Jurnal Forum Nuklir
Not a member yet
208 research outputs found
Sort by
PROSPEK PENGEMBANGAN TEKNOLOGI RADIASI SEBAGAI PERLAKUAN PENDAHULUAN BIOMASSA LIGNOSELULOSA
Biomassa lignoselulosa yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin, kerap ditemui sebagai limbah, sebenarnya dapat dimanfaatkan melalui perlakuan pendahuluan. Perlakuan pendahuluan membantu pemanfaatan lignoselulosa dengan cara mengubah strukturnya sehingga mempermudah konversi selulosa dan hemiselulosa menjadi sumber gula yang dapat difermentasi. Berbagai metode fisik, kimia, biologis, atau gabungan digunakan untuk perlakuan pendahuluan lignoselulosa. Teknologi iradiasi adalah salah satu metode perlakuan pendahuluan yang unik dan menjanjikan, yang melibatkan aplikasi sinar gamma, berkas electron, radiasi microwave, UV dan ultrasonik. Ulasan ini menjelaskan peran dan prospek penerapan teknologi radiasi sebagai perlakuan pendahuluan dalam pemanfaatan biomassa lignoselulosa
SIMULATOR REAKTOR KARTINI SEBAGAI ALAT PERAGA OPERASI REAKTOR PENELITIAN TIPE TRIGA MARK II
SIMULATOR REAKTOR KARTINl SEBAGAI ALAT PERAGA OPERASI REAKTOR PENELITIAN TIPE TRIGA MARK U. Telah dibuat Simulator reaktor Kartini yang terdiri dari teras reaktor lengkap dengan bahan bakar, tiga batang kendali, pemegang batang kendali, motor penggerak batang kendali dan keyboard operasi yang dilengkapi dengan sistem interlock. Sistem interlock dibangun menggunakan mikrokontroler. Parameter yang dihasilkan selama reaktor beroperasi ditampiikan pada komputer dan monitor dengan program sistem informasi proses yang bekerja pada sistem operasi LINUX. Hasil pengujian menunjukkan babwa sistem interlock simulator memberikan unjuk kerja yang sama dengan operasional interlock keyboard pada SIK reaktor Kartini. Pada pengujian Sistem lnformasi Proses didapatkan hasil bahwa kenaikan batang pengaman saja dari 0% sampai 100% menghasilkan daya 11,84 W dengan periode minimum 20 detik. Parameter daya dan periode ditampilkan dalam bentuk numeris dan grafik. Untuk keselamatan reaktor, kenaikan daya terlalu cepat dapat mengakibatkan scram, saat daya > 110% juga terjadi scram
Analisis Pengotor Karbon (C) dalam Serbuk UO2 Hasil Konversi YC Limbah Pupuk Fosfat dengan Carbon Analyzer Leco IR-212
ANALISIS PENGOTOR KARBON (C) DALAM SERBUK UO2 HASIL KONVERSI YC LIMBAH PUPUK FOSFAT DENGAN CARBON ANALYZER LECO IR-112. Telah dilakukan analisis pengotor karbon (C) dalam serbuk UO2 hasil konversi Yellow Cake (YC) limbah pupuk fosfat dengan Carbon Analizer LECO IR-212. Analisis kadar karbon ini dilakukan dengan tujuan untuk menjamin kelayakan serbuk UO2 yang dihasilkan pada proses konversi yellow cake limbah pupuk fosfat sebagai bahan bakar nuklir. Batasan kadar karbon di dalam serbuk UO2 sebagai bahan bakar nuklir tidak boleb melebihi 100 ppm. Salah satu alat yang dipakai untuk menganalisis kadar karbon dalam serbuk UO2 adalah Carbon Analyzer LECO type IR-212 yang berada di lnstalasi Elemen Bakar Eksperimental - Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir BATAN. Metode yang dipergunakan mengacu pada ASTM C 1408-09 “Standard Test Method for Carbon (Total) in Uranium Oxide Powders and Pellets By Direct Combuslion-lnfrared Detection Method”. Sebelum alat dipakai untuk menganalisis sampel serbuk UO2 dilakukan kalibrasi dengan menganalisis sampel standar dari pabrikan LECO USA yang mengacu pada NIST (National lnstitute of Standards and Technology), SRM (Standard Reference Ma1erials) dengan sertifikat yang tenelusur. Analisis sampel standar dan sampel serbuk VO, dilakukan masing-masing 5 kali pengulangan. Perhitungan hasil menurut ASTM C 1408 -09 diperoleh kadar karbon dalam U basis sebesar 113,310 ppm dengan standar deviasi sebesar 0,253. Hal ini menunjukkan bahwa sampel serbuk UO2 yang dihasilkan pada proses konversi yellow cake limbah pupuk fosfat belum memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan sebagai bahan bakar nuklir karena kandungan karbonnya melebihi 100 ppm, sehingga perlu dilakukan proses pemurnian lagi
WARM UP CYCLE DALAM RANGKA PROSES PEMELIHARAAN DETEKTOR HPGe
WARM UP CYCLE DALAM RANGKA PROSES PEMELIHARAAN DETEKTOR HPGE. harus dilakukan, saat indikasi vakum bermasalah dan arus bocor meningkat muncul. Apa bila tidak dilakukan maka akan membuat kinerja detektor menurun dan berakhir dengan tidak dapat digunakan. Tulisan ini menguraikan penyebab menurunnya kinerja detektor seperti vakum bermasalah dan setup instrument yang tidak lengkap serta unjuk kerja detektor pasca warm up cycle dilakukan. Harapannya akan berguna bagi pengelola laboratorium, mahasiswa, peneliti diluar spesialisasi mereka untuk memperluas pemahaman mereka.
PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF CAIR YANG MENGANDUNG DETERGEN DENGAN CARA OZONASI DIIKUTI PENJERAPAN
PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF CAIR YANG MENGANDUNG DETERJEN DENGAN OZON DIlKUTI PENJERAPAN. Ozon merupakan oksidator kuat untuk mendegradasi senyawa organik sedangkan zeolit mempunyai karakter sebagai penjerap. Kombinasi dari ke dua proses punyai potensi untuk mengolah limbah radioaktif cair yang mengandung deterjen. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas pengolahan limbah radioatif cair dengan metode ozonasi diikuti penjerapan dengan menghitung nilai faktor dekontaminasi (FD) dan efisiensi pcngolahan (EP). Selain itu juga memperoleh persamaan kecepatan penurunan COD pada proses penjerapan setelah proses ozonasi. Penelitian dilakukan secara batch dengan variabel waktu. Laju produksi ozon mesin ozonizer yang digunakan penelitian ini adalah 1,0175 x 10-5g O3/detik. Hasil penelitian menunjukkan nilai COD dan TS turun dengan semakin lamanya proses ozonasi, reaksi berlangsung pada orde satu dengan persamaan kecepatan penurunan COD: -r COD = -d[COD]/dt = 0,034 [COD]-1, nilai FD dan EP dari proses penjerapan sebesar 145,773 dan 99,3 14%
TINJAUAN PROSES PELAPISAN TRISO SECARA FLUIDISASI PADA PARTIKEL UO2 DAN PENGARUH TEMPERATUR PADA LAPISAN SIC
TINJAUAN PROSES PELAPISAN TRISO SECARA FLUIDlSASI PADA PARTIKEL UO2, DAN PENGARUH TEMPERATUR PADA LAPlSAN SiC. Tinjauan mengenai proses pelapisan TRISO pada partikel UO2, dengan cara fluidisasi dan pengaruh temperatur pada lapisan SiC yang terbentuk bertujuan untuk menyiapkan proses pelapisan kernel tersinter sebagai bahan bakar Reaktor berpendingin Gas Temperatur Tinggi (RGTT) dengan mempelajari dan memahami terlebih dahulu proses fluidisasi dan pelapisan sehingga akan mempermudah dalam pelaksanaan proses pelapisan, mengingat fluidisasi memegang peran yang sangat penting. Reaktor berpendingin Gas Temperatur Tinggi atau High Temperature Gas-cooled Reactor (HTGR) menggunakan partikel (kernel) bahan bakar UO2, UCO, campuran UO2+ThO2, atau UC+ThC bentuk bola teriapis TRISO (tri-isotropic). Pembuatan bahan bakar telah dilakukan dengan proses gelasi ekstemal dari uranil nitrat keasaman rendah ditambah dengan aditif polivinil alkohol dan tetra hidro furfuril alkohol, kemudian dilakukan pencucian terhadap gel yang diperoleh, pengeringan, kalsinasi dan sintering. Pada makalah ini dibahas berbagai aspek dalam proses fluidisasi untuk pelapisan partikel bahan bakar nuklir, juga disajikan hasil pembuatan kernel UO2 tersinter, kemudian dilakukan pembahasan tentang pengaruh temperatur terutama pada porositas dan pori-pori lapisan, mikrostruktur dan interaksi dengan hasil fisi. Pada temperatur 1500 °C ukuran pori-pori kurang dari 1,5 µm, namun bila temperatur dinaikkan ke 1600 ⁰C menjadi 2 µm dan terjadi deposisi fasa β-SiC + C.
PREDIKSI PROSES PENDINGINAN BAHAN DI PLTN DENGAN JARINGAN SYARAF DAN ALGORIMA GENETIKA
PREDIKSI PROSES PENDINGINAN BAHAN DI PLTN DENGAN JARINGAN SYARAF DAN ALGORITMA GENETIK. Prediksi proses pendinginan bahan merupakan faktor utama untuk mengetahui sifat mekanik pada bahan yang digunakan di PLTN. Hal ini untuk mencegah korosi dan keretakan. Proses pendinginan mempengaruhi sifat mekanik bahan seperti creep dan fatigue. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat suatu pemodelan terhadap proses pendinginan bahan yang digunakan di PLTN menggunkan algoritma genetika dan jaringan syaraf. Pemodelan dengan neural network dalam hal ini dilakukan untuk memperoleh sifat bahan yang digunakan. Neural network merupakan sistem pembelajaran dan pelatihan untuk model non linier. Dalam hal optimasi untuk mengetahui sifat mekanik materiat digunakan algoritma genetik. Data hasil eksperimen digunakan untuk pembelajaran dan pelatihan. Diperoleh nilai tegangan sebenarnya yang optimal dan pemodelan untuk memprediksi proses pendinginan terhadap bahan yang digunakan di PLTN.
STRATEGI PERSIAPAN INFRASTRUKTUR PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BAKAR BEKAS PLTN UNTUK MENDUKUNG PROGRAM PEMBANGUNAN PLTN DI INDONESIA
STRATEGI PERSIAPAN INFRASTRUKTUR PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BAKAR BEKAS PLTN UNTUK MENDUKUNG PROGRAM PEMBANGUNAN PLTN DI INDONESIA. Terkait dengan program ketahanan energi, Pemerintah lndonesia berencana melaksanakan program pembangunan PLTN guna memenuhi kebutuhan energi. Namun, salah satu permasalahan cukup penting adalah pengelolaan limbah bahan bakar bekas PL TN yang tidak dapat terlepas dari program pembangunan PLTN. Oleh karena itu perlu adanya persiapan infrastruktur untuk mengelola limbah bahan bakar bekas PLTN. Tujuan studi adalah untuk mengidentifikasi kegiatan persiapan infrastrukur dalam rangka pengembangan salah satu dari 19 (sembilan belas) infrastruktur PL TN, khususnya aspek pengelolaan limbah, sehingga dapat diperoleh beberapa rekomendasi persiapan infrastruktur pengelolaan limbah bahan bakar bekas PL TN. Metode yang digunakan adalah melakukan berbagai kajian pustaka secara komprehensif, belajar dari pengalaman negara maju, sekaligus melakukan studi perbandingan dari negara berpengalaman dalam pengelolaan limbah bahan bakar PLTN, seperti Korea Selatan. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat tiga tahapan kegiatan terkait persiapan infrastruktur pengelolaan limbah bahan bakar bekas PLTN, yaitu: (i) pembuatan komitmen berpengetahuan program nuklir, (ii) persiapan untuk membuka penawaran lelang proyek PL TN yang pertama, dan (iii) persiapan untuk mengoperasikan PLTN. Strateginya meliputi rekomendasi: (i) penyusunan konsep Badan Pelaksana Pengelolaan Limbah Radioaktif', dan (ii) penyusunan konsep desain Fasilitas Pengelolaan Limbah Bahan Bakar Bekas PLTN.
TINJAUAN KINETIKA PROSES EKSITASI PADA PENENTUAN UNSUR DENGAN SPEKTROGRAFI EMISI
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan persamaan kecepatan reaksi yang terjadi padaproses eksitasi dalam analisis boron dan kadmium dengan spektrografi emisi. Hal inidimaksudkan agar diperoleh suatu tambahan informasi ilmiah yang teljadi pada proseseksitasi, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki teknik analisis menggunakanspekrografi emisi. Data yang dievaluasi adalah analisis boron dan kadmium dalam U308dengan pengemban sulingan campuran Ga203, LiF, dan AgCl. Sebelum dikumpulkan datauntuk keperluan penentuan persamaan kecepatan reaksi, dilakukan optimasi konsentrasipengemban sulingan. Konsentrasi pengemban sulingan terbaik digunakan untuk prosesanalisis. Dari hubungan intensitas dengan konsentrasi pengemban didapatkan konsentrasipengemban yang paling baik adalah 5%. Hubungan kadar boron dan kadmium yangdidapatkan saat eksitasi yang divariasi waktu digunakan untuk menghitung konsentrasisehingga diperoleh hubungan konsentrasi dengan waktu. Dengan metode diferensialdiperoleh diperoleh bahwa reaksi itu mengikuti orde satu. Selanjutnya data diolah denganmenggunakan metode integral, sehingga didapat untuk persamaaan kecepatan reaksiboron yaitu -fa = - dCa = O,066CA' mg dan untuk kadmium yaitu:dt g.sdCed 1mg- rCd = - -- = 0,068 CA -.'dt g.sKata kunci: spektrografi emisi, persamaan kecepatan reaksi, eksitas
PEMUNGUTAN ISOTOP HASIL FISI I37CS DAN UNSUR BERMASSA BERAT DARI BAHAN BAKAR U3SI2-AL PASCA IRADIASI
PEMUNGUTAN ISOTOP HASIL FISI I37Cs DAN UNSUR BERMASSA BERAT DARI BAHAN BAKAR U3Si2-Al PASCA IRADIASI. Telah dilakukan pemungutan dan analisis isotop I37Cs dengan unsur bermassa berat yang terkandung di dalam pelat elemen bakar (PEB) U3Si2-Al pasca iradiasi. Tujuan dilakukannya pemungutan adalah untuk mendapatkan kandungan isotop I37Cs,235U dan 239Pu di dalam PEB U3Si2-Al pasca iradiasi dan selanjutnya akan digunakan untuk perhitungan burn up. Pemungutan dilakukan dengan metode penukar kation menggunakan zeolit Lampung. Larutan U3Si2-Al pasca iradiasi dipipet sebanyak 150 µL dan dimasukkan ke dalam vial 4 (empat) buah. Ke dalam masing-masing vial tersebut ditambahkan zeolit Lampung dengan variasi berat 300, 400, 500 dan 600 mg. Selanjutnya dilakukan proses penukar kation dengan pengocokan selama 1 jam menggunakan shaker dengan kecepatan 20 rpm dan didiamkan selama 24 jam. Hasil proses penukar kation menunjukkan terpisahnya paduan I37Cs zeolit sebagai fasa padat dengan isotop U, Pu sebagai unsur bermassa berat (heavy element, HE) dalam fasa cair . Padatan I37Cs -zeolit kemudian ditimbang dan dianalisis dengan spektrometer-g sehingga diperoleh kandungan isotop I37Cs di dalam 150 µL PEB U3Si2-Al pasca iradiasi. Untuk mengetahui kandungan isotop U dan Pu sebagai HE di dalam fasa cair dilakukan pemipetan supernatan sebanyak 250 µL dan dikenakan proses elektrodeposisi menggunakan media burfer (NH4)2SO4 1M pada kondisi kuat arus 1,2 A dengan jarak elektroda 10 mm selama 2 jam. Selanjutnya dilakukan pengukuran dan analisis isotop U, Pu dengan spektrometer-α. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa zeolit Lampung dengan berat 500 mg adalah berat optimum dan digunakan untuk memungut isotop hasil fisi (I37Cs) dari HE di dalam 150 µL PEB U3Si2-Al pasca iradiasi. Kandungan isotop I37Cs diperoleh sebesar 0,0 118 µg , isotop 235U sebesar 0,3110 µg dan unsur HE sebesar 1,5611 µg. Hasil ini lebih besar bila dibandingkan dengan kandungan isotop I37Cs sebesar 0,0106 µg, isotop 235U sebesar 0,2795 µg dan unsur HE sebesar 1,1313 µg dengan cara pengukuran langsun