Jurnal Forum Nuklir
Not a member yet
208 research outputs found
Sort by
PENGARUH UNSUR AL DAN MO TERHADAP HASIL ANALISIS URANIUM DALAM PELAT ELEMEN BAKAR U-MO/AI DENGAN METODE POTENSIOMETRI
PENGARUH UNSUR Al DAN Mo TERHAOAP HASIL ANALISIS URANIUM DALAM PELAT ELEMEN BAKAR U-Mo/Al. Telah dilakukan analisis kadar uranium dalam larutan uranil nitrat hasil pelarutan pelat elemen bakar (PEB) U-Mo/AI. Penentuan kadar uranium menggunakan metode potensiometri titrasi reduksi oksidasi dengan fero sulfat sebagai reduktor dan kalium bikromat sebagai oksidator. Pengaruh aluminium di dalam uranil nitrat diteliti pada konsentrasi 500, 1000, 1500. 2000, 2500, 3000. dan 5000 ppm, sedangkan pengaruh Mo diteliti pada konsentrasi 50, 100, 200, 300,400. 500, dan 1000 ppm dengan konsentrasi uranium 1000 ppm. Pengukuran kadar uranium dalam larutan PEB U-Mo/AI dianalisis dengan teknik pemanasan dan ditambahkan asam perklorat, tanpa pemanasan dan pemisahan dengan cara ekstraksi menggunakan TBP/Heksan. Hasil analisis uranium dalam larutan PEB U-Mo/AI dengan teknik pemanasan, tanpa pemanasan dan dalam fase organik berturut-turut sebesar 1.149 g/L, 1,205 g/L dan 1,2 18 g/L, dan ketelitian analisis berturut-turut sebesar 3,2 16%, 5.876% dan 2,391%. Unsur pengolor Al berpengaruh terhadap ketelitian analisis uranium pada konsentrasi 5000 ppm, sedangkan pada konsentrasi ≤ 3000 ppm tidak berpengaruh terhadap ketelitian maupun akurasi analisis. Unsur pengotor Mo dengan konsentrasi 50 ppm sampai dengan 1000 ppm tidak berpengaruh pada hasil analisis uranium baik terhadap ketelitian maupun akurasi analisis.
STUDI PERBANDINGAN USER REQUIREMENTS DOCUMENT (URD) VOLUME 2 VERSI EROPA DAN AMERIKA UNTUK PENYUSUNAN URD PEMBANGKIT LlSTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN) DIINDONESIA
Telahdilakukan studi perbandingan URD versi Eropa dan Amerika dalam rangkapenyusunan URD untuk PLTN yang direncanakan dibangun di Indonesia. URD versiEropa terdiri dari empat (4) volume sedangkan URD Amerika yang disusun olehEPRI tersusun dalam dua (2) volume. Dalam studi ini dilakukan khusus volume 2yang isinya merupakan Generic Nuclear Island Requirement. URD volume 2 versiEropa terdiri dari : Introduction to the EUR, Safety Requirements, PerformanceRequirements, Grid Requirements, Design Basis, Code & Standard, Material-RelatedRequirements, Functional of the Components, Functional of the System & Process,Containment system, Instrumentation & Control and Man-machine Interface (IC &MMI), Layout rule, Design Process & Documentation, Constructability &Commissioning, Operation, Maintenance and Procedures, Quality Assurance,Decommissioning, PSA Methodology, Performance Assessment Methodology, CostAssessment Information. Sedangkan URD versi Amerika terdiri dari : Introduction,Safety Design Requirements, Performance Design, Requirements, Structural designRequirements, Materials, Reliability Availability, Construction, and Constructability,Operability and Maintainability, Quality Assurance, Licensing, Design, Process,Mechanical Equipment Design Requirements. Dari hasil studi URD vol 2 versi Eropadan Amerika dapat disimpulkan bahwa kedua-duanya tidak jauh berbeda hanyadalam hal pembagian isi dari masing-masing cahapter agak berbeda dan URD versiEropa lebih terperinci. Dalam rangka penyusunan URD PLTN versi Indonesiapenulis lebih memilih chapter-chapter versi Eropa yang terdiri dari 19 chapter danIntruduction. Sedangkan mengenai isi yang sifatnya alami perlu disesuaikan dengankondisi di Indonesia seperti Grid Requirements, Design Basis suhu udara, air laut,tekanan, dan juga standard earthquake design acceleration versi URD Euro level0.25 g dan untuk di Indonesia sekitar 0,3 g. Untuk code dan standard Indonesia tidakhanya menggunakan standard Eropa dan Amerika saja tapi menggunakan standardyang secara international diakui.Kata kunci : URD EURO, URD USA (EPRI
EFEKTIFITAS KLOROKUIN TERHADAP PERTUMBUHAN PLASMODIUM FALCIPARUM RADIASI SECARA IN VITRO
EFEKTIFITAS KLOROKUIN TERHADAP PERTUMBUHAN Plasmodium falciparum RADlASI SECARA IN VITRO. Dalam uji coba bahan vaksin malaria untuk mencegah relawan dari penyakit malaria maka digunakan chemoprophylaxis yang dikombinasikan dengan bahan vaksin yang akan diteliti. Klorokuin merupakan antimalaria yang umum digunakan sebagai chemoprophylaxis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas klorokuin terhadap pertumbuhan P. falciparum 3D7 radiasi. Pengujian Efektivitas klorokuin dilakukan dengan mengencerkan larutan stok 100 µg/ml sebesar 10-4, 10-5, 10-6, 10-7, 10-8 dan 10-9 . Masing-masing pengenceran dimasukkan ke dalam 40 µI suspensi sel darah merah terinfeksi parasit P. falciparum radiasi maupun yang tidak diradiasi dan diinkubasi pada 37°C. Jumlah parasit yang bertahan hidup dihitung setiap hari selama 7 hari melalui apusan tipis. Penambahan klorokuin pada parasit yang diradiasi memberikan respon menekan pertumbuhan parasit terjadi penurunan parasitemia pada semua pengenceran dan pada hari ke-5 parasit pada semua perlakuan mati. Pada parasit yang tidak diradiasi hanya pada pengenceran klorokuin 10-4 yang dapat menekan pertumbuhan parasit sehingga parasit mati pada hari ke-4. Pada pengenceran klorokuin yang lain, parasit tetap hidup hingga hari ke-7. Dapat disimpulkan klorokuin efektif dalam menekan pertumbuhan parasit radiasi.
STUDI ABERASI KROMOSOM PADA PEKERJA RADIASI DI RUMAH SAKIT
STUDI ABERASI KROMOSOM PADA PEKERJA RADIASI DI RUMAH SAKIT. Pekerja radiasi di rumah sakit merupakan kelompok pekerja yang berisiko menerima paparan radiasi pengion seperti sinar-X dan gamma secara terus menerus yang dapat menyebabkan kerusakan materi genetik. Studi sitogenetik memperlihatkan bahwa paparan radiasi dosis rendah secara terus menerus dapat meningkatkan frekuensi kerusakan (aberasi) kromosom. Aberasi kromosom berkaitan erat dengan perubahan genetik yang dapat memicu perkembangan kanker sehingga meningkatnya frekuensi aberasi kromosom juga berarti meningkatnya risiko kecenderungan kanker. Oleh karena hal tersebut maka deteksi aberasi kromosom dapal digunakan untuk memprediksi risiko paparan radiasi ionisasi pada pekerja radiasi di rumah sakit. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengelahui apakah kondisi tingkat kerusakan kromosom pada sel darah yang diinduksi oleh paparan radiasi akibat kerja pada para pekerja radiasi di rumah sakit. Sebanyak 1 mL sampel darah masing-masing dari 4 non pekerja radiasi dan 34 pekerja radiasi rumah sakit yang bertugas sebagai operator radioterapi dan radiodiagnostik serta dokter dan perawat dan juga fisikawan medis dikultur selama 48 jam dan dipanen kemudian dibuat preparatnya untuk diamati keberadaan aberasi kromosom dengan mikroskop sebanyak 250-500 sel metafase tiap sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe aberasi kromosom yang ditemukan adalah fragmen asentrik. Hal tersebut kemungkinan karen a dosis radiasi yang diterima para pekerja belum cukup untuk menginduksi terbentuknya disentrik maupun ring
PENERAPAN EFEK INTERAKSI RADIASI DENGAN SISTEM BIOLOGI SEBAGAI DOSIMETER BIOLOGI
AbstrakInteraksi radiasi pengion dengan sistem biologi dapat menyebabkan berbagai macam efek biologik yang akan dimanifestasikan baik pada tingkat seluler, sitogenetik maupun tingkat molekuler. Berbagai macam metode biologik yang dimaksudkan untuk memperkirakan dosis radiasi telah dikembangkan oleh banyak peneliti menggunakan efek tersebut terutama dalam hal teIjadinya peristiwa kecelakaan radiasi. Hal ini dipertegas lagi dengan kenyataan bahwa dosimetri fisik tidak dapat diandalkan secara sendirian. Dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing, ulasan ulang ini memberikan gambaran yang meluas akan pentingnya uji atau biomarker dalam dosimetri biologi seperti kromosom disentrik, mikronuklei, fragmen kromosom,biokimia darah dan spermatogenesis. Adapun sampel biologik yang dapat dipergunakanuntuk pengkajian dosis radiasi yang diterima oleh pekeIja maupun korban kecelakaanantara lain darah, sperma, rambut, dan urin.Kata kunci : Interaksi radiasi pengion, sistem biologiAbstractInteraction between ionizing radiation with biological system could results in various types of biological effects which will be manifested either in cellular, cytogenetics or molecular levels. Various types of biological methods with the aim for predicting radiation dose have been developed by many researchers by using these effects mainly in the case of radiation accident. This case is supported by the fact that physical dosimetry could not available as alone. With their own advantages and disadvantages, this review provides a broader figure about the importance of assays or markers in biological dosimetry such as dicentric chromosome, micronuclei, chromosomal fragment, biochemistry of blood and spermatogenesis. Whereas the biological samples that can be used for assessing the radiation dose received by workers or accidental victims are blood, sperm, hair, and urine.Keywords: Interaction between ionizing radiation, biological syste
UJI FUNGSI PROTOTIP PERANGKAT MEKANIK BRAKITERAPI MDR-Ir192-IB10
UJI FUNGSI PROTOTIP PERANGKAT MEKANIK BRAKITERAPI MDR-lrI92-IB10. Telah dilakukan uji fungsi prototip sistem mekanik perangkat brakiterapi MDR-lr-I92-IB10, untuk mendapatkan data kesesuaian antara persyaratan disain dengan hasil prolotip yang telah dibuat. Perangkat ini merupakan prototip hasil rancang bangun PRPN-Batan yang bertujuan untuk terapi kanker. Serangkaian uji perangkat brakiterapi harus dilakukan untuk memperoleh data unjuk kerja. Perangkat brakiterapi merupakan integrasi dari sistem yang terdiri dari komponen sumber radiasi. Sistem mekanik dan software kontrol serta treatment planning system (TPS). Pada uji fungsi ini yang diamati adalah unjuk kerja integrasi sumber radiasi dengan sistem mekanik dengan tolok ukur ketepatan perintah software pada distribusi channel, kecepatan sumber diharapkan 35 mm/detik dan ketepatan posisi simpangan diharapkan maksimum 1 mm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ketepatan perpindahan distributor channel sesuai rancangan, kecepatan sumber hasil pengamatan antara 15 mm/dt sampai 20 mm/detik masih dibawah kecepatan yang diharapkan, sedangkan ketepatan posisi cukup baik kurang dari 1 mm.
MODIFIKASI,,99MO AUTOMATIC LOADING SYSTEM" GENERATOR 99MO/99MTC BERBASIS PZC
Proses pembuatan generator ~of9"'T c berbasis PZC pada dasarnya terdiri dari 4tahap yaitu penyerapan ~o pada PZC, pengisian komplek ~o-PZC ke dalamkolom, perakitan generator 99Mof9mTcdan pengelusian 99mTcdari kolom generator.Penelitian proses tersebut secara manual menghasilkan radionuklida 99mTcdenganmutu yang sarna dengan generator 99Mof9"'Tcdari hasil fisi. Hasil uji coba secarapre klinis dan klinis juga telah berhasil dilakukan melalui kerjasama dengan beberapaRumah Sakit di Indonesia. Sebagai pengembangan lebih lanjut ke arah tingkatproduksi, melalui kerjasama BATAN dan KAKEN Co. Jepang, telah berhasil dibuatprototipe Automatic loading system yang dapat melakukan tahap penyerapan ~opada PZC, pencucian kompleks serta pemindahan komplek ke kolom perakitansecara otomatis. Sistem ini mempunyai kelemahan sehingga perlu dilakukanbeberapa modifikasi terutarna pada sistem pencampuran 99Mo_PZC.Modifikasi padasub sistem pencampuran seperti pengisian ~o ke vial reaksi dan pengocokancampuran ~o-PZC telah berhasil dikerjakan dan berfungsi dengan baik, walaupunpengisian 20 mllarutan 99Moke vial reaksi perlu dilakukan 2 kali . Hasil modifikasipada sistem pengocokan menunjukkan bahwa sistem ini berjalan dengan baik.Kata Kunci : generator, PZC, 99Mo,99mTc,automatic loading systemAbstractProcess of generator 99Mof9"'Tc based on PZC basically consist of 4 phase that isabsorption of 99Moat PZC, loading 99Mo-PZCcomplex into column, assembling ofgenerator 99Mof9mTcand elution of 99mTcfrom column generator. The research of~rocess manually yielded 99mTcradionuclide with same quality with generator9Mof9mTc from fission product. Pre clinical and clinical tests have beensuccessfully done through cooperation with a few Hospital in Indonesia. Furtherdevelopment towards production rate, through cooperation BATAN and KAKEN Co.Japan, have successfully made the prototype automatic loading system available fordoing work of absorption of 99Moat PZC, washing of complex and also evacuationof complex to assembling column automatically. Existence of weakness from thissystem make require its some modifications especially at 99Mo-PZC mixing systems.Modification results at the filling system of 99Moto reacted vial and mixing systemof ~o-PZC have successfully done. For filling of 20 ml of 99Moreaction vial needto be done 2 times. Modification result at mixing system indicated that this systemrun better.Keywords: generator, PZC, ~o, 99mTc,automatic loading system13
ANALISIS AKUMULASI RADIOFARMAKA TC-99M MDP PADA PASIEN KANKER PAYUDARA
ANALISIS AKUMULASI RADIOFARMAKA Tc99m MDP PADA PASIEN KANKER PAYUDARA. Telah dilakukan analisis akumulasi radiasi dari Tc99m MDP pada pasien kanker payudara. Pada penelitian ini digunakan teknik ROI (Region of Interest), kamera gamma dan dose calibrator. Data diambil dari 32 pasien kanker payudara, 63 % diantaranya sudah bermetastasis dan 37% lainnya tidak bermetastasis, kemudian data tersebut diolah) untuk melihat rerata dan trend (pola) dari akumulasi radiasi Tc99m MDP. Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata akumulasi radiofarmaka Tc99m MDP di jantung, sternum, spine, sacrum, sacroiliact joint kiri dan sacroiliact joint kanan masih cukup tinggi. Pasien dengan akumulasi tertinggi pada organ tertentu merupakan pasien yang kankernya sudah bermetastasis dan letak metastasis kanker sesuai dengan organ tersebut, hal ini menggambarkan bahwa tulang yang sudah terkena kanker akan menyerap zat radiofarmaka lebih banyak dibandingkan tulang sehat.
PRINSIP UJI PRAKLINIS DAN KLINIS DALAM PENGEMBANGAN RADLOFARMAKA PENYIDIK KANKER
PRlNSIP UJI PRAKLINIS DAN KLINIS DALAM PENGEMBANGAN RADIOFARMAKA PENYIDIK KANKER. Kematian akibat penyakit kanker masih menjadi perhatian serius di berbagai belahan dunia. Upaya dalam mengurangi tingginya angka kematian tersebut terus dilakukan, salah satunya dengan metode diagnosis menggunakan radiofarmaka. Di dalam mengembangkan radiofarmaka penyidik kanker, terdapat beberapa prinsip yang harus dipatuhi. Prinsip ini sangat penting diketahui oleh para peneliti terutama yang terkait dengan pemanfaatan sumber daya hewan coba di dalam uji praklinis dan relawan (volunter) di dalam uji klinis. Pelaksanaan uji praklinis maupun uji klinis harus didasarkan pada etika penelitian yang telah disepakati dan diakui secara universal baik itu metode maupun tahapan penelitian. Etika tersebut bertujuan untuk menjamin keselamatan dan kesehatan hewan coba atau manusia di dalam setiap uji yang dilakukan. Pada uji praklinis cakupan kode etik yang dipersyaratkan meliputi kesejahteraan hewan percobaan yang digunakan sebagai objek penelitian. Selain itu, etika ini juga bertujuan untuk menjamin keselamatan personil yang bekerja di laboratorium. Uji praklinis meliputi uji pirogenitas, toksisitas, biodistribusi, renal clearance, blood clearance, dan scanning. Untuk uji klinis, penggunaan volunter dalam pengujian radiofarmaka penyidik kanker juga harus didasarkan pada prinsip yang tertuang dalam etika yang ada. Dengan adanya prinsip-prinsip dalam pengembangan radiofarmaka maka diharapkan peluang terjadinya berbagai kesalahan maupun penyelewengan aturan di dalam proses penelitian dapat dihindari.
OPTIMASI PEMBUATAN COATED TUBE HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA) UNTUK KIT RADIOIMMUNOASSAY (RIA) MIKROALBUMINURIA
OPTIMASI PEMBUATAN COATED TUBE HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA) UNTUK KIT RADIOIMMUNOASSAY (RIA) MIKROAMBUMIN. Radioimmunoassay (RIA) adalah suatu metoda analisis berdasarkan pada reaksi imunologi yakni ikatan antigen-antibodi, metoda ini sangat spesifik dan peka digunakan untuk menentukan kadar zat-zat yang ada di dalam cairan tubuh seperti serum, urine dan lainnya sehingga dapat digunakan untuk mengevaluasi suatu penyakit metabolik seperti diabetes melitus. Penelitian dan pengembangan teknologi Kit RIA mikroalbuminuria dengan metode coated tube dilakukan melalui beberapa tahap yakni optimasi pembuatan komponen kit, optimasi assay, validasi assay dan uji klinis. Telah dilakukan penelitian tentang optimasi pembuatan coated tube HSA salah satu komponen kit RIA mikroalbuminuria untuk pemisah fasa padat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan coated tube HSA yang dapat menghasilkan % B/T yang optimum dengan % NSB yang minimum dan memenuhi persyaratan untuk assay. Penelitian dilakukan dengan cara melakukan optimasi larutan dapar sebagai pelarut poliklonal antibodi (Pab)-HSA, optimasi volume coaling (volume Pab-HSA) dan optimasi konsentrasi larutan blocking. Hasilnya menunjukkan bahwa larutan dapar karbonat bikarbonat 0,05 M pH 9,6 memberikan hasil yang optimum sebagai pelarut Pab-HSA pada titer 1:3000, volume Pab-HSA 750 µL dengan 750 µL larutan bovine serum albumin (BSA) 1 % sebagai blocking dan diperoleh % BIT dan % NSB masing-masing 46,49% ± 0,57 dan 0,77% ± 0,04 serta memenuhi persyaratan Kit RIA untuk assay