Soegijapranata Catholic University

Unika Repository
Not a member yet
    12755 research outputs found

    KEABSAHAN HUKUM DAN MORAL DALAM IBU PENGGANTI: PERJANJIAN TAK BERNAMA, KEBEBASAN BERKONTRAK DAN OTONOMI PEREMPUAN ATAS TUBUHNYA

    Full text link
    Penelitian ini mengkaji keabsahan hukum dan moral dalam praktik ibu pengganti (surrogacy) di Indonesia, dengan fokus pada posisi perjanjian ibu pengganti sebagai perjanjian tak bernama (innominaat), prinsip kebebasan berkontrak, serta relasinya dengan otonomi perempuan atas tubuhnya. Praktik ini belum memiliki landasan eksplisit dalam sistem hukum positif Indonesia, termasuk dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekosongan hukum yang ada dan menilai apakah perjanjian ibu pengganti dapat dikategorikan sebagai sah berdasarkan asas-asas perjanjian dalam Pasal 1320 KUH Perdata, khususnya mengenai unsur “sebab yang halal” dan tidak bertentangan dengan kesusilaan atau ketertiban umum. Metode yang digunakan adalah pendekatan yuridis sosiologis, yang mengombinasikan analisis normatif terhadap peraturan perundang-undangan dan asas hukum dengan studi empiris terhadap praktik ibu pengganti yang telah terjadi. Data diperoleh melalui studi literatur dan wawancara yang menggambarkan bagaimana perjanjian ibu pengganti diselenggarakan dalam praktik, serta bagaimana masyarakat Indonesia dan aparat hukum menilainya dari perspektif hukum dan moral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perjanjian ibu pengganti berada dalam wilayah abu-abu hukum: secara normatif belum dilarang secara eksplisit, namun rentan dianggap melanggar kesusilaan atau nilai moral masyarakat. Di sisi lain, praktik ini juga membuka ruang perdebatan mengenai hak otonomi perempuan atas tubuhnya sebagai perwujudan Hak Asasi Manusia. Maka dibutuhkan kerangka hukum yang lebih komprehensif agar perjanjian ibu pengganti dapat dinilai secara adil, baik dari aspek legalitas maupun nilai-nilai moral

    PERAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DALAM PENANGGULANGAN RESIDIVISME TINDAK PIDANA NARKOTIKA (STUDI KASUS PADA LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS I SEMARANG)

    Full text link
    Residivisme tindak pidana narkotika menjadi tantangan serius dalam sistem pemasyarakatan di Indonesia. Penelitian ini menganalisis peran dan efektivitas Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Semarang dalam menanggulangi residivisme tindak pidana narkotika melalui program pembinaan dan rehabilitasi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan pihak Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Semarang dan narapidana residivis tindak pidana narkotika, serta studi kepustakaan. Spesifikasi penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan analisis data kualitatif untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas program pembinaan dan rehabilitasi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, ditemukan bahwa Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Semarang hanya menyediakan rehabilitasi sosial tanpa adanya rehabilitasi medis, yang seharusnya menjadi bagian dari pemulihan bagi pecandu narkotika. Ketiadaan rehabilitasi medis bukan merupakan kebijakan internal Lembaga Pemasyarakatan, melainkan keputusan dari pemerintah pusat. Hal ini menunjukkan ketidaksesuaian dengan ketentuan Pasal 54 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang mewajibkan pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika untuk menjalani rehabilitasi medis dan sosial. Secara gramatikal dan hukum, penggunaan kata “dan” dalam Pasal tersebut mengandung konsekuensi bahwa kedua bentuk rehabilitasi harus diberikan secara bersamaan atau terpenuhi secara menyeluruh. Dengan demikian, jika hanya salah satu bentuk rehabilitasi yang tersedia, maka ketentuan dalam Pasal ini belum sepenuhnya dipatuhi. Akses terhadap layanan rehabilitasi masih terbatas karena keterbatasan kapasitas, yang menyebabkan tidak semua narapidana dapat mengikuti program ini. Faktor lain yang turut memengaruhi efektivitas pembinaan adalah perbedaan tingkat ketergantungan narapidana, latar belakang sosial, serta keterbatasan sarana dan prasarana dalam mendukung rehabilitasi yang berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, program pembinaan dan rehabilitasi yang diterapkan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Semarang belum sepenuhnya efektif dalam menekan angka residivisme. Hal ini terlihat dari masih adanya narapidana yang kembali terlibat dalam penyalahgunaan narkotika setelah bebas, meskipun telah mengikuti program pembinaan dan rehabilitasi selama menjalani masa pidana

    IMPLEMENTASI PENGGANTIAN ANTAR WAKTU ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA YANG DISEBABKAN PEMBERHENTIAN OLEH PARTAI POLITIK

    Full text link
    Penggantian Antar Waktu (PAW) merupakan mekanisme dalam sistem demokrasi perwakilan Indonesia untuk mengisi kekosongan kursi legislatif. Namun, implementasi PAW bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang disebabkan pemberhentian oleh partai politik pengusung, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) khususnya Pasal 239, menimbulkan problematika yuridis dan politis yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan PAW di Indonesia dan implementasi Pasal 239 UU MD3 ketika PAW disebabkan pemberhentian oleh partai politik. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis-normatif melalui pendekatan perundang-undangan (statute approach)), penelitian ini mengkaji regulasi dan praktik PAW, putusan Mahkamah Konstitusi, teori perwakilan (trusteeship model Edmund Burke), serta menganalisis studi kasus PAW yang menonjol (Ruhut Sitompul 2016, Fahri Hamzah 2016, dan Djoko Edhi Soetjipto Abdurrahman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan PAW dalam UU MD3 memberikan kewenangan formal yang signifikan kepada partai politik untuk menginisiasi pemberhentian anggotanya di DPR, menciptakan potensi dominasi partai atas mandat rakyat. Implementasinya di lapangan menunjukkan ketegangan antara kewenangan partai ini dengan prinsip kedaulatan rakyat dan idealisme independensi penilaian wakil rakyat trustee model Edmund Burke. Studi kasus mengilustrasikan variasi implementasi: PAW yang berjalan secara formal melalui pengunduran diri di tengah tekanan politik (Ruhut), PAW yang digagalkan melalui perlawanan hukum yang menegaskan batas kewenangan partai (Fahri), hingga PAW yang gagal dibatalkan melalui perlawanan Hukum (Djoko Edhi). Praktik PAW oleh partai politik terbukti berdampak negatif terhadap independensi legislator, berpotensi melemahkan kualitas deliberasi dan fungsi pengawasan DPR, serta mengganggu mekanisme checks and balances. Meskipun anggota DPR memiliki mekanisme perlawanan hukum melalui pengujian yudisial, efektivitasnya masih menghadapi tantangan

    SINKRONISASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN SISTEM PERIZINAN BERUSAHA PENAMBANGAN BATUAN LINTAS PROVINSI JAWA TENGAH DAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    Full text link
    Pemerintah Indonesia mengatur sistem perizinan pertambangan yang memuat kewenangan penerbitan izin pertambangan di daerah. Kewenangan ini menjadi problematik apabila menyangkut wilayah tambang lintas provinsi. Batas daerah administratif kedua provinsi yang berdampingan berpotensi terjadi sengketa kewenangan dalam pengelolaan pertambangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta melakukan inventarisasi peraturan perundang-undangan di yang relevan dengan sistem perizinan berusaha penambangan batuan, untuk mengetahui alur sistem perizinan berusaha penambangan batuan melalui OSS, dan untuk mengetahui sinkronisasi peraturan perundang-undangan yang mengatur sistem perizinan berusaha penambangan batuan lintas provinsi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan (stattute approach). Dengan spesifikasi penelitian deskriptif analisis yang didukung oleh data sekunder dan bahan hukum primer, sekunder serta tersier. Adapun data sekunder yang digunakan merupakan peraturan perundang-undangan di bidang energi dan sumber daya mineral serta pemerintahan daerah. Teknik analisa data yang digunakan adalah penelitian sinkronisasi vertikal dan horizontal yang didukung oleh sifat deskriptif analisis untuk memberikan argumentasi atas hasil penelitian. Peraturan perundang-undangan dalam kedua bidang tersebut disesuaikan dengan teori hierarki hukum yang diusulkan oleh Hans Kelsen dan Hans Nawiansky, yang terkait dengan norma-norma hukum yang berlaku di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inventarisasi peraturan perundang-undangan terbagi menjadi dua bidang yaitu; bidang energi dan sumber daya mineral serta bidang pemerintahan daerah yang disusun sesuai hierarki peraturan perundangundangan. Penelitian ini juga menunjukkan alur perizinan berusaha penambangan batuan melalui OSS. Selanjutnya, sinkronisasi peraturan perundang-undangan sistem perizinan berusaha penambangan batuan mengungkapkan bahwa secara vertikal ketentuan Pasal 6 dan Pasal 35 UU Minerba Perubahan tidak selaras dengan Pasal 18A UUD 1945 dalam kaitannya hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan daerah. Di sisi lain, secara horizontal, Pasal 6 dan Pasal 35 UU Minerba Perubahan juga tidak selaras dengan Pasal 12, 13, dan 14 UU Pemda dalam kaitannya dengan batas kewenangan daerah administratif. Dalam sistem peraturan perundang-undangan, penting untuk menjaga keselarasan substansi hukum mulai dari tingkat tertinggi, yaitu UUD 1945, hingga tingkat terendah, termasuk peraturan di bidang energi dan sumber daya mineral serta pemerintahan daerah. Hal ini harus dilakukan baik secara vertikal maupun horizontal sesuai dengan hierarki peraturan perundang-undangan yang berlaku

    KEWAJIBAN PENGELOLAAN LIMBAH CAIR DI RSUD PELABUHAN RATU KABUPATEN SUKABUMI UNTUK MENJAMIN HAK KESEHATAN MASYARAKAT

    Full text link
    Penelitian dengan judul Kewajiban Pengelolaan Limbah Cair Di Rsud Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi Untuk Menjamin Hak Kesehatan Masyarakat bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan kewajiban rumah sakit dalam pengelolaan limbah cair untuk memenuhi hak kesehatan masyarakat atas risiko pajanan pathogen e-coli serta senyawa berbahaya nitrat serta untuk mengetahui serta menganalisis berbagai hambatan yang ditemui oleh RSUD Pelabuhan Ratu dalam melaksanakan kewajiban pengelolaan limbah cair dalam rangka memenuhi hak kesehatan masyarakat atas risiko pajanan pathogen e-coli serta senyawa berbahaya nitrat di RSUD Pelabuhan Ratu Kab. Sukabumi. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan sekunder. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan studi kepustakaan. Wawancara dilakukan dengan pihak-pihak yang dapat memberikan informasi tentang pelaksaaan IPAL di RSUD Pelabuhanratu serta pertanggujawaban pihak Rumah Sakit terhadap pemenuhan hak kesehtan Masyarakat, sedangkan studi kepustakaan dilakukan dengan mempelajari bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Analisis data dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di RSUD Pelabuhan Ratu sudah melakukan upaya untuk memenuhi ketentuan baku mutu air limbah baik berupa limbah domestic maupun limbah bahan berbahaya dan beracun, namun demikian masih terdapat kandungan senyawa yang belum dapat seperti kandungan nitrat dan coliform yang melebihi ambang batas yang ditentukan. Hambatan yang ditemui RSUD Pelabuhan Ratu dalam melaksanakan kewajibannya adalah kendala yuridis berupa aturan baku mutu air limbah tidak cukup lengkap, faktor teknis berupa rendahnya efisiensi waktu perbaikan system IPAL karena melibatkan pihak ketiga dan adanya perbedaan hasil pada laboratorium yang ditunjuk

    PEMERATAAN TENAGA KESEHATAN DALAM PEMENUHAN HAK PELAYANAN KESEHATAN DI WILAYAH PERBATASAN ( STUDI PADA PUSKESMAS BADAU KABUPATEN KAPUAS HULU PROVINSI KALIMANTAN BARAT)

    Full text link
    Tidak meratanya pemenuhan tenaga kesehatan, terutama tenaga dokter, memiliki dampak signifikan terhadap pelayanan kesehatan di daerah perbatasan, yaitu menyebabkan keterbatasan akses ke perawatan medis. Warga di daerah perbatasan seringkali kesulitan mendapatkan akses perawatan medis yang memadai karena kurangnya dokter. Hal ini membuat pasien harus menempuh jarak yang jauh ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap di kota besar. Tenaga medis, yakni dokter umum, merupakan tenaga sentral dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Puskesmas. Belum tercukupinya tenaga medis berdampak pada pelayanan Puskesmas yang belum beroperasional selayaknya. Sebagai representasi negara dan penyelenggara, pemerintah bertanggung jawab memenuhi kecukupan tenaga medis. Tenaga medis di Puskesmas Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, belum sesuai standar minimal tenaga pada Puskesmas. Oleh karena itu, penelitian ini membahas tentang pengaturan, pelaksanaan, dan kendala Pemerintah Daerah dalam melaksanakan tanggung jawabnya untuk memenuhi kecukupan tenaga medis di Puskesmas Badau, Kabupaten Kapuas Hulu. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis sosiologis dengan metode penelitian kualitatif. Spesifikasi penelitian ini merupakan deskriptif analitik yang menggambarkan dan menganalisis tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu dalam memenuhi kecukupan tenaga medis di Puskesmas Badau, Kabupaten Kapuas Hulu. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari studi lapangan, yaitu hasil wawancara dengan narasumber, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi pustaka yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa pengaturan di bidang pemerintahan daerah mengatur secara umum terkait kesehatan sebagai urusan pemerintahan otonom yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah kabupaten. Sedangkan, pengaturan di bidang kesehatan secara umum mengatur tanggung jawab pemerintah daerah atas tersedianya fasilitas pelayanan kesehatan yang layak. Tanggung jawab Pemerintah Daerah sebagai responsibility belum terlaksana dengan baik dalam memenuhi kecukupan tenaga medis. Adanya kendala terkait ketidaksesuaian norma kelembagaan Puskesmas Badau dengan norma di atasnya, larangan pengangkatan tenaga non-aparatur sipil negara, dan kurangnya minat tenaga medis. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat pertentangan secara hierarki perundang-undangan baik dalam pengaturan pemerintah daerah maupun kesehatan terkait pemerataan tenaga kesehatan medis. Hal ini berdampak pada tidak terlaksananya tanggung jawab Pemerintah Daerah pada Puskesmas Badau karena adanya kendala baik aspek yuridis maupun non-yuridis

    PERANCANGAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PADA KLINIK PRATAMA SANDJOJO SEHAT BERBASIS WEBSITE DENGAN METODE RAPID APPLICATION DEVELOPMENT (RAD)

    Full text link
    Dalam menanggapi otomatisasi teknologi dalam proses bisnis, studi ini membahas terkait perancangan sistem informasi akuntansi berbasis website pada sektor klinik kesehatan. Klinik Pratama Sandjojo Sehat adalah salah satu klinik pratama di Kota Semarang yang telah menjalankan proses bisnisnya sebagai perusahaan dagang, dan perusahaan jasa, dimana tengah menghadapi permasalahan dalam proses pendaftaran pasien, pencatatan transaksi baik pembelian, persediaan, dan penjualan obat, bahkan hingga pelaporan keuangan klinik yang belum terkomputerisasi. Permasalahan ini mengarah pada inefisiensi, dan ketidakakuratan dalam pencatatan transaksi yang terjadi pada klinik. Sistem yang diusulkan akan menggunakan metodologi Rapid Application Development (RAD), dimana dapat memudahkan dalam proses pendaftaran pasien, pencatatan transaksi pembelian, persediaan, penjualan obat, hingga ke pelaporan keuangan klinik. Penggunaan metodologi RAD pada sistem ini, berdasarkan pada identifikasi kebutuhan klinik, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara pelaku usaha, observasi, dan dokumentasi. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dalam kegiatan operasional klinik, meningkatkan keakuratan data, dan laporan yang akan dihasilkan dapat mendukung dalam pengambilan keputusan untuk pengembangan klinik selanjutnya. Penerapan sistem divalidasi melalui pengujian Black Box, dan wawancara pengguna, guna memastikan bahwa seluruh fitur yang tersedia pada sistem telah sesuai dengan yang dibutuhkan oleh klinik. Melalui pengembangan ini, akan menekankan pentingnya sistem akuntansi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi proses bisnis klinik

    PROSES KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS INDIVIDU DEWASA AWAL KELUARGA BROKEN HOME DI KOTA PONTIANAK

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses kesejahteraan psikologis pada individu dewasa awal keluarga broken home di Kota Pontianak. Partisipan merupakan individu yang mengalami keluarga broken home akibat perceraian kedua orang tua. Jumlah partisipan yang digunakan sebanyak 3 (tiga) orang dan 3 (tiga) significant other Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara. Keabsahan data ditunjukkan dengan teknik triangulasi sumber, diskusi dengan rekan sejawat dan member check. Analisis data yang dilakukan adalah tahap awal, tahap horizonalization, tahap cluster of meaning, tahap deskripsi esensi, dan tahap laporan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan ketiga partisipan memiliki kesejahteraan psikologis positif, termasuk tujuan hidup, penguasaan lingkungan, perkembangan pribadi, otonomi, relasi positif, dan penerimaan diri yang bervariasi. Proses kesejahteraan ini terbentuk disertai pemaknaan hidup positif meski berasal dari keluarga broken home akibat perceraian orang tua, yang memungkinkan mereka mengembangkan kepribadian, menjalani hidup sejahtera, bekerja, memperbaiki diri, bersyukur atas masa lalu, dan mencintai diri serta orang tua

    MELAMPAUI TRADISI: MENGUNGKAP CHARITY DAN HERITASI CSR PELAKU UMKM MELALUI LENSA MOA

    Full text link
    Corporate Social Responsibility (CSR) adalah bentuk tanggung jawab suatu bisnis untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. CSR umumnya diterapkan oleh perusahaan besar, tetapi penerapan pada UMKM juga memiliki peran penting meskipun dilakukan dengan cara dan pendekatan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengapa dan bagaimana implementasi CSR pada UMKM batik Pekalongan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Motivation, Opportunity, and Ability (MOA) menentukan bentuk dan cara implementasi CSR pada UMKM. Motivasi yang didasari oleh faktor internal dan eksternal, peluang yang tercipta dari pemerintah dan komunitas, serta kemampuan yang dimiliki oleh UMKM akan menentukan bentuk dan implementasi CSR yang dilakukan. Praktik CSR pada UMKM batik Pekalongan dilakukan dengan pendekatan yang lebih informal dan sederhana dalam bentuk tradisi, charity, dan heritasi

    HUBUNGAN ANTARA CELEBRITY WORSHIP DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA PENGGEMAR K-POP DEWASA AWAL DI KOTA SEMARANG

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan celebrity worship dengan perilaku konsumtif pada kalangan dewasa awal penggemar kpop di Kota Semarang. Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan positif antara celebrity worship dengan perilaku konsumtif pada penggemar kpop dewasa awal di Kota Semarang. Subjek pada penelitian ini sebanyak 122 penggemar Kpop yang berada dalam fase dewasa awal (20-30 tahun) di Kota Semarang. Data diperoleh menggunakan dua skala, yaitu skala celebrity worship dan perilaku konsumtif. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis korelasi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif sangat signifikan antara celebrity worship dengan perilaku konsumtif pada dewasa awal dengan nilai koefiensi korelasi sebesar 0,372 dan p = 0,000 (p<0,01) . Dengan demikian, disimpulkan bahwa hipotesis penelitian diterima

    9,811

    full texts

    12,755

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Unika Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇