Jurnal Pengembangan Energi Nuklir
Not a member yet
349 research outputs found
Sort by
Boric Acid Radiolysis in Primary Coolant Water of PWR at Temperature of 250oC
BORIC ACID RADIOLYSIS IN PRIMARY COOLANT WATER OF PWR AT TEMPERATURE OF 250oC. The existence of oxygen in the primary coolant system of PWR could lead to corrosion, hence it is very important to suppress the oxygen concentration in the system. Therefore, study of the effect of boric acid addition into the primary coolant water system of PWR to suppress oxygen concentration resulted from gamma-ray radiation is essential to be performed. The aim of this research is to understand reaction mechanism at temperature of 2500C and the effect of boric acid adding toward oxygen concentration in the PWR primary coolant water. Methodology used is simulation using Facsimile software. Input for the software namely radiolysis reaction mechanism for pure water, G value from radiolysis product, dose rate of 1 and 104 Gy/s, aeration and deaeration system, and specific reaction of boric acid with hydroxyl radical and hydrated electron at temperature 250C and 3000C. The output are in the form of irradiation time vs oxygen concentration time series. The results show that the oxygen production increase significantly with the irradiation time and reach the saturated concentration at 107s. Based on the plot of oxygen’s concentration at 107s vs boric acid, several results are as following: oxygen concentration significantly suppressed by boric acid addition and gives the exponential decreasement, the higher dose rate gives the higher concentration of oxygen, the aeration system gives no effect on suppressing oxygen concentration at boric acid addition up to 0.1M
Penentuan Kedalaman Batuan Dasar Menggunakan Microtremor Array Di Tapak RDE Serpong
Kawasan PUSPIPTEK Serpong merupakan kawasan teknologi tinggi sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Tangerang Selatan, 2011-2031, sehingga kawasan ini ditetapkan sebagai tapak Reaktor Daya Eksperimental (RDE). Untuk menjamin keselamatan, evaluasi tapak dari berbagai aspek harus dilakukan, salah satunya adalah aspek kegempaan. Merujuk Perka BAPETEN Nomor 8 tahun 2013, evaluasi tapak perlu mengkaji kondisi geologi bawah permukaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi kondisi geologi bawah permukaan khususnya kedalaman batuan dasar di area tapak RDE. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah microtremor array (MA). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tapak RDE memiliki batuan dasar berupa batuan dari Formasi Bojongmanik pada kedalaman 391 meter dari permukaan tanah
Kajian Pra Kelayakan PLTN SMART Lepas Pantai Jenis Struktur Berbasis Gravitasi Untuk Indonesia
KAJIAN PRA KELAYAKAN PLTN SMART LEPAS PANTAI JENIS STRUKTUR BERBASIS GRAVITASI UNTUK INDONESIA. PLTN SMART lepas pantai jenis struktur berbasis gravitasi (gravity based structure, GBS) merupakan reaktor air tekan, berdaya kecil (100 MWe), dan tapaknya berada di lepas pantai. Teknologi ini dikembangkan berdasarkan teknologi PLTN SMART yang telah ada dan teknologi pengeboran lepas pantai dengan jenis struktur berbasis gravitasi. Hal ini sebagai respons pasca kecelakaan Fukushima, Jepang (2011), untuk meningkatkan sistem keselamatan, mengatasi keterbatasan lahan, dan meminimalisir penolakan masyarakat pada kasus PLTN di tapak daratan. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengkaji prakelayakan implementasi PLTN GBS di Indonesia baik dari segi kelayakan teknologi maupun regulasi. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dan selanjutnya dilakukan analisis deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa PLTN SMART lepas pantai patut dipertimbangkan karena menawarkan peningkatan aspek keselamatan, ketersediaan tapak lepas pantai, dan penerimaan masyarakat yang lebih baik. Sejauh ini PLTN SMART lepas pantai belum dapat diimplementasikan di Indonesia karena dibatasi oleh Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perijinan Instalasi Nuklir Dan Pemanfaatan Bahan Nuklir, yang menyatakan tapak adalah lokasi di daratan dan PLTN yang dapat dibangun di Indonesia harus sudah teruji
Analisis Kinerja Bahan Bakar Reaktor Tipe HTGR Sebagai Penghalang Produk Fisi
ANALISIS KINERJA BAHAN BAKAR REAKTOR TIPE HTGR SEBAGAI PENGHALANG PRODUK FISI. Reaktor tipe HTGR merupakan reaktor berpendingin gas temperatur tinggi (~ 900oC). Terdapat 2 tipe elemen bakar HTGR yaitu prismatik dan pebble bed. Kedua tipe elemen bakar tersebut tersusun dari partikel berlapis TRISO yang terdiri dari lapisan IPyC, SiC dan OPyC yang berfungsi sebagai pengungkung produk fisi dan menjaga integritas bahan bakar. Reaktor beroperasi dengan temperatur tinggi, sehingga kinerja/ kemampuan bahan bakar dalam menahan produk fisi perlu diketahui. Tujuan studi adalah untuk memperoleh pemahaman tentang karakteristik produk fisi yang dihasilkan bahan bakar, karakteristik penghalang dan kinerja bahan bakar dalam menahan produk fisi. Metode yang digunakan adalah kajian dan analisis dengan mengevaluasi kemampuan penghalang (barrier) dalam menahan produk fisi pada elemen bakar prismatik dan pebble. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat beberapa mekanisme potensial lepasnya produk fisi, yaitu: difusi melalui lapisan, kerusakan lapisan, korosi SiC oleh produk fisi palladium dan dekomposisi termal SiC. Bahan bakar merupakan penghalang pertama terhadap lepasnya radionuklida produk fisi sedangkan lapisan SiC merupakan penghalang utama yang menahan sebagian besar produk fisi gas dan padat pada temperatur operasi normal (< 1250°C). Produk fisi penting yang terbentuk adalah 137Cs, 107 Pd, 106Rh, 106Ru, 110mAg, 134I, 131Cs, 137Cs, 90Sr, 88Kr dan 133Xe, 132Te, 140La dan 239Pu. Di antara produk fisi tersebut, paladium (Pd) yang lepas dari kernel dan mencapai lapisan SiC dapat bereaksi dan menyebabkan korosi. Berdasarkan hal itu, untuk menjaga integritas bahan bakar harus dilakukan pembatasan kondisi operasi reaktor, seperti: temperatur, derajat bakar, energi aktivasi produk fisi dan kualitas bahan bakar. Pada bahan bakar tipe prismatik, terdapat 8 penghalang, yaitu: kernel bahan bakar, lapisan SiC dan PyC, matriks grafit, kompak (pil) bahan bakar, sleeve grafit, sirkuit primer, blok grafit heksagonal dan bangunan reaktor. Sedangkan pada bahan bakar pebble terdapat 6 penghalang, yaitu kernel bahan bakar, lapisan SiC dan PyC, matriks grafit, lapisan grafit sebelah luar, sirkuit primer dan bangunan reaktor. Namun, jumlah penghalang bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan adanya kemungkinan lepasnya produk fisi ke lingkungan
Kajian Sistem Pemurnian Helium Reaktor HTGR Berdaya Kecil
Sistem pemurnian helium (SPH) adalah salah satu sistem keselamatan pada reaktor HTGR. SPH berfungsi membersihkan pengotor yang ada pada pendingin primer, sehingga dampak terhadap struktur, sistem dan komponen (SSK) reaktor minimal. Ada dua jenis pengotor pada pendingin yaitu berbentuk partikulat (debu karbon, produk fisi (Kr, Xe, Cs,dll.)) dan gas (O 2, N2, H2O, CH4, CO, CO2, dan H2). Setiap reaktor mempunyai batasan pengotor yang berbeda selama operasi normal tergantung pada daya reaktor, sistem konversi energi dan jenis bahan bakar yang digunakan. Makalah ini membahas SPH pada HTR-10, HTTR dan desain konseptual RDE. Tujuan kajian adalah mengetahui desain SPH yang optimum dan dapat digunakan sebagai masukan desain SPH RDE. Metodologi yang digunakan adalah kajian literatur berdasarkan pengalaman operasi HTR-10 dan HTTR serta evaluasi desain konseptual RDE. Parameter kajian ditekankan pada batasan pengotor yang dipersyaratkan pada operasi normal, komponen utama alat pemurnian, laju alir masa dan proses regenerasi. Komponen utama peralatan pemurnian yang digunakan pada SPH HTR-10, HTTR dan RDE adalah sama yaitu filter, kolomCuO, water cooler, kolom molecular sieve dan karbon aktif kondisi kriogenik. Berdasarkan pengalaman operasi HTR-10 dan HTTR, desain SPH yang digunakan cukup handal dalam menjaga kemurnian pendingin primer, meskipun batasan pengotor yang ditetapkan berbeda. SPH pada HTTR Jepang memiliki penetapan batas yang lebih ketat yaitu tidak boleh ada pengotor N2, CH4 dan O2 pada operasi normal, serta menggunakan precharcoal trap untuk mengadsorpsi debu halus dibawah 0,1 mikron. Kedua parameter ini dapat diadopsi pada desainSPH RDE agar dampak pengotor terhadap SSK minimal.
Analisis Termohidrolik Fasilitas Eksperimen SAMOP (Reaktor Subkritik Produksi Isotop 99Mo)
ANALISIS TERMOHIDROLIK FASILITAS EKSPERIMEN SAMOP (REAKTOR SUBKRITIK PRODUKSI ISOTOP 99Mo). Telah dilakukan analisis termohidrolik dari fasilitas eksperimen sistem reaktor subkritik atau Subcritical Assembly for 99Mo Production (SAMOP). SAMOP adalah sistem reaktor subkritik dengan bahan bakar larutan uranil nitrat. Tujuananalisis termohidrolik ini adalah mengevaluasi sistem perpindahan panas, sehingga dapat diketahui cukup atau tidaknya kapasitas sistem pendinginan dalam mencegah terjadinya pemanasan lebih pada larutan bahan bakar. Metode yang digunakan adalah perhitungan parameter termohidrolik reaktor SAMOP menggunakan Computational Fluid Dynamic (CFD)-Fluent. Hasil analisis simulasi diperoleh distribusi temperatur pendingin reaktor SAMOP dengan temperatur tertinggi 37,14 °C. Nilai heat flux total sebesar 802,86 watt/m2, dengan profil distribusi berbentuk cosinus yaitu serupa dengan distribusi fluks neutron di dalam teras reaktor. Berdasarkan hasil analisis ini dapat disimpulkan bahwa pendinginan teras reaktor dengan desain sistem konveksi paksa SAMOP mampu menjaga sistem bahan bakar larutan dari pemanasan lebih.
Perbandingan Keekonomian Transmisi HVDC dan Pengangkutan Batubara Dalam Pengembangan Kelistrikan Kalimantan - Sulawesi
Sehubungan dengan karakteristik beban pada banyak wilayah di Indonesia, sistem kelistrikan sering tidak efisien. Di daerah yang jauh dari jaringan interkoneksi dan pulau terpencil misalnya, pemilihan jenis pembangkit berbahanbakar murah seperti batubara tidak tidak dapat diterapkan, sedangkanpembangkit berbahanbakar minyak biayanya sangat tinggi dan memberatkan beban subsidi. Akibatnya daerah tersebut tetap menggunakan pembangkit berbahanbakar minyak dengan membatasi waktu nyala pembangkit dan konsumen tidak mendapat layanan memuaskan. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana kemanfaatan sistem transmisi HVDC dari Kalimantan ke Sulawesi sehingga konsumen mendapat layanan lebih baik dan dapat berproduksi untuk meningkatkan kesejahteraan. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah penelusuran pustaka dan melakukan perhitungan berdasarkan formula yang ada. Hasil yang diperoleh bahwa segi biaya langsung, sistem HVDC yang meliputi biaya saluran transmisi, konverter dan rugi-rugi daya berkisar antara 0,46 – 0,60 USD¢/kWh untuk kapasitas daya berkisar antara 500 – 2000 MWe. Sedangkan biaya angkut batubara berkisar antara 0,544 – 0,645 USD ¢/kWh untuk tongkang berukuran panjang antara 270 – 330 feet. Dengan demikian, untuk wilayah Indonesia dengan banyak pulau dan daerah terpencil memungkinkan secara lebih ekonomis untuk menyalurkan listrik dengan transmisi HVDC dari pulau atau daerah yang sistem listriknya telah berkembang, sehingga wilayah terpencil juga mendapat layanan listrik yang prima untuk meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan penduduknya
Bouguer Density Analysis using Nettleton Method at Banten NPP Site
BOUGUER DENSITY ANALYSIS USING NETTLETON METHOD AT BANTEN NPP SITE. Sub-surface information become crucial in determining a feasible NPP site that safe from external hazards. Gravity survey which result as density information, is essential to understand the sub-surface structure. Nevertheless, overcorrected or under corrected will lead to a false interpretation. Therefore, density correction in term of near-surface average density or Bouguer density is necessary to be calculated. The objective of this paper is to estimate and analyze Bouguer density using Nettleton method at Banten NPP Site. Methodology used in this paper is Nettleton method that applied in three different slices (A-B, A-C and A-D) with density assumption range between 1700 and 3300 kg/m3. Nettleton method is based on minimum correlation between gravity anomaly and topography to determine density correction. The result shows that slice A-B which covers rough topography difference, Nettleton method failed. While using the other two slices, Nettleton method yield with a different density value, 2700 kg/m3 for A-C and 2300 kg/m3 for A-D. A-C provides the lowest correlation value which represents the Upper Banten tuff and Gede Mt. volcanic rocks in accordance with Quartenary rocks exist in the studied area
DESAIN TERAS DAN BAHAN BAKAR PLTN JENIS HTR-PBMR PADA DAYA 50 MWe DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM SRAC2006
ABSTRAK DESAIN TERAS DAN BAHAN BAKAR PLTN JENIS HTR-PBMR PADA DAYA 50 MWe DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM SRAC2006. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji desain teras dan bahan bakar PLTN jenis HTR-PBMR (HIGH TEMPERATURE REACTOR - PEBBLE BED MODULAR REACTOR) 50 MWe dari keadaan Beginning of Life (BOL) sampai Ending of Life (EOL) dengan masa operasi 8 tahun. Parameter yang dianalisis dalam penelitian ini adalah distribusi suhu di dalam teras, persen pengkayaan U235, komposisi bahan bakar, kekritisan, dan koefisien reaktivitas suhu teras. Penelitian dilakukan dengan menyiapkan data parameter desain teras antara lain densitas nuklida, dimensi bahan bakar dan teras, dan distribusi suhu aksial teras. Paket program SRAC2006 digunakan untuk mendapatkan nilai faktor multiplikasi effektif (keff) teras dari data input yang telah disiapkan. Hasil penelitian menunjukkan nilai kekritisan teras berbanding lurus dengan penambahan pengkayaan U235. Pengayaan optimum tanpa penggunaan burnable poison didapatkan pada nilai 10,125% dengan reaktifitas lebih sebesar 3,12% pada BOL. Penambahan burnable poison Gd2O3 didapat nilai optimumnya sebesar 12 ppm dengan nilai reaktifitas lebih pada BOL sebesar 0,38%. Untuk penggunaan Er2O3 nilai optimumnya adalah 290 ppm dengan reaktifitas lebih 1,24% pada saat BOL. Koefisien reaktivitas suhu teras tanpa burnable poison dan penggunaan Gd2O3 dan Er2O3 bernilai negatif yang menunjukkan sifat inherent safety-nya. Kata kunci: desain, teras, bahan bakar, PLTN, SRAC2006. ABSTRACT DESIGN OF 50 MWe HTR-PBMR REACTOR CORE AND NUCLEAR POWER PLANT FUEL USING SRAC2006 PROGRAMME. This research aims to assess the design of core and fuel of nuclear power plant type High Temperature Reactor-Pebble Bed Modular Reactor 50 MWe from the Beginning of Life (BOL) to Ending of life (EOL) with eight years operating life. The parameters that need to be analyzed in this research are the temperature distribution inside the core, quantity enrichment of U235 , fuel composition, criticality, and temperature reactivity coefficient of the core. The research was conducted with a data set of core design parameters such as nuclides density, core and fuel dimensions, and the axial temperature distribution inside the core. Using SRAC2006 program package, the effective multiplication factor (keff) values obtained from the input data that has been prepared. The results show the value of the criticality of core is proportional to the addition of U235 enrichment. The optimum enrichment obtained at 10.125% without the use of burnable poison with an excess reactivity of 3.12% at BOL. The addition Gd2O3 obtained an optimum value of 12 ppm burnable poison with an excess reactivity 0.38 %. The use of Er2O3 with an optimum value 290 ppm has an excess reactivity 1.24% at BOL. The core temperature reactivity coefficient with and without the use of burnable poison has a negative values that indicates the nature of its inherent safety. Keywords: design, fuel, nuclear power plant, SRAC2006
COMPARISON OF EQUIVALENT LINEAR AND NON LINEAR METHODS ON GROUND RESPONSE ANALYSIS: CASE STUDY AT WEST BANGKA SITE
COMPARISON OF EQUIVALENT LINEAR AND NON LINEAR METHODS ON GROUND RESPONSE ANALYSIS: CASE STUDY AT WEST BANGKA SITE. Within the framework of identifying NPP sites, site surveys are performed in West Bangka (WB), Bangka-Belitung Island Province. Ground response analysis of a potential site has been carried out using peak strain profiles and peak ground acceleration. The objective of this research is to compare Equivalent Linear (EQL) and Non Linear (NL) methods of ground response analysis on the selected NPP site (West Bangka) using DeepSoil software. Equivalent linear method is widely used because requires soil data in simple way and short time of computational process. On the other hand, non linear method is capable of representing the actual soil behaviour by considering non linear soil parameter. The results showed that EQL method has similar trends to NL method. At surface layer, the acceleration values for EQL and NL methods are resulted as 0.425g and 0.375g respectively. NL method is more reliable in capturing higher frequencies of spectral acceleration compared to EQL method.