Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
    256 research outputs found

    PERANCANGAN PROGRAM KLASIFIKASI TOMAT (Lycopersicum esculantum) BERDASARKAN BERAT DAN WARNA MENGGUNAKAN PENGOLAHAN CITRA

    No full text
    Konvensional metode dalam mengklasifikasikan tomat terbukti tidak objektif, tidak akurat, dan destruktif.  Upaya telah dilakukan untuk merancang suatu program klasifikasi non-destruktif dengan mengaplikasikan suatu sistem visual dengan pengolahan citra melalui warna dan berat. Matlab digunakan sebagai bahasa program yang mampu menentukan berat melalui hubungan luas citra dan berat, dan mengidentifikasi warna tomat dengan indeks RGB. Kapabilitas program kemudian dibandingkan hasilnya dengan metode konvensional. Hasil menunjukan bahwa system ini memiliki akurasi 94,54 persen yang meningkat menjadi 98.18 persen dengan mengganti luas citra dengan volumenya Kapasitas aktual dari sistem ini adalah 576 buah tomat/jam, sedang kapasitas teoritisnya 1690,54 buah tomat/jam, sehingga efisiensi dari sistem ini adalah 34,07%. Kata kunci : Tomat, Pengolahan citra, Klasifikasi, Program klasifikasi

    KAJIAN FINANSIAL ISOLASI CITRONELLAL DAN RHODINOL PADA INDUSTRI BERBASIS SENYAWA TURUNAN MINYAK SEREH WANGI

    No full text
    Isolasi komponen Citronellal dan Rhodinol pada minyak sereh wangi dapat diterapkan pada industri untuk meningkatkan nilai tambah dan mengembangkan industri intermediate minyak sereh wangi. Untuk mengetahui kelayakan penerapannya, diperlukan analisis finansial terhadap proses isolasi tersebut. Kelayakan investasi pada pendirian industri baru maupun pengembangan industri minyak sereh dilihat NPV, BEP, PBP, Net B/C dan IRR yang dapat menggambarkan apakah proyek masih atraktif untuk direalisasikan. Pada pendirian industri baru, nilai NPV sebesar Rp11,844,269,430.12, IRR sebesar  47 %. Masa pengembalian modal (PBP) tercapai selama periode 2.79 tahun. Nilai Net B/C adalah 2.75 dan titik impas produksi (BEP) diperoleh pada nilai penjualan Rp. 5,217,742,676.09. Sedangkan pada pengembangan industri minyak sereh wangi, NPV dari pengembangan industri tersebut sebesar Rp 12.348.032.363,16. Nilai IRR untuk pengembangan industri dengan  Input 600 kg / proses  adalah 89 %. Masa pengembalian  modal (PBP) pengembangan industri tercapai selama periode 4,41 tahun. Nilai Net B/C yang diperoleh dari pendirian Pabrik Citronellal dan Rhodinol  ini adalah 6,30. Titik impas produksi (BEP) diperoleh pada nilai penjualan Citronellal sebesar Rp 20.912.029.225,35. Hal ini menunjukkan bahwa pendirian industri baru maupun pengembangan industri minyak sereh wangi yang sudah ada, layak untuk direalisasikan. Kata kunci: minyak sereh wangi, Citronellal, Rhodinol, kelayakan finansial, industr

    PROSES PENGHALUSAN KOPI ROBUSTA MENGGUNAKAN MESIN PEMBUBUK TIPE HAMMER MILL

    No full text
    Proses penghalusan merupakan hal yang sangat mempengaruhi kualitas kopi bubuk. Semakin halus/kecil ukuran partikel kopi bubuk, rasa minuman kopi akan semakin nikmat, karena sebagian besar kandungan bubuk kopi telah tercampur secara merata. Penghancuran merupakan salah satu proses pembubukan biji kopi sangrai. Semakin kecil/halus ukuran partikel kopi bubuk yang telah dihancurkan, maka akan semakin berpengaruh terhadap aroma dan rasa kopi. Studi ini bertujuan mempelajari pengaruh kecepatan putar mesin pembubuk kopi dan suhu penyangraian, yang meliputi waktu, kapasitas pembubukan, yang merupakan hasil torsi motor penggerak, efisiensi mesin pembubuk kopi, hasil pembubukan, rata-rata ukuran diameter partikel, dan tingkat kehalusan kopi bubuk.  Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu penelitian pendahuluan dan utama. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk menentukan kecepatan putar enjin optimum serta penentuan preferensi suhu penyangraian, baru kemudian dilakukan penelitian utama yang meliputi proses penghalusan dan pengayakan yang menghasilkan kopi bubuk jenis robusta. Kecepatan putar enjin yang dihasilkan pada penelitian ini adalah 3.365; 2.696; dan 2.219 PPM. Berdasarkan hasil uji citarasa dengan memanfaatkan responden yang belum terlatih secara acak, rasa kopi bubuk yang terfavorit dicapai ketika proses pengolahan/penyangraiannya dilakukan pada suhu 160oC, selama 30 dan 35 menit. Semakin tinggi kecepatan putar enjin dan suhu penyangraian, maka kapasitas dan efisiensi mesin pembubuk tipe hammer mill meningkat signifikan. Oleh karena itu, kombinasi optimum antara kecepatan putar enjin dan suhu penyangraian akan berdampak pada tingkat kehalusan kopi hasil bubuk. Kata kunci: Hammer mill, Penghalusan, Kopi bubuk robusta, Pengayaka

    MAPPING KAWASAN SALAK PONDOH KABUPATEN SLEMAN MENGGUNAKAN PENGOLAHAN CITRA QUICK BIRD DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

    No full text
    Salak Pondoh sebagai komoditas unggulan Kabupaten Sleman Jogyakarta yang secara nyata telah mensejahterakan masyarakat dan meningkatkan pendapatan daerah perlu terus dijaga dan dikembangkan kuantitas dan kualitas produksinya, terutama dalam perdagangan internasional. Salah satu upaya untuk tetap dapat menjamin kualitas dan kuantitas produksi perlu dilakukan pemetaan mengenai tata-letak dan luas kawasan salak pondoh. Pemetaan kawasan ini dilakukan dengan metode pengolahan citra ’quick bird’ dan sistem informasi geografis. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa kawasan salak pondok di Kabupaten Sleman total 2.419.829 Ha, yang terdiri atas Kecamatan Tempel 672.574 Ha, Kecamatan Turi 1.560.891 Ha, dan Kecamatan Pakem 186.364 ha. Hasil ini dapat digunakan sebagai informasi dan panduan pengembangan salak selanjutnya. Kata kunci : mapping, citra quick bird, salak pondoh

    PENGARUH OHMIC DAN PASTEURISASI KONVENSIONAL TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN KUALITAS JUS CAMPURAN JERUK-WORTEL

    No full text
    Pasteurisasi ohmic dan konvensional dilakukan pada jus campuran jeruk-wortel dengan perbandingan (80 %:20 %, v/v) pada konsentrasi 10o Brix. Perubahan karakteristik fisikokimia dan kualitas jus campuran dapat dilihat dalam hal warna, pH, brix, browning, turbiditas, keasaman, rasio pulp-serum, dan rasio brix-asam, yang diukur dan dibandingkan dengan jus yang tidak diproses. Kecenderungan warna jus dengan perlakuan ohmic menunjukan sampel dengan warna sedikit kemerahan dan kuning cerah jika dibandingkan dengan metode pasteurisasi lainnya, akantetapi tidak berbeda nyata dengan jus campur segar pada tingkat kepercayaan 0,05 %. Hasil pengukuran CIE Lab menunjukkan bahwa CIE b* memiliki nilai korelasi positif sedangkan CIE a* cenderung memiliki nilai korelasi negatif ketika sampel mengalami perlakuan panas. Nilai kandungan gula, keasaman dan rasio brix-asam mengindikasikan ohmic dapat diterapkan pada kondisi yang tepat terutama untuk mengimbangi rasa dari jus campur. Sampel yang telah dipasteurisasi dengan ohmic juga menghasilkan warna, pH, turbiditas, keasaman dan rasio pulp-serum yang lebih baik dibandingkan metode yang lain. Secara umum, karakteristik  jus campur pasteurisasi dapat dipertahankan oleh pasteurisasi ohmic diikuti dengan pasteurisasi konvensional cepat, sedangkan pasteurisasi konvensional ringan menunjukkan pengaruh paling sedikit diantara semuanya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasteurisasi ohmic memiliki kemungkinan yang menjanjikan untuk diaplikasikan pada jus campur yang diproduksi industri minuman. Kata kunci: pasteurisasi ohmic, pasteurisasi konvensional, karakteristik fisikokimia, jus                             campuran jeruk-wortel

    DISAIN DAN UJI UNJUK KERJA MESIN PENGERING BERDASARKAN KONSEP EFEK RUMAH KACA (ERK) HIBRIDA

    No full text
    Pengeringan merupakan proses yang sangat penting dalam penangan produk-produk pertanian. Saat ini mesin pengering yang lebih effisien dan lebih ramah lingkungan gencar dikembangkan, selain sebagai salah satu upaya untuk menekan laju pemanasan global dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan (surya dan biomassa), juga untuk menekan biaya proses karena semakin mahalnya energi fossil dan listrik. Mesin pengering yang dirancang adalah mesin pengering yang memanfaatkan efek rumah kaca (ERK) iradiasi surya di dalam ruang pengering.  Sumber energi hibrida (surya dan biomassa) digunakan agar mesin mampu beroperasi 24 jam dalam 1 hari. Mesin dirancang tipe bak, untuk pengeringan jagung pipilan dengan kapasitas 1 ton per proses. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada kapasitas penuh (1 ton jagung), suhu ruang pengering mampu mencapai  55,7 oC pada iradiasi surya sebesar 294,36 W/m2  dan penambahan sumber panas dari pembakaran biomassa (kayu bakar)  sebesar 5.39 kg/jam. Dibutuhkan waktu  23 jam untuk mengeringkan jagung dari KA 31.59% menjadi 14%. Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa dalam proses pengeringan tersebut  peran energi biomassa ternyata sangat dominan (67 – 90 %) dibanding energi surya (7-20%) dan energi listrik. Kata kunci: Pengeringan, Efek rumah kaca (ERK), Sumber energi hibrida

    PEMETAAN KERAGAMAN WARNA DAUN PADI DENGAN CITRA YANG DIAMBIL DARI PESAWAT TERBANG MINI

    No full text
    Penelitian ini bertujuan merancang sistem akuisisi data keragaman tingkat warna daun pada suatu hamparan lahan sawah dan memetakan keragaman tersebut secara spasial yang nantinya dipakai sebagai pedoman melakukan pemupukan dengan laju variabel (variable rate application). Tingkat warna daun diukur melalui citra yang ditangkap oleh sebuah kamera digital yang kemudian diolah untuk mendapatkan tingkat warna daun sesuai dengan standar bagan warna daun (BWD) IRRI. Kamera digital dioperasikan dari suatu ketinggian dengan 2 cara yaitu dengan galah vertikal berketinggian sekitar 5 meter dan dengan pesawat terbang mini dari ketinggian sekitar 30-100 meter. Beberapa program komputer dibuat untuk melakukan beberapa proses yaitu mendapatkan koordinat-kordinat patokan, warna patokan, warna setiap piksel, melakukan konversi koordinat citra ke dalam kordinat lahan, pemetaan spasial, dan melakukan grading tingkat warna daun pada peta spasial.Hasil akhirnya adalah peta spasial dimana setiap grid memiliki informasi tingkat kehijauan daun tertentu. Percobaan pendahuluan mendapatkan bahwa perbedaan tingkat warna daun dapat dinyatakan dengan perbedaan komponen warna RGB secara konsisten pada berbagai intensitas cahaya. Artificial neural network dipakai untuk melakukan konversi koordinat di dalam citra ke koordinat lahan. Pengukuran menghasilkan akurasi 18 – 78 % pada pengukuran warna daun dengan galah dan akurasi 64 – 78 % untuk pemakaian pesawat terbang mini. Permasalahan yang dihadapi adalah efek pandangan perspektif pada citra lahan, adanya efek mata ikan pada penerbangan tinggi, dan ketelitian dalam memilih piksel patokan. Kata kunci: pertanian presisi, sensor kamera, warna daun, dosis pemupukan, pesawat terbang mini, artificial neural networ

    ANALISIS SIFAT FISIK DAN MEKANIK TANAH HASIL PENGOLAHAN TANAH DI KEBUN TEBU LAHAN KERING

    No full text
    Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan sifat fisik dan mekanik tanah hasil operasional mesin pengolahan tanah (traktor). Pengamatan deskriptif dilaksanakan di areal kebun tebu lahan kering yang diolah menggunakan traktor roda 4 dengan implemen pengolahan tanah: bajak, garu, dan kair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pengolahan tanah dengan cara dibajak, digaru, dan dikair menghasilkan sifat fisik dan mekanik tanah yang bervariasi. Tekstur tanah di areal lahan penelitian adalah lempung liat berpasir (sandy clay loam) dengan kandungan fraksi pasir (sand): 61,53-63,55%, liat (clay): 24,33-28,37%, dan debu (silt): 10,10-12,12%.  Nilai kohesi tanah dan sudut gesek internal dalam pada kedalaman tanah 0-30 cm berturut-turut adalah sebesar 0,12-0,57 kgf/cm2 dan 14,27-33,66°. Perubahan densitas tanah dan tahanan penetrasi tanah sebelum dan sesudah pengolahan tanah pada kedalaman 0-10 cm, berturut-turut adalah dari 1,33-1,56 menjadi 0,98-1,35 g/cc dan dari 0,94 menjadi 0-0,02 kgf/cm2; pada kedalaman 10-20 cm adalah dari 1,27-1,63 menjadi 0,98-1,55 g/cc; dan dari1,23 menjadi 0-0,32 kgf/cm2; pada kedalaman 20-30 cm, dari 1,16-1,42 menjadi 1,07-1,62 g/cc dan dari 1,43 menjadi 0,71-1,05 kgf/cm2.  Sedang perubahan diameter bobot rata-rata (mean weight diameter) bongkah tanah hingga kedalaman 20 cm oleh Bajak I – Bajak II – Garu I – Garu II – Kair, adalah dari 1,50- 1,57 menjadi 0,65-0,98 cm.  Sementara hubungan penurunan densitas tanah (BD) akibat pengolahan tanah diikuti dengan berkurangnya diameter bobot rata-rata (MWD) dinyatakan dengan persamaan: MWD = 1,97 BD – 1,63. Besar kedalaman tekan (sinkage) dari Bajak I hingga ke Kair adalah dari 7,60-8,38 menjadi 5,99-7,16 cm akibat besar tekanan mesin ke tanah (ground pressure) sebesar 5,67-6,56 kgf/cm2. Kata kunci : Tekstur, Densitas, Tahanan penetrasi tanah, Diameter bobot rata-rata, Sinkag

    AUDIT ENERGI PADA BERBAGAI JENIS INDUSTRI TAHU BERDASARKAN TEKNOLOGI PEMASAKANNYA

    No full text
    Berdasarkan teknologi pemasakannya cara penggunaan energi selama ini pada beberapa jenis industri tahu disinyalir belum efisien. Penelitian dilakukan pada 4 produsen tahu yang masing-masing menggunakan teknologi pemasakan berbeda, yaitu; tungku tunggal, tungku ganda, ketel uap horizontal, dan ketel uap vertikal. Metoda deskriptif analisis digunakan untuk mengkaji rasio masukan-luaran energi. Energi masukan adalah tenaga kerja manusia, energi bahan bakar, energi yang sudah terbentuk, dan energi bahan, sedang energi luaran adalah energi tahu, dan energi ampas tahu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total input energi tertinggi sebesar 19.005,05 kJ/kg tahu terjadi pada ketel uap vertikal dan terrendah sebesar 6.026,80 kJ/ kg tahu pada tungku tunggal. Tingginya konsumsi energi untuk mengoperasikan ketel uap vertikal terjadi karena ia bekerja di bawah kapasitas normal. Kata kunci : audit energi, industri tahu, ketel uap, tungk

    ANALISIS KEKUATAN KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF INDONESIA DALAM MENINGKATKAN DAYA SAING AGROINDUSTRI HALAL

    No full text
    Pemetaan keunggulan daya saring komparatif dan kompetitif agro-industri dan bisnis halal Indonesia diperlukan untuk menjamin keberhasilan bisnis halal di pasar internasional, terutama di negara-negara anggota ASEAN. Analisis SWOT- kuantitatif digunakan sebagai metode perencanaan strategis dan untuk mengevaluasi kekuatan,kelemahan, peluang dan ancaman yang terjadi pada agroindustri halal eksisting Indonesia. Lima faktor yang dikelompokkan dianalisa dengan dua belas faktor daya saing yang dinilai untuk mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif.  Penilaian dilakukan oleh tujuh belas responden pelaku agroindustri halal nasional yang terdiri atas pengambil kebijakan, industri pakar dan pengamat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Agroindustri halal dapat menjadi altrenatif kebijakan yang sangat baik (skor kekuatan 4,19 dan skor kelemahan -2,25), mengingat kemampuannya melibatkan keterkaitan antara pengembangan industri hulu pertanian, industri hilir pertanian serta jasa-jasa pendukung secara harmonis dan simultan Kata kunci : Analisis SWOT kuantitatif, Halal, Agroindustri, Komparatif, Kompetiti

    113

    full texts

    256

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇