantian Material Bata Merah Dengan Batako Terhadap Biaya Bangunan (Studi Kasus: Student Center Itenas, Bandung)

    Full text link
    Seiring dengan tuntutan terhadap biaya dan waktu dalam pelaksanaan proyek maka perlu diadakan analisa terhadap penggunaan metoda membangun dan penggunaan material konstruksi yang baik serta dapat mencapai tingkat efisiensi yang tinggi. Selain itu, efisiensi penggunaan tenaga kerja dan pemakaian bahan bangunan serta alat bantunya dapat pula menekan faktor biaya dan waktu di dalam suatu proyek.Adanya Penelitian untuk membandingkan bahan bangunan dinding pengisi ini, dilakukan untuk memberikan alternatif pemecahan terhadap efisiensi biaya dan waktu tanpa merubah fungsi dari elemen tersebut. Dalam hal ini akan dibandingkan keunggulan dan kelemahan serta dampak dari pemakaian dinding pengisi batu bata merah dengan batako terhadap biaya. Berdasarkan keunggulan dan kelemahan yang ada pada kedua jenis material dinding pengisi tersebut, diharapkan dapat memberikan suatu gambaran analisa kuantitatif yang mempengaruhi biaya proyek secara keseluruhan. Studi kasus tulisan ini dilakukan pada bangunan Student Center Institut Teknologi Nasional Bandung

    Dampak Perubahan Hidrologis Dan Perkembangan Tata Guna Lahan Pada Permukiman Lahan Basah Di Kota Dumai

    Full text link
    Berdasarkan fenomena-fenomena perubahan hidrologis dan perkembangan tata guna lahan pada kawasan permukiman lahan basah di Kota Dumai, telah mengakibatkan terjadinya percepatan aliran dan cadangan air yang ada diatas permukaan tanah menjadi berkurang. Jika tidak dikelola dengan hati-hati dan sesuai karakteristiknya akan menurunkan kualitas lingkungan dan menggangu keseimbangan hidrologis kawasan tropis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak perubahan hidrologis kawasan dan perkembangan tata guna lahan akibat perkembangan debit sungai harian sebelum dan sesudah kegiatan normalisasi sungai dalam rangka pemanfaatan lahan basah tropis sebagai fungsi lahan permukiman di Kota Dumai. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif untuk mengetahui dampak perubahaan hidrologis kawasan dan tata guna lahan yang ditimbulkan akibat pembangunan permukiman pada lahan basah tropis di Kota Dumai. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa perubahan tata guna lahan pada kawasan lahan tropis diwilayah penelitian dari tahun 2001 hingga 2010 menunjukan pergesaran dalam pola pemanfaatan lahan. Semakin berkembangnya lahan permukiman diikuti dengan menyusutnya wilayah lahan basah tropis. Hal ini dikarenakan perubahan hidrologis kawasan akibat pembangunan, sehingga terjadinya pengeringan lahan basah tropis disepanjang DAS, rusaknya kondisi biofisik lahan, hilangnya fungsi lahan basah sebagai penyimpan air dan memperlambat aliran air serta terganggunya ekosistem lahan basah yang sangat produktif dan mempunyai banyak manfaat yang penting sebagai pengendali banjir

    126

    full texts

    139

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JA! UBL
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇