Jurnal Pengembangan Energi Nuklir
Not a member yet
349 research outputs found
Sort by
ANALISIS KOMPARASI HTGR TIPE PRISMATIK DAN PEBBLE BED
ABSTRAK ANALISIS KOMPARASI HTGR TIPE PRISMATIK DAN PEBLLE BED. Telah dilakukan analisis komparasi High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR) tipe prismatik dan pebble bed. HTGR adalah salah satu kandidat untuk pembangkit listrik masa depan dan aplikasi panas untuk industri. Fitur desain HTGR saat ini, bermoderator grafit, teras berpendingin helium dan partikel bahan bakar berlapis TRISO yang didispersikan dalam matriks grafit. Masing-masing tipe teras HTGR tersebut masing-masing mempunyai kelebihan. Studi ini bertujuan membandingkan HTGR prismatik dan pebble bed sebagai alternatif PLTN di Indonesia. Metodologi yang digunakan adalah kajian literatur dan analisis dengan membuat nilai bobot berdasar aspek strategi nasional dan tekno ekonomi. Aspek strategi nasional meliputi tujuan PLTN dibangun, rating daya pembangkit dan ketersediaan teknologi fabrikasi elemen bakar. Aspek tekno-ekonomi meliputi keselamatan umum, teknologi teruji, kinerja pembangkit, kemudahan produksi elemen bakar, umur desain, interval siklus pengisian bahan bakar, efisiensi thermal, penyederhanaan, kemudahan operasi dan perawatan serta proteksi fisik. Hasil analisis menunjukkan bahwa HTGR prismatik dan pebble bed, masing-masing mempunyai nilai terbobot 4,546 dan 3,823 dari nilai tertinggi 5 sehingga HTGR pebble bed memiliki nilai lebih unggul dibanding HTGR prismatik. Kata kunci : HTGR, prismatik, pebble bed, aspek strategi nasional, aspek tekno-ekonomi, PLTN ABSTRACT COMPARATIVE ANALYSIS OF HTGR TYPE PRISMATIC AND PEBBLE BED. Analysis comparative of High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR) type prismatic and pebble bed has been carried out. HTGR is one of candidates for future electricity plant and industrial process heat applications. Current HTGR design features graphite moderated, helium cooled cores and TRISO coated fuel particles dispersed in a graphite matrix. Each type of HTGR cores has certain advantage. The purpose of this study is to compare of HTGR type prismatic and pebble bed as NPP alternative in Indonesia. The used methodology was literature assessment and analysis by making the weighing factor based on aspects of national strategic and techno-economic. National strategic aspects covers the purpose of NPP is constructed, rating power plant and availability of fuel element fabrication technology. Techno-economic aspects includes general safety, proven technology, plant performance, fuel element productability, design life, refueling cycle, thermal efficiency, simplicity, operability and maintability, also physical protection. The results of the analysis show HTGR type prismatic and pebble bed, each has weighed point 4.546 and 3.823 of 5 as the highest, so HTGR pebble bed superior than HTGR prismatic. Keywords : HTGR, prismatic, pebble bed, national strategic aspect, techno-economic aspect, NP
KAJIAN PROBABILISTIK JATUHAN ABU VULKANIK TERHADAP TAPAK PLTN MURIA
KAJIAN PROBABILISTIK JATUHAN ABU VULKANIK TERHADAP TAPAK PLTN MURIA.Telah dilakukan kajian probabilistik terhadap bahaya akibat jatuhan material piroklastik dari letusan hipotetik Gunung Muria di area tapak PLTN Semenanjung Muria. Tujuan kajian adalah untuk mendapatkan distribusi deposisi abu vulkanik dan nilai kebolehjadiannya di ULA terkait daya dukung beton pengungkung PLTN. Metodologi yang digunakan adalah melakukan simulasi dengan masukan data sekunder parameter letusan erupsi gunung Merapi tahun 2010 (terbatasnya data letusan Muria), dan data meteorologi sekunder berupa data rerata harian hasil olahan data pemantauan di ULA periode 1994-1995. Simulasi dilakukan berdasarkan metode skenario batas atas menggunakan kode komputer Tephra2. Hasil kajian menunjukkan bahwa distribusi abu vulkanik dominan mengarah ke arah Timur Laut – Barat Daya. Nilai kebolehjadian untuk beban > 1 kg/m2 adalah kurang dari 5%, sedangkan untuk beban > 10 kg/m2 adalah kurang dari 1%. Jatuhan abu vulkanik akibat letusan Gunung Muria tidak membahayakan struktur bangunan PLTN yang akan dibangun di ULA.Keywords:probabilistik, tephra, skenario batas atas
HTGR KOGENERASI PRODUKSI HIDROGEN UNTUK KONVERSI CO2 MENJADI METANOL
ABSTRAK HTGR KOGENERASI PRODUKSI HIDROGEN UNTUK KONVERSI CO2 MENJADI METANOL. Telah dilakukan studi HTGR (High Temperature Gas-cooled Reactor) kogenerasi produksi hidrogen untuk konversi CO2 menjadi metanol. Metode yang digunakan adalah studi pustaka. Tujuan studi adalah menganalisis HTGR yang dikogenerasi dengan proses produksi hidrogen untuk konversi CO2 menjadi metanol sebagai skema teknologi alternatif produksi metanol dengan proses hidrogenasi CO2. Dalam studi disimulasikan bahan baku CO2 diperoleh dengan memanfaatkan emisi CO2 dari PLTU batubara. Dengan skema ini gas alam sebagai bahan baku digantikan dengan air dan CO2, sementara kebutuhan energi panas, kukus dan listrik dipasok dari reaktor HTGR. Hasil studi menunjukkan bahwa HTGR yang dikogenerasi dengan produksi hidrogen proses termokimia siklus iodine-sulfur, dimungkinkan untuk diaplikasikan guna mengkonversi CO2 menjadi metanol. Produksi metanol dengan kapasitas sebesar 14667,7 ton/hari, mampu menghemat gas alam sebesar 15,106 juta MMBTU/tahun yang setara dengan pengurangan laju emisi CO2 sebesar 0,9 juta ton/tahun. Jika ditambah serapan emisi CO2 dari PLTU sebagai bahan baku sebesar 691428,6 ton per tahun, potensi penghematan laju emisi CO2 sebesar 1,6 juta ton/tahun. Pasokan energi panas, kukus dan listrik dari reaktor HTGR dengan daya 2×600 MWt dapat memenuhi kebutuhan proses produksi, dengan kelebihan listrik sebesar 92 MWe. Total kelebihan listrik yang dapat disambungkan ke jaringan sebesar 196 MWe, yang berasal dari PLTU batubara (104 MWe) dan reaktor HTGR (92 MWe). Kata kunci: HTGR kogenerasi, dekomposisi air, hidrogenasi CO2, metanol, emisi CO2 ABSTRACTHTGR COGENERATION TO HYDROGEN PRODUCTION FOR CO2 CONVERSION TO BE METHANOL. Study have been conducted on the application of HTGR cogeneration to hydrogen production for conversion of CO2 into methanol. The method used is literature studies. The purpose of the study is to analyze the HTGR (High Temperature Gas-cooled Reactor) cogeneration to hydrogen production for CO2 conversion to be methanol as an alternative scheme of methanol production by process of CO2 hydrogenation. This study also simulated that CO2 raw material is coming coal power plant. With the scheme, the raw material of natural gas is replaced with water and CO2 , while the need energy of heat, steam and electricity supplied from HTGR reactor. With this scheme, the use of natural gas as a raw material, energy source of heat, steam and electricity are not needed anymore. The study shows that the process of nuclear water splitting of iodine-sulfur cycle is possible to convert CO2 into methanol. Production with a capacity of 14667,7 ton/day of methanol, will save natural gas of about to 15,106 million MMBTU yearly which is equivalent to a reduction CO2 emissions by 0.9 million ton/year. In addition with CO2 emission from coal power plant that used as raw material amount 691428,6 ton/year, potential of total CO2 reduction is about 1,6 million ton/year. Supply of thermal energy, steam and electricity that comes from HTGR reactor with capacity of 2×600 MWt can meet the needs of the production process, with the excess electricity of 92 MWe. Total electricity that can be connected to the grid is about 196 MWe, 104 MWe from coal power plant, and 92 MWe from HTGR.Keywords: HTGR cogeneration, water splitting, CO2 hydrogenation, methanol, CO2 emissio
Analisis Supposed Capable Fault Sebagai Data Dukung Rencana Tapak PLTN Bojonegara, Propinsi Banten
ANALISIS SUPPOSED CAPABLE FAULT SEBAGAI DATA DUKUNG RENCANA TAPAK PLTN BOJONEGARA, PROPINSI BANTEN. Lokasi sesar dan daerah beradius 150 km dari garis sesar atau zona sesar merupakan daerah yang tertolak atau dihindari dalam pemilihan daerah tapak interes PLTN. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi keberadaan sesar permukaan atau sesar kapabel di lokasi tapak PLTN. Metodologi penelitian meliputi interpretasistruktur sesar, analisis seismik refleksi di darat dan laut, analisis seismotektonik, dan menentukan daerah terbebas bahaya pensesaran permukaan. Wilayah studi regional, yaitu radius 150 km dari daerah interes, mencakup Propinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan (sebagian Lampung). Hasil interpretasi citra landsat, struktur sesar memperlihatkan pola yang berarah timur laut - barat daya yang diwakili oleh Sesar Cimandiri, barat laut – tenggara yang diwakili oleh Sesar Citandui, Sesar Baribis, Sesar Tangkuban Perahu. Pola sesar yang berarah timur laut – barat daya diperkirakan merupakan pola struktur mendatar sinistral (left lateral faults), dan pola sesar yang berarah barat laut – tenggara merupakan sesar mendatar dekstral (right lateral faults). Berdasarkan data seismik di darat, sesar yang menembus sampai Formasi Cisubuh dikategorikan sebagai Supposed Capable Fault. Analisis sekuen stratigrafi seismik laut dikorelasikan dengan satuan umur pengendapan pada Zaman Plistosen, dimana terbagi dalam QT (Batas Tersier dan Plistosen Awal), Q1 (Batas Plistosen Awal dan Plistosen Tengah), dan Q2 (Batas Plistosen Tengah dan Plistosen Akhir), suppose capable fault menembus sekuen Plistosen awal hingga akhir. Hasil analisis seismotektonik terdapat sesar kapabel diperkirakan (supposed capable fault).Keywords: Sesar Permukaan, Tapak PLTN, Bojonegara
ANALISIS ALIRAN DAYA UNTUK PENENTUAN LOKASI PENYALURAN DAYA PLTN DI SISTEM KALIMANTAN BARAT
ANALISIS ALIRAN DAYA UNTUK PENENTUAN LOKASI PENYALURAN DAYA PLTN DI SISTEM KALIMANTAN BARAT. Kondisi kelistrikan di Kalbar diketahui dalam situasi krisis akibat jumlah kapasitas daya pembangkit yang hampir sama dengan beban puncak. Sistem tidak memiliki cadangan pembangkitan sehingga mengakibatkan defisit listrik ketika ada pembangkit yang tidak beroperasi. Kebijakan perencanaan listrik hingga tahun 2022 adalah dengan membangun PLTU untuk mengganti PLTD yang telah ada. Untuk perencanaan jangka panjang diperlukan peranan energi baru terbarukan guna mengurangi ketergantungan pemakaian bahan bakar fosil, diantaranya adalah pemanfaatan PLTN. Aspek kelistrikan, salah satunya untuk mengetahui lokasi penyaluran daya PLTN yang optimum, maka diperlukan analisis aliran daya. Lokasi Gardu Induk (GI) yang dianalisis adalah keseluruhan GI di Kalbar yaitu sejumlah 20 unit. Metoda perhitungan aliran daya pada penelitian ini menggunakan perangkat lunak ETAP 12.5. Perencanaan pengoperasian PLTN digunakan untuk memikul beban dasar, sehingga agar optimum maka faktor kapasitasnya diatas 80%. Hasil penelitian menunjukkan 3 lokasi yang dapat membangkitkan daya diatas 80%, yaitu: GI Mempawah, GI Singkawang, dan GI Sambas. Lokasi paling optimum berada di GI Mempawah dengan faktor kapasitas 83,5%. Letak ketiga GI ini sejalan dengan salah satu syarat untuk pembangunan PLTN, yaitu tersedianya sumber air pendingin karena lokasi tersebut dekat dengan pinggir pantai. Kata kunci: Aliran daya, lokasi optimum, PLTN, Kalimantan Bara