12755 research outputs found
Sort by
PUSAT KESEHATAN DAN EDUKASI UNTUK AUTISME DI BANDUNG: DESAIN PARAMETRIK UNTUK RUANG TRANSISI PUBLIK KE PRIVAT YANG RAMAH ANAK AUTIS
Anak-anak dengan autisme di Bandung menghadapi tantangan dalam mengakses fasilitas
kesehatan dan edukasi yang responsif terhadap kebutuhan sensorik serta psikologis mereka.
Minimnya ruang terapi yang dirancang khusus untuk mendukung proses transisi dari area
publik ke private semakin memperumit adaptasi anak autis dalam lingkungan baru. Tugas
akhir ini mengusulkan rancangan Pusat Kesehatan dan Edukasi Autisme di Bandung
dengan menerapkan pendekatan desain parametrik untuk menciptakan ruang transisi yang
dinamis, aman, dan sesuai karakteristik unik pengguna.
Konsep desain berfokus pada penciptaan zona transisi bertahap dari area publik yang
interaktif hingga ruang privat yang tenang melalui algoritma parametrik yang
mengoptimalkan elemen pencahayaan, akustik, tekstur, dan tata letak. Pendekatan ini
memungkinkan fleksibilitas ruang, di mana setiap elemen dapat disesuaikan secara real-time
berdasarkan respons sensorik anak, seperti pengaturan intensitas cahaya atau reduksi
kebisingan. Material alami dan palet warna netral dipilih untuk meminimalkan stimulasi
berlebih, sementara pola geometris pada dinding dan lantai dirancang untuk membimbing
anak secara visual melalui perubahan ruang.
Penelitian diawali dengan studi literatur mengenai kebutuhan sensorik anak autis, observasi
fasilitas kesehatan eksisting di Bandung, serta wawancara dengan terapis, orang tua, dan
pendidik. Hasilnya menunjukkan bahwa ruang transisi yang tidak terdefinisi dengan baik
sering memicu kecemasan dan meltdown. Oleh karena itu, desain parametrik
diimplementasikan untuk menghasilkan spatial configurations yang adaptif, seperti partisi
modular dan jalur sirkulasi berkelanjutan yang menghubungkan zona bermain, terapi,
edukasi, dan istirahat.
Integrasi ruang edukasi keluarga dan area interaksi sosial menjadi bagian tak terpisahkan
dari desain. Ruang edukasi dirancang dengan dinding akustik dan teknologi visual interaktif
untuk memudahkan orang tua memahami metode terapi, sementara area sosial mengadopsi
bentuk organik yang terinspirasi dari elemen alam sekitar Bandung, seperti kontur
perbukitan, untuk menciptakan kesan familiar.
Diharapkan, rancangan ini tidak hanya menjadi solusi arsitektural inklusif bagi anak autis,
tetapi juga menginspirasi pendekatan desain adaptif di fasilitas publik lainnya. Keberhasilan
ruang transisi parametrik dalam mengurangi sensory overload sekaligus meningkatkan
kemandirian anak dapat menjadi acuan bagi pengembangan pusat layanan autisme berbasis
teknologi di Indonesia.
Kata Kunci: Autisme, Desain Parametrik, Ruang Transisi, Ramah Anak Autis, Bandun
PUSAT KEBUDAYAAN BAGI ANAK MUDA DI YOGYAKARTA
Pusat Kebudayaan bagi Anak Muda di Yogyakarta dirancang sebagai wadah bagi
generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan mengembangkan budaya lokal dalam
konteks yang relevan dengan perkembangan zaman. Bangunan ini berfungsi sebagai ruang
multifungsi yang mengintegrasikan elemen budaya tradisional dan kontemporer untuk menarik
minat anak muda yang memiliki ketertarikan pada ekspresi seni dan kreativitas. Pendekatan
arsitektur kontemporer yang fleksibel dan adaptif diterapkan agar bangunan dapat
mengakomodasi berbagai kegiatan seperti pameran seni, pertunjukan musik, diskusi budaya,
serta lokakarya kreatif. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana karakteristik anak muda
Yogyakarta dapat dipadukan dengan nilai budaya lokal melalui elemen desain yang dinamis,
inovatif, dan responsif terhadap kebutuhan pengguna. Melalui penerapan konsep desain yang
fleksibel, bangunan ini diharapkan dapat beradaptasi dengan perubahan fungsi ruang secara
efisien dan memberikan pengalaman ruang yang menarik serta bermakna. Hasil akhir dari
penelitian ini adalah sebuah pusat kebudayaan yang tidak hanya menjadi tempat berkumpul
dan berkreasi, tetapi juga menjadi simbol identitas lokal yang mampu menghubungkan nilai�nilai tradisi dengan modernita
Acceptance and Commitment Therapy (ACT) untuk Lansia dengan Cognitive Fusion dan Kekhawatiran Berlebih
Modul kolaborasi antara mahasiswa dan dosen yang dikembangkan dan diterapkan saat praktek profesi LPPPU di panti lansi
Hasil Korespondensi Jurnal Berjudul "ENHANCING PR AGENDA SETTING: KOL AND ARTIFICIAL INTELLIGENCE FOR SUSTAINABLE DEVELOPMENT"
PENGARUH MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT MATAHARI DEPARTMENT STORE Tbk CABANG UPTOWN MALL BSB
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja
karyawan pada PT Matahari Department Store Tbk Cabang Uptown Mall BSB Semarang.
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode survei, di mana
seluruh populasi yang terdiri dari 35 karyawan tetap dijadikan sampel menggunakan teknik
sampling jenuh. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan
reliabilitasnya, dengan indikator motivasi kerja mengacu pada teori McClelland (kebutuhan
berprestasi, afiliasi, dan berkuasa) serta indikator kinerja karyawan meliputi kuantitas, kualitas,
dan ketepatan waktu kerja. Analisis data menggunakan regresi linier sederhana untuk menguji
pengaruh antara variabel motivasi kerja dan kinerja karyawan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan di PT
Matahari Department Store Tbk Cabang Uptown Mall BSB. Temuan ini memberikan implikasi
praktis bagi manajemen perusahaan dalam upaya meningkatkan kinerja karyawan melalui
strategi peningkatan motivasi kerja, serta memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan
ilmu manajemen sumber daya manusia, khususnya terkait hubungan antara motivasi dan
kinerja karyawan
HUBUNGAN SELF DISCLOSURE DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA ISTRI DI KOTA SEMARANG
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Self-Disclosure (keterbukaan diri) dengan kepuasan pernikahan pada istri di Kota Semarang. Kepuasan pernikahan merupakan perasaan subjektif terhadap kualitas hubungan pernikahan, sedangkan Self-Disclosure adalah proses keterbukaan diri kepada pasangan yang mencakup aspek hubungan, seks, keuangan, dan keseimbangan pengungkapan. Dalam penelitian ini terdapat hipotesis yaitu adanya hubungan positif antara Self-Disclosure dengan kepuasan pernikahan pada istri di Kota Semarang, dengan semakin tinggi Self-Disclosure maka semakin tinggi juga kepuasan pernikahan pada istri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan partisipan sebanyak 103 istri yang memenuhi kriteria usia 40–60 tahun, berdomisili di Kota Semarang, tidak bekerja, tinggal satu rumah dengan suami, dan sudah memiliki anak. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah incidental sampling. Alat ukur yang digunakan terdiri dari dua skala, yaitu skala kepuasan pernikahan yang disusun berdasarkan teori Fowers dan Olson (1989) dan skala Self-Disclosure yang disusun berdasarkan teori Waring, Holden, dan Wasley (1998). Hasil analisis menggunakan uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat signifikan antara Self-Disclosure dengan kepuasan pernikahan (r = 0,860; p < 0,01). Aspek SelfDisclosure yang paling berpengaruh terhadap kepuasan pernikahan adalahaspek keuangan(money). Dengan demikian, semakin tinggi keterbukaan diri istri
terhadap pasangan, maka semakin tinggi pula tingkat kepuasan dalam
pernikahannya
LAPORAN PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL PENCEGAHAN KEMATIAN JANTUNG MENDADAK SAAT OLAHRAGA PADA DEWASA MUDA
Kematian jantung mendadak akibat olahraga sering menjadi persoalan, Karena olahraga memang
banyak memiliki manfaat bagi tubuh terutama pada kesehatan jantung namun hal ini juga dapat
berakibat buruk bagi jantung apabila melakukan olahraga tanpa mengetahui riwayat jantung dan
terlalu memaksakan olahraga yang berat. Masa dewasa muda adalah periode kehidupan antara usia
20 tahun sampai 40 tahun. Banyak individu cenderung merasa sehat dan kuat, tetapi mereka bisa
jadi mengabaikan beberapa tanda atau risiko yang terkait dengan kesehatan jantung. Mereka acuh
terhadap kesehatan jantung saat berolahraga karena tidak sepenuhnya menyadari pentingnya
menjaga kesehatan jantung saat melakukan aktivitas fisik terutama olahraga aerobik yang memacu
adrenalin jantung. Dampaknya apabila mengabaikan kesehatan jantung pada saat olahraga berat
dapat mengakibatkan kematian jantung mendadak. Oleh karena itu, diperlukan media komunikasi
visual untuk menghimbau para dewasa muda untuk lebih aware, sebagai upaya mencegah
terjadinya kematian jantung mendadak saat olahraga.
Sudden cardiac death due to exercise is often a concern. While exercise offers numerous benefits
for the body, especially for heart health, it can also have adverse effects on the heart if physical
activity is performed without knowing one's heart history and pushing oneself too hard with intense
exercise. Young adulthood is the life stage between the ages of 20 and 40. Many individuals tend
to feel healthy and strong, but they may overlook certain signs or risks associated with heart health.
They may be indifferent to their heart health during exercise because they are not fully aware of
the importance of maintaining heart health during physical activity, especially in aerobic exercises
that stimulate the heart's adrenaline. The consequence of neglecting heart health during intense
exercise can lead to sudden cardiac death. Therefore, there is a need for visual communication
media to encourage young adults to be more aware in an effort to prevent sudden cardiac death
during exercise
PEMBANGUN GEDUNG PELAYANAN PASTORAL DAN PASTORAN GEREJA KATOLIK MATER DEI LAMPERSARI DI KOTA SEMARANG
Dengan berjalannya waktu, jumlah umat Katolik meningkat, khususnya di Gereja Katolik Mater
Dei Lampersari di Kota Semarang. Semakin bertambahnya umat di gereja tersebut, maka jumlah
umat yang mengikuti kegiatan di lingkup gereja ini semakin banyak juga. Sehingga dengan
bertambahnya umat tersebut, membutuhkan tempat untuk berkegiatan yang memadai dan nyaman.
Gedung pelayanan pastoral dan pastoran yang sudah ada ini kurang efektif, karena lahan yang ada
sebenarnya sangatlah luas tetapi untuk pemanfaatannya sangatlah kurang. Lahan yang ada
sebagian besar digunakan untuk lahan parkir, dan lahan hijau yang ada sangatlah kurang dan tidak
sesuai dengan peraturan yang mengatakan bahwa untuk lahan hijau minimal 15% dari luas lahan.
Sehingga perlu dilakukan pembangunan ulang. Lalu dengan adanya Pembangunan ulang ini,
digunakan desain Arsitektur Kontekstual dikarenakan bangunan ini berada di sekitar pemukiman
warga dan bangunan ini tidak ingin terlalu terlihat kontras dari bangunan disekitarnya