SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM

SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
    632 research outputs found

    Perbedaan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Mengolah Makanan Kontinental Melalui Penerapan Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) dan Think Pair Share (TPS)

    No full text
    ABSTRAK   Standar kompetensi mengolah makanan continental merupakan kompetensi yang wajib ditempuh oleh siswa SMK Jurusan Restoran. Berdasarkan observasi, diketahui bahwa hasil belajar siswa dalam mata pelajaran mengolah makanan continental pada sebagian siswa masih rendah yang mengindikasikan hasil belajar siswa masih di bawah KKM-SMK. Peneliti ingin membuktikan dengan penggunaan Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model STAD dan TPS dapat berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa khususnya mata pelajaran mengolah makanan kontinental. Jenis penelitian ini adalah Quasi eksperimen. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah Purpossive Sampel. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner dan data hasil belajar siswa sebelum dan sesudah diberi perlakuan metode pembelajaran kooperatif model STAD dan TPS. Hasil analisis data menunjukkan empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut, pertama, tidak ada perbedaan kemenarikan pembelajaran antara kelas yang diajar dengan menggunakan model STAD dan TPS pada mata pelajaran mengolah makanan kontinental. Masing-masing kelompok responden sama-sama paling banyak menyatakan pembelajaran yang mereka alami termasuk dalam kategori menarik. Kedua, tidak ada perbedaan kemudahan siswa dalam mengikuti pelajaran antara kelas yang diajar dengan model STAD dan TPS pada mata pelajaran mengolah makanan kontinental. Hasil penelitian juga menunjukan masing-masing kelompok responden sama-sama paling banyak menyatakan pembelajaran yang mereka alami termasuk dalam kategori mudah. Ketiga, tidak ada perbedaan hasil belajar individu antara kelas yang diajar dengan menggunakan model STAD dan TPS pada mata pelajaran mengolah makanan kontinental. Hasil belajar siswa dalam penelitian menunjukkan tiap individu sama-sama memiliki rata-rata yang tergolong dalam kategori baik. Keempat, ada perbedaan hasil belajar kelompok antara kelas yang diajar dengan menggunakan model STAD dan TPS pada mata pelajaran mengolah makanan kontinental. Perbedaan model pembelajaran STAD dan TPS menunjukkan hasil belajar siswa pada model STAD memiliki rata-rata yang lebih baik dibandingkan model TPS pada mata pelajaran mengolah makanan kontinental. Kata Kunci : hasil belajar, kontinental, model STAD, model TP

    PENGEMBANGAN MODUL KOMPETENSI DASAR MENGGUNAKAN METODE DASAR MEMASAK UNTUK SISWA KELAS X JASA BOGA SMKN 3 BLITAR

    No full text
    ABSTRAK   Okviningrum, Vitriya. 2012. Pengembangan Modul Kompetensi Dasar Menggunakan Metode Dasar Memasak untuk Siswa Kelas X Jasa Boga SMKN 3 Blitar. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dra. Mazarina Devi, M.Si., (II) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd.   Kata kunci: pengembangan, modul, metode dasar memasak, jasa boga. Modul merupakan salah satu bahan ajar cetak yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan dari penelitian dan pengembangan modul metode dasar memasak adalah menghasilkan bahan ajar untuk siswa kelas X Jasa Boga di SMK Negeri 3 Blitar pada kompetensi dasar menggunakan metode dasar memasak yang memiliki kelayakan isi, penyajian modul yang sistematis, dan penggunaan bahasa yang baik. Metode penelitian dan pengembangan yang digunakan mengadaptasi penelitian dan pengembangan menurut desain Dick and Carey yang telah dimodifikasi oleh peneliti yang terdiri dari 5 langkah pengembangan, yaitu (1) analisis situasi awal, (2) rancangan pengembangan bahan ajar, (3) pengembangan bahan ajar, (4) uji kelayakan & uji coba produk, dan (5) evaluasi & revisi produk. Validasi produk dilakukan dengan melibatkan ahli materi, pengembangan media, dan bahasa Indonesia. Uji perorangan dilakukan pada guru SMK yang relevan dengan materi pelajaran yang dikembangkan. Uji kelompok kecil dilakukan pada siswa SMKN 3 Blitar kelas X. Jenis data pada penelitian ini adalah data kuantitatif dari skor penilaian yang diperoleh dari instrumen penilaian ahli, guru SMK, dan siswa SMK. Perolehan skor validasi materi modul sebesar 93,7%, validasi pengembangan media sebesar 92,8%, dan validasi bahasa modul sebesar 95,8%, sehingga produk ini layak untuk diimplementasikan. Uji perorangan dan kelompok kecil dilakukan untuk mengetahui daya terima guru mata pelajaran dan siswa sebagai pengguna modul. Perolehan skor uji perorangan pada guru mata pelajaran terkait sebesar 77,27%, dan uji kelompok kecil pada siswa SMK modul sebesar 88,02%, sehingga produk ini layak untuk diimplementasikan. Pengujian modul yang dikembangkan hanya sebatas pada tingkat penerimaan siswa saja, sehingga belum mencakup pada pengujian efektifitas penggunaan modul pada siswa

    STUDI TENTANG PENGELOLAAN UNIT PRODUKSI BIDANG BUSANA DI SMK NEGERI 3 MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Sholihah, Ni’matu. 2012. Studi Tentang Pengelolaan Unit Produksi Bidang Busana di SMK Negeri 3 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Agus Hery S.I., M.Pd, (II) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd   Kata Kunci: studi, pengelolaan, unit produksi. Unit Produksi dapat diartikan sebagai unit usaha yang diselenggarakan di lingkup sekolah yang berfungsi untuk memproduksi barang atau layanan jasa yang bersifat bisnis dengan memanfaatkan semua sumber daya yang ada di sekolah dengan tujuan meningkatkan kualitas tamatan dan membantu dalam masalah keuangan sekolah. SMK Negeri 3 Malang termasuk satu-satunya sekolah kejuruan di kota Malang yang mempunyai Unit Produksi bidang busana. Hal ini menjadi salah satu alasan kenapa diambil penelitian ini, yaitu sebagai rujukan SMK lain untuk mendirikan Unit Produksi di sekolahnya. Maka penelitian ini akan mengulas tentang (1) perencanaan penyelenggaraan unit produksi bidang busana di SMK Negeri 3 Malang; (2) pelaksanaan Unit Produksi bidang busana di SMK Negeri 3 Malang; (3) evaluasi pelaksanaan unit produksi bidang busana di SMK Negeri 3 Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data menggunakan meningkatkan ketekunan, pengamatan ulang, triangulasi sumber, dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan: (1) perencanaan penyelenggaraan unit produksi bidang busana di SMK Negeri 3 Malang semua sudah direncanakan dengan menggunakan bussines plan, meliputi: Program kerja, Struktur Organisasi, Alur perekrutan kerja, Permodalan, Pemasaran, Sarana dan Prasarana; (2) pelaksanaan Unit Produksi bidang busana di SMK Negeri 3 Malang yaitu bergerak dalam bidang modiste dan garment; (3) evaluasi pelaksanaan program kerja unit produksi bidang busana di SMK Negeri 3 Malang berjalan 7 program dari 9 program kerja yang telah dibuat. Progam kerja yang tidak terlaksana yaitu program penambahan karyawan dan pengadaan mesin produksi. Kendala secara umum terdapat pada kegiatan pemasaran, sulitnya mencari karyawan dan keadaan tempat yang kurang strategis. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat peneliti berikan adalah: (1) Unit Produksi SMK Negeri 3 Malang diharapkan mampu melibatkan seluruh siswa ke dalam kegiatan Unit Produksi; (2) Sarana dan prasarana yang ada perlu untuk dilengkapi agar mempermudah dalam proses produksi; (3) Untuk kegiatan pemasaran perlu dibuat tim yang khusus menangani perluasan jaringan konsumen

    Pengaruh Metode Pengolahan Boiling, Steaming dan Sauteing terhadap Kadar β-karoten pada Buah Pare (Momordica charantia L.) dan Aplikasinya Pada Kuliner

    No full text
    ABSTRAK   Norma, Hilda H. 2012. Pengaruh Metode Pengolahan Boiling, Steaming dan Sauteing terhadap Kadar β-karoten pada Buah Pare (Momordica charantia L.) dan Aplikasinya Pada Kuliner. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Titi Mutiara Kiranawati, M.P., (II) Ir. Ummi Rohajatein, M.P.   Kata kunci: buah pare (Momordica charantia L.), β-karoten, metode pengolahan. Tanaman Pare tumbuh di daerah tropis, yang tergolong tanaman musiman yang hidup menjalar dan merambat. Ada tiga jenis tanaman pare yaitu pare putih atau gajih, pare hijau atau pare kodok dan pare hutan, pada penelitian ini digunakan dua jenis pare yaitu pare putih dan pare hijau yang didapat dari tempat produksi pembenihan BISI di daerah Kepung kecamatan Pare Kediri. Buah pare mengandung nutrisi seperti kalsium, magnesium, potassium, fosfor dan zat besi. Kandungan buah pare yang tergolong tinggi adalah vitamin C, vitamin A, vitamin B1, B2. Beberapa Negara terutama Jepang, Korea, China, dan India memanfaatkan buah pare untuk pengobatan. Buah pare mempunyai potensi kandungan vitamin A cukup tinggi yaitu 335 SI, oleh karena itu pada penelitian ini diteliti kadar β-karoten pada buah pare yang merupakan provitamin A yang terdapat dalam tanaman (buah dan sayur) berwarna kuning, merah, atau hijau tua. β-karoten (provitamin A) memiliki banyak manfaat bagi tubuh, karena selain mampu memenuhi kebutuhan vitamin A juga berfungsi sebagai antioksidan untuk melawan radikal bebas dalam tubuh. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap penelitian. Penelitian tahap I yaitu perlakuan awal dua jenis pare dengan perlakuan penggaraman untuk mengetahui perbedaan dan perubahan kadar β-karoten pare putih dan pare hijau sebelum dan sesudah penggaraman. Tahap II masing-masing perlakuan awal menggunakan metode pengolahan berbeda yaitu boiling, steaming dan sautéing untuk mengetahui perbedaan metode pengolahan terhadap perubahan kadar β-karoten. Tahap III merupakan aplikasi pada olahan kuliner pare yaitu siomay dengan metode pengolahan steaming, pecel pada metode pengolahan boiling dan tumis pare pada metode sautéing, untuk mengetahui daya terima masyarakat terhadap olahan kuliner pare. Uji yang dilakukan adalah uji kesukaan pada 36 panelis di desa Gadingkasri kecamatan Klojen-Malang, sedangkan parameter organoleptik meliputi warna, tekstur, aroma dan rasa. Desain rancangan menggunakan rancangan percobaan RAL (Rancangan Acak Lengkap) pola tersarang untuk penelitian tahap I dan tahap II, sedangkan data hasil penelitian tahap III dianalisis menggunakan anova dengan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil, Least Significance Difference) (α=0,05) dengan ulangan sebanyak 2 kali. Faktor dalam penelitian tahap I yaitu jenis pare dan perlakuan awal (treatment), sedangkan faktor dalam penelitian tahap II yaitu jenis pare dan metode pengolahan boiling, steaming dan sauteing. Hasil uji kadar β-karoten penelitian tahap I menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap kadar β-karoten dua jenis pare yang berbeda yaitu pare putih dan pare hijau, sedangkan perlakuan awal berbeda yaitu sebelum dan sesudah penggaraman dihasilkan angka yang berbeda tetapi dalam analisis statistik tidak memberikan perbedaan yang nyata. Hasil penelitian tahap II menunjukkan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar β-karoten dua jenis pare pada perlakuan awal berbeda dan dengan metode pengolahan yang berbeda. Pada uji organoleptik tahap III parameter warna, aroma, rasa dan tekstur pada olahan kuliner pare putih dan hijau memberikan perbedaan yang nyata. Daya terima pada uji hedonik olahan kuliner pare dengan menggunakan analisis LOA (Level of Acceptance) menunjukkan bahwa olahan kuliner siomay, pecel dan tumis pare dua jenis pare dapat diterima oleh panelis.  Kesimpulan dari penelitian pengaruh metode pengolahan boiling, steaming dan sautéing terhadap kadar β-karoten buah pare dan aplikasinya pada kuliner adalah pada tahap I kadar β-karoten tertinggi pada perlakuan awal dua jenis pare didapatkan pare hijau dengan perlakuan penggaraman. Hasil Penelitian tahap II Kadar β-karoten tertinggi dari dua jenis pare dengan perlakuan dan metode yang berbeda didapatkan buah pare hijau digarami dengan metode pengolahan steaming. Hasil analisis RAL pola tersarang juga tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada penelitian tahap I dan tahap II menunjukkan perbedaan yang nyata. Daya terima panelis pada uji organoleptik pada buah pare putih dan hijau pada olahan kuliner pare yaitu pecel, siomay dan tumis dengan metode pengolahan boiling, steaming dan sautéing sebagian besar dapat diterima masyarakat khususnya pare hijau yang mempunyai kadar β-karoten tinggi.   ABSTRACT   Norma, Hilda H. 2012. The Influence of Boiling, Steaming and Sautéing Methods to Bitter melon’s (Momordica charantia L.) β-carotene content and Their Application in Culinary. Thesis, S1 Degree of Food and Beverage Education, Department of Industrial Technology, Faculty of Engineering, State University of Malang. Supervisors: (I) Dra. Titi Mutiara Kiranawati, M.P., (II) Ir. Ummi Rohajatein, M.P.   Key words: Bitter melon (Momordica charantia L), β-carotene, processing method. Bitter melon (Momordica charantia L.) grows in tropical areas, belonging to the seasonal plant which lives creeped. There are three types of plants, namely white bitter melon or gajih, green bitter melon and bitter melon hutan. This experiment uses two types of bitter melon, namely white and green bitter melon which were obtained from the seed production of BISI in Kepung-Pare-Kediri. Bitter melon contains nutrients such as calcium, magnesium, potassium, phosphorus and iron. The high contents of bitter melon are vitamine C, vitamine A, vitamine B1, B2. Some countries such as Japan, Korea, China, and India used pare as a main substance for the medicine process. Bitter melon potentially contained high vitamine A, namely 335 SI, therefore, this experiment will researched the content of β-carotene in bitter melon which is a pro-vitamine A of yellow, red, or dark green fruits and vegetables. β-carotene (pro-vitamine A) has many benefits for the body, because beside containing vitamine A, it also can be used as an antioxidant to against free radicals in the body. The experiments consist of three stage of research. Stage I is the initial treatment of two types of bitter melon by salting them to know the differences and changes of β-carotene content of white and green bitter melon before and after being salted. In the stage II, each pre-treatment used different processing methods which were boiling, steaming and sautéing to determine the difference of processing methods toward the change of β-carotene content. Stage III is an application of the bitter melon cook included siomay by steaming, pecel by boiling and tumis pare by sautéing, to reveal out the acceptance of bitter melon culinary. Test conducted was only the preference test to 36 panelists at Gadingkasri Klojen-Malang, while the organoleptic parameters include color, texture, aroma and flavor. The research design employed nested of CRD (Completely Randomize Design) experimental design for the experiment of stage I and stage II, the data collected of  stage III was analyzed using ANOVA with the further test of LSD ( Least Significance Difference) (α = 0.05) in 2 times repetition. The first stage factors were bitter melon types and the first treatment, and the factors of the second stage of the experiment were bitter melon types and the processing methods which were boiling, steaming and sautéing. The analysis results of β-carotene content of stage I of the experiment showed a significant difference on β-carotene content of two types of bitter melon but by different pre-treatment which was before and after salting did not showed a significant difference. The results of stage II of the experiment showed a significant difference on β-carotene content of two types of bitter melon at the different pre-treatment and different processing methods. In the organoleptic test of stage III, the parameters of color, aroma, flavor and texture on the culinary processing of white and green bitter melon give a real difference. The preference result on the hedonic test of bitter melon culinary process by using analysis of LOA (Level of Acceptance) showed that the culinary process of siomay, pecel and tumis pare of two types bitter melon could be accepted by the panelists. The conclusion of a experiment on the effect of boiling, steaming and sautéing methods to bitter melon’s (Momordica charantia L.) β-carotene content and their application in culinary was in the stage I, the highest β-carotene levels in the early treatment of two types of bitter melon was green bitter melon obtained by salting treatment. The results of stage II experiment, the highest β-carotene content of two types of bitter melon by the different treatment and method were green salted bitter melon by steaming processing. The analysis result of nested of CDR showed that there was a significant difference in the First, and Second experiment did not showed a significant difference. The panelists preference in the organoleptic test of white and green bitter melon on bitter melon processing included pecel, siomay tumis pare by boiling, steaming and sautéing could be widely accepted by public, especially green bitter melon which had high content of β-carotene

    Studi Tentang Motif Batik Tulis Pada Paguyuban Pembatik Ikat (PPI) Bulan Asri Di Desa Randuagung Kecamatan Singosari Kabupaten Malang

    No full text
    ABSTRAK   Cahyani, Yustin S.D . 2012. Studi Tentang Motif Batik Tulis Pada Paguyuban Pembatik Ikat (PPI) Bulan Asri Di Desa Randuagung Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana, Fatultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prahastuti, M.Pd, (II) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd   Kata Kunci: Motif Batik Tulis, Inspirasi Ken Dedes, Singosari   Batik merupakan warisan budaya dari nenek moyang kita sebagai salah satu kesenian Indonesia. Selain dikenal dan diminati masyarakat Indonesia sendiri, batik juga banyak diminati oleh masyarakat mancanegara. Beberapa daerah saat ini telah memiliki kerajinan batik dengan kekhasan daerah masing-masing. Kecamatan Singosari merupakan salah satu daerah pengrajin batik. Istimewanya, di Kecamatan Singosari tepatnya di Desa Randu Agung ini batik dikerjakan oleh para lansia dengan nama PPI Bulan Asri Kabupaten Malang. Dengan adanya penelitian tentang motif batik tulis Bulan Asri yang ada di Kecamatan Singosari, maka dapat dipaparkan ciri dan makna tersendiri dari batik tulis Bulan Asri yang ada di Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Prosedur pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan tiga tahapan yaitu mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber data dan teknik, serta perpanjangan pengamatan. Berdasarkan temuan peneliti dilapangan maka: (1) PPI Bulan Asri merupakan suatu paguyuban yang beranggotakan lansia yang mengerjakan batik tulis dan diketuai oleh Hj. Tatik S. Hajar. Paguyuban tersebut diresmikan di PUJISARI Ken Dedes dengan nama PPI Bulan Asri Kabupaten Malang pada tanggal 10 Agustus 2009 oleh Wakil Bupati Malang saat itu. (2) Motif yang dihasilkan PPI Bulan Asri terinspirasi dari Kendedes yang merupakan Ratu Singosari, sedangkan Singosari sendiri merupakan daerah pembuatan batik yang ingin diangkat oleh PPI Bulan Asri tersebut. Ada empat motif yang merupakan motif dasar Bulan Asri yaitu Pending, Parijoto, Renggo dan Padma. Keempat motif tersebut merupakan motif yang terinspirasi dari Ken Dedes (3) makna perlambang batik digambarkan pada motif-motifnya. Memiliki makna yang berhubungan erat dengan kehidupan manusia pada umumnya. Tidak ada warna khusus pada pembuatan batik tulis Bulan Asri. Saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah: (1) Hendaknya juga mengajak/ melibatkan para generasi muda untuk ikut bergabung. Selain untuk regenerasi pengrajin batik, hal ini juga bertujuan untuk menambah wawasan dan kreatifitas batik tulis itu sendiri. (2) Motif batik tulis Bulan Asri akan lebih beragam dengan lebih menggali ornamen-ornamen yang ada pada sosok Ken Dedes untuk dijadikan bentuk motif, sehingga akan banyak variasi motif yang diterapkan pada batik. (3) Bulan Asri sebaiknya menambahkan motif dasar supaya batik yang dihasilkan Bulan Asri tidak menjenuhkan, dan lebih menarik minat pasar. (4) Bulan Asri sebaiknya lebih meningkatkan kualitas dari berbagai aspek seperti ragam motif, warna, kerapihan dalam pembuatan, dsb agar batik tulis Bulan Asri dipatenkan sehingga mendapatkan perlindungan HAKI (Hak atas Kekayaan Intellektual), dan batik tulis Bulan Asri menjadi salah satu aset budaya Kabupaten Malang yang dapat terus dilestarikan. (5) Sebaiknya PPI Bulan Asri mendokumentasikan, membukukan profil paguyuban beserta motif dan makna perlambang batik yang dibuat untuk memudahkan wisatawan yang ingin mengetahui salah satu budaya batik di Kabupaten Malang. Hal ini juga bertujuan agar batik tulis Bulan Asri lebih dikenal masyarakat

    Faktor-faktor Kesulitan Yang Dialami Mahahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga Universitas Negeri Malang Dalam Menyelesaikan Studi Tepat Waktu

    No full text
    ABSTRAK   Suhandi, Andi. 2012. Faktor-Faktor Kesulitan yang Dialami Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga Universitas Negeri Malang Dalam Menyelesaikan Studi Tepat Waktu. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Made Wena, M.Pd, M.T (2) Laili Hidayati, S.Pd, M.Si   Kata Kunci: Faktor Internal, Faktor Eksternal, Studi tepat waktu.   Proses pendidikan pada hakikatnya adalah salah satu proses pembinaan sumber daya manusia yang ditekankan pada upaya pengembangan aspek-aspek pribadi peserta didik dari segi jasmani maupun rohani. Pendidikan juga memegang peranan penting karena dapat meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia, pendidikan merupakan cara suatu negara dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul. Pendidikan Nasional itu sendiri bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor kesulitan yang  dialami  mahasiswa  S1  Pendidikan  Tata  Boga  Universitas  Negeri Malang dalam menyelesaikan studi tepat waktu. Rancangan  penelitian  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian  ini adalah mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga angkatan 2007-2008 yang berjumlah 86  mahasiswa.  Teknik  pengambilan  sampel  dengan  proportional  random sampling    sebanyak  30 mahasiswa.  Instrumen  penelitian  yang  digunakan  untuk mengumpulkan data adalah angket  tertutup. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif kuantitatif dengan persentase. Hasil analisis data menunjukkan bahwa faktor kesulitan internal dan factor kesulitan eksternal yang dialami mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga Universitas Negeri  Malang  dalam  penyelesaian  studi  tepat  waktu  terkadang  menjadi penghambat dalam menyelesaikan  studi  tepat waktu dengan hasil analisis  factor internal  sebesar  (46,92%)  terletak  pada  kategori  kadang-kadang menjadi  factor kesulitan  dalam  menyelesaikan  studi,  sedangkan  faktor  eksternal  sebesar (45,92%)  terletak  pada  kategori  kadang-kadang menjadi  faktor  kesulitan  dalam menyelesaikan studi tepat waktu.

    ANALISA HASIL PEWARNAAN ENCENG GONDOK MENGGUNAKAN NAPHTOL DAN DIREK

    No full text
    ABSTRAK   Sari, Sistiyani Tiska. 2012. Analisa Hasil Pewarnaan Enceng Gondok menggunakan Pewarna Naphtol dan Direk. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri Pendidikan Tata Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prahastuti, M. Pd., (II) Dra. Nur Endah Purwaningsih, M. Pd   Kata Kunci: Pewarnaan, Enceng Gondok, Naphtol, Direk   Enceng Gondok merupakan tanaman air yang tergolong dalam serat selulosa. Naphtol dan direk merupakan zat pewarna buatan yang dapat digunakan untuk mewarnai serat selulosa. Oleh sebab itu bagaimana hasil pewarnaan enceng gondok menggunakan pewarna naphtol dan direk  jika kriteria penilaiannya dilihat dari tingkat ketajaman dan kerataan warna primer. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hasil pewarnaan enceng gondok menggunakan  zat warna naphtol dan direk dilihat dari kerataan dan ketajaman warna primer.Rancangan penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan subjek penelitian zat warna naphtol dan zat warna direk yang digunakan sebagai bahan pewarna pada enceng gondok. Metode pengumpulan data dilakukan menggunakan metode pengamatan langsung terhadap hasil pewarnaan enceng gondok dan  metode dokumantasi. Metode pengamatan dilakukan oleh panelis ahli sebagai pengamat dan penilai sifat berdasarkan kesan subyektifitas untuk menguji sampel penelitian. Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data pendukung tentang proses pewarnaan enceng gondok menggunakan naphtol dan direk dengan jenis warna merah, kuning dan biru Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pada perbandingan 1:40 tercapai persentase 100% untuk ketajaman warna merah, kuning dan biru. Sedangkan hasil penelitian tingkat kerataaan terbaik yaitu perbandingan 1:40 dengan persentase 100% untuk semua jenis warna. Penilaian tingkat ketajaman dan kerataan warna pada pewarnaan enceng gondok menggunakan zat warna direk pada tingkat ketajaman terbaik dengan perbandingan 1:40 tercapai persentase 66,67% untuk warna merah dan kuning serta 100% untuk ketajaman warna biru. Untuk hasil penelitian dengan kriteria kerataaan warna primer terbaik menggunakan zat warna direk didapatkan pada perbandingan 1:20 dengan persentase 66,67% untuk kerataan warna merah. Perbandingan 1:30 dengan persentase kerataan 66,67% untuk kerataan warna kuning dan perbandingan 1 : 40 dengan persentase kerataan 100% untuk kerataan warna biru. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada peneliti berikutnya untuk dapat memperdalam dan mengembangkan penelitian ini dengan kriteria penilaian atau subyek penelitian yang lain seperti tingkat kelunturan warna atau menggunakan zat warna lain. Selain itu disarankan agar pada saat melakukan penelitian yang sama lebih memperhatikan proses persiapan  dan pelaksanaan pencelupan sehingga dapat menghasilkan penelitian sesuai dengan yang diharapkan.                 ABSTRACT   Sari, Sistiyani Tiska. 2012. Analysis Results Of Water Hyacinth Using Dye Staining Naphtol And Direc. A Thesis, Department Of Education Of Fashion Industrial Technology The Faculty Of Engineering Malang State University. Advisors: (I) Dra. Endang Prahastuti, M. Pd.,  (II) Dra. Nur Endah Purwaningsih, M. Pd   Keywords: Staining, water hyacinth, Naphtol, Direc   Water hyacinth is an aquatic plants belonging to the cellulose fibers. Naphtol and direcs are artificial dyes that can be used to dye cellulose fibers. Therefore, how the results of water hyacinth staining using naphtol dyes and direc if the criteria for assessment visits of the sharpness and flatness of primary colors. The purpose of this study to find out the results of water hyacinth staining using naphtol dyes and direcs viewed from the flatness and sharpness of color primer. The research is descriptive research with research subjects naphtol dyes and director dyes are used as dyes in the water hyacinth. Methods of data collection is done using the method of direct observation of the staining results and methods documentation water hyacinth. The method of observation made by the expert panelists as observers and assessors properties based on subjective impressions to test the study sample. The method used to obtain documentation supporting data about the coloring process water hyacinth using naphtol and direc with the type of red, yellow and blue The results of the research has been done shows that the percentage ratio of 1:40 achieved 100% for the sharpness of the colors red, yellow and blue. While the results of the research level best flatness 1:40 ratio with the percentage of 100% for all kinds of colors. Assessment of the level of sharpness and flatness of color on water hyacinth staining using dyes director at the best level of acuity with a ratio of 1:40 is achieved percentage of 66.67% for red and yellow and 100% for the color blue sharpness. For research results to the criteria flatness best use of primary color dyes direcs obtained in 1:20 ratio with percentage of 66.67% for the flatness of the color red. 1:30 flatness comparison with the percentage of 66.67% for the flatness of the color yellow and the ratio 1: 40 with the percentage of 100% for flatness blue. Based on the results of this study suggested the next researcher to be able to deepen and develop this research with the criteria of assessment or other study subjects such as the level use dye color or another. In addition it is suggested that during the same study more attention to the preparation and implementation of the dyeing process so as to produce research as expected.            

    Analisis Tingkat Kenyamanan Pola Celana Panjang Wanita Sistem Wancik Untuk Ukuran XXXXL

    No full text
    ABSTRAK   Maulidya, Nurma Evy. 2012. Analisis Tingkat Kenyamanan Pola Celana    Panjang Wanita Sistem Wancik untuk Ukuran XXXXL. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri Program Studi Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nurul Aini, M.Pd. (II) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd.   Kata kunci: Analisis, pola, Wancik, Kenyamanan.   Masalah-masalah yang sering muncul dalam pembuatan pola badan,  misalnya kurang tepatnya ukuran yang dipakai sehingga hasil jadi yang diperoleh kurang maksimal, pemindahan kupnad yang tidak sesuai, terdapat kerut atau menggelembung. Begitu pula dalam pembuatan pola celana untuk seseorang yang memiliki tubuh langsing (ideal) cenderung tidak bermasalah dengan struktur pola celana. Sebaliknya pada orang berbadan gemuk permasalahan sering terjadi pada bagian pesak, karena struktur badan orang gemuk tidak ada keseimbangan antara struktur bagian perut, lingkar panggul, dan lingkar paha, sehingga terlihat bentuk yang tidak rapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kenyamanan pola celana panjang wanita sistem Wancik pada pembuatan celana panjang wanita yang memiliki ukuran tubuh gemuk dengan indikator penilaian hasil pengepasan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Objek dalam penelitian ini yaitu pola celana panjang wanita sistem Wancik. Beberapa ukuran dalam pembuatan pola celana panjang wanita sistem Wancik yaitu lingkar pinggang, panjang celana, tinggi duduk, lingkar panggul, lingkar pesak, lingkar paha, lingkar lutut, lingkar kaki.  Pola celana panjang wanita dengan sistem Wancik mempunyai bentuk yang lebih lebar, dalam menentukan besar paha sistem Wancik menggunakan rumus lingkar paha + 13 cm dikurangi 1 cm : 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar  tingkat kenyamanan pemakai untuk wanita yang memiliki ukuran XXXXL dengan menggunakan pola celana panjang wanita sistem Wancik. Hasil penelitian berdasarkan penilaian hasil pengepasan dapat diketahui frekwensi rata-rata tingkat kenyamanan celana panjang wanita ukuran (XXXXL), persentase dari masing-masing kedua ukuran tersebut memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda pula. Ukuran pada model pertama (I) nilai tingkat kenyamanan dengan kategori nyaman sebanyak 47,6%, sedangkan untuk ukuran model kedua (II) memiliki nilai dengan kategori nyaman sebanyak 38,01%. Untuk tingkat kenyamanan dengan kategori kurang nyaman pada ukuran yang pertama sebanyak 28,7%, sedangkan untuk ukuran yang kedua memiliki persentase nilai dengan kategori kurang nyaman sebanyak 33,3%. Persentase nilai dengan kategori tidak nyaman pada ukuran yang pertama sebanyak 23,8%, sedangkan untuk ukuran yang kedua memiliki persentase nilai tingkat kenyamanan dengan kategori tidak nyaman sebanyak 28,7%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut pembuatan celana panjang wanita dengan sistem Wancik pada hasil jadi ban pinggang celana bagian belakang longgar dan bergelombang (tidak rata), sehingga terlihat kurang nyaman ketika di pakai, pada bagian lingkar pesak sempit di bagian bawah pantat dan berkerut pada bagian sisi dan pantat, serta pada bagian lingkar paha sedikit longgar. Sistem pola celana yang di ujikan pada dua orang model yang masih memiliki ukuran tubuh yang di tetapkan (XXXXL). Pengujian pada dua ukuran tersebut menghasilkan nilai yang berbeda dan hasil tingkat kenyamanannya berbeda. Untuk ukuran yang pertama memiliki tingkat kenyamanannya lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran  yang kedua. Ukuran tubuh seseorang dalam membuat busana sangat penting oleh karena itu pengukuran dilakukan dengan  lebih teliti supaya busana yang dihasilkan sesuai dengan apa yang diharapkan. Sebaiknya, dalam pemilihan desain tidak terlalu banyak merubah pola dasar, sehingga nantinya bisa diketahui letak kekurangan dan kelebihan dari pola yang di pakai.

    SURVEI KESULITAN PEMBUATAN CELANA PANJANG DENGAN POLA LANGSUNG DIATAS BAHAN PADA MATAKULIAH TAILORING MAHASISWA S1 PROGRAM STUDI TATA BUSANA 2009/2010

    No full text
    ABSTRAK   Aji Jaenudin. 2012. Survei Kesulitan  Pembuatan Celana Panjang Dengan Pola Langsung Diatas Bahan, Pada Matakuliah Tailoring, Mahasiswa S1 Program Studi Tata Busana 2009/2010.Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra Sri Eko Puji Rahayu, M.Si. (2) Dra. Endang Prahastuti, M.Pd   Kata kunci : Survei, Kesulitan  Pembuatan Celana Panjang Dengan Pola Langsung Diatas Bahan Mata kuliah Tailoring merupakan salah satu mata kuliah praktek pada mahasiswa Program Studi S1 Tata Busana  jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pada mata kuliah ini mahasiswa dituntut untuk membuat kemeja batik motif sambung, celana dengan pola langsung diatas kain, dan pembuatan jas. Salah satu dari materi mata kuliah tersebut yaitu celana dengan pola langsung diatas bahan. Kesulitan Pembuatan Celana dengan Pola Langsung Diatas Bahan inilah yang peneliti angkat untuk dijadikan penelitian, karena mahasiswa dituntut untuk membuat pola langsung diatas bahan, serta melewati tahapan – tahapan penyelesaian yang sangat banyak sehingga, membuat hasil akhir yang kurang maksimal. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian adalah tingkat kesulitan di dalam mengikuti mata kuliah tailoring pada praktek pembuatan celana dengan pola langsung diatas bahan. Tujuan dari penelitian ini adalah: mendeskripsikan tingkat kesulitan mahasiswa Tata Busana angkatan 2009-2010 dalam membuat celana dengan pola langsung diatas bahan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskripstif dengan pendekatan kuantitatif. Subyek penelitian adalah mahasiswa Tata Busana angkatan 2009-2010. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket/kuesioner tingkat kesulitan pembuatan celana panjang dengan pola langsung diatas bahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sebagian besar mahasiswa Tata Busana angkatan 2009-2010 menyatakan bahwa kesulitan pembuatan pola celana panjang dengan pola langsung diatas bahan berada pada tingkatan mudah (41,38%), (2) sebagian besar mahasiswa Tata Busana angkatan 2009-2010 menyatakan bahwa kesulitan cutting dalam pembuatan celana panjang dengan pola langsung diatas bahan berada pada tingkatan sangat mudah (63,79%), (3) sebagian besar mahasiswa Tata Busana angkatan 2009-2010 menyatakan bahwa sewing dalam pembuatan pola celana panjang dengan pola langsung diatas bahan berada pada tingkatan mudah (51,72%). (4) sebagian besar mahasiswa Tata Busana angkatan 2009-2010 menyatakan bahwa kesulitan finishing dalam pembuatan pola celana panjang dengan pola langsung diatas bahan berada pada tingkatan sangat mudah (55,17%). Berdasarkan hasil penelitian di atas,  saran-saran yang diajukan antara lain: (1) disarankan agar penyajian matakuliah Tailoring, khususnya pembuatan celana dengan pola langsung diatas bahan sub-bab sewing yang lebih inovatif agar dapat memberikan motivasi yang lebih kuat kepada mahasiswa sehingga dapat mengatasi kesulitan pembuatan celana dengan pola langsung diatas bahan pada matakuliah tersebut, (2) disarankan kepada mahasiswa yang memprogram matakuliah Tailoring agar dalam praktik pembuatan celana dengan pola langsung diatas bahan melakukannya tahap-tahapnya secara tepat waktu agar tidak menghambat praktek lainnya, (3) disarankan kepada peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema penelitian ini agar mengadakan penelitian lanjutan pada sub-sub matakuliah yang lain.

    STUDI DESKRIPTIF BATIK GAJAH MADA DI DESA MOJOSARI KECAMATAN KAUMAN TULUNGAGUNG

    No full text
    ABSTRAK   Siskawati,  Hana.  2012.  Studi  Deskriptif  Batik  Gajah  Mada  di  Desa  Mojosari Kecamatan Kauman Tulungagung. Skripsi,  Jurusan Teknologi  Industri, Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana,  Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:  (I) Agus Sunandar, S. Pd., M. Sn  (II) Drs. Setiadi Cahyono Putro, M. Pd., M. T   Kata Kunci: batik, batik Gajah Mada, Tulungagung Batik  adalah  suatu  cara  yang  dilakukan  untuk menghasilkan motif  yang memiliki tujuan untuk memperindah sebuah kain, menggunakan malam atau lilin yang bertujuan untuk menutup kain agar tidak terkena warna pada saat dicelup ke dalam cairan pewarna, dengan cara dititik-titik menggunakan canting, mengikuti motif  tertentu yang memiliki kekhasan, dan merupakan hasil kebudayaan bangsa yang  bernilai  tinggi,  serta  layak  untuk  dikembangkan  dan ditingkatkan. Perkembangan  tersebut diikuti oleh berbagai daerah yang ada di Indonesia, salah satunya  adalah  daerah  Tulungagung  yang  dikenal  dengan  batik  Gajah  Mada Tulungagung. Fokus penelitian  yang diambil  adalah  (1) Motif Khas Batik Gajah Mada Tulungagung;  (2)  Teknik  Pembuatan  Batik  Gajah Mada  Tulungagung;  dan  (3) Kualitas  Batik  Gajah  Mada  Tulungagung.  Penelitian  ini  merupakan  jenis penelitian  deskriptif  kualitatif.  Metode  penelitian  yang  digunakan  adalah Triangulasi  Sumber  Data,  yaitu  (1)  Pemilik/yang  mewakili  batik  Gajah Mada Tulungagung;  (2)Pengrajin  batik  Gajah Mada  Tulungagung;  dan  (3)  Pengguna batik Gajah Mada Tulungagung;, dan Triangulasi Teknik, yaitu (1) Observasi; (2) Wawancara; dan (3) Dokumentasi. Berdasarkan  penelitian  yang  telah  dilakukan,  pada  paparan  data,  temuan penelitian, dan pembahasan, maka dapat dijelaskan bahwa  terdapat 4 motif khas pada  batik Gajah Mada  Tulungagung,  yaitu  (1) Motif  Sekar  Jagad Rante,  yang sudah dipatenkan; (2) Motif Granit Biota  Indah;  (3) Motif Teratai Emas; dan (4) Motif Sekar Jagad Ungker, yang ketiganya masih dalam proses untuk hak paten. Terdapat perbedaan yang jelas antara teknik pembuatan batik tulis, batik cap, dan batik  printing  (sablon).  Ciri-ciri  batik  halus  dan  kualitas  pada  masing-masing batik  di  Gajah  Mada  Tulungagung  juga  berbeda.  Batik  tulis  Gajah  Mada Tulungagung memenuhi ciri-ciri batik  tulis halus dan kualitas yang paling halus bila dibandingkan dengan batik cap Gajah Mada Tulungagung dan batik printing (sablon) Gajah Mada Tulungagung. Saran  yang  dapat  diberikan  adalah  (1)  Motif  pakem  batik,  harus  tetap dipertahankan;  (2)  Bagi  pengusaha  batik,  disarankan  untuk  melakukan  proses dokumentasi dan pembukuan untuk menyimpan data-data penting; (3) Mengikuti pameran nasional untuk memperkenalkan batik Gajah Mada Tulungagung ke luar Tulungagung;  (4)  Memperkenalkan  batik  melalui  dunia  maya  dengan  cara membuat  blog  atau  jejaring  sosial;  (5)  Ilmu  dari  pengrajin  batik  Gajah  Mada Tulungagung  sebaiknya  diturunkan  pada  generasi  yang  lebih muda;  (6)  Proses pembuatan  batik,  didokumentasikan  sebagai  bahan  referensi  dan  evaluasi, menambah penerangan di  tempat proses, sebaiknya menggunakan pewarna alam; (7) Mempertahankan kualitas bahan dan kehalusannya untuk pembuatan batik; (8) Pengguna  batik Gajah Mada Tulungagung  hendaknya merawat  batiknya  dengan cara  tidak menjemur  di  bawah  sinar matahari  langsung  untuk menjaga  kualitas tetap baik. (9) Pemkab Tulungagung turut mendokumentasikan data-data yang ada pada  batik  Gajah  Mada  karena  batik  tersebut  merupakan  bagian  dari  sejarah Tulungagung, agar tidak terjadi pengakuan kepemilikan oleh pihak lain

    0

    full texts

    632

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇